Tag Archives: sembadra

Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [1]


ki timbul

Dalang Ki Timbul Hadiprayitna KMT Cermo Manggala

Pementasan dimulai dengan mencabut gunungan dari tengah kelir, iringan gending Ayak-ayak lasem slendro pathet nem, dalang mengeluarkan dua keparak, dilanjutkan raja Dwarawati, Prabu Baladewa, Samba, Setyaki dan patih Udawa.

Dalang memberikan selingan sulukan kombangan.

Mangka purwakaning kanda, hamba sru marwata siwi, mring sangyaning pra rupiksa, ngaturaken carita methik, jaman purwa puniki, tan nedya mulang wuruk, hooong, mung sumangga pra rupiksa denya methik palupi, wasana mugi rahayu kang pinangya.

Iringan berubah menjadi Ayak-ayak gending Karawitan slendro pathet nem, dalam keadaan itu dalang melantunkan suluk kombangan.

Oooong, palugon lakuning lekas, lukita linuding kidung, kadung kadereng hamomong, memangun manah rahayu, hayana tan agolong, gumolong manadukara, karana karenan pangapus puspita wangsalan semon, hong.

Gending karawitan menjadi lambat, dilanjutkan memberikan deskripsi adegan secara lengkap yang lazim disebut janturan sebagai berikut.

Ya Tuhan yang menjadi sesembahan saya dan yang menguasai hidup dan mati. Supaya mempunyai perbuatan yang menyembah kepada yang membuat dunia. Oleh karena saya mengetahui besar kekuatannya yang sangat berlebih. Ditempat ini saya akan menyusun (mengringgit) dengan mengambil cerita dari buku, dengan masih bertumpu kepada kebudayaan. Dalam kesempatan ini semoga menjadi pemikiran, yang sungguh dapat menjadi contoh semua hal yang mengguntungkan kerajaan. Cerita tadi diceritakan dengan perumpamaan dan gambaran baik dan lebih bebas, karena selalu mengingat zaman dahulu (zaman sesudah kitrah dan zaman sesedah madya). Dengan memuji keturunan yang pantas disayangi supaya mengembangkan. Sekarang sudah sampai pada perkataan. Selalu dibarengi hiasan dan do’a yang bertumpuk-tumpuk. Tidak lupa saya selalu memuji kepada yang membuat terdahulu, demikian ucapan pendahuluan saya.

Tersebutlah negara mana yang akan mengawali cerita nanti, yang disebut eka adi dasa purwa. Eka artinya satu, hadi lebih, dasa sepuluh, purwa permulaan. Walaupun didunia banyak makhluk tuhan yang disangga bumi, dipayungi angkasa diapit samudra, banyak yang hanggana raras, ternyata mencari seribu tidak mendapatkan sepuluh, seratus tidak mendapatkan tiga. Sebagus-bagusnya kerajaan belum ada yang sebagus kerajaan Dwarawati, atau Dwaraka ya Dwarakesthi, ya Jenggalamanik.

Maka negara Dwarawati dipakai pembukaan cerita, sebab negara tersebut panjang punjung pasir wukir loh jinawi gemah ripah karta tur raharja. Kata panjang artinya panjang, punjung tinggi. Kalau digambarkan seberapa panjangnya kerajaan sungguh negara panjang ucapannya, lebar wilayahnya luhur kawibawannya. Pasir samodra wukir gunung, sebab tata keindahan kerajaan membelakangi samodra, diapit gunung besar, disebelah kirinya pegunungan dan pedesaan, disebelah kanannya persawahan juga didepannya pertanahan luas, loh berhasil yang ditanam, jinawi murah yang dibeli, sungguh negara Dwarawati serba murah yang dibeli, yang dijual semua laku. Juga disebut negara murah makanan, dan pakaian. Continue reading Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [1]