Tag Archives: gandamana

WO SBN : Gandamana Sayembara


Berikut kiriman koleksi audio pagelaran wayang orang Sekar Budaya Nusantara dengan mengambil lakon “Gandamana Sayembara” dari seseorang yang tak mau disebut namanya
Gandamana_warna

Part 1: http://www.sendspace.com/file/xzptla
Part 2: http://www.sendspace.com/file/dh37w8
Part 3: http://www.sendspace.com/file/56gavh
Part 4: http://www.sendspace.com/file/kqqasi

Sengkuni Sukses


Oleh Bambang Murtiyoso
(ISI Surakarta)

Ki Surya Wignyocarito menggelar satu episode wayang, pra-Pandawa, dengan judul Gandamana Luweng. Gandamana seorang mahapatih Astina, semasa pemerintah¬an Pandu. Gandamana adalah gambaran seorang ksatria yang jujur, polos, sederhana, adil, penuh pengabdian, dan setia kepada kebenaran. Ia mendapat tugas dari rajanya untuk mencari fakta yang sebenarnya ke Pringgandani. Apakah raja raksasa, Tremboko, benar mengirim surat ke Astina yang berisi sebuah tantangan terhadap Pandu. Nalar Pandu ragu terhadap Tremboko berulah seperti itu.

Sesampai di batas negara Pringgandani, telah terjadi tawur masa antara prajurit Astina dan Pringgandani. Genderang perang bertalu-talu; Gandamana mengibarkan bendera putih, pertanda pembawa misi perdamaian. Agaknya ada penelusup, sekaligus provokator, penggerak amuk masa di kedua belah pihak. Tidak tahu sebab-musababnya, Gandamana telah dihujani berbagai senjata dan dikeroyok habis-habisan. Gandamana sama sekali tidak melawan, sebab yakin ada kesalahpahaman. Gandamana didorong terus ke sebuah sumur jebakan, “luweng.” Gandamana terperangkap dan ter¬perosok ke dalam luweng tersebut. Tidak hanya itu, Gandamana ditimbun hidup-hidup dengan bebatuan.

Masa Pringgandani yang brutal dapat dikendalikan dan diundurkan rajanya, Tremboko. Atas bantuan Tremboko pula, Gandamana dapat terselamatkan dari maut. Keduanya, Gandamana dan Tremboko, semakin yakin bahwa ada tangan jahil yang mengeruhkan situasi. Keyakinan itu semakin mantap setelah Tremboko me¬nyerah¬kan surat yang berisi tantangan Pandu terhadap raja raksasa yang sakti itu.

Pada akhir cerita dalang, diketahui bahwa ada sentana Astina, Sengkunilah yang mengatur semuanya, agar terjadi benturan kekuatan antara Pringgandani dengan Astina. Intinya, adalah Sengkuni mencari muka, ngaji pumpung, dan mélik nggéndhong lali. Dalam berbagai kasus di negeri ini, persoalannya tentu tidak sejelas dan semudah seperti alur lakon Gandamana Luweng di atas. Hal ini sangat bergantung pada kecerdasan, ke¬canggih¬an, atau sanggit dalang. Permasalahannya adalah, siapa dalang yang sebenar¬nya, sehingga mampumembikin jagad Nusantara menjadi gonjang-ganjing? Apakah di balik lakon itu terdapat sebuah, atau lebih, tim pembuat huru-hara yang menyusun skenario itu.

Tokoh-tokoh wayang yang lazimnya memiliki tipologi bulat, meski tidak hitam dan putih, nampakkah sekarang? Kalau di masa silam wayang sering dijadikan sebagai simbol, pasemon, dan juga cermin budaya bangsa, apakah masih mampu menjawab dan memberikan gambaran berbagai persoalan yang dihadapi Indonesia modern sekarang? Berkaitan dengan banyak kasus yang melahirkan bermacam-macam masalah rumit, termasuk segala rupa mafia dan makelar di Indonesia kini, siapa yang berperan sebagai tokoh-tokoh utamanya?

Gandamana yang terkorbankan, atau memang pantas dikorban¬kan? Atau orang-orang baik layak untuk dijebak, agar keadilan, kearifan, dan kebajikan tidak merebak. Siapa pula tokoh Nasional yang berkarakter sebagai Sengkuni? Sengkuni yang IQ-nya cerdas tetapi julig, culas, vested interes, penjilat, pengadu domba, khianat, dan ambisius. Siapa pula sebenarnya Prabu Pandu yang berpenampilan kalem, terkesan bijak, tetapi selalu lamban dalam menangani berbagai.permasalahan kini.
Untuk itulah Pandu sering mendapat protes, termasuk adiknya sendiri, Yama Widura. Apalagi setelah Pandu secara sepihak memecat Gandamana, yang dianggap tidak loyal kepada raja. Bahkan Sengkuni yang licik, telah diangkat sebagai mahapatih Astina, pengganti Gandamana. Padahal Gandamana, oleh banyak orang dianggap sangat jujur, tanpa pamrih, dan kesetyaannya terhadap raja dan negara telah teruji.

Di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita sangatlah sulit untuk mengurai permasalahanya. Sebab, semua yang terlibat—dengan bermodal kecakapan bicara serta wajah meyakinkan tetapi penuh kepura-puraan—berusaha menghindar dari tuduhan dan dakwaan. Jika perlu teman-teman dekat didorong untuk terperosok dalam reka jebakan. Agaknya tokoh Sengkuni, dalam pertunjukan panggung Indonesia, telah berinkarnasi ke jutaan tokoh di mana-mana.
Roh-roh Sengkuni itu telah menyelinap dan menebar di seluruh latar, di bilik-bilik institusi, di kamar-kamar atasan, di sela-sela bicara, di jeruji-jeruji bui, di meja-meja pimpinan lembaga, di sidang-sidang pengadilan, di pansus-pansus markus, di almari-almari dokumen negara, di file-file petinggi seluruh negeri, di perdebatan-perdebatan pemilu, di kampane-kampanye pilkada, dan di mana pun serta kapan saja.

Akibat dari semuanya, sangat langka menemukan tokoh ksatria, negarawan, seperti Gandamana yang tangguh, yang jujur, yang setya, dan yang tidak ambisius. Kesuksesan Sengkuni-Sengkuni di seluruh institusi negeri ini benar-benar sangat menghantui Surti, seorang pesinden amatir, yang aktivis pergerakan kesetaraan jender. Akan diarahkan menjadi apa serta akan dibawa ke mana bangsa dan negeri ini? Gerutu Surti setiap pagi selepas nonton televisi.

Kata dalang: ledhog iliné banyu, air selalu mencari celah untuk mengalir ke bawah. Kalau sumber air di atas keruh, pasti bermuara dengan penuh lumpur polusi yang menjijikkan. Pertanyaan-pertanyaan terus menguntit di relung hati Surti. Apakah negeri ini akan usai pada awal abad ini? Kalau tidak, siapa tokoh ksatria yang mampu me¬mimpin bangsa ini? Cara apa yang tepat untuk memberantas korupsi, kolusi, dan nevotisme yang tiada henti? Apakah semua pejabat negeri ini harus diganti? Siapkah generasi pengganti, untuk bermental suci, adil, dan percaya diri? Sakbeja-bejané wong lali, isih beja wong kang éling lan waspada. Kata mutiara ini sudah lama dilupakan banyak orang dan tidak tahu bagaimana perwujudannya.

Ki Genit Santoso Lakon Gondomono Sayemboro Live Trenggalek


Salah satu dalang Senior Trenggalek Ki Genit Santoso, kali ini sempat PPW Jatim dapatkan dengan membawakan Lakon Gondomono Sayemboro yang kebetulan live di Rejowinangun Trenggalek  beberapa tahun yang lalu.

Sempat diabadikan melalui Video Lakon Gandamana Sayembara kali ini dengan sangit beliau khas Gaya Dalang Trenggalek.

Juga didukung sepenuhnya oleh Radio Praja Angkasa Trenggalek (Radio Pemerintah Daerah)  sukses dalam pementasan atau mbabar Lakon Gandamana Sayembara dengan Dalang Ki Genit Santoso.

Kali ini Audio Lakon Gandamana Sayembara sudah selesai diconvert menjadi Mp3 oleh Team Kreatif KURNIA FM Trenggalek dan tentu dapat dinikmati bersama bagaimana Sanggit beliau.

Tak Lupa PPW jatim mengucapkan terimakasih banyak atas dukungan dan sumbangan file – filenya bagi sahabat sahabat dimana saja berada yang tidak dapat disebutkan satu persatu dan ada yang memang tidak mau disebutkan identitasnya, yang jelas Apresiasi yang tinggi buat sahabat – sahabatku yang ikut nguri – uri Luhuring Budaya Nagari.

Salam PPW Jatim

SELAMAT MENIKMATI AUDIONYA

KBAP “Kumbakarna Gugur” dan “Gondomono Luweng”


Pagelaran Wayang Kulit Dalang Ki Bayu Aji Pamungkas hasil convert-an saking mas Totok-Pati kanthi Lakon:

1. Kumbokarno Gugur, Live Sedekah Bumi & Sedekah Laut, Desa Bendar, Juwana, kab. Pati, tgl. 17 September 2010

2. Gondomono Luweng, Live Sedekah Bumi & Sedekah Laut, Desa Bendar, Juwana, kab. Pati, tgl. 26 September 2009

Ingkang bade ngersakaken lampahan meniko kulo aturi ngunduh file-ipun ING MRIKI

KNS : Gandamana Sayembara


Lakon oleh Sang Maestro ini adalah kirimana dari Mas Santoso Bandung yang saya terima pada hari Jum’at sore minggu lalu. Dan baru dapat saya share hari ini. Lakon ini berjudul “Gandamana Sayembara” oleh Ki Nartosabdho terdiri dari 9 file MP3 berdurasi sekitar 6 jam (3 file masing masing 1 jama dan 6 file 1/2 jam).

http://ki-demang.com/gambar_wayang/index.php?option=com_content&view=article&id=858&Itemid=857

ARYA GANDAMANA adalah putra mahkota negara Pancala. Putra Prabu Gandabayu dengan permaisuri Dewi Gandarini. Arya Gandamana mempunyai kakak kandung bernama Dewi Gandawati. Arya Gandamana adalah kesatria yang tiada tandingannya.

Arya Gandamana berwajah tampan, gagah, tegap, pendiam, pemberani, kuat dan sakti serta memiliki ilmu andalan Aji Bandungbandawasa dan Glagah Pangantol-atol.

Arya Gandamana pernah menderita penyakit yang tak tersembuhkan. Penyakit itu baru sembuh setelah ia berikrar, mengucapkan sumpah tidak akan menjadi raja sesuai wangsit Dewata.

Gandamana kemudian pergi mengabdikan ke negara Astina kehadapan Prabu Pandu, dan diangkat menjadi patih negara Astina. Jabatan itu dipegangnya sampai ia harus meninggalkan negara Astina karena penghianatan Sakuni.

Ketika ayahnya, Prabu Gandabayu meninggal, Gandamana tetap teguh dengan sumpahnya. Arya Gandamana relakan haknya menjadi raja kepada kakak iparnya, Arya Sucitra yang menjadi raja Pancala bergelar Prabu Drupada.

Akhir riwayat Gandamana diceritakan; menurut Mahabharata, Gandamana tewas dalam peperangan melawan Bima saat terjadi penyerbuan anak-anak Kurawa dan Pandawa ke negara Pancala atas perintah Resi Durna. Sedangkan menurut pedalangan, Gandamana tewas dalam peperangan melawan Bima saat ia melakukan pasanggiri/sayembara tanding dalam upaya mencarikan jodoh untuk Dewi Drupadi.


RADEN GANDAMANA

Raden Gandamana adalah putra Prabu Gandabayu, raja negara Cempalareja. Ia sakti dan perkasa.. Continue reading KNS : Gandamana Sayembara