Tag Archives: dr purwadi

Filsafat Jawa dan Kearifan Lokal [5]


by Dr. Purwadi, M.Hum

2. Teori Kebenaran Koherensi

Teori kebenaran koherensi atau teori kebenaran saling berhubungan, yaitu suatu proposisi itu atau makna pernyataan dari suatu pengetahuan bernilai benar jika proposisi itu mempunyai hubungan dengan ide-ide dari proposisi yang terdahulu yang bernilai benar. Idiom becik ketitik ala ketara, yang baik pasti ketahuan dan yang jahat pasti terlihat, merupakan pengakuan sosial terhadap kebenaran hukum sebab akibat. Penghayatan atas idiom populer ini memudahkan serta mendorong seseorang untuk berbuat transparan dalam manajemen. Tanpa ada kontrol secara langsung, pihak-pihak yang akan melakukan pelanggaran pasti hatinya gelisah. Suara hatinya mencegah untuk berbuat yang kurang terpuji. Meskipun orang lain tidak mengetahui, tetapi hati sanubarinya tidak dapat ditipu. Maka dengan sendirinya niat baiklah yang akan dimenangkan serta dipraktekkan.

Nilai kearifan lokal Jawa lainnya yaitu ngundhuh wohing pakarti, orang akan memetik buah perbuatannya. Sing nandur becik bakal becik undhuh-undhuhane, sing nandur ala bakal ala undhuh-undhuhane. Barang siapa menanam kebaikan maka kebaikan pula buahnya, barang siapa menanam keburukan maka keburukan pula buahnya. Seorang pemimpin yang selalu memikirkan kepentingan rakyatnya, pasti dicintai oleh orang banyak. Sebaliknya apabila pemimpin bertindak curang dan mengutamakan kepentingan diri sendiri, pasti lambat laun akan terjadi pergolakan. Tidak jarang dari pergolakan yang sifatnya kecil dan spontanitas lantas menjadi pemberontakan yang banyak makan korban. Rakyat memang tajam pendengarannya, sehingga pasti tahu setiap gerak-gerik pemimpinnya.

4. Sifat Kebenaran Transparansi

Kebenaran transparansi muncul dari hasil dari sikap keterbukaan. Artinya, suatu kebenaran tidak mungkin muncul tanpa adanya prosedur baku yang harus dilaluinya. Prosedur baku yang harus dilalui itu adalah tahap-tahap untuk memperoleh pengetahuan transparansi, yang pada hakikatnya berupa teori, melalui metodologi ilmiah yang telah baku sesuai dengan sifat dasar ilmu. Dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah blaka dan prasaja. Blaka artinya terbuka, tidak ditutupi, apa adanya, transparan dan tidak takut bila diketahui semua isi hatinya. Sikap blaka biasanya diberikan kepada orang khusus yang sudah akrab, bersahabat dan hubungannya dekat sehingga tidak membahayakan. Orang blaka umumnya tidak memiliki maksud tersembunyi seperti kata pepatah: ada udang di balik batu. Dia berbicara tanpa beban, lepas dan tidak gampang marah, sehingga dalam pergaulan mudah diterima oleh berbagai kalangan. Namun ada kekurangannya, orang blaka kadang-kadang keceplos, yang membuat pihak lain kaget bahkan tersinggung. Continue reading Filsafat Jawa dan Kearifan Lokal [5]

Filsafat Jawa dan Kearifan Lokal [4]


by Dr. Purwadi, M.Hum

 

6. Aliran Vitalisme

Secara etimologis kata vitalisme berasal dari bahasa Latin vita atau hidup (Ali Mudhofir, 1988:33). Vitalisme menganggap bahwa perbuatan manusia yang dipandang bermoral ialah apabila perbuatan tersebut menunjukkan daya hidup. Seseorang yang bermoral tinggi ialah yang dapat menunjukkan kekuatannya sebagai orang kuat, seseorang yang istimewa (Niels Mulder, 1988:39). Aturan moral ini menandang bahwa hidup sebagai nilai yang tertinggi. Dengan demikian aliran ini mengatakan bahwa yang baik adalah yang mencerminkan kekuatan dalam hidup manusia. Kekuatan dan kekuasaan yang menaklukkan orang lain yang lemah, itu ukuran baik. Manusia kuasa itu pun manusia yang baik (Poedjawijatna, 1982:46).

Tokoh yang menganut paham vitalisme ini adalah Friedrich Nietzsche yang membagi dua macam moralitas, yaitu moralitas budak dan moralitas tuan. Moralitas budak adalah moralitas kawanan Herren-moral dan Sklaven-moral, sikap orang yang selalu mengikuti kelompok dan tidak berani bertindak sendiri, yang perlu dipuji dan takut ditegur. Menurut Nietzsche, moralitas budak harus dikalahkan dengan moralitas tuan. Dalam moralitas manusia tuan, baik adalah sama dengan luhur, buruk sama dengan hina. Yang dianggap hina adalah si penakut, si cengeng, si sempit, si pencuri untung, si pencurinya yang tidak berani menatap mata lawan bicara, yang merendahkan diri, si manusia macam anjing yang suka disiksa, si penjilat yang mengemis-ngemis, terutama si pembohong. Moralitas tuan membenarkan kekuatan dan kekuasaan. Cirinya adalah seluruhnya membenarkan dirinya sendiri. Moralitas tuan adalah ungkapan kehendak untuk berkuasa (Magnis Suseno, 1997:202).

Nietzsche berpendapat bahwa kepercayaan akan Tuhan itu terikat pada suatu perasaan atau kecenderungan (Arifin, 1987:63). Untuk menjadi maju manusia harus memperjuangkan kekuatan dan kehendak untuk berkuasa (der While zur Macht), kebebasan intelektual dan kejujuran hidup di dunia ini. Ia harus melepas kepercayaan, sebab saat ini merupakan tanda kelemahan dan pengingkaran terhadap hidup. Manusia tidak perlu mempunyai kewajiban apapun terhadap siapa pun selain dari dirinya sendiri. Manusia harus kuat dan mampu menjadi pengganti Tuhan dalam menciptakan semua nilai dan aturan hidup. Nietzsche beranggapan bahwa agama merupakan unsur negatif dalam perkembangan pribadi seseorang. Agama telah menumbuhkan suatu kebudayaan yang bertentangan dengan kosrat manusia. Agama melawan alam dan membuat dunia menjadi tempat yang sengsara, tanpa nafsu dan tanpa hidup.

Oleh karena itu bagi Nietzche, jika kehidupan manusia telah dibebaskan dari belenggu agama yang dilambangkan oleh kekuatan gereja, maka kemajuan akan dicapai oleh manusia dalam mengarungi dan menguasai kehidupan ini sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh manusia. Modal-modal pembangunan bangsa yang berupa sumber daya manusia dan sumber daya alam, perlu dikelola dengan sungguh-sungguh, supaya kegagalan dan kesia-siaan dapat dicegah. Harta benda publik harus bisa diatur secara bersama, terbuka, dan bergilir, sehingga kesejahteraan umum benar-benar diwujudkan. Perlu adanya kesadaran bahwa penderitaan dan ketertinggalan suatu kelompok merupakan beban dan tanggung jawab kelompok lain yang nasibnya lebih beruntung, sehingga keseimbangan hidup dapat dicapai dengan damai. Kutipan di bawah ini menunjukkan hal di atas:

Manguwuh peksi manyura

sawung kluruk amelungi

wancine wus gagat enjang

ayo rowang amurwani

netepi syariat lima

manembah Hyang Maha Suci

mrih yuwana kang pinanggih

ing donya tumikeng akhir

(Tembang Sawung Kluruk, pupuh gancaran, pada 1)

Terjemahan : Continue reading Filsafat Jawa dan Kearifan Lokal [4]

Filsafat Jawa dan Kearifan Lokal [3]


by Dr. Purwadi, M.Hum

2. Aliran Eudamonisme

Eudamonisme berasal dari bahasa Yunani Eudamonia, artinya kebahagiaan. Eudamonisme merupakan teori etika yang menjelaskan bahwa tujuan manusia adalah kebahagiaan (Ali Mudhofir, 1988 : 26). Tokoh yang menganut paham Eudamonisme diantaranya Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquinas. Bagi Plato yang baik adalah yang mendatangkan kebahagiaan. Philabus Plato memperlihatkan adanya jalan tengah antara dua ekstrim yang berlawanan yaitu keutamaan yang merupakan keseimbangan antara yang kurang dan terlalu banyak (Bertens, 1997 : 244). Hidup yang baik menurut Plato adalah keseimbangan ukuran yang diterapkan dalam pilihan-pilihan.

Berbeda dengan Plato, menurut Aristoteles hanya ada satu kebaikan akhir (ultimate good) yang tak lain sang kebaikan sendiri (the good). Karena manusia adalah makhlus sosial, maka menurut Aristoteles, kebaikan sosial lebih penting dan mulia daripada kebaikan individual. Kebaikan ini bersifat tetap dan merupakan tujuan hidup (Sudiarjo, 1995 :30 -31).

Menurut Aristoteles, manusia adalah baik dalam arti moral, jika selalu mengadakan pilihanpilihan rasional yang terdapat dalam perbuatan-perbuatan moralnya dan mencapai keunggulan dalam persoalan intelektual.

Tokoh lain yang berpaham Eudamolisme adalah Thomas Aquinas. Menurut Aquinas,         manusia terarah untuk mengerti tujuan akhir, yang membahagiakan secara penuh dan sempurna. Kebahagiaan bagi Aquinas dapat dicapai di dunia dan akhirat lewat perjumpaan dengan tuhan (Sudiarja, 1995 : 41). Konsepsi Aquinas ini memungkinkan manusia mencapai kebahagiaan sepenuhnya. Manusia betul-betul bahagia jika dapat memandang Tuhan.

3. Aliran Utilitarisme

Utilitarisme berasal dari kata utilis artinya berguna, yang dianggap sebagai dasar kebaikan tertinggi adalah bermanfaatnya perbuatan yang baik adalah yang memberikan kegunaan. Menurut utilitarisme, manusia harus bertindak sedemikian rupa, sehingga menghasilkan akibat baik yang sebanyak mungkin dan sedapat-dapatnya mengelakkan akibat-akibat buruk. Tindakan-tindakan tersebut harus selalu memperhatikan akibat-akibatnya bagi semua orang (Magnis Suseno, 1987 : 123).

Tokoh aliran ini adalah Jeremi Bentham dan John Stuart Mill. Menurut Bentham kehidupan manusia ditentukan oleh dua ketentuan besar : nikmat dan perasaan sakit sehingga tujuan moral tindakan manusia adalah memaksimalkan perasaan nikmat dan meminimalkan perasaan sakit (Magnis Suseno, 1997 : 180). Gagasan yang demikian bertolak dari paham hedonisme. Bentham merumuskan prinsip utilitarisme sebagai the greatest happiness for the greatest number (kebahagiaan yang sebesar mungkin bagi jumlah yang sebesar mungkin). Prinsip ini harus mendasari kehidupan politik dan perundangan. Berbeda dengan Bentham, John Stuart Mill mencoba mengajukan gagasan bahwa kesenangan rohani pada umumnya dimenangkan terhadap kesenangan jasmani karena menyangkut kelestarian dan keselamatan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kebahagiaan itu tidak dinilai dari kualitas yang hanya bisa diukur dari luarnya (Sudiarja, 1995 : 93).

Etika utilitarianisme dalam pewayangan dapat dilihat dalam lakon Begawan Ciptoning. Di sana Arjuna yang salin rupa menjadi Begawan Ciptoning itu senantiasa minta kepada dewata agung agar para pendawa dapat unggul dalam perang Baratayuda. Aliran teologi Jawa tercermin juga dalam ungkapan manunggaling kawula Gusti. Ungkapan-ungkapan mistik itu pada intinya mengandung ajaran agar manusia selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Penganut monisme religius mengemukakan gagasan tentang Tuhan bahwa dunia dan jiwa-jiwa sebagai suatu kenyataan. Pandangan tersebut meyakini kenyataan yang sungguh-sungguh dan niscaya/sat atau yang benar-benar berada adalah keberadaan yang kekal. Continue reading Filsafat Jawa dan Kearifan Lokal [3]

Filsafat Jawa dan Kearifan Lokal [2]


by Dr. Purwadi, M.Hum

C. Cabang-Cabang Filsafat

Berdasarkan sejarah kelahirannya, filsafat mula-mula berfungsi sebagai induk atau ibu ilmu pengetahuan. Pada waktu itu belum ada ilmu pengetahuan lain, sehingga filsafat harus menjawab segala macam hal. Persoalan tentang manusia, ilmu filsafat juga harus membicarakannya. Demikian pula soal masyarakat, ekonomi, negara, kesehatan dan sebagainya. Karena perkembangan masyarakat semakin kompleks, maka banyak problem yang tidak dapat dijawab lagi oleh ilmu filsafat. Kemudian lahirlah ilmu pengetahuan yang sanggup memberi jawaban terhadap problem-problem tersebut. Misalnya ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan kedokteran, ilmu pengetahuan kemasyarakatan, ilmu pengetahuan manusia, ilmu pengetahuan ekonomi dan lain-lain. Ilmu pengetahuan tersebut lalu terpecah-pecah lagi menjadi lebih khusus. Demikianlah lahir berbagai disiplin ilmu yang sangat banyak dengan spesialisasinya masing-masing.

Spesialisasi terjadi sedemikian rupa sehingga hubungan antara cabang dan ranting ilmu pengetahuan sangat kompleks. Hubungan-hubungan tersebut ada yang masih dekat, tapi ada pula yang tampak sangat jauh. Bahkan ada yang seolah-olah tidak mempunyai hubungan sama sekali. Jika ilmu-ilmu pengetahuan tersebut terus berusaha memperdalam dirinya, kemudian kembali juga pada ilmu filsafat. Sehubungan dengan keadaan tersebut, maka filsafat dapat berfungsi sebagai sistem interdisipliner. Filsafat dapat berfungsi menghubungkan ilmu-ilmu pengetahuan yang telah kompleks tersebut. Cara ini dapat pula digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ada. Cara ini dapat digambarkan seperti orang sedang meneliti sebuah pohon, wajib meneliti keseluruhan pohon tersebut. Peneliti tidak hanya memperhatikan daunnya, pohonnya, akarnya, bunganya, buahnya, tetapi keseluruhan pohon itu. Dalam menghadapi suatu masalah diharapkan seseorang menggunakan berbagai disiplin ilmu untuk memecahkannya.

1. Ontologi

Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran, dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafati tentang apa dan bagaimana (yang) Ada itu (being, Sein, het zijn). Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, paham dualisme, dan pluralisme dengan berbagai nuansanya merupakan paham ontologik yang pada akhirnya akan menentukan pendapat bahkan keyakinan kita masing-masing mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari (Koento Wibisono, 1997 : 6). Ontologi adalah cabang filsafat yang mempersoalkan masalah ada, dan meliputi persoalan seperti apakah artinya ada, apakah golongan-golongan dari yang ada?, apakah sifat dasar kenyataan, dan hal ada yang terakhir? Apakah cara-cara yang berbeda dalam mana entitas dari kategori logis dapat dikatakan ada? Continue reading Filsafat Jawa dan Kearifan Lokal [2]

Filsafat Jawa dan Kearifan Lokal [1]


by Dr. Purwadi, M.Hum

TEKS SAMPUL BELAKANG

Hakikat kehidupan selalu menjadi refleksi bagi orang Jawa, sebagaimana ungkapan sumusup ing rasa jati, menyelam dalam esensi kebenaran. Tujuan orang Jawa melakukan refleksi kefilsafatan adalah untuk mengetahui sangkan paraning dumadi, yaitu asal mula dan akhir kehidupan. Dalam kitab Jawa Klasik, kerap diulas secara sistematis mengenai berpikir yang mengarah kepada orientasi manunggaling kawula gusti, dengan harapan diperolehnya suasana tentram lahir batin. Kitab Negara Kertagama, Wulangreh, Wedhatama dan Sabda Jati merupakan wahana orang Jawa untuk menuangkan pemikiran kefilsafatan.

Dalam struktur tata kefilsafatan Jawa dikenal istilah cipta rasa karsa. Cipta merujuk kepada struktur logika yang berupaya untuk memperoleh nilai kebenaran. Rasa merujuk kepada struktur estetika yang berupaya untuk memperoleh nilai keindahan. Karsa merujuk kepada struktur etika yang berupaya untuk memperoleh nilai kebaikan. Cipta-rasa-karsa, logika-etikaestetika dan kebenaran-keindahan-kebaikan merupakan satu kesatuan yang dapat membuat kehidupan menjadi selaras, serasi dan seimbang seperti prasapa Sultan Agung dalam Serat Sastra Gendhing : mangasah mingising budi, memasuh malaning bumi. Sebuah tertib sosial yang didukung oleh hubungan harmonis antara jagad gumelar (makrokosmos) dan jagad gumulung (mikrokosmos).

Dokumentasi ajaran filsafat Jawa merupakan kontribusi yang berharga bagi perkembangan peradaban umat manusia. Masa depan akan lebih gemilang mana kala dihiasai oleh perilaku luhur dan agung. Cellum stellatum supra me, lex morallis intra me. Begitu cemerlang bintang-bintang di angkasa raya, sebagaimana taburan norma di dada manusia. Sebagai warga dunia, penggalian nilai filsafat Jawa dan kearifan tradisional lainnya memang perlu sekali digalakkan sehingga kelak ada sistem pewarisan intelektual dan spiritual yang lebih bermutu.

BAB I

DASAR-DASAR FILSAFAT JAWA

A. Pengertian Filsafat

Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata phelein dan sophia. Phelein berarti cinta dan sophia berarti kebijaksanaan. Filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Cinta mengandung arti hasrat besar yang berkobar-kobar atau sungguh-sungguh. Kebijaksanaan mengandung arti nilai kebenaran tertinggi. Dengan demikian filsafat berarti hasrat atau keinginan yang sungguh-sungguh untuk memperoleh hakikat kebenaran sejati. Continue reading Filsafat Jawa dan Kearifan Lokal [1]