Tag Archives: mandraka

Mendung diatas Mandaraka [7]


Berganti Cerah, udara Mandaraka.

Oleh MasPatikrajaDewaku (PPW 11-01-0006)

Dialah Wasi Jaladara, nama lain dari Raden Kakrasana, putra sulung dari Prabu Basudewa, raja di Negara Mandura. Pemuda berbadan sentosa dan berkulit bule ini baru saja ia pulang dari bertapa di Argaliman, memenuhi kehendak hati yang didorong oleh sifat satria pinandita dan juga direstui oleh kebijaksanaan ayahndanya di Mandura.

Kaget mendengar teriakan Larasati yang terburu-buru masuk ke dalam ruang tengah, Jaladara segera menyongsong kedatangan Larasati dengan menghujani pertanyaan seputar ketergesaannya menemui dirinya.

“Ada apa teriak teriak menggangguku, ada apa dengan adikku Rara Ireng?” Kata Jaladara menanyakan kepada Larasati perihal teriakannya, yang menyebut nama Bratajaya. Memang, Lara Ireng adalah panggilan sayang sang kakak, Jaladara, kepada adik bungsunya, Bratajaya atau Sumbadra.

Ketika Jaladara keluar, segera Bratajaya berbalik menubruk kakaknya, mengadukan perihal apa yang terjadi, “Aku dikejar kejar lelaki, kakang!”

“Keparat . . . Sudah bosen hidup rupanya orang itu. Menyingkirlah aku akan hadapi.  Kakrasana segera menyisihkan adiknya dan menghadapi orang yang disebut mengganggunya.

Tapi setelah berhadapan, kemarahan Kakrasana menjadi buyar berganti dengan rasa heran. Pamadi-lah yang tampak dengan senjata terhunus.  “Heh kamu Pamadi. Aneh kalau kamu tidak kenal saudara tuamu Bratajaya. Kamu kesini mau apa?

Pamadi yang juga kaget oleh adanya Kakrasana yang dikenalnya adalah Putra Mahkota Mandura terdiam. Keheranan juga muncul oleh peristiwa yang dianggapnya aneh, hingga mempertemukan kerabat Mandura ada di sebuah kademangan kecil, Widarakandang.

Tak lama kemudian, Pamadi menceritakan apa yang telah terjadi hingga ia marah dan mendapatkan orang yang memberinya makanan yang sudah tidak layak makan.

“Benar apa yang Pamadi katakan, Rara Ireng?”

“Kakang, tanyakan ke Larasati, nasi dan lauknya itu tadinya ada di tempat sanggar sesuci Kakang Kakrasana. Semua makanan yang ada disitu semuanya enak dan pantas dimakan orang”. Bratajaya mendesak kakanya untuk menanyakan kebenaran cerita itu kepada Larasati.

Larasatipun berkata dengan sejujurnya mengenai keadaan makanan yang diberikan kepada Semar Badranaya.

“Lho, semua yang dikatakan Bratajaya makanan itu, semuanya enak. Bagaimana ini bisa terjadi?” Tanya Kakrasana.

“Aku tidak merasa memberikan makanan bercampur pasir!!. Jawab Bratajaya yang dari tadi menggelendot ditubuh kakaknya, Jaladara.

Suasana sebentar menjadi hening, karena teka teki seputar makanan yang menyebabkan Pamadi menjadi marah. Semar yang dari tadi diam, kemudian maju menjelaskan sebenarnya yang sudah terjadi, “Ya, kalau ada yang salah, saya minta maaf. Sayalah yang mencampurnya dengan pasir. Sebenarnya makanan yang berasal dari Putri Bratajaya dalam keadaan baik. Tetapi sengaja aku campur dengan pasir. Saya Cuma menyesalkan, momonganku ini tidak meniru leluhurnya dulu, Bambang Sakri, Bambang Sekutrem, Palasara hingga Panembahan Abiyasa dan kemudian Pandu Dewanata, yang bisa sebegitu lama tidak makan dan tidak kehausan walau tidak minum seteguk airpun. Tapi ini, tidak makan tiga hari kok pingsan? Bila satria yang mempunyai cita-cita, kemudian berhenti hanya karena lapar,  lha apa gunanya tapa bertahun tahun. Bila itu yang terjadi, akhirnya semuanya yang telah didapat menjadi tawar, tidak berguna”.

Pamadi merasa terpukul oleh kata-kata pemomongnya. Dipegangnya pundak Semar dan kemudian berkata dengan nada menyesal, “Kakang, semua kesalahku aku minta maaf. Kalau tidak ada kamu, entah apa yang akan terjadi terhadap aku”

Semar terdiam sejenak, kemudian sambil memandang momongannya ia berkata, “Ya sudahlah, kalau sudah merasa akan kesalahan yang sampeyan buat. Saya hanyalah menjalankan darma sebagai pemomong yang tidak sekedar momong. Harus bisa menjadi orang tua, juga harus bisa menjadi pembantu. Dan juga harus menjadi penuntun langkah. Tadi itu sampeyan telah salah dalam langkah”.

Kakrasana yang dari tadi menjadi tidak mengerti awal mulanya memandang Pamadi dengan air muka yang mengandung pertanyaan. Pamadi yang dipandanginya mengerti akan kehendak tanya yang ada di mata Kakrasana, kemudian kata Pamadi, “Baiklah kakang Kakrasana, semua kejadian tadi, sebenarnya bermula dari putus asanya pikiran ini. Oleh sebab hamba sudah menjawab kesediaan hamba kepada uwa Prabu Salya, untuk mencari hilangnya putri Erawati. Sudah sebulan lamanya hamba mencari keberadaan kanda Erawati yang hilang diculik, tetapi sampai saat ini belum terlihat tanda tanda akan keberadaannya”.

Seperti melihat kilatan ndaru kebahagiaan, Kakrasana menjadi terang pikirannya. Kepekaan hati dan pikirannya yang begitu terasah oleh olah kapanditan yang baru saja dijalaninya, telah menuntunnya kearah takdir yang akan dihadapinya dimasa mendatang. Tetapi rasa kemanusiaannya menjadikannya masih menanyakan kembali apa yang didengar adik misannya, “Nanti dulu, tadi kamu bilang mau kemana?”

“Hamba bermaksud mencari dimana hilangnya bunga kedaton Mandaraka, kanda Erawati, yang sudah sebulan ini hilang dari tempatnya”.

“Terus bagaimana kata raja Mandaraka?” Pertanyaan Kakrasana makin memburu.

“Siapa yang dapat menemukan kanda Erawati, bila ia perempuan, akan dianggap sebagai saudara sekandung. Bila yang menemukan adalah seorang pria, ia akan dikawinkan dengan kanda Erawati”.

“Umpanya, aku yang menemukan, bagaimana?!” Jaladara semakin penasaran. Nalurinya yang tajam telah meyakininya apa yang akan terjadi hubungannya dengan Putri Mandaraka yang hilang  itu.

“Terserah kanda Kakrasana saja.”  Kata Pamadi dengan senyum.

Kembali kepekaan seorang wasi menjadikan Jaladara melakukan tidakan yang tidak tergesa gesa. Rancangan telah diatur didalam benaknya agar nanti peristiwa yang berakhir menjadi akhir yang bahagia. Maka kemudian kata Kakrasana, “Tapi kamu jangan bilang kepada Prabu Salya, kalau aku ini Pangeran Pati dari Mandura. Bilang saja aku pendeta muda dari Argaliman, sebut namaku Wasi Jaladara”.

Pamadi mengangguk setuju. Daripada tidak menemukan Erawati sama sekali, maka saudara misannyapun dapat menyingkirkan rasa malu atas kesanggupan yang telah ia katakan kepada orang tua Banuwati. Demikianlah maka kedua satria itu kemudian berangkat ke Mandaraka untuk meminta ijin mencari hilangnya putri sekar kedaton.

—————

Wajah gembira memancar dari Prabu Salya yang telah kembali menerima kedatangan kemenakan yang ia sayangi. Tidak sabar Prabu Salya segera menanyakan ihwal kedatangannya kembali, “Pamade, bagaimana kabar dari kamu yang dulu sudah mempunyai kesanggupan untuk mencari hilangnya kakakmu Erawati?”

“Mohon maaf uwa Prabu, walau sudah hamba umpamakan seputaran wilayah Mandaraka sudah dijajaki, tetapi jejak kanda Herawati bagaikan tersaput kabut, dan hamba gagal mencarinya. Tetapi tanpa disangka hamba bertemu dengan seorang pendeta muda yang tengah bersemedi di Argaliman, beliaulah yang sanggup mengembalikan kanda Erawati”.

Kegembiraan Prabu Salya berganti sedikit kecewa. Terlihat mendung kembali meliputi air muka Prabu Salya. Harapan kelewat besar yang ia letakkan di pundak Pamadi telah runtuh oleh kata kata kepasrahan Pamadi.

Dengan sedikit acuh, Prabu Salya menanyakan siapa yang disebut oleh kemenakannya itu, “Ooh inikah orangnya? Siapakah kamu?”

“Hamba yang bernama Jaladara, asal hamba dari Pertapan Argaliman”. Jawab Jaladara yang berkata khidmat.

“Apakah kamu yang sanggup mengembalikan putriku Erawati?”.

“Hamba Paduka. Tidak hanya sanggup mengembalikan putri paduka saja, bahkan hamba juga sanggup meringkus penculiknya”.

Merah muka Prabu Salya oleh kata kata Jaladara yang menggambarkan kesombongannya. “Heh Jaladara, kenapa kamu bisa mengatakan begitu? Apakah kamu sudah mendapatkan titik terang siapa penculiknya dan dimana putriku disembunyikan?”

Tidak usahlah hamba pergi dari Mandaraka. Nanti malam, semua penjaga malam sebaiknya diliburkan. Hamba sanggup untuk meringkus penculik itu malam nanti. Nanti tengah malam maling itu akan kembali ke Mandaraka”. Dengan sengaja Jaladara memperlihatkan kesanggupannya yang sedemikian tinggi.

Jaladara. . . ! Perkataanmu itu sebenarnya sudah kelewat takabur!” Prabu Salya bangkit karena sikap sombong Jaladara dan enggan meneruskan pembicaraan dengan Jaladara. Ia mengalihkan  pandangannya kepada putranya, Rukmarata dengan ekor matanya. Rukmarata segera mengetahui kehendak ayahndanya yang berjalan masuk ke dalam istanannya, meninggalkan Pamadi, Kakrasana dan Rukmarata.

Rukmarata yang mengerti apa yang harus dilakukan, menatap tajam mata Jaladara sembari berkata, “Jaladara . . .  lancang ucapanmu. Bila nanti tidak terbukti, besok waktu matahari terbit kepalamu akan aku pisahkan dari lehermu!”

Tidak lagi banyak berkata, Jaladara segera beranjak dari paseban dengan menggandeng Pamadi. Setelah sampai diluar, Pamadi yang dari tadi tidak tahan mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Jaladara, segera memburu dengan pertanyaan, “Kalau nanti malam kanda Kakrasana tidak bisa membuktikan kata-kata itu, betapa hamba akan mendapat marah dan malu, kanda”.

“Sudahlah, tidak namanya aku mendahului kemauan yang kuasa. Tetapi catat, bahwa aku rela kehilangan kepalaku bila ucapanku tidak terbukti. Tetapi menjelang tengah malam ini aku mau istirahat dulu. Carikan aku pinjaman tikar untuk sekedar beristirahat”. Santai Jaladara malah rebahan bersandar pada sebatang pohon beringin.

“Lho ini mau kerja apa mau istirahat?” Petruk yang tadi menyongsong kedatangan momongan dan saudara misannya menanya

“Namanya kerja ya harus pakai istirahat. Kalau kerja tanpa Istirahat itu tidak akan bertambah kekuatannya. Istirahat perlu untuk mendapat kekuatan baru”. Bagong menyahut membela Kakrasana.

“Mohon maaf kanda, hamba orang baru disini. Hamba berlum mempunyai kenalan.”

Jaladara yang ternyata mempunyai mata batin yang begitu tajam tersenyum. Kemudian katanya, “Kamu boleh ingkar, Pamade. Tapi aku ini apamu? Aku ini saudaramu tua, semua yang ada di dalam dirimu, sudah aku ketahui”.

“Mohon maaf kanda, hamba belum punya kenalan”, sekali lagi Pamadi yang belum yakin akan kemampuan mata batin Kakrasana kembali berbohong.

Tetapi bagai tersengat kala, Pamadi terkesiap, ketika Kakrasana kemudian bertanya, “Bagaimana? Lha Banowati itu siapa?”

Pamadi yang terkaget mendengar kata Kakrasana yang tajam memalu dadanya. Tanpa berkata Pamade  berlalu dengan cepat dari hadapan Jaladara dengan muka yang memerah, sementara para panakawan mentertawakan momongannya salah tingkah. Kemana Pamadi? Kembali ia berjalan ke keputren menemui Banowati.

Tengah malam. Kedua satria ini sudah ada ditempatnya masing masing. Arjuna muda tidak terceritakan ada dimana dia ;), sedangkan Jaladara bersembunyi menunggu pencuri dengan mata awas terbuka.

Benarlah. Tengah malam telah menjelang, ketika putra raja Tirtakadasar, Raden Kartapiyoga telah sampai di dalam beteng. Ketika ia masih melihat banyak jaga malam yang berseliweran, dalam hati ia berkata, “Hmm, masih ramai keadaan dalam petamanan. Tapi aku tidak kurang akal, aku akan menyirep semua orang yang ada dalam taman sari”.

Sebentar kemudian, niat itu telah ia ujudkan dengan mengucapkan mantra sirep Begananda. Sirep sakti yang mengalirkan udara sejuk yang mampu membelai sukma hingga mata menjadi terpejam, tidur nyenyak.

//Niat ingsun anyirepi/Hong ilaheng awigena/Sirep lerep turu kabeh/Sagung janma jroning pura/Awit karsaning Dewa, mung ingsun kang datan turu/Ya jagad dewa bathara.//

Kidung dengan mantra sakti telah ditembangkan. Demikianlah, maka satu demi satu para penunggu telah jatuh tertidur. Terbahak Kartapiyoga setelah melihat sekitarnya bergelimpangan prajurit jaga telah roboh tertidur. “Heh orang Mandaraka, jangan terkaget. Besok semua akan kehilangan Surtikanti dan Banowati!”.

Tetapi Kartopiyoga memiliki ketelitan. Satu demi satu Kartapiyoga meneliti orang orang yang jatuh tertidur, ia tidak mau pekerjaannya menjadi terganggu oleh kecerobohannya. Sampai pada satu orang yang ia teliti, Kartapiyoga merasa kagum. “Keparat, aku kira semuanya sudah roboh tertidur siapa ini yang tertidur sambil berdiri dengan mata yang diganjal paku? Gagah perkasa muka merah seperti tembaga yang baru digosok. Belum pernah aku bertemu dengan orang ini sebelumnya, ketika pertama kali aku kesini. Tapi tidak perduli. Surtikanti, Banuwati dimana kamu ?!!.

Kartapiyoga yang terlalu percaya diri membiarkan Jaladara yang diraba masih diam. Maka dengan lompatan panjang ia telah sampai disekitar keputren.

Jaladara yang mengamati ulah Kartapiyoga kemudian ganti bergerak cepat mengikuti langkah Kartapiyoga, dalam hatinya ia berkata, “Huh hampir saja aku terlena. Berat mata ini terkena sirep Beganada. Itu dia, maling sudah datang. Jangan berbangga dulu. Ini Jaladara yang hendak menangkapmu !!”.

Belum sempat menyentuh pintu keputren, Kartapiyoga tersentak ketika punggungnya diraba telunjuk Jaladara. Secara tidak sadar, Kartapiyoga mengelak tetapi sepasang tangan kokoh telah melekat dilengan Kartapiyoga. Dengan naluri dan kesaktian tinggi,  Kartapiyoga melepaskan diri dari cengkeraman tangan Jaladara. Maka tanpa berkata sepatahpun, pertempuran sengit segera terjadi.

Sedikit demi sedikit ilmu mereka yang sedang bertempur telah dinaikkan untuk mengatasi satu sama lain. Tetapi Kartapiyoga yang menjadi heran karena ada salah satu penjaga malam Negara Mandaraka tidak gampang ditundukkan. Dengan rasa penasaran akhirnya Kartapiyoga buka mulut. “Heh penjaga malam, siapa yang mengganggu kerjaku !!??.”

Abdi Mandaraka namaku Jaladara! Siapa kamu maling yang berani menyatroni petamanan Mandaraka”.

“Tidak pakai tedeng aling-aling. Aku pangeran pati dari Negara Tirtakadasar, Putra Prabu Kurandayaksa, namaku Kartapiyoga! Sorongkan lehermu untuk aku pisahkan dari badanmu. Agar tidak menggangu kerjaku memboyong Surtikanti dan Banowati !”. Dengan percaya diri, Kartapiyoga memberitahukan jati dirinya. Pikirnya tak ada seorangpun penjaga malam Mandaraka yang bisa mengalahkannya. Bahkan dengan kepercayaan dirinya yang tinggi ia hendak memisakan kepala dari tubuh penjaga malam itu.

Namun waktu berlalu, Kartapiyoga makin keteteran  menghadapi penjaga malam yang sedemikan sakti, hingga ia sadar, fajar segera menjelang. Maka dikerahkan kesaktiannya hingga batas tertinggi. Tetapi sekali lagi, penjaga malam itu masih dapat melayaninya dengan nafas yang masih teratur. Putus asa telah menghinggapi pikir Kartapiyoga. Maka segera ia menerapkan ajian ajaran ayahnya, amblas ia kedalam tanah, melarikan diri.

Ternyata ada seorang lagi yang tidak kena sirep. Ialah Permadi. Usai Kartapiyoga melarikan diri dan Kakrasana menghentikan usaha menangkap pencuri, Pamadi mendekati Jaladara. Melihat kedatangan Pamadi, Jaladara menjelaskan apa yang terjadi, “Permadi sudah ada titik terang. Aku sudah mendapat siapa dan dimana pencuri itu. Pencurinya sudah aku ketahui bernama Kartapiyoga anak raja Tirtakadasar. Aku hampir bisa meringkusnya tetapi ia masuk kedalam bumi.  Ternyata ia sangat sakti, terbukti bisa lolos dari tanganku. Ayuh ikut aku mengikut jejak Kartapiyoga”.

Tidak lagi membuang waktu kehilangan jejak. Kesaktian Jaladara telah menempatkan Pamadi dalam ruang cincinnya. Kesaktian Jaladara yang sedemikian tinggi telah melacak arah lari Kartapiyoga.

Sampai dihadapan ayahnya, Kartapiyoga dengan tanpa malu menceritakan bagaimana ia dikalahkan oleh Jaladara. “Aduh rama, ketiwasan. Masuknya hamba kembali ke Mandaraka ternyata disana sudah ada prajurit segelar sepapan yang siap menyongsong. Hamba ketahuan penjaga malam yang bernama Jaladara, sehingga terjadi perkelahian. Kesaktian Jaladara ternyata sangat tinggi. Rama, saya pasrah jiwa raga”.

Marah Prabu Kurandayaksa, anak kesayangannya telah dilecehkan oleh penjaga malah bernama Jaladara, “Heeee . . sekarang giliranku. Pasti ia mengejar kamu kemari. Kita hadapi kedatangannya !!”.

Sementara itu ditempat persembunyian Erawati, wanita malang yang sedang menangisi nasibnya dikejutkan dengan kedatangan dua orang satria yang kelihatan santun. Sebersit harapan telah tumbuh. Setelah ketiganya berhadapan, tanya Erawati kepada keduanya meluncur, “siapakah kalian berdua ini? Yang satu berwajah tampan dan yang satu lagi berbadan perkasa. Katakan maksud kedatanganmu. Katakan, kisanak!”.

“Baiklah raden ayu, terus terang hamba masih kulit daging andika. Hamba putra mendiang Prabu Pandu Dewayana, nama hamba Pamadi”.

“Hamba hanya orang kecil saja, nama hamba Jaladara asal hamba dari Argaliman”. Keduanya memperkenalkan diri.

“Kedatangan hamba tanpa dipanggil, adalah demi tugas yang dibebankan oleh ayah kanda Dewi, Prabu Salya. Hamba harus berhasil memulangkan andika Sang Dewi kembali ke Mandaraka”. Kata Pamadi kemudian.

“Begitu juga hamba yang sudah menyanggupi berdasarkan sayembara, yang siapapun dapat mengembalikan andika Sang Dewi kembali”. Jaladara menjelaskan

Gembira bukan kepalang Erawati mendengar kesanggupan keduanya. Sebersit keraguan masih saja menghinggapi hingga ia masih menanyakan kembali tentang diri mereka, “Tapi kalian bukan dari golongan orang yang menipu, bukankan begitu?”

Bukan Raden Ayu, walaupun bagaimana pun andika Raden Ayu hendaknya bisa membedakan dengan jelas, bahwa hamba masih termasuk kulit daging Mandaraka”.

“Kalau itu yang sebenarnya, aku hanya menurut kepada kamu berdua. Tetapi apakah kamu datang kemari tidak diliputi oleh ancaman bahaya?” Kembali Erawati menyangsikan keduanya. Kesangsian oleh sebab perasaan takut yang telah mengurungnya hari demi hari.

“Benar Raden Ayu. Tetapi semua dapat hamba sisihkan terbukti hamba sudah sampai disini”. Jawab Jaladara meyakinkan.

Kalau begitu, bagaimana kamu bisa membawaku dari sini ?.

“Baik kami akan masukkan Raden Ayu kedalam cincinku”. Kata Jaladara kemudian memupus keraguan Erawati.

Demikianlah, Erawati dan Pamadi telah kembali dimasukkan kedalam bilik cincin Jaladara. Jaladara tidak mau diribetkan dengan Pamadi dan Erawati yang tidak dapat mengarungi bahayanya dunia bawah air Tirtakadasar.

Setelah semuanya diatur rapi, Jaladara berrenang mencari adanya orang penting Tirtakadasar. “Heh orang Tirtakadasar, inilah aku Jaladara yang telah ganti menculik Erawati dari Tirtakadasar !!”

Maka peremuan ketiga manusia itu telah menjadikannya Kerajaan Bawah air Tirtakadhasan menjadi ajang pertempuran sengit. Tidak mudah Kakrasana mengatasi Prabu Kurandayaksa yang memang lebih sakti daripada anaknya, Kartapiyoga. Namun takdir telah jatuh. Kurandayaksa dan anaknya Kartapiyoga tidak mampu mengalahkan Jaladara. Bahkan keduanya dapat dimusnahkan setelah pertarungan sengit terjadi berhari hari.

Ketika ia memeriksa masih adanya musuh dalam kerajaan bawah air itu, ia bertemu dengan seorang wanita berujud raksasa yang dengan terang terangan telah menjumpai Jaladara. Jaladara menjadi terheran dan kemudian menanyakan siapa sebenarnya ia, “Aduh raden, hamba tidak ikut-ikutan”

“Siapakan andika yang berujud raseksi?”

“Hamba istri dari Prabu Kurandageni dan sekaligus ibu dari Kartapiyoga. Nama hamba Tapayati”.

Tanpa diperintah, Tapayati mengisahkan keberadaanya di dasar air, “Begini raden. Sebenarnya hamba sangat tdak setuju dengan tindakan suami serta anak hamba, memaksa putri Mandaraka menjadi istri dari anak hamba, Kartapiyoga. Erawati sejak ada di Tirtakadasar setiap harinya hanya menangis hampir tanpa henti. Saya yang menjadi saksi radenlah yang menyelamatkan putri Prabu Salya itu. Hamba berharap agar hamba diperkenankan ikut ke Mandaraka bersama andika dan Putri Erawati. Maksud hamba adalah sebagai saksi mata bahwa radenlah yang telah berhasil menyelamatkan Erawati dari sekapan anak dan suami hamba”.

“Baiklah aku tidak keberatan”. Tadinya Jaladara ragu, tetapi kembali naluri seorang pertapa menyetujui permintaan Tapayati. Tanpa membuang waktu lagi, Jaladara segera kembali ke pinggir bengawan  yang ternyata telah terkepung oleh wadya Astina.

Kemunculan sosok manusia dengan tubuh berkult tembaga, sontak telah menggegerkan wadya Kurawa yang segera mengepung Jaladara dari berbagai arah. Tombak dan mata pedang telah merunduk mengacu ke tubuh Jaladara yang tetap diam ditempat, namun tubuh yang basah berkilat merah tembaga tersinari matahari, telah membuat para Kurawa kehilangan nyali. Seseorang kemudian menyeruak diantara para prajurit dan nyaring berkata,  “Hee kamu pasti yang telah membawa Dewi Erawati. Ayoh jangan banyak cakap, serahkan Dewi Erawati ke tangan Para Kurawa”. Demikian sapa orang yang ternyata Sangkuni, mencoba menakuti Jaladara dengan mengadang ditepi bengawan segelar sepapan dengan wadya mengurungnya.

Jaladara yang tidak mau dihardik menjawab, “Ini hakku, tidak satupun orang yang akan aku serahi Erawati kecuali ayahnya sendiri, Prabu Salya”. Jawab Jaladara tegas.

Aba–aba telah diteriakkan oleh Sangkuni. Para prajurit Astina bergerak serentak mengepung rapat Jaladara. Tidak tinggal diam, Jaladara mengibaskan tangannya dan beberapa pengepung telah terjerembab ketanah. Namun serangan telah bergelombang kembali mengalir. Tidak mau membuang waktu dan banyak jatuh korban, tidak lama kemudian  dalam rapatnya kepungan Jaladara melompat dan meloloskan diri. Diluar lingkaran pertempuran, Jaladara memetik sekuntum bunga, kemudian dipujanya menjadi sosok Dewi Erawati.

Gembira sorak Para Kurawa telah menemukan Dewi Erawati palsu yang kemudian digendong kedalam tandu untuk dibawa ke Mandaraka. Pada saatnya nanti kegembiraan para Kurawa berubah sebaliknya ketika sampai di Mandarka, Erawati telah kembali ke ujud semula, sekuntum bunga.

————————

Mendung telah tersaput angin. Cerah wajah Prabu Salya ketika menemukan kembali putri sulungnya dalam keadaan tak kurang suatu apapun. Tak lama kemudian setelah kedatangan Jaladara kembali ke Mandaraka, dipanggilnya Wasi Jaladara kehadapan Prabu Salya, “Kamu sudah membuktikan omonganmu bisa mengembalikan anakku Erawati. Dan aku juga akan membuktikan janjiku, tidak akan ingkar. Tetapi hendaknya kamu bersabar, tunggulah hari baik. Tapi lain dari itu, aku melihat ada raksasa wanita. Siapakah ia Jaladara?”.

“Silakan gusti Prabu menanyakan sendiri jati dirinya”. Jawab Jaladara takzim.

Heh wanita raksasa, siapakah dirimu sebenarnya?” Prabu Salya memandangi Raseksi itu sambil bertanya.

“Hamba adalah ibu dari Kartapiyoga yang telah terbunuh Jaladara.”

“Aku ingin tahu bagaimana kamu beserta keluarga dan para pengikutmu berdiam disuatu negara didalam air yang bernama Tirtakadasar?”

“Terus terang hamba sebagai istri dari Prabu Kurandayaksa sebenarnya dahulu hamba diculik. Ketika hamba sedang mencuci ditepi Bengawan Swilugangga, tidak mengerti datangnya bahaya, hamba diseret kedalam bengawan. Dari situlah hamba dijadikan istri dari Prabu Kurandayaksa. Demikian hingga yang terjadi, hamba mempunyai anak bernama Kartapiyoga itu”.

“Lho, andika itu berasal dari mana asal usulnya?” Ketertarikan akan jalan cerita raseksi itu, Prabu Salya kemudian menanyakan lebih dalam.

“Hamba adalah putri pendeta bernama Begawan Bagaskara, hamba terpisah dengan ayah hamba Begawan Bagaskara sejak saat itu. Ayah hamba dua bersaudara, yang muda bernama Begawan Bagaspati, dua duanya adalah pendita yang berujud raksasa. Juga berputri satu yang namanya adalah Pujawati. Hambalah yang bernama Tapayati”.

Terkesiap hati Dewi Setyawati, istri Prabu Salya yang ikut dalam lingkungan pembicaraan. Karena ialah putri dari Pendita di Argabelah, kakak beradik Begawan Bagaspati dan Begawan Bagaskara. Setyawati alias Pujawati bergerak mendekat ketika mendengar kisah dari Tapayati yang kemudian memeluknya, “Kanda, hambalah yang bernama Pujawati itu. Aku sudah beranak lima kanda!”.

Hening para hadirin yang ikut dalam sidang ketika melihat  keduanya saling berpelukan. Seakan mereka ikut merasakan betapa takdir telah mempertemukan kedua saudara misan itu dalam pertemuan yang tak diduga-duga. Ketika suasana haru tela mereda, Tapayati berkata memohon maaf kepada suami istri itu, “Mohon maaf Sang Prabu, bahwa anak hamba Kartapiyoga yang telah beraninya menculik saudaranya sendiri, Erawati.”

“Tapi aku masih heran, bagaimana Prabu Kurandayaksa bisa membuat Istana dalam air dan bermukim disitu?”. Tanya Prabu Salya.

“Itu adalah kekuatan dari pusaka yang bernama manik sotyaning candrama yang bisa digelar dan digulung. Bisa diringkas menjadi satu ujud seperti yang hamba bawa ini”.

“Oooh itukah bentuk pusaka itu?” Takjub Prabu Salya melihat kesaktian pusaka yang dibawa Tapayati

Kecuali dapat digelar dan digulung sebagai gelaran sebuah negara, pusaka ini juga dapat dibuat sarana untuk mengubah segala bentuk yang buruk menjadi ujud yang baik” tambah Tapayati.

“Apakah kira kira dapat dipakai untuk meruwat ujud ayunda yang serupa raseksi?”

Itulah yang sebenarnya hamba inginkan . . . . ”. Tapayati menjawab dengan wajah yang berharap.

Baiklah ayunda. Tahanlah nafas ayunda, aku akan merubah ujud ayunda sebagaimana yang ayunda inginkan”. Begitulah kesaktian pusaka manik sotyaning candrama tlah dijadikan sarana untuk mewujudkan keinginan Tapayati. Kehendak Dewa telah terjadi, Tapayati berganti ujud yang buruk menjadi sosok cantik mirip dengan dewi Setyawati.

Kembali Setyawati dan Tapayati berrangkulan haru. Kebahagiaan telah merebak diantara saudara trah Bagaspati dan Bagaswara. “Bagaimana hamba dapat mengucapkan terimakasih sinuhun?

“Tidak usahlah berterimakasih kepadaku.”

“Bagaimanapun, hamba harus mempunyai rasa terimakasih. Hamba berjanji, dinda Pujawati semogalah seluruh isi jagad menyaksikan, sampai ajal menjemput, kita berdua tak akan dapat terpisahkan.” Sumpah Tapayati akan terjadi. Hidup mereka berdua berakhir di padang Kurusetra ketika Prabu Salya gugur di medan perang Baratayuda.

Setelah hening sejenak, Prabu Salya berkata, “Tapi begini ayunda, karena ayunda sudah berujud manusia yang sempurna ujudnya, akan aku ubah nama ayunda dengan nama baru; Endang Sugandini”.

Demikianlah, mendung telah benar benar tersaput dari langit Mandaraka. Jaladara sabar menunggu waktu yang telah dijanjikan. Ketika waktu telah ditakdirkan, Jaladara yang kemudian menjadi suami setia dari Erawati, setia hingga akhir hayat. Wasi Jaladara atau Kakrasana bertahta di Mandura dengan jejuluk Prabu Baladewa

Link Pagelaran Wayang dari Ki Nartosabdo yang berhubungan dengan keseluruhan cerita Mendung diatas Mandaraka dapat dilihat di:

 http://www.mediafire.com/?5qojwb6u9csd1

atau ingin mempelajari pedhalangan lengkap dengan cerita ini, Bukunya dapat diunduh di:

http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/11/28/160/

Mendung diatas Mandaraka [6] : Semar mBarang Jantur


Dikisahkan kembali oleh: MasPatikrajaDewaku (PPW 11-01-0006)

Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang melihat keadaan itu, tergopopoh-gopoh mendapatkan momongannya yang tergeletak tak berdaya. Petruk memijit mijit kaki, sedangkan Bagong mengipas-kipaskan daun waru ke tubuh Pamade. Semar yang sedikit banyak mengerti cara mengatasi masalah pengobatan sibuk memijit dan mengurut tubuh Pamade. Tak lama kemudian Pamade sadar dan membuka matanya.

Melihat momongannya membuka mata, Semar segera menghujani pertanyaan menyangkut sebab musabab peristiwa yang terjadi. “Eeh sampeyan kenapa ini? Bagaimana ini bisa terjadi? Sudah terbiasa sampeyan melawan para raksasa berapa ribu-pun tidak terjadi seperti ini. Apakah sampeyan terkena taring dari para raseksa yang menghadang tadi?”

“Kalaupun aku digigit oleh para raksasa, tidak akan terjadi, taring raksasa itu melukai kulitku”.

Gimana tadi gus, kenapa bisa terjadi seperti itu? Begitu juga Gareng dan Bagong ikut menambahi pertanyaan-pertanyaan konyol.

“Kakang, bagaimana aku bisa seperti ini, kakang, Aku tidak kuat bergerak, semua badanku terasa ngilu. Kepala ini terasa berdenyut dan keringat dingin mengalir disekujur tubuh ini”. Dengan masih tetap berbaring, Pamadi menijit kepalanya yang masih juga terasa berat dan pening.

“Eeeh ampuh omongan Surtikanti. Sampeyan-lah yang sebenarnya bersalah. Pada saat ndika hendak pergi waktu itu kan telah diajak mampir oleh putri putri Prabu Salya, Surtikanti dan Banuwati. Sampean tidak mau, ketika diajak oleh Sutikanti. Tetapi ketika diajak mampir oleh Banuwati, sampeyan nurut. Itulah yang membuat Surtikanti kecewa dan menyumpahi sampeyan. Kalau sampeyan lapar jangan sampai menemukan makanan, kalau kehausan jangan sampai menemukan air walau seteguk. Marilah kita berjalan lagi tinggal selangkah lagi kita bakal menemukan pedesaan. Dan disana pasti kita dapat menemukan orang yang memasak makanan. Nanti disana, saya akan mencarikan orang yang mau memberi kita makanan” Semar masih mengingatkan peristiwa tadi dihubungkan dengan kata serapah Surtikanti ketika di Mandaraka.

“Aduh kakang, aku sudah tidak kuat lagi bangun”. Pamade masih mengeluhkan apa yang dirasa. Semar berpikir sejenak, bagaimana caranya mengatasi keadaan yang terjadi tiba-tiba ini.

Sejurus kemudian dipanggilnya ketiga anaknya, “Toleee, Petruk Gareng dan Bagong, ayo kita gendong momongan kita ketempat yang teduh dibawah pohon gendayakan itu”.

Ketiganya kemudian menggotong tubuh momongannya yang memang sangat lemah itu. Setelah keadaan menjadi lebih baik, Semar kemudian mengumpulkan ketiga anaknya, agar mendekat dan berrembug mencari pemecahan bagaimana jalan keluar dari persoalan itu “Tolee aku benar benar bingung merasakan keadaan momongan kita. Lho kok bisa terjadi seperti itu, kalau hanya tidak makan beberapa hari kemarin, rasanya nggak bakal seperti itu kejadiannya”.

Petruk kemudian memberikan pandangan kepada bapaknya yang sekiranya bisa dijadikan dasar pemikiran selanjutnya, “Tetapi mungkin  ini sebenarnya karena ampuhnya kata-kata orang yang dibuat kecewa”.

Sekarang usaha kita bagaimana? Tanya Semar, yang kemudian disambungnya. Cara kita bagaimana supaya  kita secepatnya mendapatkan makanan?”.

“Kita masak nasi saja Ma? “Gareng mencoba mengusulkan. Kemudian ia melanjutkan idenya, ‘”Supaya kita dapat cepat dapat makanan, kita masak nasi saja. Kalau masalah lauk itu belakangan. Yang penting nasi harus ada. Kalau dalam keadaan kepepet, kecap sama bawang-pun bisa menjadi lauk yang enak”.

“Kalau gitu ayoh cepat cepat masak nasi, kamu bawa beras? “Semar cepat menjawab dengan tidak banyak pikir.

“Nggak bawa kok. Kalau ada, ya pasti kita sudah dari kemarin kita masak buat momongan kita”. Jawab Gareng kemudian

Semar diam karena jawaban Gareng yang tidak masuk akal. Kemudian dipanggilnya nama anaknya yang lain, “Petruk, bisanya kita dapat makan kita harus bagaimana?”

“Cari!’

“Dimana?”

“Ketempatnya”.

“Kamu sudah tau tempatnya?”

“Belum”. Jawab Petruk tidak memecahkan masalah. “Bagaimana kita cari makan kalau kita sendiri juga sudah kecapaian begini?!”

Sekarang dipanggilnya Bagong, walaupun Semar sudah menduga, kalau kali ini juga Bagong pasti juga jawabanya tidak akan memuaskan, “Bagong!?”

“Apa?”

“Bagaimana supaya kita dapat makan gimana Gong?”

“Nyuri!” usul Bagong dengan wajah lugunya. Lha gimana kita dapat makan kalau kita sekarang juga dalam keadaan lapar begini kok ditanyai”.

Tetapi sejurus kemudian Semar semringah. Ia telah menemukan cara bagaimana mengatasi masalah. “Gini saja, kita cari makan tapi dengan cara yang halal. Kita akan ngamen Jantur. Kamu tau apa itu Jantur?”

“Lho menghina?!’ Aku ini orang yang penuh dengan kesusasteraan. Jantur, dapat dari kata Jan dan Tur. Tukijan rumahnya di mBatur.” Petruk menjawab asal-asalan, begitu juga Gareng dan Bagong masing masing menyampaikan arti kata jantur. Semuanya ngaco.

Semar menyalahkan omongan anak-anaknya, katanya, “Oooh goblok. Jantur itu artinya cerita. Aku mau ngamen dengan bertutur cerita, dan nanti akan aku barengi dengan sulapan”.

Maka ketika mereka sudah sepakat, keempat panakawan itu segera menyiapkan perlengkapan ngamen. Berbekal arah adanya asap yang mengepul yang kelihatan dari dalam hutan, mereka berangkat kearah pedesaan yang terdekat.

Setelah sampai di pedesaan pinggir hutan, mereka mulai menggelar kemampuan mereka dengan cerita dan banyolan kadang disertai dengan nyanyian dan joged. Mereka berjalan sambil mengamen dari rumah ke rumah, dari desa ke desa,  hingga sampailah mereka di padukuhan yang bernama Widarakandang. Sebuah desa yang terhitung agak besar dan berpenduduk lebih banyak banyak. Tidak heran, karena keadaannya lebih baik dibanding desa tetangga karena kesuburan dan keasrian alamnya.

Disebuah rumah demang Widarakandang, berdiam Putri Raja Mandura bernama Dewi Bratajaya. Dialah adik dari Kakrasana atau sebagai pertapa bernama Wasi Jaladara. Tinggal pula disitu kakak Bratajaya yang lain, Narayana, putra kedua dari Prabu Basudewa. Tetapi Narayana adalah seorang yang senang berpetualang menunutut ilmu kepada orang-orang sakti, sehingga banyak waktunya yang ia habiskan diluar Widarakandang. Narayana bersahabat erat dengan anak sulung Nyi Demang yang lain, yang bernama Udawa. Narayana selalu mengajak Udawa kemana ia pergi.

Saat ini Bratajaya diperintahkan oleh ayahnya Prabu Basudewa agar bertapa ngrame. Sebuah ritual tapa yang dijalankan bukan dengan duduk tepekur, tetapi melakukan kerja bakti untuk siapapun yang membutuhkan pertolongan. Di Widarakandang itulah mereka menetap, tepatnya di kediaman keluarga Demang yang bernama Antyagopa dan istrinya yang bernama Nyai Sagopi.

Pada saat itulah Bratajaya sedang duduk bersama teman yang dianggap saudara perempuannya (yang sebenarnya adalah anak biologis dari Prabu Basudewa) yang bernama Ni Ken Larasati. Ia adalah anak dari Nyi Sagopi.

“Larasati, sudah berapa lamakah kanda Kakrasana bertapa di Argaliman, Larasati?” Kata Bratajaya yang dari tadi diam melamun.

“Sudah sekitar empat puluh hari dan empatpuluh malam putri. Hari inipun seharusnya Kakang Wasi Jaladara pulang ke Widarakandang”

“Begitu sentosanya kakang Wasi Jaladara wadag dan jiwanya. Kesentosaan jiwa dan raga Kakang Wasi Jaladara telah tertempa di Widarakandang sebagai seorang petani dan kesentausaan jiwanya  karena olah tapa di Argaliman, adalah bekal yang teramat berharga bila nanti menggantikan rama Prabu Basudewa setelah surut kelak.’”  Demikian keduanya saling berbicara mengenai keadaan kakak sulungnya dan juga dirinya yang sedang dalam perintah ramandanya, untuk menjalankan tapa ngrame. Sampai kemudian panakawan yang sedang ngamen datang di depan rumah, sambil memainkan peralatan sederhana mereka.

“Larasati, siapakah mereka yang datang itu?” Tanya Bratajaya ketika ia melihat keramaian dihalaman

“Siapa disitu? “ Larasati yang berjalan ke halaman menanya kepada para panakawan yang cengar-cengir mendekat.

“Saya tukang ngamen”

“Amen apa?”

“Semua macam tontonan ada termasuk sulap”. Jawab Petruk

“Berapa ongkos nanggap-nya?”

“Saya yang memutuskan berapa ongkos ngamen. Anak anak itu saya yang ngatur.”  Semar maju mendekat dan menjelaskan.

“Baiklah, kalian saya tanggap”.

Maka mulailah mereka ramai menyanyi dan melagukan tembang-tembang pembuka.

Setelah itu Larasati menanyakan kemampuan lain dari para penakawan. Sekalian juga menanyakan upah untuk mbarang amen seperti yang hendak mereka tampilkan.

“Saya tidak minta upah yang mahal-mahal. Tapi omong-omong yang punya rumah ini sampeyan atau yang sedang duduk itu?”  Kata Semar meminta penjelasan.

“Yang punya rumah itu adalah Dewi Bratajaya”. Jawab Larasati sambil menunjuk ke arah Bratajaya

“Sebaiknya yang memberi perintah yang punya rumah saja”.  Semar meminta.

“Baiklah. Putri silakan memberi perintah para pengamen ini dan minta kesepakatan mengenai ongkos ngamennya”.

“Baiklah Larasati  . . . . . “ Bratajaya memutuskan,” Kalau aku ingin mendengarkan dongeng dan sulapan ongkosnya berapa?”

“Sebetulnya nggak usah pake duit saja putri, saya diberi nasi lengkap dengan lauknya saja. Lauknya apa saja, asal semuanya enak. Tempatkan semua itu di satu tampah besar. Itu sudah cukup”.

“Baiklah, Larasati, ambilkan sesajen yang ada di sanggar pamujan itu, untuk diberikan kepada para pengamen”.

Demikianlah, tontonan mulai digelar, sementara Larasati setelah menyiapkan perlengkapan ongkos kerja, yang kemudian segera menemani Bratajaya mengamati kelucuan tontonan.

Kula miwiti carita

Dongeng wantah minangka ajejampi.

Kinidung ing basa tanggung

Narbuka ing budaya

Tata titi tatane sampun kacakup

Saboboting crita cekak

Dadi sengsem kang mrikasani

Semar memulai unjuk kemampuan dengan sebait kidung. Disusul dengan sulapan yang konyol. Larasati yang melihat kekonyolan itu, menertawakan polah tingkah panakawan dengan sulapannya yang serba amatiran.

Ketika Semar memeragakan sulapan daun kelapa muda yang diubah menjadi seekor ular, kaget dan ketakutan Dewi Bratajaya, yang kemudian pingsan dan diangkat oleh para abdi keruang dalam. Sementara dalam kekalutan suasana itu, anak-anak Semar segera mengemasi semua makanan dan membungkus bersama sehingga menjadi satu tumpukan, malah makanan yang ada dilumuri pasir dan debu oleh Semar. Anak anaknya yang heran dengan perlakuan ayahnya bertanya-tanya, tapi Semar tidak menggubris.

Gembira Pamadi, ketika Semar beserta anak-anaknya telah sampai dihadapannya, yang kemudian bertanya, “Kamu peroleh dari mana makanan itu kakang Semar?”

“Saya dapatkan dari pedukuhan terdekat dari hutan sini. Namanya Pedukuhan Widarakandang. Disitu ada dua wanita cantik yang berdiam di kademangan. Dari situlah kami mendapatkan makanan itu”. Jawab Semar menjelaskan dengan demikian benderang

Nasi beserta lauk itu segera digelar dihadapan Pamadi. Namun begitu melihat ujud nasi yang sudah menyatu dengan lauk bahkan tercampur pasir, timbul kemarahan Pamadi. Tanpa diduga oleh para Panakawan, Pamadi segera menghunus pusaka, dan berjalan cepat malah hampir setengah berlari, mendatangi tempat yang disebutkan oleh Semar.

“Rama, bagaimana ini? Tidak urung tidakanmu mencampur nasi dengan lauk sama pasir itu bakal berakitbat pembunuhan.” Petruk bertanya setengah menyalahkan Semar.

“Coba lihat. Jawab Semar sambil memandang ketiga anak-anaknya, Tadinya momongan kita bergerakpun tidak kuasa, tetepi setelah melihat ujud nasi yuang aku berikan, ternyata ia bisa berdiri bahkan berlari secepat itu. Itu artinya ia sudah tidak lagi lapar”.

“Yang sudah berhenti lapar itu nggak aku pikir, tapi kalau ada peristiwa pembunuhan bagaimana? “Tanya Petruk dengan wajah kawatir.

Tapi Semar tetap senyum saja dan menjawab enteng, “Ya biarkan saja, pasti ada yang berwajib yang menangani. Tapi daripada kita hanya menduga duga, ayoh kita nyatakan apa yang terjadi di Widarakandang nanti”. Tergesa-gesa, para panakawan berlari mengikuti arah Pamade.

Maka Semar dan anak-anaknya menyusul jejak tujuan ke Widarakandang. Gareng berlari terpincang, Petruk berlari tersuruk-suruk. Sedangkan Bagong dan Semar terbirit birit membawa badannya yang kegemukan. Walau sekencang apapun Pamadi berlari, namun ia tersusul oleh para panakawan, karena jelas para panakanawan telah langsung menuju ketempat peristiwa ngamen terjadi.

Berdebaran mereka melihat peristiwa yang tejadi dihadapan mereka, Pamadi sedang menghunus pusakanya berhadapan dengan dua orang wanita, Bratajaya dan Larasati

Gemetar menahan marah, Pamadi bertanya, “Siapakah yang memberiku nasi lewat Kakang Semar Badranaya?”

“Semar Badranaya itu siapa? “Tenang Bratajaya menjawab, sementara Larasati memandang Pamadi ketakutan dibalik punggung Bratajaya.

“Pamomongku yang tadi datang ngamen kesini”. Pamadi memberi penjelasan dengan masih menahan kemarahannya. Sementara Larasari yang telah sadar dengan apa yang terjadi, berlari kedalam rumah mencari pertolongan sambil berteriak

“Terus terang saja, aku yang memberi”. Bratajaya masih bersikap tenang.

“Gegabah dengan Pamade, aku sobek perutmu”. Pamadi yang diliputi kemarahan bergerak maju. Tetapi pada saat bersamaan, keluar dari dalam rumah seorang pemuda bertubuh perkasa dengan kulit yang berwarna merah tembaga dan mempunyai sorot mata yang sangat tajam.

Link pagelaran Wayang Purwa dari Ki Nartosabdo yang berhubungan dengan cerita diatas:

http://www.mediafire.com/?gh7b931vxmhqb16

Mendung Diatas Mandaraka [5]


Yang Gundah Terbeban Serapah.

by MasPatikrajaDewaku 

Sejuknya tempat berteduh membuat para panakawan terlena duduk terkantuk. Sementara Pamadi sendiri duduk berdiam diri. Semar yang tidak tahan dengan suasana beku kemudian memanggil salah satu anaknya. “Tole, Nala Petruk . . . “

Petruk yang dipanggil tertawa kecil kemudian katanya, “Aku bilang, ini bukannya keliru, tapi ini disengaja. Apa ada, Nala kok Petruk. . . . . ?!”

“Biar saja, yang kasi nama situ, yang ngerusak ya situ. Biarkan saja!” Gareng ikut ikutan menjawab dengan ketus, “Kalau orang tua yang tau tuanya, mestinya harus mengerti segala tingkah tanduk, dan suaranya juga harus mengikut irama, tidak gegabah dengan suaranya. Dulu siapa yang memberi nama kita ini. Pastilah bapak kita, Kyai Semar. Nala Gareng sudah tepat buat aku. Nala Gareng itu nama yang bener,  sampeyan ini maunya gimana to Ma? Kalau yang dipindah cuma nama saja boleh-boleh saja, kalau rumahkuyang dipindah  juga nggak apa apa. Nah kalau yang dipindah istriku, gimana coba”. Gareng mencoba protes ke Semar

“Lha kalau yang dipindah istrimu, apa aku sudi begitu Kang? Jangan mengukur aku dengan ukuran kamu. Aku itu kalau bukan orang yang  “mbudaya”, enggak kok. Kalau aku bilang enggak kalau bukan yang kinyis-kinyis, seperti bidadari yang menjelma manusia” Petruk yang tidak enak sama Gareng menjawab. Gareng diam.

“Toleee . . . , Kanthong Gareng”.

Petruk maklum, maka ia menjawab panggilan bapaknya walaupun itu salah. “Yahh, apapun itu, aku mau jawab. Sebab yang kasih nama situ kok. Biasanya kalau enggak dituruti, nanti trus marah. Jadi, bener aku turuti, salah juga aku ikuti, kalau sudah terpojok dia bakal mati kutu!!”.

“Orang tua kok maunya diasuh! Apa ada yang seperti kyaine itu”. Gareng yang belum hilang mangkelnya kembali nyerocos. “Seharusnya yang diasuh kan kita ini. Apa-apa bisik-bisik jangan bilang ke ibumu. Penyakit menempel. Nggak sampai disapu angin ribut, baginya sudah nama untung. Kalau tidak orang tua yang umurnya sudah banyak, entah bakal aku apakan dia!”.

“Silakan Pak Bei meneruskan umpatan Bapak”. Kata Semar “Eeeh kamu ngomongin bapakmu dihadapanku, nyerocos, banyak banyak kata-katamu he”.

“Tolee, Jangkrik Genggong . . . . “ Kembali Semar memanggil anaknya, Bagong, pura-pura salah panggil

“Yang mana lagi ini yang dipanggil?” Petruk juga pura-pura tanya.

“Nggak tau ya, siapa yang dipanggil. Jangan jangan dia punya anak lagi selain kita. Diam-diam rama Semar itu juga suka slundap-slundup begitu. Kelihatannya nggak, tapi nggak taunya iya. Lha emang dianya sudah tua. Lah lain lagi kalau seperti kamu, Kang Gareng, yang masih muda, enggak agak iya dan kalau iya jadinya agak seperti tidak. Makanya mudah ketauan”.

“Genggong . . “.

Apa Ma? “Weton” kamu dulu apa ta Ma?” tanya Bagong yang mau tidak mau memutuskan untuk menjawab.

“Eeeh . . . .  ada apa anak ini pake tanya tanya?”

“Aku mencari tau hari lahirmu, aku mau santet kamu Ma. Orang memberi nama Bagong kok terus jadi jangkrik genggong. Itu kan namanya sampean itu tidak menghargai suaramu sendiri”.

“Lho namamu siapa sebenarnya?” tanya Semar.

“Namaku Bagong . .”

“Aku panggil jangkrik genggong kok kamu nyahut? Kamu “galak lidah” ya? Kamu mau tau urusan orang, selalu iri dengki, kalau sesuatu yang lain, seharusnya disarung lebih dulu”.

“Disaring, bukan disarung . . . “ Jelas Petruk menyela.

“Aku tidak memanggil dia kok dia main nyaut saja.”

“Ya sudah kalau nggak manggil aku ya nggak apa-apa. Tapi aku kan sampeyan yang bawa, iya kan? Setelah sampeyan nggak bisa menyesuaikan diri kok aku disia-sia?!” jawab Bagong yang kemudian diam.

“Aku heran Thole”. Semar mulai mengalihkan pembicaraan.

“Heran yang bagaimana?” Petruk yang masih sabar, menjawab

Berkali kali kalau mengikut bambangan (satria turun gunung) kok susah dimengerti. Oh mbok dadung manuk (tali penjerat burung;[kala]), kala-kala Bambangan harusnya hatinya gembira. Sebutan raksasa; [kala], kala-kala harusnya membuat hati gembira. Ketonggeng kecil; (dapat dari kata [kala]); kala-kala harusnya kita mengikut bambangan memjadikan kita gembira, nggak harus selalu mengerinyitkan dahi”. Semar menjelaskan dengan wangsalan.

Lalu kemudian melanjutkan. “Aku sampai kisruh bolehnya mengira-ira. Menafsirkan orang diam itu malah sulit. Diam karena memang wataknya atau diam karena susah. Apa juga diam karena marah, sampai susah aku menduga duga”.

Keluh Semar nyerempet ke Gareng “Beda dengan diamnya Gareng, Cuma ada dua sebab, kalau nggak sedih ya cari kesempatan. Itulah bedanya dengan momongan kita, Permadi”. Kembali Gareng yang temperamental hendak marah tapi ditahan Petruk.

Setelah reda Gareng malah menyahut “Sudahlah Ma, yang sudah-sudah ya jangan diulangi lagi. Yang penting, dulu kita sudah sanggup mencari adanya Dewi Erawati, yang sudah dicuri oleh “duratmuka”.

“Apa itu?” Tanya Petruk.

“Duratmuka itu bukannya nama lain dari pencuri?” balik Gareng nanya.

“Reng, sebetulnya kamu ngerti sastra apa enggak sih? Duratmaka kok kamu bilang duratmuka ?!”. kembali Petruk memberi penjelasan”.

“Ooh pantesan aku pernah diketawain orang tuh, aku pernah ndongeng dihadapan orang sependapa, aku bilang begini: Para hadirin, yang namanya Bethari Nagagini itu sebenarnya bidadari. Tetapi kalau sedang triwikrama dia bisa menjadi “sardula”. Aku kira sardula itu artinya ular, nggak taunya sardula itu berarti macan. Maka aku ditertawakan orang banyak. Nggak taunya menerapkan kata sastra itu tidak gampang, ya Truk. Pakai tata bahasa dan pakai tata cara”. Gareng pasrah

“Ya iya lah”. Petruk menjelaskan “Saya terima dengan tangan saya dwi, itu juga tidak boleh. Aku terima dengan kedua tangan, harusnya begitu”.

“Ada lagi yang menertawai aku sampai tertawa ngakak, sewaktu aku menggambarkan diri aku sendiri”. Gareng kembali mengisahkan ketika ia salah menggunakan sastra.

“Yang macam mana?”

Para hadirin, kalau saya berdandan seperti ini, saya kelihatan seperti layaknya seorang  “rajakaya” . nah disini orang orang pada ketawa semua.”

“Yang kamu maksud itu apa?”

“Rajakaya menurutku raja yang kaya.” Gareng menjelaskan kesalahannya

“Bukan! Rajakaya artinya kerbau sapi kambing dan binatang ternak sejenisnya.”

Bagong yang dari tadi diam, ikut menyela, “Ini pada ribut masalah pribadi apa merembuk kita ikut orang? Kamu itu digaji” . Petruk dan Gareng yang sedari tadi ribut kini terdiam.

Suasana yang menjadi sepi membuat Semar membuka mulut. Ia menyanyikan pupuh Dhandanggula dengan laras pelog. Tangannya mengipas kipaskan daun waru, walau udara sebenarnya sejuk.

Kawruhana, sajatining urip

Manungsa ‘ku urip aneng donya

Prasasat mung mampir ngombe,

Upama peksi mabur, oncat saking kurunganeki,

Pundi pencokan mbenjang, ywa kongsi kaliru

Upama wong lunga sanja, jan sinanjan tan wurunga bakal mulih

Mulih mula mulanya.

Kurang lebih artinya:

Mengertilah, sesungguhnya

manusia hidup didunia itu

hanya seperti (orang) mampir minum

umpama burung terbang, lepas dari kurungannya

dimana ia bertengger nantinya,  janganlah sampai keliru.

umpama orang bepergian, bergaul, dan tidak urung pulang kembali,

pulang ke asal mulanya.

Demikian Semar mengakiri tembang Dhandhanggula, sambil tetap mengipas kipas badannya. Belum puas, satu bait lagi ditembangkannya masih dengan Dhandhanggula-nya

Angudhari (?) wasitaning ati

cumanthaka aniru pujangga

dhahat mudha ing batine

nanging kedah ginunggung

datan wruh yen akeh ngesemi

ameksa angrumpaka, basa kang kalantur

tutur kang katula tula, ginalaten winuruk kalawan ririh

mrih padhanging sasmita. . . .

(pupuh ini menyindir penulis yang berani beraninya menulis disini seperti layaknya seorang pujangga. Walau banyak yang hanya senyum melihat kecethekan tulisannya. Tapi saya pikir lebih baik bertindak daripada hanya diam. Dan saya butuh “ririhnya wuruk” atau “comment” membangun dari anda pembaca)

Demikian setelah Dhandhanggula selesai, menyusul langgam Setya Tuhu berkumandang

Aku kang setya satuhu/ wit biyen nganti saiki/ bebasane, peteng kepapag obor sumunar//

Andika pangayomanku/ lahir batin tuwuh nyata/ mung sajake andika semune kurang rena//

Tandha yekti paseksene, rikalane/ najan awrat. . . / mlampah tebih datan nesu/ (mugi lestari-a) . . .

Mugya_ antuk berkahing widi/ andika mung tansah limpad/ panyuwunku, setya kula, tansah anglam-lami//

 

Diriku yang benar-benar setia

dari dulu hingga kini

seupama dalam kegelapan, bertemu dengan sinaran obor

 

Dirimulah pengayomanku

lahir dan batin tumbuh menjadi nyata

tapi agaknya andika kurang berkenan.

 

Saksi akan tanda-tanda itu

walau seberat apapun

jalan sejauh apapun (aku) tidak marah

 

Semoga mendapat berkah dari tuhan

andika selalulah dapat mengatasi

Permintaanku, kesetiaanku akan selalu (engkau) kenang.

Terkantuk kantuk anak-anak Semar mendengarkan langgam yang demikian mencabut sukma.

Setelah dilihat anak-anaknya terlena oleh irama tadi, Semar menyapa Pamadi, “nDara Permadi, abdi paduka sudah menanti. Segera andika beri kami keterangan, ini mau kemana. Mau ke utara, keselatan atau tetap nongkrong disini saja? Bagaimana mau selesai pekerjaankita, kalau kita tetap diam seperti ini”.

Bagong yang berbaring-baring masih membuka mulut memberi masukan terhadap bapaknya “Itu salahmu Ma, yang nggak bisa memuaskan momongan kita. Maunya slendro kok dikasih pelog. Coba sekarang diberi slendro, setelah tadi kita suguhi pelog ternyata belum lega.”

Semar diam mencerna kata kata Bagong. Kemudian Semar buka mulut menembangkan Sinom Grandel.

Memanismu kang ngujiwat

agawe rujiting galih

‘rerepa kang sinedya

upama mundhuta rukmi,

Tartamtu tak turuti

ibarat wong numpak prau

lumampah tanpa welah

neng madyaning jalanidi,

temah gonjing anggenjong neng pagulingan.

 

[Catatan: Pupuh Sinom Grandhel ini sangat tenar untuk saat sekarang, dimana dhalang banyak yang bertindak selaku MC dan penyaji pilihan pendengar. Mereka, para dhalang, banyak yang meluangkan waktunya mengatur para tamu dan penonton yang hendak ikutan berpartisipasi unjuk kebolehan, hingga melantur dari cerita pagelaran yang sesungguhnya] ;)

Selesai Sinom Grandhel, “bawa” ini diteruskan dengan gending “Sapa Ngira”:

Sapa ngira/ bareng wus akhir diwasa// tandang tanduk solahe sarwa jatmika/ welingku aja kemba/ anggonmu darbe prasetya/nandyan aku tan kengguh mulat  endahe/ya mung kowe katon ngawe awe/ sebab/ sapa ngira pinter ngadi sarirane/ sapa ngira- sapa ngira/ muga nindakna utama/ singkirana-singkirana/ panggoda kang tan prayoga//.

Pamadi yang merasa terhibur dengan tingkah para pemomongnya tersenyum, panggilnya kemudian, “Semar . . . . . . ”.

Terkaget, Semar menjawab tergesa-gesa, “Eee saya.  Ada yang hendak andika perintahkan?”

“Bingung rasa hati ini, yang sudah kadung sanggup memulangkan kanda Erawati ke Mandaraka. Tetapi kakang, sampai sekarang belum ada titik terang, dimana adanya kanda Herawati. Cara apa yang harus aku tempuh, bagaimana bila tidak ada keterangan. Apa nanti ada kejadian Pamadi mendapat malu”. Jelas Parmadi. Suasana hati yang gundah, telah menjadikannya buntu jalan pikirannya. Belum lagi kata kata serapah dari Surtikanti ketika menjelang berangkat, masih membebani benaknya.

Semar yang tahu betapa galau rasa hati momongannya, kemudian mencoba memberikan pencerahan. “Eeeeh . . . , Jangan sampai bicara begitu, sampeyan itu satriya tohjali-nya jagad. Bicara begitu boleh, ngresula juga boleh, tetapi harus mengutamakan rasa nelangsa. Nelangsa itu tidak berarti  mutung, tapi pasrah kepadaNya. Walau dalam tata lahir tetep menjalankan tugas, tapi dalam batin juga disertai dengan tetap menjalankan perintah Tuhan. Sebab, orang yang hanya bekerja tetapi tidak ingat terhadap Tuhannya, tidak urung akan selalu menemukan kegelapan. Beda kalau dalam bekerja itu dibarengi dengan laku ‘ibadah. Selain menjadikannya terang jalan yang hendak dilalui, juga sejumlah hal yang ruwet akan bisa terurai. Berbagai hal yang ganjil gampang digenapi. Apalagi bila andika selalu ingat setiap pelajaran dari eyang andika di Saptaharga, Resi Abiyasa”

Permadi kemudian diam. Semar masih mencoba menaikkan kejiwaan momongannya. Sekarang ia melantunkan kembali “pada” (bait) tembang yang sekiranya bisa sebagai pancadan penggugah semangat.

Saben mendra saking wisma

lelana laladan sepi

ngisep sepuhing supana

mrih pana pranawa_ ing kapti

Tistis ing tyas marsudi

mardawaning budya tulus

mesu reh tyas kasubratan

neng tepining jalanidhi

sruning brata kataman wahyu dyatmika

“Yang tadi Itu mau saya artikan seperti ini:

Saben mendra saking wisma, setiap pergi dari rumah. Lelana laladan sepi; bepergian cari tempat yang sepi. Ngisep sepuhing supana; mencari kekuatan diri seperti halnya menyepuh emas. Mrih pana pranaweng kapti; supaya terang jelas dalam hati. Tistising tyas marsudi; sejuk dalam hati yang sebenarnya adalah mencari dimana adanya, Mardawaning budya tulus; mardawa artinya memperpanjang budi yang tulus. Dengan sarana mesu reh tyas kasubratan, artinya mau menjalankan tapa-brata. Neng tepining jalanidi; walau ditepi samudra sekalipun. Tetapi yang diartikan disini adalah; bukanlah gelarnya samudra itu sendiri. Tetapi sebenarnya adalah gelar cita cita. Alun dan ombak samudra yang tingginya segunung gunung itu, menjadi ukuran dari orang yang mempunyai cita-cita. Orang yang mempunyai cita-cita itu, gerak gelombang hatinya berdeburan seperti itu.

Tentramya hati bila sudah tercapai yang diidam idamkan. Sruning brata ketaman wahyu dyatmika. Sruning brata itu, ketika sedang berjuang mencapai cita, ketaman, artinya, mendapatkan wahyu, yang artinya ganjaran kebahagiaan, sedangkan dyatmika artinya ketenangan, tempat kesentausaan yang langgeng.

Andika harusnya meniru laku orang orang tua andika dimasa lalu. Retaknya tembok dapat disaranani dengan melabur, rengatnya kayu bisa disopak. Tetapi retaknya kewibawaan, pelaburan atau penyopakan itu hanya bisa dilakukan dengan tapa-brata”.

“Kalau begitu kakang, aku tidak ingin segera pulang ke Mandaraka. Walaupun segawat apapun hutan didepan itu, aku akan tetap jalan kedalam-nya. Ayo kita segera melanjutkan perjalanan. Jangan jauh jauh dari tempat aku berdiri. Kalian hanya aku perbolehkan berjalan setidaknya satu jangkauan tangkai tombak jaraknya” Agaknya Pamadi berkenan dengan kata penyurung dari Semar. Maka kemudian diperintahkannya semua untuk bersiap kembali menempuh perjalanan.

Demikianlah, rombongan kecil itu kembali bergerak. Sekarang mereka masuk kedalam hutan, turun naik ke jurang yang curam, dengan duri duri yang lebat bergantungan. Tersuruk jalan mereka oleh sulur penjalin. Mereka tidak ada rasa takut  sedikitpun terhadap bahaya yang mungkin saja mengancam didalam hutan itu.

Makin ketengah Arjuna masuk kedalam hutan. Geger binatang hutan, mereka berlarian menjauh dari rombongan itu. Kalaupun mereka bisa berbicara, maka kita dapat mendengar suara mereka “ Heee teman semua, menyingkirlah kalian semua. Kita membaui ada diantara mereka yang menggunakan minyak Jayengkatong. Pastilah mereka bukan orang sembarangan. Masih keturunan dari orang terhormat. Jangan sampai tersenggol oleh mereka, walaupun kita hanya terpijak bayangannya, bakal terkena walatnya. Mari kita segera menyingkir . . . menyingkir . . . . “, demikian binatang itu segera menjauh dengan suara yang gemeretak dan segera lingkungan sekitarnya menjadi bersih dari para binatang hutan.

Terceritakan ketika itu ada serombongan abdi negara dari Tirtakadasar. Mereka yang membaui wanginya minyak Jayengkatong segera meloncat dari persembunyiannya. Sambil mematahkan kayu kayu dari dahan pohon, berisik gemeretak suaranya.

Pamadi yang dihadang tidak tinggal diam. Dengan ancaman dari para raksasa Tirtakadasar, Pamadi melawan seorang diri. Puluhan prajurit raksasa bukan lawan yang sepadan walau ia dikeroyok. Banyak yang mati oleh kesaktian Pamadi dan sebagian lain melarikan diri, ngeri oleh amuk Pamadi.

Tapi setelah segenap musuh yang telah banyak yang terbunuh dan yang masih sayang dengan jiwanya melarikan diri, tiba tiba terjadi keanehan. Pamadi tiba tiba berkeringat dingin, berleleran disekujut badan bagaikan anak sungai. Kepalanya tiba tiba merasa pening dan badannya menjadi begitu lemas. Seketika pingsan Raden Pamadi. Ternyata serapah Surtikanti telah menjadi kenyataan.

Link pagelaran dari Ki Nartosabdo yang berhubungan dengan kisah diatas:

http://www.mediafire.com/?f4xq7e74ndk3vig

Mendung Diatas Mandaraka (4)


Oleh: MasPatikrajaDewaku PPW-11-01-0006

5. Akal Cemerlang Erawati.

Ya, nama Negara tempat menyembunyikan Dewi Erawati adalah bernama Tirtakadasar. Dinamakan demikian, karena Negara itu ada di dasar muara bengawan Swilugangga, yang menuju ke laut lepas. Dengan demikian, Negara ini tidak mudah diketahu apalagi dikalahkan oleh musuh dari negara yang lumrahnya ada di atas tanah.

Disitulah raja bersosok raksasa yang berjuluk Prabu Kurandayaksa bertahta. Sosok tinggi besar.  Orang-orang yang kelewat membesar-besarkankan sosoknya, mengatakan besarnya seperti anak gunung. Kulit kasar merah tembaga yang ditumbuhi rambut hampir disekujur tubuhnya kelihatan seperti pohon palem yang tumbuh pada pereng jurang. Kencang kulit itu, bagai tak akan mempan terkena bermacam senjata. Kedua matanya bersinar menyeramkan seperti matahari kembar, hidung bagaikan haluan kapal. Geliginya kelihatan bagai karang pantai yang gemerlap ditimpa sinar matahari. Sementara gigi taringnya sebesar cula badak, basah oleh air liur berbisa. Bila ia bersin suaranya bagaikan petir dan ketika bersendawa seakan bersuara bagai guntur.

Ketika itu ia sedang duduk dihadap oleh satu-satunya anak lelakinya. Bernama Kartapiyoga. Rupa Kartapiyoga tidak jauh dari orang tuanya yang serba gagah sembada. Yang membedakan adalah Kartapiyoga berujud setengah raksasa. Kedua matanya merah dinaungi oleh helai bulu matanya sebesar lidi dan mengumpul sedemikian tebal. Demikian juga kumisnya yang tebal dan panjang. Saking panjangnya kumis dililitkan ke telinga kanan kiri. Seperti ayahnya, Kartapiyoga juga bertaring panjang, mengerikan, walau panjangnya “hanya” sebesar pisang ambon. Bila berbicara suaranya keras menakutkan siapapun yang mendengarnya.

Ketika menghadap keharibaan ayahandanya, Kartapiyoga kelihatan murung. Maka berkata Prabu Kurandayaksa memanggil anaknya agar lebih mendekat. Sembah Kartapiyoga berkali-kali kepada kaki ayahandanya, setelah itu Kartapiyoga duduk dengan muka menghujam ketanah.

“Eeeeh . . . .  hong tete hyang Kala Lodra, Mas patik raja dewaku . . .  Anakku Kartapiyoga!” Demikian kata Prabu Kurandayaksa menggelegar bagai hendak melongsorkan istananya.

“Daulat rama Prabu”. Jawab Kartapiyoga

“Kamu ini serba merepotkan. Lewat sebulan lalu kamu pernah bicara kepadaku, kalau kamu saat sekarang kepengin kawin. Tidak ada yang menjadi kecocokan hatimu, kecuali raja putri Mandaraka yang sulung, yaitu Dewi Herawati. Seribu cara telah kamu lakukan, untuk mendapatkan Herawati. Karena untuk melamar pasti kamu tidak akan diterima. Maka kamu bertindak melarikan Herawati dari Mandaraka dan sekarang telah kamu tempatkan disini. Sampai disitu kamu merasa puas. Tapi setelah aku perhatikan, akhir-akhir ini mukamu masih menandakan bahwa rasa kecewa masih kamu rasakan. Anakku hanya kamu seorang. Sekarang katakan, apa lagi yang kamu rasakan?!!” Kurandayaksa yang begitu sayang kepada anaknya yang hari terkhir seperti tidak lagi bergairah, langsung menanyakan masalahnya.

“Rama Prabu, kalaulah saya bisa menghitung, jauh sudah merasa kenyang bila dekat sudah tak lagi bisa menerima semua pemanjaan dari Rama Prabu yang sudah hamba terima. Seperti yang Rama Prabu katakan, semestinya hati ini sudah merasa puas setelah hamba mendapatakan keinginan hamba. Tapi sampai saat ini, putra paduka belumlah mendapat pelayanan dari Herawati sebagaimana layaknya pria dan wanita. Ketika hamba dekati, ia selalu memalingkan wajahnya. Dan ketika hamba menjauh, hamba lihat dari kejauhan itu, ia kelihatan tersenyum gembira”. Kartapiyoga berhenti sejenak. Diipandangnya wajah ayahnya melihat tanggapan. Ketika tidak ada yang tersirat dari wajah ayahnya maka kemudian Kartapiyoga melanjutkan, “Tak lagi putra paduka kuat menahan hati, pada suatu saat putra paduka memaksanya untuk bicara. Pada akhirnya, ia berkata yang sebenarnya, ia bersedia meladeni hamba sampai ajal tiba, bila hamba mempunyai istri lagi yaitu kedua adiknya, Surtikanti dan Banuwati. Karena mereka telah dari masa kecil telah berjanji akan melayani pria yang sama. Begitulah rama prabu, apakah yang harus putra lakukan?” Kartapiyoga menghentikan ceritanya sambil kembali bersembah.

Sebenarnya ada sesuatu yang tidak terpikir oleh Prabu Kurandayaksa atas permintaan Erawati. Permintaan yang tidak masuk akal bahkan terkesan menyuruh agar Kartapiyoga kembali ke Mandaraka. Ternyata tidak terpikir oleh Kurandageni bahwa Erawati telah menjebak Kartapiyoga. Tidak aneh bahwa Mandaraka sedang dalam siaga penuh setelah kecurian.

Tetapi Kurandayaksa adalah raja dengan kepercayaan tinggi melebihi nalarnya. Pikiran Kurandayaksa lebih percaya kepada kesaktiannya. Maka katanya kepada Kartapiyoga, “Oooh begitu kemauan Herawati. Lakukanlah Kartapiyoga!! Memang tidak gampang mendapatkan isteri cantik. Tetapi ada hal yang membuat akau heran. Lumrahnya orang itu tidak mau dimadu. Tetapi Herawati malah minta dimadu dan oleh adik-adiknya. Turuti kemauannya!!!”.

“Kapan putra paduka harus berangkat”. Tidak sabar Kartapiyoga berkata.

Sekarang juga!! Hari ini hari baik. Berangkatlah, pasti terlaksana apa yang menjadi tindakanmu”.

Maka berangkatlah Kartapiyoga. Setelah Kartapiyoga hilang dari pandangan mata, Raja raksasa itu kemudian memanggil para punggawa yang bernama Ditya Pralebda yang termasuk prajurit andalan yang selalu mendapat kepercayaan menggelar jajahan walau hanya seorang diri. Prabu Kurandayaksa segera menyuruh Ditya Pralebda agar mendekat ketika telah terlihat naik ke pandapa.

Setelah Pralebda duduk bersimpuh dihadapan Prabu Kurandayaksa, kemudian diperintahkan agar ia segera memata-matai Kartapiyoga yang hendak kembali ke Mandaraka melarikan putri Prabu Salya yang lain, Surtikanti dan Banuwati. Setelah tata merakit barisan, maka Ditya Pralebda segera memberangkatkan pasukannya, yang walaupun serba sedikit tetapi terdiri dari para raksasa yang berilmu tinggi.

—–

Kembali kepada Para Kurawa yang sedang mencari keberadaan hilangnya Herawati. Maka terlihat di muara Bengawan Swilugangga beratus ratus perahu besarta para penunggangnya yang terjun dan naik kembali ke perahunya dalam usaha mencari titik terang dimanakah sebenarnya pencuri itu berada. Suara mereka yang saling memberitahu dimana mereka berada dan teriakan perintah dari pembesar yang merancang gelar pencarian terdengar memekakkan telinga.

Tetapi sebagian dari mereka menjadi terkejut ketika mereka melajukan perahu tetapi tidak kunjung bergerak maju walaupun sudah mengerahkan segenap tenaganya. Keterkejutan mereka bertambah ketika perahu mereka malah terangkat dan muncul raksasa-raksasa yang berwajah menakutkan.

“Gila!!  Ternyata ada banyak raksasa yang mencoba mengacaukan usaha para Kurawa. Heh raksasa buruk rupa, siapa kamu ini sebenarnya?” Kartamarma yang dekat dengan peristiwa itu menanyakan kepada salah satu raksasa yang diduga sebagai pemimpinnya.

“Akulah raksasa yang menguasai bengawan Swilugangga yang bisa berrenang dan juga biasa dan bisa hidup didaratan. Akulah kaula dari Negara Tirtakadasar, abdi dari Prabu Kurandayaksa. Sedangkan namaku Ditya Pralebda. Namamu siapa, sebelum kamu mati hanya membawa nama saja?” Pralebda yang menjadi panglima menanyakan siapa mereka.

“Saudara muda raja Astina akulah yang bernama Kartamarma. Segeralah kamu pergi jangan menghalangi usahaku”.

“Bermula dari usahamu mengobak bengawan Swilugangga, banyak ikan dan hewan bengawan yang mati. Aku tidak terima, dan kamulah yang menjadi penukar dari makanan yang kau bunuh itu!”

“Apa maumu?!!!”. Kartamarma tidak gentar.

“Jangan sampai berlarut larut, ayo menurutlah kamu aku jadikan tawanan. Atau kamulah yang aku akan jadikan sarapan pengganti ikan ikan yang pada mati terbunuh!!”.

“Keparat!! jangan hanya bisa omong. Majulah akan aku hancurkan mayatmu!!” Kartamarma tidak sabar dan segera melabrak Ditya Pralebda.

Maka terjadi pertarungan antara prajurit Astina dengan raksasa-raksasa dari Tirtakadasar. Prajurit Astina yang menggunakan ratusan perahu, sementara para raksasa yang terbiasa hidup di air dan didarat segera terlibat dalam pertarungan sengit. Pertarungan yang tidak seimbang antara jumlah prajurit yang lebih banyak berasal dari Astina melawan prajurit Tirtakadasar yang walaupun lebih sedikit, ternyata mereka mempunyai banyak keunggulan.

Prajurit Tirtakadasar yang terbiasa bergerak diair dan di daratan ditambah dengan sosok mereka yang tinggi besar, telah merangsek prajurit Astina. Maka tidak heran bahwa banyak perahu yang bergelimpangan karam ditelan arus Bengawan Swilugangga hanyut kelaut lepas. Demikian pula dengan penunggangnya, banyak yang menjadi santapan para raseksa yang mengamuk bagaikan segerombolan buaya mendapatkan gerombolan kerbau yang menyeberang.

Namun demikian ketika Dursasana dan adik adiknya melihat kejadian ini segera terjun kedalam kancah pertempuran. Walaupun para raksasa itu berusaha keras membendung amuk dari Dursasana, Kartamarma, Jayadrata dan lainnya, tetapi mereka merasa keteteran. Ingat bahwa bukan saatnya untuk melayani amuk para Kurawa, tetapi tugas mereka adalah mengamati kemana perginya Pangeran Pati Tirtakadasar, maka mereka segera menjauhi para Kurawa. Segera Ditya Pralebda memberikan isyarat agar prajurit Tirtakadasar segera menghindari pertempuran.

Kurawa yang kemudian kehilangan lacak segera kembali ke perkemahan mereka yang kemudian disambut oleh Patih Sangkuni. Berkata Patih Sangkuni, “Kartamarma, setelah aku melihat kekalahan para raksasa, kamu bersaudara, diminta menghadap kandamu Jakapitana. Diperintahkan kepada kamu semuanya, agar tidak jauh dari perkemahan kita”. Kemudian mereka segera kembali dengan rasa kemenangan yang memenuhi dada.

——————-

Kita tinggalkan sejenak kebanggaan para Kurawa yang merasa telah berhasil menghalau musuh. Kita kembali bersama perginya Pamade yang belum menemukan arah pasti kemana harus pergi mencari hilangnya Erawati.

Diumpamakan bagaikan permata yang lepas dari bingkai cincinnya. Demikian adanya kepergian Pamade yang meninggalkan para saudara dan ibunya. Kesaktian dan keperwiraan Pamade ternyata telah tersebar keseantero wilayah maka tidak mengherankan bahwa pada setiap tempat, Pamade selalu dihormati oleh para penduduk yang kotanya dilalui. Tetapi sebetulnya bukan karena kesaktian dan kewibawaan seorang Pamade, melainkan karena keramahannya dalam melayani mereka yang membutuhkan tenaga dan pikirannya.

Tidak hanya orang orang yang bermukim dalam kota, demikian juga yang ada didesa, pinggir hutan puncak bukit hingga kepinggir lautan pun, bila mendengar orang yang bernama Pamadi melewati pemukiman mereka, perasaan mereka bagai tersiram sejuknya air pegunungan.

Demikian Pamadi yang telah terlanjur memenuhi janji kepada Prabu Salya, untuk mengembalikan putri sulung Prabu Salya, yaitu Dewi Herawati, telah berjalan tanpa tujuan. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang selalu mengikuti langkah Pamadi, waktu itu ikut berhenti ketika Pamadi beristirahat dibawah pohon nagasari yang cabangnya menaungi pinggir telaga.

Telaga itu berair bening, diatasnya terhampar teratai merah berkelompok, menambah keindahan lingkungan telaga itu. Tengah hari itu nampak ikan yang berbaris dan berseliweran didalam beningnya air, bagaikan bintang malam yang beralih tempat. Rasa tentram sekeliling telaga telah menghilangkan rasa penat berganti dengan rasa damai dalam dada. Sejenak Pamadi melupakan beban kewajiban dan sumpah serapah Surtikanti yang seringkali terngiang ditelinganya.

Link Pagelaran wayang yang bersangkutan dengan cerita diatas:

http://www.mediafire.com/?4835o9knidec75t

Mendung Diatas Mandaraka (2)


3. Rencana Salya adalah Air Mata Surtikanti.

Di dalam hati Prabu Salya berdesakan perasaan antara nurani bersih – rasa kepatutan – dan hasrat untuk mendapatkan sesuatu. Apapun cara itu, bagi Salya, yang penting terlaksana. Kedua rasa yang saling bertentangan itu bergulung campur aduk, hingga sekian lama Prabu Salya hanya duduk tegak bagai arca yang terhiasi busana. Setelah menarik nafas panjang, dan menetapan hati, berkata Prabu Salya kepada putranya.

“Putraku Rukmarata !!”

“Daulat Rama Prabu”. Jawab Rukmarata yang sedari tadi menunduk diam menunggu perintah dari ramandanya.

“Semoga dewata memberikan ijin dan meluluskan apa yang menjadi kemauan Pamadi.

Selama aku melihat kemenakanku, Permadi, berdesakan rasa dalam dadaku. Alangkah gembira rasa hati ini, pasti juga termasuk hati ibumu, bila kita bisa mendapatkan menantu Permadi, anak Pandu. Itu yang pertama.

Kedua, bila dilihat dari kenyataan bahwa dia bisa menjadikan kraton Mandaraka lebih indah, lagi pula menurut hitungan, Pamadi itu adalah salah satu satria yang terbiasa melakukan darma tanpa pamrih.

Ketiga, adalah kita ini bisa diibaratkan berusaha hendak mengumpulkan daging yang terpisah dan menautkan tulang yang renggang. Oleh sebab itu ada suatu cara yang bakal aku lakukan. Heh Rukmarata!”

“Daulat Rama Prabu, hamba akan setuju saja dengan pendapat Rama Prabu apapun itu. Putra juga berharap, semoga kehendak Rama Prabu dapat terlaksana”. Rukmarata telah paham apa yang menjadi jalan pikiran ramandanya. Dan benarlah, ketika Prabu Salya kali ini mengutus dirinya untuk memanggil kedua kakak perempuannya.

 “Hari ini aku kepengin kamu memanggil kedua kakak perempuanmu, Surtikanti dan Banuwati. Segeralah panggil keduanya”.

“ Baiklah, titah rama prabu akan putara laksanakan.“ Tanpa ada bantahan lagi, Rukmarata segera lengser dari hadapan ramandanya.

Demikianlah, tak lama kemudian Rukmarata telah kembali kehadapan Prabu Salya. Rukmarata telah datang dengan diiring oleh kedua kakaknya Surtikanti dan Banuwati. Surtikanti adalah putra kedua Prabu Salya, berwajah ruruh kalem. Wanita ayu, dan sosoknya sedang. Bila berbaur dengan wanita yang berbadan tinggi ia tidak kelihatan pendek, dan sebaliknya bila ada diantara wanita yang berbadan pendek, ia tidak kelihatan kelewat tinggi. Kulitnya  kuning langsat bersih bening bagaikan emas yang baru saja disepuh. Dengan sedikit senyum, cenderung serius. Ia berjalan sebelah kanan mengiring adik lelakinya.

Disebelah kiri Rukmarata, Banuwati berjalan dengan langkah gemulai. Sebagaimana kakaknya, Banuwati juga mempunyai paras yang demikian cantik. Bahkan ada sedikit kelebihannya bila dibanding dengan Surtikanti. Gadis putri Prabu Salya yang satu ini memang begitu kenes dan periang. Senyumnya selalu merekah dan matanya yang bulat agak liar dan dinaungi bulu mata lentik, membuat pria siapapun yang terkena kerlingannya seakan runtuh jantungnya. Setiap ucapan yang keluar dari bibirnya terdengar begitu manja dan mengundang perhatian siapapun baik wanita apalagi pria. Memang, putri Prabu Salya yang satu ini memiliki daya tarik kewanitaan yang begitu menakjubkan. Demikian juga selera busananya yang tinggi, walau sebenarnya kulit beningnya dapat membuat semua warna masuk tertata dalam sosoknya yang sintal.

Dan ketika ketiga putranya telah duduk dihadapan ramandanya, dengan senyum bangga, kali ini sejenak melupakan kesedihan hatinya. Ia melihat anak-anak wanitanya seperti halnya memandang asrinya kembang-kembang warna warni penghias istana Mandaraka. Maka kemudian berkata Prabu Salya.

“Anakku Surtikanti, dan Banuwati. Hmmm . . . . .  disamping kebahagiaan yang menggunung dalam dadaku ini melihat keberadaanmu berdua, bagimu sekalian juga aku melihat ada kebahagian yang terhampar dihadapanmu, seperti ujud dari turunnya wahyu sejati”.

Sejenak walau baru memulai pembicaraan, Salya berhenti berbicara memandang kedua putrinya bergantian. Surtikanti tetap menunduk sedang Banuwati dengan senyumnya memandang ayahandanya. Salya terseret ikut tersenyum melihat kemanjaan Banuwati. Terusnya.“Itu tidak lain adalah, bahwa aku telah menerima datangnya saudaramu, Permadi. Permadi itu perlu aku jelaskan dulu. Ia adalah putra dari Raja Astina dahulu, mendiang pamanmu Prabu Pandu Dewanata.

Terus apa sebab kamu berdua aku panggil? Begini, orang itu tak akan tahu kapan kebahagiaan itu bakal datang. Hari ini kamu berdua satu demi satu akan aku utus untuk mengajak mampir Pamadi, yang hari ini sudah mengatakan kesanggupannya mencari dimana hilangnya kakakmu Herawati.

Satu-satu dari kamu berdua hendaknya bisa merayunya dengan sikap mesra kalian Tariklah ia agar ia batal pergi mencari Herawati. Sebab menurut hitungan, masih banyak para orang yang kuat tenaganya dan awas mata hatinya, yang aku anggap dapat mencari keberadaan Herawati.

Tapi aku tahu watak Permadi yang kuat seperti mendiang ayahnya. Pasti ia dengan teguh akan tetap berangkat mencari kakakmu. Maka gagalkan maksudnya, jangan sampai Pamadi kukuh kemauannya. Ya kalau ia berhasil, kalau tidak, ia pasti akan malu kembali ke Mandaraka. Dan ini berarti, Mandaraka bakal kehilangan perhiasan yang indahnya tiada terkira”. Begitulah Salya telah menerangkan maksud hatinya dengan menguraikan kepada keduanya memakai bahasa yang menurutnya begitu jelas.

Namun Surtikanti, wanita yang mempunyai tata susila yang begitu genap, masih meragukan apa yang didengarnya. Maka ia dengan memberanikan diri menanyakan apa maksud dari perintah itu kembali.“ Rama, jadi apa yang harus hamba perbuat?”

“Ajaklah Permadi mampir di keputrenmu.”  Jawab Prabu Salya tegas.

“Duh Rama, nista apa yang akan hamba sandang. Yang sudah lumrah dan sampai saat ini masih berlaku, yang harus mendahului adalah pria. Bila ada seorang wanita yang berani mengajak pria, walau ia adalah saudara sendiri, maka . . . . .

 “Bagaimana? Bagaimana menurutmu . . . . ?!!” Belum lagi selesai Surtikanti menjelaskan, namun Prabu Salya sudah tahu arah pembicaraan Surtikanti. Surtikanti hendak menolak. Maka kata kata Surtikanti dipotongnya, kali ini lebih tegas.

Tetapi Surtikanti melanjutkan, “ . . . .bila ini terlihat oleh umum, apakah tidak jatuh martabat hamba dan wanita umumnya. Apakah hal ini malah akan menjatuhkan nama baik kami terlebih nama baik paduka rama Prabu. Terlebih Rama Prabu adalah . . . “

“Hayoh ajari aku . . . teruskan . . . . Salya kembali memotong. Ia mulai tidak senang, tetapi kemudian ia diam dan memberikan waktu untuk Surtikanti agar terus mengeluarkan unek-uneknya.

 . . .terlebih hamba adalah putra raja, dan ajaran perbuatan yang sering Paduka katakan, langkah walau sejangkah, dan ucapan walaupun sekalimat, akan haruslah pantas diteladani oleh para kawula. Ya kalaulah hamba sendiri yang melakukan, bila kemudian melebar kepada kelakuan wanita-wanita lain di Mandaraka, artinya hamba telah menyebar racun.”

“Mmmm tidak seperti anakku. . . . . . . “ Salya berkata dengan nada dalam “Memang benar yang kamu ucap. Aku tidak pernah lupa bahwa aku pernah juga mengajari tata cara seperti itu. Tetapi haruslah dilihat, bagaimana menggunakan dan bagaimana menerapkannya. Artinya, tidaklah aku menyuruhmu menjual diri menawar-nawarkankan. Tetapi semua ada waktunya dan ada tempatnya, dan sekarang waktunya untuk mengalah.  Merendahkan derajat, yang pada akhirnya perbuatan ini dikemudian hari akan menambahi nama baik Negara Mandaraka.”  Prabu Salya mencoba berkilah, walau tahu ia berkilah sekenanya.

“Mohon maaf rama, adakah cara lain bagaimana cara menaikkan nama baik Negara Mandaraka?”

“Misalnya? “

“Rama, akan lebih bertambah nama baik Negara Mandaraka bila sewaktu waktu paduka berkenan turun melihat keseharian para kawula, tidak hanya didalam negara dan kotanya saja, tapi haruslah sampai ke desa desa terpencil, melihat dengan mata kepala sendiri apa yang terjadi dengan lingkungan orang pinggiran. Dari situ rama bisa menjadikan yang keruh menjadi bening, yang ganjil menjadi genap, yang kurang ditambahkan. Itulah seharusnya yang dapat menaikkan martabat Negara Mandaraka . . . “

“Cukup!! . . . Cukup. . . .”  kali ini kesabaran Prabu Salya sudah tak dapat dibendung lagi. Dengan muka merah ia berkata ketus kepada Surtikanti, “Terlalu menggurui kata-katamu. Semua yang kamu ucapkan itu benar. Tetapi, sorga bagi orang tuamu itu adalah, bila mempunyai anak perempuan, haruslah anak itu patuh kepada kedua orang tua. Tetapi sebaliknya, bila kamu kepengin melihat pendek umur orang tuamu, cobalah untuk membantah perintah. Disitulah kamu akan kehilangan kedua orang tuamu! “

“Baiklah bila demikian  . . . . . .”  jawab Surtikanti yang menunduk semakin dalam. Bila ayahnya sudah marah, maka apapun alasan dan bantahan walau itu benar, akan ditampiknya. Maka kemudian ia memanggil nama adiknya, pelan.  “Banuwati . .”

“Apa kanda? “

“Bagaimana ini . . . ? “

“Aku ini lebih muda darimu kanda, jadi hanyalah menurut apa saja kehendak kanda. Aku hanya takut kepada rama prabu. Aku takut membantah perintah Rama Prabu. Lagipula dimana kewibawaan Rama Prabu bila kita sebagai anak selalu menyangkal apa yang diperintahkan orang tua.”  Jawab Banuwati enteng.

Mendengar jawaban anak perempuan yang ia sayangi ini, Prabu Salya menggeremang. “Yang lebih muda saja nalarnya matang…. padahal itu adikmu, yang lebih muda”.

Namun kemudian suaranya kembali jelas berkata,“Bagaimana Surtikanti?!”

“Baiklah, bila demikian . . . “ Pelan jawaban Surtikanti hampir berbisik, hingga Prabu Salya kembali bertanya, “Bagaimana?!”

Namun kembali Surtikanti diam, dan kemudian malah memanggil nama adik lelakinya, “Rukmarata . . .”

“Ya kanda . . “ jawab Rukmarata.

“Bagaimana?”

“Silakan kanda untuk menurut semua kehendak Rama Prabu”. Jawab Rukmarata memotong masalah.

“Baiklah Rama Prabu, hamba akan menuruti apa yang diperintahkan. Walau dengan berat hati, semua pasti akan menjadi ringan bila mengingat bahwa ini adalah perintah dari rama dan ibu.” Akhirnya Surtikanti-pun pasrah.

“Nah . .  harusnya begitu. Ha ha ha . tidak urung juga kamu menurut.”  Tertawa dipaksakan Salya mendengar jawaban Surtikanti. Kemudian sambungnya kepada Banuwati, “Banowati dari awal sampai akhir semua pembicaraan ini sudah kamu ketahui tak satupun yang terlewat”.

“Begitulah rama Prabu”.

“Nah sekarang pergilah, mumpung Pamadi belum begitu jauh. Lakukan menurut apa yang menjadi kata hatimu, aku percaya kepada kamu berdua”.

Maka kedua putri-putri itupun segera menghaturkan sembah dan undur diri dari hadapan Prabu Salya. Sesuai dengan perintah, maka satu demi satu dimulai dari Surtikanti, mencoba untuk menggagalkan kepergian Arjuna.

—————————————————————————————————

Sementara diluar istana, para punakawan Pamadi yang lain, Gareng, Petruk dan Bagong menunggu dengan tidak sabar. Maka ketika dilihat ayah dan bendaranya, Pamadi, nampak keluar dari pendapa, ketiganya segera menghambur kearah datangnya orang orang-orang yang ditunggu.

“Gong, nggak seperti rencana kita ya, ketika itu Raden Pamade melihat pemberitahuan adanya sayembara itu. Kita berempat diajak semua ke Mandaraka. Tapi kok hanya mereka berdua yang masuk ke istana. Mereka pasti dapat suguhan. Pasti melimpah ruah suguhan makanannya ya Gong?!! Lha kita disini hanya membaui saja sampai kita jadi semakin lapar. Eee . . boro-boro mereka ingat, menyuruh orang mengantarkan makanan kemari saja nggak dipikirkan”. Petruk yang kesal menumpahkan unek-uneknya yang terbawa rasa lapar yang dari tadi ditahannya.

“Lho iya, semuanya kan hanya soal tebal tipisnya rasa kemanusiaannya, begitu . . ! makanya liat itu, Semar diam saja. Sepertinya ia tersedak centong. Mau ditelan susah, dikeluarkan  apa lagi, lebih susah. Makanya liat saja kang, dia diaaam saja”. Bagong tidak mau kalah, malah Semar di sindirnya.

“Eeeh anak ini ngomong seenaknya. Apa kamu pikir aku didalam disuguh makanan enak? Aku didalam itu cuma menelan ludah, tahu!! Yang lain pada minum seger, tapi aku nggak diberi layanan”. Kali ini Semar ganti jengkel. Terpancing sindiran Bagong.

“Kalau dibegitukan aku nekat Ma!!” Gareng ikut nimbrung bicara.

“Eeeeeeeh . . . nekat macam mana?”

“Misalnya pelayan yang meladeni, kamu cegat. Katakan mau kasih minum aku, apa nyawamu hilang , begitu.!”

“Itu namanya ngaco!!” jawab Semar memutus.

“Tapi ngomong-ngomong, kok lama bener to, ma?” Kembali Petruk menanyakan sebab musabab lamanya ia naik ke pendapa.“Lha mestinya singkat saja, minta restu, Raden Pamadi mau ikut mencari putri paduka, dewi Herawati. Itu saja cukup”.

Tidak mau disalahkan, lalu Semar menceritakan bagaimana Permadi diperlakukan oleh Prabu Salya dengan cerita cerita haru di sidang tadi, tapi dengan dibumbui serba lucu.

“Dari itu aku jadi kelamaan disana, sambung Semar. Malah setelah itu, saking senengnya Prabu Salya sama bendaramu dan aku, aku disuguhinya makan nasi kuning, telornya tiga butir”. Sekarang Semar mulai ngambul. Ketiga anaknya menelan ludah.

“Lha mbok aku dibagi to ma. Lah kamu makan disana sendirian, terus kamu ceritakan disini. Apa itu bukan namanya bikin orang jadi kepingin. Ngiming-imingi gitu!”.

“Hanya untuk aku saja, wong cuma sepiring itu. Tapi aku juga diberi lauk emping yang luebar. Juga dilengkapi timun diiris iris. Timun dibumbu kemiri, kamu gumun (heran) aku pameri.”

“Lha, rama malah berpantun. Apa juga dikasih buah ma?”

“Ooh tentu. Aku disuguhi mangga Pertanggajiwa, asalnya dari Kahyangan”.

“Waaah rama itu malah cuma bikin ngiler saja. Tapi manis ma mangganya?” sekarang Gareng yang ganti nanya.

“Maniiiiiss . . . .  !!“

“Asin ma?”  Tanya Bagong ngawur.

“Aaaassiiiinn”. Walau ngawur, Semar tetap menjawab.

“Mangga itu aku habis tiga butir”. Semar makin menambah-nambahi bualannya.

“Aduuh apa rama nggak inget aku diluaran yang kelaparan itu ma?” tanya Petruk yang perutnya makin keroncongan dan air liurnya menetes.

“Ngggaaak tuh. Kamu juga kalau dapat rejeki juga kamu telan sendiri. Ngapa saya harus ingat kamu?”

“Tapi aku kan anakmu to ma? Lumrahnya orang tua itu mesti ingat sama anak, begitu kan ma?”

“Emaaang, tapi bagaimana sifat anaknya. Aku nggak ingat kamu itu karena bagaimana tingkah lakumu”.

“Yang mana?”  tanya Petruk membela diri.

“Yang itu. Kamu kenduri, orang lain diundang dioleh-olehi besekan, malah aku kamu lewati”. Petruk diam merasa salah. Pura pura tidak bersalah malah ia menanya lagi.

“Lha anu ma, minumannya kamu dikasih apa?”

Eeeeh . . . .  ya macam-macam. Ada legen, ada segala macam air tape”. Semarpun tetap menanggapi Petruk dengan bualannya yang makin membuat mereka menelan ludah.

“Aduuuh Gong, kyaine makan minum enak begitu, kok kita cuma disuguhi ceritanya doang. Menurutmu bagaimana Gong?”

“Biar saja. Aku tutup kuping kok. Lihat saja nanti kalau aku jajan, Semar bakalan aku iming-imingi, kapok dia nanti”. Jawab Bagong kesal.

“Eeeeehh . . . aku sudah kenyang, kamu mau apa?”

Merasa kalah, Bagong diam. Tapi Petruk nyerocos terus tanya hal yang lain. Pikirnya kalau terus-terusan ngomong makanan, pasti akan membuat perutnya makin mules “Terus kyaine disuruh duduk dimana?”

“Aku dipersilakan duduk dilantai yang diberi alas karpet tebal. Rupanya dianya sangat menghormati aku”.

“Dianya itu siapa?”

“Ya itu, Prabu Salya. Sewaktu aku duduk disitu aku dikipasi tiga orang.”

Kesal Petruk menanya sekenanya.”Lho dikipasi kok tidak mendidih?

“Lho apa aku kamu anggap anglo, begitu? Eeeee selesai cuci mulut, aku disuguhi kopi panas”. Kembali Semar membual soal makanan. Tetapi Petruk masih juga menanggapi.

“Lha iya to?”

 “Temen minum kopinya, pisang kepok”

“Digoreng?”

“Nggak cocok, dibakar! Dalamnya diisi gula jawa.”

“Habis berapa?”

“Cuma habis tiga!!!” kembali Semar menyebut bilangan tiga.

“Truk, disekitar sini ada tempat sepi nggak?!” Kesal, Bagong ngomong ketus.

“Mau apa Gong?”

“Anu . . . ., Semar mau aku rogoh perutnya. Geregetan aku, disini ndomble kelaparan malah cerita makanan enak”.

Tapi Semar makin menjadi-jadi “ Eeeeh . . . Ada lagi, aku juga disuguhi lemper”.

“Sudah kenyang begitu masih juga makan lemper? “ Tanya Petruk.

“Lha iya. Dalemnya isi abon. Setelah itu juga ada arem-arem.”

Gareng sekarang yang tanya, “Apa badanmu bisa gerak ma?”

“Suka-suka aku. Ini badan-badanku sendiri. Mau bergerak, ini badanku, nggak juga badanku. Masih ada lagi suguhan, uli ketan. Lemang. Habis lemang . . . .”

“Apa nggak modar aja kamu ma? Orang nggak inget anak, malah kamu pameri anakmu?”  kali ini Gareng yang sewot.

“Eeeeh he he he  . . . .   itu kalau disuguhi beneran. . . . “ Akhirnya setelah puas meledek, Semar terkekeh kekeh. Puas meledek ia berkata, “Sebenarnya begini, momonganmu itu disana malah disuruh jangan ikut-ikutan mencari hilangnya Erawati. Kalau mau beristri cantik pilih saja satu diatara anakku, kata Sinuwun Salya. Kamu mau pilih Surtikanti atau Banuwati silakan saja. nDara Pamadi tetap kukuh. Tapi, menurut gelagat, pasti momonganmu bakal dicegat. Lihat saja.”

“Lha itu apa. ndara, itu siapa yang datang kemari?”  Tanya Petruk ketika melihat wanita cantik datang diiring para dayangnya.

Benar saja. Surtikanti bejalan mendekat kearah mereka. Skenario ayahnya telah mendorongnya menemui Pamadi. Setelah mendekat dan Surtikanti tak kunjung membuka mulut, Pamadi menanya terlebih dulu.

“Siapa nama andika, Raden Ayu?”

“Adimas walaupun baru kali ini aku kenal denganmu, anggaplah kalau aku dan kamu sudah kenal lama “  bukannya menjawab nama, malah Surtikanti mencoba langsung melakukan pendekatan.

Sejenak Pamadi diam, kemudian katanya , “Apakah saya harus berlaku bohong. Sebab pada kenyataannya baru kali ini aku mengenalmu Raden Ayu. Kecuali itu, saya adalah seorang satria yang harus selalu memegang teguh jiwa kesatrianya. Bila diketahui orang banyak aku berlaku sembrono, maka tidak urung dewata akan mengutuk perbuatanku.”

“Kata-kamu memang benar Pamadi, tapi itu hanya berlaku untuk orang lain. Tapi bagiku harusnya tidak begitu”. Surtikanti gugup, tapi kemudian ia mencoba kembali membela diri.

“Bagiku setiap pergaulan haruslah tidak membeda bedakan. Apalagi dalam pergaulannya dengan wanita. Saudara atau bukan, aku harus menjunjung drajat kaum wanita, selalu menjaga kesusilaan dan selalu menjaga keutamaannya. Kalaulah aku berani berlaku ceroboh, sembrono apalagi sampai menabrak kesusilaan, alangkah nistanya aku. Boleh dikata adalah orang yang tidak ada harganya sama sekali”.

“Apakah kamu sudah tahu siapa aku Pamadi?”

“Terlebih lagi, bagiku andika belum aku kenal. Bagiku andika mengajakku lebih dekat lagi, apakah tidak namanya membuat aku kecewa nantinya”.

“Aku putri kedua Prabu Salya, setelah kanda Herawati, namaku Surtikanti, Pamadi”

“Ya raden ayu”. Pamadi tidak berubah sikap setelah tahu dihadapannya adalah Surtikanti.

“Jangan lagi menyebutku raden ayu, sebut aku kanda saja. apalagi kita jelas hitungannya. Bila kamu dan aku hubungannya tidak jelas, dalam kebiasaannya sudah menyebutkan, bila kita  duduk berdua selama setengah hari, maka rasanya sama seperti kita sudah menjadi kerabat dekat saja. Lebih dari itu, jangan berlaku sungkan terhadapku, Pamadi.” Jurus pendekatan terus Surtikanti jalankan, maka sambungnya, “Pamadi, orang tampan itu tetaplah lestari tampan bila tidak pernah membuat sakit hati wanita”.

“Kalau menurutku hal itu adalah kebalikannya. Kanda dewi, janganlah menilai orang dari ketampanan wajah. Tetapi haruslah sampai kepada ketampanan rasa. Sedangkan yang namanya ketampanan atau kecantikan rasa adalah, bila ia mampu bergaul dengan semua golongan tanpa membedakan pangkat dan derajat. Tetapi bila diukur dengan ketampanan lahiriah tidak urung akan seperti halnya burung yang tidak mampu mengepakkan sayapnya”.

Surtikanti pura-pura tidak mendengar omongan Pamadi dan ia kemudian mengganti pembicaraan. “Orang orang semua mengatakan, orang tampan kok ganjil”.

Ganjil yang dimaksud bagaimana, kanda Dewi?.

“Kainmu sudah lusuh, sabukmu sudah pudar warnanya. Sedangkan wrangka kerismu seakan tak pernah digosok. Adimas, kalau orang-orang mengetahui, bahwa adimas adalah masih kerabat Mandaraka, alangkah malunya aku. Oleh sebab itu dimas, ayolah mampir dulu ke keputrenku. Bebersihlah, dan disana akan aku suguhkan air. Walau hanya seteguk, minuman itu biarlah menjadi pelepas dahaga. Adimas juga telah aku sediakan kain pengganti walau hanya selembar, tapi kain itu adalah kain batik yang aku buat sendiri”.

“Terus terang saja kanda dewi, kalau ada seorang satria, yang berhenti melakukan darma karena dari rayuan wanita, maka hidupnya akan menjadi nista. Ya kalau kenistaan itu berlaku hanya untuk diri sendiri, kalau hal ini merambah ke seluruh keluarga, maka hal ini akan menyebabkan kesengsaraan bagi seluruh keluarga”.

“Ya benar, tapi ini beda”. Jawab Surtikanti yang sebenarnya sudah kesal dan hampir putus asa. Tetapi ia masih ingat kepada orang tuanya. Karena itu ia  masih mencoba bertahan

“ Apa bedanya.”

“Aku ini kerabatmu”.

“Hal seperti tadi aku katakan, tidak memandang siapapun . . .”. Pamadi menjawab terus terang. Namun ketika melihat Surtikanti membalikkan badan, serasa ia hendak menarik ucapannya. Tapi terlanjur diam ketika kemudian Surtikanti berkata terputus-putus.

“Nista benar aku ini. Telah aku bela-belakan pasang badan soroh jiwa, hanya untuk dijenguk tempat keputrenku. Tetapi ditolaknya aku. Kau pandang aku layaknya daun kering yang sama sekali tidak punya harga . . . . ”.

Surtikanti sudah ada dalam puncak keputus asaan. Tidak ada lagi cara baginya untuk mengajak mampir Pamadi. Ia telah merasa gagal menjalankan perintah ayahandanya, menggagalkan keberangkatan Pamadi. Hatinya menangis bahkan menjerit. Namun tidak ada sepatah kalimatpun yang keluar dari mulutnya kali ini. Hanya ujud kewadagannya saja yang menandai bahwa Surtikanti begitu perih hatinya, yaitu air matanya yang butir demi butir mengalir.

Link pagelaran Ki Nartosabdo yang bersangkutan dengan cerita diatas: http://www.mediafire.com/?cwzi5tddin9w6zj

Salya Membuka Rahasia Kematiannya


narasoma_solosalya_solo

Salya Membuka Rahasia Kematiannya

Waktu muda bernama Narasoma. Ia anak Prabu mandrapati raja Mandaraka. mempunyai adik perempuan bernama Madrim menikah dengan Pandu berputra kembar, Nakula Sadewa. Istrinya bernama Pujawati (Satyawati) putri Begawan raseksa Pinandita di padepokan Arga Belah.

Menjelang berakhirnya Baratayuda raja Salya diangkat menjadi panglima perang Astina. Pengangkatan itu telah menarik perhatian Pandawa mengingat kesaktian raja Mandaraka itu tidak ada tandingannya. ia memiliki aji Candra birawa yang dapat menciptakan ribuan raseksa ganas pemangsa manusia. Konon apabila darahnya menciprat benda, maka benda itu akan menjadi raseksa. Dapat dibayangkan apabila banyak darah bercipratan, akan bermunculan pula raseksa-raseksa lain dan arena peperangan lainnya akan dipenuhi oleh makhluk-makhluk pemangsa itu.

Menurut Kresna sekalipun Salya sakti tiada tanding gagah tak ada lawan, batinnya lebih menyayangi Pandawa. Berpihaknya kepada Kurawa karena terjebak kelicikan Sakuni. Padahal semula ia akan membantu Pandawa. Untuk mengetahui rahasia kelemahannya, diutuslah nakula Sadewa menghadap uwaknya.

Demikianlah tatkala nakula Sadewa menghadap Salya, dengan nada sendu si kembar berkata: “Duh, uwak Prabu, kedatangan hamba menghadap paduka, hanya untuk menyerahkan jiwa raga hamba berdua. Hamba malu oleh saudara-saudara hamba, apabila balatentara Pandawa dan saudara-saudara hamba akan dengan mudah paduka hancurkan. Kesaktian paduka tiada tandingannya. Karena itu hamba berdua ingin didahulukan dibunuh sebelum paduka berhadapan dengan mereka,” ujarnya memelas.

Continue reading Salya Membuka Rahasia Kematiannya