Tag Archives: semar kuning

eBook Semar Kuning


semar-1-s-hendrawidjaja-wu1980an-text21

Sejenak Semar menghela nafas dalam-dalam kemudian melanjutkan kata-katanya:

“Dengan berat hati kukatakan bahwa akibat perbuatanmu itu, anakmu Siti Sendarilah yang menanggung akibatnya. Benar bahwa sekarang dia telah resmi menjadi istri dari anak Arjuna, Abimanyu. Namun kehendak dewa mengatakan bahwa dari perkawinan itu, kelak anakmu tidak akan memperoleh keturunan !”

Terkejut yang hadir mendengar kata-kata terakhir Semar. Meskipun pelan disampaikan namun bak petir di siang hari bolong, seketika dengan menggelegar menyambar perasaan hati yang hadir, terutama bagi Kresna dan Arjuna. Muka Kresna tampak pucat sungguh. Didongakkan pelan wajahnya memandang Semar yang tepat berada di depannya. Namun setelah melihat wajah teduh Semar dan merasakan perbawa yang terpancar, ditundukan kembali wajahnya seraya berkata:

“Pukulun … hamba terima ketentuan dewa ini. Meskipun dengan berat hati dan dada ini rasanya sesak perih, hamba terima semua yang pukulun katakan. Aduh … anakku Siti Sendari … Siti Sendari … maafkanlah Ramamu ini yang cubluk dan tak tahu diri hingga menyebabkan engkau menderita Nak ….” begitu sedihnya Kresna hingga tak terasa tangis tlah mengambang di pelupuk matanya. Continue reading eBook Semar Kuning

Semar Kuning [17]


Punakawan_WP1

“Begini Kresna, kesalahan yang engkau lakukan cukup fatal. Bukan lantaran engkau meludahi kuncung Semar saja. Meskipun itu sangat menghinakan, namun itu adalah hanya sebagai akibat dari sikapmu yang sombong dan mengagungkan kekuasaan yang engkau miliki. Sebagai titisan Wisnu sudah selayaknya engkau mengayomi sesama dan alam raya ini sehingga tercipta kedamaian dan keadilan, buka

n malah kekuasaan yang engkau miliki dipergunakan untuk merendahkan orang lain dan meninggikan dirimu pribadi. Kesombonganmu dengan mengatasnamakan kekuasaan Wisnu dalam kemampuan mengubah warna dunia, adalah tidak benar adanya. Dirimu memang memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dipunyai oleh satria atau para raja lainnya. Ilmumu sangat luas namun tidak membuatmu lebih bijaksana dalam bertindak. Engkau masih mudah dipengaruhi oleh nafsumu untuk menunjukan kepada dunia bahwa Kresna adalah satria pinilih, satria kekasih dewa. Padahal justru dengan kedudukan itulah seharusnya engkau lebih rendah hati, mampu sabar dalam menghadapi segala kendala, bisa menerima saran dan kritik orang lain jika memang itu benar adanya dan mempergunakan ilmumu untuk kesejahteraan umat manusia dan alam raya ini”

Sejenak Semar menghela nafas dalam-dalam kemudian melanjutkan kata-katanya :

“Dengan berat hati kukatakan bahwa akibat perbuatanmu itu, anakmu Siti Sendarilah yang menanggung akibatnya. Benar bahwa sekarang dia telah resmi menjadi istri dari anak Arjuna, Abimanyu. Namun kehendak dewa mengatakan bahwa dari perkawinan itu, kelak anakmu tidak akan memperoleh keturunan !”

Terkejut yang hadir mendengar kata-kata terakhir Semar. Meskipun pelan disampaikan namun bak petir di siang hari bolong, seketika dengan menggelegar menyambar perasaan hati yang hadir, terutama bagi Kresna dan Arjuna. Muka Kresna tampak pucat sungguh. Didongakkan pelan wajahnya memandang Semar yang tepat berada di depannya. Namun setelah melihat wajah teduh Semar dan merasakan perbawa yang terpancar, ditundukan kembali wajahnya seraya berkata :

“Pukulun … hamba terima ketentuan dewa ini. Meskipun dengan berat hati dan dada ini rasanya sesak perih, hamba terima semua yang pukulun katakan. Aduh … anakku Siti Sendari … Siti Sendari … maafkanlah Ramamu ini yang cubluk dan tak tahu diri hingga menyebabkan engkau menderita Nak ….” begitu sedihnya Kresna hingga tak terasa tangis tlah mengambang di pelupuk matanya.

Dibayangkan betapa nelangsa anaknya pabila mengetahui hal ini. Di dunia ini, wanita mana yang tidak ingin memiliki buah hati yang dilahirkan dari rahimnya, buah kasih sayang antara dia dan suaminya, buah cinta yang terwujud sebab lahirnya seorang putra yang kelak akan melanjutkan keturunan dari orang tuanya untuk memulyakan dan mengharumkan nama keluarga. Dan seorang istri yang tak mampu memberi keturunan adalah sebuah aib yang besar bagi dirinya dan keluarganya. Tak tega rasanya membayangkan itu semua. Seketika terbayang wajah anaknya Siti Sendari yang sekarang tentunya tengah berbinar dan bercahaya lantaran sedang memadu kasih dengan suaminya Abimanyu, mereguk indahnya cinta, tiba-tiba kan berubah menjadi muram dan nestapa seketika pabila mengetahui perkara ini. Ah … sungguh duka meliputi hati Kresna. Benar kata orang bijak, sesal datang kemudian, sesal muncul setelah segalanya terjadi dan tak mungkin dapat diulang lagi. Continue reading Semar Kuning [17]

Semar Kuning [16]


arjuna

Sungguh indah pabila dapat dijadikan sbagai pengingat jiwa
tiada guna berfikir yang berada disitu dan disana
lha wong disitu dan disana ternyata ada disini
dulu sekarang dan kelak hari
kan terengkuh dalam SEKARANG ini
namun waspadalah slalu duhai
pabila di renungkan dalam hati
hal itu sangat berbahaya terjadi

kalau keliru hingga tersesat budi
sungguh kan peroleh malapetaka abadi

Renungkanlah hanya dalam suasana hening
heninglah sejatinya keberadaan
keberadaan itu sejatinya
adalah sebenar-benarnya hidup
menghidupi semesta kehidupan
asal jadinya dari tidak
tidak artinya
si TIDAK mengandung maksud keberadaan
keberadaannya memiliki rupa tiada lebih
sungguh nyata tlah disandang

Pertanda pabila tlah diperoleh
perilakunya sungguh serba sederhana
mampu melihat hal-hal gaib
tuk kebahagiaan hidup
tak tergoda tuk mengagungkan diri
hanya ketentraman bersama yang diberi
tak ada keangkuhan dan kesombongan
sungguh tidak diragukan lagi
itulah yang disebut manusia sejati
mengerti akan sangkan paran, asal dan tujuan hidup

Berakhirnya tembang menghadirkan keheningan suasana. Kresna, Bima dan Arjuna serta Gareng Petruk dan Bagong tidak berani bersuara. Mereka hanya duduk bersimpuh di bawah lincak itu. Mereka sadar bahwa sosok di depannya itu hanya wadagnya saja Semar, sementara jiwanya tlah menitis Batara Ismaya.

Cukup lama suasana diam tercipta, hingga kemudian Semar membuka matanya pelan-pelan. Dipandanginya sosok-sosok yang berada di depannya satu persatu dan kemudian berujar pelan :

“Cucu-cucuku semua, smoga Yang Maha Kuasa memberikan rahmad dan kasihNYA kepada kalian semua. Kalian tahu akan makna tembang tadi bukan ? Intisari yang dapat diambil sebagai pelajaran bagi hidup kita adalah bahwa hal yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menggapai kemampuan dalam mengerti gaibnya keberadaan, gaibnya hidup dan juga gaibnya Kang Murbeng Dumadi, Tuhan semesta alam, sejatinya tidak perlu difikirkan, dibayangkan ataupun dicari kemana-mana. Sebab sesungguhnya hal itu dapat di temui dalam diri kita sendiri dan semuanya tlah kita sandang serta miliki. Sebenarnyalah hal-hal tersebut sudah saling menyatu, hanya saja masih terhalang antara alam gaib dengan alam nyata.” Continue reading Semar Kuning [16]

Semar Kuning [15]


BAGONG

Dan di kaki gunung Tidar, Kresna, Bima dan Arjuna serta ketiga panakawan, Gareng, Petruk dan Bagong, tengah menyaksikan itu semua. Mereka memandang takjub fenomena cakrawala di sekitar gunung itu bermandikan cahya kekuningan. Indah dan menawan dan menyisakan kedamaian saat menikmatinya.

“Awas Gong, lalat mau masuk ke mulut mu tuh ! Lagian lihat yang di atas sampai ndlongop gitu

, ngowoh lagi, iler dleweran sampai nggak terasa. Tutup cangkemmu Gong !” Petruk menepuk bahu Bagong yang tengah menengadah.

“Ora ngono Kang, bukan begitu Kang Petruk, apa Kang Petruk tidak tahu tabiat saya kalau lagi serius. Ya begini nih Bagong kalau lagi berfikir keras !”
“Lho, emangnya apa yang sedang engkau pikirkan Gong ?”

“Aku sedang mengingat-ingat jaman dulu, sepertinya aku pernah melihat pemandangan yang seperti ini. Oh iya Kang aku kelingan, aku ingat ….. dulu waktu aku muncul pertama kali di dunia ini, suasananya ya kayak begini nih’
“Lho kamu tuh nggak dilahirkan sama mamih Kanastren to Gong ?”

“Waktu itu perpisahan antara Ramane Semar dengan Resi Manumanasa yang akan mukswa meninggalkan dunia ini. Ramane sedih karena tidak akan ada teman lagi kelak seandainya Resi Manumanasa sudah tidak ada. Akibat kesedihan Ramane, sekaligus keinginan tetap bersama karib, guru, sekaligus ndara, namun di pisah oleh takdir, Ramane berduka dan alampun ikut berpartisipasi karenanya. Hingga berdasarkan petunjuk Resi Manumanasa, maka aku kemudian nongol dari bayangan Ramane Semar. Makanya aku kan mirip banget sama Ramane. Waktu kejadian itu, suasananya ya seperti ini nih. Serem dan menghanyutkan”

“Masak serem sih Gong, lha wong kalau saya merasanya justru syahdu dan menentramkan hati kok”
“Terus critanya Gimana Gong ?” tanya Gareng ingin tahu.

“Ramane pernah crita sama aku, bahwa cahya kuning adalah warna persahabatan. Juga warna kuning melambangkan sinar sang bagaskara, cerah, membangkitkan energi dan ketetapan hati. Namun ada kalanya sifat positif tadi berbaur dengan energi negatif akibat sedang galau, gundah, sedih atau tiba-tiba muncul keinginan yang tidak lumrah.”

“Wah menarik sekali Gong, terus bagaimana pangandikane Kakang Semar ?” Arjuna yang merasa tertarik pun ikut bertanya.
“Ehm … ehm .. ehm .. wah wah wah … Bagong lagi di tanggap nih. Jarang kula memperoleh kesempatan seperti ini, memperlihatkan kapasitas, kapabilitas, kualitas dan intelektualitas diri Bagong. Bukan begitu nDara Janaka ?”

“Halah … trembelanmu Gong !” ujar Gareng sebel kalau sudah melihat Bagong jumawa begitu
“Iya Gong, silahkan lanjutkan ujaranmu yang serba tas tas tas tas tadi” lanjut Arjuna coba hangatkan suasana.

“Begini semuanya … oh sebentar … sebentar … apakah nDara Werkudara dan nDara Kresna juga mendengarkan yang saya wedarkan ini ?” suara Bagong meninggi seiring dengan tingginya ke-pede-annya.
“Heeeemmmmm …” Werkudara hanya mendehem.
“Lanjut Gong !” Kresna meminta Bagong meneruskan cerita. Continue reading Semar Kuning [15]

Semar Kuning [14]


semar

Nun .. di puncak sebuah bukit yang sedikit berkabut, pagi itu sinar sang surya mulai menghangatkan tanah dan pohon-pohon di hutan kecil di sekelilingnya. Meskipun gunung itu terbilang kecil bila dibandingkan dengan gunung-gunung di sekitarnya yang menjulang dan mengelilinginya, namun justru seolah menjadi pemimpin para gunung-gunung itu. Mengapa dibilang begitu ? Berdasarkan mit

os yang berkembang di masyarakat sekitar, gunung itu adalah pakunya tanah Jawa. Gunung itu persis berada di tengah-tengah pulau Jawa. Gunung itu memiliki perbawa bagi sesiapa yang memandangnya dan memikirkannya.

Walaupun hutan-hutan di gunung itu tidak terlalu lebat, namun tidak ada satupun penduduk sekitar yang berani menjamahnya. Tersiar kabar dari mulut ke mulut bahwa siapa saja yang menginjakkan kaki memasuki hutan di gunung itu, niscaya pulang hanya kembali nama saja. Kata orang, di hutan gunung itu terdapat banyak orang linuwih, pun berbagai jenis jin setan perayangan yang memiliki kesaktian dan kekejaman tak terkira. Hanya para satria yang kuat hati dan memiliki kedigdayaan bak dewa saja yang mampu dan berani melewati hutan dan bermalam di gunung itu.

Namun pagi itu, ternyata di puncak gunung telah ada seseorang yang tengah duduk bersantai di depan sebuah gubuk sederhana. Entah sejak kapan orang itu berada di situ karena tidak terlihat saat dia mendaki ataupun melewati lereng hingga sampai puncak. Dan anehnya para penghuni hutan dan gunung itu tidak ada yang tahu.

Sosok itu sungguh unik. Badannya pendek bulat, wajahnya bisa dibilang berantakan. Namun bila dipandang sangat nyaman dirasakan. Tidak lain dan tidak bukan, itulah sosok Semar.

Sambil bersantai menikmati indah dan sejuknya pagi, dia menembangkan tembang macapat. Bersenandung lirih seraya merenungi nada dan maknanya.

Mingkar-mingkur ing angkara
akarana karênan mardisiwi
sinawung rêsmining kidung
sinuba sinukarta
mrih krêtarta pakartining ngèlmu luhung
kang tumrap nèng Tanah Jawa
agama agêming aji Continue reading Semar Kuning [14]