Tag Archives: rama tambak

KNS : Lakon Lokapala dan Ramayana


Sumantri Ngenger

sumantriSebuah lakon tentang seorang bambang yang ingin mengabdi kepada Rajanya, Bambang Sumantri ingin ngenger kepada rajanya yaitu Arjunasasrabahu. Dasar masih hijau sehingga tidak mengenal dalamnya samudra dan tingginya gunung, sifat dan sikap tinggi hati dan kepercayaan tinggi atas kesaktian yang dimiliki, nyaris membuatnya di tolak dan di usir oleh Sri Baginda.

Namun lantaran sudah terlanjur suka, akhirnya Sang Raja Maespati menerima ngengernya Sumantri dengan memberi tugas pertama sebagai duta dalam meminang Dewi Citrawati dari Negri Magada. Namun sosok adiknya yang buruk rupa, Sukasarana, merusak kehidupan yang sedang dibangunnya. Rasa malu beradik buruk rupa, sifat tinggi hati menghancurkan potensi Sumantri. Bagaimana akhir hayat Bambang Sumantri ?

Dasamuka Lahir (Sastra Jendra Hayu Ningrat)

DasamukaCerita ini dapat juga disebut sebagai cerita Alap-alap Sukesi atau lahirnya Rahwana, Kumbakarna, Sarpakenaka dan Gunawan Wibisana. Merupakan petikan babad Lokapala yang di dalamnya mengandung mutiara yang sangat berharga.

Kerajaan Lokapala pada waktu itu diperintah oleh Danaraja atau Danapati yang belum mempunyai permaisuri. Karena itu ia ingin memasuki sayembara perang melawan Jambu Mangli kemenakan Prabu Sumali Raja dari negara Alengka yang apabila menang dapat mempersunting Dewi Sukesi putri Sumali Raja. Sebelum Danapati berangkat, ayahnya yang bernama Begawan Wisrawa datang, menyanggupkan diri menyelesaikan persoalan tersebut karena Sumali raja adalah teman baik dari Wisrawa.

Masalah besar terjadi lantaran Sukesi mempersyaratkan calon suaminya harus mampu mewedarkan “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwat Diyu”. Dan Begawan Wisrawa mampu melakukan itu hingga akhirnya Sukesi tunduk dan patuh menjadi istri Begawan Wisrawa.

Tentu saja Danaraja marah besar atas kejadian itu, meskipun yang melakukan itu adalah ayahnya.

Link lain : https://indonesiawayang.com/2009/07/12/ki-narto-sabdho-sastro-jendroyuningrat-alap2-sukesi/

Rama Tundung (Ramayana I)

KKNS Ramayana 1isah kelahiran Ramawijaya di Ayodya. Ayahnya Prabu Dasarata mempunyai tiga orang istri yaitu Dewi Ragu, Dewi Kekayi dan Dewi Sumitra. Saat itu muncul perseteruan diantara mereka yang disebabkan oleh sifat dan watak jelek dari Dewi Kekayi hingga akhirnya kemudian lahirlah keempat putra Ayodya yaitu Ramawijaya, Leksmana, Barata dan Satrugna.

Menjelang dewasa saat hendak diangkat menjadi pangeran pati, Rawawijaya malah terusir dari akibat iri dengki Dewi Kekayi, ibu dari Barata.

Ramayan I dalam unggahan lain bisa di unduh disini : http://www.4shared.com/folder/NBoRFrHi/31_online.html

Rama Gandrung

Rama sinta RamayanaTerusir dari Ayodya dan hidup mengembara di tengah hutan ditemani istri tercinta, Dewi Sinta, serta adik yang begitu setia, Leksmana, tidak membuat Ramawijaya larut dalam kesedihan akibat diusir oleh ayahnya. Namun peristiwa berikutnya adalah awal malapetaka ! Dewi Sinta diculik oleh Rahwanaraja.

Sungguh kasihan Ramawijaya yang selalu terkenang akan kekasih hatinya.

Anoman Obong

Hanoman02Sugriwa yang berhutang budi kepada Ramawijaya akhirnya bersedia membantu Ramawijaya untuk merebut kembali istrinya Dewi Sinta dari tangan Dasamuka di negri Alengkadiraja.

Awalnya yang diutus untuk mengabarkan kepada Dewi Sinta bahwa suaminya hendak berjuang merebutnya dari tangan Raja Alengka, adalah Anoman, kera putih sakti putra Anjani. Kiprah dan krida Anoman penuh cerita heboh dan berbuah huru hara di ibukota Alengka.

Rama Tambak

ramawijaya_soloSementara itu, mata-mata Alengka, Kala Marica melaporkan kepada Prabu Rahwana tentang rencana pembangunan bendungan tersebut. Prabu Dasamuka merasa cemas dengan rencana Prabu Rama tersebut. Mendengar itu, Prabu Dasamuka memerintahkan Detya Kala Yuyu Rumpung untuk membawa seluruh pasukan raksasa kepiting yang ada di Samodera Hindia, untuk menghancurkan jembatan buatan pasukan wanara Pancawati.

Yuyu Rumpung berwujud raksasa berkepala ketam (jawa =yuyu). Ia adalah salah satu punggawa kerajaan Alengka yang oleh Prabu Dasamuka ditempatkan di dalam samodra. Yuyurumpung sangat sakti. Ia dapat hidup di dalam air dan darat.

Detya Kala Yuyu Rumpung siap melaksanakan perintah Prabu Dasamuka. Ia akan mengerahkan seluruh yuyu rumpung di Samodera Hindia, untuk menggagalkan pembangunan jembatan Prabu Rama. Berangkatlah Detya Kala Yuyu Rumpung ke Samodera Hindia. Tentu saja Detya Kala Marica ikut pergi ke Samodera Hindia, mengawasi jalannya eksekusi pasukan Prabu Dasamuka pada jembatan Prabu Rama.

Sementara itu di Pancawati, Prabu Rama sedang berembug dengan Narpati Sugriwa, Laksmana, Anoman, Anggada, Anila dan para punggawa yang lain. Prabu Rama merencanakan pembuatan tanggul di Samudera Hindia, dari Pancawati  sampai tanah Alengka, untuk membawa pasukan Pancawati sebanyak-banyaknya.

Akhirnya mereka mulai membendung samudera Hindia. Para pasukan kera Pancawati bahu-membahu membuat bendungan dengan batu dan batang pohon dari hutan di sekitar Pancawati. Namun belum sampai ke Alengka tanggul itu selalu jebol dan hancur. Pasukan Prabu Rama menjadi putus asa. Belum tahu langkah apa yang harus dilakukan.

Kumbakarna Lena

KumbakarnaPerang antara pasukan kera pimpinan Ramawijaya melawan pasukan Alengka pecah sudah. Pertempuran ramai terjadi. Namun satu demi satu prajurit andalan Alengka berguguran, meskipun di pihak Ramawijaya korbanpun tidak sedikit.

Sarpakena, raksasi yang sakti mandraguna adik dari Rahwanaraja, telah menemui ajalnya. Demikianpun, Prahasta, patih Alengka yang masih terbilang paman dari Rahwanaraja, telah menemui ajal.

Rahwana kemudian menyuruh Indrajit anaknya untuk membangunkan Kumbakarna yang tengah bertapa. Kumbakarna sebenarnyalah tidak setuju atas perilaku kakaknya dalam menculik dewi Sinta. Namun apa daya, pendapatnya selalu ditolak oleh Sang Dasamuka.

Namun akhirnya Sang Kumbakarna maju perang demi membela negara, bukan untuk membela tindakan kakaknya yang tidak benar.

Kumbakarna Lena dalam unggahan lain bisa di unduh disini : http://www.4shared.com/folder/BdZLmiWZ/28_online.html

Dasamuka Lena

Dasamuka triwikrama-Yogya-04Akhirnya setelah semua orang kepercayaan dan andalannya gugur, termasuk anaknya Indrajit, maka mau tidak mau Dasamuka maju sendiri sebagai senapati Alengka. Kemarahan yang memuncak atas hilangnya orang-orang dekatnya, ditambah luluh lantaknya negara membakar nafsu membunuh Rahwana. Banyak korban dari pihak Ramawijaya akibat keganasan Rahwana.

Namun kezaliman akhirnya bakal sirna. Dasamuka tak berdaya saat menghadapi Ramawijaya.

Bagaimana kemudian pertemuan antara kekasih yang tak sua sekian lama ? Bagaimana kisah antara Rama dan Sinta ?

KNS : Rama Tambak


Pagelaran wayang bersama Ki Nartosabdho dengan lakon “Rama Tambak” dapat diunduh di sini

http://www.4shared.com/folder/1aFbqd3K/26_online.html

Sekilas cerita Rama Tambak :

http://caritawayang.blogspot.com/2012/11/rama-tambak.html

Ini dia, Rama Bridge..jembatan purba misterius sepanjang 18 mil (30 Km) yang menghubungkan antara Manand Island (Srilanka) dan Pamban Island (India) yang disebut2 buatan Rama.

Rama Wijaya termangu sedih ketika mendapati kenyataan tak seindah impian. Bayangan Sinta, istri yang sangat dicintainya perlahan memudar dari benaknya, terpagut hempasan ombak samudra yang terbentang di hadapannya. Prabu Sugriwa, Lesmana, Anoman, Anila, Anggada, dan seluruh pasukan kera yang ada pun tak mampu berbuat banyak untuk membuat Sri Rama tersenyum.

Gejolak kerinduan junjungannya kepada sang istri bagai sembilu yang menyayat hati. Sebagai senopati perang, ingin sekali rasanya Anoman beraksi dan membawa terbang Rama menyeberangi samudra. Tapi Anoman sadar, jika perang dengan wadya bala Alengka harus dilakoni dengan cara yang ksatria. Akan tetapi, samudra Hindia yang membentang di depan mata dihuni ribuan pasukan raksasa air yang nggegirisi. Sungguh sebuah perbuatan konyol dan bunuh diri jika membiarkan pasukan kera yang tak bisa berenang menceburkan diri ke dalam samudra. Namun alam berkehendak lain. Di tengah keputusasaan Sri Rama, muncullah Hyang Baruna dewanya para ikan dan hewan laut. Baruna paham masalah apa yang dihadapi Rama.

Dengan segenap keberanian yang dimilikinya, Baruna pun mengingatkan Rama Wijaya untuk tak lagi putus asa dan ragu-ragu dalam bertindak. Karena sebagai seorang pemimpin, keraguan dan keputusasaan adalah jurang kematian yang siap merenggut nyawa rakyat yang dipimpinnya. Sadar telah salah dalam berpikir, Rama pun kembali bangkit. Dan dengan bantuan Baruna, Sri Rama pun bahu membahu bersama para pasukan kera melakukan sebuah mega proyek yaitu membuat bendungan (jawa = tambak) untuk membentung lautan sebagai jembatan untuk  menyebrang ke Alengka.
Sementara itu, mata-mata Alengka, Kala Marica melaporkan kepada Prabu Rahwana tentang rencana pembangunan bendungan tersebut. Prabu Dasamuka merasa cemas dengan rencana Prabu Rama tersebut. Mendengar itu, Prabu Dasamuka memerintahkan Detya Kala Yuyu Rumpung untuk membawa seluruh pasukan raksasa kepiting yang ada di Samodera Hindia, untuk menghancurkan jembatan buatan pasukan wanara Pancawati.

Yuyu Rumpung berwujud raksasa berkepala ketam (jawa =yuyu). Ia adalah salah satu punggawa kerajaan Alengka yang oleh Prabu Dasamuka ditempatkan di dalam samodra. Yuyurumpung sangat sakti. Ia dapat hidup di dalam air dan darat.

Detya Kala Yuyu Rumpung siap melaksanakan perintah Prabu Dasamuka. Ia akan mengerahkan seluruh yuyu rumpung di Samodera Hindia, untuk menggagalkan pembangunan jembatan Prabu Rama. Berangkatlah Detya Kala Yuyu Rumpung ke Samodera Hindia. Tentu saja Detya Kala Marica ikut pergi ke Samodera Hindia, mengawasi jalannya eksekusi pasukan Prabu Dasamuka pada jembatan Prabu Rama.

Sementara itu di Pancawati, Prabu Rama sedang berembug dengan Narpati Sugriwa, Laksmana, Anoman, Anggada, Anila dan para punggawa yang lain. Prabu Rama merencanakan pembuatan tanggul di Samudera Hindia, dari Pancawati  sampai tanah Alengka, untuk membawa pasukan Pancawati sebanyak-banyaknya.

Akhirnya mereka mulai membendung samudera Hindia. Para pasukan kera Pancawati bahu-membahu membuat bendungan dengan batu dan batang pohon dari hutan di sekitar Pancawati. Namun belum sampai ke Alengka tanggul itu selalu jebol dan hancur. Pasukan Prabu Rama menjadi putus asa. Belum tahu langkah apa yang harus dilakukan,

Tidak lama kemudian Prabu Rama kedatangan tamu dari Alengka, yaitu Wibisana. Prabu Rama merasa senang dengan kehadiran Wibisaba, yang mau bergabung dengan Prabu Rama. Prabu Rama bersedia memberikan fasilitas Kerajaan Pancawati.Wibisana sehari harian diperbolehkan menggunakan apa yang ada di Pancawati. Wibisaana mendapatkan tenda tersendiri, yang letaknya bersebelahan dengan tenda Prabu Rama dan Laksmana.

Sebagai tanda baktinya kepada Prabu Rama, Wibisana membantu pembuatan jembatan dari Pantai Pancawati sampai ke negeri Alengka. Dalam waktu sekejab Wibisana menciptakan jembatan yang kokoh dan kuat. Anoman kemudian mencoba jembatan yang baru diciptakan Wibisana.

Belum beberapa lama jembatan itu dicoba oleh Anoman, jembatan itu ambrol dan hancur. Jembatan ciptaan Wibisana menjadi runtuh.  Disaat seperti ini Wibisana bagai teruji kesetiaannya pada Prabu Rama. Beberapa tokoh senapati meminta agar Wibisana diusir saja dari Pancawati, karena bisa saja niat Wibisana mau menghancurkan Pancawati dari dalam. Wibisana tak bisa berbuat apa apa. Pikirannya melayang kembali kekakaknya, Prabu Dasamuka, Wibisana berpikiran lebih baik tinggal di Alengka, dari pada setelah meninggalkan tanah kelahirannya, ternyata sesampai di tempat Prabu Rama yang asing baginya, dianggap mata-mata musuh. Dalam hatinya menangis, teringat pula kakaknya, Kumbakarna yang sempat mau mengikuti kepergiannya. Wibisana terdesak pikiran-pikiran yang mestinya tidak perlu. Akan tetapi Prabu Rama menyatakan bahwa ia tetap percaya pada Wibisana.

Prabu Rama percaya pada Wibisana, karena Wibisaba pasti mengetahui seluk beluk pertahanan Alengkadiraja.

Persoalan selalu runtuhnya bendungan tersebut oleh Prabu Rama diserahkan pada Wibisana. Menurut perkiraan  Wibisana, keruntuhan-keruntuhan yang terjadi pada jembatan tersebut, akibat ulah pasukan Prabu Dasamuka. Wibisana meminta Prabu Rama untuk mengerahkan seluruh kera kera Yuyu Kingkin, yang berada di hutan Pancawati,  ke Jembatan Situbanda yang telah dibuat  Perajurit Pancawati.  Kapi Yuyu Kingkin siap akan mengerahkan ribuan kera yuyu kingkin di hutan Pancawati mengusir pengganggu dari Alengka. Kapi Yuyu Kingkin adalah satu satu satu nya jenis kera, yang mempunya capit yuyu yang kuat, sanggup menyelam berjam-jam di dalam Samodera.

Dalam melakukan operasi tesebut, ditugaskan pula Kapi Sarpacitra untuk membatu. Kapi sarpacitra adalah kera pujaan Batara Cakra, seorang dewa yang juga berkedudukan sebagai pujangga kayangan. Ia berwujud kera berkepala ular dan memiliki ekor yang sangat panjang.

Pasukan Pancawati pun bertindak. Kapi Yuyu Kingkin beserta pasukan dan Kapi Sarpacitra menyelam ke dasar lautan. Benar saja sesuai perkiraan Wibisana, tambak yang dibangun ternyata dirusak oleh pasukan Alengka yang dipimpin Kala Yuyu Rumpung. Pasukan Kapi Yuyu Kingkin berhasil mengalahkan bala Alengka, Pasukan Yuyu Rumpung sebagian tewas dan yang masih hidup menyelamatkan diri.

Sementara itu sang komandan, Kapi Yuyu Kingkin dan Kapi Sarpacitra berhadapan dengan Kala Yuyu Rumpung. Karena kuwalahan menghadapi Kala Yuyu Rumpung di dalam air, Kapa Sarpacitra melilit tubuh Yuyu Rumpung dengan ekornya yang panjang dan dibawa ke daratan. Kapi Yuyu Kingkin pun ikut kembali ke daratan. Pertempuran pun kembali berlanjut. Ternyata di darat Yuyu Rumpung tak sehebat jika bertarung di dalam air dan akhirnya tewas di tangan Kapi Yuyu Kingkin.

Sesudah tidak ada lagi gangguan dari pasukan Alengka,  Pasukan Pancawati dan Wibisana, melanjutkan pembuatan jembatan Situbanda, dengan bahu membahu dalam membuat jembatan ke Alengka, maka jadilah tanggul itu dan akhirnya pasukan  kera yang jumlahnya ribuan itu bisa diberangkatkan ke Alengka Diraja. Mereka termasuk para kera ciptaan Dewa, seperti Cucak Rawun, Endrajanu, Bakliwinata, Baliwisata, Indrajanu, serta lainnya berbaris rapi, bagaikan tentara yang perkasa, siap ke medan laga, menjemput maut, demi membela kebenaran. Jembatan ini dikenal dengan Jembatan Situbondo. Dan konon jembatan yang menghubungkan India dengan Srilangka, masih ada, yang menyerupai pulau pulau kecil di ujung Srilangka.

Ki Sugino Siswocarito : RAMA TAMBAK


Prajurit Pancawati salebeting samudra ngadhang raksasa saking Ngalengkadiraja ingkang wola-wali ngrisak bangunaning tambak.

Para sturesnaning ringgit mesthi sampun mangertosi lampahan Ramayana ingkang setunggal menika. Sasat saben dhalang sampun nate manggungaken lampahan Rama Tambak ingkang yektos dados satunggaling lampahan ingkang anggadhahi panggenan ingkang mirungan wontening salebeting sanubari. Kadhang, lampahan menika kapanggungaken mligi kagem mengeti utawi kagungan makdsud kangge upacara ingkang tumuju dhumaten keslametan.

Ing mriki Ki Sugino nggelar lampahan Rama Tambak ingkang kagelar wujud serial ingkang kawiwitan saking lampahan Anoman Dhuta lan dipun pungkasi lampahan Rama Nitis.

Ingkang kepareng mundhut audionipun kula aturi klik ing MRIKI

——————————————————————————————-

Innalillahi wa Inna Illaihi Roji’un.
Ndherek ngaturaken bela sungkawa. Sampun kapundhut ing ngarsanipun 
Gusti Allah, Ibu Roni Subari, garwanipun Bapak Roni Subari, 
Sekretaris Paguyuban Pecinta Wayang (PPW)
Mugi ingapuran sedaya dosa kalepatan lan katampi ing ngarsanipu 
Gusti Allah sedaya amal ibadahipun.
Dene ingkang tinilar, sageda kiyat imanipun lan tabah nampi 
pacoban punika.
 
Amin.

Saking Admin lan sagunging para rawuh ing “wayangprabu.com”

TBJT Solo – KMS – Rama Tambak – Alden Praptono


Rama Wijaya termangu sedih ketika mendapati kenyataan tak seindah impian. Bayangan Sinta, istri yang sangat dicintainya perlahan memudar dari benaknya, terpagut hempasan ombak samudra yang terbentang di hadapannya. Prabu Sugriwa, Lesmana, Anoman, Anila, Anggada, dan seluruh pasukan kera yang ada pun tak mampu berbuat banyak untuk membuat Sri Rama tersenyum.

Gejolak kerinduan junjungannya kepada sang istri bagai sembilu yang menyayat hati. Sebagai senopati perang, ingin sekali rasanya Anoman beraksi dan membawa terbang Rama menyeberangi samudra. Tapi Anoman sadar, jika perang dengan wadya bala Alengka harus dilakoni dengan cara yang ksatria. Di sisi lain Gunawan Wibisana, adik Rahwana yang telah membelot ke kubu Sri Rama pun telah kehabisan akal. Pasalnya, samudra selatan yang membentang di depan mata dihuni ribuan pasukan raksasa air yang nggegirisi. Sungguh sebuah perbuatan konyol dan bunuh diri jika membiarkan pasukan kera yang tak bisa berenang menceburkan diri ke dalam samudra. Namun alam berkehendak lain. Di tengah keputusasaan Sri Rama, muncullah Hyang Baruna dewanya para ikan dan hewan laut. Baruna paham masalah apa yang dihadapi Rama.

Dengan segenap keberanian yang dimilikinya, Baruna pun mengingatkan Rama Wijaya untuk tak lagi putus asa dan ragu-ragu dalam bertindak. Karena sebagai seorang pemimpin, keraguan dan keputusasaan adalah jurang kematian yang siap merenggut nyawa rakyat yang dipimpinnya. Sadar telah salah dalam berpikir, Rama pun kembali bangkit. Dan dengan bantuan Baruna, Sri Rama pun bahu membahu bersama para pasukan kera melakukan sebuah mega proyek yaitu membendung samudra.

Itulah tadi sekelumit penggalan lakon Rama Tambak dalam pergelaran wayang kulit Jumat Kliwon di pendapa Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, Kamis (26/5) malam lalu. Lakon itu pun menjadi sangat hidup karena dibawakan langsung oleh maestro dalang sabet Ki Manteb Soedarsono.

Ditemui sesaat sebelum pementasan, Ki Manteb yang juga merupakan anggota tim identifikasi dugaan pemalsuan koleksi wayang Radya Pustaka mengungkapkan kejenuhannya atas situasi yang terjadi di bangsa ini. Di mana hampir semua pemimpin terlanda virus keragu-raguan dan nyaris putus asa dalam menjalankan kebijakan. “Akibatnya rakyat yang dipimpin pun kleleran (sengsara—red). Di lain sisi, masyarakatnya disuruh rukun pun susahnya minta ampun, kalah sama kera dan ikan seperti dalam lakon Rama Tambak ini,” keluhnya.

Untuk itu, melalui pergelarannya, Ki Manteb ingin menggugah kembali rasa patriotisme dan jiwa ksatria segenap rakyat Indonesia, sehingga mampu bangkit dari keterpurukan. “Semua harus dimulai dari diri kita sendiri. Tanpa itu, sampai kapan pun situasi Indonesia ya tetap begini,” tegasnya.

Permainan Ki Manteb sendiri pun tak lagi diragukan. Nyaris sepanjang pertunjukan yang terdengar adalah sorak tepuk tangan penonton, yang terpuaskan kangennya akan gaya sabetan wayang ala Manteb. Apalagi ketika dalang peraih Nikkei Awards tersebut mengeluarkan koleksi wayang raksasa versi Ramayana-nya, semua mata penonton tercengang menyaksikan tatah sunggih wayang yang jarang dipertontonkan tersebut.

Deniawan Tommy Chandra Wijaya

Sumber : http://harianjoglosemar.com/berita/rama-tambak-potret-keraguan-seorang-raja-44930.html

Nah kalau dibawah ini adalah deskripsi Mas Alden Praptono yang menyaksikan secara langsung dan sempat mengabadikan beberapa momen dari pagelaran wayang KMS tersebut.

Berikut deskripsi yang ditulis di Milis PPW dan gambar gambarnya.

Kepada para member PPW semua, sekedar ikut berbagi saja, kebetulan saya ikut “iseng” jeprat-jepret saat nonton wayang Jumat Kliwonan kemarin di TBJT, dengan dalang Ki Manteb Sudarsono.

Seperti biasa (sudah berlangsung selama 17 tahun di TBJT) acara wayangan digelar secara klasik, tidak ada bintang tamu, Limbukan dan Goro2 juga secukupnya saja tidak sampai menyita banyak waktu seperti pada tanggapan orang punya hajat, bahkan juga tidak melayani permintaan lagu/gending.

Walaupun acara rutin setiap Jumat Kliwon, pagelarannya boleh dibilang spektakuler karena didukung oleh 40 orang pengrawit, dan lima orang pesinden, di antaranya sinden Jepang Mbak Heromi Kano. Dalam kesempatan itu Ki Manteb menyatakan bahwa kali ini ndalang bukan utk mencari duit tapi untuk seneng2 saja, dan nyenengke para penggemar wayang di tlatah Surakarta dan sekitarnya. Karena waktunya cukup, tidak tersita untuk “hura-hura”, jalan ceritanya pun berjalan enak sampai selesai tanpa terkesan dipaksakan yang penting rampung. Bahkan dialog dan gojekan pasukan demit pun bisa berjalan cukup enak ditonton, hal yang jarang saya lihat pada pentas tanggapan. Saya yakin, KMS pun sangat menikmati bisa leluasa ndalang klasik seperti itu, tanpa diintervensi sponsor atau penanggap.

Perlu diketahui, bahwa wayangan Jumat Kliwonan di TBJT ini biasanya dijadikan arena para dalang yang tampil untuk bisa unjuk kebolehannya semaksimal mungkin. Karena yang datang menonton di sini biasanya bukan hanya para penggemar wayang, tapi juga para guru besar pedalangan/karawitan, para dalang, seniman dan pengamat wayang, maka para dalang yang tampil mesti mempersiapkan diri sebaik mungkin agar tampilannya maksimal dan tidak “diolok-olok” para penonton yang mayoritas sudah banyak “makan wayang” tersebut. Bahkan dalang sekelas Ki Entus pun saat tampil di TBJT dua bulan yang lalu mesti mempersiapkan diri selama 2 minggu, agar penampilannya tidak kalah “cling” dengan dalang2 lain yg jam terbangnya lebih rendah. Begitu juga Ki Manteb sudarsono kali ini, agar penampilannya spektakuler, tidak kalah dengan penampil2 lain, beliau mengerahkan seluruh kru, dengan tim karawitan yang extra (40 orang), balungan saron-demung-peking 16 set slendro pelog, sound system bawa sendiri, dan wayang beserta gawangan juga punya KMS sendiri. Wayang dan gawangan milik Ki Manteb ini memang dipinjamkan utk melakonkan serial Ramayana selama setahun penuh di TBJT, karena memang wayangnya khusus wayang Ramayana dan di Jawa Tengah hanya beliau yang mempunyai koleksi Wayang Ramayana paling lengkap.

Ini foto2 shot saya, tidak terlalu bagus karena memang saya kadang kurang pede kalau harus pledhang-pledhing motret dari berbagai arah, takut mengganggu penonton lain. tapi mudah2an bisa menjadi dokumen bagi yang memerlukan.

kurang lebihnya mohon maaf.
Maturnuwun.

Gambar lengkap silahkan dilihat di PPW FB

KES Rama Tambak


Berikut saya teruskan sharing dari Pak WADI Bandung yang berbagi koleksi Ki Enthus Susmono berjudul “Rama Tambak”.

http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6778&Itemid=37

Wayang Kebangsaan di halaman Gubernuran Belajar bersatu lewat ’Rama Tambak’

 

Image

Foto : Zar

KALAU saja tak ada Prabu Sugriwa dan Senopati Hanoman, Prabu Ramawijaya sudah pasti merasa putus asa. Negeri Alengka tempat isterinya, Dewi Sinta, disembunyikan Prabu Rahwana, berada di seberang lautan yang maha luas. Mustahil baginya untuk menyerang Alengka bila keadaannya demikian. Tetapi Prabu Sugriwa dan Senopati Hanoman tak habis akal. Dengan kuasa sebagai raja kera, jutaan kera-kera pasukannya diminta untuk mengumpulkan batu dan melemparkannya ke tepi lautan. Tujuannya satu, yaitu membuat bendungan besar sebagai jembatan menuju Negeri Alengka.

Bersatunya jutaan pasukan kera untuk menambak (membendung-red) samudera, ternyata membuahkan hasil yang manis. Pelan-pelan mulai terlihat sebuah jembatan memanjang yang mengarah ke negeri Alengka. Sesuatu yang semula terlihat mustahil untuk diatasi, ternyata bisa diselesaikan dengan persatuan dan kesatuan.

Begitulah gambaran cerita yang diangkat Ki Enthus Susmono, saat melakonkan cerita Rama Tambak, dalam Pergelaran Wayang Kebangsaan di Halaman Gubernuran Jateng, Sabtu (4/8) malam lalu. Dalam pergelaran itu hadir pula Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Erman Suparno dan anggota DPR RI Sumaryoto.

Lakon Rama Tambak, bila dicermati secara lebih mendalam, merupakan sebuah lakon kiasan terhadap kondisi Indonesia dewasa ini. Sebagai negara besar, Indonesia tengah mengalami banyak konflik kebangsaan yang seakan-akan mustahil untuk diatasi. Kondisi-kondisi buruk seperti ini, seharusnya bisa ditangani dengan mudah, apabila seluruh rakyat Indonesia mau bersatu dan bergotong royong.

Penyadaran
Wayang Kebangsaan merupakan wayang yang diciptakan dengan tujuan penyadaran publik. Setiap kali digelar, wayang itu mengangkat tema-tema besar kebangsaan, yang bisa untuk membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia. Harapannya, melalui pergelaran Wayang Kebangsaan, bangsa Indonesia kembali teringat akan perjuangan para pahlawan, terutama untuk saat mereka menggalang persatuan yang kemudian menjadi negara Indonesia.

Sementara itu, dilihat dari sisi pamentasan, pergelaran wayang kulit yang dipertontonkan Ki Enthus Susmono, terbilang menarik dan sangat kreatif. Bukan hanya kreatif dalam membawakan lakon, tetapi kreatif pula dalam menyentil beberapa kebijakan pemerintah masa kini. Tak sekali dua kali dia mengkritisi kebijakan pemerintah dan wakil rakyat, yang dianggapnya tidak berpihak pada rakyat dan terlalu membebani. Continue reading KES Rama Tambak