Tag Archives: sugriwa

Junaidi Dalang Memble


Koleksi ini pernah saya sharing beberapa tahun yang lalu.

“Kelebihan” Junaidi sering dijadikan sasaran ledekan teman-temannya. Dagelan jaman dulu semisal Srimulat, Basiyo, Yati Pesek dan Junaidi pun sering menyasar kondisi phisik si pelaku. Semisal Mbak Yati yang pesek, si Gogon atau Gepeng yang kurus kering botak jambul, dan untuk Junaidi kelebihannya adalah “memble”, “tuan” (untune kedawan), “sinyo” (gusine menyonyo) dan seabreg sebutan lainnya sebagai bahan lawakan.

Sebenarnya konsep lawakan seperti ini tetap eksis hingga kini. Lihat saja di OVJ, si Pesek Sule, Azis Gagap (yang sengaja meng-gagap-kan diri), atau si Omas, Kiwir dan lain-lain. Sah-sah saja sih. Yang penting itulah upaya kita mentertawakan “kelebihan” diri kita sendiri.

Rekaman Dalang Memble ini menceritakan kisah Cupu Manik Astagina. Yaitu kisah tentang Sugriwa, Subali dan Anjani berubah wujudnya menjadi kera. Juga kemudian lahirnya Anoman, si kera Putih, dari rahim Anjani.

Filename: Junaedi – Dalang Memble – A Cupu Manik Astagina.mp3
Filesize: 25.6 Mb
Download Link: http://jumbofiles.com/nac3nmdhnrk8
Filename: Junaedi – Dalang Memble – B Cupu Manik Astagina.mp3
Filesize: 26.0 Mb
Download Link: http://jumbofiles.com/wn1dt0jg9kfm

Selamat menikmati dan tersenyum-senyum sendiri.

password : wayangprabu.com

Ki Enthus Susmono : Sugriwo Subali


Berikut adalah sebuah lakon yang dibawakan oleh dalang “edan” Ki Enthus Susmono mengambil cerita “Sugriwo Subali” yang saya peroleh dari skartosoma.

enthus-susmono-sugriwo-subali

Menceritakan tentang kisah ramayana, kisah resi Gotama dan anak-anaknya Anjani, Subali, Sugriwa. Khas Enthus, kisah dibawakan dengan selingan yang ngedan :)

File-file audionya dalat diunduh disini

Ramayana {bagian 5} – Goa Kiskenda


subali_resi_solo

sugriwa_sololembusuro-solo-kuningmaesosuro-kuning01-solo

Goa Kiskenda adalah sebuah goa besar yang didalamnya berbentuk seperti istana. Goa Kiskenda merupakan tempat tinggal Maesasura dan Lembusura, dua makluk kakak beradik, berbadan manusia berkepala binatang yang memiliki kesaktian luar biasa. Rakyat Goa Kiskenda merupakan beraneka macam hewan ganas. Maesasura dan Lembusura memimpin kerajaan itu dengan sewenang-wenang. Kesaktian yang mereka miliki sangat luar biasa dahsyat.

Suatu saat mereka datang ke Kahyangan mengajukan keinginannya untuk memperistri Dewi Tara putri sang Bathara Indra. Sikap biadad itu menimbulkan kemarahan dewata. Para dewa serta merta menolak mentah-mentah lamaran tersebut. Dua saudara itu tidak bisa menerima penolakan itu. Mereka lalu mengamuk ke Kahyangan. Ribuan tentara biantang dikerahkan untuk menyerang kahyangan. Karena kesaktian keduanya sangat dahsyat, tak satupun para dewa yang dapat mengalahkan Maesasura dan Lembusura.

Dalam keadaan demikian, Bathara Guru mencari cara untuk menumpas wadyabala Goa Kiskenda. Hanya ada satu cara yaitu dengan menggunakan kesaktian kadewatan yang maha dahsyat utnuk mengalahkan mereka. Kesaktian itu bernama aji Pancasona. Namun yang dapat menerimanya harus dia yang berhati luhur dan seorang suci yang mampu mengendalikan segala nafsunya sehingga kesaktian maha dahsyat itu tidak digunakan sewenang-wenang. Para dewa sepakat untuk menyerahkan kesaktian itu ke Subali putra Resi Gotama yang sedang bertapa di Suryapringga.

Bertahun-tahun mereka bertapa mematikan seluruh raga dan memusatkan seluruh pancaran jiwa mereka kepada Sang Pencipta. Tujuan mereka hanya satu memohon ampun kepada dewata atas segala perbuatan yang telah mereka lakukan. Suasana hening menjadi semarak saat Bathara Guru ditemani oleh Bathara Narada dan para dewa turun ke marcapada menemui mereka. Subali dan Sugriwa segera dibangunkan dari pertapaannya. Dan berkatalah sang raja dewa bahwa permohonan mereka akan dikabulkan dengan syarat mereka harus menumpas terlebih dahulu angkara murka yang kini bersemayam di tubuh Maesasura dan Lembusura. Subali dan Sugriwa bersedia. Dan sebelum mereka berangkat secara khusus, Bathara Guru menganugerahkan aji Pancasona kepada Subali dengan harapan Subali dapat menggunakannya demi perdamaian di alam ini.

Dengan kesungguhan hati, Subali dan Sugriwa berangkat ke Goa Kiskenda. Di mulut gua, Subal berpesan pada adiknya untuk waspada dan siap berjaga-jaga. Apabila keluar cairan darah berwarna merah, maka dapat dipastikan bahwa seluruh musuh telah sirna dari muka bumi ini. Namun apabila terjadi genangan darah putih mengalir keluar gua, maka Sugriwa harus segera menutup pintu gua. Setelah Sugriwa menyanggupi, Subali langsung masuk kedalam melabrak Maesasura dan Lembusura.

Pertempuran antara makhluk-makhluk sakti itu tidak dapat dielakkan. Dinding gua seakan runtuh menahan gempuran kesaktian dari kedua belah pihak. Dan hanya berkat kesaktian Subali yang memiliki ajian Pancasona, Maesasura dan Lembusura dapat dibinasakan. Kepala keduanya diadu sehingga pecah berantakan. Otak dari Maesasura dan Lembusura hancur berantakan sehingga meleleh keluar gua. Dari luar gua, Sugriwa menantidengan harap cemas. Dan betapa hancur hati Sugriwa ketika mengetahui bahwa cairan yang mengalir berwarna merah dan putih. Ini berarti Subali mati bersama musuh-musuhnya. Dengan panik Sugriwa mengerahkan seluruh tenaganya dan menghancurkan pintu gua sehingga pintu gua kiskenda tertutup. Dengan kepedihan hati, Sugriwa segera melaporkan hal ini ke kahyangan.

Keadaan menjadi gembira tatkala para dewata mengetahui kabar matinya Maesasura dan Lembusura. Namun keadaan itu berubah menjadi duka saat mengetahui Subali juga mati dalam pertempuran itu. Sugriwa yang telah melaporkan itu kemudian dianugerahi hadiah untuk mempersunting Dewi Tara. Tak lama setelah perkawinan itu Subali tiba-tiba muncul di tengah-tengah keramaian. Subali mengamuk dan menganggap Sugriwa telah mengkhianati dirinya. Sugriwa yang terkejut belum sempat mejelaskan apa-apa sudah langsung dihajar oleh Subali. Kesaktian Subali yang berada jauh diatas Sugriwa membuat Sugriwa semakin tidak berdaya. Bathara Guru datang melerai dan panjang lebar menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.

Mendengar hal itu Subali menyesal dan dengan pilu meminta maaf pada adiknya. Cinta Sugriwa yang besar kepada kakaknya itu membuatnya menerima semua yang telah terjadi. Akhirnya Subali yang sudah berdharma sebagai brahmana, menyerahkan goa Kiskenda dan Dewi Tara kepada Sugriwa. Sugriwa kemudian membangun kerajaan kera yang diberi nama Pancawati, sementara Subali melanjutkan tapa bratanya.

Sumber : http://kisah.united.net.kg/