Tag Archives: sumantri

Ramayana [25]


Dengan wajah tanpa dosa serta memang hati begitu berbahagia sua kembali dengan kakaknya tersayang, dengan riang dan ringan Sukasarana berucap :“Engkau perintahkan aku untuk bersembunyi di bagian yang paling tersembunyi di taman ini”

Sebenarnyalah, di dasar hati Sumantri timbul rasa kasihan kepada adiknya itu. Apalagi karna jasa adiknya itulah maka dia sekarang diterima mengabdi di Maespati. Dan kesalahan fatalnya karena pernah membangkang kepada Prabu Harjuna Sasrabahu, dapat dimaafkan hanya karena bantuan adiknya yang begitu lugu itu. Sehingga dengan suara perlahan kemudian Sumantri berkata :

“Adikku yang sangat kusayangi, mengertilah bahwa kakakmu diberi kewajiban untuk menjaga keamanan disini. Engkau tadi membuat Kusuma Ratu terkejut dan takut melihat keberadaanmu. Ayolah adikku yang baik, kakang akan mengantarkanmu kembali ke Pertapan Jatisrana. Nanti kalau waktunya sudah tepat, engkau akan aku susul lagi untuk menghadap Prabu Hrajuna Sasrabahu”

“Emoh kakang, yen aku bali, kowe ya kudu bali. Nalika samana kakang nyimpe aku tanpa pamit, kaya pecat-pecata sukmaku. Mangertiya kakang, mbiyen kuwi aku nangis meh sepasar suwene. Tak goleki seprana-seprene nanging saiki sikakang bakal mbalekake aku maneh marang Pertapan. Oooh kakang, kaya ngapa rasa sepining ati, yenta aku pisah kalawan kowe kakang”

Sukasrana segera menolak permintaan kakaknya itu. Wajahnya bocahnya sudah terlihat ketakutan bakal tak bertemu lagi dengan . Continue reading Ramayana [25]

Ramayana [24]


Photo
Photo

Maka berangkatlah wadya bala Maespati dengan dipimpin oleh Sumantri menuju Magada. Sesampai disana, utusan Maespati diterima dengan penuh kegembiraan oleh Prabu Citragada seolah bak penerang di gelap malam yang tengah menaungi suasana hati Sang Prabu dan juga negri Magada bakal aman tentram lagi seperti sedia kala.

Singkat cerita, maka Sumantri kemudian mampu mengusir para raja dan satria yang berkehendak memboyong Bunga Kedaton Dewi Citrawati, terutama Prabu Darmawasesa dari negri Widarba yang memiliki bala tentara kuat. Sumantri memang memiliki kedigdayaan yang luar biasa sehingga Prabu Darmawasesa yang terkenal sakti mandraguna-pun, takluk bertekuk lutut di bawah krida Sumantri. Dan kemudian di boyonglah Dewi Citrawati ke Maespati.

Namun selama perjalanan, benak Sumantri gelisah berfikir tentang apa yang dialaminya. Bagaimana tidak ? Dengan kekuatannya sendiri, dia mampu mengalahkan musuh-musuhnya sehingga mampu menunaikan tugas yang diembannya. Dewi Citrawati dapat diboyong karena hasil kerjanya, lalu mengapa harus diserahkan kepada Sang Prabu Harjuna Sasrabahu ? Alangkah enaknya jadi Prabu Harjuna Sasrabahu yang duduk manis tanpa keluar keringat kemudian menerima anugerah berupa Dewi Citrawati. Jiwa mudanya bergolak ! Kesombongannya tiba-tiba menyeruak. Dikatakan dalam hati “Inilah Sumantri ! Pemuda sakti mandraguna, pilih tanding tiada lawan sebanding, gagah rupawan tiada cela. Masak cuman menjadi caraka negri Maespati, alangkah nista dan tercelanya ! Mungkin Sang Prabu Harjuna Sasrabahu-pun tidak akan mampu menghadapi olah kridaku ! Lalu mengapa aku harus menyerahkan Dewi Citrawati yang adalah hasil kerja kerasku kepada Sang Prabu ? Betapa bodohnya diriku !”

Sikap adigang adigung adiguna mencengkeram jiwa Sumantri. Saat mendirikan pesanggrahan di tapal batas Maespati, Patih Surata menjemput rombongan caraka yang telah berhasil memboyong Sang Dewi. Namun Patih Surata sungguh terkejut mendengar sendiri apa yang dikatakan oleh Sumantri :

“Paman Patih, aku mau menyerahkan Dewi Citrawati pabila Sang Prabu sendiri yang menjemputnya disini !”

“Lho … lho … lho … Sumantri … apa maksudmu ini. Kok jadi begini ! Bukankah engkau sendiri yang meminta untuk mengabdi di Maespati dan Sang Prabu menerimanya dengan persyaratan engkau sanggup untuk memboyong Dewi Citrawati untuk dijadikan sebagai permaisuri Maespati ? Lha …. sekarang kok malah begini, engkau malah nglunjak, apa yang terjadi, Sumantri ?”

“Sudah, tidak perlu banyak omong, pokoknya sampaikan apa kata-kataku ini kepada Sang Prabu seutuhnya, tidak perlu engkau kurangi atau engkau lebihkan !” Continue reading Ramayana [24]

Ramayana [23]


sumantri_sl

Hingga pada suatu hari, sampailah Bambang Sumantri ke negri Maespati. Tanpa menunda waktu, dia kemudian langsung menuju ke istana raja dan berkehendak menghadap Sang Prabu Harjuna Sasrabahu. Setelah diperkenankan menghadap, maka dengan sikap tunduk menghormat menghadaplah Sumantri di duli Sang raja Maespati

“Heh bocah bagus kang nembe prapta. Aja sira nganggep ingsun tumambuh, awit katemben iki ingsun nyumurupi ing sira. Saka ngendi sira lan apa mungguh wigatine dene kumawani marak seba ana ing ngarsaku”

“Sinuwun, kula wingking saking pertapan Jatisarana, atmaja Sang Resi Swandagni, nami kula Bambang Sumantri. Sewu lepat dene kula kumawantun sumalonong sowan ing ngarsanipun ingkang sinuwun. Mugi wontena suka lilaning panggalih, waleh-waleh menapa, sotaning manah kula badhe suwita, ngenger-ngiyup ing ngandhaping pepada paduka sinuwun. Senajanta kadadosna pekathik pangariting suket – pangeroking kudha, sukur bage lamun kula katampi dados tamtamaning praja” kata-kata yang keluar dari Sumantri begitu teratur, runtut dan tertata serta sesuai dengan tata susila menunjukan sebagai seorang yang berpendidikan baik.

“Sumantri, purwa madya wasana wus mboya karempit aturira. Nanging kawruhana, para pamagangan kuwi kudu kawuningan luwih dhisik dening patih wasesaning praja yaiku Patih Surata. Borong kawicaksanan tak pasrahake marang sira, Patih Surata” kemudian Sang Prabu menyerahkan urusan kepada Patih Surata, yang kemudian segera menjelaskan kepada Sumantri

“Ngger Bambang Sumantri, awit saka keparenge gusti ratumu Prabu Harjunasasra. Aku kang tinanggenah ngrampungi perkara. Ala lamun mbalekake wong kang arsa suwita ing ratu lan tulus lahir batin duwe karep utama angayahi pakaryaning praja. Sumantri, wajibe kang arsa suwita ing ratu, sira datan kena minggrang-minggring nggonira angayahi wajib nyangkul jejibahan, sira kudu manut setya tuhu miturut sapakon. Sira aja angresula menawa kajibah ing pakaryan kang abot, sabab pangresula kuwi surasane amung lumuh ingaran luput. Sira uga aja tumindak cilik anduwa, gedhene andhaga marang titahing nalendra. Lamun sira tumindak kang mangkana, bakal gedhe pidananing ratu tumrap marang sira” Sareh Patih Surata amijangake.

“Nuwun inggih gusti Patih. Sedaya atur paduka Gusti Patih, samendhang mboten wonten ingkang karempit. Sampun kula tampi jangkep lan sedaya pangandika Paduka Gusti Patih kula pundhi” Continue reading Ramayana [23]

Ramayana [22]


Sumantri Sukrasana bingkai

Resi Suwandagni adalah brahmana di pertapaan Argasekar. Ia adalah putra kedua dari Resi Wisanggeni (dalam Serat Ramayana dikenal dengan nama Ricika). Adapun saudara sekandung Suwandagni adalah Jamadagni, bapak dari Ramaparasu. Resi Wisanggeni merupakan putra bungsu dari dua bersaudara putra Bagawan Dewatama, yang berarti adalah cucu Dewanggana, dan kalau diurutkan silsilahnya maka akan menuju kepada Bathara Surya.

Resi Suwandagni menikah dengan Dewi Darini, seorang hapsari keturunan bathara Sambujana, putra Sang Hyang Sambo. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra masing-masing bernama Bambang Sumantri dan Bambang Sukasarana atau Sukasrana. Sebutan Bambang adalah untuk menandakan sebagai putra seorang pendeta di gunung. Namun sungguh aneh, wujud mereka berdua bak bumi dan langit. Sumantri dikaruniai perawakan yang gagah tegap perkasa dan juga wajah yang sangat rupawan, sebaliknya Sukasrana bertubuh mungil, pendek dan memiliki banyak cacat tubuh serta berwujud raksasa (sering disebut sebagai buta bajang).

Namun perbedaan itu tidak mengurangi kasih sayang yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Resi Suwandagni sangat sayang kepada putra-putranya. Pendidikannya diarahkan kepada hal-hal yang bersifat kesantikan, kesaktian dan menanamkan rasa kebaktian kepada umat. Olah keprajuritan sangat diutamakan, sehingga kedua putranya sangat mendalami jiwa keprajuritan dan kepahlawanan. Sikap Sumantri kepada adiknya sebenarnyalah sangat menyayanginya, namun adakalanya muncul rasa malu pabila diketahui oleh orang lain tentang keadaan adiknya. Dan hal sebaliknya dimiliki Sukasarana, dia begitu mencintai kakaknya. Cinta kepada kakaknya tak tercela. Begitu ikhlash dirinya menyayangi kakaknya, bahkan melebihi sayangnya kepada diri sendiri. Kakaknya adalah segalanya bagi dirinya.

Hingga suatu hari, merasa dirinya sudah dewasa maka Sumantri ingin meluaskan pengalaman, mengamalkan ilmu yang dipelajari dan berniat untuk mengabdi kepada raja Maespati. Hal itu disampaikan kepada ayahnya dan memperoleh persetujuan. Mengetahui rencana kakaknya, Sukasarana pun minta persetujuan ayah dan kakaknya untuk ikut serta pergi ke Maespati. Namun tentu saja Sumantri merasa keberatan karena dianggapnya akan mengganggunya diperjalanan kelak. Dibujuknya sang adik untuk tinggal saja di pertapaan Argasekar untuk menemani ayah ibunya. Walau dengan berat hati, akhirnya Sukasarana mengiyakan namun sudah ditekadkan untuk mengikuti kakaknya secara sembunyi-sembunyi. Dalam benaknya terpikir, bagaimana hidupnya tanpa sang kakak berada di dekatnya atau minimal dapat melihat keadaan sang kakak walau secara tak berterang. Alangkah tersiksanya bila hanya bersendirian. Continue reading Ramayana [22]

Ramaparasu [9] : Kang Wus Padha Sumeleh


by MasPatikrajaDewaku

Kacarita tandhing tyasa ing antarane Patih Suwanda lawan Parabu Dasamuka dedreg umyeg anggenirisi. Senajanta dedeging sarirane Patih Suwanda kang prasasat gedhene amung sakpupuning Prabu Dasamuka ya Sang Rahwana Raja, nanging tetela lamun Patih Suwanda saguh anrenggalangi krodane Prabu Dasamuka kang tandange liwung kaya pangamuking singa barong. Patih Suwanda kang putus ing saliring agal lembat senajana mangkana, nanging bawane eling marang pangandikane kang rayi, Bambang Sukasarana, meksa ana rasa kang anggelayut ing telenging ati. Rasa kang aweh sasmita menawa ing kene wus tiba wahyaning mangsa kala, lamun kudu tumuli kumpul bareng kang rayi, munggah ing swargaloka.

Geter pater sarirane Bambang Sumantri kawimbuhan ing pamawas, menawa wiwaraning swarga wus menga lan ing kana ana wewujudaning keng rayi Bambang Sukasrana kang mesem angawe-awe. Mangkana lena pangindhane Bambang Sumantri nalika Prabu Rahwana nggigit janggane. Siyung mingis kang kembeng ing wisa mandi tumancep ing jangga,  kabarakot ponang jangga, sirna marga layu Bambang Sumantri apengawak kusumaning negara. Surak mawurahan ambata rubuh sanggyaning wadya bala Ngalengka Diraja, wruh yen ta tetungguling senapati Maespati wus sirna marga layu.

Sakala pepes barisaning prajurit Maespati kang wruh lamun tetungguling yuda wus kapupuh ing adilaga. Sanajan ta wus ngetog sakehing kekuwataning baris, nanging pangamuking wadya saka ing Ngalengka kang nyata liwung tan ana nganggo paugeraning aprang, meksa prajurit Maespati pada mundur lumaris salang tunjang pati-pati ambentusi.

Nanging ora kandheg amung samana tandange Rahwana Raja, senajanta wus sirna Patih Suwanda, raga maksih kapotheng-potheng, kajuwing lan kabalang-balang ing rananggana.

Continue reading Ramaparasu [9] : Kang Wus Padha Sumeleh

Ramaparasu [8] : Kang Lali Marang ing Purwaduksina


“Kakang Patih Surata, rumangsa ribet rasaning atiku lan sepet paningalku yenta nyawang wujude Bambang Sumantri kang kaduk piangkuh. Yenta nyata kesaguhane bisa ngentasi gawe kaya kang ingsun kersaake, bakal gedhe ganjarane. Nanging  yenta luput kaya kang disaguhake, bumi Maespati aja nganti kaambah dening wujude manungsa kang aran Bambang Sumantri. Sadurunge mangkat marang Negara Magada, busanane Sumantri kang ngenek eneki kuwi, salinana cara kaprajurtian. Ujubing atiku ora arep ambebagus marang wujude Bambang Sumantri, nanging kanggo rumeksa kuluhuraning jenengingsun. Negara Maespati aja nganti asor darajate, darbe caraka kang busanane ora mingsra”. Mangkana dhawuhku marang Patih Surata mungkasi anggonku anggelar pasewakan.

Atur sembah Bambang Sumantri mundur saka paseban sadurunge ingsun jengkar. Sinusulan dening Patih Surata. Sawusnya Bambang Sumantri wus sangkep salin busana kaprajuritan, sakala katon tejaning Bambang Samantri saya anggenguwung. Sarira kang wus binusanan cara kaprajuritan, sangsaya mencorong, cinandra kaya dene dewa ndharat. Cingak kang pada nguntapake budhaling caraka kang tetela anggung akarya sengseming para kang aningali ing sadalan-dalan. Para kenya kang wani anyaketi unggyaning Bambang Sumantri pada anjejawat, nanging ana saweneh kang amung wani angawe-awe ngujiwat.

Gancaring cerita, Bambang Sumantri wus keduga mboyong sekaring kedhaton Magada, Sang Dyah Citrawati. Nanging bawane satriya kang maksih kagawa ing rasa kamudhan lan durung kuwawa anyingkirake rasa adigang, adigung, adiguna, sakala kadadak salin solah bawa. Melik anggendhong lali! Nalika samana Bambang Sumantri kang wus masanggrah ing tapel watesing Negara Maespati, sinususulan dening Patih Surata. Ature Bambang Sumantri marang Sang Rekyan Apatih Surata, menawa Dewi Citrawati arep kaaturake, nanging papane ing sajroning payudan.

Rumangsa wus bisa ngregem jagad, sawusnya bali marang praja, Sumantri kedadak nanting kasudibyaningsun srana pasemon alus. Kaya pineksa ingsun nglanggat pamundhute Bambang Sumantri tandhing tysa. Supaya ora asor drajate dene mungsuh kang amung wujuding caraka, mula ingsun ngloropake busanaku keprabon, murih ka anggo busana dening Bambang Sumantri.

Nalika tandhing ingsun kekaron, para jawata padha tumurun nyekseni paprangan, kang yen kadulu saka ing kadohan kaya dene tetandingan yuda antarane para ratu kang kembar wewujudane. Mangkana tandhing ingsun lumawan Bambang Sumantri dedreg silih ungkih rebut unggul. Nalika samana Bambang Sumantri ganti kalindhih, Bambang Sumantri musthi sanjata Cakrabaswara. Sanjata dibya kang ampuhe kagila-gila. Mulat Bambang Sumantri kang wus siyaga menthang gendewa nglarapake senjata dibya, nuli jenengingsun matak aji Triwikrama. Cinandhak wani sarirane Bambang Sumantri, tan mangga puliha Bambang Sumantri nuli kapikut. Nanging jroning batin ingsun kang wus kaduk ngungun marang kasektene Bambang Sumantri, mula nulya ingsun paringi aksama. Nanging paukuman kudu anut marang jejeging adil. Bambang Sumantri kang wus pasrah dhiri, dak patrapi paukuman. Paukumane kang kaya-kaya ora salumrahe, nanging ingsun percaya lamun Bambang Sumantri saguh minangkani.

Bambang Sumantri kudu keduga mindhah Taman Sriwedari kang dumunung ing imbanging gunung Untarayana, kudu kaboyong marang taman sari Negara Maespati, kinarya lipuring manah Dewi Citrawati kang katemben pisah lan wong atuwane.

Sungkawaning ati Bambang Sumantri nalika samana sakala kedadak ganti ing bebungah, nalika kelingan marang sedulur mudha, Bambang Sukasarana. Sedulur mudha kang duk inguni kasimpe sabab kinira amung ngrubeda-angreridhu lan anjejereng wirang amarga darbe wewujudan kang anggelinani. Paminta srayane Sumantri mindhah Taman Sriwedari tumuju ing Praja Maespati marang Sukasarana sinaguhan, amung kudu liniru  lilane kadang werdha tansah cinaket. Sakala pamintane keng rayi Bambang Sukasarana kaya dene amung bab kang sinangga entheng. Nanging welinge Bambang Sumantri kalawan Sukasarana, yen mengko wus keduga mboyongi taman, aja nganti kawuningan luwih disik wewujudane dening sanggyaning para kawula ing Maespati

****

 “Sang Rama Parasu, jengandika meksih kersa midhangetake dedongenganku?” Kapedhot dedongengan sawatara, nanthing marang Sang Rama Bargawa apa isih kersa midhangetake. Senajan ing rasa batin, ingsun mulat jineming guwaya Sang Rama Bargawa kena kajajagan, menawa Rama Bargawa banget kepranan.

“Mara gage terusana! Senajanta dawa caritamu ngungkuli dawaning lurung, aku saguh ngematake candhaking critamu” Mangkana jajawab Sang Rama Bhargawa kanthi ulat kang sumeh. Nuli ingsun kalawan sumendhe ing gunging kekayon ambacutake critaku kang wus kawuri.

****

Gelise kang munggel kawi, kaleksanan Sukasarana mboyongi Taman Sriwedari marang Negara Maespati. Nalika samana garwaningsun Dewi Citrawati kang kepareng nitipriksa gelaring taman Sriwedari kang nembe kaputer-puja, ingayap sakehing para emban cethi. Sakala mekar sakehing kusuma, manglung kang panging kekayon kasilir ing samirana mandra. Keh peksi-peksi kang miber ing gegantang padha pating caruwet manembrama kang kersa tindak cangkrama. Kombang kombang mbrengengeng kaya asung kekidung, saka kepranan marang liringing netrane sang pramensywari. Senajanta sesekaran pada mekrok rebut warna ngujiwat minta sang dewi kersaa methik kinarya sesumping. Rena panggalihe garwaningsun Citrawati kang tindake saya manengah kepranan marang edi endahe kang taman Sriwedari, kang tetela kaya dene endahing taman ing swargaloka.

Nanging kacarita, sakala kejot panggalihe garwaningsun, nalika mulat ana pawongan bajang ceko kang pasuryane anggegirisi dumunung ing jroning taman. Tetela iku wujuding Bambang Sukasarana kang tan kuwawa angampah hardaning karep, marepeki wanita kang banget sulistyaning warna. Gya Bambang Sukasarana miyak kang grumbul sangandhaping wit nagasari, nyaketi ungyaning Sang Dyah Pramesywari. Girap girap sarwa anjelih-jelih Sang Prameswari keplayu kamigilan, matur marang ingsun. Nuli ingsun matah marang Patih Suwanda kinen ngrampungi gawe, nyirna’ake dhemit kang dumunung ana ing sajroning taman sari

Nalika samana duka yayah sinipi Bambang Sumantri marepeki papan padunungane Bambang Sukasarana. Jroning batin wus tan samar lamun Bambang Sukasarana kang gawe gendra, suwala marang dhawuhe yen ta ora kena metu saka sesingidan. Wus prapta ing papan dununge Bambang Sukasrana kang sigra mulet unggyane kang raka sarwi matur “Ayo kakang Sumantri, apa aku wus kalilan seba marang ngarsane Prabu Harjuna Sasrabahu. Yen kowe bisa suwita marang Gusti Prabu Harjuna Sasrabahu, aku kudune ya bisa kaya kang kok tindak’ake, kakang!”

Nanging rerepane Bambang Sukasarana tan rinewes dening kang raka, Bambang Sumantri, kang wus kalimputing deduka, sugal wuwuse Bambang Sumantri , “Kowe wis nate tak weling apa?!”

“Aku kudu ndelik ana ing petamanan”. Kanti ulat kang kaya tanpa dosa, ngucap Bambang Sukasrana.

“Mangertiya yayi, yen ta kusuma ratu kamigilan nyawang wujudmu. Mula yayi, ayo tak terke mulih dhisik marang Pertapan Jatisrana. Mengko yen wus ana kalodhangan kang prayoga, kowe bakal tak parani, suwita bareng marang ngarsane Prabu Harjuna Sasrabahu”. Bambang Sumantri ngandika njlentrehake perkara, sarwa ngampah gempunging rasa.

“Emoh kakang, yen aku bali, kowe ya kudu bali.Nalika samana kakang nyimpe aku tanpa pamit, kaya pecat-pecata sukmaku. Mangertiya kakang, mbiyen kuwi aku nangis meh sepasar suwene. Tak goleki seprana-seprene nanging saiki sikakang bakal mbalekake aku maneh marang Pertapan. Oooh kakang, kaya ngapa rasa sepining ati, yenta aku pisah kalawan kowe kakang” Sukasrana panggah anduwa-suwala.

“Kowe aja gawe nesu, Sukasrana!!” Jumangkah Bambang Sumantri, akeh wuwusnya Bambang Sumantri sarwi anjempalani sarirane Bambang Sukasarana. Bambang Sukasarana amung pasrah dhiri senajan sarirane wus babak-bunyak, nanging tan ana pangresula senajan amung sakecap, kawetu saka lathine Sukasarana. Bambang Sumantri kang wus tan enget marang pamintane kang angarih-arih inguni, minta pambiyantu mindhah Taman Sriwedari, panggah ngrudapeksa Bambang Sukasrana nundhung kang rayi, amarga jrih marang gusti natane, aja nganti anjejereng sasra wirang . Nalika samana wus keprungu umyung bendhe tengara lamun ingsun nedya tindak sesarengan lawan garwaku angambali tedhak cangkrama.

Saya sigug-kidhung goreh rasane Bambang Sumantri kang sigra angagar agari jemparing marang Bambang Sukasrana, pepethane karya ngurak Bambang Sukasarana supaya age-age lunga saka patamanan. Sedhela-sedhela Bambang Sumantri tumoleh wuntat sekedhap sekedhap nyawang unggyane Bambang Sukasarana kang amung mandeng kang raka kanthi netra kang panggah kumedhep. Jroning nala Bambang Sumantri kaya rinujit, nanging bawane wus saguh ngayahi dhawuhing nalendra lan krasa luput yen bakal nampa bebendu, sakala dres wijiling riwe kaya dineres.

Sangsaya lunyu cepenging warastra, nanging lenging rasa kaya wus ilang musna. Ponang warastra kang wus mapan ana ing kekendheng sakala mrucut saka astane. Tumama jajaning Bambang Sukasarana butul ing walikat. Raga gumuling ing siti, ngalumpruk tanpa daya. Dres kang ludira muncrat saka ing jaja. Nanging ana kaelokaning jagad, raga kang sadina-dina angganda bebanger, parandene ludiraning Bambang Sukasrana tetela arum mangambar ngrabasa sakehing durgandana. Kedhep tesmak Bambang Sumantri mulat sesawangan kang ana telenging netrane, sabab dene kaya kacabut sukmane.

Angles kekes rasane Bambang Sumantri kaya wungu saka nendra sigra rinangkulan jasade Bambang Sukasrana kang nandhang katriwandhan. Tetela nalika samana wus sirna marga layu Bambang Sukasarana. Bundhu bundhelaning manah Bambang Sumantri kang kaocap amung rerepa jroning panalangsa.

“Sukasrana apuranen aku, ora ngira lamun kowe tekaning sirna. Sukasrana, apuranen aku!!”

Kagyat gora wekasan Bambang Sumantri kedadak ana swara kang cetha wela wela dumeling ing karna, “Heh Bambang Sumantri! “

Menyat Bambang Sumantri sarwa tumoleh kanan ngering, nanging kang den upadi tan ana katingal. Tumuli Bambang Sumantri muwus “Kowe sapa ?!”

Swara kang dumeling iku keprungu mawantu wantu “Aku Bambang Sukasrana!! Sagluguting kolang kaling sarambut pinara sasra aku ora nduwe rasa serik-murina lawan kowe kakang. Nanging kaya kang wus tak aturake marang kowe, yen ta aku ora kena ginggang sarambut kalawan kowe. Aku ora bakal tumuli sowan ing pangayunaning para Dewa, yen ora bareng kalawan kowe, kakang Sumantri. Tak enteni ana bokur pangarip-arip. Nanging elinga, menawa ing tembe kowe prang tandhing lan Raja Ngalengka Diraja, ing kana wahyane kowe tak susul sowan marang ing tepet suci. Wis kaya mung semene anggonku matur marang kowe kakang, tumuli si kakang ngadhepa marang Sang Prabu Harjuna Sasrabahu”. Sawusnya matur marang Bambang Sumantri, lon lonan jasad kang gumlethak ing siti katiyuping samirana, sirna ilang saka telenging netrane Bambang Sumantri kang amung anjegreg mangu-mangu kaya tugu sinukarta.

Mangkana wus caket praptaku ing papan kadaden kang kaya dene ora ana sawiji wiji, nuli Bambang Sumantri matur menawa drubiksa kang angganggu gawe ing jroning Taman Sriwedari wus keduga kasirnaake. Saka renaning atiku, nalika samana Bambang Sumantri ingsun wisuda dadi Mahapatih ing Negara Maespati, kanthi jejuluk Patih Suwanda. Saya rumaket kekadanganku kalawan Patih Suwanda, presasat kaya dene kadang tunggal yayah rina.

Gilir gumantining kalamangsa, nalika samana garwaku Citrawati kersa leledhang ing balumbang pasiraman, anut ilining bengawan kang mbelah madyaning petamanan. Ketiga ngerak kang tan kena kasaranan, meksa jenengingsun triwikrama mbendung bengawan. Samantara Patih Suwanda kajibah ngreksa yuwananing praja.

Nanging tindak culika thukulaning mungsuh telik sandi upaya kang ambebidhung api rowang, uninga menawa jenengingsun oncat saka praja. Kinira lamun Praja Maespati ringkih, gya kerig lampit nglurug mungsuh saka Negara Ngalengka kang sangkep ing gegaman angrabasa tanpa layang panantang. Praptane prajurit sagelar sepapan katon nroncong tumbake nganti kaya landak sayuta, megar payunge kaya jamur barat, barisan kang pinandegan dening Prabu Dasamuka.

Sang Prabu Dasamuka kang kayungyun kadereng sengsem marang Dewi Citrawati kang kawentar panjalmaning Dewi Widawati ora kena sinayudan kersa mboyong peksa marang Negara Ngalengka Diraja. Sadalan dalan patrape kang pabarisaning mungsuh pada sawiyah-wiyah anjejarah rayah.

Patih Suwanda kang tansah prayitna ing gati siyaga ing dhiri, greget gumregut anrenggalangi mungsuh umadeg angembani wajib. Mangkana kekarone wus ayun ayunan, Patih Suwanda kalawan Prabu Dasamuka.

(wonten sambetipun)

“Inspirasi” dongengan menika lumintu saking kitab Ramayana anggitanipun Herman Pratikto, kaolah mawi sawernaning bumbu sarwa Jawi.