Tag Archives: mahabarataindo

KHS : Perang Baratayudha


Episode perang Baratayudha bersama Ki Hadi Sugito :

karna-arjuna

Sebelum : Kresna Duta : http://www.4shared.com/folder/Ko0jUBM7/021.html

Babak 1: Seta Gugur : http://www.4shared.com/folder/O6wX3hUU/033.html

Babak 2: Tawur (Bisma Gugur)

Babak 3: Paluhan (Bogadenta Gugur) : http://www.4shared.com/folder/XBKpgPvc/014.html

Babak 4: Ranjapan (Abimanyu Gugur) : https://indonesiawayang.com/2010/01/11/ki-hadi-sugito-abimanyu-ranjap/

Babak 5: Timpalan (Burisrawa Gugur atau Dursasana Gugur)

Babak 6: Suluhan (Gatotkaca Gugur) : https://indonesiawayang.com/2010/01/13/ki-hadi-sugito-gatotkaca-gugur/

Babak 7: Karna Tanding : https://indonesiawayang.com/2010/01/18/ki-hadi-sugito-karno-tandhing/

Babak 8: Rubuhan (Duryudana Gugur) : https://indonesiawayang.com/2010/05/23/khs-suyudana-gugur/

Babak 9: Lahirnya Parikesit

KNS : Banjaran Karna


Karna jangkah Solo

Bercerita Karna adalah bercerita tentang kepedihan dan kesedihan
bertutur Basukarna adalah bertutur tentang mendua tutur kata dan rasa hati
mengenang Suryatmaja adalah mengenang kepahlawanan dan pengorbanan

Dengarkanlah ..
suara hati Sang Karna saat sua dengan ibunda sejati jelang Baratayudha
walau hasrat tuk bersimpuh di kaki ibunda Kunthi begitu membuncah
memeluk dan bermanja di dada ibunda yang melahirkannya
ingin di belai rambutnya dengan kasih sayang yang tiada diperolehnya saat masa kecilnya dahulu
namun sikap tegasnya
tetap mengatakan TIDAK untuk bergabung dengan saudara-saudaranya Pandawa

Dengarkanlah …
bagaimana curahan hatinya kepada Kresna saat menyengaja bertemu dengannya jelang Baratayudha
bagaimana dirinya tetap keukeuh agar Baratayudha tetap terjadi
agar angkara murka yang ada pada Prabu Duryudana dapat sirna
walaupun itu …
akan mengorbankan dirinya sebagai tumbal
ah …
tiada mengapa
biarlah adik-adiknya saja yang meraih kemenangan

Dan dengarlah dialog dirinya dengan adiknya Arjuna jelang pertempuran di Kurusetra (Karno Tanding)

“Mari aku dandani kamu sebagaimana layaknya seorang senapati, dan akulah yang akan menjadi kusirmu”.

Selesai berdandan busana Keprajuritan, segera mereka menaiki kereta Prabu Kresna, kereta Jaladara. Kereta perang dengan empat ekor kuda yang berasal dari empat benua yang berwarna berbeda setiap ekornya, merupakan hadiah Para Dewa. Bila dibandingkan dengan kereta Jatisura milik Adipati Karna yang telah remuk dilanda tubuh Gatutkaca, kesaktian kereta Jaladara bisa berkali kali lipat kekuatannya.

Suasana berkembang makin hening, diangkasa telah turun para dewata dengan segenap para durandara dan para bidadari. Mereka hendak menyaksikan peristiwa besar yang terjadi dipadang Kuru. Sebaran bunga bunga mewangi turun satu satu bagai kupu kupu yang beterbangan.

Karna yang melihat kedatangan Arjuna berhasrat untuk turun dari keretanya. Kresna yang melihat keraguan memancar dari wajah Arjuna mengisyaratkan untuk menyambut kedatangannya. Berkata ia kepada Arjuna

“Lihat! Kakakmu Adipati Karna sudah turun dari kereta perangnya, segera sambut dan ciumlah kakinya”.

Arjuna segera turun berjalan mendapatkan kakak tertua tunggal wadah dengannya

“Baktiku kanda Adipati”, Arjuna duduk bersimpuh dihadapan Adipati Karna setelah menghaturkan sembahnya.

“Arjuna, seumpama aku seorang anak kecil, pastilah aku sudah menagis meraung raung. Tetapi beginilah orang yang menjalani kewajiban. Aku bela bela diriku membutakan mata menutup rasa hati untuk mencapai kamukten. Sekarang aku sudah mendapatkannya dari Dinda Prabu Duryudana. Dan sekarang aku harus berhadapan dan tega berkelahi sesama saudara sekandung!”. Karna menumpahkan isi hatinya.

“Kanda Adipati, hamba disini memakai busana senapati bukan untuk menandingi paduka kanda Prabu. Tetapi membawa pesan dari ibu kita, Kunti, untuk kembali berkumpul bersama saudara paduka Para Pandawa. Air mawar bening pembasuh kaki sudah disiapkan oleh adik adik paduka, Kanda Adipati”. Arjuna mencoba meluluhkan hati kakak tunggal ibu itu.

Kembali Adipati Karna menegaskan apa yang terasa didalam hatinya. “ Lihat, air mataku jatuh berlinangan. Tetapi aku katakan, tidak tepat apa yang kamu katakan. Sudah berulang kali kamu memintaku untuk berkumpul bersama sama dengan saudaraku Pandawa. Begitu juga dengan Kanda Prabu Kresna, yang ketika itu datang kepadaku dan bicara empat mata. Sekarang sama halnya dengan dirimu, yang juga kembali mengajakku untuk berkumpul bersama. Bila aku menuruti permintaanmu, hidupku akan seperti halnya burung yang ada dalam sangkar emas. Tetapi hidupku tidak bisa bebas. Hidupku hanya kamu beri makan dan minum belaka. Apakah kamu senang bila mempunyai saudara dengan keadaan seperti yang aku katakan?”.

Sejenak mereka berdua saling berdiam diri. Sesaat kemudian Karna melanjutkan.”Tak ada seorangpun didunia ini yang dapat mengantarkan aku menuju alam kematianku, kecuali hanyalah dirimu, dinda Arjuna! Dan bila aku nanti mati dalam perang tanding itu, sampaikan baktiku pada ibunda Kunti, yang tak sekalipun aku memberi ketentraman batin dalam hidupnya . . . “

Serak terpatah patah suara Adipati Karna ketika ia melanjutkan curahan isi hati terhadap Arjuna.

Kembali susana menjadi hening. Akan tetapi tiba tiba ia berkata dengan nada tegas. “Hari ini adalah hari yang baik. Ayolah kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih perwira, lebih bertenaga, lebih sakti!”.

“Kanda, berikan kepadaku seribu maaf atas kelancangan hamba berani dengan saudara yang lebih tua”. Kembali Arjuna menghaturkan sembah, berkata ia, yang kemudian mengundurkan diri kembali menaiki kereta Jaladara.

Maka perang tanding dengan andalan ketepatan menggunakan anak panah berlangsung dengan seru. Keduanya sesama putra Kunti tidak sedikitpun berbeda ujudnya dalam busana keprajuritan. Keduanya menggunakan topong yang sama, sehingga banyak prajurit yang sedari tadi berhenti menonton sulit untuk membedakan yang mana Arjuna dan manakah yang Karna, kecuali pada kereta yang dinaikinya.

Kisah hidup Karna dapat dinikmati pada pagelaran wayang bersama Ki Nartosabdho pada lakon Banjaran Karna, disini

http://www.4shared.com/folder/D7kn9Hkq/02_online.html

KNS Lampahan Menjelang dan Jalannya Baratayudha (New)


Drupada Duta

Masa pembuangan Pandawa segera berakhir. Masa 12 tahun terbuang di tengah hutan dan kemudian 1 tahun menyamar telah dilalui dengan baik meskipun kenelangsaan dan kepahitanlah yang selalu diterima.

Bahkan masa 1 tahun menyamar yang dilakukan Pandawa di negri Wiratha nyaris membuka kedok Pandawa pada peristiwa penyerangan Kurawa dibantu Prabu Susarma ke negri Wiratha.

Pandawa mengirimkan ibunya Kunthi dan kemudian Prabu Drupada untuk mengambil hak atas Indraprasta yang tergadai saat kalah main dadu (lakon Pandawa Dadu).

KARNO DUTA

Prabu Duryudana memanggil Prabu Baladewa untuk dimintakan wawasan terkait dengan keinginannya untuk menghindarkan perang Baratayudha. Prabu Baladewa memberikan pandangan bahwa sumber permasalahan adalah pada hak sebagian negara Astina. Perang akan gagal bila Prabu Duryudana menyerahkan hak atas sebagian negri Astina kepada Pandawa.

Namun Prabu Duryudana keukeuh atas pendiriannya untuk meminta cara selain itu. Bagaimana cara lainnya selain menyerahkan sebagian negri Astina atau dengan kata lain cara lain untuk membatalkan perang Baratayudha tanpa membicarakan masalah hak tanah Astina. Terjadi perdebatan yang sengit antara para Kurawa, Karna, Sengkuni, Dorna dan Baladewa yang tidak memperoleh titik temu karena kerasnya pendirian pihak Kurawa.

Kemudian Karna menawarkan diri untuk memberikan solusi yaitu dengan pura-pura akan memboyong ibundanya yaitu Dewi Kunthi untuk dimulyakan di negri Astina dengan harapan Pandawa tidak akan menuntut haknya lagi.

Kresna Gugah

Prabu Kresna adalah sosok kunci dalam memenangkan perang Baratayudha. Begitu keyakinan dari Kurawa. Sehingga dengan memohon bantuan Prabu Baladewa, raja Mandura kakak Kresna, kemudian para Kurawa beserta rombongan besarnya, Patih Sakuni, Prabu Karna, Pandita Dorna, menuju bale kambang tempat Prabu Kresna tengah mengasingkan diri untuk mengheningkan cipta mohon petunjuk Dewata.

Dengan berbagai cara, baik secara halus maupun dengan kasar mereka mencoba membangunkan Kresna. Namun tidak bisa sehingga menimbulkan kemarahan Kurawa.

Disaat lain, Pandawa-pun mengunjungi tempat yang sama. Namun dengan sikap yang berbeda mereka berusaha membangunkan Kresna. Bagaimana jalan ceritanya ?

Kresna Duta

Kresna Duta (Singo Barong)

Kisah terkenal ini dibawakan KNS dengan indahnya.

Pandawa masih berniat baik dan mengunggulkan persaudaraan sebagai sikap untuk menghindarkan perang saudara. Meskipun dewi Kunthi dan Prabu Drupada telah gagal sebagai duta untuk membicarakan masalah hak atas tanah Astina dengan membawa kepedihan atas penghinaan dari pihak Kurawa, namun Pandawa tetap berbesar hati untuk mengupayakan kembali kerukunan antar saudara.

Maka kemudian di utuslah Prabu Kresna sebagai duta yang akan menyelesaikan masalah ini.

Abimanyu Gugur

Perang Baratayudha memang sungguh kejam. Putra-putra terbaik dari pihak Pandawa dan Kurawa serta pendukungnya, banyak berguguran.

Dari puluhan, ratusan mungkin ribuan prajurit, terdapat satu satria pinilih dari Pandawa yang kemudian dijadikan sebagai Panglima Perang yaitu Abimanyu, putra Arjuna bersama Wara Sumbadra.

Satria gagah perkasa dengan kesaktian luar biasa namun akhirnya gugur secara tragis. Kisah gugurnya dapat dibaca dari tulisan MasPatikrajaDewaku

Suluhan Gatotkaca Gugur

Kembali putra Pandawa pinunjul gugur. Gatotkaca, satria Pringgondani, putra Bima bersama Arimbi, yang menjadi Senapati pihak Pandawa menemui ajal di tangan Prabu Karna, pamamnya sendiri.

Perang sudah tidak pesuli lagi akan pertalian darah dan persaudaraan. Penuh haru, bertebar pilu dengan kematian Gatotkaca. Silahkan nikmati alur cerita gugurnya Sang Pahlawan disini.


Durna Gugur
Durna Gugur
Kisah menyedihkan gugurnya Guru Negara Astina, Begawan Durna, yang tiada lain adalah guru Pandawa Kurawa di tangan Drestajumna. Kematian yang sangat mengenaskan dialami Durna sebagai akibat dari tingkah polah dan ketidakadilan sikapnya. Rasa cinta kepada anaknya, Aswatama, sebagai sebab kematiannya.

Karno Tanding

Karno Tanding (Singo Barong)

Sama-sama tampan, sama-sama sakti dan sama-sama putra Dewi Kunthi, itulah sosok Karna dan Arjuna. Namun sungguh menyesakan, keduanya harus saling berhadapan sebagai musuh dalam Baratayudha.

Penuh adegan kepahlawanan, nilai kemanusiaan, jiwa satria utama dan lara hati seorang Kunthi yang menyaksikan kedua anaknya berhadapan tuk saling bunuh dalam keharusan.

Salya Suyudana Gugur

Episode akhir perang Baratayudha.

Duryudana telah kehilangan banyak andalannya. Bisma, Jayadrata, Durna, Karna telah tewas digilas perang.

Andalan yang dipunyai tinggal menyisakan mertuanya yaitu Prabu Salya. Namun suasana justru diperkeruh dengan kecurigaan yang diletupkan oleh Aswatama terkait dengan kematian Karna yang menurutnya adalah sebab kelicikan Prabu Salya. Silahkan dialog dan ceritanya oleh MasPatikrajadewaku di sini.

Hingga kemudian Prabu Salya menjadi Senapati dengan tidak sepenuh hati. Tentu tidak lepas dipikirkan keponakannya, anak Pandu bersama Madrim adiknya, Nakula Sadewa.

Begitupun Duryudana. Setelah menjadi satu-satunya yang tersisa maka dia harus menebus semua perbuatan yang telah dilakukan atas adik-adiknya para Pandawa.

Parikesit Lahir

Akhir perang Baratayudha adalah kepedihan. Meskipun Pandawa memenangkan perang tersebut atas Kurawa, namun yang tersisa adalah kesedihan. Tak terhitung berapa ribu jiwa yang menjadi korban atas perang ini.

Dan itupun belum berakhir. Akibat sifat licik dan dendam Aswatama, para ibu dan anak-anak serta yang tidak ikut dalam perangpun ikut menjadi korban. Keturunan Pandawa menyisakan Parikesit, putra Abimanyu bersama Utari.

Lahire Parikesit (Singo Barong) atau

Lahire Parikesit

eBook Baratayuda, Perang Menuai Karma


Baratayuda, Perang Menuai KarmaAssalamu’alaikum Wr. Wb.

Mungkin sudah banyak yang menulis buku tentang lakon perang Baratayuda yang sudah melegenda itu. Namun cerita yang dipadukan dengan kisah-kisah perang tersebut dalam Pedalangan dari beberapa dalang terkenal di negri ini, mungkin masih sangat jarang.

Mas Patikrajadewaku adalah salah satu pengasuh dalam blog wayangprabu.com yang pemahaman akan cerita-cerita wayang cukup dalam. Meskipun bukan seorang seniman ataupun penulis, namun dari pengalaman dan pemahaman akan kiprah para dalang senior seperti almarhum Ki Nartosabdho, almarhum Ki Timbul Cermo Manggolo, almarhum Ki Hadi Sugito, almarhum Ki Sugino Siswocarita, Ki Manteb Sudharsono dan dalang-dalang lainnya, beliau dikarunia kelebihan dalam menuangkan cerita wayang seolah kita mendengar alunan suara dari rekaman pagelaran wayang.

Kisah perang Baratayudha dalam buku ini, adalah tulisan Mas Patikrajadewaku yang telah dimuat secara serial di wayangprabu.com mulai 24 Juni 2010.

Kisah yang sangat menarik dan disajikan dengan renyah sehingga dapat membuat kita terbawa seolah berada dalam arena padang Kurusetra.

Melalui beberapa perbaikan penulisan, kami sajikan untuk Anda, khususnya para penggemar wayang dimanapun berada.

Mudah-mudahan hal kecil ini dapat berguna bagi kita semua dan merupakan kontribusi nyata bagi upaya pelestarian dan pengembangan budaya wayang di Indonesia.

Wassalam

Bandung, 28 September 2013

Pranowo Budi Sulistyo

Versi PDF dapat dibaca atau diunduh disini :

http://1drv.ms/1xrc7XZ

Video KMS : Sastra Jendra Hayuningrat


KMS WM1

Persembahan RKM Radio Kayu Manis menampilkan pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Manteb Sudharsono dengan mengambil lakon “Sastra Jendra Hayuningrat”

Playlist :

https://www.youtube.com/playlist?list=PL7E898872C345BF2A

Klip-1

Klip-2


Klip-3

Klip-4

Klip-5

Klip-6

Klip-7

Klip-8

Klip-9

Klip-10

Baratayuda [26] : Salya dan Bunga Cempaka Mulia


By MasPatikrajaDewaku

Nakula dan Sadewa kembali saling pandang. Namun tak ada kata sepakat apapun yang tersimpul dari pandangan sinar mata masing masing.

Keduanya mengalihkan pandangannya ketika Prabu Salya kembali memecah kesunyian, dengan pertanyaan disertai suara yang dalam. “Kamu berdua menginginkan unggul dalam perang Baratayuda, begitu bukan? Sekarang jawablah!”

“Tidak salah apa yang uwa Prabu tanyakan”. Jawab Sadewa.

“Sebab itu, tirukan kata kata yang aku ucapkan tadi”. Kembali Salya memerintahkan kepada kedua kemenakannya dengan setengah memaksa.

Kedua satria kembar itu kembali saling pandang. Kali ini Nakula bertanya kepada adiknya, Sadewa. “Bagaimana adikku, apa yang harus aku lakukan?”

“Tersesrahlah kanda, saya akan duduk dibelakang kanda saja.” Jawab Sadewa lesu

Kembali Nakula bersembah dengan mengatakan, “Dosa apakah yang akan menimpa kami  . . . .” Baru berapa patah kata Nakula berkata , namun dengan cepat Prabu Salya memotong ucapan yang keluar dari bibir Nakula

“Bukan!! Bukan itu yang harus kamu katakan! Tetapi katakan dan tirukan  kalimat yang telah aku ucapkan tadi”.

Sinar mata memaksa dari Prabu Salya telah menghujam ke mata Nakula ketika ia memandang uwaknya. Seakan tersihir oleh sinar mata uwaknya, maka ketika Prabu Salya menuntun kalimat demi kalimat itu, Nakula menuruti kata yang terucap dari bibir Prabu Salya bagai kerbau yang tercocok hidungnya.

“Uwa Prabu . . “

“Uwa Prabu”, tiru Nakula

“Bila nanti Uwa Prabu hendak maju ke medan Kuru sebagai senapati Astina . . . .,”

“Bila nanti Uwa Prabu hendak maju ke medan Kuru sebagai senapati Astina,”

“Kami para Pandawa minta kepada Uwa . . . .”

“Kami para Pandawa minta kepada Uwa “

“Hendaknya Uwa Prabu menyerahkan nyawa Uwa di peperangan. . . .”

Sesaat Nakula tak berkata sepatah katapun, hingga kalimat terakhir itu diulang oleh Prabu Salya. Dengan kalimat yang tersendat, akhirnya Nakula menggerakkan bibirnya, “Hendaknya Uwa Prabu menyerahkan nyawa di peprangan nanti”.

Bangkit Prabu Salya begitu kemenakannya mengucapkan kalimat terakhir itu. Dirangkulnya Nakula, dielusnya kepala kemenakannya itu dengan penuh kasih. Setelah beberapa saat berlalu dengan keheningan, Prabu Salya melepas pelukan, kemudian duduk kembali. Katanya, “Kembar, itulah kalimat yang aku tunggu. Aku rela mengorbankan jiwa untuk kejayaan Para Pandawa. Dari semula aku tidak berlaku masa bodoh terhadap peristiwa yang terjadi dalam perang ini. Aku tidak samar dengan siapa sejatinya yang benar dan siapa yang salah, siapa yang jujur dan siapa yang curang. Dalam hal ini, Pandawa berhak mengadili siapa yang salah dalam perang Barata ini”. Keduanya hanya menganggukkan kepala dengan lemah.

“Begini Pinten, Tangsen, mulai saat ini, uwakmu akan turun tahta. Dengarkan kata kataku, aku akan turun tahta keprabon Mandaraka”. Nakula dan Sadewa menatap mata uwaknya dengan pandangan tidak mengerti. Sejurus kemudian Prabu Salya meneruskan, “Setelah aku, uwakmu, turun tahta, seisi Kerajaan Mandaraka dengan segenap jajahan dan bawahannya, aku akan serahkan kepada kamu berdua. Mulai saat ini, kamu berdua aku wisuda sebagai Raja-raja baru di Mandaraka. Kamu berdua akan aku beri nama Prabu Nakula dan Prabu Sadewa”.

Sejenak Nakula dan Sadewa terdiam. Dengan sang uwak mengatakan hal ini, maka jelaslah bahwa Prabu Salya tidak lagi bermain dalam tata lahir. Dengan menyerahkan Negara Mandaraka, maka sudah begitu terang benderang, kesanggupannya menyerahkan nyawa di Medan Kurusetra adalah tumbuh dan terlahir dari dalam hati yang terdalam. Maka Nakula dan Sadewa yang diberi kepercayaan hanya berkata menyanggupi “Hamba, uwa Prabu, semua yang uwa Prabu katakan akan hamba junjung tinggi”.

Continue reading Baratayuda [26] : Salya dan Bunga Cempaka Mulia