Tag Archives: wayang ajen

Wayang Ajen


BANDUNG, KOMPAS.com–Penampilan wayang ajen pada Festival de Titeres de Canarias 2009 di Spanyol, 23 April-5 Mei, mendapatkan penghargaan untuk kategori penampilan terbaik. Kemampuan meramu pertunjukan tanpa kehilangan karakter dasar seni wayang tradisional dianggap sebagai terobosan mengesankan.

“Menurut Angel Brito, koordinator festival, wayang ajen dengan segala tampilannya mampu memuaskan penonton,” kata Wawan Gunawan, pemimpin rombongan sekaligus dalang wayang ajen di Festival de Titeres de Canarias 2009, melalui surat elektronik, Rabu (6/5).

Dalam festival ini tim wayang ajen tampil di delapan kota, yaitu Los Realejos, Guia De Isora, El Sauzal, El Rosario, Santa Cruz de La Palma, Tenerife, Gran Canaria, dan Aguimes. Selain Wawan, anggota lainnya adalah M Tavip (dalang gambar motekar), Dodong Kodir (musik daur ulang), dan Pandu Radea (penata artistik).

Menurut Wawan, penghargaan itu membuktikan wayang ajen bisa menjadi salah satu karya besar dunia internasional. Wayang ajen dianggap mampu membawakan kesenian baru tanpa melepas identitas asli sebagai bagian dari wayang golek. Hal itu bisa dilihat dari idiom gerak, gambar, dan musik yang digarap secara artistik. Bahasa Inggris dan Spanyol yang dibawakan dalam setiap pertunjukan juga bisa memudahkan penonton menikmati pertunjukan wayang ajen berlakon Rama dan Sinta ini.

“Terutama saat adegan goro-goro yang menampilkan kolaborasi Si Cepot dengan wayang matador, atau ketika Si Cepot mengaku sebagai Lionel Messi dan Raul Gonzales, pemain sepak bola klub terkenal Spanyol, Barcelona FC dan Real Madrid,” katanya.

Kemampuan personel lain juga mampu membangun penampilan wayang ajen semakin hidup. Kemampuan Dodong Kodir mengeksplorasi sampah menjadi alat musik dengan efek-efek bunyi aneh membuat penonton terperangah, contohnya ketika mendengar suara halilintar, angin, dan ombak.

Hal yang sama dilakukan M Tavip. Gambar motekar yang dibawakannya berhasil mengejawantahkan wayang ajen dalam bahasa gambar. (CHE)

Sumber :
Kompas Cetak
—————

Wayang Ajen mendapatkan pengakuan sebagai bentuk pertunjukan kesenian bagian dari warisan budaya tak benda Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

Wayang ajen dianggap sebagai salah satu bentuk terobosan kreatif mengembangkan kesenian dan tradisi wayang di dunia.

”Pengakuan itu muncul karena kami tampil dalam Festival Internasional Bucheon World Intangible Cultural Heritage Expo (BICHE) di Kota Bucheon, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan, 28 September-2 Oktober 2010,” ujar dalang wayang ajen, Wawan Gunawan.

Wayang ajen adalah hasil kolaborasi wayang golek, wayang kulit, wayang dari bahan fiberglass, tari, dan komposisi musik dalam sebuah pertunjukan. Dalam pementasannya, didukung juga penataan artistik panggung, keserasian tata cahaya, serta kostum harmonis.

Wawan mengatakan, BICHE 2010 merupakan ajang pertemuan budaya dan kesenian tradisi dunia yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda, sekaligus guna mengenang sejarah 500 tahun Korea. Beberapa pertunjukan yang ditampilkan, antara lain, adalah tari aspara dari Kamboja, musik dan tari mariachi Latin dari Meksiko, musik dunia Rudiger dari Jerman, dan tari samba dari Brasil.

Menurut Wawan, wayang ajen mendapat kesempatan tiga kali tampil, dengan lakon ”Sinta Ilang”, ”Rahwana Gugur”, dan ”Sinta Obong” dari kisah Ramayana. Untuk memudahkan interaksi dengan penonton, pertunjukan diberi pengantar bahasa Inggris, lalu diterjemahkan dalam bahasa Korea.

”Pesan moral dan diplomasi budaya, sebagai jembatan persahabatan antarbangsa melalui pertunjukan kesenian, merupakan upaya jitu. Semua anggota tim yang berjumlah 10 orang bahkan sempat menyanyikan lagu Korea, ’Arirang’,” ujarnya.

Manajer Wayang Golek Ajen Dini Irma Damayanthi menjelaskan, pertunjukan di Bucheon kali ini hanya tiga kali. Meskipun tidak seperti saat pertunjukan di beberapa kota di Spanyol dan Republik Ceko yang pernah dilakukan, pihaknya puas karena mendapatkan pengakuan dunia.

”Sambutannya sangat meriah. Apalagi, kami juga menyertakan penampilan wayang tavip karya Mohammad Tavip. Wayang hasil daur ulang beragam materi yang sudah tidak terpakai ini mampu memperkaya kekuatan estetika pertunjukan,” ujar Dini.

info lebih lanjut Wayang Ajen

Sumber: Kompas