Tag Archives: lokapala

KNS : Lakon Lokapala dan Ramayana


Sumantri Ngenger

sumantriSebuah lakon tentang seorang bambang yang ingin mengabdi kepada Rajanya, Bambang Sumantri ingin ngenger kepada rajanya yaitu Arjunasasrabahu. Dasar masih hijau sehingga tidak mengenal dalamnya samudra dan tingginya gunung, sifat dan sikap tinggi hati dan kepercayaan tinggi atas kesaktian yang dimiliki, nyaris membuatnya di tolak dan di usir oleh Sri Baginda.

Namun lantaran sudah terlanjur suka, akhirnya Sang Raja Maespati menerima ngengernya Sumantri dengan memberi tugas pertama sebagai duta dalam meminang Dewi Citrawati dari Negri Magada. Namun sosok adiknya yang buruk rupa, Sukasarana, merusak kehidupan yang sedang dibangunnya. Rasa malu beradik buruk rupa, sifat tinggi hati menghancurkan potensi Sumantri. Bagaimana akhir hayat Bambang Sumantri ?

Dasamuka Lahir (Sastra Jendra Hayu Ningrat)

DasamukaCerita ini dapat juga disebut sebagai cerita Alap-alap Sukesi atau lahirnya Rahwana, Kumbakarna, Sarpakenaka dan Gunawan Wibisana. Merupakan petikan babad Lokapala yang di dalamnya mengandung mutiara yang sangat berharga.

Kerajaan Lokapala pada waktu itu diperintah oleh Danaraja atau Danapati yang belum mempunyai permaisuri. Karena itu ia ingin memasuki sayembara perang melawan Jambu Mangli kemenakan Prabu Sumali Raja dari negara Alengka yang apabila menang dapat mempersunting Dewi Sukesi putri Sumali Raja. Sebelum Danapati berangkat, ayahnya yang bernama Begawan Wisrawa datang, menyanggupkan diri menyelesaikan persoalan tersebut karena Sumali raja adalah teman baik dari Wisrawa.

Masalah besar terjadi lantaran Sukesi mempersyaratkan calon suaminya harus mampu mewedarkan “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwat Diyu”. Dan Begawan Wisrawa mampu melakukan itu hingga akhirnya Sukesi tunduk dan patuh menjadi istri Begawan Wisrawa.

Tentu saja Danaraja marah besar atas kejadian itu, meskipun yang melakukan itu adalah ayahnya.

Link lain : https://indonesiawayang.com/2009/07/12/ki-narto-sabdho-sastro-jendroyuningrat-alap2-sukesi/

Rama Tundung (Ramayana I)

KKNS Ramayana 1isah kelahiran Ramawijaya di Ayodya. Ayahnya Prabu Dasarata mempunyai tiga orang istri yaitu Dewi Ragu, Dewi Kekayi dan Dewi Sumitra. Saat itu muncul perseteruan diantara mereka yang disebabkan oleh sifat dan watak jelek dari Dewi Kekayi hingga akhirnya kemudian lahirlah keempat putra Ayodya yaitu Ramawijaya, Leksmana, Barata dan Satrugna.

Menjelang dewasa saat hendak diangkat menjadi pangeran pati, Rawawijaya malah terusir dari akibat iri dengki Dewi Kekayi, ibu dari Barata.

Ramayan I dalam unggahan lain bisa di unduh disini : http://www.4shared.com/folder/NBoRFrHi/31_online.html

Rama Gandrung

Rama sinta RamayanaTerusir dari Ayodya dan hidup mengembara di tengah hutan ditemani istri tercinta, Dewi Sinta, serta adik yang begitu setia, Leksmana, tidak membuat Ramawijaya larut dalam kesedihan akibat diusir oleh ayahnya. Namun peristiwa berikutnya adalah awal malapetaka ! Dewi Sinta diculik oleh Rahwanaraja.

Sungguh kasihan Ramawijaya yang selalu terkenang akan kekasih hatinya.

Anoman Obong

Hanoman02Sugriwa yang berhutang budi kepada Ramawijaya akhirnya bersedia membantu Ramawijaya untuk merebut kembali istrinya Dewi Sinta dari tangan Dasamuka di negri Alengkadiraja.

Awalnya yang diutus untuk mengabarkan kepada Dewi Sinta bahwa suaminya hendak berjuang merebutnya dari tangan Raja Alengka, adalah Anoman, kera putih sakti putra Anjani. Kiprah dan krida Anoman penuh cerita heboh dan berbuah huru hara di ibukota Alengka.

Rama Tambak

ramawijaya_soloSementara itu, mata-mata Alengka, Kala Marica melaporkan kepada Prabu Rahwana tentang rencana pembangunan bendungan tersebut. Prabu Dasamuka merasa cemas dengan rencana Prabu Rama tersebut. Mendengar itu, Prabu Dasamuka memerintahkan Detya Kala Yuyu Rumpung untuk membawa seluruh pasukan raksasa kepiting yang ada di Samodera Hindia, untuk menghancurkan jembatan buatan pasukan wanara Pancawati.

Yuyu Rumpung berwujud raksasa berkepala ketam (jawa =yuyu). Ia adalah salah satu punggawa kerajaan Alengka yang oleh Prabu Dasamuka ditempatkan di dalam samodra. Yuyurumpung sangat sakti. Ia dapat hidup di dalam air dan darat.

Detya Kala Yuyu Rumpung siap melaksanakan perintah Prabu Dasamuka. Ia akan mengerahkan seluruh yuyu rumpung di Samodera Hindia, untuk menggagalkan pembangunan jembatan Prabu Rama. Berangkatlah Detya Kala Yuyu Rumpung ke Samodera Hindia. Tentu saja Detya Kala Marica ikut pergi ke Samodera Hindia, mengawasi jalannya eksekusi pasukan Prabu Dasamuka pada jembatan Prabu Rama.

Sementara itu di Pancawati, Prabu Rama sedang berembug dengan Narpati Sugriwa, Laksmana, Anoman, Anggada, Anila dan para punggawa yang lain. Prabu Rama merencanakan pembuatan tanggul di Samudera Hindia, dari Pancawati  sampai tanah Alengka, untuk membawa pasukan Pancawati sebanyak-banyaknya.

Akhirnya mereka mulai membendung samudera Hindia. Para pasukan kera Pancawati bahu-membahu membuat bendungan dengan batu dan batang pohon dari hutan di sekitar Pancawati. Namun belum sampai ke Alengka tanggul itu selalu jebol dan hancur. Pasukan Prabu Rama menjadi putus asa. Belum tahu langkah apa yang harus dilakukan.

Kumbakarna Lena

KumbakarnaPerang antara pasukan kera pimpinan Ramawijaya melawan pasukan Alengka pecah sudah. Pertempuran ramai terjadi. Namun satu demi satu prajurit andalan Alengka berguguran, meskipun di pihak Ramawijaya korbanpun tidak sedikit.

Sarpakena, raksasi yang sakti mandraguna adik dari Rahwanaraja, telah menemui ajalnya. Demikianpun, Prahasta, patih Alengka yang masih terbilang paman dari Rahwanaraja, telah menemui ajal.

Rahwana kemudian menyuruh Indrajit anaknya untuk membangunkan Kumbakarna yang tengah bertapa. Kumbakarna sebenarnyalah tidak setuju atas perilaku kakaknya dalam menculik dewi Sinta. Namun apa daya, pendapatnya selalu ditolak oleh Sang Dasamuka.

Namun akhirnya Sang Kumbakarna maju perang demi membela negara, bukan untuk membela tindakan kakaknya yang tidak benar.

Kumbakarna Lena dalam unggahan lain bisa di unduh disini : http://www.4shared.com/folder/BdZLmiWZ/28_online.html

Dasamuka Lena

Dasamuka triwikrama-Yogya-04Akhirnya setelah semua orang kepercayaan dan andalannya gugur, termasuk anaknya Indrajit, maka mau tidak mau Dasamuka maju sendiri sebagai senapati Alengka. Kemarahan yang memuncak atas hilangnya orang-orang dekatnya, ditambah luluh lantaknya negara membakar nafsu membunuh Rahwana. Banyak korban dari pihak Ramawijaya akibat keganasan Rahwana.

Namun kezaliman akhirnya bakal sirna. Dasamuka tak berdaya saat menghadapi Ramawijaya.

Bagaimana kemudian pertemuan antara kekasih yang tak sua sekian lama ? Bagaimana kisah antara Rama dan Sinta ?

Ramayana [1]


Silsilah Lokapala

Mendung di bumi Ayodya

Ada sebuah istana bagaikan surga, dipenuhi oleh orang-orang bijak serta luhur perbuatan, di Ayodhya-lah yang cukup terkenal di dunia, itulah istana Sri Baginda Prabu Dasarata

Keindahan surga benar-benar terkalahkan, oleh puri Ayodhya yang tiada bandingannya, di sana selalu dalam keadaan aman sentosa, pada waktu musim hujan maupun pada musim kemarau

Berbagai batu-batuan mulia, emas perak beserta permata terdapat di sana, itu laksana gigi keraton Ayodhya yang putih, seolah-olah tersenyum, surga dapat dikalahkannya

Ada sebuah balai yang bertahtakan permata, dikelilingi oleh taman yang sangat menakjubkan, tempat para gadis-gadis bercengkerama, bagai bidadari di gunung Mahameru (Himalaya)

Permata manik-manik tak terbilang banyaknya, semua berkilauan terletak pada balai peninjauan, seperti sungai Gangga dari gunung Himawan, kelihatan berkilauan dan sungguh menakjubkan

Ada seorang Raja besar, dengarkanlah. Terkenal di dunia, musuh baginda semua tunduk. Cukup mahir akan segala filsafat agama, Prabu Dasarata gelar Sri Baginda, tiada bandingannya

Beliau ayah Sang Triwikrama, maksudnya ayah Bhatara Wisnu yang sedang menjelma akan menyelamatkan dunia seluruhnya. Demikian tujuan Sang Hyang Wisnu menjelma menjadi manusia.

(Dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Ramayana)

Dan pada saat itu memang negri Ayodya sangat terkenal sebagai negara besar yang dikagumi dan dihormati oleh kawan dan disegani oleh lawan. Rakyatnya hidup aman, tentram dan makmur dibawah pemerintahan rajanya, Prabu Dasarata.

(Tak heran dalam sebuah versi tentang asal-usul pemberian nama kota Yogyakarta, bila pendirinya yaitu Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwana I memberi nama kerajaan dengan kata Yodya dengan harapan agar Yodya menjadi aman dan tentram yang kemudian di tambahkan dengan kata “karta” yang berarti makmur. Kemudian ditambahkan pula dengan “Hadiningrat” dan seiring dengan berjalan dengan waktu hingga sekarang terkenal dengan sebutan Yogyakarta Hadingingrat)

Namun saat ini Ayodya tengah di selimuti oleh mendung. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Sang Raja, Prabu Dasarata. Telah menjadi rahasia umum, bahkan telah menjadi pembicaraan rakyat luas bahwa telah terjadi ketidak harmonisan di dalam istana kerajaan. Dan Prabu Dasarata-pun menyadari hal tersebut. Continue reading Ramayana [1]

Lokapala [1]


wy-begawan-wisrawa

Lokapala, miturut carita Jawa araning nagara, kang jumeneng ratu tedhak turune Bathara Guru. Nanging miturut buku-buku asli Indu, kayata Mahabharata lan Utarakanda, Lokapala iku araning pangkate dewa 4, yaiku : Bathara Indra (ngratoni para dewa), Bathara Yama (nguwaosi nraka), Bathara Baruna (nguwaosi samodra) lan Bathara Kuwera (dewaning kasugihan, rajabrana).

Miturut serat-serat pakem padhalangan, Lokapala namanipun nagari, ratunipun ajejuluk Prabu Wisrawana utawi Prabu Dhanaraja, Prabu Dhanapati, putranipun Bagawan Wisrawa patutan kaliyan Dewi Lokati. Prabu Wisrawana punika ingkang dipun cariyosaken abala bacingah, tegesipun wadyabala campuran antawisipun wadyabala manungsa kaliyan raseksa.

Resi Wisrawa

Garwane jaka rara Resi Wisrawa yaiku Dewi Lokati, putrane putri Prabu Lokawana ratu ing Lokapala, apeputra kakung siji, sinung asma Wisrawana.

Resi Wisrawa jumeneng ratu ing Lokapala gumanti kaprabone ingkang rama marasepuh, ajejuluk Prabu Wisrawa. Nanging bareng Wisrawana wis diwasa, Prabu Wisrawa seleh kaprabon marang ingkang putra iku, nuli mbanjurake mratapa utawa mbagawan.

Sanajan wis jumeneng narendra, Prabu Wisrawana durung nambut silaning akrama. Ing sawijining dina Prabu Wisrawana midhanget pawarta, manawa Prabu Sumali ratu Ngalengka ngedegake sayembara, kanggo malakramakake putrane putri kang apeparab Dewi Sukesi. Surasane sayembara : sing sapa bisa ngasorake yudane senapati Ngalengka kang apeparab Arya Jambumangli, bakal didhaupake karo Dewi Sukesi.

Prabu Wisrawana wis muntu tekad nedya ngleboni sayembara Ngalengka, mulane dhawuh mepak wadyabala marang Patih Banendra. Sawise samekta, lagi bae nedya budhal menyang praja Ngalengka, dumadakan Sang Prabu kerawuhan ingkang rama Resi Wisrawa.

Resi Wisrawa menggak kersane ingkang putra. Sang Resi mrayogakake Prabu Wisrawana tumuli nambut silaning akrama, nanging ora nayogyani yen olehe krama kanthi karananing pancakara. Kersane Sang Resi, Dewi Sukesi supaya disuwun kanti aris. Sang Resi saguh nglamarake Sang Dewi, sarana sowan Prabu Sumali.

Prabu Danaraja ndherek kersane ingkang rama. Awit saka iku, Sang Prabu tumuli dhawuh marang Patih Banendra, ndikakake mbubarake wadyabala, ora sida budhal menyang Ngalengka. Continue reading Lokapala [1]

Ramaparasu [7] : Nalika Sang Ramaparasu Kapanggih Kang Sinedya


By MasPatikrajaDewaku

Saka ing pawarta kang binandhung ing karna, akeh pawongan kang nyebutake kalamun Sang Harjuna Sasrabahu jengkar saka praja, ngrabasa prang marang Negara Alengka Diraja amung katindakake pribadi. Saweneh pawarta nyebutake lamun Sang Prabu tedhak cangkrama ngupadi ing ngendi dununging putri kang kena kinarya liru wujuding Dewi Citrawati kang wus surut ing kasidan jati.

Dene para pandita kang tinakonan dening Sang Ramaparasu nanjihake, menawa Sang Prabu wus tan kersa andedawa nyecep memanising jagat, mula Sang Prabu mahas ing asamun madeg pandhita. Nanging tumraping Para Pujangga lan Para Satriya, ora saruju marang pinemu kang mangkana. Pinemune, Sang Prabu tindak ngupadi ing ngendi papan dununge kembang jagad kang kena kinarya liru wujuding Gusti Ratu Citrawati.

Karana pawarta kang kaprungu tan ana kang gumathok, mula pepuntoning tekad, Sang Rama Parasu nedya ngupadi dhewe ing ngendi papan lan paran dununge Prabu Harjuna Sasrabahu. Sakupenging negara kang wewatesan marang Negara Maespati wus kemput kinubengan. Nanging tan kapanggih apa kang sinedya. Wusanane Sang Ramaparasu nyabrang wana gung nedya kundur mring pertapane ingkang rama, nedya ngangin-angin pawartane ing ngendi sayekti Prabu Harjuna Sasrabahu dedunung. Lamun wus pinasthi ing mengko, Rama Parasu bakal anyusul marang paran kang gumathok.

Nanging ing tengahing marga, sedyane kang sakawit nulya kajabel. Jroning driya ana rasa panulak, lamun kondura marang pertapan, ing kana malah saya kandel wewayangan peteng kang nglelimput. Wewayangan sedaning kanjeng ramanira, crita dhuhkita kang matumpa-tumpa tumiba marang kang ibu lan para kadange, bakal bali lumayang ing telenging pangangen-angen. Meksa Sang Rama Parasu jumangkah separan-paran amung ngetutake tindaking suku lan kedheping netrane.

Mangkana wus ndungkap tri ari nggenira Sang Rama Parasu jumangkah anginjeng tanpa sotya, greget osiking pikir nutuh jroning pangangen-angen.

“Salawase ingsun durung nate wruh citra wewujudane Prabu Harjuna Sasrabahu. Kepriye anggonku ngawruhi sapa kang aran Prabu Harjuna Sasrabahu? Apamaneh Sang Prabu Harjuna Sasra anggone tindak jengkar saka praja kanthi tindak sesingidan. Kuwi padha kalawan tindak kang ora kersa kawuningan dening sak sapaa …..”

Dangu Sang Rama Bargawa tan ana mosik, kang ana jroning cipta amung angesthi marang paran dununge pawongan kang sinedya. Jenggirat nyat Sang Rama Parasu tumuju marang puntoning pamikir.

“Ya ! ing kene papan dununge! Menawa Sang Prabu Harjuna Sasrabahu tetela panjalmaning Bathara Wisnu. Mesthine tan bakal bucik kulite menawa kataman wadung lan panahku Bargawastra!

Saka pamikir kang wus gumathok, sigra cinandhak sinandhangan panah lan wadung kang duk nalika samana wus mbrastha para satriya kang cacahe bebasan tanpa wilangan. Sapa ngerti lamun ana sawijining satriya kang kuwawa nadhahi kemandene panah lan wadung kang tetela wus gubras ludira saka pangamuke duk nalilka samana. Kacarita, ingambalan Sang Rama Bargawa ngamuk punggung. Dwidasa, tegese rongpuluh cacahing satriya kang tumekaning tiwas jroning catur ari.

Continue reading Ramaparasu [7] : Nalika Sang Ramaparasu Kapanggih Kang Sinedya

KTCM Bedah Lokapala


Termasuk lakon pakem, lakon ini menceritakan keangkaramurkaan Prabu Rahwana raja Alengka, yang membuat prihatin Prabu Danaraja, raja Lokapala. Karena itu Danapati mengutus Gohmuka untuk mengantarkan surat peringatan sekaligus nasehat kepada Rahwana.

Rahwana membaca surat Danapati sangat murka, Gohmuka dibunuhnya; kemudian segera menyusun kekuatan menyerang Lokapala.

Peperangan antara pasukan Alengka dan Lokapala pun terjadi. Rahwana bertanding dengan Danapati, keduanya sama-sama sakti. Namun, peperangan belum selesai, dewa telah menjemput kematian Danapati, untuk dinobatkan sebagai pelengkap caturlokapala (keempat dewa penguasa dunia). Karena itu Rahwana gugat kepada dewa, minta agar Danapati dihidupkan kembali. Batara Guru tidak mengabulkan, sebagai pengganti Rahwana dianugerahi umur panjang.

Ketika Rahwana kembali dari kahyangan, ia bertemu dengan Widawati. Rahwana jatuh cinta, namun ditolak, bahkan Widawati bunuh diri ke dalam api, sehingga Rahwana mabuk asmara.

http://wayang.wordpress.com/2006/10/24/bedah-lokapala/

Lakon Bedah Lokapala oleh KTCM

 

Update Terakhir : 03042014

 

http://www.4shared.com/folder/tmhHMrzk/090.html

Ramayana {bagian 3} – Lahirnya Putra-Putri Wisrawa


 

rahwana_cirebonsarpakenaka_yogyawibisana_yogya2

Berbulan-bulan di Lokapala Danaraja menunggu datangnya sang ayah yang diharapkan membawa kabar bahagia. Ia telah mendengar kabar bahwa sayembara Dewi Sukesi telah berhasil dimenangkan oleh Resi Wisrawa. Sampai suatu saat Wisrawa dan Sukesi sampai Lokapala. Sukacita Danaraja menyambut keduanya. Namun Wisrawa datang dengan wajah yang kuyu dan kecantikan sang dewi yang diagung-agungkan banyak orang itu tampak pudar. Danaraja, merasa mendapatkan suasana yang tidak nyaman, kemudian bertanya pada ayahnya. Di depan istri dan putranya, Wisrawa menceritakan semua kejadian yang dialaminya dan secara terus terang mengakui segala dosa dan kesalahannya. Namun kesalahan tersebut merupakan kesalahan yang amat teramat fatal dimata Danaraja. Mendengar penuturan ayahnya, Prabu Danaraja menjadi sangat kecewa dan marah besar. Danaraja tidak dapat mempercayai bahwa ayahnya tega mencederai hati putra kandungnya sendiri. Kemarahan itu sudah tak terbendung. Danaraja lalu mengusir kedua suami-istri tersebut keluar dari negara Lokapala.Akhirnya dengan penuh duka, sepasang suami istri itu kembali ke negara Alengka.

Dalam perjalanan kembali menuju Alengka, Dewi Sukesi yang sudah mulai hamil itu tidak dapat berbuat banyak. Tubuhnya yang mulai kehilangan tenaga tampak kuyu dan pucat. Setelah berbulan-bulan perjalanan yang melelahkan, tiba saat melahirkan. Di tengah hutan belantara padat, Dewi Sukesi tak kuasa lagi menahan lahirnya sang bayi. Akhirnya lahirlah jabang bayi itu dalam bentuk gumpalan daging, darah dan kuku. Dewi Sukesi terkejut juga Resi Wisrawa. Gumpalan itu bergerak keluar dari rahim sang ibu menuju kedalam hutan. Kesalahan fatal dari dua orang manusia menyebabkan takdir yang demikian buruk terjadi. Gumpalan darah itu bergerak dan akhirnya menjelma menjadi seorang putra bayi berupa raksasa, seorang bayi laki-laki raksasa sebesar bukit dan satu orang bayi perempuan yang ujud tubuhnya ibarat bidadari, tetapi wajahnya berupa raksasa perempuan.

Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi hanya dapat berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Sang Penguasa Alam. Ketiga bayi itu lahir ditengah hutan diiringi lolongan serigala dan raungan anjing liar. Auman harimau dan kerasnya teriakan burung gagak. Suasana yang demikian mencekam mengiringi kelahiran ketiga bayi yang diberi nama Rahwana, Sarpakenaka dan Kumbakarna. Dengan kepasrahan yang mendalam, Wisrawa dan Sukesi membawa ketiga anak-anaknya ke Alengka. Tiba di Alengka, Prabu Sumali menyambut mereka dengan duka yang sangat dalam. Kesedihan itu membuat Sang Prabu raksasa yang baik hati ini menerima mereka dengan segala keadaan yang ada. Di Alengka Wisrawa dan Sukesi membesarkan ketiga putra-putri mereka dengan setulus hati.

Rahwana dan Sarpakenaka tumbuh menjadi raksasa dan raksesi beringas, penuh nafsu jahat dan angkara. Rahwana tampak semakin perkasa dan menonjol diantara kedua adik-adiknya. Kelakuannya kasar dan biadab. Demikian juga dengan Sarpakenaka yang makin hari semakin menjelma menjadi raksasa wanita yang selalu mengumbar hawa nafsu. Sarpakenaka selalu mencari pria siapa saja dalam bentuk apa saja untuk dijadikan pemuas nafsunya. Sebaliknya Kumbakarna tumbuh menjadi raksasa yang sangat besar, tiga sampai empat kali lipat dari tubuh raksasa lainnya. Ia juga memiliki sifat dan pribadi yang luhur. Walau berujud raksasa, tak sedikitpun tercermin sifat dan watak raksasa yang serakah, kasar dan suka mengumbar nafsunya, pada diri Kumbakarna.

Namun perasaan gundah dan sedih menggelayut di relung hati Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi. Ketiga putranya lahir dalam wujud raksasa dan raksesi. Kini Dewi Sukesi mulai mengandung putranya yang keempat. Akankah putranya ini juga akan lahir dalam wujud rasaksa atau raseksi? Dosa apakah yang telah mereka lakukan? Ataukah akibat dari gejolak nafsu yang tak terkendali sebagai akibat penjabaran Ilmu Sastrajendra Hayuningrat yang telah dilakukan oleh Resi Wisrawa kepada Dewi Sukesi?

Sadar akan kesalahannya yang selama ini terkungkung oleh nafsu kepuasan, Resi Wisrawa mengajak Dewi Sukesi, istrinya untuk bersemadi, memohon pengampunan kepada Sang Maha Pencipta, serta memohon agar dianugerahi seorang putra yang tampan, setampan Wisrawana/Danaraja, putra Resi Wisrawa dengan Dewi Lokawati, yang kini menduduki tahta kerajaan Lokapala. Sebagai seorang brahmana yang ilmunya telah mencapai tingkat kesempurnaan, Resi Wisrawa mencoba membimbing Dewi Sukesi untuk melakukan semadi dengan benar agar doa pemujaannya diterima oleh Dewata Agung. Berkat ketekunan dan kekhusukkannya bersamadi, doa permohonan Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi diterima oleh Dewata Agung. Setelah bermusyawarah dengan para dewa, Bhatara Guru kemudian meminta kesediaan Resi Wisnu Anjali, sahabat karib Bhatara Wisnu, untuk turun ke marcapada menitis pada jabang bayi dalam kandungan Dewi Sukesi.

Dengan menitisnya Resi Wisnu Anjali, maka lahirlah dari kandungan Dewi Sukesi seorang bayi lelaki yang berwajah sangat tampan. Dari dahinya memancar cahaya keputihan dan sinar matanya sangat jernih. Sebagai seorang brahmana yang sudah mencapai tatanan kesempurnaan, Resi Wisrawa dapat membaca tanda-tanda tersebut, bahwa putra bungsunya itu kelak akan menjadi seorang satria yang cendekiawan serta berwatak arif bijaksana. la kelak akan menjadi seorang satria yang berwatak brahmana. Karena tanda-tanda tersebut, Resi Wisrawa memberi nama putra bungsunya itu, Gunawan Wibisana.

Karena wajahnya yang tampan dan budi pekertinya yang baik, Wibisana menjadi anak kesayangan Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi. Dengan ketiga saudaranya, hubungan yang sangat dekat hanyalah dengan Kumbakarna. Hal ini karena walaupun berujud raksasa, Kumbakarna memiliki watak dan budi yang luhur, yang selalu berusaha mencari kesempurnaan hidup.

Nun jauh di negara Lokapala, Prabu Danaraja masih memendam rasa kemarahan dan dendam yang sangat mendalam kepada ayahnya. Hingga detik ini dia masih tidak dapat menerima perlakuan ayahnya yang dianggapnya mengkhianati dharma bhaktinya sebagai anak. Sang Resi Wisrawa sebagai ayah dianggapnya telah menyelewengkan bhakti seorang anak yang telah dengan tulus murni dari dalam bathin yang paling dalam memberikan cinta dan kehormatan pada ayah kandung junjungannya.

Rasa ini benar-benar tak dapat ia tahan hingga suatu saat Prabu Danaraja mengambil sikap yang sudah tidak bisa ditawar lagi. Prabu Danaraja lalu mengerahkan seluruh bala tentara Lokapala dan memimpinnya sendiri untuk menyerang Alengka dan membunuh ayahnya sendiri yang sudah tidak memiliki kehormatan lagi dimatanya. Alengka dan Lokapala bentrok dan terjadi pertumpahan darah. Pertumpahan darah yang ditujukan hanya untuk dendam seorang anak pada ayahnya.

Resi Wisrawa tidak dapat diam melihat semua ini. Ribuan nyawa prajurit telah hilang demi seorang Brahmana tua yang telah penuh dengan dosa. Wisrawa segera turun ke tengah pertempuran dan menghentikan semuanya. Kini ia berhadap-hadapan dengan Danaraja, anaknya sendiri. Dengan mata penuh dendam, Danaraja mengibaskan pedang senjatanya ke badan Wisrawa. Darah mengucur deras, Wisrawa roboh di tengah-tengah para prajurit kedua negara.

Melihat Resi Wisrawa tewas dalam peperangan melawan Prabu Danaraja, Dewi Sukesi berniat untuk membalas dendam kematian suaminya. Rahwana yang ingin menuntut balas atas kematian ayahnya, dicegah oleh Dewi Sukesi. Kepada keempat putranya diyakinkan, bahwa mereka tidak akan mampu mengalahkan Prabu Danaraja yang memiliki ilmu sakti Rawarontek. Untuk dapat mengalahkan dan membunuh Prabu Danaraja. Mereka harus pergi bertapa, mohon anugrah Dewata agar diberi kesaktian yang melebihi Prabu Danaraja, yang sesungguhnya masih saudara satu ayah mereka sendiri, sebagai bekal menuntut balas atas kematian ayah mereka. Berangkatlah mereka melaksanakan perintah ibunya.

Sumber : http://kisah.united.net.kg/

Ramayana {bagian 2} – Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu


 

wisrawa_solosukesi_solosumali_solo

Kini tiba saatnya Resi Wisrawa memulai penjabaran apa arti ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Namun sebelum wejangan berupa penjabaran makna ilmu sastrajendra hayuningrat pangruwating diyu diajarkan kepada Dewi Sukesi, Resi Wisrawa memberikan sekilas tentang ilmu itu kepada Sang Prabu Sumali. Resi Wisrawa berkata lembut, bahwa seyogyanya tak usah terburu-buru, kehendak Sang Prabu Sumali pasti terlaksana. Jika dengan sesungguhnya menghendaki keutamaan dan ingin mengetahui arti sastra jendra. Ajaran Ilmu Sastra Jendra itu adalah, barang siapa yang menyadari dan menaati benar makna yang terkandung di dalam ajaran itu akan dapat mengenal watak (nafsu-nafsu) diri pribadi. Nafsu-nafsu ini selanjutnya dipupuk, dikembangkan dengan sungguh-sungguh secara jujur, di bawah pimpinan kesadaran yang baik dan bersifat jujur. Dalam pada itu yang bersifat buruk jahat dilenyapkan dan yang bersifat baik diperkembangkan sejauh mungkin. Kesemuanya di bawah pimpinan kebijaksanaan yang bersifat luhur.

Terperangah Prabu Sumali tatkala mendengar uraian Resi Wisrawa. Mendengar penjelasan singkat itu Prabu Sumali hatinya mmenjadi sangat terpengaruh, tertegun dan dengan segera mempersilahkan Resi Wisrawa masuk ke dalam sanggar. Wejangan dilakukan di dalam sanggar pemujaan, berduaan tanpa ada makhluk lain kecuali Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi. Karena Sastrajendra adalah rahasia alam semesta, yang tidak dibolehkan diketahui sebarang makhluk, seisi dunia baik daratan, angkasa dan lautan. Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebuah ilmu sebagai kunci orang dapat memahami isi indraloka pusat tubuh manusia yang berada di dalam rongga dada yaitu pintu gerbang atau kunci rasa jati, yang dalam hal ini bernilai sama dengan Tuhan Yang Maha Esa, yang bersifat gaib. Maka dari itu ilmu Sastra Jendera Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebagai sarana pemunah segala bahaya, yang di dalam hal ilmu sudah tiada lagi. Sebab segalanya sudah tercakup dalam sastra utama, puncak dari segala macam ilmu. Raksasa serta segala hewan seisi hutan, jika tahu artinya sastra jendra. Dewa akan membebaskan dari segala petaka. Sempurna kematiannya, rohnya akan berkumpul dengan roh manusia, manusia yang telah sempurna yang menguasal sastra jendra, apabila ia mati, rohnya akan berkumpul dengan para dewa yang mulya.

Sastra Jendra disebut pula Sastra Ceta. Suatu hal yang mengandung kebenaran, keluhuran, keagungan akan kesempurnaan penilaian terhadap hal-hal yang belum nyata bagi manusia biasa. Karena itu Ilmu Sastra Jendra disebut pula sebagai ilmu atau pengetahuan tentang rahasia seluruh semesta alam beserta perkembangannya. Jadi tugasnya, Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu ialah jalan atau cara untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Untuk mencapai tingkat hidup yang demikian itu, manusia harus menempuh berbagai persyaratan atau jalan dalam hal ini berarti sukma dan roh yang manunggal, antara lain dengan cara-cara seperti:

Mutih : makan nasi tanpa lauk pauk yang berupa apapun juga.

Sirik : menjauhkan diri dari segala macam keduniawian.

Ngebleng : menghindari segala makanan atau minuman yang tak bergaram.

Patigeni : tidak makan atau minum apa-apa sama sekali.

Selanjutnya melakukan samadi, sambil mengurangi makan, minum, tidur dan lain sebagainya. Pada samadi itulah pada galibnya orang akan mendapalkan ilham atau wisik. Ada tujuh tahapan atau tingkat yang harus dilakukan apabila ingin mencapai tataran hidup yang sempurna, yaitu :

Tapaning jasad, yang berarti mengendalikan/menghentikan daya gerak tubuh atau kegiatannya. Janganlah hendaknya merasa sakit hati atau menaruh balas dendam, apalagi terkena sebagai sasaran karena perbuatan orang lain, atau akibat suatu peristiwa yang menyangkut pada dirinya. Sedapat-dapatnya hal tersebut diterima saja dengan kesungguhan hati.

Tapaning budi, yang berarti mengelakkan/mengingkari perbuatan yang terhina dan segala hal yang bersifat tidak jujur.

Tapaning hawa nafsu, yang berarti mengendalikan/melontarkan jauh-jauh hawa nafsu atau sifat angkara murka dari diri pribadi. Hendaknya selalu bersikap sabar dan suci, murah hati, berperasaan dalam, suka memberi maaf kepada siapa pun, juga taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Memperhatikan perasaan secara sungguh-sungguh, dan berusaha sekuat tenaga kearah ketenangan (heneng), yang berarti tidak dapat diombang-ambingkan oleh siapa atau apapun juga, serta kewaspadaan (hening).

Tapaning sukma, yang berarti memenangkan jiwanya. Hendaknya kedermawanannya diperluas. Pemberian sesuatu kepada siapapun juga harus berdasarkan keikhlasan hati, seakan-akan sebagai persembahan sedemikian, sehingga tidak mengakibatkan sesuatu kerugian yang berupa apapun juga pada pihak yang manapun juga. Pendek kata tanpa menyinggung perasaan.

Tapaning cahya, yang berarti hendaknya orang selalu awas dan waspada serta mempunyai daya meramalkan sesuatu secara tepat. Jangan sampai kabur atau mabuk karena keadaan cemerlang yang dapat mengakibatkan penglihatan yang serba samar dan saru. Lagi pula kegiatannya hendaknya selalu ditujukan kepada kebahagiaan dan keselamatan umum.

Tapaning gesang, yang berarti berusaha berjuang sekuat tenaga secara berhati-hati, kearah kesempurnaari hidup, serta taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengingat jalan atau cara itu berkedudukan pada tingkat hidup tertinggi, maka ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu itu dinamakan pula “Benih seluruh semesta alam.”

Jadi semakin jelas bahwa Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu hanya sebagai kunci untuk dapat memahami isi Rasa Jati, dimana untuk mencapai sesuatu yang luhur diperlukan mutlak perbuatan yang sesuai. Rasajati memperlambangkan jiwa atau badan halus ataupun nafsu sifat tiap manusia, yaitu keinginan, kecenderungan, dorongan hati yang kuat, kearah yang baik maupun yang buruk atau jahat. Nafsu sifat itu ialah; Luamah (angkara murka), Amarah, Supiyah (nafsu birahi). Ketiga sifat tersebut melambangkan hal-hal yang menyebabkan tidak teraturnya atau kacau balaunya sesuatu masyarakat dalam berbagai bidang, antara lain: kesengsaraan, malapetaka, kemiskinan dan lain sebagainya. Sedangkan sifat terakhir yaitu Mutmainah (nafsu yang baik, dalam arti kata berbaik hati, berbaik bahasa, jujur dan lain sebagainya) yang selalu menghalang-halangi tindakan yang tidak senonoh.

Saat wejangan tersebut dimulai, para dewata di kahyangan marah terhadap Resi Wisrawa yang berani mengungkapkan ilmu rahasia alam semesta yang merupakan ilmu monopoli para dewa. Para Dewa sangat berkepentingan untuk tidak membeberkan ilmu itu ke manusia. Karena apabila hal itu terjadi, apalagi jika pada akhirnya manusia melaksanakannya, maka sempurnalah kehidupan manusia. Semua umat di dunia akan menjadi makhluk sempurna di mata Penciptanya.Dewata tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Maka digoncangkan seluruh penjuru bumi. Bumi terasa mendidih. Alam terguncang-guncang. Prahara besar melanda seisi alam. Apapun mereka lakukan agar ilmu kesempurnaan itu tidak dapat di jalankan.

Semakin lama ajaran itu semakin meresap di tubuh Sukesi. Untuk tidak terungkap di alam manusia, maka Bhatara Guru langsung turun tangan dan berusaha agar hasil dari ilmu tersebut tetap menjadi rahasia para dewa. Karenanya ilmu tersebut harus tetap tetap patuh berada di dalam rahasia dewa. Oleh niat tersebut maka Bhatara Guru turun ke bumi masuk ke dalam badan Dewi Sukesi. Dibuatnya Dewi Sukesi tergoda dengan Resi Wisrawa. Dalam waktu cepat Dewi Sukesi mulai tergoda untuk mendekati Wisrawa. Namun Wisrawa yang terus menguraiakn ilmu itu tetap tidak berhenti. Bahkan kekuatan dari uraian itu menyebabkan Sang Bathara Guru terpental keluar dari raga Wisrawa. Tetapi Bathara Guru tidak menyerah begitu saja. Dipanggilnya permaisurinya yaitu Dewi Uma turun ke dunia. Bhatara Guru masuk menyatu raga dalam tubuh Resi Wisrawa sedang Dewi Uma masuk ke dalam tubuh Dewi Sukesi.

Tepat pada waktu ilmu itu hendak selesai diwejangkan oleh Resi Wisrawa kepada Dewi Sukesi, datanglah suatu percobaan atau ujian hidup. Sang Bhatara Guru yang menyelundup ke dalam tubuh Bagawan Wisrawa dan Bhatari Uma yang ada di dalam tubuh Dewi Sukesi memulai gangguannya terhadap keduanya. Godaan yang demikian dahsyat datang menghampiri kedua insan itu. Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi yang menerima pengejawantahan Bhatara Guru dan Dewi Uma secara berturut-turut terserang api asmara dan keduanya dirangsang oleh nafsu birahi. Dan rangsangan itu semakin lama semakin tinggi. Tembuslah tembok pertahanan Wisrawa dan Sukesi. Dan terjadilah hubungan yang nantinya akan membuahkan kandungan. Begawan Wisrawa lupa, bahwa ia pada hakekatnya hanya berfungsi sebagai wakil anaknya belaka. Dan akibat dari godaan tersebut, sebelum wejangan Sastra Jendra selesai, setelah hubungan antara Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi terjadi, kenyataan mengatakan mereka sudah merupakan suami-istri.

Seusai gangguan itu Bathara Guru dan Dewi Uma segera meninggalkan dua manusia yang telah langsung menjadi suami istri. Sadar akan segala perbuatannya, mereka berdua menangis menyesali yang telah terjadi. Namun segalanya telah terjadi. Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu gagal diselesaikan. Dan hasil dari segala uraian yang gagal diselesaikan itu adalah seboah noda, aib dan cela yang akan menjadi malapetaka besar dikemudian hari.

Tetapi apapun hasilnya harus dilalui. Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi membeberkan semuanya apa adanya kepada sang ayah Prabu Sumali. Dengan arif Prabu Sumali menerima kenyataan yang sudah terjadi. Dan Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi resmi sebagai suami istri, dan seluruh sayembara ditutup.

Sumber : http://kisah.united.net.kg/