Tag Archives: gareng

GMP#18 : Nguripi Urip (1)


panakawanjpg
“Kang Petruk, nek dipikir alangan lan masalah urip ning ngalam donya kuwi mesti ana wae ya Kang, ora entek-entek. Wis rampung siji, eeee …. njedul liyane. Masalah sing angel wis ana solusine, eeee … teka maneh sing luwih angel, dadi tambah njlimet”

“Ya kuwi Gong sing diarani urip. Yen adem ayem ora ana apa apa, meneng wae, kuwi dudu urip. Yen ora ana masalah utawa karibetan, uwong ora bisa dikandakake yen urip. Nek pengin ora diganggu karo masalah ya gek ndang modar ae Gong”

“Lha lir-e piye Kang ?”

“Halah … tembungmu elok tenan, Gong, katik nganggo lir barang, kaya dalang ae ngango lar lir lar lir”

“He he he … lha kumpulanku dalang dalang je Kang. Piye Kang karepe mau ?”

“Ngene Gong, yen pengin urip sejatine urip yo kudu gelem nguripi uripmu dhewe”

“Tembungmu kok mmmmbuuuuulet ta Kang. Sing simpel wae ta, ben aku gampang ngertine”

“Lha kandane kumpulanmu dalang dalang, mosok ora bisa medarake omonganku mau”

“Dalang dalang kancaku ndalange beda kok Kang.”

“Bedane piye Gong ?”

“nDalange ning pasar pasar utawa nek pas ana ribut-ribut” Continue reading GMP#18 : Nguripi Urip (1)

GMP#17 : Gongwuk


bagong_wanita_solo
“Oalah …. Bawuk … Bawuuuk … kok tega tenan karo pun Kakang yayi …

Esuk nyuling mbengi nyuling
Sing nyuling saka tangga desa
Esuk eling mbengi tambah eling
Sing dieling-eling malah ora rumangsa

Prawan ayu jarike ijo
Nganggo kembang ning duwur dada
Tiwas larabranta ra dadi bojo
Luwih becik mati ra apa-apa

“Weleh … weleh Gong Gong, lha kok nelangsa tenan kowe

Ning mburi omah ana kali
watune akeh banyune mili
mesakake tenan adiku Bagong iki
putus cinta pengin nglalu bunuh diri

Anak bebek jenenge meri
dolan ning sawah ana sing keri
iki Gong tak wenehi tali
kanggo srana kowe bunuh diri

Pak bejo duwe atusan sapi
riyaya kurban ana sepuluh sing mati
mung welingku Gong adiku sing seksi
wanita kuwi ora mung sawiji

“Ning aku wis kebacut jatuh cinta je Kang Gareng karo Bawuk putrine Lik Parto kae”
Continue reading GMP#17 : Gongwuk

Meneladani Jiwa Pengabdian Panakawan [2]


Punakawan1

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum

Terjemahan:

Para raksasa itu tercipta dari hawa nafsu Begawan Kunta Wibisana, yang sangat ingin paduka sempurnakan kembali menjadi ke asal-usulnya (Probo Harjono, 1993: 101).

Membentuk Kesadaran

Dalam mistik Jawa pada tokoh Semar dapat kita temukan adanya kesadaran orang Jawa, bahwa mereka mempunyai ketergantungan pada yang memberi pengayoman. Semar adalah penjamin adanya keselarasan harmonis alam semesta. Laku tapa dan semadi bilamana dikaitkan dengan
Semar akan terjadi suatu pengurangan tekanan, demikian pula kekuatan-kekuatan gaib yang bagaimana pun hebatnya.

Dengan demikian dalam dunia mistik Jawa kita menemukan dua jalan untuk melindungi diri dari ancaman kekuatan-kekuatan magis dan adikodrati. Pertama adalah pencarian yang dilakukan sendiri untuk mendapatkan kesaktian, sedang yang kedua adalah di bawah pengayoman Sang Panakawan Agung Kyai Semar.

Berbuat Bijaksana

Tokoh Panakawan diciptakan oleh para pujangga Jawa sebagai sarana untuk menyampaikan kebijaksanaan hidup. Pertunjukan bayang-bayang di Jawa yang kemudian disebut wayang adalah ciptaan asli orang Indonesia di Jawa. Demikian pula dengan tokoh Semar bukan merupakan imitasi dari India, adalah berdasarkan kata-kata yang terdapat pada prasasti-prasasti ataupun karya-karya sastra kuna seperti: abanyol, haringgit, hanabanwal atau pukana ringgit. Juga dalam kitab Pararaton (± 1222 zaman Kediri-Singasari) terdapat kalimat … lamun hawayang banyol sira gasak ketawang. Jadi nyata bahwa kata-kata wayang dan banyol sudah ada sebelum zaman Majapahit.

Para tokoh panakawan tersebut sangat kuna dan tak dapat diterangkan artinya, bahkan penggambaran boneka-boneka wayangnya pun mempunyai tipe yang sangat berlainan dengan penggambaran di India. Semar beserta anak-anaknya selain sebagai pamong juga sebagai penasehat dan pelindung bagi keturunan satria Pandawa, bahkan sanggup terbang ke kahyangan tempat para dewa bertahta. Sarjana-sarjana Barat antara lain: Van Stein Callenfels, W.H. Rassers, Pigeaud dan Kats bersepakat serta sependapat bahwa Semar benar-benar ciptaan asli orang Indonesia (Jawa) dan bukan berasal atau imitasi dari India, meskipun kemudian timbul polemik dan pendapat-pendapat yang berlainan atau simpang siur, bahkan membingungkan, namun akhirnya menjadi suatu tokoh kesayangan mitologis religius Nusantara dan merupakan suatu konsepsi yang mempunyai nilai filsafat keagamaan cukup menarik untuk diperhatikan dan dipelajari secara seksama.

Kata berjenjang yang menunjukkan adanya sebuah harapan sering digunakan dalam kalimat puja puji berikut: sedaya kawibawan, kamulyan, kabagyan lan karaharjan mugi kasarira ing ngarsa panjenengan sami. Dalam Lakon Semar Boyong, terdapat butir-butir kearifan lokal yang diwejangkan oleh Kyai Semar: Continue reading Meneladani Jiwa Pengabdian Panakawan [2]

Meneladani Jiwa Pengabdian Panakawan [1]


punakawan-01

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum

~ BAB I ~
Sikap Rendah Hati

Wejangan Luhur
Semar iku pamonge satria agung
Trahing witaradya
Tut wuri pan handayani
Panakawan kang turun saking kahyangan

Terjemahan:

Semar itu pamomong satria agung
Keturunan para bangsawan
Selalu tut wuri handayani
Panakawan yang turun dari kahyangan

Semar adalah penjelmaan Bathara Ismaya yang turun ke madyapada untuk menjadi pamong satria agung. Para satria yang berbudi luhur tentu akan mendapat bimbingan langsung dari Kyai Semar, yang sudah tidak samar terhadap segala mobah mosiking jagad raya. Begitu populernya tokoh Semar dalam pewayangan, banyak tokoh pemuka negeri ini yang mengidentifikasikan dirinya sebagai Semar yang dianggap mempunyai kebijakan dan kebajikan.

Betapa pun hebatnya sang satria utama, wejangan dari Kyai Semar tetap diharap. Bagi para satria, Semar adalah figur yang waskitha ngerti sadurunge winarah. Kyai Semar tahu betul peta sosio kultural di Triloka atau tiga dunia yaitu dewata, raksasa dan manusia. Di benak para satria utama itu, kehadiran Semar diyakini akan mendatangkan kebenaran dan keberuntungan.

Jagad gumelar (makrokosmos) dan jagad gumulung (mikrokosmos), keduanya mendapat pengawalan dari Kyai Semar, sang panakawan minulya. Para dewa di Kahyangan takluk total kepada pribadi agung Semar. Bathara Kala beserta bala tentara jin pun terlalu kecil keperkasaannya bila berhadapan dengan Sang Pamomong Agung, Kyai Semar.

Dalam buku pakem pewayangan yang ditulis oleh Sumosaputra (1953: 34-38) dijelaskan mengenai ajaran Pancawisaya yang berisi tentang refleksi kebijaksanaan hidup. Ketika Arjuna sedang melakukan pengembaraan, dia banyak mengalami kesedihan. Sepeninggal ayahnya almarhum Prabu Pandhu Dewanata, para Pandawa senantiasa mendapat cobaan hidup. Pengembaraan yang dilakukan saudara-saudaranya mendapat anugerah dari dewata. Continue reading Meneladani Jiwa Pengabdian Panakawan [1]

Rames semaR #4


Pengorbanan Dewabrata – 3

Dan seolah terbangunkan dari lamunan dalam diam, sosok perempuan itu kemudian memutar tubuhnya menuju sumber suara. Di hadapannya telah berdiri seorang pemuda yang belum pernah dijumpainya. Diamatinya sekilas sosok pemuda yang mematung di depannya. Seorang pemuda gagah dan sentosa dengan wajah teduh dan menarik bagi siapapun yang memandangnya. Namun sorot matanya begitu tajam sebagai pertanda memiliki kepercayaan diri tinggi serta cerdas pikir dan tindakannya. Pakaian ala satria yang dikenakan membalut tubuh tegapnya secara sederhana namun terlihat rapih dan padu.

Dengan tersenyum manis kemudian perempuan itu merangkapkan kedua tapak tangannya untuk menghormat seraya berkata “Ah … kiranya ada orang disini. Maaf ya kisanak, saya sementara melamun tadi hingga tidak melihat kehadiran kisanak. Apakah kisanak memerlukan jasa saya untuk menyeberangi sungai ?

Terpaku tubuh Dewabrata menatap sosok perempuan di depannya. Sosok itu memiliki wajah yang begitu lekat dikenalnya. Meskipun dia tahu bahwa baru kali pertama melihat, namun seolah demikian sering wajah itu hadir dalam hidupnya. Dia tentu tidak akan melupakan raut wajah itu. Wajah yang menyisakan berjuta kenangan yang tak terlupakan. Dan sosok perempuan itu, sungguh sosok yang tidak asing baginya. Sosok yang selalu tergambar dengan jelas detilnya meskipun sudah lama tidak bersamanya lagi. Sosok yang menjadi perantara bagi dirinya untuk hadir di mayapada ini.

Ya … mirip sekali sosok itu dengan ibunya, Dewi Gangga. Senyum nan menyejukkan kalbu, tatapan teduh nan menentramkan hasrat, dan sesekali terlepas kerling nakal menggoda keceriaan, seakan menghadirkan kembali sosok ibunya dihadapannya.

Lekat Dewabrata menatap wajah perempuan itu berucap. Mengembara pikirannya ke masa lalu saat ia begitu terpukau oleh indah pesona sosok ibunya. “Ibu sungguh bersinar sekali. Gerangan apa yang membuat ibu nampak mempesona dan sedap dirasa ?” begitu ungkap polos seorang bocah bernama Dewabrata sewaktu bermanja bergelayut di pundak sang ibu.

Ibunyapun kemudian hanya tertawa kecil seraya menutup mulut dengan punggung tangan kanannya. “Ah engkau bisa saja anakku. Mana engkau tahu, mana yang cantik dan mana yang tidak cantik. Apa lagi engkau kan masih kecil, sayang.” riang ibunya dipuji sang anak tersayang.

“Wah … siapa bilang Dewabrata tidak tahu ibu ! Ananda sudah banyak membaca kitab-kitab dan meskipun ananda jarang bermain keluar namun sudah dapat membandingkan beberapa perempuan selain ibu. Dan kesimpulannya, ananda sangat bangga memiliki ibu yang demikian mempesona, manis tutur kata dan luhur budi bahasa” sanggah Dewabrata.

Dengan tertawa senang, Dewi Gangga berujar “Wah … ibunda tidak menyangka kalau sekecil ini anakku sudah mampu mengungkapkan hal seperti itu. Sungguh, engkau anak yang sangat pintar dan cerdas anakku. Ibupun sangat bangga memiliki anak yang gagah, pintar, cerdas dan berjiwa ksatria sepertimu

Dan selanjutnya ibu dan anak tersebut saling peluk mengungkapkan kasih sayang yang tulus. Dan alam sekitarnyapun seakan merasakan getar cinta suci yang terpencar dari jalinan hubungan kedua makhluk itu.

Tak sadar, Dewabratapun tersenyum membayangkan masa lalu yang manis membayang tadi.

Maaf kisanak, apakah kisanak memerlukan jasa saya untuk menyeberangi sungai ?

Kali ini Dewabratalah yang terkaget seolah baru dibangunkan dari alam bawah sadar.

“Ah .. eh … maaf ya … barusan ibu berkata apa ?” dengan gugup dan wajah memerah Dewabrata berusaha untuk memulai dialog menutupi jengah.

Perempuan dihadapannya itu kemudian tertawa kecil seraya mengangkat punggung tangannya untuk menutupi mulut yang terbuka.

Continue reading Rames semaR #4

Ketika Bagong Mencari Keadilan


Kamis, 5 Agustus 2010 | 03:43 WIB
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Kelompok Wayang Hip Hop dengan dalang Ki Catur Kuncoro “Benyek” mementaskan lakon Tragedi Kompor Gas Elpiji pada acara Gelar Ragam Wayang di halaman Kantor Dinas Pariwisata Provinsi DI Yogyakarta, Jalan Malioboro, Yogyakarta, Jumat (30/7) malam.

IDHA SARASWATI

Sial betul nasib Bagong. Ditinggal merantau istri ke Malaysia sebagai TKI, ia memasak sendiri sehingga terkena ledakan tabung elpiji. Katanya diberi bantuan, tapi malah dapat celaka.

Wajahnya gosong, penuh jahitan. Kepalanya ditutupi kain hitam sehingga bentuknya tak karuan.

Melihat kondisinya sendiri, Bagong yang malang hanya bisa meratap, ”Kahanan kok koyo ngene. Bojo lungo, omah ra ono opo-opo, kejeblukan gas sisan (Nasib kok seperti ini. Istri pergi, di rumah tak ada apa-apa, terkena ledakan gas pula).”

Meski kondisi Bagong menyedihkan, orang malah tertawa. Jumat (30/7) malam itu, puluhan orang yang berkerumun di halaman Dinas Pariwisata Provinsi DI Yogyakarta—tepat di tepi Jalan Malioboro—memang tengah menyaksikan parodi yang dikemas dalam pertunjukan Wayang Hip Hop. Judul lakonnya Tragedi Kompor Gas Elpiji.

Sambil sesenggukan meratapi nasib, Bagong menyetel radio; satu-satunya barang ”mewah” di rumahnya. Dari radio itu, mengalunlah lagu ”Semalam di Malaysia” yang membuai: membawanya ke alam mimpi, mengantarnya menemui sang istri yang tiba-tiba berbau wangi.

Namun, Bagong harus terbangun dari mimpi. Di depannya ada Petruk dan Gareng. Kedua saudara tuanya itu datang menjenguk. Bukan merasa iba. Seperti halnya reaksi penonton, Gareng malah tertawa terbahak-bahak. ”Ndasmu kok mlethek (Kepalamu kok retak)?” ujar Gareng.

Gareng tahu adik bungsunya itu baru saja terkena musibah. Di antara anggota keluarganya, Bagong termasuk paling tidak beruntung karena miskin sehingga dinilai layak dapat bantuan tabung elpiji kemasan 3 kilogram, yang bentuknya mirip buah melon itu. Namun, melihat penampilan adiknya, Gareng memilih tertawa ketimbang menangis. Juga Petruk.

Bagong tidak terima dan protes. Bukan kepada kedua kakaknya, tapi pada keadaannya. Ia pun bangkit, menuntut keadilan. Petruk bisa memahami kemarahan sang adik dan mengajak Bagong menemui sang ayahanda: Romo Semar yang bijaksana.

Semar pun memberikan wejangan agar ketiga putranya bersabar dan pasrah. ”Kita ini hanya orang kecil, tidak usah menuntut macam-macam. Karena kenyataannya kita sudah sering hidup susah,” tuturnya.

Lewat medium Wayang Hip Hop yang gaul, tragedi ledakan elpiji yang mengguncang Indonesia akhir-akhir ini berubah jadi fenomena yang layak ditertawakan. Selama pementasan sekitar satu jam, dalang Ki Catur Kuncoro ”Benyek” (35) menampilkan dialog sarat humor, membuat penonton tertawa. Lupa sejenak akan bahaya yang mungkin menimpa mereka.

”Kelucuan” tragedi

Bagi Catur, ledakan gas itu memang menimbulkan banyak kelucuan. ”Bayangkan, tragedi ledakan itu terjadi secara beruntun dan berurutan. Tapi, pemerintah malah bikin produk pengganti yang mensyaratkan masyarakat harus beli lagi. Ini kan lucu banget,” katanya.

Sekadar informasi, deretan kasus ledakan gas itu pula yang mendorong 300-an ibu rumah tangga di Makassar berdemonstrasi di halaman Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sari Makassar, Selasa (3/8). Aksi yang dipimpin Andi Asni ini menyuarakan sikap tegas: lebih baik masuk penjara daripada hidup di luar dengan teror tabung gas dan kenaikan harga BBM.

Kelucuan-kelucuan semacam itu juga yang mendorong Catur mengangkat fenomena ini dalam pentas wayang. Kebetulan Catur yang lahir dari keluarga dalang memang gemar bereksperimen dengan wayang.

Wayang itu dinamakan Wayang Hip Hop karena selama pementasan diiringi lagu hip hop. Wayang Hip Hop merupakan hasil kolaborasi Catur dengan Grup Hip Hop KM 7 yang digawangi Boedhi Pramono (33) dan Rendra (28). Kelompok Wayang Hip Hop mulai pentas perdana pada akhir Mei lalu.

Meski menggunakan musik hip hop yang gaul, pentas Wayang Hip Hop tetap sarat nuansa tradisi. Pada musik hip hop itu, misalnya, instrumen tradisional seperti sitar dan rebana tetap dipakai. Lirik lagu pun banyak menggunakan bahasa Jawa yang sarat falsafah Jawa.

Saat naik pentas, Catur tetap menggunakan pakaian dalang berupa kain, beskap, dan belangkon. Ia melengkapi penampilannya dengan kacamata hitam.

Sementara KM 7 tampil dengan kostum berbeda-beda, sesuai situasi saat pementasan. Jumat malam itu mereka tampil mengenakan kemeja batik kedodoran dipadu celana pendek dan kacamata hitam.

Pentas kali ini hanya mengambil satu adegan goro-goro dari pertunjukan wayang purwo, yakni pada bagian punakawan. Dengan begitu, pementasan bisa menjadi lebih luwes karena tidak terikat pakem cerita. Tokoh punakawan dipilih karena kehadiran mereka bisa mewakili kehidupan rakyat bawah.

Catur mengatakan, pentas Wayang Hip Hop tidak berpretensi memberikan solusi bagi persoalan sosial yang sedang diangkat. Pentas sekadar ingin mengajak penonton tertawa, menertawakan semua peristiwa yang ternyata hanyalah dagelan hidup. ”Orang kecil kan begitu, ada apa-apa disikapi dengan gojek (bercanda),” ucapnya.

Namun, dalam tawa itu, secara halus para panakawan mengingatkan manusia untuk selalu mendekatkan diri dengan pemberi hidup. Lewat lagu hip hop yang liriknya diambil dari karya Ronggowarsito, pentas itu mengingatkan: … jamane jaman edan//yen ora edan ora keduman//bejo bejane wong kang lali//isih bejo wong eling Gusti… (zamannya zaman gila//kalau tidak ikut gila tak kebagian apa- apa//keberuntungan orang yang lupa//masih beruntung orang yang teringat pada Tuhan…)