Tag Archives: jawa

Bathari Pretiwi panguwasa bumi sap kapisan


 

pertiwi_solo

Bathari Pretiwi iku dewa kang nguwasani bumi sap kapisan. Bumi sap kapisan kondhang sinebut Ekapratala. Eka ateges siji, pratala ateges bumi. Bathari Pretiwi putrane putri Sang Hyang Nagaraja, kang dumunung ing kayangan Jalatundha. Ibune asma Bathari Dewi.

Miturut andharan ing buku Bunga Rampai Wayang Purwa Beserta Penjelasannya, anggitane Bondhan Harghana SW lan Muh Pamungkas Prasetya Bayu Aji, weton Cendrawasih lan Ensiklopedi Wayang Purwa, weton Balai Pustaka, Bathari Pretiwi iku drajate padha kalawan para dewa, amarga dheweke nguwasani bumi sap kapisan.

Bumi sap kapindho, sinebut Dwipratala, dikuwasani dening Bathara Kusika. Bumi sap kaping telu kang sinebut Tribantala dadi papan dununge Bathara Ganggang. Bumi sap kaping papat utawa Caturpratala dikuwasani Bathara Sindula lan bumi sap kalima, sinebut Pancapratala, dikuwasani dening Bathara Darampalan.

Bumi sap kaping enem iku kayangane Bathara Manikem lan Saptapratala utawa bumi sap kaping pitu mujudake kayangan papan dununge Bathara Anantaboga. Bathari Pretiwi ndalem uripe tansah pengin nduweni kembang Wijayakusuma. Ananging kembang kang ora sabaene kembang iku duweke Resi Kesawasidi kang dumunung ing Padhepokan Argajati. Continue reading Bathari Pretiwi panguwasa bumi sap kapisan

Wayang Kulit:Eksistensi Perajin Antargenerasi


Rabu, 23 Mei 2007

Selain identik dengan budaya Jawa, wayang kulit kini juga sudah menjadi budaya nasional dan merupakan ciri khas Bangsa Indonesia. Tidak hanya tampil dalam pagelaran, wayang kulit kini juga banyak digunakan sebagai pajangan dan produk kerajinan tangan lainnya.

Memang wayang kulit selama ini identik dengan tokoh-tokoh pewayangan, seperti Gatot Kaca, Semar beserta anak-anaknya atau Arjuna. Wayang kulit selalu dikonotasikan barang-barang budaya yang selalu digunakan dalam pagelaran semalam suntuk dengan lakonnya masing-masing.

Kini, wayang kulit yang merupakan produk berbahan baku kulit binatang seperti sapi, kerbau, kambing, dan lainnya itu banyak diproduksi sebagai produk yang dikategorikan sebagai suvenir. Kini, tokoh-tokoh wayang hadir pada produk lukisan, topeng, kap lampu, pembatas buku, gantungan kunci, kipas, dan aneka suvenir lainnya.

Salah satu yang hingga kini masih menggeluti usaha membuat produk wayang kulit serta produk kerajinan dan suvenir lainnya itu adalah Sugeng Prayogo. Pria asal Bantul, Yogyakarta ini mengaku sudah memproduksi wayang kulit serta produk aneka kerajinan/souvenir sejak tahun 2000.

Sosok muda dan energik ini membuat wayang kulit dan produk kerajinan wayang lainnya di rumahnya di wilayah Timbul Harjo Sewon, Bantul, Yogyakarta. Sugeng memiliki 5 karyawan yang membantu dirinya memproduksi dan memasarkan wayang kulit serta produk kerajinan wayang lainnya itu. Saat ini, Sugeng memproduksi sekitar 20 jenis produk wayang kulit dan lainnya dengan volume produksi mencapai 10.000 unit produk per bulan.

“Saya ini sudah mengenal seni wayang kulit sejak umur 6 tahun. Kakek dan Bapak saya dalang, sehingga saya sudah akrab dengan tokoh-tokoh wayang dan sering mengikuti pagelaran sejak kecil. Saya ini sudah generasi ketiga,” kata Sugeng ketika ditemui Suara Karya saat mengikuti pameran di Plasa Industri Departemen Perindustrian, Jakarta, kemarin.

Selain memliki tempat produksi di kediamannya, Sugeng kini juga sudah memiliki gerai seni (artshop) di Malioboro Yogyakarta dan di Batam sebagai media untuk mempromosikan wayang kulit dan produk kerajinan/souvenir lain dari kulit. Selain itu, Sugeng juga secara intensif memasok ke toko-toko atau galeri seni yang ada di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Harga produk-produk wayang kulit dan turunannya produksi Sugeng dan karyawnnya mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 500.000 per unit. Pendapatan kotor usaha yang bernama Wahyu Art ini mencapai Rp 20 juta hingga Rp 30 juta per bulan.

“Saya memproduksi wayang kulit dan produk souvenir berbasis wayang dengan tingkat kerumitan cukup tinggi dan lebih halus. Untuk satu produk wayang kulit dengan tokoh pewayangan atau wayang gunungan bisa memakan waktu satu minggu. Kualitas dan tingkat seninya selalu saya jaga,” tutur Sugeng.

Mungkin karena kualitas dan kehalusan tersebut, hingga saat ini para pembeli maupun kolektor masih memburu wayang kulit dan produk kerajinan berbasis wayang kulit lain yang dibuat Sugeng. Hingga saat ini, Sugeng juga masih mengerjakan produk wayang kulit pesanan para dalang yang masih eksis saat ini, maupun dari sanggar-sanggar seni.

Meski demikian, Sugeng mengaku, usaha produksi wayang kulit dan produk kerjainan turunannya itu bukanlah tanpa masalah. Saat ini, dua hal yang masih menjadi penghambat pengembangan usahanya, yakni masalah pemasaran dan mahalnya bahan baku.

Saat ini harga kulit kerbau atau sapi sudah mencapai Rp 50.000 per kilogram atau untuk kulit satu ekor bisa mencapai Rp 400.000 hingga Rp 600.000. “Untuk produk saya sebenarnya yang paling ideal kulit kerbau. tapi kita tahu sendiri jumlah kerbau sendiri sudah semakin berkurang. Sementara kulit sapi banyak peminatnya,” ujar Sugeng.

Sementara, masalah minimnya promosi dan keikutsertaan dalam pameran membuat produk Sugeng tidak banyak diketahui masyarakat. Masyarakat hanya tahu kalau mengunjungi Yogyakarta, Batam, atau Jakarta. Untuk itu, Sugeng sangat berharap bantuan pemerintah daerah dan pusat agar tetap bisa ikut pameran.

“Saya ingin terus ikut pameran, tapi memang tidak mudah. Ini karena banyak produsen dan pengusaha yang sampai mengantre untuk ikut pameran. Jadinya promosi yang saya lakukan sangat terbatas,” kata Sugeng. (Andrian Novery)

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=173616

Wayang Kulit versi Malaysia


Wayang kulit ada juga lho di negri jiran kita, Malaysia !

Sumber : http://daftarwarisan.gov.my/index.php?page=warisan_keb_home&subpage=show_detail&category=2&id=37

20070627_065357_31020_pertunjukan20wayang20kulit

Gambar 1: Pertunjukan Wayang Kulit

Butiran Warisan :

Latar Belakang Sejarah : Wayang Kulit adalah satu bentuk teater tradisional yang menggunakan prinsip cahaya dan bayang. Bayang-bayang daripada patung-patung kulit yang terdiri daripada pelbagai watak mitos dan khayalan dilarikan oleh seorang dalang. Di Alam Melayu, Wayang Kulit boleh didapati dalam beberapa jenis. Antaranya termasuklah Wayang Kelantan, Wayang Melayu, Wayang Purwo dan Wayang Gedek. Persembahan wayang kulit akan diiringi dengan satu kumpulan muzik sebagai membantu menghidupkan lagi watak-watak yang dimainkan dan menggambarkan suasana adegan-adegan yang berlaku ketika itu. Peralatan muzik yang sering digunakan dalam persembahan wayang kulit adalah Serunai (utama), Gendang Ibu, Gendang Anak, Gendombak Ibu, Gedombak Anak, Kesi, Geduk Ibu, Geduk Anak, Canang dan Gong.

Jenis – jenis Wayang Kulit

Wayang kulit di Malaysia terbahagi kepada tiga jenis iaitu Wayang Kelantan, Wayang Purwo dan Wayang Gedek. Wayang Kelantan terdapat di Kelantan dan negeri-negeri Pantai Timur yang mempersembahkan cerita-cerita Hikayat Seri Rama, manakala Wayang Purwo pula terdapat di bahagian Selatan Pantai Barat Semenanjung terutamanya di Johor yang mengetengahkan episod dari kitab Mahabrata dan cerita Panji. Wayang kulit didirikan oleh beberapa elemen penting iaitu dalang, patung, kelir dan muzik. Gabungan dari elemen inilah yang menjadikan persembahan wayang kulit satu persembahan yang harmonis.

Continue reading Wayang Kulit versi Malaysia

Bang Kris : Tukang Batu yang Diundang Mendalang Keliling Amerika


Bang Kris : Tukang Batu yang Diundang Mendalang Keliling Amerika

| 29-09-2007 |

Para Seniman dan Sastrawan Lekra, Kehidupan Mereka Sekarang (3)

Tristuti Rachmadi Suryosaputro pernah jadi dalang tersohor di era 1960-an dengan sebutan “Bang Kris”. Meski kini  disalip tokoh-tokoh yang lebih muda, mantan aktivis Lekra  di Jateng itu masih jadi jujugan banyak orang. Naskah-naskah  “skenario” cerita wayangnya dipakai banyak dalang kondang.  EMPAT belas tahun setelah diasingkan ke  Pulau Buru pada 1965-1979, Tristuti Rachmadi Suryosaputro seperti orang  “linglung” saat pulang ke kampung halamannya di Purwodadi, Jawa Tengah. Istri dan kedua anak dalang yang pernah kondang di Jawa Tengah pada 1960-an itu pergi diambil orang. Demikian pula rumah dan harta bendanya yang lain.

Dengan status eks-tapol (ET) yang disandangnya, saat itu dia tidak punya pikiran untuk bisa mendalang lagi. Satu-satunya modal yang dimiliki adalah ketrampilan tukang batu yang dipelajarinya di Pulau Buru. Supaya tetap bisa makan, Pak Tris, demikian dia dipanggil, akhirnya memutuskan jadi “kuli bangunan” alias tukang batu.

Untunglah, Ki Anom Suroto –dalang kondang asal  Solo— kemudian mencarinya di tempat dia bekerja di Jetis, Jogjakarta. “Kalau tidak ada Pak Anom, mungkin saya sudah mati sekarang. Fisik saya tidak akan kuat jadi tukang batu,” kata Tris kepada Radar Solo (Jawa Pos Group) di rumahnya yang mungil (Tipe 18) di Perumnas Mojosongo, Solo, Kamis (27/9) lalu.

Rumah pria kelahiran 3 Januari 1939 itu sangat sederhana. Sama sekali tidak tercermin rumah itu dihuni  mantan aktivis Lekra (Lembaga Kebudayaan Lekra) yang hingga sekarang masih jadi rujukan banyak dalang kondang seperti Anom Suroto, Manteb Soedharsono, dan Purbo Asmoro.

Di ruang tamu rumahnya, benda-benda berharga yang dipamerkan adalah tiga buah pamflet berukuran  50 x 75 centimeter yang dibingkai pigura kayu. Pamflet yang dicetak di  kertas jenis paper art glossy itu diterbitkan oleh Brown University, UCLA Berkeley, dan Wesleyan University. Tiga perguruan tinggi itu berada di Amerika Serikat.

Pamflet-pamflet itu memang sengaja didokumentasikan  Tris sebagai kenang-kenangan dari kunjungan Tris ke lima perguruan tinggi di Amerika, 5-24 April 2001. Saat itu, Tris diundang bersama istri dan dua  rekan seniman asal Solo untuk pentas di negeri Paman Sam. “Selain jadi pembicara, saya diundang sebagai  puppeteer (dalang) dalam pementasan wayang kulit,” katanya.

Undangan dari perguruan tinggi dari Amerika itu, kata Tris, selain menjadi wujud penghargaan atas eksistensi dia sebagai seniman juga menjadi pelipur lara. Sebab, rentetan peristiwa politik pasca peristiwa 30 September 1965 itu telah merampas segala-galanya dari dia. Termasuk  penghasilan Rp 25 ribu sekali pentas kandas.  Jika dikonversikan dengan nilai uang sekarang, kata dia, honorarium sebesar itu melebihi dalang kondang macam Anom Suroto dan Manteb Sudarsono. “Sekarang, sekelas Pak Manteb dan Pak Anom kalau mendalang dibayar sekitar Rp 50-an juta,” katanya.

Pukulan yang paling berat adalah dia kehilangan istri pertamanya, Nasrini, yang kini dinikahi orang lain dan tinggal di Batam. Dua  anak dari perkawinan pertamanya itu, Chandra Krisnani dan Yuli Krisranti, kini tinggal Sidney, Australia, yang kadang-kadang mengontaknya lewat telepon.

Tentang peristiwa politik yang terjadi menjelang dan pasca 30 September 1965 itu, Tris yang kelahiran Sugihmanik, Tanggung, Kabupaten Purwodadi, tidak banyak tahu. “Saya bukan orang dari politbiro, tapi hanya seorang seniman yang berusaha eksis,” katanya.

Salah satu yang dikenangnya selama “episode gelap” di Pulau Buru adalah temannya sesama tapol, Kho Bien Kiem, yang dianggap dia sudah seperti guru spiritualnya. Wejangan-wejangan Kho membuat Tris menjadikan dia bertambah kuat dan kemudian dia terapkan saat “mendalang” lagi setelah dia kembali pada 1979. “Kalau kamu mendalang dengan alat-alat bagus, niyaga, pesinden, dan alat-alat lengkap, lalu kamu bisa makan enak terus dari hasil mendalang itu, berarti Kamu belum bisa disebut “dalang putih”,”  kata Tris menirukan bunyi pesan Kho Bien yang hingga sekarang tetap dikenangnya.

Tris mengakui, ajakan Anom Suroto-lah yang membuat dia terjun ke dunia pedalangan lagi. Dalam setiap pentas mendalangnya, Anom selalu mengajak serta Tris yang dijadikan sebagai  “kamus hidup pewayangan”. Lambat laun, Tris lalu diminta membuat kaweruh pedhalangan (sejenis naskah atau skenario cerita dalang) untuk Anom. Sampai saat ini, entah sudah berapa ratus kaweruh yang dia tulis untuk Anom.  Yang jelas, yang masih dia simpan sekitar 150-an naskah yang sudah dibukukan.

Sampai sekarang Tris masih  menjadi rujukan bagi Anom, Manteb, Purbo, dan dalang-dalang lain di wilayah Eks-Karesidenan Surakarta, Jogja, dan wilayah lain di Jawa Tengah. “Harga” satu kaweruh Tris setebal 50-an halaman  sekitar  Rp 100-an ribu.

Begitu berartinya kaweruh yang dibuat oleh Tris, maka dalang Ki Purbo Asmoro pun menjadikannya sebagai tesis saat menempuh S-2 di Universitas Gajah Mada (UGM). “Kharismanya di mata para dalang di Solo dan sekitarnya memang sangat kuat,” kata Purbo yang juga dosen pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Selain membuat kaweruh,  beberapa kali Tris sempat dipercaya menjadi dalang ruwat, selain juga diundang menjadi dalang pentas. Dia bahkan juga sempat menjadi dosen lepas di ISI Surakarta (semasa masih bernama Sekolah Tinggi Seni Indonesia). Setelah ekonominya membaik,  Tris menata hidupnya lagi. Setelah perkawinan yang pertama, hingga sekarang sudah dua kali dia menikah. Setelah istri keduanya, Mulyati, meninggal pada 2000, dia menikahi Maria Sri Lestari.

Bersama sang istri, Tris kini membesarkan anak perempuannya, Kinanthi Finarsih, 17, yang kini kuliah di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Rumah yang ditempati saat ini adalah hasil jerih payah sekembalinya dari pengasingan. Sayang, masa kebangkitan kedua Tris hanya bertahan hingga 2005. Saat ini dia sudah semakin tua (68 tahun). Suaranya sudah tidak kung (merdu) lagi. Nafasnya mulai ada gejala tersengal untuk nada panjang. Demikian pula,  keprakan kakinya sudah tidak kencang lagi.

Saat ini, kata Tris, order mendalang tidak mesti 3 bulan sekali bisa didapat. Kendati, dia mematok harga cukup murah. Yaitu, hanya seperlima sampai seperenam dari tarif dalang kondang “muridnya” semacam Anom dan Manteb. “Sebenarnya, kalau masih bisa mendalang dua kali sebulan, itu sudah cukup. Tapi, sekarang sulit sekali,” sesal Tris.

Menurut dia, beberapa kali penerbit pernah meminta naskah-naskah kaweruh-nya untuk diterbitkan. Tapi, hingga sekarang belum satu pun yang mau menerbitkannya sebagai buku. Sebab, Tris tidak mau karya-karyanya itu dialihbahasakan ke bahasa Indonesia. “Maknanya hilang. Sebab, apa yang saya tulis (dalam bahasa Jawa, red) hasil perenungan 14 tahun di Buru, dan beberapa tahun setelah lepas dari sana,” kata sosok yang mengagumi karya-karya Pramudya Ananta Toer ini. (*)

Sumber :

http://jambi-independent.co.id/home/modules.php?name=News&file=article&sid=5141

Cakil, tokoh Perang Kembang


cakil_solo

Cakil merupakan tokoh asli kreativitas Indonesia. Cakil bukanlah nama, melainkan sebutan untuk raksasa yang berwajah dengan gigi taring panjang di bibir bawah hingga melewati bibir atas tersebut. Ia bisa diberi nama apa saja oleh Dalang yang memainkannya, kadang bernama Ditya Gendirpenjalin, kadang juga bernama Gendringcaluring, Klanthangmimis, Kalapraceka, dan bahkan saya pernah menjumpai dalang menamainya Ditya Kala Plenthong.

Cakil digambarkan berbeda dengan raksasa lain yang hanya satu tangannya bisa digerakkan. Tangan Cakil bisa digerakkan kedua-duanya. Hal ini diartikan sebagai penggambaran “sengkalan memet”: “tangan yaksa satataning janma” yang kurang lebih berarti tangan raksasa layaknya tangan manusia. Kata-kata tersebut mengandung watak bilangan sebagai berikut, tangan:2, yaksa:5, satataning:5, jalma:1. Jika dibaca terbalik maka akan menghasilkan angka Tahun Jawa 1552, atau 1630 Masehi yang merupakan tahun diciptakannya tokoh Cakil.

Continue reading Cakil, tokoh Perang Kembang

The Episodes of Ramayana Stories (31-41)


The Episodes of Ramayana Stories

http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/ramayana/ramafs.htm

 

31. Dukungan Tentara Kera Kiskenda

Sugriwa beserta para kera, yaitu Hanuman, Anggada, Susena, Hanila, Jambawan, Gaya, Gawaksa, dan pemuka kera lainnya datang menghadap Rama.

Sugriwa berkata kepada para kera bahwa sebagai balas budi kepada Rama, maka seluruh bala tentara kera Kiskenda harus ikut mencari Sita yang hilang diculik Rahwana. Para kera pun menjawab bahwa mereka bersedia mencari Sita sampai dimanapun.

Sugriwa memerintahkan balatentara kera mencari Sita sampai ke daerah pegunungan Widarba dan Misori, pula sampai ke tanah Matsya, Kalingga, Kausika, Andra, Chola, Chera dan Pandya. Sungai-sungai Gangga, Jumna dan Serayu harus disusuri. Lembah-lembah yang dalam harus dituruni, dan gunung-gunung yang tinggi harus didaki.

32. Hanuman Duta

 

Setelah menerima perintah Raja Sugriwa, maka balatentara Kiskenda berangkatlah. Mereka menyebar ke segenap penjuru. Setiap jurang ditengok, kalau-kalau Sita disembunyikan raja raksasa Rahwana di situ. Setiap gunung didaki, setiap semak dikuakkan. Mereka masuk ke dalam gua-gua, menjelajahi desa-desa, dan menyusuri pantai.

Namun usaha mereka sia-sia. Akhirnya mereka kembali ke Kiskenda tanpa membawa hasil. Lalu Sugriwa teringat bahwa ada sebuah pulau yang terletak di selatan. Pulau itu harus dijelajahi pula karena mungkin Sita disembunyikan Rahwana di tengah pulau itu.

Hanumanlah yang diserahi tugas oleh Sugriwa untuk meninjau keadaan pulau itu serta meneliti jejak raja raksasa Rahwana. Sugriwa yakin bahwa Hanuman akan sanggup menjalankan tugasnya.

33. Perjalanan Hanuman

Sebelum Hanuman berangkat, Rama menitipkan sebuah cincin kepadanya. Jika Hanuman bertemu dengan Sita, maka cincin itu menjadi bukti bahwa Hanuman adalah duta Rama.

Hanuman berangkatlah menuju arah selatan. Siang malam ia melompat-lompat tak kunjung lelah di antara pepohonan. Sebagai duta ia ingin melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya serta secepat-cepatnya.

Sesampainya di pantai selatan ia terhalang oleh lautan. Sebagai putra Dewa Bayu ia bersemadi meminta pertolongan agar diantarkan angin terbang ke Pulau Langka. Tak lama kemudian datanglah angin badai. Hanuman diterbangkan tinggi-tinggi ke angkasa dan melayang menuju Pulau Langka.

Setibanya di pulau itu ia berjalan mengendap-endap, kadang melompat-lompat melalui cabang-cabang pohon agar tidak tampak oleh raksasa penghuni pulau itu.

34. Taman Langkapura

Akhirnya Hanuman tiba di sebuah taman yang indah permai. Burung-burung berkicau merdu di atas pohon angsoka, sedangkan di halaman berumput kijang-kijang berkeliaran dengan amannya.

Tampak seekor burung merak menengadah karena mendengar bunyi kicau burung yang merdu laksana nyanyian yang diiringi gamelan sorga Lokananta. Ekor merak itu berkembang, lalu menarilah ia berputar-putar di tengah taman.

Hanuman terpesona melihat segala keindahan taman itu. Tiba-tiba tampaklah olehnya seorang putri yang cantik jelita, duduk seorang diri di dalam taman itu. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus, rambutnya terurai kusut. Wajah putri itu tepekur sayu.

35. Hanuman Menghadap Sita

Hanuman yakin bahwa putri itu pastilah Sita, istri Rama. Sambil duduk di atas sebuah cabang pohon angsoka Hanuman menembang. Adapun lagunya mengenai kisah Rama, mulai dari pembuangannya di hutan Dandaka bersama Sita dan Laksamana, penculikan Sita oleh raja raksasa Rahwana, kesedihan Rama dalam mencari istrinya, lalu perjumpaannya dengan Sugriwa, dan akhirnya mengutus Hanuman mencari Sita ke Negeri Langkapura.

Sita heran mendengar tembang Hanuman, seakan-akan dia bermimpi. Hanuman pun turun dari pohon, lalu ia menyembah Sita  serta mengatakan bahwa dirinya adalah utusan Rama.

Mula-mula Sita tidak percaya. Hanuman lalu memperlihatkan sebentuk cincin pemberian Rama. Maka percayalah Sita bahwa Hanuman memang utusan suaminya. Timbullah pula keyakinannya bahwa ia akan dapat bertemu lagi dengan Rama, terlebih setelah ia mendengar dari Hanuman bahwa Rama dengan bantuan raja kera Sugriwa akan datang menggempur Langkapura.

Sebelum Hanuman minta diri, Sita pun menitipkan sebentuk perhiasan rambutnya agar disampaikan kepada Rama sebagai tanda bakti dan setia.

36. Hanuman Merusak Taman Langkapura

Sebelum Hanuman pergi, ia sengaja merusak taman itu. Pohon-pohon ditumbangkannya, bunga-bunga dicabutinya, dan  jambangan-jambangan digulingkannya. Pula, atap balai peranginan diruntuhkannya, dan bendungan kolam di dalam taman itu dibobolnya sehingga terjadi banjir.

Para raksasa penjaga taman mengira hal itu terjadi karena disebabkan oleh gempa atau banjir. Tetapi kemudian mereka melihat bahwa ada seekor kera putih yang merusak taman. Beramai-ramai mereka berusaha mengejar dan menangkapnya, tetapi Hanuman dengan gesit selalu dapat menghindar.

Para raksasa itu segera memberitahukan hal tersebut kepada Indrajit, putra mahkota Langkapura. Demi melihat kerusakan taman istana itu, Indrajit pun marah. Kemarahannya bertambah setelah ia melihat kera Hanuman yang seakan-akan mengejek sambil meloncat-loncat di atas pohon.

Indrajit segera mengangkat panah pusakanya, yaitu panah Nagapasa, sebuah panah yang dapat melilit sasarannya. Dipanahnya Hanuman saat itu juga. Panah itu segera melilit tubuh Hanuman. Dengan demikian para raksasa dapat menangkapnya.

37. Hanuman Dibakar

Hanuman dibawa menghadap ke dalam istana. Betapa marahnya Rahwana ketika ia melihat kera putih yang telah merusak taman istananya. Tetapi betapa herannya Rahwana setelah ia  mengetahui bahwa kera putih itu dapat berbicara.

Sambil memaki-maki, Rahwana bertanya kepada Hanuman mengapa Hanuman merusak tamannya sampai porak poranda. Hanuman menjawab bahwa ia adalah utusan Rama yang tengah mencari istrinya, Sita, yang diculik oleh Rahwana.

Rahwana tak dapat menahan amarahnya. Hanuman hendak dibunuhnya, tetapi adik Rahwana, yaitu Wibisana, mencegahnya. Dengan bijaksana ia berkata bahwa Hanuman sebagai utusan raja tidaklah patut dibunuh. Ia harus dikembalikan kepada raja yang mengutusnya. Lagi pula, bukankah Rahwana yang membuat kesalahan terlebih dahulu dengan menculik dan merampas istri Rama.

Rahwana menjadi semakin marah. Wibisana diusirnya agar pergi dari Negeri Langkapura. Rahwana pun memerintahkan para prajurit raksasa agar membakar Hanuman di tengah alun-alun. Para raksasa mengikat tubuh Hanuman lalu meletakkannya di atas tumpukan kayu bakar. Tumpukan kayu itupun disulut beramai-ramai. Api menyala-nyala dan berkobar-kobar. Tapi Hanuman tidak terbakar, bahkan ia berhasil melepaskan diri dari tali pengikatnya.

38. Kota Langkapura Terbakar

Dengan tangkasnya Hanuman meloncat-loncat sambil membawa bara api di ekornya. Ia meloncat ke atas balai peranginan dan membakar atap gedung tersebut. Ketika nyala api semakin membesar, Hanuman meloncat-loncat dari satu bangunan ke bangunan lainnya sehingga semua bangunan menjadi terbakar.

Demi melihat kejadian itu pasukan raksasa berusaha meringkus Hanuman. Namun kera perkasa itu dengan cepat dan mudahnya meloloskan diri dari kepungan bala tentara raksasa. Kota Langkapura dibuatnya gaduh. Banyak bangunan yang terbakar.

39. Dewa Baruna

Setelah menempuh hutan belukar, barisan pasukan kera  tibalah di pantai selatan. Mereka berhenti karena tidak mampu mengarungi samudra menuju Pulau Langka. Mereka mencoba menyeberangi selat itu, tetapi ombak dan gelombang selalu memukul mereka.

Rama segera mengambil panah pusakanya. Dilepaskannya sebuah anak panah dari busurnya menuju ke dalam samudra. Tak lama kemudian segala macam ikan, penyu, udang dan bermacam-macam jenis mahkluk lautan timbul ke atas permukaan samudra. Mereka mengerang kesakitan karena air laut yang terkena panah Rama itu mendidih dan bergumpal-gumpal.

Tiba-tiba di antara deburan gelombang muncullah secercah cahaya yang semakin lama semakin terang. Lalu tampaklah Dewa Baruna, yaitu dewa penguasa samudra. Ia memohon kepada Rama agar air samudra yang mendidih itu segera dapat pulih seperti sediakala. Rama bersedia, tetapi dengan syarat Sang Baruna harus bersedia menolong menyeberangkan balatentara kera menuju ke Pulau Langka.

40. Membangun Jembatan

Dewa Baruna menyatakan kesanggupannya membantu menyeberangkan balatentara kera. Ia menyarankan agar dibuat jembatan batu yang menghubungkan pantai itu dengan Pulau Langka sehingga   para prajurit kera dapat menyeberang. Sekali lagi Rama melepaskan sebuah panah pusaka ke dalam samudra. Maka air lautan pun pulih kembali seperti sedia kala.

Sugriwa segera memerintahkan para prajurit kera mencari batu untuk ditumpuk di dalam laut sehingga menjadi sebuah jembatan. Puluhan ribu kera itu pun pergi ke gunung-gunung.

Batu-batu besar dipecahkan dan diusung beramai-ramai ke pantai, lalu ditenggelamkan ke dalam samudra. Batu-batu itu disusun sebagai landasan jembatan di dasar samudra, lalu ditumpuk meninggi sehingga mencapai permukaan laut. Susunan batu-batu itu dibuat memanjang sampai mencapai pantai Pulau Langka. Jembatan batu itu amat kuat sehingga dapat dilalui puluhan ribu balatentara kera.

41. Menyerang Negeri Langka

Syahdan, Rahwana memerintahkan balatentara raksasa untuk menjaga pantai Pulau Langka. Sejak lolosnya Hanuman dari api pembakaran, Rahwana telah menduga bahwa suatu saat Rama beserta balatentara kera pasti akan datang menyerang Langkapura.

Prajurit-prajurit raksasa yang tengah berjaga-jaga di tepi pantai melihat ribuan kera yang sibuk membuat jembatan batu yang amat kokoh. Jembatan batu itu  menghubungkan pantai di seberang dengan pantai Pulau Langka.

Raksasa-raksasa itu segera naik ke perahu hendak menyerang para prajurit kera yang sedang bekerja. Tetapi prajurit kera itu ternyata lebih berani dan lebih tangkas bertarung dibandingkan dengan mereka. Raksasa-raksasa penjaga pantai dikalahkannya.

Maka seluruh balatentara kera dibawah pimpinan Rama segera menuju pantai Pulau Langka dengan melalui jembatan batu yang amat kokoh itu. Atas perintah Dewa Baruna, segenap mahkluk lautan dengan patuh menjaga dasar jembatan itu sehingga selamatlah balatentara Rama tiba di Langkapura.

TAMAT

 

The Episodes of Ramayana Stories (21-30)


The Episodes of Ramayana Stories

http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/ramayana/ramafs.htm

21. Perlawanan Jatayu

Sita meronta-ronta dan menjerit-jerit, tapi sia-sia. Tangan Rahwana menjadi sepuluh pasang, begitu pula   mukanya menjadi sepuluh. Itulah sebabnya ia dijuluki Dasamuka. Sita terus berteriak-teriak menyebut nama Rama. Sita kini sadar akan kesalahannya. Ia tak mengikuti nasehat Laksamana, bahkan berprasangka buruk terhadap iparnya itu.

Konon, adalah seekor burung garuda, Jatayu namanya. Ia sahabat Rama. Demi mendengar nama Rama yang dijeritkan Sita, terbanglah ia hendak memberi pertolongan. Rahwana disambarnya berkali-kali, dipatuknya dan dicakarnya. Sita hendak direbutnya.

Rahwana marah karenanya, lalu ia menghunus senjata. Terjadilah pertarungan di angkasa. Garuda Jatayu terluka parah sehingga tak dapat terbang lagi. Sita yang mengetahui bahwa garuda itu membelanya segera melepaskan cincinnya. Cincin itu lalu dilemparkannya kepada Jatayu agar diberikan kepada Rama. Jatayu terkulai jatuh ke bumi, tubuhnya mandi darah.

22.Jatayu Bertemu Rama

Rama dan Laksamana kembali ke pondoknya. Tapi betapa kagetnya mereka karena Sita tidak berada di sana. Menitiklah air mata Rama karena sedihnya. Keluhnya terbawa angin menerobos hutan dan terbawa debur gelombang lautan. Laksamana pun tak henti-hentinya menyesali dirinya karena pergi meninggalkan Sita.

Kedua satria itupun pergilah mencari Sita. Dijelajahinya rimba belantara, didakinya bukit, dan dituruninya lembah. Namun tiada jejak sedikitpun yang ditemukannya.

Akhirnya Rama melihat seekor burung garuda yang terkapar di tanah tanpa daya. Hanya pada paruhnya terdapat sebentuk cincin. Rama mengamati cincin itu dan seketika itu juga dikenalinya sebagai cincin Sita.

Jatayu dengan tersendat-sendat berkata bahwa Sita dilarikan oleh raja raksasa Rahwana. Jatayu tak dapat berkata lebih banyak karena tubuhnya telah lemah lunglai dan kehabisan tenaga. Sesaat kemudian Jatayu pun menghembuskan nafas penghabisan. Rama menyadari bahwa garuda yang telah tiada itu adalah sahabatnya. Sebagai penghormatan terakhir, burung garuda itu pun dibakarnya dengan disertai upacara yang khidmat.

23. Mencari Sita bagian 1

Walaupun Rama dan Laksamana telah mengetahui siapa yang melarikan Sita, tetapi mereka belum mengetahui nama dan letak negara raja raksasa itu. Maka mengembaralah kedua satria itu mendaki gunung-gunung yang tinggi, menyusuri tebing-tebing yang curam, dan menuruni lereng-lereng yang terjal.

Tiba-tiba dari balik semak belukar muncullah makhluk yang aneh wujudnya. Tubuhnya seperti raksasa tetapi berkepala dua. Salah sebuah kepalanya terletak pada bagian perut.

Dengan suara mendesis-desis, raksasa itu segera menyerang Rama dan Laksamana. Sangatlah sukar bagi Rama dan Laksamana untuk berperang karena tempat itu penuh dengan semak belukar dan akar-akar pohon yang melintang menghambat gerak.

Rama menjauhi tempat itu lalu dibidiknya raksasa itu dengan panahnya. Sesaat kemudian terlepaslah sebuah anak panah dari busurnya. Anak panah itu menembus dada sang raksasa. Tiba-tiba raksasa itu berubah menjadi dewa. Rama dan Laksamana menghampiri dewa itu lalu menyembahnya.

Dewa itu bercerita bahwa ia dahulu terkena kutuk Hyang Siwa sehingga ia berubah menjadi raksasa berkepala dua. Ia menyatakan terima kasihnya kepada Rama yang telah memanahnya sehingga ia berubah kembali menjadi dewa.

24. Mencari Sita bagian 2

Rama dan Laksamana meneruskan perjalanannya. Tibalah keduanya pada sebuah telaga lalu mereka beristirahat di tepi telaga itu. Air telaga itu amat jernih sehingga tampak ikan-ikan yang berenang di dalamnya. Berbagai jenis ikan itu berenang kian kemari.

Ikan-ikan tersebut  bermacam-macam warnanya. Ada yang kuning keemasan, merah berkilauan, biru, putih, dan kelabu. Udang, kepiting dan penyu tampak pula menghuni telaga itu. Bunga-bunga teratai mekar di permukaan air telaga. Ada yang merah dan ada yang putih.

Begitu asyiknya Rama dan Laksamana menikmati keindahan alam sehingga mereka tidak mengetahui bahwa di belakangnya ada seekor buaya yang mengintai. Mulut buaya itu terbuka lebar-lebar dan siap hendak menyambar.

Tetapi kedua satria itu telah terlatih untuk menghadapi setiap bahaya. Ketika buaya itu mulai bergerak hendak menyergap, Rama dan Laksamana segera membalikkan badan sambil meloncat menghindari sergapan. Dengan mudah buaya itu dibunuhnya dengan senjata.

Ternyata buaya itu adalah  penjelmaan seorang dewi yang dahulu terkena kutukan dewa. Kini dewi itu terbebas dari kutukan. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Rama dan Laksamana, dewi itu terbang kembali ke sorga.

25. Hanuman

Sebelum dewi itu terbang kembali ke sorga, ia berpesan kepada Rama agar Rama dan Laksamana pergi ke hutan Pancawati. Di hutan itulah akan didapatkan petunjuk guna mencari Sita.

Maka berangkatlah Rama dan Laksamana menuju hutan Pancawati. Betapa jauhnya mereka berjalan, menerobos semak belukar, mendaki gunung, kemudian menyusuri tepi pantai. Betapa damai hati kedua satria itu melihat langit yang kebiruan. Sejauh mata memandang tampak cakrawala dan permukaan samudra yang luas.

Kedua satria Ayodya itu berteduh di bawah pohon yang rindang. Tiba-tiba muncullah seekor kera putih yang sejak tadi telah mengintai perjalanan kedua satria itu. Kera putih itu tampak bijaksana, bahkan amat sopan sikapnya terhadap Rama dan Laksamana. Kera putih itu menyembah di hadapan Rama. Ia menyebut namanya, Hanuman, dan ia berasal dari Pancawati.

26. Sugriwa

Rama dan Laksamana heran menyaksikan kera putih Hanuman yang dapat berbicara seperti manusia. Hanuman bercerita bahwa rajanya yang bernama Sugriwa berada di hutan Pancawati karena diusir dari kerajaan Kiskenda oleh kakaknya yang bernama Subali. Hanuman memohon  Rama untuk menolong Sugriwa  menduduki kembali takhta kerajaannya.

Rama menyanggupi. Rama pun bercerita bahwa pengembaraannya di hutan itu sebenarnya untuk mencari istrinya yang diculik oleh raja raksasa Rahwana. Dengan diantar Hanuman, Rama dan Laksamana pergi menuju hutan Pancawati. Sebagai penunjuk jalan Hanuman mendahului mereka sambil meloncat di antara pepohonan.

Ketika tiba di suatu tempat Rama merasa kehausan. Laksamana disuruhnya mencari air. Pada sebuah batang pohon Laksamana melihat air mengalir turun ke bawah. Maka ditampungnya air itu dengan buluh. Ternyata air itu adalah air mata Sugriwa yang tengah bertapa duduk di atas sebatang pohon yang tinggi.

27. Kecakapan Rama Memanah

Hanuman segera memanjat pohon itu. Lalu Sugriwa pun turun dan bertemu dengan Rama dan Laksamana. Sugriwa amat terharu mendengar kisah Rama yang tengah hidup dalam pembuangan. Ditambah pula ia kehilangan istrinya karena diculik oleh raja raksasa Rahwana. Sugriwa berjanji akan membantu Rama mencari Sita.

Rama pun merasa senasib dengan Sugriwa yang terusir dari kerajaanya. Satria Ayodya itu menyatakan  kesediaannya membantu Sugriwa merebut kembali takhtanya yang diduduki oleh Subali.

Sugriwa ingin melihat kepandaian Rama dalam memanah. Dengan segala senang hati Rama bersedia untuk memperlihatkan kecakapannya. Di dalam hutan itu terdapat tujuh batang pohon tal dan Rama hanya dengan sekali bidikan dapat merobohkan ketujuh batang pohon itu. Sugriwa dan Hanuman amat kagum melihat ketangkasan Rama dalam memanah.

28. Subali dan Sugriwa

Sugriwa diantar oleh Rama pergi ke kerajaan Kiskenda. Hanuman dan para kera yang ribuan jumlahnya ikut pula mengiringkan. Sesampainya di depan istana Kiskenda Sugriwa berteriak-teriak memanggil Subali sambil menantang berperang tanding. Suara Sugriwa begitu kerasnya sehingga Subali terkejut.

Hati Subali amat panas demi mendengar tantangan adiknya. Timbullah amarahnya, lalu ia bangkit dan keluar dari istana. Ia hendak memenuhi tantangan Sugriwa. Maka berhadap-hadapanlah kedua kakak beradik itu. Keduanya saling ancam.

Dengan disaksikan ribuan kera, bertarunglah Sugriwa dan Subali dengan amat sengitnya. Dengan penuh geram keduanya bergantian menyerang, tinju-meninju, cekik-mencekik,  cakar-mencakar dan bergulat tindih-menindih. Debu berkepulan. Masing-masing memeras tenaga, beradu dan berlaga dengan sengitnya.

29. Gugurnya Subali

Pertarungan kedua kakak-beradik itu belum berakhir juga. Sugriwa dengan sekuat tenaga mencabut sebatang pohon tal, lalu dihantamkannya kepada Subali. Subali rubuh, tapi ia segera bangkit lagi. Subali memuncak amarahnya. Sugriwa ditangkapnya, lalu dilemparkannya jauh-jauh.

Sugriwa mendekati Rama dan bertanya mengapa Rama belum juga membantu. Rama menjawab bahwa ia ragu-ragu untuk melepaskan panahnya karena Sugriwa dan Subali amat mirip . Rama menyuruh Sugriwa berkalung janur agar mudah dibedakan dari Subali.

Tak lama kemudian Sugriwa dengan berkalungkan janur kembali ke medan pertarungan. Ditantangnya Subali bertanding lagi. Mendengar tantangan Sugriwa itu, Subali pun semakin membara amarahnya. Diterkamnya Sugriwa, lalu diringkusnya sampai ia tak dapat bergerak sama sekali. Pada saat itulah Rama mengangkat busurnya. Dibidiknya Subali, dan sesaat kemudian terlepaslah anak panah dari busur Rama. Panah itu menancap di dada Subali, dan rubuhlah Subali ke tanah.

30. Raja Kiskenda

Terlepaslah Sugriwa dari bahaya maut. Tetapi setelah melihat mayat Subali, hatinya menjadi sedih. Betapa sengit permusuhan kedua saudara itu. Setelah Sugriwa menyaksikan kematian kakaknya, ia pun tak dapat menahan air matanya.

Sambil terisak-isak dirangkulnya tubuh kakaknya. Ketika Rama mendekat, Sugriwa menyembah sambil mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Sugriwa dengan rela hati menyilakan Rama menjadi raja di Kiskenda. Rama menolaknya karena ia masih menjalankan perintah ayahandanya almarhum, yaitu hidup dalam pembuangan. Menurut pendapatnya, sudah sewajarnyalah jika Sugriwa kini menduduki takhta Kerajaan Kiskenda.

Rama berpesan agar Anggada, yaitu putra Subali, diambil anak oleh Sugriwa. Begitu pula Dewi Tara, yaitu ibu Anggada, supaya diangkat sebagai permaisuri. Sugriwa menyatakan akan memenuhi perintah Rama, lalu menyembahlah ia di hadapan satria Ayodya itu. Semua kera pengikut Sugriwa pun menyembah bersama-sama.