Tag Archives: surtikanti

Mendung Diatas Mandaraka [5]


Yang Gundah Terbeban Serapah.

by MasPatikrajaDewaku 

Sejuknya tempat berteduh membuat para panakawan terlena duduk terkantuk. Sementara Pamadi sendiri duduk berdiam diri. Semar yang tidak tahan dengan suasana beku kemudian memanggil salah satu anaknya. “Tole, Nala Petruk . . . “

Petruk yang dipanggil tertawa kecil kemudian katanya, “Aku bilang, ini bukannya keliru, tapi ini disengaja. Apa ada, Nala kok Petruk. . . . . ?!”

“Biar saja, yang kasi nama situ, yang ngerusak ya situ. Biarkan saja!” Gareng ikut ikutan menjawab dengan ketus, “Kalau orang tua yang tau tuanya, mestinya harus mengerti segala tingkah tanduk, dan suaranya juga harus mengikut irama, tidak gegabah dengan suaranya. Dulu siapa yang memberi nama kita ini. Pastilah bapak kita, Kyai Semar. Nala Gareng sudah tepat buat aku. Nala Gareng itu nama yang bener,  sampeyan ini maunya gimana to Ma? Kalau yang dipindah cuma nama saja boleh-boleh saja, kalau rumahkuyang dipindah  juga nggak apa apa. Nah kalau yang dipindah istriku, gimana coba”. Gareng mencoba protes ke Semar

“Lha kalau yang dipindah istrimu, apa aku sudi begitu Kang? Jangan mengukur aku dengan ukuran kamu. Aku itu kalau bukan orang yang  “mbudaya”, enggak kok. Kalau aku bilang enggak kalau bukan yang kinyis-kinyis, seperti bidadari yang menjelma manusia” Petruk yang tidak enak sama Gareng menjawab. Gareng diam.

“Toleee . . . , Kanthong Gareng”.

Petruk maklum, maka ia menjawab panggilan bapaknya walaupun itu salah. “Yahh, apapun itu, aku mau jawab. Sebab yang kasih nama situ kok. Biasanya kalau enggak dituruti, nanti trus marah. Jadi, bener aku turuti, salah juga aku ikuti, kalau sudah terpojok dia bakal mati kutu!!”.

“Orang tua kok maunya diasuh! Apa ada yang seperti kyaine itu”. Gareng yang belum hilang mangkelnya kembali nyerocos. “Seharusnya yang diasuh kan kita ini. Apa-apa bisik-bisik jangan bilang ke ibumu. Penyakit menempel. Nggak sampai disapu angin ribut, baginya sudah nama untung. Kalau tidak orang tua yang umurnya sudah banyak, entah bakal aku apakan dia!”.

“Silakan Pak Bei meneruskan umpatan Bapak”. Kata Semar “Eeeh kamu ngomongin bapakmu dihadapanku, nyerocos, banyak banyak kata-katamu he”.

“Tolee, Jangkrik Genggong . . . . “ Kembali Semar memanggil anaknya, Bagong, pura-pura salah panggil

“Yang mana lagi ini yang dipanggil?” Petruk juga pura-pura tanya.

“Nggak tau ya, siapa yang dipanggil. Jangan jangan dia punya anak lagi selain kita. Diam-diam rama Semar itu juga suka slundap-slundup begitu. Kelihatannya nggak, tapi nggak taunya iya. Lha emang dianya sudah tua. Lah lain lagi kalau seperti kamu, Kang Gareng, yang masih muda, enggak agak iya dan kalau iya jadinya agak seperti tidak. Makanya mudah ketauan”.

“Genggong . . “.

Apa Ma? “Weton” kamu dulu apa ta Ma?” tanya Bagong yang mau tidak mau memutuskan untuk menjawab.

“Eeeh . . . .  ada apa anak ini pake tanya tanya?”

“Aku mencari tau hari lahirmu, aku mau santet kamu Ma. Orang memberi nama Bagong kok terus jadi jangkrik genggong. Itu kan namanya sampean itu tidak menghargai suaramu sendiri”.

“Lho namamu siapa sebenarnya?” tanya Semar.

“Namaku Bagong . .”

“Aku panggil jangkrik genggong kok kamu nyahut? Kamu “galak lidah” ya? Kamu mau tau urusan orang, selalu iri dengki, kalau sesuatu yang lain, seharusnya disarung lebih dulu”.

“Disaring, bukan disarung . . . “ Jelas Petruk menyela.

“Aku tidak memanggil dia kok dia main nyaut saja.”

“Ya sudah kalau nggak manggil aku ya nggak apa-apa. Tapi aku kan sampeyan yang bawa, iya kan? Setelah sampeyan nggak bisa menyesuaikan diri kok aku disia-sia?!” jawab Bagong yang kemudian diam.

“Aku heran Thole”. Semar mulai mengalihkan pembicaraan.

“Heran yang bagaimana?” Petruk yang masih sabar, menjawab

Berkali kali kalau mengikut bambangan (satria turun gunung) kok susah dimengerti. Oh mbok dadung manuk (tali penjerat burung;[kala]), kala-kala Bambangan harusnya hatinya gembira. Sebutan raksasa; [kala], kala-kala harusnya membuat hati gembira. Ketonggeng kecil; (dapat dari kata [kala]); kala-kala harusnya kita mengikut bambangan memjadikan kita gembira, nggak harus selalu mengerinyitkan dahi”. Semar menjelaskan dengan wangsalan.

Lalu kemudian melanjutkan. “Aku sampai kisruh bolehnya mengira-ira. Menafsirkan orang diam itu malah sulit. Diam karena memang wataknya atau diam karena susah. Apa juga diam karena marah, sampai susah aku menduga duga”.

Keluh Semar nyerempet ke Gareng “Beda dengan diamnya Gareng, Cuma ada dua sebab, kalau nggak sedih ya cari kesempatan. Itulah bedanya dengan momongan kita, Permadi”. Kembali Gareng yang temperamental hendak marah tapi ditahan Petruk.

Setelah reda Gareng malah menyahut “Sudahlah Ma, yang sudah-sudah ya jangan diulangi lagi. Yang penting, dulu kita sudah sanggup mencari adanya Dewi Erawati, yang sudah dicuri oleh “duratmuka”.

“Apa itu?” Tanya Petruk.

“Duratmuka itu bukannya nama lain dari pencuri?” balik Gareng nanya.

“Reng, sebetulnya kamu ngerti sastra apa enggak sih? Duratmaka kok kamu bilang duratmuka ?!”. kembali Petruk memberi penjelasan”.

“Ooh pantesan aku pernah diketawain orang tuh, aku pernah ndongeng dihadapan orang sependapa, aku bilang begini: Para hadirin, yang namanya Bethari Nagagini itu sebenarnya bidadari. Tetapi kalau sedang triwikrama dia bisa menjadi “sardula”. Aku kira sardula itu artinya ular, nggak taunya sardula itu berarti macan. Maka aku ditertawakan orang banyak. Nggak taunya menerapkan kata sastra itu tidak gampang, ya Truk. Pakai tata bahasa dan pakai tata cara”. Gareng pasrah

“Ya iya lah”. Petruk menjelaskan “Saya terima dengan tangan saya dwi, itu juga tidak boleh. Aku terima dengan kedua tangan, harusnya begitu”.

“Ada lagi yang menertawai aku sampai tertawa ngakak, sewaktu aku menggambarkan diri aku sendiri”. Gareng kembali mengisahkan ketika ia salah menggunakan sastra.

“Yang macam mana?”

Para hadirin, kalau saya berdandan seperti ini, saya kelihatan seperti layaknya seorang  “rajakaya” . nah disini orang orang pada ketawa semua.”

“Yang kamu maksud itu apa?”

“Rajakaya menurutku raja yang kaya.” Gareng menjelaskan kesalahannya

“Bukan! Rajakaya artinya kerbau sapi kambing dan binatang ternak sejenisnya.”

Bagong yang dari tadi diam, ikut menyela, “Ini pada ribut masalah pribadi apa merembuk kita ikut orang? Kamu itu digaji” . Petruk dan Gareng yang sedari tadi ribut kini terdiam.

Suasana yang menjadi sepi membuat Semar membuka mulut. Ia menyanyikan pupuh Dhandanggula dengan laras pelog. Tangannya mengipas kipaskan daun waru, walau udara sebenarnya sejuk.

Kawruhana, sajatining urip

Manungsa ‘ku urip aneng donya

Prasasat mung mampir ngombe,

Upama peksi mabur, oncat saking kurunganeki,

Pundi pencokan mbenjang, ywa kongsi kaliru

Upama wong lunga sanja, jan sinanjan tan wurunga bakal mulih

Mulih mula mulanya.

Kurang lebih artinya:

Mengertilah, sesungguhnya

manusia hidup didunia itu

hanya seperti (orang) mampir minum

umpama burung terbang, lepas dari kurungannya

dimana ia bertengger nantinya,  janganlah sampai keliru.

umpama orang bepergian, bergaul, dan tidak urung pulang kembali,

pulang ke asal mulanya.

Demikian Semar mengakiri tembang Dhandhanggula, sambil tetap mengipas kipas badannya. Belum puas, satu bait lagi ditembangkannya masih dengan Dhandhanggula-nya

Angudhari (?) wasitaning ati

cumanthaka aniru pujangga

dhahat mudha ing batine

nanging kedah ginunggung

datan wruh yen akeh ngesemi

ameksa angrumpaka, basa kang kalantur

tutur kang katula tula, ginalaten winuruk kalawan ririh

mrih padhanging sasmita. . . .

(pupuh ini menyindir penulis yang berani beraninya menulis disini seperti layaknya seorang pujangga. Walau banyak yang hanya senyum melihat kecethekan tulisannya. Tapi saya pikir lebih baik bertindak daripada hanya diam. Dan saya butuh “ririhnya wuruk” atau “comment” membangun dari anda pembaca)

Demikian setelah Dhandhanggula selesai, menyusul langgam Setya Tuhu berkumandang

Aku kang setya satuhu/ wit biyen nganti saiki/ bebasane, peteng kepapag obor sumunar//

Andika pangayomanku/ lahir batin tuwuh nyata/ mung sajake andika semune kurang rena//

Tandha yekti paseksene, rikalane/ najan awrat. . . / mlampah tebih datan nesu/ (mugi lestari-a) . . .

Mugya_ antuk berkahing widi/ andika mung tansah limpad/ panyuwunku, setya kula, tansah anglam-lami//

 

Diriku yang benar-benar setia

dari dulu hingga kini

seupama dalam kegelapan, bertemu dengan sinaran obor

 

Dirimulah pengayomanku

lahir dan batin tumbuh menjadi nyata

tapi agaknya andika kurang berkenan.

 

Saksi akan tanda-tanda itu

walau seberat apapun

jalan sejauh apapun (aku) tidak marah

 

Semoga mendapat berkah dari tuhan

andika selalulah dapat mengatasi

Permintaanku, kesetiaanku akan selalu (engkau) kenang.

Terkantuk kantuk anak-anak Semar mendengarkan langgam yang demikian mencabut sukma.

Setelah dilihat anak-anaknya terlena oleh irama tadi, Semar menyapa Pamadi, “nDara Permadi, abdi paduka sudah menanti. Segera andika beri kami keterangan, ini mau kemana. Mau ke utara, keselatan atau tetap nongkrong disini saja? Bagaimana mau selesai pekerjaankita, kalau kita tetap diam seperti ini”.

Bagong yang berbaring-baring masih membuka mulut memberi masukan terhadap bapaknya “Itu salahmu Ma, yang nggak bisa memuaskan momongan kita. Maunya slendro kok dikasih pelog. Coba sekarang diberi slendro, setelah tadi kita suguhi pelog ternyata belum lega.”

Semar diam mencerna kata kata Bagong. Kemudian Semar buka mulut menembangkan Sinom Grandel.

Memanismu kang ngujiwat

agawe rujiting galih

‘rerepa kang sinedya

upama mundhuta rukmi,

Tartamtu tak turuti

ibarat wong numpak prau

lumampah tanpa welah

neng madyaning jalanidi,

temah gonjing anggenjong neng pagulingan.

 

[Catatan: Pupuh Sinom Grandhel ini sangat tenar untuk saat sekarang, dimana dhalang banyak yang bertindak selaku MC dan penyaji pilihan pendengar. Mereka, para dhalang, banyak yang meluangkan waktunya mengatur para tamu dan penonton yang hendak ikutan berpartisipasi unjuk kebolehan, hingga melantur dari cerita pagelaran yang sesungguhnya] ;)

Selesai Sinom Grandhel, “bawa” ini diteruskan dengan gending “Sapa Ngira”:

Sapa ngira/ bareng wus akhir diwasa// tandang tanduk solahe sarwa jatmika/ welingku aja kemba/ anggonmu darbe prasetya/nandyan aku tan kengguh mulat  endahe/ya mung kowe katon ngawe awe/ sebab/ sapa ngira pinter ngadi sarirane/ sapa ngira- sapa ngira/ muga nindakna utama/ singkirana-singkirana/ panggoda kang tan prayoga//.

Pamadi yang merasa terhibur dengan tingkah para pemomongnya tersenyum, panggilnya kemudian, “Semar . . . . . . ”.

Terkaget, Semar menjawab tergesa-gesa, “Eee saya.  Ada yang hendak andika perintahkan?”

“Bingung rasa hati ini, yang sudah kadung sanggup memulangkan kanda Erawati ke Mandaraka. Tetapi kakang, sampai sekarang belum ada titik terang, dimana adanya kanda Herawati. Cara apa yang harus aku tempuh, bagaimana bila tidak ada keterangan. Apa nanti ada kejadian Pamadi mendapat malu”. Jelas Parmadi. Suasana hati yang gundah, telah menjadikannya buntu jalan pikirannya. Belum lagi kata kata serapah dari Surtikanti ketika menjelang berangkat, masih membebani benaknya.

Semar yang tahu betapa galau rasa hati momongannya, kemudian mencoba memberikan pencerahan. “Eeeeh . . . , Jangan sampai bicara begitu, sampeyan itu satriya tohjali-nya jagad. Bicara begitu boleh, ngresula juga boleh, tetapi harus mengutamakan rasa nelangsa. Nelangsa itu tidak berarti  mutung, tapi pasrah kepadaNya. Walau dalam tata lahir tetep menjalankan tugas, tapi dalam batin juga disertai dengan tetap menjalankan perintah Tuhan. Sebab, orang yang hanya bekerja tetapi tidak ingat terhadap Tuhannya, tidak urung akan selalu menemukan kegelapan. Beda kalau dalam bekerja itu dibarengi dengan laku ‘ibadah. Selain menjadikannya terang jalan yang hendak dilalui, juga sejumlah hal yang ruwet akan bisa terurai. Berbagai hal yang ganjil gampang digenapi. Apalagi bila andika selalu ingat setiap pelajaran dari eyang andika di Saptaharga, Resi Abiyasa”

Permadi kemudian diam. Semar masih mencoba menaikkan kejiwaan momongannya. Sekarang ia melantunkan kembali “pada” (bait) tembang yang sekiranya bisa sebagai pancadan penggugah semangat.

Saben mendra saking wisma

lelana laladan sepi

ngisep sepuhing supana

mrih pana pranawa_ ing kapti

Tistis ing tyas marsudi

mardawaning budya tulus

mesu reh tyas kasubratan

neng tepining jalanidhi

sruning brata kataman wahyu dyatmika

“Yang tadi Itu mau saya artikan seperti ini:

Saben mendra saking wisma, setiap pergi dari rumah. Lelana laladan sepi; bepergian cari tempat yang sepi. Ngisep sepuhing supana; mencari kekuatan diri seperti halnya menyepuh emas. Mrih pana pranaweng kapti; supaya terang jelas dalam hati. Tistising tyas marsudi; sejuk dalam hati yang sebenarnya adalah mencari dimana adanya, Mardawaning budya tulus; mardawa artinya memperpanjang budi yang tulus. Dengan sarana mesu reh tyas kasubratan, artinya mau menjalankan tapa-brata. Neng tepining jalanidi; walau ditepi samudra sekalipun. Tetapi yang diartikan disini adalah; bukanlah gelarnya samudra itu sendiri. Tetapi sebenarnya adalah gelar cita cita. Alun dan ombak samudra yang tingginya segunung gunung itu, menjadi ukuran dari orang yang mempunyai cita-cita. Orang yang mempunyai cita-cita itu, gerak gelombang hatinya berdeburan seperti itu.

Tentramya hati bila sudah tercapai yang diidam idamkan. Sruning brata ketaman wahyu dyatmika. Sruning brata itu, ketika sedang berjuang mencapai cita, ketaman, artinya, mendapatkan wahyu, yang artinya ganjaran kebahagiaan, sedangkan dyatmika artinya ketenangan, tempat kesentausaan yang langgeng.

Andika harusnya meniru laku orang orang tua andika dimasa lalu. Retaknya tembok dapat disaranani dengan melabur, rengatnya kayu bisa disopak. Tetapi retaknya kewibawaan, pelaburan atau penyopakan itu hanya bisa dilakukan dengan tapa-brata”.

“Kalau begitu kakang, aku tidak ingin segera pulang ke Mandaraka. Walaupun segawat apapun hutan didepan itu, aku akan tetap jalan kedalam-nya. Ayo kita segera melanjutkan perjalanan. Jangan jauh jauh dari tempat aku berdiri. Kalian hanya aku perbolehkan berjalan setidaknya satu jangkauan tangkai tombak jaraknya” Agaknya Pamadi berkenan dengan kata penyurung dari Semar. Maka kemudian diperintahkannya semua untuk bersiap kembali menempuh perjalanan.

Demikianlah, rombongan kecil itu kembali bergerak. Sekarang mereka masuk kedalam hutan, turun naik ke jurang yang curam, dengan duri duri yang lebat bergantungan. Tersuruk jalan mereka oleh sulur penjalin. Mereka tidak ada rasa takut  sedikitpun terhadap bahaya yang mungkin saja mengancam didalam hutan itu.

Makin ketengah Arjuna masuk kedalam hutan. Geger binatang hutan, mereka berlarian menjauh dari rombongan itu. Kalaupun mereka bisa berbicara, maka kita dapat mendengar suara mereka “ Heee teman semua, menyingkirlah kalian semua. Kita membaui ada diantara mereka yang menggunakan minyak Jayengkatong. Pastilah mereka bukan orang sembarangan. Masih keturunan dari orang terhormat. Jangan sampai tersenggol oleh mereka, walaupun kita hanya terpijak bayangannya, bakal terkena walatnya. Mari kita segera menyingkir . . . menyingkir . . . . “, demikian binatang itu segera menjauh dengan suara yang gemeretak dan segera lingkungan sekitarnya menjadi bersih dari para binatang hutan.

Terceritakan ketika itu ada serombongan abdi negara dari Tirtakadasar. Mereka yang membaui wanginya minyak Jayengkatong segera meloncat dari persembunyiannya. Sambil mematahkan kayu kayu dari dahan pohon, berisik gemeretak suaranya.

Pamadi yang dihadang tidak tinggal diam. Dengan ancaman dari para raksasa Tirtakadasar, Pamadi melawan seorang diri. Puluhan prajurit raksasa bukan lawan yang sepadan walau ia dikeroyok. Banyak yang mati oleh kesaktian Pamadi dan sebagian lain melarikan diri, ngeri oleh amuk Pamadi.

Tapi setelah segenap musuh yang telah banyak yang terbunuh dan yang masih sayang dengan jiwanya melarikan diri, tiba tiba terjadi keanehan. Pamadi tiba tiba berkeringat dingin, berleleran disekujut badan bagaikan anak sungai. Kepalanya tiba tiba merasa pening dan badannya menjadi begitu lemas. Seketika pingsan Raden Pamadi. Ternyata serapah Surtikanti telah menjadi kenyataan.

Link pagelaran dari Ki Nartosabdo yang berhubungan dengan kisah diatas:

http://www.mediafire.com/?f4xq7e74ndk3vig

Mendung Diatas Mandaraka (2)


3. Rencana Salya adalah Air Mata Surtikanti.

Di dalam hati Prabu Salya berdesakan perasaan antara nurani bersih – rasa kepatutan – dan hasrat untuk mendapatkan sesuatu. Apapun cara itu, bagi Salya, yang penting terlaksana. Kedua rasa yang saling bertentangan itu bergulung campur aduk, hingga sekian lama Prabu Salya hanya duduk tegak bagai arca yang terhiasi busana. Setelah menarik nafas panjang, dan menetapan hati, berkata Prabu Salya kepada putranya.

“Putraku Rukmarata !!”

“Daulat Rama Prabu”. Jawab Rukmarata yang sedari tadi menunduk diam menunggu perintah dari ramandanya.

“Semoga dewata memberikan ijin dan meluluskan apa yang menjadi kemauan Pamadi.

Selama aku melihat kemenakanku, Permadi, berdesakan rasa dalam dadaku. Alangkah gembira rasa hati ini, pasti juga termasuk hati ibumu, bila kita bisa mendapatkan menantu Permadi, anak Pandu. Itu yang pertama.

Kedua, bila dilihat dari kenyataan bahwa dia bisa menjadikan kraton Mandaraka lebih indah, lagi pula menurut hitungan, Pamadi itu adalah salah satu satria yang terbiasa melakukan darma tanpa pamrih.

Ketiga, adalah kita ini bisa diibaratkan berusaha hendak mengumpulkan daging yang terpisah dan menautkan tulang yang renggang. Oleh sebab itu ada suatu cara yang bakal aku lakukan. Heh Rukmarata!”

“Daulat Rama Prabu, hamba akan setuju saja dengan pendapat Rama Prabu apapun itu. Putra juga berharap, semoga kehendak Rama Prabu dapat terlaksana”. Rukmarata telah paham apa yang menjadi jalan pikiran ramandanya. Dan benarlah, ketika Prabu Salya kali ini mengutus dirinya untuk memanggil kedua kakak perempuannya.

 “Hari ini aku kepengin kamu memanggil kedua kakak perempuanmu, Surtikanti dan Banuwati. Segeralah panggil keduanya”.

“ Baiklah, titah rama prabu akan putara laksanakan.“ Tanpa ada bantahan lagi, Rukmarata segera lengser dari hadapan ramandanya.

Demikianlah, tak lama kemudian Rukmarata telah kembali kehadapan Prabu Salya. Rukmarata telah datang dengan diiring oleh kedua kakaknya Surtikanti dan Banuwati. Surtikanti adalah putra kedua Prabu Salya, berwajah ruruh kalem. Wanita ayu, dan sosoknya sedang. Bila berbaur dengan wanita yang berbadan tinggi ia tidak kelihatan pendek, dan sebaliknya bila ada diantara wanita yang berbadan pendek, ia tidak kelihatan kelewat tinggi. Kulitnya  kuning langsat bersih bening bagaikan emas yang baru saja disepuh. Dengan sedikit senyum, cenderung serius. Ia berjalan sebelah kanan mengiring adik lelakinya.

Disebelah kiri Rukmarata, Banuwati berjalan dengan langkah gemulai. Sebagaimana kakaknya, Banuwati juga mempunyai paras yang demikian cantik. Bahkan ada sedikit kelebihannya bila dibanding dengan Surtikanti. Gadis putri Prabu Salya yang satu ini memang begitu kenes dan periang. Senyumnya selalu merekah dan matanya yang bulat agak liar dan dinaungi bulu mata lentik, membuat pria siapapun yang terkena kerlingannya seakan runtuh jantungnya. Setiap ucapan yang keluar dari bibirnya terdengar begitu manja dan mengundang perhatian siapapun baik wanita apalagi pria. Memang, putri Prabu Salya yang satu ini memiliki daya tarik kewanitaan yang begitu menakjubkan. Demikian juga selera busananya yang tinggi, walau sebenarnya kulit beningnya dapat membuat semua warna masuk tertata dalam sosoknya yang sintal.

Dan ketika ketiga putranya telah duduk dihadapan ramandanya, dengan senyum bangga, kali ini sejenak melupakan kesedihan hatinya. Ia melihat anak-anak wanitanya seperti halnya memandang asrinya kembang-kembang warna warni penghias istana Mandaraka. Maka kemudian berkata Prabu Salya.

“Anakku Surtikanti, dan Banuwati. Hmmm . . . . .  disamping kebahagiaan yang menggunung dalam dadaku ini melihat keberadaanmu berdua, bagimu sekalian juga aku melihat ada kebahagian yang terhampar dihadapanmu, seperti ujud dari turunnya wahyu sejati”.

Sejenak walau baru memulai pembicaraan, Salya berhenti berbicara memandang kedua putrinya bergantian. Surtikanti tetap menunduk sedang Banuwati dengan senyumnya memandang ayahandanya. Salya terseret ikut tersenyum melihat kemanjaan Banuwati. Terusnya.“Itu tidak lain adalah, bahwa aku telah menerima datangnya saudaramu, Permadi. Permadi itu perlu aku jelaskan dulu. Ia adalah putra dari Raja Astina dahulu, mendiang pamanmu Prabu Pandu Dewanata.

Terus apa sebab kamu berdua aku panggil? Begini, orang itu tak akan tahu kapan kebahagiaan itu bakal datang. Hari ini kamu berdua satu demi satu akan aku utus untuk mengajak mampir Pamadi, yang hari ini sudah mengatakan kesanggupannya mencari dimana hilangnya kakakmu Herawati.

Satu-satu dari kamu berdua hendaknya bisa merayunya dengan sikap mesra kalian Tariklah ia agar ia batal pergi mencari Herawati. Sebab menurut hitungan, masih banyak para orang yang kuat tenaganya dan awas mata hatinya, yang aku anggap dapat mencari keberadaan Herawati.

Tapi aku tahu watak Permadi yang kuat seperti mendiang ayahnya. Pasti ia dengan teguh akan tetap berangkat mencari kakakmu. Maka gagalkan maksudnya, jangan sampai Pamadi kukuh kemauannya. Ya kalau ia berhasil, kalau tidak, ia pasti akan malu kembali ke Mandaraka. Dan ini berarti, Mandaraka bakal kehilangan perhiasan yang indahnya tiada terkira”. Begitulah Salya telah menerangkan maksud hatinya dengan menguraikan kepada keduanya memakai bahasa yang menurutnya begitu jelas.

Namun Surtikanti, wanita yang mempunyai tata susila yang begitu genap, masih meragukan apa yang didengarnya. Maka ia dengan memberanikan diri menanyakan apa maksud dari perintah itu kembali.“ Rama, jadi apa yang harus hamba perbuat?”

“Ajaklah Permadi mampir di keputrenmu.”  Jawab Prabu Salya tegas.

“Duh Rama, nista apa yang akan hamba sandang. Yang sudah lumrah dan sampai saat ini masih berlaku, yang harus mendahului adalah pria. Bila ada seorang wanita yang berani mengajak pria, walau ia adalah saudara sendiri, maka . . . . .

 “Bagaimana? Bagaimana menurutmu . . . . ?!!” Belum lagi selesai Surtikanti menjelaskan, namun Prabu Salya sudah tahu arah pembicaraan Surtikanti. Surtikanti hendak menolak. Maka kata kata Surtikanti dipotongnya, kali ini lebih tegas.

Tetapi Surtikanti melanjutkan, “ . . . .bila ini terlihat oleh umum, apakah tidak jatuh martabat hamba dan wanita umumnya. Apakah hal ini malah akan menjatuhkan nama baik kami terlebih nama baik paduka rama Prabu. Terlebih Rama Prabu adalah . . . “

“Hayoh ajari aku . . . teruskan . . . . Salya kembali memotong. Ia mulai tidak senang, tetapi kemudian ia diam dan memberikan waktu untuk Surtikanti agar terus mengeluarkan unek-uneknya.

 . . .terlebih hamba adalah putra raja, dan ajaran perbuatan yang sering Paduka katakan, langkah walau sejangkah, dan ucapan walaupun sekalimat, akan haruslah pantas diteladani oleh para kawula. Ya kalaulah hamba sendiri yang melakukan, bila kemudian melebar kepada kelakuan wanita-wanita lain di Mandaraka, artinya hamba telah menyebar racun.”

“Mmmm tidak seperti anakku. . . . . . . “ Salya berkata dengan nada dalam “Memang benar yang kamu ucap. Aku tidak pernah lupa bahwa aku pernah juga mengajari tata cara seperti itu. Tetapi haruslah dilihat, bagaimana menggunakan dan bagaimana menerapkannya. Artinya, tidaklah aku menyuruhmu menjual diri menawar-nawarkankan. Tetapi semua ada waktunya dan ada tempatnya, dan sekarang waktunya untuk mengalah.  Merendahkan derajat, yang pada akhirnya perbuatan ini dikemudian hari akan menambahi nama baik Negara Mandaraka.”  Prabu Salya mencoba berkilah, walau tahu ia berkilah sekenanya.

“Mohon maaf rama, adakah cara lain bagaimana cara menaikkan nama baik Negara Mandaraka?”

“Misalnya? “

“Rama, akan lebih bertambah nama baik Negara Mandaraka bila sewaktu waktu paduka berkenan turun melihat keseharian para kawula, tidak hanya didalam negara dan kotanya saja, tapi haruslah sampai ke desa desa terpencil, melihat dengan mata kepala sendiri apa yang terjadi dengan lingkungan orang pinggiran. Dari situ rama bisa menjadikan yang keruh menjadi bening, yang ganjil menjadi genap, yang kurang ditambahkan. Itulah seharusnya yang dapat menaikkan martabat Negara Mandaraka . . . “

“Cukup!! . . . Cukup. . . .”  kali ini kesabaran Prabu Salya sudah tak dapat dibendung lagi. Dengan muka merah ia berkata ketus kepada Surtikanti, “Terlalu menggurui kata-katamu. Semua yang kamu ucapkan itu benar. Tetapi, sorga bagi orang tuamu itu adalah, bila mempunyai anak perempuan, haruslah anak itu patuh kepada kedua orang tua. Tetapi sebaliknya, bila kamu kepengin melihat pendek umur orang tuamu, cobalah untuk membantah perintah. Disitulah kamu akan kehilangan kedua orang tuamu! “

“Baiklah bila demikian  . . . . . .”  jawab Surtikanti yang menunduk semakin dalam. Bila ayahnya sudah marah, maka apapun alasan dan bantahan walau itu benar, akan ditampiknya. Maka kemudian ia memanggil nama adiknya, pelan.  “Banuwati . .”

“Apa kanda? “

“Bagaimana ini . . . ? “

“Aku ini lebih muda darimu kanda, jadi hanyalah menurut apa saja kehendak kanda. Aku hanya takut kepada rama prabu. Aku takut membantah perintah Rama Prabu. Lagipula dimana kewibawaan Rama Prabu bila kita sebagai anak selalu menyangkal apa yang diperintahkan orang tua.”  Jawab Banuwati enteng.

Mendengar jawaban anak perempuan yang ia sayangi ini, Prabu Salya menggeremang. “Yang lebih muda saja nalarnya matang…. padahal itu adikmu, yang lebih muda”.

Namun kemudian suaranya kembali jelas berkata,“Bagaimana Surtikanti?!”

“Baiklah, bila demikian . . . “ Pelan jawaban Surtikanti hampir berbisik, hingga Prabu Salya kembali bertanya, “Bagaimana?!”

Namun kembali Surtikanti diam, dan kemudian malah memanggil nama adik lelakinya, “Rukmarata . . .”

“Ya kanda . . “ jawab Rukmarata.

“Bagaimana?”

“Silakan kanda untuk menurut semua kehendak Rama Prabu”. Jawab Rukmarata memotong masalah.

“Baiklah Rama Prabu, hamba akan menuruti apa yang diperintahkan. Walau dengan berat hati, semua pasti akan menjadi ringan bila mengingat bahwa ini adalah perintah dari rama dan ibu.” Akhirnya Surtikanti-pun pasrah.

“Nah . .  harusnya begitu. Ha ha ha . tidak urung juga kamu menurut.”  Tertawa dipaksakan Salya mendengar jawaban Surtikanti. Kemudian sambungnya kepada Banuwati, “Banowati dari awal sampai akhir semua pembicaraan ini sudah kamu ketahui tak satupun yang terlewat”.

“Begitulah rama Prabu”.

“Nah sekarang pergilah, mumpung Pamadi belum begitu jauh. Lakukan menurut apa yang menjadi kata hatimu, aku percaya kepada kamu berdua”.

Maka kedua putri-putri itupun segera menghaturkan sembah dan undur diri dari hadapan Prabu Salya. Sesuai dengan perintah, maka satu demi satu dimulai dari Surtikanti, mencoba untuk menggagalkan kepergian Arjuna.

—————————————————————————————————

Sementara diluar istana, para punakawan Pamadi yang lain, Gareng, Petruk dan Bagong menunggu dengan tidak sabar. Maka ketika dilihat ayah dan bendaranya, Pamadi, nampak keluar dari pendapa, ketiganya segera menghambur kearah datangnya orang orang-orang yang ditunggu.

“Gong, nggak seperti rencana kita ya, ketika itu Raden Pamade melihat pemberitahuan adanya sayembara itu. Kita berempat diajak semua ke Mandaraka. Tapi kok hanya mereka berdua yang masuk ke istana. Mereka pasti dapat suguhan. Pasti melimpah ruah suguhan makanannya ya Gong?!! Lha kita disini hanya membaui saja sampai kita jadi semakin lapar. Eee . . boro-boro mereka ingat, menyuruh orang mengantarkan makanan kemari saja nggak dipikirkan”. Petruk yang kesal menumpahkan unek-uneknya yang terbawa rasa lapar yang dari tadi ditahannya.

“Lho iya, semuanya kan hanya soal tebal tipisnya rasa kemanusiaannya, begitu . . ! makanya liat itu, Semar diam saja. Sepertinya ia tersedak centong. Mau ditelan susah, dikeluarkan  apa lagi, lebih susah. Makanya liat saja kang, dia diaaam saja”. Bagong tidak mau kalah, malah Semar di sindirnya.

“Eeeh anak ini ngomong seenaknya. Apa kamu pikir aku didalam disuguh makanan enak? Aku didalam itu cuma menelan ludah, tahu!! Yang lain pada minum seger, tapi aku nggak diberi layanan”. Kali ini Semar ganti jengkel. Terpancing sindiran Bagong.

“Kalau dibegitukan aku nekat Ma!!” Gareng ikut nimbrung bicara.

“Eeeeeeeh . . . nekat macam mana?”

“Misalnya pelayan yang meladeni, kamu cegat. Katakan mau kasih minum aku, apa nyawamu hilang , begitu.!”

“Itu namanya ngaco!!” jawab Semar memutus.

“Tapi ngomong-ngomong, kok lama bener to, ma?” Kembali Petruk menanyakan sebab musabab lamanya ia naik ke pendapa.“Lha mestinya singkat saja, minta restu, Raden Pamadi mau ikut mencari putri paduka, dewi Herawati. Itu saja cukup”.

Tidak mau disalahkan, lalu Semar menceritakan bagaimana Permadi diperlakukan oleh Prabu Salya dengan cerita cerita haru di sidang tadi, tapi dengan dibumbui serba lucu.

“Dari itu aku jadi kelamaan disana, sambung Semar. Malah setelah itu, saking senengnya Prabu Salya sama bendaramu dan aku, aku disuguhinya makan nasi kuning, telornya tiga butir”. Sekarang Semar mulai ngambul. Ketiga anaknya menelan ludah.

“Lha mbok aku dibagi to ma. Lah kamu makan disana sendirian, terus kamu ceritakan disini. Apa itu bukan namanya bikin orang jadi kepingin. Ngiming-imingi gitu!”.

“Hanya untuk aku saja, wong cuma sepiring itu. Tapi aku juga diberi lauk emping yang luebar. Juga dilengkapi timun diiris iris. Timun dibumbu kemiri, kamu gumun (heran) aku pameri.”

“Lha, rama malah berpantun. Apa juga dikasih buah ma?”

“Ooh tentu. Aku disuguhi mangga Pertanggajiwa, asalnya dari Kahyangan”.

“Waaah rama itu malah cuma bikin ngiler saja. Tapi manis ma mangganya?” sekarang Gareng yang ganti nanya.

“Maniiiiiss . . . .  !!“

“Asin ma?”  Tanya Bagong ngawur.

“Aaaassiiiinn”. Walau ngawur, Semar tetap menjawab.

“Mangga itu aku habis tiga butir”. Semar makin menambah-nambahi bualannya.

“Aduuh apa rama nggak inget aku diluaran yang kelaparan itu ma?” tanya Petruk yang perutnya makin keroncongan dan air liurnya menetes.

“Ngggaaak tuh. Kamu juga kalau dapat rejeki juga kamu telan sendiri. Ngapa saya harus ingat kamu?”

“Tapi aku kan anakmu to ma? Lumrahnya orang tua itu mesti ingat sama anak, begitu kan ma?”

“Emaaang, tapi bagaimana sifat anaknya. Aku nggak ingat kamu itu karena bagaimana tingkah lakumu”.

“Yang mana?”  tanya Petruk membela diri.

“Yang itu. Kamu kenduri, orang lain diundang dioleh-olehi besekan, malah aku kamu lewati”. Petruk diam merasa salah. Pura pura tidak bersalah malah ia menanya lagi.

“Lha anu ma, minumannya kamu dikasih apa?”

Eeeeh . . . .  ya macam-macam. Ada legen, ada segala macam air tape”. Semarpun tetap menanggapi Petruk dengan bualannya yang makin membuat mereka menelan ludah.

“Aduuuh Gong, kyaine makan minum enak begitu, kok kita cuma disuguhi ceritanya doang. Menurutmu bagaimana Gong?”

“Biar saja. Aku tutup kuping kok. Lihat saja nanti kalau aku jajan, Semar bakalan aku iming-imingi, kapok dia nanti”. Jawab Bagong kesal.

“Eeeeehh . . . aku sudah kenyang, kamu mau apa?”

Merasa kalah, Bagong diam. Tapi Petruk nyerocos terus tanya hal yang lain. Pikirnya kalau terus-terusan ngomong makanan, pasti akan membuat perutnya makin mules “Terus kyaine disuruh duduk dimana?”

“Aku dipersilakan duduk dilantai yang diberi alas karpet tebal. Rupanya dianya sangat menghormati aku”.

“Dianya itu siapa?”

“Ya itu, Prabu Salya. Sewaktu aku duduk disitu aku dikipasi tiga orang.”

Kesal Petruk menanya sekenanya.”Lho dikipasi kok tidak mendidih?

“Lho apa aku kamu anggap anglo, begitu? Eeeee selesai cuci mulut, aku disuguhi kopi panas”. Kembali Semar membual soal makanan. Tetapi Petruk masih juga menanggapi.

“Lha iya to?”

 “Temen minum kopinya, pisang kepok”

“Digoreng?”

“Nggak cocok, dibakar! Dalamnya diisi gula jawa.”

“Habis berapa?”

“Cuma habis tiga!!!” kembali Semar menyebut bilangan tiga.

“Truk, disekitar sini ada tempat sepi nggak?!” Kesal, Bagong ngomong ketus.

“Mau apa Gong?”

“Anu . . . ., Semar mau aku rogoh perutnya. Geregetan aku, disini ndomble kelaparan malah cerita makanan enak”.

Tapi Semar makin menjadi-jadi “ Eeeeh . . . Ada lagi, aku juga disuguhi lemper”.

“Sudah kenyang begitu masih juga makan lemper? “ Tanya Petruk.

“Lha iya. Dalemnya isi abon. Setelah itu juga ada arem-arem.”

Gareng sekarang yang tanya, “Apa badanmu bisa gerak ma?”

“Suka-suka aku. Ini badan-badanku sendiri. Mau bergerak, ini badanku, nggak juga badanku. Masih ada lagi suguhan, uli ketan. Lemang. Habis lemang . . . .”

“Apa nggak modar aja kamu ma? Orang nggak inget anak, malah kamu pameri anakmu?”  kali ini Gareng yang sewot.

“Eeeeh he he he  . . . .   itu kalau disuguhi beneran. . . . “ Akhirnya setelah puas meledek, Semar terkekeh kekeh. Puas meledek ia berkata, “Sebenarnya begini, momonganmu itu disana malah disuruh jangan ikut-ikutan mencari hilangnya Erawati. Kalau mau beristri cantik pilih saja satu diatara anakku, kata Sinuwun Salya. Kamu mau pilih Surtikanti atau Banuwati silakan saja. nDara Pamadi tetap kukuh. Tapi, menurut gelagat, pasti momonganmu bakal dicegat. Lihat saja.”

“Lha itu apa. ndara, itu siapa yang datang kemari?”  Tanya Petruk ketika melihat wanita cantik datang diiring para dayangnya.

Benar saja. Surtikanti bejalan mendekat kearah mereka. Skenario ayahnya telah mendorongnya menemui Pamadi. Setelah mendekat dan Surtikanti tak kunjung membuka mulut, Pamadi menanya terlebih dulu.

“Siapa nama andika, Raden Ayu?”

“Adimas walaupun baru kali ini aku kenal denganmu, anggaplah kalau aku dan kamu sudah kenal lama “  bukannya menjawab nama, malah Surtikanti mencoba langsung melakukan pendekatan.

Sejenak Pamadi diam, kemudian katanya , “Apakah saya harus berlaku bohong. Sebab pada kenyataannya baru kali ini aku mengenalmu Raden Ayu. Kecuali itu, saya adalah seorang satria yang harus selalu memegang teguh jiwa kesatrianya. Bila diketahui orang banyak aku berlaku sembrono, maka tidak urung dewata akan mengutuk perbuatanku.”

“Kata-kamu memang benar Pamadi, tapi itu hanya berlaku untuk orang lain. Tapi bagiku harusnya tidak begitu”. Surtikanti gugup, tapi kemudian ia mencoba kembali membela diri.

“Bagiku setiap pergaulan haruslah tidak membeda bedakan. Apalagi dalam pergaulannya dengan wanita. Saudara atau bukan, aku harus menjunjung drajat kaum wanita, selalu menjaga kesusilaan dan selalu menjaga keutamaannya. Kalaulah aku berani berlaku ceroboh, sembrono apalagi sampai menabrak kesusilaan, alangkah nistanya aku. Boleh dikata adalah orang yang tidak ada harganya sama sekali”.

“Apakah kamu sudah tahu siapa aku Pamadi?”

“Terlebih lagi, bagiku andika belum aku kenal. Bagiku andika mengajakku lebih dekat lagi, apakah tidak namanya membuat aku kecewa nantinya”.

“Aku putri kedua Prabu Salya, setelah kanda Herawati, namaku Surtikanti, Pamadi”

“Ya raden ayu”. Pamadi tidak berubah sikap setelah tahu dihadapannya adalah Surtikanti.

“Jangan lagi menyebutku raden ayu, sebut aku kanda saja. apalagi kita jelas hitungannya. Bila kamu dan aku hubungannya tidak jelas, dalam kebiasaannya sudah menyebutkan, bila kita  duduk berdua selama setengah hari, maka rasanya sama seperti kita sudah menjadi kerabat dekat saja. Lebih dari itu, jangan berlaku sungkan terhadapku, Pamadi.” Jurus pendekatan terus Surtikanti jalankan, maka sambungnya, “Pamadi, orang tampan itu tetaplah lestari tampan bila tidak pernah membuat sakit hati wanita”.

“Kalau menurutku hal itu adalah kebalikannya. Kanda dewi, janganlah menilai orang dari ketampanan wajah. Tetapi haruslah sampai kepada ketampanan rasa. Sedangkan yang namanya ketampanan atau kecantikan rasa adalah, bila ia mampu bergaul dengan semua golongan tanpa membedakan pangkat dan derajat. Tetapi bila diukur dengan ketampanan lahiriah tidak urung akan seperti halnya burung yang tidak mampu mengepakkan sayapnya”.

Surtikanti pura-pura tidak mendengar omongan Pamadi dan ia kemudian mengganti pembicaraan. “Orang orang semua mengatakan, orang tampan kok ganjil”.

Ganjil yang dimaksud bagaimana, kanda Dewi?.

“Kainmu sudah lusuh, sabukmu sudah pudar warnanya. Sedangkan wrangka kerismu seakan tak pernah digosok. Adimas, kalau orang-orang mengetahui, bahwa adimas adalah masih kerabat Mandaraka, alangkah malunya aku. Oleh sebab itu dimas, ayolah mampir dulu ke keputrenku. Bebersihlah, dan disana akan aku suguhkan air. Walau hanya seteguk, minuman itu biarlah menjadi pelepas dahaga. Adimas juga telah aku sediakan kain pengganti walau hanya selembar, tapi kain itu adalah kain batik yang aku buat sendiri”.

“Terus terang saja kanda dewi, kalau ada seorang satria, yang berhenti melakukan darma karena dari rayuan wanita, maka hidupnya akan menjadi nista. Ya kalau kenistaan itu berlaku hanya untuk diri sendiri, kalau hal ini merambah ke seluruh keluarga, maka hal ini akan menyebabkan kesengsaraan bagi seluruh keluarga”.

“Ya benar, tapi ini beda”. Jawab Surtikanti yang sebenarnya sudah kesal dan hampir putus asa. Tetapi ia masih ingat kepada orang tuanya. Karena itu ia  masih mencoba bertahan

“ Apa bedanya.”

“Aku ini kerabatmu”.

“Hal seperti tadi aku katakan, tidak memandang siapapun . . .”. Pamadi menjawab terus terang. Namun ketika melihat Surtikanti membalikkan badan, serasa ia hendak menarik ucapannya. Tapi terlanjur diam ketika kemudian Surtikanti berkata terputus-putus.

“Nista benar aku ini. Telah aku bela-belakan pasang badan soroh jiwa, hanya untuk dijenguk tempat keputrenku. Tetapi ditolaknya aku. Kau pandang aku layaknya daun kering yang sama sekali tidak punya harga . . . . ”.

Surtikanti sudah ada dalam puncak keputus asaan. Tidak ada lagi cara baginya untuk mengajak mampir Pamadi. Ia telah merasa gagal menjalankan perintah ayahandanya, menggagalkan keberangkatan Pamadi. Hatinya menangis bahkan menjerit. Namun tidak ada sepatah kalimatpun yang keluar dari mulutnya kali ini. Hanya ujud kewadagannya saja yang menandai bahwa Surtikanti begitu perih hatinya, yaitu air matanya yang butir demi butir mengalir.

Link pagelaran Ki Nartosabdo yang bersangkutan dengan cerita diatas: http://www.mediafire.com/?cwzi5tddin9w6zj

Alap-alapan Surtikanthi


Sumber : http://www.sastra.org/bahasa-dan-budaya/95-wayang/1238-alap-alapan-surtikanthi-jayasuwignya-1930-170

Alap-alapan Surtikanthi, Jayasuwignya, 1930, #170

1. Sinom

1. tarunaning rèh ukara | nuwila gônda kang nulis | mêmalar sagung nupiksa | manawi wontên kang sisip | mung kumêdah ngêngawin | mamrih sukanirèng kalbu | sagung kang sarju miyat | tuladhaning crita nguni | datan liya amung nyênyadhang aksama ||

2. kang ngarang balilu nyata | tan wikan paramèng tulis | mèngêt duk panuratira | nujwari Jumuwah Pahing | tri likur Sahban sasi | Ehe ing warsa tinutur | sangkalanirèng warsa | nir rasaning srira aji |[1] cinarita kang môngka jêjêring kôndha ||

3. ing nguni natèng Ngastina | Prabu Jayapitanaji | anglamar maring Mandraka | mamrih garwa narapati | Sang Dèwi Erawati |

— 95 —

kinarya sayêmbara wus | murca saking jro pura | mangkana kang antuk kardi | Baladewa narendra nagri Madura ||

4. wurungira sri narendra | karsanira tan ngunduri | tumurun putri pamadya | parab Sang Dyah Surtikanthi | uwus tinampan yêkti | mangkana wau winuwus | nuju sawiji dina | mangkana Sri Kurupati | asewaka lênggah dhampar mas sinotya ||

5. munggwèng singangsananira | balabar kang samya nangkil | pra kadang satus Kurawa | pêpak kang para dipati | tan ewah sabên ari | ingkang kaparêk ing ngayun | Sang Maharsi Sokalima | lan Paman Arya Sangkuni | dhêdhêp sirêp tan ana sabawanira ||

6. kocap nagri ing Ngastina | tuhu nagari linuwih | jumênêngirèng narendra | binathara nyakrawati | praja gung loh jinawi | pasir wukir panjang punjung | praja ngungkurkên arga | amangku sungapan tasik | murah sandhang miwah pangan sru kuncara ||

7. kaloka nagri Ngastina | tan nate kambah pagêring | tan kasrambah ing pahilan | sagung kang tinandur dadi | rajakaya mênuhi | pitik iwèn kathahipun | angrêbda datan ana | bêbaya miwah panyakit | wong sapraja kanohan amangun suka || Continue reading Alap-alapan Surtikanthi

Dewi Surtikanti milih mbela pati sisihane


surtikanti_solosurtikanti_yogya

Dewi Surtikanti iku anake Prabu Salya lan Dewi Setyawati utawa Dewi Pujawati. Dene Dewi Setyawati dhewe ora liya anake begawan raseksa sing jenenge Bagaspati ing padhepokan utawa pertapan Hargabelah.

Prabu Salya lan Dewi Setyawati nurunake anak cacah lima, yaiku Dewi Erawati (prameswarine Prabu Baladewa), Dewi Surtikanti, Dewi Banowati (prameswarine Prabu Duryudana), Arya Burisrawa lan Rukmarata.

Ing lakon Alap-alapan Surtikanti dicritakake karaton Mandraka kalebon sawijining durjana sing tansah ngadani patemon kalawan Dewi Surtikanti. Maling agung kasebut raine mirip Pamade utawa Arjuna saengga Arjuna saguh ngrangket durjana kasebut.

Ing taman Mandraka, Arjuna bisa sapatemon kalawan durjana sing mlebu ing karaton Mandraka. Arjuna kasil mangerteni jati dhirine duratmaka sing ora liya Suryaputra. Wusana Arjuna lan Suryaputra banjur andon yuda, adu kasekten.

Continue reading Dewi Surtikanti milih mbela pati sisihane