Tag Archives: ibu pertiwi

Mencintai Ibu Pertiwi Semampu Kita


http://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=187026641323592

by Bram Palgunadi on Tuesday, January 4, 2011 at 10:26pm

Sahabat saya Pak Bambang Susilardjo dan para sahabat saya lainnya,

Pertama-tama, saya ucapkan terima-kasih atas tanggapan Bapak. Itu merupakan bukti bahwa sekurang-kurangnya ada seseorang (atau mungkin lebih banyak lagi), yang berpikir untuk kebaikan bangsa ini. Itu merupakan salah satu hal yang sangat membahagiakan saya. Sekali lagi saya mengucakan terima-kasih.

Tentang tiga stanza dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya itu, saya juga sepakat dengan Bapak, meskipun mungkin tidak menjadi suatu kuajiban untuk menyanyikan bait-baitnya, ya mestinya diberitahukan secara resmi, bahwa ada lo stanza berikutnya, yang semestinya juga dipahami makna dan kandungan filosofinya.

Saya juga sepakat dengan Bapak, soal bahwa budaya Barat atau budaya manapun bisa saja mempengaruhi dan mendominasi budaya lainnya. Meskipun demikian, yang menjadi pokok masalah, adalah bagaimana dengan nasib budaya kita? Apakah mau dibiarkan saja, atau mau diasimilasikan dengan budaya lain, atau diganti saja dengan budaya lain, atau mau diapakan? Tentang ketertarikan Barat terhadap budaya Timur (khususnya Indonesia), saya juga sepakat dengan Bapak (karena banyak bukti tentang hal ini). Namun, apakah yang telah kita lakukan terhadap budaya kita sendiri? Apakah kita selesai dengan berbangga hati bahwa budaya kita ternyata dikagumi oleh orang Barat? Tetapi, kita sendiri ternyata tidak bangga terhadap budaya kita sendiri. Untuk itulah, diperlukan suatu sikap bersama.

Dalam hal ini, saya sama sekali tidak anti dan tidak menampik kebudayaan Barat, sejauh yang berhubungan dengan sesuatu yang bersifat positif. Bagaimanapun juga, yang saya persoalkan, adalah bahwa kita sebagai suatu bangsa ‘tidak mempunyai kebanggaan terhadap budayanya sendiri’. Dalam beberapa tulisan/artikel saya, hal ini saya sampaikan. Andai saja, kita mempunyai kebanggaan terhadap budaya sendiri, maka masuknya budaya asing itu paling tidak akan masuk sederas seperti sekarang ini.

Gagasannya, untuk mengatasi hal itu, perlu dipikirkan bagaimana caranya supaya kita mulai saja dengan ‘mencintai Ibu Pertiwi’. Sedikit dulu, juga nggak apa-apa. Kan orang mulai mencintai itu bisa dimulai dari ‘witing tresna jalaran saka kulina’ (cinta bisa tumbuh dengan sendirinya, jika kita membiasakan atau dibiasakan). Dalam beberapa tulisan saya, jelas sampai sampaikan bahwa hal ini, sebaiknya merupakan suatu kebijakan negara yang bersifat makro (tentang hal ini, saya sebut sebagai suatu ‘revolusi total’). Sedangkan kita sebagai anggauta masyarakat, seharusnya menjalankan kebijakan yang sejalan dengan hal itu, dalam konteks yang bersifat mikro. Jadi keduanya (masyarakat dan negara), seharusnya berjalan seiring. Namun, jika negara tidak melakukannya, maka saya mengusulkan dan mengajak, supaya masyarakatlah (kita) melakukannya saja semampu kita (tentang hal ini, saya sebut sebagai suatu ‘revolusi kecil’).

Continue reading Mencintai Ibu Pertiwi Semampu Kita

Mulailah dengan mencintai Ibu Pertiwi


http://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=186196394739950

by Bram Palgunadi on Saturday, January 1, 2011 at 11:03am

Kehidupan semasa menempuh jenjang pendidikan (pada tingkat yang manapun), umumnya merupakan suatu tahap pembentukan diri secara lengkap. Melengkapi diri dengan berbagai hal yang berhubungan dengan bekal masa depan, pastilah merupakan sesuatu yang akan diupayakan secara maksimal. Ada bekal yang bersifat keilmuan, yang berhubungan dengan persoalan ‘rasio’; tetapi ada juga bekal yang lebih berhubungan dengan persoalan ‘rasa’. Sayangnya, tidak semua dari kita dan generasi muda sadar, bahwa kedua hal ini sama pentingnya.

Pada masa sekarang, sebagian besar dari kita kenyataannya terlalu disibukkan dengan mempersiapkan pemenuhan bekal yang bersifat rasio, sehingga kita benar-benar tenggelam dalam kesibukan belajar berbagai hal yang bersifat keilmuan, teknologi, dan sains. Waktu belajar yang terlalu pendek, sangat padat, dan penuh dengan persaingan; membuat kita hampir-hampir tidak bisa memenuhi berbagai pemenuhan berbagai hal yang berhubungan dengan persoalan rasa. Di lain pihak, adanya berbagai perangkat dan teknologi baru yang mutakhir, selain menghasilkan berbagai kemudahan dalam menjalankan berbagai kegiatan kehidupan, juga menghasilkan konsekuensi baru, yang sebelumnya tidak pernah terjadi dan bahkan tidak pernah bisa dibayangkan.

Telepon misalnya, yang semula berupa benda yang berdimensi relatif cukup besar, statis, dan selalu diletakkan di suatu tempat tertentu (di rumah, kantor), lalu berubah menjadi ‘benda baru’ yang berdimensi relatif kecil, bisa dibawa-bawa secara mudah, dan bisa dipakai di manapun kita berada. Pada awalnya, telepon ‘rumahan’ berubah menjadi telepon yang bersifat mobil, yang meskipun dimensinya masih relatif agak besar, tetapi bisa dipasang dan dipakai di kendaraan.[1] Perangkat telepon jenis ini, sudah tidak memakai kabel (wire) sebagai saluran transmisinya, melainkan memakai sistem komunikasi radio dua arah (full duplex), sehingga dikategorikan sebagai perangkat ‘nirkabel’ (wireless). Sebagai hasil dari terjadinya perkembangan teknologi, miniaturisasi komponen, serta perangkat lunak (software), maka telepon mobil lalu berkembang menjadi ‘telepon selular’ (cellular phone) [2] seperti yang kita kenal sekarang. Karena terjadinya persaingan pasar, telepon selular lalu berkembang dan diberi sejumlah fungsi baru. Dari fungsi primer yang memang penting, sampai sejumlah fungsi lainnya yang sama sekali tidak penting dan malah tidak berhubungan sama sekali dengan persoalan komunikasi. Telepon selular yang semula merupakan benda fungsional, lalu berubah menjadi benda yang dipakai untuk memenuhi gaya hidup (life style).

Continue reading Mulailah dengan mencintai Ibu Pertiwi