Tag Archives: mahabharat

Mahabharata 31 – Hidup dalam Penyamaran


abilawa

“W ahai Brahmana yang budiman, tahun ketiga belas masa pengasingan kami telah tiba. Kini tiba waktunya untuk berpisah. Selama dua belas bulan mendatang kami harus hidup tanpa diketahui dan dikenali oleh matamata Duryodhana. Kami tidak tahu, kapan kita bisa bertemu lagi tanpa sembunyi-sembunyi dan dalam keadaan bebas dan damai. Sekarang, sebelum berpisah, kami mohon restumu. Doakan kami, semoga kami terhindar dari pengkhianatan orang-orang pengecut yang menginginkan hadiah dari Duryodhana,” kata Yudhistira kepada Resi Dhaumya yang setia menyertai Pandawa dalam pengasingan. Pangeran itu tak dapat menahan rasa harunya. Suaranya bergetar dan wajahnya sedih.

Resi Dhaumya menghibur, “Berpisah memang berat. Bahaya dan malapetaka akan bertambah banyak dan bertambah besar. Tetapi, engkau orang yang bijaksana dan terlatih, tak dapat digoyahkan atau digertak musuh. Menyamarlah! Setelah dikalahkan raksasa, Batara Indra hidup menyamar sebagai brahmana dan tinggal di Negeri Nishada tanpa diketahui atau dikenali oleh siapa pun. Setelah menjalani penyamaran dengan baik, Batara Indra dikaruniai kemampuan untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Demikian pula Batara Wishnu yang menyamar menjadi bayi Aditi untuk merampas kembali kerajaannya dari Maharaja Bali. Batara Narayana menyamar masuk ke dalam senjata Indra untuk menghancurkan Writa, raja raksasa yang kejam. Batara Wishnu pernah menyamar menjadi anak Dasaratha agar dapat memusnahkan Rahwana. “Demikianlah, banyak dewa dan kesatria agung di jaman dulu yang menyamar demi tujuan yang baik dan luhur. Engkau pun hendaknya demikian, menyamar, menghancurkan musuh-musuhmu dan memenangkan kemakmuran bagi saudara-saudara dan rakyatmu.”

Akhirnya Yudhistira berpisah dengan Resi Dhaumya. Semua pengikut Pandawa diminta kembali ke negeri masing-masing. Kemudian ia mengumpulkan saudara-saudaranya di suatu tempat tersembunyi untuk membicarakan langkah-langkah yang akan mereka tempuh. Pertemuan itu sangat rahasia, sebab jika sampai ketahuan oleh Kaurawa, mereka harus menjalani pengasingan selama dua belas tahun lagi.

Yudhistira berkata kepada Arjuna, “Dua belas tahun sudah kita jalani dengan selamat. Di tahun ketiga belas ini, kita harus hidup menyamar. Di antara kita, engkau yang punya pengalaman paling banyak dan engkau pula yang mengetahui keadaan dunia. Menurut pendapatmu, negeri manakah yang paling cocok untuk tempat tinggal kita?”

“Kakanda Raja, engkau telah direstui Batara Yama. Menurutku, tak sulit bagi kita untuk mencari tempat persembunyian. Banyak negeri yang baik untuk tempat bersembunyi, misalnya Panchala, Matsya, Salwa, Wideha, Bhalika, Dashrana, Surasena, Kalingga dan Magadha. Terserah padamu, mana yang akan dipilih. Tetapi, jika kau minta pendapatku, Matsya, negeri Raja Wirata, adalah pilihanku,” jawab Arjuna. Continue reading Mahabharata 31 – Hidup dalam Penyamaran

Mahabharata 27 – Pengembaraan di Rimba Raya


Savitri satyawan

Kaum brahmana yang dulu bersama-sama Yudhistira di Indraprastha setia menyertainya dalam pengasingan di hutan. Tidak mudah mengatur dan membiayai rombongan yang sangat besar itu. Resi Lomasa menasihati Yudhistira agar memperkecil rombongannya supaya pengembaraan lebih lancar, terutama ketika berziarah ke tempat-tempat suci di hutan.

Atas saran tersebut, Yudhistira memberi tahu pengikut-pengikutnya bahwa mereka yang tidak biasa menghadapi kesulitan dan mengikutinya hanya karena berbela rasa, sebaiknya kembali ke Negeri Astina yang diperintah Raja Dritarastra atau ke Negeri Panchala yang diperintah Raja Drupada. Selanjutnya, Yudhistira menyerahkan sepenuhnya kepada para pengikutnya cara apa yang mereka anggap paling baik dan sesuai dengan kesanggupan mereka.

Dalam pengembaraan dari satu tempat suci ke tempat suci lainnya di dalam hutan, Pandawa mendengar, melihat, dan mengalami berbagai keadaan dan situasi yang membuat mereka yakin bahwa masa depan mereka akan baik.

Sebagai suri teladan, Resi Lomasa menceritakan kisah Resi Agastya kepada mereka,

“Pada suatu hari, Agastya melihat roh manusia berdiri terbalik, kepalanya di bawah dan kakinya di atas. Karena anehnya, ia bertanya kepada makhluk itu dan dijawab bahwa makhluk itu adalah nenek moyangnya sendiri yang telah meninggal dunia. Ia mengalami nasib demikian karena keturunannya tidak mau kawin dan tidak punya anak yang wajib mengadakan upacara-upacara persembahyangan untuk roh nenek moyang. Mendengar hal itu, Agastya langsung memutuskan untuk kawin.

“Terkisahlah bahwa raja Widarbha tidak punya anak. Raja itu kemudian memohon restu kepada Resi Agastya agar ia dikaruniai anak. Pada waktu memberikan restu, Agastya mengucapkan kutuk-pastu, yaitu: jika anak yang lahir perempuan, anak itu harus diserahkan kepadanya untuk dikawini.

“Ketika tiba waktunya, lahirlah seorang putri jelita yang kemudian diberi nama Dewi Lopamudra. Semakin dewasa semakin sempurnalah kecantikannya. Dewi Lopamudra termasyhur di kalangan para kesatria, tapi tidak seorang pun berani mendekatinya karena takut pada Resi Agastya.

“Pada suatu hari, Resi Agastya datang ke istana Raja Widarbha untuk menagih janjinya. Tetapi Raja Widarbha keberatan. Dia tak mau menyerahkan putrinya yang cantik itu kepada resi tua yang hidup menyendiri di dalam hutan. Raja cemas kalau-kalau kutuk-pastu sang Resi akan menjadi kenyataan. Mengetahui kecemasan dan kesedihan orangtuanya, Dewi Lopamudra justru menyatakan keinginannya untuk kawin dengan resi itu.

“Setelah disepakati, perkawinan dilangsungkan sebagaimana mestinya. Sebelum memboyong istrinya ke hutan, Resi Agastya menyuruh Dewi Lopamudra melepas semua perhiasannya dan mengganti pakaiannya yang mewah dan mahal. Istrinya harus bersedia hidup sederhana sesuai kebiasaan para resi yang tinggal dalam asrama di hutan. Dewi Lopamudra membagi-bagikan semua perhiasan dan pakaiannya kepada teman-teman dan para pelayannya, kemudian mengenakan pakaian dari kulit kayu.

Demikianlah, Resi Agastya dan Dewi Lopamudra hidup bahagia di pertapaan di hutan Ganggadwara. Mereka saling mengasihi dan selalu tampak mesra.

“Pada suatu hari, karena perasaan cintanya yang meluap-luap, Dewi Lopamudra tak bisa menahan perasaannya.

Ia meminta kepada Resi Agastya agar sekali-sekali mereka menikmati kemewahan. Continue reading Mahabharata 27 – Pengembaraan di Rimba Raya

Mahabharata 16 : Kematian Bakasura


bima-bothok

Dengan menyamar sebagai brahmana, Pandawa tinggal di Ekacakra. Mereka menyambung hidup dengan meminta-minta di jalan-jalan yang telah ditetapkan untuk para brahmana. Setelah seharian meminta-minta, mereka pulang sambil membawa makanan pemberian untuk ibu mereka. Jika mereka terlambat pulang, Dewi Kunti menjadi cemas, takut kalau-kalau malapetaka menimpa mereka.

Semua makanan yang diperoleh dari hasil meminta-minta oleh Dewi Kunti dibagi dua, satu bagian untuk Bhima dan satu bagian lainnya dibagi berlima di antara keempat Pandawa lainnya dan sang ibu. Bhima, putra Dewa Bayu atau Dewa Angin, mempunyai nafsu makan yang sangat besar, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi, gagah dan perkasa. Itu sebabnya kecuali disebut Bhimasena, ia juga dijuluki Wrikodara, artinya “perut serigala”. Maksudnya, berapa pun banyaknya makanan yang dimakannya, perutnya selalu merasa lapar. Karena makanan yang mereka peroleh tak pernah cukup, badan Bhima menjadi kurus. Melihat itu, ibu dan saudara-saudaranya menjadi cemas.

Suatu hari Bhima berkenalan dengan seorang pembuat kendi. Bhima menyukai orang itu dan suka menolongnya menggali dan mengangkut tanah liat. Sebagai ungkapan terima kasih, tukang kendi itu memberinya sebuah periuk besar untuk meminta-minta. Gara-gara periuk itu, Bhima menjadi sasaran ejekan dan cemoohan orang-orang.

Pada suatu hari, ketika saudara-saudaranya pergi meminta-minta, Bhimasena tinggal di rumah bersama ibunya. Tiba-tiba mereka mendengar tangis pilu dari kamar pemilik rumah. Sesuatu yang menyedihkan telah menimpa keluarga itu, pikir Dewi Kunti. Ia lalu memberanikan diri menyelinap masuk, ingin mengetahui apa yang terjadi dan jika perlu memberikan pertolongan. Di dalam ia melihat brahmana pemilik rumah itu sedang berbicara dengan istrinya.

Brahmana itu berkata kepada istrinya, “Wahai perempuan malang dan dungu, sudah berulang kali kukatakan bahwa kita harus pergi dari kota ini selama-lamanya. Tetapi engkau tidak setuju. Engkau selalu berkata bahwa engkau lahir dan dibesarkan di sini. Di sini pula orangtuamu hidup dan mati, dan di sini pula engkau ingin tinggal. Aku tak sanggup berpisah darimu, wahai istriku, teman hidupku dan ibu anak-anakku tercinta. Kau segalanya bagiku Aku tak mungkin membiarkan engkau pergi menjemput maut, sementara aku hidup sendirian di sini.

“Wahai, istriku, lihatlah anak perempuan kita. Pada waktunya dia akan kita serahkan kepada lelaki yang pantas menerimanya. Jangan jadikan dia sebagai korban, karena dia adalah pemberian Hyang Widhi untuk melanjutkan keturunan kita. Kita juga tak mungkin mengorbankan anak laki-laki kita. Bagaimana kita bisa hidup setelah mengorbankan anak-anak kita? Siapa yang kelak akan melakukan upacara kematian bagi kita dan melanjutkan keturunan kita? Continue reading Mahabharata 16 : Kematian Bakasura

Mahabharata 15 : Pandawa Menyelamatkan Diri


pandawa-dan-kunti-cropw

Sumber Gambar : http://indragunadharma.blogspot.com/2013_12_01_archive.html

Setelah mohon diri kepada Bhisma dan para tetua, Pandawa berangkat ke Waranawata. Rakyat mengelu-elukan dan mengiringkan mereka sampai ke batas kerajaan. Tidak sedikit yang enggan kembali karena ingin mengikuti Pandawa sampai Waranawata.

Widura membisikkan pesan dalam bahasa rahasia yang hanya dapat dimengerti oleh Yudhistira. Katanya, “Hanya orang yang mampu menghindari bahaya yang sanggup melindungi diri dari musuh-musuh yang licik. Banyak senjata yang lebih tajam dari keris, tetapi orang yang bijaksana dapat terhindar dari kehancuran karena tahu cara menangkis segala macam serangan. Api raksasa yang memusnahkan hutan belantara tidak dapat membakar tikus yang bersembunyi di dalam lubang atau seekor landak yang menggali liang di dalam tanah. Orang yang pandai dan bijaksana mampu membaca peruntungannya dengan melihat bintang-bintang di langit.”

Yudhistira mengerti. Pesan Widura itu berarti: ia harus mencari jalan untuk melarikan diri agar terhindar dari rencana jahat Duryodhana. Yudhistira mengisyaratkan bahwa ia memahami apa yang dikatakan Widura.

Setelah itu, Pandawa berangkat meninggalkan Hastinapura. Perjalanan mereka dimulai dalam suasana penuh kegembiraan. Matahari bersinar cerah, bunga-bunga bermekaran, burung-burung berkicau dan angin pagi berhembus segar. Tetapi, semakin jauh mereka berjalan, cuaca berubah. Langit mendung, matahari tertutup gumpalan awan gelap.

Yudhistira berkata kepada ibunya bahwa sesungguhnya ia sedih dan cemas menghadapi perjalanan itu. Continue reading Mahabharata 15 : Pandawa Menyelamatkan Diri

Mahabharata 6 : Pernikahan Dewayani


devayani-dan-sharmistha-di-kolam-sumber-ajitvadakayil-blogspot-com

Pada suatu sore setelah puas bermain di taman istana, Dewayani dan putri-putri Wrishaparwa, raja para raksasa, pergi mandi ke telaga di tepi hutan yang jernih dan sejuk airnya. Sebelum menceburkan diri ke dalam air yang segar, mereka menanggalkan pakaian dan menyimpan pakaian itu di tepi telaga. Tiba-tiba angin puting beliung berembus kencang, menerbangkan pakaian mereka dan membuatnya menjadi satu tumpukan. Setelah mandi dan berpakaian, ternyata terjadi kekeliruan. Tanpa sengaja Sarmishta, putri Wrishaparwa, mengenakan pakaian Dewayani. Melihat itu Dewayani berkata, “Alangkah tidak pantasnya putri seorang murid mengenakan pakaian milik putri gurunya.”

Walaupun kata-kata itu diucapkan dengan lembut, Sarmishta merasa disindir dan tersinggung. Ia marah dan dengan angkuh berkata, “Tidakkah engkau sadar bahwa ayahmu setiap hari dengan hinanya berlutut menyembah ayahku? Bukankah ayahmu menggantungkan hidupnya pada belas kasihan ayahku? Lupakah kau bahwa aku ini anak raja yang dengan murah hati memberikan tumpangan hidup bagimu dan bagi ayahmu? Hai, Dewayani, sesungguhnya kau hanya keturunan peminta-minta! Lancang benar kata-katamu kepadaku.”

Memang benar apa yang dikatakan Sarmishta. Sebagai resi atau pandeta, Mahaguru Sukra berkasta brahmana. Sesuai adat, ia hidup dari belas kasihan orang lain. Jika memerlukan sarana hidup, seorang brahmana hanya boleh meminta-minta. Meskipun demikian, sesungguhnya bagi kasta brahmana hal itu dianggap perbuatan yang mulia.

Dewayani tidak menanggapi kata-kata Sarmishta. Sebaliknya, Sarmishta yang terbakar oleh kata-katanya sendiri, menjadi semakin marah. Tak dapat mengendalikan diri, tangannya terayun, menampar pipi Dewayani. Ia bahkan mendorong putri resi itu sampai jatuh ke parit yang dalam. Sarmishta, yang mengira Dewayani sudah mati, segera kembali ke istana.

Sementara itu, Dewayani merasa cemas dan sedih karena tidak bisa keluar dari parit yang dalam itu. Kebetulan, Maharaja Yayati, seorang keturunan Bharata, sedang berburu di tepi hutan dan melewati tempat itu. Karena haus, ia mencari air. Dilihatnya ada parit berair jernih di dekat situ. Dia turun dari kudanya, mendekati parit itu, lalu membungkuk hendak mengambil airnya. Ketika itulah ia melihat sesuatu yang bercahaya di dasar parit. Yayati memperhatikan dengan lebih saksama dan terkejut melihat seorang putri jelita terpuruk di dalam parit.

Lalu ia bertanya, “Siapakah engkau ini, hai putri jelita dengan anting-anting berkilau dan kuku bercat merah indah? Siapakah ayahmu? Keturunan siapakah engkau? Bagaimana engkau bisa jatuh ke dalam parit ini?”

Dewayani menjawab sambil mengulurkan tangan kanannya, “Namaku Dewayani. Aku putri Resi Sukra. Tolonglah aku keluar dari dalam parit ini.”

Yayati menyambut tangan yang halus itu lalu menolong Dewayani keluar.

Dewayani tidak ingin kembali ke ibukota kerajaan raksasa. Ia merasa tinggal di sana sudah tidak aman lagi, lebih-lebih jika ia ingat perbuatan Sarmishta. Karena itu, ia berkata kepada Yayati, “Kau telah memegang tangan kanan seorang putri, berarti engkau harus menikahinya. Aku yakin, dalam segala hal kau pantas menjadi suamiku.”

Yayati menjawab,

“Wahai putri jelita, aku seorang kesatria dan engkau seorang brahmana. *) Bagaimana aku bisa mengawini engkau? Apa mungkin putri Resi Sukra yang disegani di seluruh dunia menjadi istri seorang kesatria seperti aku? Putri yang agung, kembalilah pulang.”

Setelah berkata demikian, Yayati kembali ke ibukota kerajaannya.

Sepeninggal Yayati, Dewayani tetap bertekad untuk tidak pulang ke istana. Ia memilih tinggal di hutan, di bawah sebatang pohon.

Sementara itu, Resi Sukra sia-sia menunggu putrinya pulang. Beberapa hari berlalu, tetapi Dewayani tak kunjung pulang. Akhirnya Resi Sukra menyuruh seseorang mencari putri kesayangannya.

Utusan itu mencari ke mana-mana. Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya dia menemukan Dewayani yang duduk di bawah sebatang pohon di tepi hutan. Putri itu tampak sangat sedih. Matanya merah karena lama menangis. Wajahnya keruh karena marah. Utusan itu lalu bertanya, apa yang telah terjadi.

Dewayani menjawab, “Kembalilah engkau dan sampaikan kepada ayahku bahwa aku tak sudi lagi menginjakkan kakiku di ibukota kerajaan Wrishaparwa.”

Setelah mohon pamit, utusan itu kembali ke istana untuk melaporkan hal itu kepada Resi Sukra.

Mendengar laporan utusannya, Resi Sukra sangat sedih. Ia segera menemui anaknya dan menghiburnya sambil berkata, “Anakku sayang, kebahagiaan dan kesengsaraan seseorang merupakan akibat dari perbuatannya sendiri. Kalau kita bijaksana, kebajikan atau kejahatan orang lain tidak akan mempengaruhi kita.” Demikianlah Resi Sukra mencoba menghibur anaknya .

Tetapi Dewayani menjawab dengan sedih bercampur dengki, “Ayahku, biarkanlah segala kebaikan dan keburukanku bersama diriku karena semua itu urusanku sendiri. Tetapi jawablah pertanyaanku ini. Kata Sarmishta, anak Wrishaparwa, ayahku seorang ‘budak penyanyi’ yang kerjanya hanya menyanjung-nyanjung tuannya. Benarkah? Katanya, aku ini anak seorang peminta-minta yang hidup dari belas kasihan orang. Benarkah? Sarmishta sungguh kasar. Tidak puas mengata-ngatai aku, ia menampar dan mendorongku ke dalam parit. Aku bersumpah, aku takkan sudi hidup di wilayah kekuasaan ayahnya.”

Dewayani menangis tersedu-sedu.

Dengan tenang dan penuh martabat, Mahaguru Sukra berkata,

“Wahai anakku Dewayani, engkau bukan anak ‘budak penyanyi’ raja. Ayahmu tidak hidup dengan meminta-minta, mengemis belas kasihan orang. Engkau putri seorang resi yang dihormati dan hidup dimanja di seluruh dunia. Batara Indra, raja semua dewa, tahu akan hal ini. Wrishaparwa tidak membutakan mata terhadap hutang budinya kepada ayahmu. Tetapi, orang yang bijaksana tidak pernah mengagung-agungkan kebesarannya sendiri.

“Sudahlah, Ayah tidak akan mengatakan apa-apa lagi tentang jasa-jasa Ayah. Bangkitlah, wahai mutiara nan kemilau. Kaulah yang paling jelita di antara semua wanita. Engkau akan membawa kebahagiaan bagi keluargamu. Bersabarlah dan marilah kita pulang.”

Tetapi Dewayani tetap berkeras tidak mau pulang.

Resi Sukra menasihatinya lagi, “Sungguh mulia orang yang dengan sabar menerima caci maki. Orang yang dapat menahan amarah ibarat kusir yang mampu menaklukkan dan mengendalikan kuda liar. Orang yang dapat membuang amarah jauh-jauh seperti ular yang mengelupas kulitnya. Orang yang tidak gentar menerima siksaan akan berhasil mencapai cita-citanya. Seperti disebutkan dalam kitab-kitab suci, orang yang tidak pernah marah lebih mulia daripada orang yang taat melakukan upacara sembahyang selama seratus tahun. Pelayan, teman, saudara, istri, anak-anak, kebajikan dan kebenaran akan meninggalkan orang yang tak mampu mengendalikan amarahnya. Orang yang bijaksana tidak akan memasukkan kata-kata anak muda ke dalam hatinya.”

Mendengar itu, Dewayani bersujud menyembah ayahnya, “Ayahanda, aku masih muda. Nasihat-nasihat Ayahanda masih sulit kupahami. Tetapi, sungguh tidak pantas bagiku untuk hidup bersama orang yang tidak mengenal sopan santun. Orang yang bijaksana tidak akan bersahabat dengan orang yang selalu menjelek-jelekkan keluarganya. Orang jahat, walaupun kaya raya, sesungguhnya adalah hina dan tidak berkasta. Orang yang taat beribadah tidak pantas bergaul dengan mereka. Hatiku sangat marah karena keangkuhan anak Wrishaparwa. Segores luka lambat laun akan sembuh, tetapi luka hati karena kata-kata tajam akan meninggalkan goresan pedih yang seumur hidup takkan hilang.”

Setelah gagal membujuk putrinya untuk pulang, Resi Sukra kembali ke istana Wrishaparwa. Sampai di hadapan Raja, dengan mata tajam ia memandangnya sambil berkata,

“Walaupun dosa seseorang tidak akan segera mendapat balasan, lambat laun dosa itu pasti akan menghancurkan sumber kekayaannya. Kacha, anak Wrihaspati dan seorang brahmacharin, telah menaklukkan pancaindranya dan tidak pernah berbuat dosa. Ia telah melayani aku dengan penuh kepatuhan dan tidak pernah melanggar sumpahnya. Para raksasa rakyatmu beberapa kali berusaha membunuh dia, tetapi aku menghidupkannya lagi. Kini, anakku yang memegang teguh susila dicaci-maki oleh anakmu, Sarmishta. Ia bahkan mendorong anakku sampai jatuh ke parit yang dalam. Ia tidak tahan lagi tinggal dalam lingkungan kerajaanmu. Dan karena aku tidak bisa hidup tanpa dia, aku akan pergi meninggalkan kerajaanmu.”

Mendengar itu, Wrishaparwa merasa terancam malapetaka. Ia berkata, “Aku tidak mengerti mengapa engkau melontarkan tuduhan itu. Tetapi, kalau engkau pergi aku akan terjun ke dalam api.”

Resi Sukra menjawab, “Yang kuinginkan hanyalah kebahagiaan anakku. Aku tidak peduli nasibmu dan nasib para raksasa rakyatmu. Dewayani anakku satu-satunya, anak yang kukasihi melebihi hidupku sendiri. Engkau kuijinkan mencoba menenangkan dia dan membujuknya agar mau tetap tinggal di sini. Jika dia mau, aku tidak akan pergi.”

Maka pergilah Wrishaparwa diiringkan beberapa pengawal. Mereka hendak menemui Dewayani di tepi hutan. Sesampainya di depan gadis itu, Wrishaparwa menyembah dan memohon agar Dewayani tidak meninggalkan kerajaannya.

Tetapi Dewayani berkata acuh tak acuh, “Sarmishta, yang mengata-ngatai aku anak pengemis harus menjadi dayang-dayang di rumahku dan harus menjadi pengiringku waktu aku dinikahkan oleh ayahku.”

Wrishaparwa menerima tuntutan itu dan memerintahkan pengiringnya menjemput Sarmishta. Putri raja itu mengakui kesalahannya, lalu menyembah sambil berkata, “Baiklah aku akan menjadi dayang-dayang Dewayani seperti yang dikehendakinya. Tidak seharusnya ayahku kehilangan mahagurunya dan menerima balasan atas kesalahanku.”

Dewayani menerima permintaan maaf Sarmishta. Mereka berdamai dan semua kembali ke istana Wrishaparwa.

Pada suatu hari Dewayani bertemu dengan Yayati. Ia mengulangi permintaannya dan berkata bahwa Yayati harus mengawini dia karena pernah memegang tangan kanannya erat-erat. Yayati menolak. Katanya, sebagai kesatria ia tidak dibenarkan mengawini seorang wanita berkasta brahmana. Memang kitab-kitab suci Sastra tidak membenarkan hal itu, tetapi sekali perkawinan seperti itu terjadi, tak ada yang boleh membatalkannya dan perkawinan itu sah.

Akhirnya, setelah mendapat restu dari Resi Sukra, Yayati bersedia menikahi Dewayani. Mereka hidup berbahagia bertahun-tahun lamanya. Sarmishta menepati janjinya. Ia setia melayani Dewayani sebagai dayang-dayangnya, sampai pada suatu malam diam-diam ia menemui Yayati dan meminta pria itu mengawininya. Yayati tak kuasa menolaknya. Diam-diam Sarmishta dijadikan istrinya.

Ketika mengetahui hal itu, Dewayani marah sekali. Ia mengadu kepada ayahnya. Resi Sukra berang, lalu mengutuk Yayati menjadi orang tua ubanan sebelum waktunya dan pria itu akan kehilangan masa mudanya.

Mengetahui dirinya dikutuk mertuanya yang sangat sakti, Yayati takut sekali. Ia pergi menghadap Resi Sukra, menyembah dan memohon ampun. Tetapi, Mahaguru Sukra belum lupa akan penghinaan yang pernah diterima anaknya.

Resi Sukra berkata,

“Wahai, Tuanku Raja, engkau akan kehilangan masa mudamu dan kemegahanmu. Kutukpastu yang telah kulontarkan tak dapat dibatalkan. Tetapi, engkau bisa minta tolong seseorang yang bersedia menukar ketuaanmu dengan kemudaannya. Hal ini bisa terjadi.”

Demikianlah, sejak menerima kutukan mertuanya, Yayati berubah menjadi lelaki tua renta yang kehilangan keperkasaannya.

 

*) Menurut tradisi kuno yang disebut anuloma, perempuan dari kasta kesatria boleh menikah dengan laki-laki dari kasta brahmana. Tetapi, perempuan dari kasta brahmana tidak dibenarkan menikah dengan lakilaki dari kasta kesatria. Tradisi kuno yang disebut pratilonia ini untuk menjaga agar kaum wanita tidak direndahkan derajatnya ke status kasta yang lebih rendah. Hal ini dinyatakan dalam kitab-kitab suci Sastra.

Mahabharata 5 : Dewayani dan Kacha


kacha-devayani-dan-shukra-sumber-www-indolink-com

Pada jaman dahulu kala, sering terjadi pertempuran-pertempuran panjang dan sengit antara para dewata dengan para raksasa. Mereka berebut ingin menguasai tribuana. Para dewata dipimpin seorang resi bernama Wrihaspati yang sangat terkenal karena pengetahuannya yang mendalam tentang kitab-kitab Weda, sedangkan para raksasa dipimpin Mahaguru Sukra yang arif bijaksana.

Wrihaspati dan Sukra sama-sama ahli perang yang sangat termasyhur. Tetapi, Sukra memiliki keunggulan yang sangat mengerikan, yaitu ilmu gaib Sanjiwini yang dapat menghidupkan siapa saja yang sudah mati. Jadi, setiap kali ada raksasa mati di medan pertempuran, Sukra dapat menghidupkannya lagi. Begitu berkali-kali, sehingga jumlah mereka tak pernah berkurang dan mereka dapat melanjutkan perang melawan para dewata. Akibatnya, para dewata selalu kalah melawan para raksasa .

Akhirnya, para dewata berunding, mencari akal untuk mengalahkan para raksasa. Diputuskanlah untuk menemui Kacha, putra Wrihaspati, dan meminta bantuannya. Mereka berharap Kacha bisa menawan hati Sukra dan membujuknya agar ia diijinkan menjadi murid mahaguru itu. Dengan menjadi murid Sukra, para dewata berharap Kacha bisa menguasai ilmu gaib Sanjiwini, dengan cara mulia atau cara curang, sehingga para dewata bisa terhindar dari kekalahan terus-menerus .

Kacha menyanggupi permintaan para dewata itu. Ia lalu  pergi menghadap Mahaguru Sukra yang tinggal di istana Raja Wrishaparwa, raja para raksasa .

Sampai di hadapan mahaguru itu, Kacha memberi salam hormat lalu berkata, “Hamba ini cucu Resi Angiras dan anak Resi Wrihaspati. Hamba telah bersumpah menjadi seorang brahmacharin dan ingin menuntut ilmu di bawah asuhan Yang Mulia Mahaguru.”

Sesuai adat, seorang guru yang bijaksana tidak boleh menolak murid yang ingin berguru kepadanya. Maka Mahaguru Sukra berkata, “Kacha, engkau adalah keturunan keluarga baik-baik. Aku terima kau sebagai muridku. Dan ingatlah, aku terima kau karena aku ingin menunjukkan hormatku kepada Resi Wrihaspati, ayahmu.”

Demikianlah, Kacha pun menjadi murid Mahaguru Sukra. Semua tugas kewajiban yang diberikan oleh gurunya dikerjakannya dengan sungguh-sungguh. Salah satu tugasnya adalah menghibur putri Mahaguru Sukra yang bernama Dewayani. Mahaguru itu hanya memiliki seorang anak. Tak heran, Dewayani menjadi tumpahan kasih sayangnya. Semua keinginannya selalu dikabulkan.

Kacha diperintahkan menghibur Dewayani dengan menyanyi, menari atau mengajaknya bermain. Lama kelamaan, Kacha tertarik kepada putri itu. Tetapi, karena ia telah bersumpah menjadi brahmacharin yang sepenuhnya mengabdikan diri untuk belajar ilmu agama di bawah bimbingan seorang guru dan mengamalkan segala kebajikan hidup tanpa menikah, ia menahan diri dan berusaha keras untuk tidak melanggar sumpahnya.

Sementara itu, para raksasa yang mengetahui bahwa pemimpin mereka mengambil anak Wrihaspati sebagai murid merasa cemas dan curiga. Jangan-jangan niat Kacha tidak tulus berguru. Jangan-jangan sebenarnya Kacha ingin mencari kesempatan untuk membujuk gurunya agar memberikan rahasia ilmu gaib Sanjiwini. Karena itu, mereka berunding, mencari akal untuk membunuh Kacha .

Pada suatu hari, seperti biasa Kacha menggembalakan  sapi-sapi gurunya ke padang rumput. Tiba-tiba datang beberapa raksasa, mereka menyergapnya lalu membunuhnya. Mayat Kacha dicincang dan dibiarkan menjadi makanan anjing .

Sore harinya, sapi-sapi itu pulang ke kandang tanpa Kacha. Dewayani yang melihat hal itu merasa cemas. Ia segera menemui ayahnya. Katanya sambil menangis tersedu-sedu, “Matahari telah terbenam, dan pedupaan untuk pemujaan malam Ayahanda telah dinyalakan, tetapi Kacha belum pulang. Sapi-sapi gembalaannya sudah pulang ke kandang. Ananda khawatir kalau-kalau sesuatu yang buruk menimpa Kacha. Tolonglah dia, Ayah. Ananda sangat mencintainya dan tak dapat hidup tanpa dia.”

Mendengar permohonan putri kesayangannya, Mahaguru Sukra segera mengucapkan mantra. Dengan kesaktiannya, ia tahu Kacha sudah mati. Karena itu, untuk menghidupkan kembali dan memanggil pemuda itu, ia mengucapkan mantra gaib Sanjiwini. Seketika itu Kacha hidup kembali dan berada di hadapan mereka dengan wajah tersenyum. Dewayani bertanya, mengapa ia terlambat pulang. Kacha bercerita, ia diserang dan dibunuh para raksasa ketika sedang menggembalakan sapi. Tetapi, bagaimana ia bisa hidup kembali dan berada di hadapan mereka, ia tidak bisa menerangkannya .

Para raksasa kecewa melihat Kacha hidup kembali. Mereka terus memata-matai pemuda itu, mencari kesempatan untuk membunuhnya.

Suatu hari, Kacha pergi ke hutan, mencari bunga yang langka untuk Dewayani. Ketika sedang berada di dalam hutan lebat, ia disergap para raksasa lalu dibunuh. Mayatnya dicincang, dibakar, lalu abunya dibuang ke laut.

Berhari-hari Dewayani menunggu, tetapi Kacha tak pulang-pulang. Akhirnya putri itu menghadap ayahnya dan mengadukan hal itu kepadanya. Sekali lagi, Resi Sukra menggunakan ilmu gaib Sanjiwini dan memanggil Kacha. Pemuda itu hidup kembali .

Para raksasa semakin geram. Ketika ada kesempatan,  untuk ketiga kalinya mereka membunuh Kacha. Dengan cerdik mereka membakar mayatnya, lalu mencampurkan abunya ke dalam minuman anggur yang mereka persembahkan kepada Resi Sukra. Tanpa curiga, pemimpin mereka meminum anggur itu. Sore harinya, sapi-sapi itu pulang kandang tanpa gembalanya. Sekali lagi Dewayani menghadap ayahnya, menangis dan memohon agar ayahnya memanggil dan menghidupkan kembali Kacha .

Resi Sukra menghibur anaknya,

“Walaupun Ayah sudah dua kali menghidupkan Kacha, rupa-rupanya para raksasa sudah bertekad membunuhnya. Wahai, Anakku, kematian adalah hal biasa. Sungguh tidak pantas orang yang berjiwa besar seperti engkau menangisi kematiannya. Nikmatilah hidupmu yang dilimpahi berkah kegembiraan, kecantikan dan kemurahan hati serta penuh damai di dunia.”

Dewayani tak merasa terhibur oleh kata-kata ayahnya. Ia sangat mencintai Kacha. Demikianlah, sejak dunia tercipta, nasihat resi yang paling bijaksana pun tak pernah bisa menghilangkan duka hati seorang wanita yang kehilangan kekasihnya.

Dewayani berkata, “Kacha, cucu Angiras dan putra Wrihaspati adalah pemuda yang tidak berdosa. Ia telah menyerahkan diri untuk melayani kita. Aku mencintainya sedalam lubuk hatiku. Tetapi sekarang ia mati dibunuh. Hidupku menjadi hampa dan tanpa cinta. Karena itu, wahai Ayahanda, aku akan mengikutinya.”

Setelah berkata demikian, Dewayani berpuasa, tidak makan dan tidak minum .

Resi Sukra tak tega melihat putri kesayangannya berduka. Ia marah kepada para raksasa yang telah membunuh Kacha. Pembunuhan terhadap brahmana adalah dosa terkutuk. Mereka pasti akan mendapat balasan yang setimpal .

Sekali lagi Resi Sukra mempergunakan ilmu gaib Sanjiwini untuk menghidupkan Kacha. Sekali lagi Kacha hidup kembali dari anggur yang sudah masuk ke lambung sang Mahaguru. Tetapi ia tidak bisa keluar karena berada di  tempat yang sangat aneh. Ia hanya dapat menjawab dengan menyebutkan namanya dan mengatakan tempat ia berada .

Mendengar itu, Resi Sukra berkata dengan berang, “Hai, Brahmacharin, bagaimana engkau bisa masuk ke dalam tubuhku? Apakah karena perbuatan para raksasa? Sungguh keterlaluan. Ingin rasanya aku membunuh semua raksasa dan menyatukan diriku dengan para dewata. Tetapi, sebelum itu kulakukan, ceritakan dulu semuanya kepadaku.”

Dengan susah payah, dari dalam lambung Resi Sukra, Kacha menceritakan apa yang dialaminya .

Resi mahasakti itu menyahut, “Kini aku, Resi Sukra yang suci, luhur budi, dan termasyhur, menjadi geram karena ditipu dengan persembahan minuman anggur. Karena itu, demi kebajikan dan peri kemanusiaan, kuperingatkan bahwa kesucian dan keluhuran budi akan meninggalkan siapa pun yang meminum anggur dengan tidak bijaksana. Orang yang demikian akan terkutuk. Demikian pesanku dan hal ini akan dinyatakan dalam kitab-kitab suci sebagai larangan yang tak boleh dilanggar.”

Setelah berkata demikian, Resi Sukra memandang Dewayani sambil berkata, “Anakku sayang, sekarang engkau harus memilih. Kalau kau ingin Kacha hidup kembali, ia harus keluar dari dalam tubuhku dan itu berarti kematian bagiku. Ia hanya bisa hidup di atas kematianku.”

Dewayani menangis tersedu-sedu sambil berkata, “Oh Dewata, sungguh pilihan yang tak mungkin kupilih. Aku sangat menyayangi Ayahanda dan Kacha. Jika salah satu dari kalian mati, aku akan mati. Aku tak sanggup hidup tanpa kalian berdua.”

Sambil mencari jalan untuk menyelesaikan masalah berat itu, Resi Sukra berkata kepada Kacha,

“Wahai putra Wrihaspati, sekarang aku tahu apa sesungguhnya niatmu datang berguru kepadaku. Kau akan memperoleh apa yang  kauinginkan. Aku akan menghidupkan kau kembali demi Dewayani dan demi dia pula aku tidak boleh mati. Satu-satunya jalan adalah mengajarkan ilmu gaib Sanjiwini kepadamu. Dengan menguasainya, kau akan bisa menghidupkan aku kembali meskipun tubuhku hancur setelah mengeluarkan engkau. Berjanjilah untuk menggunakan ilmu gaib Sanjiwini yang akan kuajarkan kepadamu untuk menghidupkan aku kembali, agar Dewayani tidak berduka atas kematian salah satu dari kita.”

Dari dalam lambung gurunya, Kacha mengucapkan janjinya.

Demikianlah, Mahaguru Sukra memberikan rahasia ilmu gaib Sanjiwini kepada Kacha. Seketika itu juga Kacha keluar dari dalam tubuh gurunya, sementara sang Resi langsung rubuh, wafat dengan tubuh hancur berkeping-keping. Kacha memenuhi janjinya. Ia segera sujud di depan jenazah gurunya dan mempergunakan ilmu gaib Sanjiwini. Katanya, “Guru yang ikhlas membagi ilmu kepada muridnya ibarat seorang ayah yang mengasihi putranya. Karena aku keluar dari tubuhmu, maka aku adalah anakmu juga.”

Beberapa tahun lamanya Kacha meneruskan hidupnya sebagai murid Resi Sukra, sampai tiba waktunya untuk kembali ke dunia para dewata. Ketika saat itu tiba, ia mohon diri kepada gurunya. Sang Resi merestuinya dan mengijinkannya pergi. Kemudian Kacha minta diri kepada Dewayani .

Putri jelita ini dengan hormat berkata,

“Wahai cucu Angiras, kau telah menawan hatiku dengan kesucian hati, hidupmu yang tidak bercacat, kemajuanmu dalam menuntut ilmu, dan asal-usulmu yang agung. Sejak lama aku mencintaimu dengan sepenuh hati, walaupun engkau tetap teguh menjalankan sumpahmu sebagai brahmacharin. Tetapi, sudah selayaknya sekarang engkau menerima cintaku dan sudi membuatku bahagia dengan menikahiku.”

Kacha menjawab, “Oh, Dewayani yang suci, engkau  adalah putri mahaguruku yang selalu kusegani. Aku hidup kembali setelah keluar dari tubuh ayahmu. Karena itu, aku kini menjadi saudaramu seayah. Sungguh tidak pantas jika engkau memintaku agar sudi mengawinimu.”

Dewayani berkata, “Engkau anak Wrihaspati yang patut kuhormati dan bukan anak ayahku. Aku yang menyebabkan kau bisa hidup kembali, karena aku mencintaimu dan mengharapkan engkau menjadi suamiku. Tidak pantas engkau meninggalkan aku yang tidak berdosa ini tanpa memberiku kesempatan untuk mengabdi kepadamu.”

Kacha menjawab, “Jangan mencoba membujukku untuk melakukan hal yang tidak benar. Engkau sungguh jelita, dan semakin jelita dalam keadaan marah seperti sekarang, tetapi aku adalah saudaramu. Abdikanlah hidupmu untuk kebajikan dalam bimbingan ayahmu, Mahaguru Sukra. Jalani hidupmu seperti dahulu. Berdoalah dan relakan aku pergi.”

Setelah berkata demikian, dengan lembut Kacha melepaskan diri dari pegangan Dewayani dan kembali ke dunia para dewata .

Sepeninggal Kacha, Dewayani selalu sedih dan murung. Tak ada yang bisa menghiburnya, tidak juga Mahaguru Sukra, ayahnya.