Tag Archives: sengkuni

Video KES : Sengkuni Sang Provokator


Senkuni blangkon

Sumber Gambar : http://sosbud.kompasiana.com/2013/02/23/mengais-warisan-budaya-leluhur-5-537536.html

Wayang Kulit Jawa Lucu Dalang Ki Enthus Susmono Ulang Tahun ke 28 Ponpes Nurul Huda Asuhan Abah Syarif Hidayatulloh H pada 1 Juli 2012 di Plosorejo Gondang Sragen kebuayaan asli indonesia 7 Desember 2013

Sumber : http://www.youtube.com/channel/UCdhhp5n4i8d2jq1kt4dmXZA

KES Sengkuni

Bagian-1

Bagian-2

Bagian-3

 

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (21)


sengkuni_solo

“nDara, nyimpang dari pembicaraan sebelumnya ya, bagaimana pendapat nDara tentang sosok yang bernama Sengkuni niku ?”
“Maksudmu dipandang dari sudut mana Gong ?”

“Dari segala aspek, dari tingkah polahnya, dari watak perbuatannya, dari segala daya upayanya, pun dari pandangan hidupnya”

“Wah … kalau dibahas nggak akan selesai sehari semalam Gong. Lha wong sosok Sengkuni itu pada dasarnya adalah cerminan sebagian dari diri kita kok. Karena potensi dalam diri kita seperti halnya watak dan perbuatan Sengkuni itu, selalu ada. Cuman seberapa besar dan kuat mempengaruhi diri kita, itulah masalahnya”
“Lha bagaimana sikap nDara dan juga Pandawa yang sudah berulang kali dizalimi oleh rekadaya Sengkuni itu”

“Sakit memang Gong, dan kerap muncul niyat untuk membalasnya. Namun kalau kita mengambil sisi positifnya, justru akibat dari rekadaya maupun aksi licik tipu tipu Sengkuni, membuat Pandawa menjadi lebih kuat dan lebih tahan banting. Memang pemahaman itu muncul dan berkembang melalui proses yang panjang dan tidak mudah. Sebenarnyalah perbuatan Sengkuni itu dimulai sejak Rama Prabu Pandu berkuasa, bahkan sudah terlihat sejak Sengkuni ingin merebut ibunda Kunti dan Madrim dari tangan Ramanda. Dan sejak itu, Sengkuni selalu hadir dalam lakon kehidupan kami para Pandawa.”

“Apakah nDara tidak ada dendam pada sosok Sengkuni itu ?”
“Rasa tidak suka pasti ada. Positifnya, dari berbagai sengsara papa yang dialami Pandawa karena ulahnya, Pandawa mampu memanfaatkannya menjadi sebuah hal berguna. Kesabaran dan kebijaksanaan dalam menyikapi dan menjalani hidup ini, menjadi matang dengan sendirinya. Dan itu sangat bermanfaat kala kami menghadapi masalah seberat apapun. Begitukan, petuah dan bimbingan Ramamu Semar ?”

“Tapi kalau saya kok muangkel tenan je nDara melihat sosok yang bernama Sengkuni. Lihat wajahnya saja sudah njelehi banget”
“Yah ndak apa-apa, yang penting kita selalu eling dan waspada saja maka niscaya akan terhindar dari malapetaka yang menghancurkan hidup kita sendiri.”

“Oh ya … nDara, dilanjutkan dong cerita yang kemarin itu”
“Siaap Boss Bagong !!!”

<<< ooo >>>

Sejenak sidang agung itu menjadi sunyi. Tak ada lagi yang dapat dijadikan bahan pembicaraan. Tetapi tiba tiba terjadi gaduh diluar sidang. Bertanya Prabu Salya kepada Patih Tuhayata. Continue reading Wawancara eksklusif bersama Arjuna (21)

GMP#6 : Patrap Sengkuni


Sumber gambar: http://arzulcrozz.deviantart.com/art/Arya-sengkuni-284066910

“Le, ngerti ra sing garahi crita wayang rame kuwi apa ”
“Perange ta Lik ”
” Bener, perang kuwi amarga apa”
” Nggih amargi balas dendam, utawi mbelani bebener”
” Bener, salah sijine kuwi amarga ana tokoh antagonis sing garahi crah ing antarane sedulur, ana wong sing nebar fitnah lan sing seneng adu domba. Kowe ngerti salah sijine sapa”
“Sengkuni, Lik ”
“Bener Le, kowe ngerti apa watake Sengkuni mau ”
“Pinter ning dienggo minteri, cerdik nanging digawe ngapusi, menghalalkan segala cara, munafik, oportunis ”
” Yo bener, watak sengkuni mau pastine tetep ana nalika sing jenenge urip kuwi ijek ana. Nganti saiki”
” Sakniki nggih kathah Lik”
“Wah uakeh Le. Ning pemerintahan, ning lembaga pengadilan, ning legislatif, ketoke meh kabeh lembaga dileboni patrap Sengkuni, yo klebu ning masyarakat yo ana wae Sengkuni Sengkuni sing gentayangan”
“Pripun ciri cirinipun Lik ”
“Yo nek sekilas angel Le meruhi wong mau, soale pinter lamis, tumindake sarwa apik kanggo nutupi maksude sing ala, ketoke wong terpelajar, pinter ning jane ngglenggem, rupane bagus, ayu, penampilan prasaja, mranani ati. Pokoke lain di mulut lain di hati, srigala berbulu domba. Kata kuncine yo munafik ”
“Lha nek ingkang korupsi korupsi niku ”
” Klebu kuwi, lha wong korupsi ngantek em eman kok ketoke adem ayem, malah dadi selebriti”
“Lha nek politikus politikus niku ”
“Pada dene ”
“Terus mbenjang kula kedah dados napa Lik ”
” Kowe kudu dadi awakmu dhewe. Ojo gampang kapengaruh karo lingkungan, aja kapengaruh karo raja brana sing sok mblerengi, uga aja tukmis. Pokoke niyate kudu kuwat lan uga ikhtiyare”
“Nggih angel niku ta Lik ”
“Lha iyo ta, urip ning ngalam donya kuwi, gampang gampang susah ning yo susah susah gampang. Sing penting tetep istiqomah marang bebener, nyedakana bakul minyak wangi tinimbang nyeraki bakul telek bebek. Kowe golek-a wangi tinimbang entuk prengus ”
” Lha nek niku kula cocok, si Prapti ingkang imut niku rak dados SPG produk minyak wangi ta … wis wonge ayu, manis, wangi meneh”
“Dudu kuwi Le kamsute …. kowe kudu pinter milih kanca, pinter milih lingkungan, nek bisa malah mewarnai lingkungan dadi wangi ”
” Siap Lik !!!!”
” Sssstttt Le, Prapti kuwi bocahe sing endi to”

August 26 via mobile

Sengkuni Sukses


Oleh Bambang Murtiyoso
(ISI Surakarta)

Ki Surya Wignyocarito menggelar satu episode wayang, pra-Pandawa, dengan judul Gandamana Luweng. Gandamana seorang mahapatih Astina, semasa pemerintah¬an Pandu. Gandamana adalah gambaran seorang ksatria yang jujur, polos, sederhana, adil, penuh pengabdian, dan setia kepada kebenaran. Ia mendapat tugas dari rajanya untuk mencari fakta yang sebenarnya ke Pringgandani. Apakah raja raksasa, Tremboko, benar mengirim surat ke Astina yang berisi sebuah tantangan terhadap Pandu. Nalar Pandu ragu terhadap Tremboko berulah seperti itu.

Sesampai di batas negara Pringgandani, telah terjadi tawur masa antara prajurit Astina dan Pringgandani. Genderang perang bertalu-talu; Gandamana mengibarkan bendera putih, pertanda pembawa misi perdamaian. Agaknya ada penelusup, sekaligus provokator, penggerak amuk masa di kedua belah pihak. Tidak tahu sebab-musababnya, Gandamana telah dihujani berbagai senjata dan dikeroyok habis-habisan. Gandamana sama sekali tidak melawan, sebab yakin ada kesalahpahaman. Gandamana didorong terus ke sebuah sumur jebakan, “luweng.” Gandamana terperangkap dan ter¬perosok ke dalam luweng tersebut. Tidak hanya itu, Gandamana ditimbun hidup-hidup dengan bebatuan.

Masa Pringgandani yang brutal dapat dikendalikan dan diundurkan rajanya, Tremboko. Atas bantuan Tremboko pula, Gandamana dapat terselamatkan dari maut. Keduanya, Gandamana dan Tremboko, semakin yakin bahwa ada tangan jahil yang mengeruhkan situasi. Keyakinan itu semakin mantap setelah Tremboko me¬nyerah¬kan surat yang berisi tantangan Pandu terhadap raja raksasa yang sakti itu.

Pada akhir cerita dalang, diketahui bahwa ada sentana Astina, Sengkunilah yang mengatur semuanya, agar terjadi benturan kekuatan antara Pringgandani dengan Astina. Intinya, adalah Sengkuni mencari muka, ngaji pumpung, dan mélik nggéndhong lali. Dalam berbagai kasus di negeri ini, persoalannya tentu tidak sejelas dan semudah seperti alur lakon Gandamana Luweng di atas. Hal ini sangat bergantung pada kecerdasan, ke¬canggih¬an, atau sanggit dalang. Permasalahannya adalah, siapa dalang yang sebenar¬nya, sehingga mampumembikin jagad Nusantara menjadi gonjang-ganjing? Apakah di balik lakon itu terdapat sebuah, atau lebih, tim pembuat huru-hara yang menyusun skenario itu.

Tokoh-tokoh wayang yang lazimnya memiliki tipologi bulat, meski tidak hitam dan putih, nampakkah sekarang? Kalau di masa silam wayang sering dijadikan sebagai simbol, pasemon, dan juga cermin budaya bangsa, apakah masih mampu menjawab dan memberikan gambaran berbagai persoalan yang dihadapi Indonesia modern sekarang? Berkaitan dengan banyak kasus yang melahirkan bermacam-macam masalah rumit, termasuk segala rupa mafia dan makelar di Indonesia kini, siapa yang berperan sebagai tokoh-tokoh utamanya?

Gandamana yang terkorbankan, atau memang pantas dikorban¬kan? Atau orang-orang baik layak untuk dijebak, agar keadilan, kearifan, dan kebajikan tidak merebak. Siapa pula tokoh Nasional yang berkarakter sebagai Sengkuni? Sengkuni yang IQ-nya cerdas tetapi julig, culas, vested interes, penjilat, pengadu domba, khianat, dan ambisius. Siapa pula sebenarnya Prabu Pandu yang berpenampilan kalem, terkesan bijak, tetapi selalu lamban dalam menangani berbagai.permasalahan kini.
Untuk itulah Pandu sering mendapat protes, termasuk adiknya sendiri, Yama Widura. Apalagi setelah Pandu secara sepihak memecat Gandamana, yang dianggap tidak loyal kepada raja. Bahkan Sengkuni yang licik, telah diangkat sebagai mahapatih Astina, pengganti Gandamana. Padahal Gandamana, oleh banyak orang dianggap sangat jujur, tanpa pamrih, dan kesetyaannya terhadap raja dan negara telah teruji.

Di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita sangatlah sulit untuk mengurai permasalahanya. Sebab, semua yang terlibat—dengan bermodal kecakapan bicara serta wajah meyakinkan tetapi penuh kepura-puraan—berusaha menghindar dari tuduhan dan dakwaan. Jika perlu teman-teman dekat didorong untuk terperosok dalam reka jebakan. Agaknya tokoh Sengkuni, dalam pertunjukan panggung Indonesia, telah berinkarnasi ke jutaan tokoh di mana-mana.
Roh-roh Sengkuni itu telah menyelinap dan menebar di seluruh latar, di bilik-bilik institusi, di kamar-kamar atasan, di sela-sela bicara, di jeruji-jeruji bui, di meja-meja pimpinan lembaga, di sidang-sidang pengadilan, di pansus-pansus markus, di almari-almari dokumen negara, di file-file petinggi seluruh negeri, di perdebatan-perdebatan pemilu, di kampane-kampanye pilkada, dan di mana pun serta kapan saja.

Akibat dari semuanya, sangat langka menemukan tokoh ksatria, negarawan, seperti Gandamana yang tangguh, yang jujur, yang setya, dan yang tidak ambisius. Kesuksesan Sengkuni-Sengkuni di seluruh institusi negeri ini benar-benar sangat menghantui Surti, seorang pesinden amatir, yang aktivis pergerakan kesetaraan jender. Akan diarahkan menjadi apa serta akan dibawa ke mana bangsa dan negeri ini? Gerutu Surti setiap pagi selepas nonton televisi.

Kata dalang: ledhog iliné banyu, air selalu mencari celah untuk mengalir ke bawah. Kalau sumber air di atas keruh, pasti bermuara dengan penuh lumpur polusi yang menjijikkan. Pertanyaan-pertanyaan terus menguntit di relung hati Surti. Apakah negeri ini akan usai pada awal abad ini? Kalau tidak, siapa tokoh ksatria yang mampu me¬mimpin bangsa ini? Cara apa yang tepat untuk memberantas korupsi, kolusi, dan nevotisme yang tiada henti? Apakah semua pejabat negeri ini harus diganti? Siapkah generasi pengganti, untuk bermental suci, adil, dan percaya diri? Sakbeja-bejané wong lali, isih beja wong kang éling lan waspada. Kata mutiara ini sudah lama dilupakan banyak orang dan tidak tahu bagaimana perwujudannya.

Ki Hadi Sugito : Sengkuni Tundung


Berikut saya kutipkan sosok Sengkuni dari WIKI

Asal-Usul Versi Pewayangan

Dalam pewayangan, terutama di Jawa, Sangkuni bukan kakak dari Gandari, melainkan adiknya. Sementara itu Gandara versi pewayangan bukan nama sebuah kerajaan, melainkan nama kakak tertua mereka. Sangkuni sendiri dikisahkan memiliki nama asli Arya Suman.

Pada mulanya raja Kerajaan Plasajenar bernama Suwala. Setelah meninggal, ia digantikan oleh putra sulungnya yang bernama Gandara. Pada suatu hari Gandara ditemani kedua adiknya, yaitu Gandari dan Suman, berangkat menuju Kerajaan Mandura untuk mengikuti sayembara memperebutkan Kunti, putri negeri tersebut.

Di tengah jalan, rombongan Gandara berpapasan dengan Pandu yang sedang dalam perjalanan pulang menuju Kerajaan Hastina setelah memenangkan sayembara Kunti. Pertempuran pun terjadi. Gandara akhirnya tewas di tangan Pandu. Pandu kemudian membawa serta Gandari dan Suman menuju Hastina.

Sesampainya di Hastina, Gandari diminta oleh kakak Pandu yang bernama Dretarastra untuk dijadikan istri. Gandari sangat marah karena ia sebenarnya ingin menjadi istri Pandu. Suman pun berjanji akan selalu membantu kakaknya itu melampiaskan sakit hatinya. Ia bertekad akan menciptakan permusuhan di antara para Korawa, anak-anak Dretarastra, melawan para Pandawa, anak-anak Pandu.

Asal-Usul Nama Sangkuni

Menurut versi pewayangan Jawa, pada mulanya Suman berwajah tampan. Ia mulai menggunakan nama Sangkuni semenjak wujudnya berubah menjadi buruk akibat dihajar oleh Gandamana.

Continue reading Ki Hadi Sugito : Sengkuni Tundung