Tag Archives: pandawa

Mahabharata 26 – Penderitaan adalah Karunia Dharma


Balarama

Balarama dan Krishna mengunjungi tempat pengasingan Pandawa di hutan rimba. Melihat penderitaan Rajadiraja Yudhistira dan saudara-saudaranya, Balarama berkata kepada Krishna,

“Wahai Krishna, agaknya kebajikan dan kejahatan membuahkan hasil berlawanan dalam hidup ini. Sebab, Duryodhana yang jahat dan durhaka kini memerintah kerajaan dan selalu mengenakan pakaian kebesaran bersulam emas; sementara Yudhistira yang suci dan bijaksana mengembara di tengah hutan, mengenakan pakaian dari kulit kayu. Melihat lenyapnya kekayaan dan kemakmuran seorang suci dan berbudi luhur bisa membuat manusia kehilangan kepercayaan kepada Dewata. Pujaan-pujaan di hadapan kita berasal dari kejahatan dan kebajikan di dunia.

“Bagaimana kelak Dritarastra mempertanggungjawabkan perbuatannya dan bagaimana ia bisa membela diri waktu berhadapan dengan Dewa Kematian ? Padahal, seluruh lembah, gunung dan bumi menangis menyaksikan nasib Pandawa yang tidak berdosa, sementara Draupadi, dengan karunia Dewa Agni, sang Dewa Api, ditakdirkan untuk hidup terlunta-lunta di dalam hutan !”

Satyaki yang ada di situ berkata,

“Wahai Balarama, kini bukan saatnya untuk bersedih hati. Apa kita harus menunggu sampai Yudhistira meminta kita untuk membantu Pandawa ? Semasa engkau, Krishna dan para kerabat lain, masih menikmati kejayaan seperti sekarang, kenapa kita biarkan Pandawa hidup tersia-sia di hutan ? Mari kita kerahkan prajurit kita dan kita gempur Duryodhana. Dengan bantuan balatentara Wrisni, kita pasti bisa menghancurkan Kaurawa. Kalau tidak, apa gunanya ada tentara? Krishna dan engkau pasti bisa melakukan ini dengan mudah. Aku ingin sekali melumpuhkan senjata Karna dan memancung lehernya. Mari kita hancurkan Duryodhana dan sekutu-sekutunya.

“Jika Pandawa ingin memegang teguh janji mereka, kita serahkan kerajaan kepada Abhimanyu dan mereka boleh tinggal dalam hutan. Hal itu baik bagi mereka dan pantas bagi kita sebagai kaum kesatria.”

Dengan saksama Krishna mendengarkan kata-kata Satyaki. Kemudian ia berkata, “Apa yang kaukatakan itu benar. Tetapi Pandawa takkan sudi menerima uluran tangan orang lain. Mereka lebih suka berusaha sendiri. Draupadi, yang terlahir berdarah pahlawan, pasti tak mau mendengarkan ini. Yudhistira pasti takkan mau meninggalkan jalan kebenaran hanya demi rasa cinta atau takut. Setelah masa pengasingan yang ditetapkan habis, para raja dari Panchala, Kekaya, Chedi dan kita semua bisa menyatukan semua bala tentara kita untuk membantu Pandawa menaklukkan musuh.”

Mendengar kata-kata Krishna, Yudhistira tersenyum tanda mengerti lalu berkata, Continue reading Mahabharata 26 – Penderitaan adalah Karunia Dharma

Mahabharata 24 : Sumpah Setia Krishna


Exile_of_Pandavasa

Salwa sangat marah ketika mendengar berita terbunuhnya Sisupala oleh Krishna pada waktu upacara besar rajasuya yang diadakan Yudhistira di Indraprastha. Salwa, sahabat Sisupala, tahu benar bahwa Krishna dan Sisupala memang bermusuhan walaupun mereka saudara sepupu karena Basudewa, ayah Krishna, kakak-beradik dengan Srutadewi, ibu Sisupala. Pangkal permusuhan itu adalah Dewi Rukmini, kekasih Sisupala yang dilarikan dan diperistri oleh Krishna.

Sebagai teman sejati yang ingin membalas dendam atas kematian Sisupala, Salwa dan pasukannya menyerang Dwaraka, ibukota kerajaan Krishna. Ketika itu Krishna masih berada di Indraprastha dan semua urusan sehari-hari kerajaan dilaksanakan oleh Ugrasena. Walaupun sudah lanjut usia, dengan sekuat tenaga Ugrasena mempertahankan ibukota Dwaraka dari serangan Salwa.

Ibukota Dwaraka dikelilingi benteng yang sangat kuat dan didirikan di sebuah pulau yang dilengkapi persenjataan luar biasa. Di dalam benteng didirikan kemah-kemah untuk menyimpan persenjataan dan persediaan makanan dalam jumlah sangat besar. Balatentara Dwaraka yang sangat banyak jumlahnya dipimpin oleh perwira-perwira yang cakap. Ugrasena mengumumkan keadaan perang. Pada malam hari rakyat dianjurkan untuk tidak pergi ke tempat-tempat hiburan. Semua jembatan dan pantai dijaga ketat. Kapal-kapal dilarang berlabuh. Semua jalan keluar masuk ibukota dipasangi rintangan berupa batang-batang pohon berduri. Penjagaan diperketat. Setiap orang yang keluar atau masuk ibukota diperiksa, tanpa kecuali. Singkatnya, segala sesuatu diterapkan dengan keras dan tegas agar ibukota bisa dipertahankan. Balatentara Dwaraka diperbanyak dengan memanggil pemuda-pemuda yang sudah teruji kebugaran dan ketangkasannya berolah senjata.

Tetapi… pertahanan sekokoh itu tak mampu menahan serangan balatentara Salwa yang perkasa dan bersenjata lengkap. Serangan mereka begitu hebat sehingga ibukota Dwaraka rusak berat. Ketika kembali, Krishna sangat kaget dan marah melihat ibukota Dwaraka telah dihancurkan balatentara Salwa. Ia lalu mengerahkan kekuatan yang ada untuk membalas serangan Salwa.

Setelah bertempur dengan sengit, balatentara Dwaraka berhasil mengalahkan balatentara Salwa. Ketika itulah Krishna mendengar berita tentang kekalahan Pandawa dalam permainan dadu di Hastinapura. Segera ia bersiap untuk menemui Pandawa di hutan tempat pengasingan mereka. Banyak yang ikut bersamanya, antara lain orang-orang terkemuka dari Bhoja, Wrishni dan Kekaya, dan Raja Dristaketu dari Kerajaan Chedi. Dristaketu adalah anak Sisupala, tetapi ia sangat kecewa mendengar tentang kebusukan hati Duryodhana. Ia meramalkan bahwa bumi ini akan menghisap darah manusia-manusia jahat seperti putra Dritarastra itu. Continue reading Mahabharata 24 : Sumpah Setia Krishna

Mahabharata 20 : Krishna Menerima Penghormatan Tertinggi


Krishna_as_Envoy

Setelah Jarasandha mati, Pandawa mengundang raja-raja untuk bermusyawarah dan menyaksikan upacara rajasuya yang sudah ditradisikan sejak jaman dahulu dan sesuai dengan ajaran agama. Upacara dilaksanakan untuk memberikan gelar Maharajadiraja kepada raja yang dianggap pantas menyandangnya. Sesuai tradisi, dalam upacara itu penghormatan utama harus diberikan kepada tamu yang dianggap paling layak menerimanya, diikuti tamu-tamu lainnya, sesuai keagungan, kekuasaan, kebijaksanaan dan kebajikan masing-masing.

Sebelum upacara dimulai, Pandawa, para penasihat Pandawa, dan semua raja yang diundang bermusyawarah untuk menentukan siapa yang pantas mendapat penghormatan tertinggi sebagai tamu utama dan bagaimana urutan penghormatan itu akan diberikan kepada tamu-tamu lainnya. Penentuan itu menimbulkan perbedaan pendapat dan perdebatan sengit. Setelah lama berdebat, Bhisma, kesatria tua dan penasihat Pandawa yang sangat disegani, berkata bahwa menurutnya Krishnalah yang paling pantas mendapat penghormatan utama. Yudhistira sependapat dengannya. Ia menyuruh Sahadewa menyiapkan segala keperluan upacara dengan penghormatan utama untuk Krishna.

Tiba-tiba Sisupala, Raja Chedi, yang sangat membenci Krishna bangkit dari tempat duduknya lalu berkata lantang sambil tertawa lebar, “Sungguh tidak adil. Tetapi aku tidak heran. Orang yang mengharapkan nasihat dari orang lain pasti berasal dari kelahiran tidak sah.”

 Ia berkata demikian sambil menoleh ke arah Pandawa dengan acuh tak acuh.

Kemudian ia melanjutkan, “Demikian pula orang yang memberi nasihat. Meski ia berasal dari keturunan yang tinggi derajatnya, kemuliaannya semakin lama semakin merosot, begitu pula kebijaksanaannya.”

 Dengan pandang menghina ia menoleh ke arah Bhisma, putra Dewi Gangga.

Belum puas menghina Pandawa dan Bhisma, Sisupala melanjutkan, “Dengar kalian semua! Orang yang diberi kehormatan utama ini sesungguhnya berasal dari keluarga gila dan dibesarkan sebagai pengecut! Apakah ia pantas menerima kehormatan utama?!”

Hadirin diam, tertegun. Tak ada yang menjawab.

Sisupala semakin lantang berteriak, “He, kalian semua! Apakah kalian bisu? Tak beranikah kalian menyatakan pikiran sendiri? Pantas saja. Keputusan itu tidak sah karena diambil oleh orang-orang yang tidak terhormat.” Continue reading Mahabharata 20 : Krishna Menerima Penghormatan Tertinggi

Mahabharata 18 : Indraprasta


drona

Ketika berita tentang kejadian di Kerajaan Panchala sampai ke Hastinapura, Widura merasa gembira. Ia segera menemui Dritarastra dan berkata, “Tuanku Raja, keluarga kita akan bertambah kuat sebab putri Raja Drupada telah menjadi menantu kita. Sungguh kita ini dinaungi bintang keberuntungan.”

Dritarastra yang merasa amat gembira mengira bahwa Widura mengabarkan kemenangan Duryodhana dalam sayembara itu dan keberhasilannya menyunting Draupadi. Karena itu ia berkata, “Sungguh benar apa yang kaukatakan. Saat ini adalah saat yang baik bagi kita. Pergilah segera dan bawa Draupadi kemari. Kita akan mengadakan upacara penyambutan yang megah untuk putri Kerajaan Panchala itu.”

Widura sadar, Dritarastra keliru mengartikan kata-katanya. Segera ia berkata, “Paduka Raja, sesungguhnya Pandawa yang mendapat perlindungan Yang Maha Kuasa masih hidup. Arjunalah yang memenangkan sayembara itu dan berhak menyunting Draupadi. Kelima Pandawa menyunting putri itu bersama-sama dan perkawinan mereka telah dianggap sah karena sesuai dengan yang tertulis dalam kitab-kitab Sastra. Bersama ibu mereka, kini mereka hidup bahagia di bawah lindungan Raja Drupada.”

Dritarastra sangat kecewa mendengar penjelasan Widura. Kebencian menggelegak di dalam hatinya, tetapi ia berusaha menutupinya. Katanya,

“Wahai Widura, aku senang mendengar ceritamu. Jadi, Pandawa sebetulnya masih hidup? Padahal kita telah mengadakan upacara berkabung untuk mereka. Berita yang engkau sampaikan ibarat air yang menyejukkan hatiku. Jadi, putri Raja Drupada sekarang menjadi menantu kita? Syukur, syukur.”

Sementara itu, Duryodhana pulang dari Panchala dengan hati penuh dengki. Lebih-lebih setelah ia mendengar dari ayahnya bahwa sebenarnya Pandawa masih hidup. Rupanya mereka lolos dari kebakaran yang memusnahkan istana kayu di Waranawata dan sejak itu hidup menyamar sebagai brahmana. Kini mereka semakin kuat karena berada dalam lindungan Raja Drupada.

Duryodhana mengajak Duhsasana, adiknya, untuk menemui Sakuni. Dengan hati penuh dendam ia berkata kepada pamannya itu, “Paman, aku merasa sangat dipermalukan. Aku sungguh kecewa karena mempercayakan pelaksanaan rencana kita kepada Purochana. Pandawa, musuh kita, lebih cerdik dan rupa-rupanya nasib baik memihak mereka. Kini Dristadyumna dan Srikandi juga menjadi sekutu mereka. Apa yang dapat kita lakukan?” Continue reading Mahabharata 18 : Indraprasta

Mahabharata 16 : Kematian Bakasura


bima-bothok

Dengan menyamar sebagai brahmana, Pandawa tinggal di Ekacakra. Mereka menyambung hidup dengan meminta-minta di jalan-jalan yang telah ditetapkan untuk para brahmana. Setelah seharian meminta-minta, mereka pulang sambil membawa makanan pemberian untuk ibu mereka. Jika mereka terlambat pulang, Dewi Kunti menjadi cemas, takut kalau-kalau malapetaka menimpa mereka.

Semua makanan yang diperoleh dari hasil meminta-minta oleh Dewi Kunti dibagi dua, satu bagian untuk Bhima dan satu bagian lainnya dibagi berlima di antara keempat Pandawa lainnya dan sang ibu. Bhima, putra Dewa Bayu atau Dewa Angin, mempunyai nafsu makan yang sangat besar, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi, gagah dan perkasa. Itu sebabnya kecuali disebut Bhimasena, ia juga dijuluki Wrikodara, artinya “perut serigala”. Maksudnya, berapa pun banyaknya makanan yang dimakannya, perutnya selalu merasa lapar. Karena makanan yang mereka peroleh tak pernah cukup, badan Bhima menjadi kurus. Melihat itu, ibu dan saudara-saudaranya menjadi cemas.

Suatu hari Bhima berkenalan dengan seorang pembuat kendi. Bhima menyukai orang itu dan suka menolongnya menggali dan mengangkut tanah liat. Sebagai ungkapan terima kasih, tukang kendi itu memberinya sebuah periuk besar untuk meminta-minta. Gara-gara periuk itu, Bhima menjadi sasaran ejekan dan cemoohan orang-orang.

Pada suatu hari, ketika saudara-saudaranya pergi meminta-minta, Bhimasena tinggal di rumah bersama ibunya. Tiba-tiba mereka mendengar tangis pilu dari kamar pemilik rumah. Sesuatu yang menyedihkan telah menimpa keluarga itu, pikir Dewi Kunti. Ia lalu memberanikan diri menyelinap masuk, ingin mengetahui apa yang terjadi dan jika perlu memberikan pertolongan. Di dalam ia melihat brahmana pemilik rumah itu sedang berbicara dengan istrinya.

Brahmana itu berkata kepada istrinya, “Wahai perempuan malang dan dungu, sudah berulang kali kukatakan bahwa kita harus pergi dari kota ini selama-lamanya. Tetapi engkau tidak setuju. Engkau selalu berkata bahwa engkau lahir dan dibesarkan di sini. Di sini pula orangtuamu hidup dan mati, dan di sini pula engkau ingin tinggal. Aku tak sanggup berpisah darimu, wahai istriku, teman hidupku dan ibu anak-anakku tercinta. Kau segalanya bagiku Aku tak mungkin membiarkan engkau pergi menjemput maut, sementara aku hidup sendirian di sini.

“Wahai, istriku, lihatlah anak perempuan kita. Pada waktunya dia akan kita serahkan kepada lelaki yang pantas menerimanya. Jangan jadikan dia sebagai korban, karena dia adalah pemberian Hyang Widhi untuk melanjutkan keturunan kita. Kita juga tak mungkin mengorbankan anak laki-laki kita. Bagaimana kita bisa hidup setelah mengorbankan anak-anak kita? Siapa yang kelak akan melakukan upacara kematian bagi kita dan melanjutkan keturunan kita? Continue reading Mahabharata 16 : Kematian Bakasura

Mahabharata 14 : Istana Kayu


Shakuni

Seiring dengan bertambahnya usia dan semakin dalamnya ilmu olah senjata serta siasat perang yang dipelajari oleh Kaurawa dan Pandawa, Duryodhana semakin iri melihat keperkasaan Bhima dan kesaktian Arjuna dalam segala hal. Duryodhana kemudian mengangkat Karna dan Sakuni sebagai penasihatnya dan menugaskan mereka untuk merencanakan siasat-siasat licik untuk mengalahkan Pandawa.

Dritarastra, ayah Kaurawa, sebenarnya bijaksana dan sangat mencintai Pandawa, putra-putra adiknya. Sayangnya, ia berwatak lemah. Dalam menentukan segala sesuatu, ia terlalu memihak putra-putranya sendiri. Semua keinginan putra-putranya, terutama keinginan Duryodhana, selalu dikabulkannya. Tidak jarang, dengan sadar ia menuruti mereka meskipun tahu bahwa mereka salah.

Bagi Duryodhana, yang lebih menyakitkan hati adalah kenyataan bahwa rakyat Hastina, terutama yang tinggal di ibukota Hastinapura, selalu memuji-muji Pandawa secara terang-terangan. Mereka senantiasa menyerukan bahwa Yudhistiralah yang paling tepat dinobatkan sebagai raja, menggantikan Dritarastra. Rakyat bergerombol di jalan-jalan, memperdebatkan siapa yang paling pantas menjadi raja mereka. Sering terdengar percakapan seperti ini.

“Dritarastra tidak pantas menjadi raja karena ia buta. Ia tidak mampu memerintah kerajaan dengan baik karena kekurangannya itu. Bhisma juga tidak mungkin menjadi  raja, karena ia telah bersumpah akan mengabdikan seluruh hidupnya pada kebenaran, keadilan dan kesucian. Kecuali itu, ia memang tidak ingin menjadi raja dan sudah bersumpah takkan pernah menikah. Karena itu, Yudhistiralah yang paling pantas dinobatkan menjadi raja. Hanya dialah yang akan dapat memerintah wangsa Kuru dan kerajaan ini dengan adil.” Continue reading Mahabharata 14 : Istana Kayu

Mahabharata 10 : Kematian Pandu


Back-To-Godhead-The-Pandavas

Pada suatu hari Raja Pandu pergi berburu di hutan. Di dalam hutan itu ada seorang resi yang sedang asyik bercengkerama dengan istrinya dan menyamar sebagai sepasang kijang. Pandu yang melihat sepasang kijang itu tidak menyangka bahwa mereka adalah jelmaan seorang resi dan istrinya. Dia mengangkat panahnya, membidik mereka. Dan… meluncurlah anak panah dari tangan Pandu, melesat cepat, tepat menancap pada tubuh si kijang jantan.

Kijang itu jatuh terguling. Luka berdarah-darah. Dalam keadaan sekarat, kijang jantan itu berubah menjadi resi dan mengucapkan kutuk-pastu terhadap Pandu, “Hai, lelaki penuh dosa, rasakan kutukanku. Engkau akan menemui ajalmu sesaat setelah engkau menikmati olah asmara dengan istrimu.”

Setelah melontarkan kutukannya, resi itu menghembuskan napas yang penghabisan.

Pandu sungguh kaget mendengar kutukan sang resi. Dengan perasaan putus asa ia memikirkan akibat kutukan itu. Akhirnya ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari kerajaan dan menyerahkan semua urusan kerajaan kepada Bhisma dan Widura. Pandu memutuskan untuk hidup mengembara di hutan bersama kedua istrinya untuk menyucikan diri dengan bersamadi dan bertapa.

Dewi Kunti sedih melihat suaminya terkena kutuk pastu. Ia tahu, sebenarnya suaminya ingin sekali mempunyai keturunan tetapi tak kuasa mewujudkannya karena kutukan itu. Sebagai istri yang mencintai dan setia kepada suaminya, ia merasa wajib menolong Pandu. Karena itu ia menceritakan rahasia mantra gaib yang diterimanya dari Resi Durwasa.

Pandu mendesak kedua istrinya untuk menggunakan mantra itu guna memanggil dewa-dewa dari kahyangan. Dewi Kunti dan Dewi Madri menyanggupi permintaan suami mereka. Bersama-sama mereka mengucapkan mantra itu dan memohon agar mereka dikaruniai anak.

Demikianlah yang terjadi. Kedua istri Pandu mengucapkan mantra dan permohonan mereka dikabulkan. Lima dewa turun dari kahyangan menemui kedua wanita itu. Kemudian, dengan cara gaib Dewi Kunti melahirkan tiga putra dan Dewi Madri melahirkan putra kembar. Kelima putra itu dibesarkan di tengah hutan dalam asuhan orangtua mereka, dibantu para resi dan para pertapa di hutan itu.

Putra Dewi Kunti yang tertua diberi nama Yudhistira, artinya ‘yang teguh hati dan teguh iman di medan perang’. Putra ini lahir sebagai titisan Batara Dharma, Dewa Keadilan dan Kematian, dan disegani karena keteguhan hatinya, rasa keadilannya, dan keluhuran wibawanya. Putra kedua diberi nama Bhima atau Bhimasena, terlahir dari Batara Bayu, Dewa Angin. Bhimasena disegani sebagai penjelmaan wujud kekuatan yang luar biasa pada manusia. Ia dilukiskan sebagai orang yang pemberani dan berperilaku kasar, tetapi berhati lurus dan jujur. Putra ketiga diberi nama Arjuna, terlahir dari Batara Indra, Dewa Guruh dan Halilintar. Arjuna, yang berarti ‘cemerlang, putih bersih bagaikan perak’ disegani sebagai penjelmaan sifat-sifat pemberani, budi yang luhur, dermawan, lembut hati dan berwatak kesatria dalam membela kebenaran dan kehormatan. Putra kembar Dewi Madri diberi nama Nakula dan Sahadewa dan terlahir dari Dewa Aswin yang kembar, putra Batara Surya, Dewa Matahari. Putra kembar itu melambangkan keberanian, semangat, kepatuhan, dan persahabatan yang kekal.

Kehidupan di alam bebas di dalam hutan itu memberi pengaruh sangat besar dan mendalam bagi pertumbuhan jiwa dan raga putra-putra Pandu yang disebut Pandawa. Kelak, setelah mereka dewasa, kelima putra itu akan memegang peranan penting dalam sejarah dan membuat seisi dunia kagum.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Kehidupan di dalam hutan sangat tenang. Pohon-pohonan dan bermacam-macam binatang hidup damai bersama manusia yang menghuni hutan itu. Mereka bagaikan satu keluarga besar yang hidup selaras dengan alam. Memang demikianlah seharusnya, karena Yang Maha Kuasa telah menciptakan alam semesta seisinya dengan tatanan yang adil bagi setiap makhluk ciptaanNya.

Pada suatu pagi di musim semi yang indah, Pandu dan Dewi Madri duduk termangu memikirkan kutukan yang membuat mereka sengsara. Mereka sedih merasakan gairah asmara yang terpendam dan tak mungkin tersalurkan, padahal alam di sekitar mereka sedang mengenakan busananya yang terindah. Bunga-bunga bermekaran menaburkan keharuman yang semerbak, burung-burung berkicau riang dan aneka margasatwa bercengkerama memuaskan nafsu berahi dalam udara musim semi yang segar.

Pandu memandang sekelilingnya, kemudian menatap Dewi Madri yang jelita. Terpengaruh oleh keindahan alam dan suasana musim semi yang penuh gairah, ia lupa diri. Dengan penuh gairah ia memeluk Dewi Madri dan mencumbunya. Dewi Madri berusaha menolaknya, tapi tak kuasa. Mereka segera tenggelam dalam olah asmara yang menggebu-gebu.

Tetapi… tiba-tiba Pandu roboh dan seketika itu juga menghembuskan napas yang penghabisan. Kutuk-pastu, yang dilontarkan resi yang menjelma dalam rupa kijang yang mati dipanah oleh Pandu, menunjukkan kesaktiannya.

Dewi Madri sangat sedih, lebih-lebih karena ia merasa berdosa dan bertanggung jawab atas kematian Pandu. Ia segera menghadap Dewi Kunti, memohon agar wanita itu bersedia mengasuh anak-anaknya sebab ia akan menyusul suaminya dengan melakukan satya. Tak ada yang dapat mencegahnya. Dewi Madri melakukan satya dengan menerjunkan diri ke dalam api pembakar jenazah suaminya.

Para resi dan para pertapa yang iba melihat Dewi Kunti dan anak-anaknya kemudian mengantarkan mereka ke Hastinapura. Ketika itu Yudhistira, sulung di antara para Pandawa, baru berusia belasan tahun. Sampai di Hastinapura, rombongan itu menghadap Bhisma. Para resi dan pertapa itu mengabarkan mangkatnya Raja Pandu dan menyerahkan Dewi Kunti dan kelima putra Raja Pandu ke dalam asuhan Bhisma. Mendengar kabar itu, seisi kerajaan berkabung. Widura, Bhisma, Wyasa, dan Dritarastra kemudian melaksanakan upacara persembahyangan untuk mendoakan arwah Raja Pandu yang manunggal paratman kekal abadi.

Bagawan Wyasa berkata kepada Satyawati, nenek Raja Pandu, “Masa lampau telah berlalu bersama suka dukanya, tetapi masa depan akan datang membawa kedukaan yang lebih menyakitkan. Dunia ini telah memikul kegairahan orang muda yang terbuai mimpi-mimpi. Sekarang dunia akan memasuki jaman yang penuh dosa, kepahitan, kesedihan, dan penderitaan. Tak ada yang bisa menghindarinya. Waktu terus berjalan, menyusuri garis takdirnya. Engkau tak usah menunggu untuk menyaksikan semua malapetaka yang akan menimpa anak keturunanmu. Akan lebih baik bagimu jika kau meninggalkan Hastinapura dan melewatkan hari-harimu dengan bersamadi dan bertapa di dalam hutan.”

Satyawati menerima nasihat Bagawan Wyasa. Bersama Ratu Ambika dan Ratu Ambalika, ia pergi ke hutan. Ketiga ratu yang telah lanjut usia itu melewatkan hari-hari mereka dengan bersamadi dan menyucikan diri serta berdoa agar anak keturunan mereka terhindar dari malapetaka. Itulah yang mereka lakukan, hari demi hari, bulan demi bulan, sampai mereka mencapai moksha.