Tag Archives: mahabharata

MAHABHARATA 46 – HARI KETUJUH


Di hari ketujuh, pasukan Kaurawa diatur dalam formasi lingkaran-lingkaran *) (Mandala/Galaxy Vyuha). Masing-masing lingkaran dilengkapi dengan pasukan gajah dan tujuh kereta. Setiap kereta dinaiki seorang perwira yang memimpin sepuluh prajurit pemanah; setiap prajurit pemanah dikawal oleh sepuluh prajurit penangkis panah. Semua prajurit membawa senjata lengkap. Di tengah-tengah formasi lingkaran-lingkaran itu, Duryodhana berdiri gagah, bagaikan Batara Indra dari kahyangan. Ia mengenakan pakaian kebesaran, lengkap dengan atribut dan senjata-senjata saktinya.

Di pihak Pandawa, Yudhistira mengatur pasukan Pandawa dalam formasi wajrawyuha atau formasi halilintar.

formasi vajra vyuha

Pertempuran di hari ketujuh berlangsung sangat sengit. Matahari belum sepenggalah tingginya ketika terjadi pertarungan satu lawan satu di seluruh padang Kurukshetra: Bhisma berhadapan dengan Arjuna, Drona dengan Wirata, Aswatthama dengan Srikandi, Duryodhana dengan Dristadyumna, Salya dengan Nakula dan Sahadewa, Raja Awanti bersaudara, Winda dan Anuwinda dengan Yudhamanyu, Kritawarma – Citrasena – Wikarna – Durmarsa dengan Bhimasena. Continue reading MAHABHARATA 46 – HARI KETUJUH

MAHABHARATA 45 – HARI KEENAM


Kedua Pihak Berusaha Keras untuk Menang.

Pada hari keenam, sesuai perintah Yudhistira, Dristadyumna menyusun balatentara Pandawa dalam formasi makara (supit urang), yaitu sejenis udang besar yang kepalanya bertanduk. Sementara itu, pasukan Kaurawa diatur dalam formasi krauncha, yaitu sejenis burung bangau raksasa .

siasat-perang-sapit-urangFormasi Perang Makara/Supit Urang *)

Formasi Krauncha VyuhaFormasi Perang Krauncha Vyuha (Burung Bangau) **)

Pertempuran hari ke enam ditandai dengan tewasnya lebih banyak prajurit di kedua belah pihak. Hari masih pagi ketika Pandawa membunuh sais kereta Drona. Karena itu, Drona sendiri yang mengemudikan keretanya, sambil terus bertempur dengan garang . Continue reading MAHABHARATA 45 – HARI KEENAM

Mahabharata 44 – Pahlawan-Pahlawan Muda Berguguran


 kurukshetra_2

Hari KEEMPAT

Pada hari keempat, pagi-pagi benar Bhisma, Drona dan Duryodhana telah mengumpulkan balatentara Kaurawa. Siapakah yang tidak takjub melihat keperkasaan pasukan Kaurawa? Hari itu Bhisma menyiagakan pasukan-pasukan yang mengusung persenjataan berat, pasukan berkuda dan penunggang gajah. Kesatria tua itu tampak perkasa, berdiri tegap di kereta perangnya bagaikan Batara Indra yang sedang mempersiapkan pertempuran di angkasa.

Arjuna melihat Bhisma memerintahkan pasukan-pasukan Kaurawa untuk maju. Ia sendiri sudah siap di keretanya.

Begitu matahari terbit, sangkakala ditiup, tanda peperangan dimulai. Pagi-pagi benar Abhimanyu telah dikepung oleh Aswatthama, Bhurisrawa, Citrasena, Salya dan Cala, putra Salya. Putra Arjuna yang masih muda itu bertarung dengan sengit, bagaikan seekor singa menghadapi lima ekor gajah. Belum lama berperang, dia sudah berhasil membunuh Cala. Melihat putranya tewas mengenaskan, Salya sangat marah dan menantang Dristadyumna. Tetapi sebelum Dristadyumna sempat membalas tantangannya, Abhimanyu sudah menyerang Salya. Raja itu pasti kalah kalau tidak segera dibantu oleh Duryodhana dan saudara-saudaranya.

Melihat Abhimanyu dikeroyok, Bhima cepat-cepat memberikan bantuan. Saudara-saudara Duryodhana ngeri melihat Bhima mendekat sambil mengacung-acungkan gada besi yang luar biasa besarnya dan menggeram-geram seperti singa. Mereka gemetar ketakutan. Duryodhana marah melihat saudara-saudaranya ketakutan. Ia mengerahkan ratusan gajah untuk menerjang Bhima. Melihat ratusan gajah berlari ke arahnya, Bhima meloncat dari keretanya siap menghadang mereka dengan gada terayun-ayun. Dihadang seperti itu, gajah-gajah itu lari tunggang-langgang ketakutan. Banyak yang mati terkena hantaman gada Bhima atau terinjak-injak gajah lain. Bangkai binatang raksasa itu bergelimpangan dan tak sedikit prajurit Kaurawa yang mati terlindas gajah yang lari tunggang-langgang karena panik. Continue reading Mahabharata 44 – Pahlawan-Pahlawan Muda Berguguran

Mahabharata 43 – Perang Hari Ketiga


siasat-perang-wulan-tumanggal

Ketika fajar hari ketiga perang Bharatayudha menyingsing, Duryodhana tidak bisa lagi menahan kekesalannya pada Bhisma, terutama karena kekalahan Kaurawa sehari sebelumnya. Ia naik pitam dan amarahnya ditumpahkannya kepada kesatria tua itu. Katanya, ia tahu Bhisma sengaja membiarkan balatentara Kaurawa kalah dan dipermalukan karena mundur dan lari tunggang langgang meninggalkan medan perang. Ia juga menuduh Bhisma sengaja bertindak demi keuntungan Pandawa. Katanya, “Kenapa engkau tidak berterus terang bahwa engkau lebih mencintai Pandawa? Bukankah Satyaki dan Dristadyumna adalah teman-teman karibmu? Jika kau memang mau, kau pasti bisa menaklukkan mereka dengan mudah. Seharusnya kau berterus terang, hingga kekalahan kemarin tidak terjadi.”

Bhisma sudah bosan mendengar keluh kesah dan omelan Duryodhana. Dengan tenang ia menjawab bahwa sejak semula ia tidak setuju mereka berperang. Katanya kepada Duryodhana, “Engkaulah yang menolak nasihatku. Engkau juga yang menginginkan perang. Aku sudah berusaha menghindarkan peperangan ini. Tetapi aku gagal. Sekarang, aku laksanakan kewajibanku dengan sekuat tenaga. Bagiku, ini tugas mulia dan kulakukan ini dengan seluruh jiwaku meskipun aku sudah tua.”

Setelah berkata demikian, Bhisma mengatur balatentaranya dalam formasi burung garuda. Ia sendiri berdiri paling depan, di ujung paruh garuda. Duryodhana berada di belakang, sebagai kekuatan pada ekor garuda. Segala sesuatu diatur rapi agar kekalahan besar yang terjadi pada hari kedua tidak terulang.

Pandawa tidak ketinggalan. Dengan cermat mereka memperhitungkan kemenangan di hari kedua agar pada hari ketiga bisa menang lagi. Dristadyumna dan Dhananjaya mengatur pasukan mereka dalam formasi bulan sabit untuk menghadapi formasi burung garuda yang digelar pasukan Kaurawa. Di ujung kanan formasi bulan sabit berdiri Bhima, di ujung kiri berdiri Arjuna. Masing-masing memimpin sepasukan balatentara yang tangguh.

Pertempuran hari ketiga berlangsung sengit. Kedua pihak sama-sama kuat. Anak panah berlesatan di udara bagaikan hujan di siang yang cerah. Pasukan berkuda dan penunggang gajah saling menerjang dengan dahsyat. Hentakan kaki-kaki binatang itu membuat debu beterbangan membubung ke angkasa. Continue reading Mahabharata 43 – Perang Hari Ketiga

Mahabharata 42 – Perang Hari Kedua


krishna-arjun-wallpaper-04

Duryodhana sangat senang karena di hari pertama Kaurawa berhasil memetik kemenangan. Ia berkata lantang di depan seluruh balatentara Kaurawa, seakan kemenangan akhir sudah di tangan.

Sebaliknya, pihak Pandawa menderita kekalahan besar. Mahasenapati Dristadyumna menyusun siasat baru agar tak banyak korban berjatuhan di pihak Pandawa.

Arjuna berkata kepada Krishna, sais keretanya, kalau pertempuran seperti kemarin terjadi lagi, maka balatentara Pandawa pasti hancur musnah dalam waktu singkat. Ia berpendapat, yang pertama-tama harus disingkirkan adalah Bhisma.

“Kalau memang demikian pendapatmu, bersiaplah! Kita hancurkan kereta Bhisma!”  jawab Krishna sambil melecut kudanya menuju kereta Bhisma.

Dari jauh Bhisma melihat kereta Arjuna datang mendekat. Cepat-cepat ia lemparkan berpuluh-puluh tombak ke arah Arjuna, susul-menyusul. Melihat Bhisma diserang, Duryodhana memerintahkan anak buahnya untuk melindungi Bhisma dari serangan musuh, terutama serangan Arjuna. Semua tahu, tidak ada yang bisa menandingi Arjuna, kecuali Bhisma, Drona dan Karna. Tetapi, kali ini dengan dahsyat Arjuna menyerang Bhisma. Dari atas keretanya yang berlari kencang bagai petir menyambar-nyambar, Arjuna bahkan mampu menghancurleburkan bala bantuan yang dikirim Duryodhana. Demikianlah, setiap penghalang disapu bersih bagai alang-alang kering dijilat api di musim panas. Continue reading Mahabharata 42 – Perang Hari Kedua

Mahabharat 40 – Saat-Saat Sebelum Perang


OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Hampir semua orang sudah siap berperang. Kedua belah pihak telah berkumpul di kubu masing-masing. Demi kehormatan dan kemuliaan perang kaum kesatria, mereka bertekad untuk memegang teguh aturan-aturan perang dalam melancarkan serangan dan gempuran terhadap lawan.

Perang di jaman itu dibatasi dengan aturan-aturan yang berbeda dengan aturan di jaman-jaman yang kemudian.

  • Menjelang matahari terbenam, perang harus dihentikan dan masing-masing pihak kembali ke kubu pertahanan untuk beristirahat. Sering terjadi, pihak-pihak yang bermusuhan berkumpul dan bergaul bebas dalam suasana persaudaraan selama matahari berada dalam peraduannya. Mereka melupakan segala peristiwa yang terjadi siang harinya. Tidak seorang pun dibenarkan mengangkat senjata atau mengepalkan tinju di malam hari .
  •  Pertarungan satu lawan satu hanya boleh dilakukan di antara dua pihak yang setara. Tidak seorang pun boleh berbuat sesuka hati di luar aturan-aturan dan norma-norma yang telah ditetapkan dalam dharma. Yang mundur atau yang terjatuh, apalagi yang menyerah, tidak boleh diserang atau dipukul lagi.
  • Seorang prajurit berkuda hanya boleh diserang oleh seorang prajurit berkuda; demikian pula prajurit berkereta dan penunggang gajah. Prajurit yang berjalan kaki hanya boleh diserang oleh lawan yang seimbang.
  •  Tidak seorang pun boleh membela kawan atau menyerang lawan yang sedang bertarung satu lawan satu.
  • Orang yang tak bersenjata tidak boleh diserang dengan senjata. Jadi, orang-orang dari kelompok bukan prajurit, misalnya pemukul genderang, peniup trompet dan barisan penolong korban perang, tidak boleh diserang.
  • Mereka yang lari menyerah ke pihak lawan tidak boleh dianiaya atau dibunuh.

Continue reading Mahabharat 40 – Saat-Saat Sebelum Perang

Mahabharata 39 – Pelantikan Mahasenapati


drestajumena_solo

Sekembalinya Krishna alias Gowinda ke Upaplawya, ia segera menemui Pandawa dan menyampaikan laporan kepada Yudhistira. Ia laporkan pertemuannya dengan tokoh-tokoh penting di Hastinapura dan pertemuannya dengan Dewi Kunti, ibu Pandawa.

“Kini tidak ada lagi harapan untuk berdamai. Duryodhana bersikeras, tetap ingin berperang melawan kita. Sekarang kita harus bersiap-siap untuk menghadapi perang besar di padang Kurukshetra!”  demikian Krishna mengakhiri laporannya.

Setelah mendengarkan laporan Krishna, Yudhistira mengajak saudara-saudaranya berunding. Mereka membagi pasukan perang Pandawa menjadi tujuh kelompok, masing-masing dipimpin seorang senapati, yaitu Drupada, Wirata, Dhristadyumna, Srikandi, Satyaki, Chekidana dan Bhimasena. Setelah itu mereka merundingkan, siapa yang pantas dipilih menjadi Senapati Agung.

Yudhistira berkata, “Kita harus memilih dan melantik satu dari tujuh panglima ini menjadi Mahasenapati atau Senapati Agung yang mampu menghadapi Bhisma dan sanggup memusnahkan musuh kita. Ia juga harus pandai memimpin balatentara kita, setiap saat dan dalam segala keadaan. Menurut kalian, siapakah yang paling pantas memikul tanggung jawab seberat itu?” kata Yudhistira sambil berpaling pada Sahadewa.

Sahadewa menanggapi, “Sebaiknya kita lantik Wirata menjadi Senapati Agung kita. Dialah yang menolong kita selama kita hidup dalam penyamaran dan berkat bantuannya hati kita tergugah untuk merebut kembali kerajaan kita.” Continue reading Mahabharata 39 – Pelantikan Mahasenapati