Tag Archives: yogyakarta

Video KSMS “Wahyu Sekarjagat”


Wahyu Sekar Jagat

Berikut disharing pagelaran Wayang Kulit bersama dalang Ki Sigit Manggolo Seputro dari Yogyakarta dengan mengambil lakon “Wahyu Sekar Jagat”. Pagelaran ini dilakukan Parangtritis pada tanggal 10 Mei 2012.

Part-2:

Part-3:

Part-4:

Part-5:

Part-6:

Part-7:

Part-8:

Terima kasih kami sampaikan kepada KSMS atas sharingnya.

Video KSMS “Kresna Gugah”


KSMS Kresna Gugah

Berikut disharing pagelaran Wayang Kulit bersama dalang Ki Sigit Manggolo Seputro dari Yogyakarta dengan mengambil lakon “Kresna Gugah”. Pagelaran ini dilakukan di Dukuh Karangmojo pada tanggal 2 September 2012.

Part-1:

Part-2:

Part-3:

Part-4:

Part-5:

Part-6:

Terima kasih kami sampaikan kepada KSMS atas sharingnya.

Video KSMS “Parikesit Jumeneng Ratu”


KSMS Parikesit jumeneng ratu

Berikut disharing pagelaran Wayang Kulit bersama dalang Ki Sigit Manggolo Seputro dari Yogyakarta dengan mengambil lakon “Wahyu Jatidiri – Parikesit Jumeneng Ratu”. Pagelaran ini direkam oleh TVRI Jogja produksi tahun 2012.

Part-1:

Part-2:

Part-3:

Part-4:

Terima kasih kami sampaikan kepada KSMS atas sharingnya.

Prof. Dr. Zoetmulder


Orang Belanda Yang NJawani 

Sumber : tembi.org

Zoetmulder adalah sosok pengabdi pada kerajaan Allah. Beliau menjadikan pengabdian kepada ilmu pengetahuan dan kebudayaan sebagai panggilan tugasnya. Melalui tangan Romo Zoet, kini generasi muda Indonesia bukan hanya dapat mempelajari kembali, tapi juga mengetahui dan mengerti reputasi tinggi dari peradapan nenek moyang jawa di bidang bahasa serta sastra kuna dan madya yang berupa budaya pustaka jaman sekarang. Apa yang dilakukan oleh Romo Zoet banyak menimbulkan keraguan dikalangan orang-orang Katolik, karena pemahaman inkulturasi belum dikenal begitu luas dikalangan agama katolik. Tetapi setelah pemahaman tentang inkulturasi diperkenalkan secara luas, maka apa yang dikerjakan oleh Romo Zoet kelihatan luar biasa. Keadaan tersebut semakin diperkuat ketika Sri Paus datang ke Indonesia (Yogyakarta), beliau turut mangayubagya atas perkembangan umat Katolik di Indonesia yang sanggup membaur dengan budaya lokal khususnya Jawa, jadi umat katolik di Indonesia tidak perlu menjadi Londho tetapi tetap menjadi Katolik yang Njawani. Pada kontek pemahaman tersebut maka penelitian dari Romo Zoet tersebut menjadi pembuka jalan bagi terjadinya dialog antara iman Katolik dengan kebudayaan setempat (dalam hal ini jawa).

Menurut YB Mangunwijaya bahwa Romo Zoet itu lebih njawani dibandingkan dengan orang jawa, beliau adalah seorang ilmuwan sejati dan cara kerjanya mirip seorang resi pada jaman Jawa Kuno. Banyak karya yang telah beliau ciptakan, dan karya-karyanya serba standar untuk keperluan studi sastra Jawa Kuna. Buku-buku hasil karyanya tidak dapat ditinggalkan oleh mereka yang ingin belajar serius tentang jawa kuna. Karya beliau yang dijadikan acuan oleh banyak ilmuwaan seperti “Manunggaling Kawula Gusti-Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa” (1990), yang kedua adalah “Kalangwan—Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang” yang merupakan studi tentang kakawin lengkap para pujangga Jawa Kuna dari periode awal abad ke-8 sampai ahkir abad ke-17, yang berdasarkan tinjauan filologis. Kedua karya ini sudah di-Indonesia-kan oleh Romo Dick Hartoko (almarhum). Sedangkan karya lainnya yang tidak kalah hebatnya dengan kedua karya sebelumnya adalah “Old Javanese-English Dictionary” dikerjakan sejak tahun 1952 selama 30 tahun. Buku berbentuk kamus ini memuat 25.500 isian. Karya langka tersebut telah di-Indonesia-kan menjadi “Kamus Jawa Kuna-Indonesia” (1990) oleh Dr. Darusuprapto dan Dra. Sumarti Suprayitna.

Sejarah kehidupan Romo Zoetmulder diawali pertama kali dengan datang ke tanah Jawa pada usia 18 tahun (1924) selaku misionaris muda Katolik. Melalui sebuah perjalanan pendidikan formal dasar dan menengah yang ia selesaikan di Belanda, kemudian beliau langsung meneruskan pendidikan filsafat di Kolese Ignatius Kotabaru lulus dengan predikat cum Laude, dan dalam tempo hanya satu tahun ia mendapat gelar sarjana mudanya, setahun kemudian memperoleh gelar sarjana dengan hasil Cum Laude, dan dua tahun kemudian mendapat gelar Doktor dengan predikat Cum Laude pula pada usia 29 tahun dalam bidang bahasa dan sastra Jawa Kuna. Hal ini merupakan suatu prestasi yang sangat luar biasa. Kunci dari prestasi yang luar biasa ini menurutnya merupakan hasil dari sikap disiplin dalam segala hal, dan selalu menghargai akan waktu.

Romo Zoetmulder merupakan seorang pendidik dan perannya tidak dapat dilupakan begitu saja, dengan sponsor dari Sri Sultan HB IX dia menjadi salah seorang yang ikut mempersiapkan pendirian Balai Perguruan Tinggi di Yogyakarta (1946) yang ahkirnya kelak menjadi Universitas Gadjah Mada. Selanjutnya dia dikenal sebagai Maha Guru di Fakultas Sastra. Sebagai maha guru jejaknya tercetak melalui sejumlah anak didiknya yang banyak menjadi ilmuwan dan cendekiawan Indonesia yang tekun dalam bidangnya masing-masing seperti Prof. Dr. Kuntjoroningrat, Dr. Leo Sukoto, Prof. Baroroh Baried, termasuk yang digadang-gadang menggantikan perannya Dr. Ig. Kuntoro Wiryomartono SY.

Yang sangat menggembirakan dan mengharukan bagi romo Zoetmulder, yaitu ketika dia memperoleh “hadiah” berupa buku “antologi Bahasa Sastra Budaya”. Hadiah tersebut berasala dari para bekas mahasiswanya yang merasa berhutang budi di lapangan keilmuan. Hadiah buku tersebut merupakan bukti rasa hormat dan rasa menghargai dalam etika pergaulan sesama kaum ilmuwan, sedikitnya ada 42 penyumbang karya ilmiah dalam buku tersebut, yang sebagian merupakan karya ilmiah dari para ilmuwan sahabatnya, baik yang tinggal di Indonesia maupun di Luar Negeri.

Sebuah ironi, bahwa Romo Zoetmulder dilahirkan di negeri Belanda yang sangat jauh dari tanah jawa, tetapi beliau lebih njawani dibandingkan orang yang mengaku orang jawa asli. Beliau menjadi warga negara Indonesia pada tahun 1950 dan dia disiapkan menjadi seorang misionaris , namun ahkirnya sosoknya dikenal sebagai pemelihara kesinambungan sebuah kebudayaan bagi bangsa Indonesia. Dan reputasinya yang telah mendunia tersebut tetap beliau bawa dengan kehalusan dan kesederhanaan sikap ketika dia bersapa dan bertutur kata dalam bahasa jawa krama dengan komunitasnya. Tetapi yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah apakah bahasa dan sastra jawa kuna yang telah beliau terjemahkan dengan mengorbankan waktutunya dan usaha yang tidak mudah tersebut masih dianggap berguna apa tidak oleh generasi sekarang ini. Jawabannya hanya dapat dilakukan oleh generasi sekarang ini. Dan Romo Zoetmulder sudah berbuat banyak. Amin.

Didit P Daladi

Konsep “Badar” Dalam Lakon Carangan Pewayangan Tradisi Yogyakarta


(The Concept of “Badar” in Yogyakarta Pupettry Tradition Branch Story)

Hanggar Budi Prasetya

Staf Pengajar Jurusan Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta

Harmonia Vol. VI No. 3 2005

Abstrak

Tulisan ini bertujuan untuk (1) Memahami lakonlakon Semar dalam pewayangan tradisi Yogyakarta dan keterkaitannya dengan peristiwa Baratayuda dan (2) Memahami konsep “badar” dalam pewayangan tradisi Yogyakarta. Wayang, seperti halnya jenis folklor yang lain memiliki logika tersendiri yang berbeda dengan logika umum. Salah satu logika itu terlihat dari munculnya konsep”badar” dalam hampir seluruh cerita pewayangan, terutama pada lakonlakon carangan. Konsep “badar” ini berasal dari mitologi Jawa, bahwa seseorang yang memiliki ilmu dapat berubah menjadi bentuk lain, dan pada saatnya bisa kembali atau badar seperri aslinya. Biasanya “badar” mengakhiri sebuah pertunjukan wayang.

Kata Kunci: konsep badar, lakon carangan, lakon Semar

 A. Pendahuluan

Dibandingkan dengan wayang Bali atau wayang Sunda, wayang Jawa jauh berkembang. Hal ini dapat dilihat dari jumlah lakon wayang yang ada. Lakon wayang Jawa jumlahnya mencapai ra-tusan, sementara wayang Sunda dan Bali sangat terbatas. Gronendael (1988: 209) menemukan 449 judul lakon wayang Ja­wa, sedangkan wayang Sunda dan Bali masingmasing 26 lakon dan 8 lakon. Seb-agian besar lakonlakon yang diciptakan ini dikenal dengan lakon carangan, yaitu lakon yang diciptakan dalang dengan cara mengembangkan lakon baku, lakon yang terkait langsung dengan peristiwa Bara-tayuda.

Ada berbagai jenis lakon carangan, yaitu lakonlakon tentang kelahkan, per-kawinan, wahyu, kembar, dan gugat. Sebagai lakon carangan, lakon gugat dan lakonlakon kembar bisa digolongkan sebagai lakon yang relatif baru. Namun demikian, hingga kini masih belum jelas siapa pembuat dan kapan lakon tersebut pertama kali dipentaskan.

Untuk keperluan analisis, lakon yang dipilih adalah lakonlakon wayang yang disajikan oleh Ki Hadi Sugito. Pe-milihan dalang dilakukan dengan pertim-bangan, yaitu: Pertama, telah tersedia rekaman dalam bentuk pita kaset. Kedua, pertunjukan Ki Hadi Sugito banyak diacu oleh dalangdalang lain dan dapat diang-gap mewakili tradisi Yogyakarta.

B. Tinjauan Pustaka

Cerita, termasuk lakon wayang, lahir dari imajinasi manusia, khayalan manusia, walaupun unsurunsur khayalan tersebut berasal dari kehidupan manusia sehari-hari. Menurut Putra (1997) cerita seperti ini dapat dipandang sebagai sebuah m-itos. Mitos yang dknaksud di sini berbeda dengan pengertian mitos yang biasa di-gunakan dalam kajian mitologi pada umumnya, yang memandang mitos seba­gai cerita suci yang dalam bentuk sim-bolis mengkisahkan serangkaian peristiwa nyata dan imajiner tentang asalusul dan perubahan alam raya dan dunia, dewa-dewi, kekuatankekuatan adikodrati, ma­nusia, pahlawan, dan masyarakat. Di sini mitos merupakan suatu cerita (tidak h-arus suci) yang mengandung pesan-pesan tertentu. Untuk itu lakon wayang dapat dianalisis secara structural.

Lakonlakon carangan telah banyak menarik peneliti dan penulis terdahulu. Beberapa di antaranya adalah Feinstein, dkk (1986) yang menulis mengenai lakon carangan yang tersebar di masyarakat Surakarta. la berhasil mengumpulkan 106 judul lakon yang bersumber dari 43 dalang di Surakarta. Penulisan lakon ca­rangan juga pernah dilakukan oleh (1) Wiryoatmojo (1975) mengenai balungan lakon yang terdiri dari 20 lakon carangan tradisi Surakarta. (2) Meyer, ed (1883) menulis manuskrip Serat Pakem Gancara-nipun Lampahan Ringgit Purwa 24 iji. (3) Prawiro Sudirdjo dan Sulardi (t.t) menulis 20 buah cerita lakon carangan, (4) Probohardjono (1961) menulis 14 cerita lakon. (5) Mangkunegara VII (1927) menulis 176 lakon carangan.

Berbeda dengan di Surakarta, di Yogyakarta sangat miskin tulisan atau kumpulan lakon wayang. Sejauh ini belum ada satupun buku kumpulan lakon carangan tradisi Yogyakarta. Yang ada hanyalah kumpulan lakon Baratayuda yang ditulis oleh Radyomardowo, dkk (1959) berisi 12 lakon.

Dari uraian di atas nampak bahwa penulisan lakon carangan telah dilakukan oleh penulis terdahulu. Namun sayang-nya hanya sebatas pengumpulan lakon saja. Hingga saat ini belum ada tulisan yang mencoba membahas kumpulan la-konlakon carangan. Lebih celaka lagi, hampir seluruh lakon carangan yang telah dipublikasikan adalah lakon carangan tradisi Surakarta. Padahal, lakon carangan tradisi Yogyakarta juga banyak sekali, namun hanya ada secara lesan. Kalau cerita lesan tadi tidak segera dilakukan pendokumentasian, makabisa dipastikan bahwa sebentar lagi cerita wayang tradisi Yogyakarta akan hilang dari pengetahuan masyarakat bersaamaandengan meninggalnya para empu dalang Yogyakarta. Untuk itu, penelirian mengenai lakon carangan tradisi Yogyakarta masih relefan dilakukan.

C. Pengumpulan dan Analisis Data

Pengumpulan dan analisis data dilakukan dengan mengikuti cara yang pernah ditempuh oleh Putra (2001) da-lam menganalisis cerita rakyat Dongeng Bajo. Langkahlangkah ini dimulai de­-ngan, “membaca” kaset wayang lakon Semar Gugat (SG), Semar Bangun Ka-yangan (SBK), dan Semar Kembar (SK) dengan  cara mendengarkan rekaman kaset yang ada. Dari pembacaan ini diperoleh pengetahuan dan kesan tentang isi cerita, tentang tokohtokohnya, tentang berbagai tindakan yang mereka lakukan, serta berbagai  peristiwa yang mereka alami. Mengingat panjangnya cerita, ceri-  ­ta ini perlu dibagi dalam beberapa epi­-sode. Episode ini hampir sama dengan pembabakan adegan. Oleh  karena  itu  perlu dilakukan pembacaan lagi lebih sesama, guna mengetahui episodeepisode apa saja yang mungkin ada dalam ceri-tera, yang dapat dijadikan dasar bagi analisis selanjutnya. Episodeepisode ini dalam pertunjukan wayang sangat jelas, ditandai dengan pergantian gending (iring-an), janturan (diskripsi tempat) dan ung-kapanungkapan dalang misalnya” Gantya kang dnarita, tunggal kandham seje prenahe” (Sekarang berganti yang diceritakan, satu perkataan tetapi tempatnya berbeda” atau Sinegeg kang winursita kang minongka sinam-beting dnarita kacondra adeging negari ….. (Berhenti dulu yang barusaja diceritakan, yang menjadi kelanjutan cerita adalah negara…), dan sebagainya. Setiap episo­de ini umumnya berisi diskripsi tentang tindakan atau peristiwa yang dialami oleh tokohtokoh dalam cerita. Sebagaimana dikatakan LeviStrauss (Putra, 2001:212) tindakan atau peristiwa ini yang meru-pakan myteme atau ceritemehanya dapat ditemukan pada tingkat kalimat. Oleh karena itu dalam analisis ini perhatian diarahkan terutama pada kalimatkalimat yang menunjukkan tindakan atau peristiwa yang dialami oleh tokohtokoh cerita. Akan tetapi karena cara ini tidak selalu tepat karena sebuah pengertian atau ide tertentu kadangkadang  diung-  kapkan dalam beberapa kalimat. Oleh karena itu pula upaya untuk menemukan ceritemeceriteme di sini dilakukan de- ­ngan memperhatikan rangkaian kalimat­kalimat yang memperlihatkan adanya satu ide tertentu. Dengan cara ini akan dapat ditemukan rangkaianrangkaian kalimat yang memperlihatkan suatu pengertian tertentu (Putra, 2001: 212).

Sebagai kalimatkalimat yang berdiri sendiri, ceriteme sering belum begitu je­las maknanya. Ceritemeceriteme tersebut perlu disandingkan dengan ceriteme lain yang tempatnya belum tentu berurutan atau berdekatan. Hanya dengan menyan-dingkan berbagai ceriteme inilah akan muncul kemudian pengertian tertentu dari ceriteme tersebut. Pengertian baru ini seolaholah lahir dari relasi ceriteme tersebut  dengan ceriteme   lain     dalam konteksnya yang baru.

Dengan langkahlangkah analisis se-perti di atas, akan cukup mudah mene-mukan oposisioposisi antarasatu tokoh dengan tokohlain berdasarkan atas tin-dakan yang mereka lakukan dan peristiwa yang mereka alami. Meskipun begitu, berbagai oposisi ini juga tidak akan be­gitu banyak artinya bagi pemahaman taf-sir kecuali dapat menempatkannya dalam hubungan dengan oposisioposisi lain yang berasal dari cerita wayang secara ke- seluruhan. Hanya dengan begitu interpre-tasi si peneliti atas berbagai oposisi ter­sebut akan menjadi lebih komprehensif, utuh, dan menyeluruh.

Setelah miteme yang ada dalam cerita didapadtan, langkah selanjutnya adalah mencari relasi dalam cerita terse­but. Kumpulan relasi tersebut akan menunjukkan rangkaian-rangkaian trans-formasi lakonlakon carangan. Dari rang-kaian tersebut selanjutnya dapat dibuat sebuah model yang dapat menjelaskan atau membantu peneliti memahami mak-na lakon Semar sebagai suatu kesatuan. Dari sini kemudian peneliti akan melihat bahwa fenomena yang diteliti memper-lihatkan adanya sebuah struktur tertentu yang bersifat tetap. Struktur yang dite-mukan ini selanjutnya digunakan untuk menjelaskan makna lakonlakon Semar dalam cerita wayang. Berikut ini meru-pakan Miteme dari lakonlakon wayang yang diteliti.

D. Miteme Lakon Carangan

1. Semar Gugat (SG) Adegan

I: Negara Dwarawati

Kresna mendapat laporan dari Ga-tutkaca kalau keadaan di negara Amarta sedang tidak aman, banyak warga Amarta yang sakit dan meninggal. la datang ke Dwarawati karena disuruh Puntadewa (raja Amarta) untuk mengundang Kresna agar datang di negara Amarta. Kresna bersedia datang. Gatutkaca di suruh berangkat dulu ditemani Setyaki dan Udawa Continue reading Konsep “Badar” Dalam Lakon Carangan Pewayangan Tradisi Yogyakarta

Wayang Kulit 11 Malam Meriahkan Festival 500 Tahun Sunan Kalijaga


Sumber : http://hot.detik.com/read/2011/07/15/094536/1681762/1059/wayang-kulit-11-malam-meriahkan-festival-500-tahun-sunan-kalijaga?h991102207

Wayang Kulit 11 Malam Meriahkan Festival 500 Tahun Sunan Kalijaga
500th Sunan Kalijaga (ist)

Jakarta Benarkah Sunan Kalijaga itu ada, atau hanya mitos belaka? Bagi orang Jawa, perdebatan mengenai hal itu hanya terdengar sayup-sayup. Secara umum lebih diyakini bahwa Sunan Kalijaga adalah figur yang berhasil mempertemukan budaya Jawa dan Islam secara cerdik.

Untuk menggali, merumuskan kembali dan merevitalisasi ajaran-ajaran Sunan Kalijaga agar tetap relevan dan bermanfaat, akan digelar sebuah festival dan ritual. Acaranya meliputi pertunjukan wayang kulit selama 11 malam berturut-turut, diskusi budaya, hingga bazar bukur dan keris.

Festival dan Ritual 500 Tahun Sunan Kalijaga digelar oleh Pesantren Kaliopak, LESBUMI Yogyakarta, Nahdhatul Ulama (NU) Yogyakarta dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat mulai 19 hingga 31 Juli 2011. Lokasinya di berbagai tempat di wilayah Yogyakarta.

Festival akan dibuka dengan acara Lampah Ratri ‘Merti Luhuring Laku Sunan Kali’, dengan rute Pesantren Kaliopak-Wotgaleh-Kotagede​-Alun-alun Utara Kraton Ngayogyakarta, Selasa (19/7/2011) mulai pukul 00.00 WIB.

Lalu, pada hari yang sama, malamnya, pukul 20.00 WIB digelar Tahlil Akbar & Tausyiah ‘Kearifan Sunan Kalijaga’ di Alun-alun Utara Kraton Ngayogyakarta.

Yang mungkin akan paling dinanti masyarakat adalah Pagelaran Wayang Kulit 11 Malam Lakon-lakon Sunan Kalijaga. Aacara ini digelar di Alun-alun Utara Kraton Ngayogyakarta setiap pukul 21.00 – 04.00 WIB, dengan jadwal sebagai berikut:

  • Rabu, 20 Juli 2011, ‘Lahire Bethara Kala’, dalang Ki Mas Lurah Cermo Sutedjo
  • Kamis, 21 Juli 2011, ‘Jumenengan Yudhistira’, dalang Ki Mas Lurah Simun Cermo Joyo
  • Jumat, 22 Juli 2011, ‘Kumbayana’, dalang Ki Mas Lurah Cermo Subronto
  • Sabtu, 23 Juli 2011, ‘Kartapiyoga Maling (Semar Mbarang Jantur)’, dalang Ki Hadi Sutikno
  • Minggu, 24 Juli 2011, ‘Mustakaweni’, dalang Ki Suwondo Hadi Sugito
  • Senin, 25 Juli 2011, ‘Dewa Ruci’, Ki Mas Lurah Cermo Radyo Harsono
  • Selasa, 26 Juli 2011, ‘Wahyu Makutarama’, dalang Ki Edi Suwondo Gito Gati
  • Rabu, 27 Juli 2011, ‘Ganda Wardaya’, dalang Ki Sudiyono
  • Kamis, 28 Juli 2011, ‘Semar Minta Bagus’, dalang Ki Gunawan
  • Jumat, 29 Juli 2011, ‘Pandhu Swarga’, dalang Ki Sutarko Hadiwacono
  • Sabtu, 30 Juli 2011, ‘Pandhawa Moksa’, dalang Ki Seno Nugroho

Selain dipentaskan, lakon-lakon tersebut juga akan didiskusikan di Pendopo Taman Siswa, Sabtu (23/7/2011) pukul 14.00 WIB. Diskusi menghadirkan dua pembicara, Herman Sinung Janutama & Prof. Dr. Kasidi.

Agenda lainnya dalam Festival Sunan Kalijaga adalah:

  • Pentas Seni ‘Madep Mantep Melu Sopo’, 20 – 30 Juli 2011, pukul 19.00 WIB di Alun-alun Kraton Ngayogyakarta
  • Diskusi ‘Seni dan Budaya Pasar’, Minggu, 24 Juli 2011, pukul 14.00 WIB di Pendopo Taman Siswa, pembicara Dr St. Sunardi
  • Lomba Panahan ‘Jemparing Jawi’, Sabtu, 23 Juli 2011, pukul 15.00 WIB di Kestalan Pura Pakualaman
  • Sarasehan Nasional ‘Merumuskan Jalan Kebudayaan Bangsa di Tengah Kebuntuan Demokrasi Liberal’ Kamis, 28 Juli 2011 pukul 08.00 WIB di UIN Sunan Kalijaga. Pembicara: KH Said Agil Siradj, A Munir Mulkan, Bakdi Sumanto, Bondan Gunawan, H. Agus Sunyoto
  • Pameran Komik Wayang dan Bursa Keris, 20-30 Juli 2011, di Alun-alun Utara

Festival ditutup dengan Suluk dan Sema’an Al-quran di Pesantren Kaliopak, Jl Wonosari Km 11, Klenggotan, Srimulyo, Piyungan Bantul, 31 Juli 2011 pukul 04.00 – 22.00 WIB.

(mmu/mmu)

Ki Rusmadi Pandawa Krida


Berikut adalah kiriman dari Mas Ali Mustofa Trenggalek yang sharing pagelaran wayang bersama Ki Rusmadi dengan mengambil lakon “Pandowo Krido”.

Ki Rusmadi adalah dalang gaya Mataraman yang mirip dengan KHS, tetapi beliau setuju dengan    adanya kolaborasi dalam pertunjukan sesuai dengan perkembangan jaman. Beliau adalah seorang anggota Kepolisian di wilayah POLDA DIY. Sepeninggal KHS beliaulah yang sekarang disebut sebut warga Kulonprogo sebagai dalang yang mirip KHS dalam olah vocal maupun gaya humornya.

Selamat Menikmati