Tag Archives: gending jawa

Mengenang Ki Nartosabdho 1


Gending-gending Nartosabdhan memang enak dinikmati hingga kini. Membuktikan bahwa Ki Nartosabdho memang seniman dengan kualitas yang tiada banding dan tiada tanding. Karyanya begitu banyak namun tetap tidak dibuat asal-asalan.

Kumpulan gending-gending karya KNS ini adalah hadiah Kakak saya kepada Bapak dulu. Namun sebagian kaset sudah tidak ada lagi. Saya lihat di toko kaset di Klaten dan sekitarnya, kaset-kaset KNS masih banyak dipajang dan dijual. Tentu saja setelah di rekam ulang.

Side A :

  1. Praon Pl. 5
  2. Ngundha Layangan Pl. 6
  3. Janjine Piye Pl. 6

Side B :

  1. Gandaria Sl. 9
  2. Aku Ngimpi Pl. 6
  3. Bersih Desa Pl. Br.

Selamat Menikmati

 

Karya Emas Ki Nartosabdho


Prau Layar

Yo konco ning nggisik gembiro
Alerap lerap banyune segoro

Angliyak numpak prau layar
Ing dino minggu keh pariwisoto

Galo praune wis nengah
Byak byuk byak banyu binelah
Ora jemu jemu karo mesem ngguyu
Ngilangake roso lungkrah lesu

Adik njawil mas
Jebul wis sore
Witing kalopo katon ngawe awe
Prayogane becik balik wae
Dene sesuk esuk
Tumandang nyambut gawe

Lagu-lagunya sebagai berikut :

  1. Perahu Layar Pl 6
  2. Aja Dipleroki Pl 6
  3. Warung Pojok Sl.9
  4. Jahe Wana Pl.Br.
  5. Jebul Selak Pl.6
  6. Enthik – Enthik Sl.Mny.
  7. Dara Muluk Sl.9
  8. Endah Sukarta Pl 6
  9. Dhawet Ayu Sl. Mny
  10. Ldr.Retno Tumlawung Pl. Br.
  11. Pujiku Sl.9

Selamat Menikmati

 

Mulanya biasa saja


Kesukaan akan sesuatu, salah satu faktor pendukungnya adalah lingkungan. Lingkungan mempunyai pengaruh yang besar dalam mengarahkan kegemaran disamping tentu saja keinginan atau hasrat hati. Pengaruh lingkungan dapat berupa alam dan tempat tinggal atau manusia disekitar seperti keluarga, teman dekat, rekan sekerja, para tetangga.

Dulu saya tidak mengenal dan tidak terlalu suka dengan lagu-lagu Iwan Fals. Tapi karena kebetulan teman dekat cewek waktu itu suka Iwan, akhirnya saya jadi menyukainya juga. Awalnya untuk sekedar menyenangkan dia saja, lama-lam kok asyik juga.

Begitupun sosok Ebiet G. Ade. Karena hampir semua kakak suka dengar lagu-lagunya dan di rumah tersedia lengkap kaset-kasetnya, maka akhirnya sayapun jadi penggemar juga. Padahal waktu itu saya masih sekolah di SD dan saat itu sudah hafal lagu-lagunya.

Faktor lingkungan di kampung saya dahulu mengarahkan saya untuk menyukai musik berirama dangdut dan musik tradisional Jawa seperti gending karawitan, langgam dan juga wayang (dulu belum ada campur sari). Bagaimana tidak akan terpengaruh bila hampir di setiap rumah yang kita dengar adalah musik-musik Jawa. Pun pada saat ada kerjaan gotong royong, orang punya gawe atau sekedar santai sambil ngobrol di lincak pinggir jalan, yang selalu terdengar adalah itu juga.

Faktor yang mendukung lainnyapun bertebaran hampir disetiap sisi kehidupan kita. Siaran radio (masih AM) selalu mengumandangkan lagu-lagu Jawa, TVRI rutin menayangkan kesenian tradisional seperti kethoprak, dagelan dan wayang. Semua itu akhirnya mampu membentuk pola pikir dan kegemaran terhadap kesenian Jawa.

Pelajaran Macapat.

Bahkan saya ingat dulu saat kelas satu SMP di Klaten (sekitar tahun 80), ada pelajaran nembang Macapat disamping pelajaran Bahasa Jawa. Saya sudah lupa apa tepatnya nama mata pelajaran itu. Yang saya ingat, kita para murid diberi pelajaran nembang oleh guru beserta not-notnya untuk kemudian diuji satu persatu. Saya ingat betapa susahnya teman-teman waktu itu untuk menembangkan macapat saat diuji, maklum ketika itu para remaja cenderung suka lagu pop atau lagu Barat.

Dan saya selalu memperoleh nilai baik oleh guru karena katanya suara saya lantang dan cukup merdu dengan nada yang tepat. Weleh .. berbakat juga tho … :-) Saya tidak merasa GR karena itu adalah pernyataan guru bukan pernyataan saya lho. Karena sewaktu ada PORSENI dan salah satunya melombakan nembang macapat itu, guru saya menyayangkan karena saya tidak mengikutinya. “Coba kalau kamu ikut pasti kamu juara satu Pran !” begitu kata guru saya. Dan di raporpun terbukti nilai saya selalu yang tertinggi he he he …

Soal Wayang ?

Kegemaran akan wayang bermula karena di kampung saya waktu itu rutin setiap tahun mempergelarkan pertunjukan wayang setiap nyadran. Nyadran adalah tradisi menjelang bulan Puasa untuk berziarah ke makam para leluhur.

Setiap pagelaran membutuhkan biaya yang cukup besar dan itu ditanggung oleh seluruh warga kampung dengan iuran setiap KK tergantung status ke-petani-annya. Maksudnya status kepemilikan lahan sawah. Yang memiliki lahan sawah sendiri tentu menyumbang lebih besar dari petani yang lahannya kecil atau yang tidak memiliki sawah sama sekali (istilahnya buruh). Dan rumah yang menyelenggarakan pertunjukan itu dipilih secara mufakat melalui musyawarah dan tentu saja dengan kriteria-kriteria tertentu. Misalnya rumah harus besar dengan halaman yang cukup luas untuk menampung penonton.

Dan beberapa kali rumah Bapak warisan Simbah dipilih karena memenuhi kriteria. Rumah simbah adalah rumah joglo yang luas dengan halaman yang luas. Apalagi dinding pendopo terbuat dari kayu yang bisa dilepas untuk tempat layar dipasang sehingga mempermudah instalasi panggung.

Dan sesuai dengan prediksi maka begitu malam pertunjukan dimulai maka ramailah seantero kampung. Penonton dari tetangga kampung berdatangan, penjual-penjual kaki lima menawarkan dagangan dan akhirnya setelah pagelaran usai paginya menyisakan kotor dan penat. Tapi semua warga puas karena merasa terhibur dan dapat menghibur warga kampung lain.