Tag Archives: jawa barat

Mayapada Indah Wayang Golek


Sejarah Ringkas……

Seni rupa sandiwara boneka berkayu atau lebih lazim jenengan – namanya Wayang Golek, tindak-tanduknya memang kelihatan seperti lagi ngagulitik atau menggolek, asal muasalnya di dataran tinggi Priangan Jawa Barat yang kerajaan buddha Pajajaran masih misésa atau menguasai pada abad XV M., tatkala itu,  Sunan Giri, salah satu dari sembilan Wali Songo yang mendatangi pulau Jawa dari perbagai negeri ufuk timur seperti Persia, Turki, Mesir dan Cina untuk beruluk salam sambil mencanangkan kawibawan firman Allah, dipercaya memperkenalkan seni ini kepada penduduk setempat.

golek1

 

Itu lambat-laun terjungkar-jangkir  sepanjang daerah Priangan, bergabung sama adat istiadat pra-Islam dan budaya khayalak ramai.  Pada hakekatnya, ini dilantarankan aspeknya yang sudah merecup dalam benak masyarakat awam, tasmat menggalang faham-faham hikmah filsafat, akhlak atau malahan bermuatan kasad propaganda.   Bahwasanya, setiap babak pementasan adalah bidang permata atau ibarat tematis filsafat tertentu, dengan menyirat makna tersendiri bagi penilik yang berlatar belakang undak-usuk atau tingkat pendidikan berbeda-beda.  Berisikan serancaman cerita murni adapun pertikaian kebajikan melawan kedurjanaan dan segala nista kepasikan yang akhirnya cuang-caing.  Tidak pelak lagi, bukannya menyerupai selangkas buah papaya bahwa Seni Wayang Golek telah menghaturkan sumbangsih yang cukup berarti dalam hal mencagarkan kesinabungan warisan khazanah budaya tamaddun sunda  zaman pra-islam.

Simbolisme para Tokoh

Haraplah maklum tentang adanya  syarat mutalak bahwa seberinda pertunjukan Wayang Golek berdasarkan bentuk dan kode-kode warna yang bertujuan menggambarkan ciri masing-masing tokoh dan fihak dikotomis.

Continue reading Mayapada Indah Wayang Golek

Watak Cepot Untuk Bangsa


Oleh SUKRON ABDILLAH

KONON pertunjukan wayang bermula dari kesadaran manusia bahwa dirinya memiliki bayangan sebagai anugerah dari Tuhan. Maka, pertunjukan ini digunakan untuk menyertai aneka macam aktus yang berdimensi magis-religius. Dengan pelbagai kreasi, pergelaran wayang lambat laun bertransformasi sehingga melahirkan aneka seni pertunjukan sesuai dengan kekhasan daerah.

Di Tatar Sunda, umpamanya, kita pasti akrab dengan seni pertunjukan wayang golek, wayang wong Cirebon atau Priangan, wayang catur, wayang cepak, dan sebagainya. Dari yang tradisional sampai kontemporer, seni pertunjukan wayang golek serasa mengutak-atik perasaan untuk terus begadang menikmati kejenakaan panakawan, seperti Cepot, Dewala, Udel (Gareng), dan Semar.

Karena intensitas pertunjukan seni wayang agak berkurang, televisi menjadi medium untuk mengobati kerinduan saya pada seni budaya hibrid (antara Jawa dan Sunda) ini. Malam Minggu nanti saya akan memelototi televisi karena ada acara bertajuk Ngedate Sareng Cepot. Bahkan, pada bulan puasa ada acara Asep Show yang memadukan unsur modernitas di satu sisi dan tradisionalitas di sisi lain. Maka, “glokalisme” adalah istilah tepat untuk memasukkan gaya ngadalang Asep Sunandar Sunarya. Ia tidak harus terpaku pada pakem ketika menggelar pertunjukan wayang golek.

Kepiawaian dan keberaniannya mendobrak -lebih tepatnya merekonstruksi- pakem atau aturan pewayangan tradisional patut kita acungi jempol. Dengan memasukkan nilai-nilai modernitas, ia (melalui Giri Harja) berupaya mengkreasi alur cerita, setting, dan jenis wayang kayu sembari menyertakan manusia ketika pertunjukan berlangsung di televisi. Ini mengindikasikan bahwa wayang golek Sunda tidak antiperubahan. Seni pertunjukan ini terus menyesuaikan dengan perkembangan zaman agar tetap dicintai warganya.

Maka, ungkapan miindung ka waktu, mibapa ka zaman adalah justifikasi yang tidak mengada-ada untuk menyebut epistemologi praksis gaya ngadalang Asep Sunandar Sunarya.

Kenapa harus Cepot?

LANTAS, mengapa dalam seni pertunjukan wayang golek Sunda tokoh yang lebih populer di telinga saya dan mungkin Anda berasal dari kalangan panakawan, seperti Astrajingga atau Cepot? Ada apa dengan Cepot? Unikkah pribadi si Cepot sehingga masyarakat Sunda dan non-Sunda banyak menyukainya? Padahal, wayang purwa sebagai nenek moyangnya diambil dari epos Mahabaratha dan Ramayana. Seharusnya yang lebih populer adalah tokoh dari kalangan ksatria dan raja.

Akan tetapi, hal itu tidak terjadi dalam pergelaran wayang golek Sunda. Si Cepot dan panakawan lainnya masih menjadi primadona dalam setiap pertunjukan. Tak percaya? Coba bayangkan jika cerita teater boneka kayu (puppet theatre) ini tidak menghadirkan mereka, pasti tidak nikmat ditonton. Maka, tak berlebihan jika pergelaran wayang golek penting diguar, terutama tokoh pewayangan khas urang Sunda, yakni si Cepot atau Astrajingga-ada yang menyebutnya Sastrajingga.

Saya pikir keunikan dan kekhasan pribadi si Cepot bisa dilihat dari kata-kata dan tingkah polahnya yang humoris dan memuat nilai-nilai filsafat hidup, semacam world view yang dipegang warga Sunda. Menurut pendapat Ajip Rosidi (1984), si Cepot memiliki watak khas, yakni sering menyatakan sanggup, sombong, mau menang sendiri, cunihin, culametan, tetapi ia berani membela kebenaran, setia, dan banyak akal.

Karakter kepribadiannya yang lain ialah humoris dan sering merelatifkan kehidupan dunia. Karena itu, si Cepot tertancap kuat dalam ingatan kolektif urang Sunda sehingga mengalahkan popularitas Arjuna dan Gatotkaca. Ia bisa membawa penikmat pertunjukan wayang golek merehatkan kepenatan hidup dengan lawakan-lawakannya. Sesuai dengan bahasa agama, kehidupan duniawi adalah permainan (laibun) dan bahan tertawaan (lahwun).

Ketika si Cepot tidak tampil dalam pergelaran wayang golek, pertunjukan akan terasa hambar dan serasa tidak komplit bagai sayur tanpa garam. Tak mengherankan jika si Cepot menjadi tokoh favorit pelbagai kalangan. Tua-muda, kaya-miskin, pejabat-rakyat menyenangi sepak terjang urang Sunda di kehidupan yang dihadirkan secara representatif oleh si Cepot.

Menafsir Pribadi

MENAFSIR pribadi si Cepot guna menciptakan kekuatan bangsa, yang penting dimiliki di zaman kenihilan etika-moral ini, adalah keniscayaan, apalagi dengan kondisi sosial ekonomi yang karut-marut, meranggasnya perilaku jahat dan korup, serta membiaknya ketidakpedulian masyarakat modern pada orang miskin. Boleh jadi si Cepot adalah obat mujarab untuk mengobati perilaku patologis pejabat secara cerdas, asyik, dan menggelitik. Sebab, irama suara sumbang rakyat jarang didengar dan bahkan sering kali ditertawakan pejabat, bukan malah ditanggulangi dan diselesaikan.

Si Cepot ialah representasi rakyat jelata yang kebetulan dekat dengan raja dan ksatria, putra cikal (pertama) Ki Semar yang bertugas memberi bantuan kepada kaum elite pewayangan guna menghadapi pelbagai persoalan yang mengimpit Astinapura. Bukti kesetiaan si Cepot pada negaranya bisa dilihat dari pertarungan mati-matian dengan buta hejo, antek Kurawa.

Secara kontekstual Kurawa bisa diartikan sebagai negara adidaya Amerika Serikat yang kerap melakukan intervensi dan mengganggu stabilitas nasional. Uniknya lagi, untuk konteks kekinian, yang banyak melakukan resistensi adalah kalangan rakyat. Para pejabat, entah karena ada kepentingan, diam seribu bahasa ketika pelbagai kebutuhan rakyat harus diimpor dari negara tetangga kendati media pemenuh kebutuhan itu tersedia di negeri sendiri.

Di dalam pertunjukan wayang golek Sunda, antara raja, ksatria, dan rakyat jelata (panakawan) bersatu melawan rongrongan kaum elite Kurawa. Sementara di negara kita, antara rakyat dan pejabat tidak ada kesejalanan visi dan misi, yang berakibat pada munculnya ketidakpercayaan. Demokrasi juga tidak meruang dan mewaktu di negeri ini. Tentunya ini berbeda dengan cerita di alam pewayangan.

Semoga saja wayang golek, sebagai representasi dari perlawanan lokal masyarakat Sunda terhadap nilai-nilai yang meminggirkan jati diri bangsa, dapat difungsikan sebagai medium pembentuk karakter bangsa. Alhasil, bangsa ini dan khususnya warga di Jawa Barat mampu menentukan arah perjalanannya pada masa mendatang. Untuk sekadar proses penyadaran kolektif, mungkin perlu ada acara “debat terbuka” antara pejabat dan si Cepot.

Sumber: Kompas Jabar, Sabtu, 28 Juli 2007.

Wayang Cepak Cirebon


Asal-usul wayang cepak di Cirebon bermula ketika Élang Maganggong, putra Ki Gendeng Slingsingan dari daerah Talaga, berguru agama Islam kepada Suta Jaya Kemit, seorang upas (sama dengan satpam sekarang) di Gebang yang pandai mendalang. Élang Maganggong di kemudian hari menurunkan ilmunya kepada Singgih dan keturunan-keturunan Singgih yang berkedudukan di Desa Sumber, Kecamatan Babakan. Peristiwa inilah yang membuat wayang cepak menyebar ke beberapa wilayah Cirebon bagian Timur seperti Waled, Ciledug, Losari dan Karang Sembung, serta Cirebon bagian Barat yang meliputi daerah Kapetakan dan Arjawinangun.

Wayang ini terbuat dari kayu, yang ujungnya tidak runcing (cepak = bhs Sunda / papak = bhs Jawa). Itulah sebabnya maka wayang ini disebut wayang cepak atau wayang papak. Dilihat dari bentuknya, wayang cepak diperkirakan merupakan pengembangan dari wayang kulit, wayang golek atau wayang menak yang berpusat di daerah Cirebon. Wayang cepak biasanya membawakan lakon-lakon Menak, Panji, cerita-cerita babad, legenda dan mitos. Tetapi, di daerah Cirebon sendiri, wayang cepak lebih banyak melakonkan babad Cirebon, juga babad Mekah dan Pamanukan yang disampaikan dengan bahasa Jawa Cirebon.

Pertunjukan wayang cepak Cirebon dewasa ini kurang mendapat sambutan. Pertunjukannya hanya terbatas pada upacara adat seperti Ngunjung Buyut (nadran, ziarah), acara kaul (nazar) dan ruwatan (ngaruwat = melakukan ritus inisiasi), yaitu menjauhkan marabahaya dari diri sukerta (orang yang diruwat). Dan orang yang diruwat ini biasanya berupa: wunggal (anak tunggal), nanggung bugang (seorang adik yang kakaknya meninggal dunia) atau suramba (empat orang putra), surambi (empat orang putri), pandawa (lima putra), pandawi (lima putri), talaga tanggal kausak (seorang putra diapit dua orang putri), dan lain sebagainya.

Dalam pertunjukannya di masyarakat, wayang cepak Cirebon memiliki struktur yang baku. Adapun susunan adegan wayang cepak Cirebon secara umum sebagai berikut : (1) Tatalu, dalang dan sinden naik panggung, gending jejer / kawit, murwa, nyandra, suluk / kakawen dan biantara; (2) Babak unjal, paseban, dan bebegalan; (3) Nagara sejen; (4) Patepah; (5) Perang gagal; (6) Panakawan / Goro-goro; (7) Perang kembang; (8) Perang Raket; (9) Tutug.

Waditra yang mengiringi wayang cepak pada awalnya berlaras pelog, tetapi karena untuk menyesuaikan situasi dan kondisi, waditra yang dipakai diberi berlaras salendro. Waditra ini meliputi gambang, gender, suling, saron I, saron II, bonang, kendang, jenglong, dan ketuk. Sementara beberapa lagu yang mengiringi pertunjukan wayang cepak, di antaranya Bayeman, Gonjing, Lompong Kali, Gagalan, Kiser Kedongdong dan lain-lain.

http://sunda.web.id/kesenian-jawa-barat/wayang-cepak-cirebon/

Wayang Golek Moderen


Wayang golek modern merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang terdapat di Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Wayang golek modern ditemukan oleh Dalang Partasuwanda (alm). Seperti halnya wayang golek biasa, lakon yang dibawakan wayang golek modern yaitu cerita wayang purwa, yang membedakannya yaitu dalam wayang golek biasa dalangnya hanya seorang, antawacana pun dilakukan oleh seorang. Sedangkan dalam wayang golek modern, dalangnya lebih dari satu orang dan kadang-kadang antawacananya pun dibantu oleh dalang lain yakni setiap satu wayang satu dalang.

Dalam adegan perang, apabila keris atau senjata yang dipergunakan beradu, terdengar bunyi sesuai dengan bunyi aslinya, bahkan terlihat cahaya seperti kilat atau petir. Dalam adegan kocak atau lawakan yang diperankan oleh Si Cepot dan saudaranya, diperagakan dia naik motor atau mobil bahkan naik pesawat terbang, dan suaranya sama seperti suara aslinya. Ketika Si Cepot terlibat perkelahian, dia menggunakan senjata mesin seperti mortir dengan pelurunya yang  kelihatan berhamburan dan kilatan cahaya yang mirip dengan cahaya pada senjata aslinya.

Pada jagat (gedebog pisang) pentas wayang golek modern dipasang layar  yang dapat ditutup dan dibuka seperti dalam pertunjukan sandiwara di sebuah gedung. Di latar belakangnya pun ada seben yang gambarnya sesuai dengan adegan yang sedang berlangsung seperti dalam adegan keraton ditampilkan gambar ruangan keraton lengkap, dalam adegan di hutan ditampilkan pohon-pohon yang rindang. Selain gambar pohon-pohonan, pohon kecil pun disiapkan.

Gamelan wayang golek modern ditempatkan di depan layar yaitu di depan jagat. Pesinden berada di depan yang terdiri dari beberapa orang duduk berjejer. Apabila sedang melantunkan lagu-lagu yang dapat menampilkan adegan joget, pesinden pun ikut berjoget. Bahkan, atas permintaan penonton pesinden berjoget dengan penonton. Apalagi sekarang, dengan lagu-lagu dangdut sudah biasa ditampilkan dalam pagelaran wayang atau kiliningan, pesinden harus mau turun melantai.

Selain wayang golek lengkap sebagai perlengkapan utamanya, perlengkapan lainnya seperti layar, lampu-lampu yang beraneka ragam, tepung atau bedak dan bunga es pun dipersiapkan. Waditranya, selain gamelan salendro dan pelog, ada pula tambahan kecapi, gitar dan kadang-kadang bongo. Sekarang mungkin elektone atau organ pun dimasukkan apabila wayang golek modern ini masih dipertunjukkan.

Di Kota Bandung, tepatnya di Gang Ihi, dulu pernah ada perkumpulan kesenian yang tergabung dalam Lingkung Seni Pusaka Siliwangi pimpinan Kapten Permana. Dalam perkumpulan kesenian ini, selain degung, kecapian dan lawakan terdapat pula wayang golek modern. Akan tetapi, sekarang lingkung seni tersebu telah pindah alamat ke Ciparay, Majalaya, Kabupaten Bandung.

Wayang golek modern terakhir dipertunjukkan adalah dalam HUT Bayangkara dari Grup Kepolisian. Tempatnya di lapangan Brimob Sukajadi. Dalam pertunjukan tersebut, pesindennya hanya satu orang. Gamelan ditempatkan di belakang layar sehingga tidak terlihat oleh penonton. Ini berbeda dengan pertunjukan wayang golek modern yang ditampilkan oleh Grup Wayang Golek Modern Pusaka Siliwangi.

Di televisi pernah juga ada pertunjukan wayang golek yang di belakang para pemainnya agak ke atas terdapat layar besar. Ketika dalang menampilkan adegan perkelahian, di layar tersebut ditampilkan adegan perkelahian yang diperagakan oleh para penari latar. Selain itu, ada pula yang memasang jagat dua pasang, sama seperti halnya wayang golek modern. Ketika pertunjukan sedang berlangsung, dalang yang berada di belakang mempertunjukkan adegan lainnya namun tanpa antawacana. Ketika ada adegan perkelahian, dalang di belakang pun mempertunjukkan perkelahian namun tokohnya berbeda. Pertunjukan ini disajikan oleh Kelompok Pedalangan STSI Bandung.

http://sunda.web.id/kesenian-jawa-barat/wayang-golek-moderen/

Wayang Golek


Wayang golek adalah bentuk teater rakyat yang sangat populer. Orang sering menghubungkan kata “wayang” dengan “bayang” karena dilihat dari pertunjukan wayang kulit yang memakai layar, dimana muncul bayangan-bayangan. Di Jawa Barat, wayang ada yang menggunakan boneka (dari kulit/wayang kulit atau kayu/wayang golek) dan ada yang dimainkan oleh manusia (wayang orang). Berkenaan dengan wayang golek, ada dua macam wayang golek, yakni wayang golek papak (cepak) dan wayang golek purwa yang ada di daerah Sunda. Semua wayang, kecuali wayang wong, dimainkan oleh dalang sebagai pemimpin pertunjukan yang sekaligus menyanyikan suluk, menyuarakan antawacana, mengatur gamelan, mengatur lagu dan lain-lain.

Wayang golek biasanya memiliki lakon-lakon, baik galur maupun carangan yang bersumber dari cerita besar Ramayana dan Mahabrata dengan mempergunakan bahasa Sunda disertai iringan gamelan Sunda (salendro), yang terdiri atas dua buah saron, sebuah peking, sebuah selentem, seperangkat bonang, seperangkat bonang rincik, seperangkat kenong, sepasang goong (kempul dan goong) dan ditambah dengan seperangkat kendang (sebuah kendang indung dan tiga buah kulanter), gambang serta rebab.

Sejak 1920-an, pertunjukan wayang golek selalu diiringi oleh pesinden. Popularitas pesinden pada masa-masa itu sangat tinggi, sehingga mengalahkan popularitas dalang wayang golek itu sendiri, terutama ketika zamannya Upit Sarimanah dan Titim Fatimah sekitar tahun 1960-an. Lakon yang biasa dipertunjukkan dalam wayang golek adalah lakon karangan. Hanya kadang-kadang saja dipertunjukkan lakon galur. Hal ini seakan menjadi ukuran kepandaian para dalang menciptakan lakon carangan yang bagus dan menarik. Beberapa dalang wayang golek yang terkenal diantaranya Tarkim, R.U. Partasuanda, Abeng Sunarya, Entah Tirayana, Apek, Asep Sunandar Sunarya, Cecep Supriadi dan lain-lain.

Pola pengadegan wayang golek adalah sebagai berikut : 1) Tatalu, dalang dan pesinden naik panggung, gending jejer/kawit, murwa, nyandra, suluk/kakawen, dan biantara ; 2) Babak Unjal, Paseban dan bebegalan ; 3) Nagara sejen ; 4) Patepah ; 5) Perang gagal ; 6) Panakawan/goro-goro ; 7) Perang Kembang ; 8) Perang raket ; dan 9) Tutug.

Salah satu fungsi wayang di masyarakat adalah ngaruwat (ritus inisiasi), yaitu membersihkan yang diruwat dari kecelakaan (marabahaya). Beberapa orang yang diruwat (sukerta), antara lain: Wunggal (anak tunggal); Nanggung Bugang (seorang adik yang kakaknya meninggal); Suramba (empat orang putra); Surambi (empat orang putri); Pandawa (lima putra); Pandawi (lima putri); Talaga Tanggal Kausak (seorang putra dihapit putri); Samudra Hapit Sindang (seorang putri dihapit dua orang putra) dsb.

Wayang golek sebagai seni pertunjukan rakyat memiliki fungsi yang relevan dengan masyarakat lingkungannya, baik kebutuhan spiritual maupun materialnya. Hal demikian dapat kita lihat dari beberapa kegiatan di masyarakat, misalnya ketika ada perayaan, baik hajatan (pesta kenduri) dalam rangka khitanan, pernikahan dan lain-lain, adakalanya diiringi dengan pertunjukan wayang golek. Secara spiritual masyarakat mengadakan ruwatan guna menolak bala, baik secara komunal maupun individual dengan mempergunakan pertunjukan wayang golek.

http://sunda.web.id/kesenian-jawa-barat/wayang-golek/

Wayang Orang Jawa Barat


Wayang orang adalah suatu bentuk teater daerah yang tempat pementasannya dan perlengkapannya sudah mengikuti teater modern Barat. Misalnya pentasnya yang berbentuk proscenium (satu arah) serta menggunakan layar depan, layar belakang dan seben (penyekat samping). Kemudian, pentas itu pun menggunakan setting yang merupakan layar belakang atau layar samping yang bergambar dan disesuaikan dengan yang sedang berlaku serta menggunakan tata cahaya dan tata suara seperti pentas modern Barat.

Cerita yang dipentaskan dalam wayang orang adalah cerita wayang, tetapi dimainkan oleh para pemeran yang harus menguasai gerak atau tari wayang. Suara para pemeran pun harus disesuaikan dengan peran wayang yang diperankannya. Setiap tokoh wayang memiliki patokan tersendiri mengenai gaya bicaranya. Dan ini harus sesuai dengan nada-nada tertentu sehingga tidaklah mudah menjadi pemain wayang orang. Pemain wayang orang harus pandai menari serta mempunyai perbendaharaan gerakan wayang bagi kelengkapan berperan (acting)-nya.

Di samping gerakan dan tarian serta suara yang harus sesuai, pemain wayang orang pun harus memiliki perawakan (wanda) yang sesuai dengan wanda wayang yang diperankannya yang telah ditentukan oleh patokannya sesuai dengan penggolongan dalam pewayangan. Misalnya seperti golongan Ponggawa; tokoh-tokoh wayang golongan ini badannya besar, kekar serta raut mukanya dari tampan sampai menyeramkan tergantung dari kedudukan.

Di samping Ponggawa, ada pula golongan Ksatria yang memiliki wajah tampan dan terkesan halus serta memiliki perawakan yang ramping, termasuk pula dalam golongan ini adalah peran wanita. Tutur katanya halus dan bertuturnya lamban, berlawanan dengan Ponggawa yang suaranya berat, tegas serta ada nada keras bagi yang mempunyai watak murka. Dalam gerak-geriknya pun ada patokan yang baku, termasuk tekanan serta tenaga dalam melakukan gerak-geriknya sesuai dengan tekanan suaranya yang dilakukan sambil bicara.

Para pemain yang memerankan tokoh-tokoh yang dipertunjukkan dalam wayang orang dituntut mempunyai kemahiran dalam mempertunjukkan tarian yang khusus bagi tokoh tersebut dalam suasana tertentu. Umpamanya, seorang atau serombongan prajurit yang bersiap akan maju ke medan perang atau bersiaga, tariannya tidak panjang hanya ada penekanan pada kegagahan dan kesiagaan tokoh-tokoh tersebut serta harus lengkap dengan pembendaharaan gerak tarinya yang sesuai dengan perwatakannya. Demikian pula dengan lagu iringannya terutama pola tabuh kendangnya dalam wayang wong gaya Sunda.

Terdapat beberapa tokoh wayang yang biasa memperlihatkan tarian yang panjang secara utuh seperti tokoh Gatotkaca yang wataknya monggawa lungguh. Gatotkaca biasa menari agak panjang dalam adegan siaga menghadapi tugas menjaga keamanan atau menjelang pertarungan dengan lawan yang disebut tari “Gatotkaca Maju Jurit“.

Selain itu ada juga tarian yang utuh ketika Gatotkaca sedang Gandrung. Tarian ini bisa disebut bahwa Gatotkaca yang tugasnya menjaga keamanan negara pernah jatuh cinta kepada seorang putri bernama Pergiwa. Akan tetapi, Gatotkaca yang tegap tidak mempunyai keberanian untuk mengatakan perasaannya kepada idamannya, maka lahirlah suatu tarian yang disebut “Tari Gatotkaca Gandrung “ yang diiringi lagu Gunungsari.

Wayang lain yang sifatnya monggawa yang biasa ditampilkan dalam tarian yang utuh adalah Raja Danawa yang sedang gandrung. Di antaranya adalah Niwatakawaca, Raja Negara Manimantaka, yang menggandrungi bidadari Supraba yang ada di Swargaloka. Dalam tariannya ia digambarkan sedang berpakaian, membenahi diri, karena membayangkan akan bertemu dengan Dewi Supraba. Lalu ia membayangkan melihatnya dan memburunya untuk dipeluk olehnya, akan tetapi kenyataannya hanya dalam bayangan saja.

Ada pula tokoh Ksatria yang ditampilkan dalam tarian yang utuh, yaitu Adipati Karna yang dikenal sebagai ksatria yang gagah berani dalam membela negara Astina. Nampak dalam tarian itu ia membenahi dirinya untuk bersiap siaga tidak ada yang ditakutinya, tanpa latar belakang suatu kisah pribadinya tapi tariannya memberi kesan ksatria yang “Pinilih Tanding “ (tanpa tandingan).

Waditra untuk mengiringi pertunjukan wayang orang terdiri dari satu gamelan lengkap yang dipimpin oleh seorang dalang yang juga menyanyikan Kakawen, Murwa atau Suluk. Sedang wayangnya bicara sendiri yang disebut antawacana. Akan tetapi, lebih lengkap lagi kalau ada pesinden yang menyertai, terutama untuk mendukung suasana tertentu dengan nyanyiannya, umpamanya adegan sedih.

Sementara itu, para nayaga diharapkan dapat mendukung dengan tabuhannya maupun senggaknya, sehingga hal itu dapat membuat suasana menjadi riuh pada adegan pertarungan umpamanya, yang biasanya diisi dengan Tarian Tarung dalam bentuk yang utuh. Di sini lagu yang dibawakan adalah lagu Sireum Beureum untuk adegan tarung para ksatria, sedangkan untuk adegan pertarungan tokoh monggawa digunakan lagu Bendrong.

Walaupun pentas dan perlengkapannya meniru gaya teater modern Barat, tetapi gaya mainnya adalah asli daerah, terlihat dalam hal permainan yang tidak dipimpin oleh sutradara, meskipun ada pimpinan yang lebih umum sifat pimpinannya. Selain itu, dialog yang digunakan tidak menurutkan naskah yang tertulis untuk dihapalkan, tetapi lebih banyak dibawakan sendiri sesaat ketika berada di atas pentas atau improvisasi, walaupun ada dialog tertentu yang sudah menjadi baku dan telah menjadi pakem. Dahulu dialog-dialog itu diucapkan oleh dalang, sedangkan para pemain hanya menggerakkan tangannya seolah-olah ia berbicara. Akan tetapi, kini dalam pentas wayang orang Sunda yang juga biasa disebut “sandiwara wayang”, dialog diucapkannya sendiri.

Sekarang, gaya bicara yang seharusnya dilakukan dengan lagak lagu wayang, ternyata bercampur dengan gaya sandiwara yang agak lain gayanya, malah seolah-olah seperti gaya bicara biasa. Mungkin hanya tokoh Panakawan saja yang sebagai pelawak dari dulu menggunakan gaya keseharian dalam bicara. Tokoh panakawan wayang orang sama dengan pada wayang golek, yaitu Semar, Cepot, Gareng dan Dawala. walau gaya bicaranya gaya bicara keseharian, namun masing-masing memiliki ciri bicara sendiri. Umpamanya Semar sebagai ayah, biasanya ia menggunakan gaya berlagu tertentu, Cepot gaya bicaranya khas Sunda pedesaan dan tentu saja agak jenaka karena suka membelok kesana kemari, Dawala gaya bicaranya seperti orang yang gugup agak lamban dan cadel sedang Gareng gaya bicaranya tegas tetapi agak kejawa-jawaan dan ceplas ceplos.

Dahulu rombongan wayang orang dimiliki oleh seorang dalang yang sekaligus membiayai segalanya. Pemainnya tak hanya pemain profesional, tetapi juga ditambah dengan yang masih amatir sebagai pemain sambilan. Selanjutnya, bantuan diberikan juga oleh satu atau dua sponsor yang membantu pembiayaan, jadi tidak ada lembaga seperti Keraton atau Kabupaten (kabupatian) yang mensponsorinya. Akan tetapi, pernah wayang orang secara sporadis dibiayai oleh Kabupaten dalam menghadapi suatu pementasan untuk meramaikan peristiwa tertentu, di antaranya semasa Bupati Panyelang Bandung, R.A.A Martanagara, yang mementaskan wayang orang Ramayana. Kemudian Bupati Bandung R.A.A.M. Muharam Wiranatakusumah yang mensponsori pementasan wayang orang Laraskonda. Pada saat itu para tokoh tari Sunda dikumpulkan.

Pada tahun 60-an, Persatuan Padalangan Jawa Barat (PPJB) di Bandung pernah mengadakan pementasan wayang orang yang sebagaian besar dimainkan oleh para dalang. Pementasan tersebut sungguh sangat mengesankan, antawacananya dibawakan dengan sangat mahir dan tariannya dibawakan oleh Mang Olas (Eon Muda) sebagai pmeran tokoh Baladewa dengan sangat mempesona.

Disamping pementasan wayang orang di atas, ada pula pementasan wayang orang yang dimainkan oleh anak-anak anggota perkumpulan “Sekar Binangkit“ di bawah pimpinan Abah Kayat, seorang seniman terkenal dari Babakan Tarogong. Ternyata mereka dapat menyajikan pentas wayang orang yang menjanjikan, di antaranya dalam tata rias muka mereka merujuk kepada wayang golek termasuk Panakawannya.

Pada tahun 1957, Daya Mahasiswa Sunda (Damas) melakukan pemugaran wayang orang gaya Sunda yang mereka sebut sandiwara wayang yang dipimpin oleh R. Sambas Wirakusumah pimpinan “Perkumpulan Wirahma Sari “ dari Rancaekek sebagai tokoh yang pernah menekuni wayang orang pada zaman sebelum kemerdekaan. Bahkan beliaulah yang menjadi pemeran Laraskonda sewaktu pementasan wayang orang di Pendopo Kabupaten Bandung pada zaman Bupati Wiranatakusumah. Pemugaran wayang orang itu mengambil cerita “Jabang Tutuka“ yaitu tentang lahir dan tumbuhnya pahlawan Gatotkaca, ksatria Pringgandani. Para pemainnya selain para mahasiswa juga ada yang dari Rancaekek yaitu dari Perkumpulan Wirahma Sari.

Rombongan sandiwara yang ada di Bandung juga pernah tersaksikan mementaskan sandiwara wayang yang permainannya cukup lumayan serta mereka mampu bermain secara beruntun walaupun pemainnya hanya sambilan orang. Perlu dicatat, para pemain sandiwara di Jawa Baratmemang sebagian besar pemain sambilan. Di antara mereka ada yang mempunyai pekerjaan tetap di samping sebagai pemain sandiwara yang cukup meyakinkan. Disayangkan memang, rupanya orang Sunda tidak begitu menyenangi pementasan sandiwara wayang dibandingkan dengan kegemaran mereka menonton wayang golek. Tetapi, kalau sandiwara cerita lain, seperti cerita dari wawacan De Sheik (cerita Seribu Satu Malam) dan lakon biasa keseharian yang disebut drama, maka akan lebih banyak penontonnya.

http://sunda.web.id/kesenian-jawa-barat/wayang-orang/

Wayang Kulit Bekasi


Wayang kulit Bekasi sebenarnya masih sama latar belakangnya dengan wayang-wayang sejenis yang ada di Pulau Jawa. Yang membedakan antara wayang kulit Bekasi dengan wayang kulit daerah lain adalah faktor sosilogis dan pengaruh budaya lingkungannya. Perbedaan lainnya yaitu adanya tokoh yang lebih mirip dengan wayang golek misalnya Semar, Cepot, Udel dan Gareng, sementara Dorna digambarkan dengan wajah kearab-araban dengan memakai topi haji.

Awalnya wayang kulit Bekasi dibawa oleh seseorang yang bernama Balentet. Setelah ia berguru di daerah Cirebon dengan membawa wayang kulit Pandawa Lima sebagai warisan gurunya, Balentet mematangkan ilmu pedalangannya di daerah Bekasi dengan mendatangi tiga orang guru pedalangan, diantaranya Mbah Belentuk, Mbah Rasiun dan Mbah Cepe. Sekitar tahun 1918, Balentet mulai mendalang hingga meninggal dunia pada tahun 1982.

Sebagai dalang kondang di Bekasi, menjelang akhir hayatnya Balentet mewariskan keterampilan mendalangnya kepada putra-putranya, diantaranya Naman Sanjaya Balentet dan Namin. Keterampilan mendalang putra Balentet ini cukup terkenal di wilayah Bekasi, karena cara memainkan wayang dan pertunjukan wayang itu sendiri yang sangat egaliter.

Sebagai seni pertunjukan yang merakyat, wayang kulit Bekasi biasa dipertontonkan di tengah-tengah masyarakatnya. Adakalanya pertunjukan wayang kulit Bekasi ini dipersembahkan dalam acara hajat bumi sebagai peristiwa yang dianggap sakral. Namun, sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini melayani pula pesanan atau tanggapan dari masyarakat yang akan melaksanakan kenduri, baik khitanan maupun pernikahan.

Pertunjukan wayang kulit Bekasi dibagi menjadi tiga bagian. Pertama adalah bubuka, dimulai pada pukul 20.00 sampai tengah malam. Bagian ini menjelaskan keseluruhan cerita yang akan dipertunjukkan dengan diawali penjelasan Ki Dalang tentang cerita yang akan disajikan, kemudian dilanjutkan dengan tatalu, rajah, nyandera atau menjelaskan adegan-adegan yang akan dipentaskan (patetnem). Kedua adalah isi cerita, berlangsung dari tengah malam sampai kurang lebih pukul 03.00 dini hari. Bagian ini mempertunjukkan bagaimana beberapa persoalan dalam sebuah lakon dipecahkan (patetsanga). Ketiga adalah tutup kayon dari pukul 03.00 dini hari sampai pertunjukan selesai.

Dari segi gaya permainan, wayang kulit Bekasi sangat mungkin mendapatkan pengaruh dari wayang golek Sunda, sekalipun bahasa yang digunakan adalah bahasa Bekasi (Betawi pinggiran). Namun pengaruh itu tetap terlihat pada intonasi dan narasi yang terikat dalam struktur melodi yang nyaris sama dengan pedalangan Sunda. Pertunjukan wayang kulit Bekasi diiringi dengan seni suara dan gending iringan Sunda yang berlaras salendro, serta aksen-aksen berupa tarompet, suling dan rebab. Adapun jenis-jenis musik atau komposisi yang dimainkan dalam pertunjukan wayang kulit Bekasi ini dapat digolong-golongkan dalam: musik pembuka, musik wayang, musik perang, musik hiburan, musik respon dan musik penutup.

Penampilan wayang kulit Bekasi dilengkapi dengan teknik lampu yang memberikan efek visual wayang yang dimainkan menjadi lebih hidup. Hal demikian sangat menarik perhatian penonton/masyarakat pendukungnya. Apalagi dalam cerita yang dibawakannya lebih akrab dengan penonton, misalnya cerita humor, adegan perang, pencak silat atau lagu dan tariannya. Beberapa cerita khas wayang kulit Bekasi antara lain Aji Sukirana, Barong Sapu Jagal, Muris Kawin, Semar Ketemu Jodoh dan lain-lain.

Dalam kemandiriannya, wayang kulit Bekasi ini terasa memiliki kekhasan tersendiri dalam setiap pertunjukannya. Keunikan wayang kulit Bekasi nampaknya dihasilkan oleh sifat kerakyatan pertunjukannya sendiri dengan memilih ciri yang mandiri. Tidak heran jika hingga sekarang, wayang kulit Bekasi tetap mendapat tempat di hati masyarakatnya yang sudah dikepung oleh jenis-jenis seni pertunjukan modern itu.

http://sunda.web.id/kesenian-jawa-barat/wayang-kulit-bekasi/