Tag Archives: wayang purwa

MENGENAL KEMBALI PAGELARAN WAYANG KULIT PURWA


by Bram Palgunadi on Tuesday, December 11, 2012 at 9:44am ·

Pagelaran wayang kulit purwa yang semarak dan sesekali juga mencekam, merupakan salah satu daya tarik. Tetapi pagelaran wayang kulit purwa masa sekarang, banyak yang melenceng jauh dari hakikatnya sebagai pagelaran wayang. Lalu ‘digantikan’ menjadi pagelaran lainnya, seperti campur-sari, dhang-dhutan, lawak, dan bahkan pagelaran wayangnya sendiri pelan-pelan tapi pasti, lalu berubah mengkerdil menjadi sekedar ‘pelengkap penderita’. Pagelaran wayang lalu kehilangan peran dan fungsinya sebagai media untuk merenungkan hikmah kehidupan. Seperti tampak pada gambar di atas, pagelaran wayang kulit purwa berubah menjadi ‘pagelaran pesindhen’; dan sederet pesindhen ini lalu dipajang, maaf, seperti layaknya barang dagangan.

Saat pertama kali mendengar kata ‘wayangan’ atau ‘karawitan wayangan’, kebanyakan orang berpikir, ini merupakan suatu pagelaran yang rumit, sukar, penuh ritual, mistis, dan memerlukan keterampilan dan pengalaman luar biasa untuk bisa memainkannya. Ini merupakan pandangan umum, yang lazim kita temukan pada kebanyakan orang di kalangan masyarakat awam. Benarkah demikian?

Sebagian dari pendapat ini, harus diakui saja, memang benar. Tetapi, ada sejumlah besar hal, yang mungkin saja tidak diketahui khalayak ramai, yang sebenarnya mencerminkan bahwa memainkan wayang kulit, khususnya wayang kulit purwa tidaklah seseram dan sesukar yang dibayangkan orang. Misalnya, adanya pandangan di kalangan masyarakat luas, bahwa gendhing-gendhing pengiring pagelaran wayangan, merupakan iringan yang maha sukar, dan karenanya lalu memerlukan keterampilan, kemampuan khusus, pemahaman, dan bahkan pengetahuan khusus; untuk bisa menjalankannya. Pandangan ini, tentu saja berakibat timbulnya pendapat, bahwa pagelaran wayang kulit purwa merupakan pagelaran yang maha sukar, dan karenanya lalu memerlukan ‘orang-orang pilihan dengan kemampuan dan keahlian khusus’. Pendapat inilah yang hendak ‘dibalikkan’. Karena nyatanya, sebuah pagelaran wayang kulit purwa tidaklah selalu merupakan suatu pagelaran yang maha sukar.

Jadi, pertanyaannya, sebenarnya apa saja yang merupakan ‘kebutuhan minimal’ (minimum requirement) untuk bisa melaksanakan suatu pagelaran wayang kulit purwa? Di bawah ini, dijelaskan secara singkat jawabnya. Juga termasuk berbagai renik-renik yang merupakan kekhasan pagelaran wayang kulit purwa.

Gendhing pengiring suatu pagelaran wayang kulit purwa Continue reading MENGENAL KEMBALI PAGELARAN WAYANG KULIT PURWA

Ki Timbul Hadi Prayitno : SEMAR MBABAR JATIDIRI


Ini kali kesekian, Pak Sugiran Aulia membagikan pagelaran audio wayang purwa. Kali ini beliau memberikan ke saya satu set kaset berisi 8 seri pagelaran dari Ki Timbul Hadi Prayitno. Kaset seperti ini tidak ditemukan di pasaran umum, karena ini adalah pagelaran yang diselenggarakan oleh DPP Partai Golkar pada Sabtu Pon 3 Juni 1995. Menurut yang tercatat, bahwa pagelaran ini adalah dalam rangka mempringati harlah Pancasila dan menyongsong Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke 50.

Karena pagelaran ini ditanggap oleh partai politik, lakon yang sejatinya merupakan babon cerita pakem, oleh Ki Timbul dimodifikasi sedemikian rupa sehingga intinya merupakan jlentreh Kyai Semar terhadap bunyi Pancasila. Wejangan ini disampaikan Ki Badranaya terhadap cucu-cucu Pandhawa, ketika Negara Yawastina dirundung perpecahan karena tindakan musuh yang melakukan adu domba.

Kaset lama ini sudah agak “owah”. Namun demikian Pagelaran Ki Timbul yang mengusung gaya tersendiri yang agak sulit ditemui di pagelaran lain dapat dikatakan masih lumayan baik.

Ki Timbul pada pagelaran ini mamainkan adegan Limbukan dan Budhalan, yang sebenarnya jarang dilakukan dalam pagelaran gagrak Mataraman. Ini mungkin dilakukan oleh ki Timbul untuk mewadahi keinginan para hadirin kader partai yang tentunya berasal dari berbagai kalangan. Namun didalam cerita budalan ini, beliau mengatakan bahwa dalam gagrak Mataram di pasinaonan juga mengajarkan hal tersebut.

Silakan bagi yang berminat untuk klik DISINI

Ebook Wayang : Nemu yang hilang


Sudah download ebook “Sedjarah Wajang Poerwa” Pak Hardjowirogo ?

Kalau sudah tentu masih ada yang tidak sempurna karena ada 2 halaman yang tidak ada. Waktu itu saya kehilangan 2 halaman itu, namun kemudian akhirnya saya menemukannya. Untung belum disobek dan rusak.

Halaman yang hilang sebelumnya adalah halaman 125 & 126.

Silahkan sisipkan di PDF yang telah jadi.

125

126

Jaman Mataram Wis Nganggo Punakawan


WAYANG KULIT PURWA

28/04/2008 11:41:26

JAMAN Mataram mligine nalikane Amangkurat I kuwasa, wayang purwa wiwit nggunakake punakawan. Kaya kang ditulis dening Soekatno BA ing bukune Wayang Kulit Purwa, Klasifikasi, Jenis lan Sejarahe, mekare wayang purwa ngalami owah-owahan.

Jaman Mataram Mas Jolang (1601-1613), (Panembahan Seda Krapyak) uga nggatekake wayang kulit. Owah-owahan kang ditindakake, gawe wanda (pawakan) anyar. Antarane:

  • Arjuna wanda jimat (jimat = azimat, kesucian),
  • Bima wanda mimis (mimis = pluru = trampil),
  • Suyudana wanda jangkung (jangkung = ngayomi),
  • Raseksa Raton wanda Barong (barong = singa rambut dawa) lan sapanunggalane.

Uga ana dhagelan lan gapet wayang luwih becik.

Jaman Mataram Sultan Agung (1613-1645), wayang digawe kanthi mawerna-werna wujud mripat, kayata: liyepan, dondongan, thelengan, lan sapanunggalane. Uga gawe wanda (pawakan) wayang anyar kayata:

  • Baladewa wanda geger (geger = hura-hura),
  • Kresna wanda gendreh (gendreh = sifat mulya),
  • Arjuna wanda mangu (mangu = ragu-ragu),
  • Sembadra wanda rangkung (rangkung = langsing/singset),
  • Banowati wanda golek (golek = boneka),
  • Semar wanda brebes (brebes = luh utawa kaya arep nangis),
  • Bagong wanda gilut (gilut = ora duwe untu),
  • Semar wanda dhukun (dhukun = tabib),
  • Petruk wanda jlegong (jlegong = dhadha ciut weteng gedhe).

Dipengeti kanthi candra sengkala memet, wujud raseksa rambut geni = Buta Rambut Geni. Unine: Umurubing wayang gumuling tunggal, utawa taun 1563 Saka.

Jaman Mataram, Amangkurat I (1645-1677) Ana rong lakon yaiku:

  1. Lakon Kasepuhan kang digawe Kyai Panjang Mas. Crita iki digelar ana sajroning kraton, kanthi punakawan: Semar, Gareng, Petruk.
  2. Lakon Kanoman kang digawe Nyai Anjang Mas. Crita iki digelarake ing Kadipaten kanthi punakawan: Semar, Gareng, Petruk, Bagong. (Joko S/Top)-k KR-

SUTOPO SGH Punakawan ing wayang purwa koleksine Hadi Sukirno. 1

http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=161138&actmenu=46