Tag Archives: kresna

Video Ki Purbo Asmoro – Gojali Suta


boma-kresna

Sebuah Video pagelaran wayang dari dalang Ki Purbo Asmoro dengan lakon “Gojali Suto”. Kiriman dari mas Durahman Kedu Gantiwarno Klaten,

Menceritakan perseteruan keluarga yang kemudian mengakibatkan pertempuran antara Gojali (Bapak) dan Suta (Anak)

Saya upload di Page FB “Paguyuban Pecinta Wayang

Mahabharata 24 : Sumpah Setia Krishna


Exile_of_Pandavasa

Salwa sangat marah ketika mendengar berita terbunuhnya Sisupala oleh Krishna pada waktu upacara besar rajasuya yang diadakan Yudhistira di Indraprastha. Salwa, sahabat Sisupala, tahu benar bahwa Krishna dan Sisupala memang bermusuhan walaupun mereka saudara sepupu karena Basudewa, ayah Krishna, kakak-beradik dengan Srutadewi, ibu Sisupala. Pangkal permusuhan itu adalah Dewi Rukmini, kekasih Sisupala yang dilarikan dan diperistri oleh Krishna.

Sebagai teman sejati yang ingin membalas dendam atas kematian Sisupala, Salwa dan pasukannya menyerang Dwaraka, ibukota kerajaan Krishna. Ketika itu Krishna masih berada di Indraprastha dan semua urusan sehari-hari kerajaan dilaksanakan oleh Ugrasena. Walaupun sudah lanjut usia, dengan sekuat tenaga Ugrasena mempertahankan ibukota Dwaraka dari serangan Salwa.

Ibukota Dwaraka dikelilingi benteng yang sangat kuat dan didirikan di sebuah pulau yang dilengkapi persenjataan luar biasa. Di dalam benteng didirikan kemah-kemah untuk menyimpan persenjataan dan persediaan makanan dalam jumlah sangat besar. Balatentara Dwaraka yang sangat banyak jumlahnya dipimpin oleh perwira-perwira yang cakap. Ugrasena mengumumkan keadaan perang. Pada malam hari rakyat dianjurkan untuk tidak pergi ke tempat-tempat hiburan. Semua jembatan dan pantai dijaga ketat. Kapal-kapal dilarang berlabuh. Semua jalan keluar masuk ibukota dipasangi rintangan berupa batang-batang pohon berduri. Penjagaan diperketat. Setiap orang yang keluar atau masuk ibukota diperiksa, tanpa kecuali. Singkatnya, segala sesuatu diterapkan dengan keras dan tegas agar ibukota bisa dipertahankan. Balatentara Dwaraka diperbanyak dengan memanggil pemuda-pemuda yang sudah teruji kebugaran dan ketangkasannya berolah senjata.

Tetapi… pertahanan sekokoh itu tak mampu menahan serangan balatentara Salwa yang perkasa dan bersenjata lengkap. Serangan mereka begitu hebat sehingga ibukota Dwaraka rusak berat. Ketika kembali, Krishna sangat kaget dan marah melihat ibukota Dwaraka telah dihancurkan balatentara Salwa. Ia lalu mengerahkan kekuatan yang ada untuk membalas serangan Salwa.

Setelah bertempur dengan sengit, balatentara Dwaraka berhasil mengalahkan balatentara Salwa. Ketika itulah Krishna mendengar berita tentang kekalahan Pandawa dalam permainan dadu di Hastinapura. Segera ia bersiap untuk menemui Pandawa di hutan tempat pengasingan mereka. Banyak yang ikut bersamanya, antara lain orang-orang terkemuka dari Bhoja, Wrishni dan Kekaya, dan Raja Dristaketu dari Kerajaan Chedi. Dristaketu adalah anak Sisupala, tetapi ia sangat kecewa mendengar tentang kebusukan hati Duryodhana. Ia meramalkan bahwa bumi ini akan menghisap darah manusia-manusia jahat seperti putra Dritarastra itu. Continue reading Mahabharata 24 : Sumpah Setia Krishna

Mahabharata 20 : Krishna Menerima Penghormatan Tertinggi


Krishna_as_Envoy

Setelah Jarasandha mati, Pandawa mengundang raja-raja untuk bermusyawarah dan menyaksikan upacara rajasuya yang sudah ditradisikan sejak jaman dahulu dan sesuai dengan ajaran agama. Upacara dilaksanakan untuk memberikan gelar Maharajadiraja kepada raja yang dianggap pantas menyandangnya. Sesuai tradisi, dalam upacara itu penghormatan utama harus diberikan kepada tamu yang dianggap paling layak menerimanya, diikuti tamu-tamu lainnya, sesuai keagungan, kekuasaan, kebijaksanaan dan kebajikan masing-masing.

Sebelum upacara dimulai, Pandawa, para penasihat Pandawa, dan semua raja yang diundang bermusyawarah untuk menentukan siapa yang pantas mendapat penghormatan tertinggi sebagai tamu utama dan bagaimana urutan penghormatan itu akan diberikan kepada tamu-tamu lainnya. Penentuan itu menimbulkan perbedaan pendapat dan perdebatan sengit. Setelah lama berdebat, Bhisma, kesatria tua dan penasihat Pandawa yang sangat disegani, berkata bahwa menurutnya Krishnalah yang paling pantas mendapat penghormatan utama. Yudhistira sependapat dengannya. Ia menyuruh Sahadewa menyiapkan segala keperluan upacara dengan penghormatan utama untuk Krishna.

Tiba-tiba Sisupala, Raja Chedi, yang sangat membenci Krishna bangkit dari tempat duduknya lalu berkata lantang sambil tertawa lebar, “Sungguh tidak adil. Tetapi aku tidak heran. Orang yang mengharapkan nasihat dari orang lain pasti berasal dari kelahiran tidak sah.”

 Ia berkata demikian sambil menoleh ke arah Pandawa dengan acuh tak acuh.

Kemudian ia melanjutkan, “Demikian pula orang yang memberi nasihat. Meski ia berasal dari keturunan yang tinggi derajatnya, kemuliaannya semakin lama semakin merosot, begitu pula kebijaksanaannya.”

 Dengan pandang menghina ia menoleh ke arah Bhisma, putra Dewi Gangga.

Belum puas menghina Pandawa dan Bhisma, Sisupala melanjutkan, “Dengar kalian semua! Orang yang diberi kehormatan utama ini sesungguhnya berasal dari keluarga gila dan dibesarkan sebagai pengecut! Apakah ia pantas menerima kehormatan utama?!”

Hadirin diam, tertegun. Tak ada yang menjawab.

Sisupala semakin lantang berteriak, “He, kalian semua! Apakah kalian bisu? Tak beranikah kalian menyatakan pikiran sendiri? Pantas saja. Keputusan itu tidak sah karena diambil oleh orang-orang yang tidak terhormat.” Continue reading Mahabharata 20 : Krishna Menerima Penghormatan Tertinggi

Sang Pejuang 1 : Samba


samba_solo

Wahyu Cakraningrat (1)

Swuh rep data pitana, anenggih nagari pundi ingkang kaeka adi dasa purwa, eka sawiji, adi luwih, dasa sapuluh, purwa wiwitan. Sanadyan kathah titahing dewa ingkang kasongan ing akasa, kasangga pratiwi, kapit ing samodra, katah ingkang sami anggana raras, boten wonten kados nagari ing Dwarawati ya Dwaraka. Mila kinarya bubuka, ngupayaa nagari sadasa tan antuk satunggal, ngupayaa nagari satus tan angsal kalih, sewu tan antuk sadasa. Mila winastan ing Dwarawati, palawanganing jagad, utawi wenganing rahsa, Dwaraka panggenan pambuka.

Dari gelap, sepi, kosong, suwung, mati … kan digelar lakon kehidupan di dunia ini. Syahdan tersebutlah sebuah negri besar yang terbentang luas wilayahnya, memiliki deretan pegunungan yang mengitarinya dan di apit oleh dua samodra yang maha luas. Tidak ada negri yang seperti Dwarawati ya Dwaraka, pabila dicari sepuluh mungkin hanya menemukan satu, carilah seratus maka hanya kau temui tak lebih dari sepuluh, seribu tidak bakal ada seratus. Dan disebut Dwarawati berarti pintunya dunia, ataupun terbukanya rasa, Dwaraka sebagai tempat pembuka.

Dasar nagari panjang punjung, pasir wukir loh jinawi, gemah ripah karta tur raharja. Panjang dawa pocapane, punjung luhur kawibawane, pasir samudra, wukir gunung, dene nagari ngungkurake pagunungan, ngeringake pasabinan, nengenaken banawi, ngayunaken bandaran gede. Loh tulus ingkang tinandur, jinawi murah kang sarwa tinuku, gemah kang lumaku dagang, rinten dalu tan ana pedote, labet tan ana sangsayaning margi, aripah janma ing manca kang sami griya salebeting praja, jejel apipit, pangrasa – aben cukit tepung taritis, papan wiyar katingal rupak saking rejaning nagari. Karta, kawula ing padusunan pada tentrem atine, mungkul pangulahing tatanen; ingon-ingon kebo sapi, pitik iwen tan ana cinancangan, rahina aglar ing pangonan, yen bengi mulih marang kandange dewe-dewe; raharja tebih ing parangmuka, dene para mantri bupati pada kontap kautamane, bijaksana limpad ing kawruh putus marang wajib pangrehing praja, tansah ambudi wewahe kaluhuraning Nata.

Sungguh negri panjang punjung, pasir wukir loh jinawi, gemah ripah karta tur raharja. Panjang, terkenal ceritanya, punjung luhur wibawanya, pasir adalah samudra, wukir gunung, bahwa negri dikaruniai pegunungan, terbentang hijau pesawahan, juga dialiri sungai nan panjang terbentang, terdapat pula pelabuhan besar di sana. Loh, subur semua yang ditanam, jinawi, serba murah barang yang terbeli, gemah, roda perdagangan tiada henti bergulir siang malam meramaikan sepanjang jalan, ripah, rakyat mempunyai rumah layak dan besar berjejal bertebaran di pelosok menunjukkan makmurnya negri. Karta, kawula di desa merasa tentram hidupnya menjalani kehidupan sebagai petani, binatang peliharaan kerbau, sapi, ayam tidak pernah dikurung, siang bebas mencari makan dan bila malam hari pulang ke kandangnya masing-masing. Raharja, jauh dari musuh, para mantri bupati begitu memperhatikan keutamaan, bijaksana dan pintar memenuhi kewajiban mengayomi warga negara serta selalu mengupayakan keluhuran raja.

Dasar nagara gede obore, padang jagade, duwur kukuse adoh kuncarane; boten ing tanah Jawi kemawon ingkang sumujud sanajan ing tanah sabrang katah ingkang sumawita, tanpa kalawan karaning banda yuda, mung kayungyun popoyaning kautaman, babasan ingkang celak manglung, ingkang tebih tumiyung, sami atur putri minangka panungkul; ing saben antara mangsa asok bulu bekti, glondong pangareng-areng, peni-peni raja peni, guru bakal guru dadi. Continue reading Sang Pejuang 1 : Samba

Lakon Wayang Dan Lakon Kita


Catatan N. Riantiarno

Menafsir kembali salah satu segmen dari lakon wayang, sudah dilakukan Teater Koma sejak 1978 (lakon Maaf.Maaf.Maaf). Dan sama seperti yang sering disebut oleh banyak dalang wayang, saya juga menyebut ‘penafsiran kembali’ itu sebagai carangan atau versi. Sumber utama lakon adalah Ramayana karya Walmiki dan epos Mahabharata karya Vyasa.

Pada masa Kerajaan Mataram Hindu, Ramayana dan Mahabharata yang mulanya ditulis dalam Bahasa Sanskerta diterjemankan ke dalam Bahasa Jawa Kuno. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 856. Gambar adegan lakon serta para tokohnya kemudian ditatahkan di dinding-dinding candi. Di zaman Kerajaan Kediri, cerita dan bentuk wayang disesuaikan lagi dengan budaya lokal. Tercatat dalam sejarah, raja-raja Kediri sejak Mpu Sendok (928-947) hingga Gusti Jayabaya (1130-1160), sangat memperhatikan perkembangan kesenian wayang. Banyak buku tentang wayang ditulis oleh para pujangga masa itu.

Pada zaman Kerajaan Majapahit, 1293-1528, wayang mengalami penyesuaian. Bentuk tokoh-tokoh wayang digambar di atas kertas atau kain dan diberi warna. Bentuk itu disebut Wayang Beber Purwa. Pementasannya diiringi gamelan slendro. Lakon yang ditulis kembali oleh para pujangga dan berbagai carangan lahir pula. Maka, pakem lakon yang berasal dari India itu, seakan makin memperoleh pengkayaan lewat tafsir kisah dan perubahan bentuk tokoh.

Majapahit runtuh dan Kerajaan Demak berdiri. Cerita dan bentuk wayang kembali mengalami penyesuaian, Raden Patah yang bergelar Sultan Sah Alam Akbar (1478-1518) dan Wali Songo (Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ngampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Gunungjati) mengubah sasaran lakon wayang menjadi salah satu medium penyebaran agama.

Bentuk wayang tidak lagi menyerupai manusia, tapi miring (pipih) dengan dua tangan yang bisa digerak-gerakan. Gambar-gambar tokoh dalam Wayang Beber Purwa Majapahit, dipilah satu-satu sehingga menjadi karakter yang mandiri. Bahan utama karakter wayang terbuat dari kulit kerbau yang ditatah halus, diwarnai (hitam-putih) dan diberi pegangan (gapit) yang bisa ditancapkan ke batang pisang (debog) atau kayu yang dilubangi. Tontonan wayang sangat digemari.

Lakon yang dibawakan bersumber dari Wayang Purwa. Pada masa Kerajaan Pajang, 1546-1586, bentuk wayang memiliki warna yang lebih bervariasi. Selain hitam dan putih, warna emas (prada) juga mulai dikenal. Banyak pula dalang kreatif yang melahirkan berbagai lakon carangan. Pakem lakon dari India ‘hanya’ dimanfaatkan sebagai narasumber imajinasi.

Tak bisa dipungkiri, Para Wali memang memiliki andil yang besar dalam upaya mengembangkan kesenian wayang. Sunan Giri mencipta Wayang Gedog tanpa raksasa dan kera untuk lakon Wayang Panji, 1563. Pada tahun yang sama, Sunan Bonang mencipta Wayang Beber Gedog. Dia juga menulis Serat Damarwulan dan Ratu Kenconowungu. Sunan Kalijaga mencipta topeng yang bentuknya mirip dengan karakter Wayang Purwa, 1586. Dan Sunan Kudus, 1584,mencipta wayang kayu berbentuk pipih dengan tangan terbuat dari kulit. Bentuk itu kemudian disebut Wayang Krucil atau Wayang Golek Purwa.

Pada Kerajaan Mataram Islam, pangeran Seda Krapyah (1601-1613) melakukan upaya penyesuaian lagi. Bentuk wayang memiliki dua tangan yang bisa digerakkan dengan lebih bebas karena diberi tulang bambu. Dia juga menciptakan Wayang Dagelan atau lawakan Semar, Bagong, Cengguris dan Cantrik. Konon, pada masa itulah karakter Bagong dilarang muncul oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Lewat lawakannya, Bagong dianggap terlalu ‘lancang’ mengritik kebijakan pemerintah jajahan. Bagong masuk kotak, tapi para dalang yang kreatif melahirkan karakter Cengguris sebagai gantinya.

Kisah perkembangan wayang di Indonesia, sudah ditulis hingga berjilid-jilid buku. Banyak yang dilakukan para pujangga, perupa wayang dan dalang sehingga kita mengenal wayang dalam bentuknya yang sekarang. Lakon digali dan digali terus-menerus, seakan tak habis-habis. Bentuk karakter wayang disesuaikan dan disesuaikan lagi berdasarkan tuntutan zaman. Lakon wayang dan karakter wayang, menjadi harta intelektual yang amat besar nilainya. Menjadi sumber ilham yang sangat inspiratif, ajaran moral yang bermutu tinggi.

Kyai Yosodipuro, Raden Ngabehi Ronggowarsito, Mangkunegoro IV, VI dan VII, adalah tokoh-tokoh yang tercatat sangat berjasa dalam upaya pengembangan kesenian wayang. Patokan lakon yang kemudian disebut pakem, berasal dari hasil kreatifitas mereka. Pakem yang, sesungguhnya, jauh berbeda dengan pakem aslinya dari India. Satu contoh, tokoh para panakawan misalnya, tak ada di dalam Ramayana dan Mahabharata.

Sebagian besar tokoh satria, juga mengalami penyesuaian dengan adat, filosofi dan perilaku bangsa Jawa.

Dalam perjalanan kreatif penulisan lakon, saya bersyukur memiliki babon atau narasumber lakon yang tak pernah habis digali. Mitologi Yunani (Iliad karya Homerus) adalah babon yang pertama. Dongeng-dongeng dari Negeri Cina, menjadi narasumber kedua. Karya-karya William Shakespreare dan Moliere (yang saya anggap sebagai lakon Wayang Inggris’ dan ‘Wayang Prancis’), adalah submer inspirasi yang ketiga. Tapi setiap kali menulis lakon, jika ilham datang dari ketiga narasumber itu, saya sering memandangnya dari sisi karakter lakon wayang. Lalu saya berupaya mengawinkan berbagai energinya sehingga menjadi sinergis.

Jika sumber ilham datang dari lakon wayang (Mahabharata atau Ramayana), saya juga berupaya menyadurnya sehingga kisah menjadi masa kini. Menjadi lakon yang dekat di sekitar kita, milik kita, masalah kita. Bahkan lakon karya Bertolt Brecht pun saya coba sadur lewat jalan pikiran wayang.

Hampir seluruh karakter manusia, plus detilnya, tersirat di dalam lakon-lakon empat babon atau narasumber itu. Intisari lakon sama. Penyesuaian yang dilakukan hanya karena zaman, keadaan, lingkungan dan asesori yang berbeda. Justru yang paling penting adalah tafsir lakon, yang biasanya, malah menjadi roh penggerak energi kreatif ke arah tujuan yang hendak diungkapkan.

Bagi saya, kesenian adalah ‘seni menafsir alam dan kehidupan’. Tujuannya hanya satu ‘berterimakasih kepada alam dan kehidupan’. Apa pun anugerah alam dan kehidupan kepada kita, buruk atau baik, tetap harus disebut sebagai anugerah. Alam dan kehidupan yang dijaga, semoga sudi memberikan anugerah yang bermanfaat. ALam dan kehidupan yang ditelantarkan, bahkan dilupakan, sudah barang tentu akan menuai ganjaran lewat bentuk hukuman yang bervariasi. Nikmat dan azab terjadi akibat perilaku manusia sendiri. Sebuah hukum sebab-akibat. Tapi kita sering lupa diri. Saya percaya, alam dan kehidupan senantiasa berjaga. Sepanjang masa.

Sesungguhnya kita adalah wayang yang digerakkan oleh ‘dalang’. Kita tak berdaya karena alur cerita bukan milik kita. Sebagai wayang, garis nasib ada di tangan ‘dalang’.

Tapi, kadang kita tinggi hati. Sering ‘kerasukan’  Kalika dan ratu setan Durga. Merasa lebih dari ‘dalang’ menganggap diri berkuasa. padahal kita hanya muncul kalau dibutuhkan. Jika tidak, kita tetap tergeletak di dalam kotak. Iklas adalah sikap bijak dalam menjalani lakon hingga ke ujungnya. Pemahaman iklas, bukan berarti menyerah lalu tak berbuat apa-apa. Iklas itu cahaya dari akal budi manusia. Karena lakon manusia sebaiknya terdiri dari rangkaian upaya-upaya kreatif tanpa sikap yang tinggi hati.

Upaya memburu ‘keseimbangan batin’, tersirat dalam lakon-lakon wayang carangan yang saya tulis. Sebagian besar lakon dipentaskan oleh Teater Koma. Maaf. Maaf. Maaf, Wanita-Wanita Parlemen, Konglomerat, Burisrawa, Suksesi, Opera Ular Putih, Kala, Semar Gugat, Republik Bagong, Presiden Burung-Burung, Opera Rama-Shinta, Opera Mahabharata, Opera Anoman dan kini Republik Togog, adalah rangkaian yang tak putus dari upaya-upaya itu. Mungkin sulit diserap dan nampak bagai menaruh setitik debu di gurun pasir luas, menuang segelas air di lautan. Sia-sia.

Tapi apa yang bisa dilakukan selain terus berupaya? Harapannya, semoga ada yang masih memiliki kepeka andalam menimbang, kesadaran dalam bertindak, dan punya akal budi. Keserakahan lahir dari kemunafikan. Dan kehancuran bersumber dari keserakahan. Kitab Zaman sudah mencatat berbagai bukti tentang itu.

Di dalam lakon wayang, Sri Kresna dan Semar menjadi tumpuan segenap harapan. Kedua tokoh itu akan muncul jika Lima Pandawa mengalami kesulitan. Sri Kresna adalah titisan Dewa Wisnu yang piawai dalam mengatur berbagai urusan kenegaraan dan penafsir handal garis nasib yang dipatok oleh para dewa. Sedangkan Semar, meski hanya seorang panakawan (pana=cerdik, kawan=sahabat yang cerdik), diakui punya kemampuan membimbing rohani Lima Pandawa. Jika keduanya tak ada, negara akan gonjang-ganjing.

Pada episode Republik Togog, kedua tokoh panutan Lima Pandawa itu menghilang. Tak heran, jika berbagai kekuatan jahat dengan mudah berhasil merasuki jiwa para satria.

Dan kalau lakon ini merupakan metafora zaman, mungkin akan timbul dua pertanyaan; ‘Apakah kita kehilangan Sri Kresna dan Semar?’ Lalu, ‘Mengapa?’ Sebab, meskipun kedua tokoh akhirnya muncul di akhir lakon, peristiwa itu tetap bagaikan sebuah mimpi di siang bolong. Pemunculan mereka seakan hanya sebuah bonus maya dalam suasana keputus-asaan. Hanya setitik harapan, sat gonjang-ganjing berlangsung terlalu lama. Di dalam kenyataan kini, sesungguhnya, di manakah Sri Kresna dan Semar? Dan apakah kita sungguh-sungguh memiliki keinginan untuk mencarinya? Wahai, Kalika dan Durga masih ‘merasuki’ jiwa. Togog Tejamantri ada di mana-mana.

Lakon wayang, adalah juga lakon tentang manusia. Kepadanya kita bisa berkaca. Tapi, masih adakah niat untuk berkaca? Sudikah kita berkaca?

Terlalu banyak pertanyaan. Terlalu lama menunggu jawaban. ‘Menunggu cahaya Semar dan Sri Kresna, bagai menunggu garuda beranak singa’.

Jakarta, Juni 2004

http://www.suarakarya.com

 

KHS Aji Brajamusti


Lets Start !


Monggo sugeng midangetaken koleksi saking Radio Swara Kenanga Jogja ingkang sampun dipun sebataken wonten ing posting sakderengipun.

Kula wiwiti saking pagelaran ringgit cucal kanti dalang Ki Hadi Sugito kanti mundhut judul “Aji Brajamusti”.

Perseteruan antara Gatotkaca dengan Sitija yang menempatkan Prabu Kresna dalam posisi yang sulit. Gatotkaca yang adalah anak dari saudara-saudaranya terkasih Pandawa serta Sitija yang sebenarnyalah anak-nya sendiri. Sebuah pilihan yang sulit, namun Kresna harus bertindak.

Sugeng midangetaken.

Ket : Password sampun kula tulis wonten ing Milis – Files – KHS

Matur nuwun

———————————————

Radio Swara Kenanga Jogja AM774

Citra Seni Budaya Bangsa

Jl. Pantiwreda No. 5 Ponggalan Kel. Giwangan Kec. Umbulharjo

D.I. Yogyakarta (55163)

————————————