Tag Archives: karna tanding

KNS : Banjaran Karna


Karna jangkah Solo

Bercerita Karna adalah bercerita tentang kepedihan dan kesedihan
bertutur Basukarna adalah bertutur tentang mendua tutur kata dan rasa hati
mengenang Suryatmaja adalah mengenang kepahlawanan dan pengorbanan

Dengarkanlah ..
suara hati Sang Karna saat sua dengan ibunda sejati jelang Baratayudha
walau hasrat tuk bersimpuh di kaki ibunda Kunthi begitu membuncah
memeluk dan bermanja di dada ibunda yang melahirkannya
ingin di belai rambutnya dengan kasih sayang yang tiada diperolehnya saat masa kecilnya dahulu
namun sikap tegasnya
tetap mengatakan TIDAK untuk bergabung dengan saudara-saudaranya Pandawa

Dengarkanlah …
bagaimana curahan hatinya kepada Kresna saat menyengaja bertemu dengannya jelang Baratayudha
bagaimana dirinya tetap keukeuh agar Baratayudha tetap terjadi
agar angkara murka yang ada pada Prabu Duryudana dapat sirna
walaupun itu …
akan mengorbankan dirinya sebagai tumbal
ah …
tiada mengapa
biarlah adik-adiknya saja yang meraih kemenangan

Dan dengarlah dialog dirinya dengan adiknya Arjuna jelang pertempuran di Kurusetra (Karno Tanding)

“Mari aku dandani kamu sebagaimana layaknya seorang senapati, dan akulah yang akan menjadi kusirmu”.

Selesai berdandan busana Keprajuritan, segera mereka menaiki kereta Prabu Kresna, kereta Jaladara. Kereta perang dengan empat ekor kuda yang berasal dari empat benua yang berwarna berbeda setiap ekornya, merupakan hadiah Para Dewa. Bila dibandingkan dengan kereta Jatisura milik Adipati Karna yang telah remuk dilanda tubuh Gatutkaca, kesaktian kereta Jaladara bisa berkali kali lipat kekuatannya.

Suasana berkembang makin hening, diangkasa telah turun para dewata dengan segenap para durandara dan para bidadari. Mereka hendak menyaksikan peristiwa besar yang terjadi dipadang Kuru. Sebaran bunga bunga mewangi turun satu satu bagai kupu kupu yang beterbangan.

Karna yang melihat kedatangan Arjuna berhasrat untuk turun dari keretanya. Kresna yang melihat keraguan memancar dari wajah Arjuna mengisyaratkan untuk menyambut kedatangannya. Berkata ia kepada Arjuna

“Lihat! Kakakmu Adipati Karna sudah turun dari kereta perangnya, segera sambut dan ciumlah kakinya”.

Arjuna segera turun berjalan mendapatkan kakak tertua tunggal wadah dengannya

“Baktiku kanda Adipati”, Arjuna duduk bersimpuh dihadapan Adipati Karna setelah menghaturkan sembahnya.

“Arjuna, seumpama aku seorang anak kecil, pastilah aku sudah menagis meraung raung. Tetapi beginilah orang yang menjalani kewajiban. Aku bela bela diriku membutakan mata menutup rasa hati untuk mencapai kamukten. Sekarang aku sudah mendapatkannya dari Dinda Prabu Duryudana. Dan sekarang aku harus berhadapan dan tega berkelahi sesama saudara sekandung!”. Karna menumpahkan isi hatinya.

“Kanda Adipati, hamba disini memakai busana senapati bukan untuk menandingi paduka kanda Prabu. Tetapi membawa pesan dari ibu kita, Kunti, untuk kembali berkumpul bersama saudara paduka Para Pandawa. Air mawar bening pembasuh kaki sudah disiapkan oleh adik adik paduka, Kanda Adipati”. Arjuna mencoba meluluhkan hati kakak tunggal ibu itu.

Kembali Adipati Karna menegaskan apa yang terasa didalam hatinya. “ Lihat, air mataku jatuh berlinangan. Tetapi aku katakan, tidak tepat apa yang kamu katakan. Sudah berulang kali kamu memintaku untuk berkumpul bersama sama dengan saudaraku Pandawa. Begitu juga dengan Kanda Prabu Kresna, yang ketika itu datang kepadaku dan bicara empat mata. Sekarang sama halnya dengan dirimu, yang juga kembali mengajakku untuk berkumpul bersama. Bila aku menuruti permintaanmu, hidupku akan seperti halnya burung yang ada dalam sangkar emas. Tetapi hidupku tidak bisa bebas. Hidupku hanya kamu beri makan dan minum belaka. Apakah kamu senang bila mempunyai saudara dengan keadaan seperti yang aku katakan?”.

Sejenak mereka berdua saling berdiam diri. Sesaat kemudian Karna melanjutkan.”Tak ada seorangpun didunia ini yang dapat mengantarkan aku menuju alam kematianku, kecuali hanyalah dirimu, dinda Arjuna! Dan bila aku nanti mati dalam perang tanding itu, sampaikan baktiku pada ibunda Kunti, yang tak sekalipun aku memberi ketentraman batin dalam hidupnya . . . “

Serak terpatah patah suara Adipati Karna ketika ia melanjutkan curahan isi hati terhadap Arjuna.

Kembali susana menjadi hening. Akan tetapi tiba tiba ia berkata dengan nada tegas. “Hari ini adalah hari yang baik. Ayolah kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih perwira, lebih bertenaga, lebih sakti!”.

“Kanda, berikan kepadaku seribu maaf atas kelancangan hamba berani dengan saudara yang lebih tua”. Kembali Arjuna menghaturkan sembah, berkata ia, yang kemudian mengundurkan diri kembali menaiki kereta Jaladara.

Maka perang tanding dengan andalan ketepatan menggunakan anak panah berlangsung dengan seru. Keduanya sesama putra Kunti tidak sedikitpun berbeda ujudnya dalam busana keprajuritan. Keduanya menggunakan topong yang sama, sehingga banyak prajurit yang sedari tadi berhenti menonton sulit untuk membedakan yang mana Arjuna dan manakah yang Karna, kecuali pada kereta yang dinaikinya.

Kisah hidup Karna dapat dinikmati pada pagelaran wayang bersama Ki Nartosabdho pada lakon Banjaran Karna, disini

http://www.4shared.com/folder/D7kn9Hkq/02_online.html

Baratayuda [21] : Atas Nama Darma Satria


By MasPatikrajaDewaku


Tak diceritakan bagaimana suasana ketika Adipati Karna bertemu dengan istri tercintanya, Surtikanti. Yang terjadi kemudian adalah waktu pagi yang terik, dimana pertempuran sengit berkecamuk kembali di padang Kurukasetra yang sudah berhari hari menjadi panggung ajang drama pertempuran yang mengerikan. Sisa sisa tenaga prajurit yang kini mulai jenuh dan lelah, hanya punya pilihan, segera perang selesai. Entah dirinya yang menjadi korban atau ia membunuh lawan lawannya dengan cepat.

Hawa panas menjelang penghujan menyengat menguatkan bau anyir darah dan busuk bangkai manusia dan hewan tunggangan para adipati serta segenap pembesar perang yang tak lagi sempat dirawat oleh sesama prajurit. Berserakan senjata yang bergeletakan mencuat diantara reruntuhan kereta perang, sungguh membuat meremang bulu kuduk orang orang yang bermental lemah. Belum lagi erangan para prajurit terluka menahan rasa sakit yang tak terkira, tetapi tidak kunjung ajal menjemput. Suara rintihan itu bagai nyanyian peri prayangan. Sementara burung gagak pemakan bangkai berputar kekitar diangkasa yang biru dengan gumpalan awan disana sini, menanti kapan waktunya untuk kembali berpesta pora.

Di salah satu sisi medan pertempuran, terdengar pembicaraan dua orang prajurit yang sama sama terluka, entah kepada sesama teman atau lawan. Yang mengalami luka serius menyandar pada pokok pohon kering, sementara lawan bicaranya tadi tertelungkup dengan sesekali terbatuk memuntahkan darah segar dari mulutnya.

“Sesungguhnya apakah yang kita dapat dari peperangan yang kita jalani, kisanak?

“Inilah yang kita dapat!  Kebinasaan! Hukum alam telah menuliskan, keseimbangan alam telah mengharuskan manusia melakukan kekerasan, saling baku bunuh untuk kembali ke keseimbangan baru, baik itu melewati perang seperti ini, bencana alam, atau manusia dengan sadar mengerem lajunya jumlah turun. Kita ini sedang ada didalam bagian dari putaran proses itu, kisanak”.

Keduanya berbincang diantara desing anak panah dan denting senjata serta gelegarnya meriam dengan sesekali berhenti menahan rasa sakit, suara pembicaraan keduanya kadang tertelan oleh kemeretak roda kereta dan derap ladam kuda yang melintas disekitar mereka. Sementara  kepulan debu dan asap sendawa mengepul menyesakkan nafas.

***

Diceriterakan, adalah Raden Sanjaya. Yang merasa tertantang setelah bertemu dengan Wara Srikandhi dan menyatakan hendak memberi sesumbang jiwa raga terhadap para Pandawa. Akan tetapi niat baik Randen Sanjaya telah dianggap sebagai manusia yang bersifat oportunis.

“Sanjaya, kalau kamu hendak membela para Pandawa, kenapa tidak dari semula, kenapa baru sekarang ketika Kurawa sudah lemah, ketika kamu sudah merasa, tak akan para Kurawa menang atas Pandawa. Apakah itu jiwa dan watak seorang  prajurit?. Apakah itu bukan manusia yang bertujuan untuk mencari kemuliaan dan kesenangan belaka?. Apakah sekiranya bila kamu tidak bergabung dengan para Pandawa, Pandawa tidak akan menang?  Malah aku kira, permintaan bergabungnya kamu dengan para Pandawa adalah sebagai mata mata. Kenapa aku sebut begitu, karana sejak lahir, kamu adalah warga Panggombakan yang ada dalam wilayah Astina !”.

Tersentuh rasa panas hati Sanjaya yang dituding mencari kemuliaan atas kemenangan Pandawa, maka ia bersumpah akan menandingi kesaktian Adipati Karna. Berangkat ke medan perang Sanjaya dengan hati terluka oleh tuduhan yang tidak beralasan dari Wara Srikandi. Andai saja Sumbadra tidak terlambat dalam mencegah keberangkatan Sajaya yang sudah melangkah ke medan Kuru, maka mungkin kejadiannya akan berbeda. Memang Wara Sumbadra tahu, betapa ayah dari Senjaya, Raden Yamawidura, adalah seorang yang berjasa sangat besar pada Pandawa. Ketika terjadi peristiwa bale Sigala-gala, orang tua Sanjaya telah membaui hal yang mencurigakan ketika pesta itu diadakan oleh usul Sengkuni. Ketika itu Raden Yamawidura menyelamatkan para Pandawa dari api yang membakar pesanggrahan mereka, ketika mereka terbius tidur oleh para Kurawa. Kemudian mereka membakar habis seluruh pesanggrahan.

Yamawidura yang menjelma menjadi garangan putih, telah membuat lubang bawah tanah menembus sapta pratala dan menyelamatkan kemenakannya. Kemenakan yang selalu terlihat benar dimatanya, tetapi karena sesuatu hal ia harus sembunyi sembunyi menyelamatkannya. Hal itulah yang dikatakan Wara Sumbadra kepada Wara Srikandi, yang kemudian telah membuat sesal dihati Srikandi.

Namun rasa bersalah Wara Srikandi ketika mendengar keterangan dari Sumbadra, menjadi tidak berarti, ketika putra Yamawidura itu telah melangkah ke palagan.

Maka didalam peperangan Kurusetra itu, Sanjaya mencari sosok Adipati Karna. Ia hendak memperlihatkan kesungguhannya dalam menyatakan diri ada di pihak Pandawa. Ia berteriak lantang menantang Adipati Karna.

Ketika putra Awangga kedua yaitu Raden Wersasena mengetahui ayahnya ditantang oleh Raden Sanjaya, kemarahan anak muda itu terbangkit. Dihampirinya Sanjaya, ia tidak rela bila ayahnya ditantang oleh sesama anak muda lain.

“Heh Sanjaya! Sejak kapan kamu telah memberontak terhadap negara yang telah menghidupimu, yang telah memberi kumuliaan terhadap orang tuamu dan keluargamu?”.

“Sejak dulu memang aku lebih bersimpati terhadap putra uwa’ Pandu Dewanata. Sekaranglah aku hendak memperlihatkan betapa aku telah merasa salah, membiarkan saudara tuaku para Padawa ada dalam kesengsaraan yang berlarut larut. Sekarang katakan, dimana senapati Kurawa berada?”

“Tak usah kamu mencari dimana senapati itu, hadapi dulu putra Awangga sebagai putra senapati. Langkahi dulu mayatku sebelum kamu bisa berhadapan dengan ayahku!”.

“Baik, akan aku turuti kata katamu. Waspadalah!”

Pertempuran dua anak muda itu berlangsung sengit. Kelihatan mereka mencoba mengerahkan segenap kesaktiannya, untuk menentukan siapa salah satunya yang harus tewas ditangan masing masing.

Sumber Gambar : http://jepara-ukir-relief.blogspot.com/2009/06/karno-tanding.html

Continue reading Baratayuda [21] : Atas Nama Darma Satria

Ki Hadi Sugito : Karno Tandhing


Lakon “Karno Tandhing” sudah ada di blog ini dibawakan oleh Ki Nartosabdho dan Ki Anom Suroto. Namun tidak ada salahnya bila kita menikmati Ki Hadi Sugito membawakannya.

Siapa yang menjadi lawan Arjuna di perang Baratayudha di pihak kurawa ? Hanya satu nama yang seimbang, yaitu Karna.

Sedemikian besar keinginan Karna untuk melawan Arjuna yang telah menjadi “musuh abadi”nya di sepanjang hidupnya, sehingga pertempuran antara kedua satria yang lahir dari rahim seorang ibu negara “Kunthi” tidak dapat dielakan.

Walau dendam begitu menggumpal di dada Karna, namun sejatinya di sudut hati terselip rasa sayang kepada adik seibu berlainan ayah itu. Sebenarnyalah ada terselip rasa simpati kepada perjuangan pandawa karena darahnya sangat dekat dengan mereka. Namun jiwa satria dan ucap janji setia kepada Duryudana telah terlepas dan itulah yang membelenggunya. Sebagai seorang satria pantang baginya menelan ludah sendiri, mengingkari janji setia.

Walau tangisan sang ibu Kunti, yang memintanya untuk membatalkan bertarung dengan adiknya sendiri begitu menusuk hatinya. Walaupun hatinya perih menahan keinginan untuk rebah dalam dekapan ibu dan saudara-saudaranya, jiwa satrianya sungguh tidak tergoyah. Matanya tetap memancar ketegaran walau menahan haru dan pilu.

Perseteruan yang mengharu biru antara hati nurani dan sikap hidup seorang satria utama.

Begitupun halnya dengan Prabu Salya, raja Mandraka. Sikap bertolak belakang dengan kemauan. Kedudukannya serba salah. Dua putrinya menjadi istri dari Kurawa dan pendukungnya. Banuwati menjadi istri Duryudana, Surtikanti menjadi istri Karna.

Sementara Salya-pun begitu mengasihi para pandawa, terutama si kembar Nakula-Sadewa yang adalah keponakan-keponakannya, aAnak-anak dari Madrim, adiknya. Salya begitu mengasihi si kembar sedari kecil, begitu menaruh kasihan akan nasibnya yang telah kehilangan ayah dan ibunya. Dan dia selaku uwa-nya malah justru berpihak sebagai lawan.

Oh … betapa sungguh menyesakan sandiwara di dunia ini …

Namun perang harus tetap berlangsung terus …

Dahsyatnya pertempuran antara Senapati Arjuna yang dikusiri Kresna melawan Senapati Karna dengan kusir mertuanya, Salya … sudah di depan mata …..

Kini Karna menemui tandingannya

Maaf audio saya sharing sesuai yang saya peroleh dari sang pengirim. Sepertinya bagian 2a, 2b, 8a dan 8b belum ada. Semoga nanti dapat disusulkan