Tag Archives: dewa ruci

SIMBOLISME LAKON DEWA RUCI DALAM WAYANG KULIT PURWA


Bima Naga

O l e h :

Agung Prasetyo, Desy Nurcahyanti, Sularno, Wishnu Subroto

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

I. PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk budaya, dan penuh simbol-simbol. Dapat dikatakan bahwa budaya manusia diwarnai simbolisme, yaitu suatu tata pemikiran atau paham yang menekankan atau mengikuti pola-pola, serta mendasarkan diri pada simbol-simbol. Sepanjang sejarah budaya manusia, simbolisme telah mewarnai tindakan-tindakan manusia baik tingkah laku, bahasa, ilmu pengetahuan maupun religinya. Dengan perkataan lain dunia kebudayaan adalah dunia penuh simbol. Manusia berpikir, berperasaan, dan bersikap dengan ungkapan-ungkapan yang simbolis. Ungkapan yang simbolis ini merupakan ciri khas manusia (Heru Satoto, 1987).
Simbolisme menonjol peranannya dalam tradisi atau adat istiadat Orang Jawa. Simbolisme terdapat dalam setiap karya budaya nenek moyang, serta berperan sebagai warisan budaya turun-temurun, dari generasi tua ke generasi muda.
Wayang dipandang sebagai suatu bahasa simbol dari hidup dan kehidupan yang lebih bersifat rohaniah daripada lahiriah. Orang melihat wayang seperti halnya melihat kaca rias. Jika orang melihat pergelaran wayang, yang dilihat bukan wayangnya melainkan masalah yang tersirat di dalam lakon wayang itu. Seperti halnya kalau kita melihat ke kaca rias, kita bukan melihat tebal dan jenis kaca rias itu, melainkan melihat apa yang tersirat di dalam kaca tersebut. Kita melihat bayangan di dalam kaca rias itu, oleh karenanya kalau kita melihat wayang dikatakan bahwa kita bukan melihat wayangnya, melainkan melihat bayangan (lakon) diri kita sendiri (Sri Mulyono, 1983).
Wayang kulit purwa merupakan karya seni kriya klasik, sehingga terdapat aturan konvensional, berkaitan dengan norma, simbolisasi, filosofi dan nilai lainnya, ataupun berkaitan dengan masalah bentuk wayang itu sendiri. Berdasarkan alasan tersebut bagian wayang yang terkecil sekalipun akan menarik bila diurai, karena sesuatu yang kecil itu berkaitan dengan bidang lain (Sunarto,1990). Pada paper ini akan diuraikan sebagian kecil wayang yakni Simbolisme Lakon Dewa Ruci dalam Wayang Kulit Purwa.

II. LANDASAN TEORI

A. PENGERTIAN WAYANG KULIT PURWA

Wayang adalah seni pertunjukan berupa drama yang khas. Seni pertunjukan ini meliputi seni suara, seni sastra, seni musik, seni tutur, seni rupa, dan lain-lain. Ada pihak beranggapan, bahwa pertunjukan wayang bukan sekedar kesenian, tetapi mengandung lambang-lambang keramat. Sejak abad ke-19 sampai dengan sekarang, wayang telah menjadi pokok bahasan serta dideskripsikan oleh para ahli. Macam-macam kajian tentang wayang dapat diketahui dari bibliography beranotasi, dibuat oleh V.M.C Van Groenendael, terbit tahun 1978 berjudul Annotated Bibliography of Wayang Litetarure and the Art of the Dalang. Kajian tentang wayang, menghasilkan sejumlah disertasi dan tesis, antara lain:
(1) G.A.J Hazeu, Bijdrage tot de Kennis van het Jayansche Tonnel (Leiden, 1879);
(2) W.H. Rassers, De Pandji Romans (Leiden, 1922);
(3) V.M.C. van Groenendael, Erzit een Dalang de Wayang: De Rol van de Vorstenlandse Dalang in de Indonesich – Javanese Samenleving (Amsterdam, 1982) (Ensiklopedi Kebudayaan Jawa, 2005).
Wayang sebagai penggambaran alam pikiran Orang Jawa yang dualistik. Ada dua hal, pihak atau kelompok yang saling bertentangan, baik dan buruk, lahir dan batin, serta halus dan kasar. Keduanya bersatu dalam diri manusia untuk mendapat keseimbangan. Wayang juga menjadi sarana pengendalian sosial, misalnya dengan kritik sosial yang disampaikan lewat humor. Fungsi lain adalah sebagai sarana pengukuhan status sosial, karena yang bisa menanggap wayang adalah orang terpandang, dan mampu menyediakan biaya besar. Wayang juga menanamkan solidaritas sosial, sarana hiburan, dan pendidikan (Sumaryoto, 1990). Continue reading SIMBOLISME LAKON DEWA RUCI DALAM WAYANG KULIT PURWA

Ki Hadi Sugiran – Lakon Dewa Ruci


Seperti diketahui, wayang yang berkembang 5-6 abad yang lalu di wilayah yang kita sebut Nusantara ini, mengadaptasi cerita Ramayana dan Mahabharata dari India, dan mengolahnya, meng-improvisasi dan menambah di sana sini agar sesuai dengan kondisi kita. Selain berfungsi sebagai hiburan, lakon wayang juga membawa serta pesan, pitutur dan petuah dari leluhur untuk menjalani hidup benar.
Pesan ini biasa dititipkan dalam lakon-lakon sisipan atau yang lazim disebut carangan. Biasanya penyampaiannya amat halus dan tersamar. (Tidak seperti sinetron atau filem kita sekarang, petuah biasanya datang secara verbal, jelas dan kasar).
Lakon Dewa Ruci ini adalah lakon carangan dari Mahabharata yang boleh dibilang penting dan “berat”. Seperti lakon lainnya yang kelas “berat”, (Lahirnya Kurawa, Pandhawa Moksha, Kumbakarna Gugur), lakon ini jarang dipentaskan. Tidak semua dalang mau dan mampu mementaskannya secara sembarangan. Meskipun demikian, dan juga meskipun ceritanya sangat sederhana dan tidak menarik, lakon ini menjadi cerita favorit para orang tua yang bercerita kepada anaknya, Guru kepada muridnya, dan…………aliran kebathinan yang disebut Kejawen. (yang dulu di jaman Soeharto disebut Aliran Kepercayaan itu).
Lakon ini menjadi berat, karena cerita di dalamnya mengandung jalan kontemplasi tentang asal dan tujuan hidup manusia (sangkan paraning dumadi), menyingkap kerinduan akan Tuhan dan perjalanan rohani untuk mencapaiNya (manunggaling kawula Gusti).
Karena terhitung favorit, lakon ini banyak sekali variasinya, tergantung siapa yang menuturkannya dan siapa dhalang yang memainkannya. Menurut Poerbatjaraka, doktor Antropologi itu (1940), paling tidak ada 40 naskah lakon yang juga disebut sebagai Bima Suci ini. 19 naskah diantaranya tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Yang paling terkenal, adalah gubahan pujangga keraton Surakarta Yosodipuro berjudul “Serat Kidung Dewa Ruci”, yang disampaikan dalam bentuk tembang macapat, dengan bahasa Kawi-Sansekerta dan Jawa Kuno.
Lambang, pitutur, petuah, esensi cerita
Untuk mendapatkan “inti pengetahuan sejati” (Tirta Prawitasari) Sang Bima harus menempuh ujian fisik dan mental sangat berat, (Hutan Tibaksara “tajamnya cipta“; Gunung Reksamuka, “pemahaman mendalam“). Sang Bimasena tidak akan mampu menuntaskannya tanpa membunuh raksasa Rukmaka “kamukten, kekayaan” dan Rukmakala “kemuliaan” . Tanpa mengendalikan nafsu dunianya dalam batas maksimum.
Perjalanannya menyelam ke dasar laut diartikan dengan “samodra pangaksami” pengampunan. Membunuh Naga yang mengganggu jalannya simbol dari melenyapkan kejahatan dan keburukan diri.
Pertemuannya dengan Sang Dewa Ruci melambangkan bertemunya Sang Wadag dengan Sang Suksma Sejati. Masuknya wadag Bima kedalam Dewa Ruci dan menerima Wahyu Sejati bisa diartikan dengan “Manunggaling Kawula-Gusti“, bersatunya jati diri manusia yang terdalam dengan Penciptanya. Kemanunggalan ini mampu menjadikan manusia untuk melihat hidupnya yang sejati. Dalam istilah Kejawen “Mati sajroning urip, urip sajroning mati“. (Mati di dalam Hidup, dan Hidup di dalam Mati). Ini adalah esensi dari Kawruh Kejawen. Perjalanan tasawuf untuk menukik ke dalam dirinya sendiri.
Nah kembali disharing Audio Lakon Dewa Ruci oleh dalang Ki Hadi Sugiran dari Tlatah Gunung Kidul. dan salah satu dari sekian banyak koleksi milik bapak Sugiran ini.

KES CUPLIKAN GORO – GORO SEMAR WIRID


Setiap pementasan wayang pasti ada adegan goro – goro . Goro – goro dan punakawan Semar , Gareng, Petruk, Bagong (Bawor = Banyumasan) adalah satu kesatuan yang tidak mungkin terpisahkan.

Goro-goro dan Budaya Kritik

Walaupun punokawan itu gambaran rakyat jelata, suaranya perlu didengar. Itu kalo gak salah yang pernah diceritakan  bapak saya. Pimpinan yang baik, digambarkan poro Pandowo, tidak segan meminta nasihat kepada punokawan, bahkan diajak keliling blusukan kemana-mana sebagai teman seperjalanan dan tempat curhatnya poro satriyo Pandowo.
Weladalah …terusannya…….lupa….dulu gak ngerti…..hehehehe

SETELAH sekian jam disuguhi segala macam konflik, maka yang sangat ditunggu-tunggu penonton wayang adalah goro-goro. Babak ini jadi semacam ritus pembukaan katub ketegangan yang berkumpul pada babak-babak sebelumnya. Ketegangan yang dimaksud bisa merupakan ketegangan-ketegangan dalam lakon wayang ini sendiri, bisa juga berasal dari proses pementasan itu sendiri.

Juga dalam babak ini semua tokoh yang telibat dalam pementasan (termasuk penonton) mendapat citra pembebasan. Sudah pasti salah satunya adalah pembebasan dari ketegangan psikologis. Namun sekaligus juga dapat merupakan pembebasan dari kaidah-kaidah konvensional. Dalam arti, tak pernah ada goro-goro yang resmi. Wilayah tema dan ruang cerita menjadi sangat cair. Lewat tokoh-tokoh punakawan, sang dalang bisa melarikan tema perbincangan kekuasaan dalam lakon yang dibawakannya ke proses pementasannya sendiri: mulai dari sosok keluarga pandawa sampai sosok pesindennya sendiri, mulai dari persoalan universal sampai ke yang kontekstual.

Alat yang dipakai dalam goro-goro sebagai pembawa citra pembebasan adalah kritik. Bahkan boleh jadi kritik bukan lagi sejenis alat yang ‘sunnah’ dalam goro-goro, melainkan ‘wajib’ hukumnya. Ini wajar saja. Sebab secara fenomenologis kritik merupakan satu-satunya kegiatan manusia yang dilakukan selalu dengan tujuan progresif.

Dengan kritik, segala kewajaran dipatahkan: dijadikan sesuatu yang tidak lazim. Di dalamnya dituntut ruang yang cukup untuk proses rethinking, mengkaji ulang. Pola dialektis merupakan kerangka logisnya. Semuanya berjalan agar ditemukan hubungan-hubungan baru, yang dengan demikian mengantarkan manusia ke wilayah-wilayah kreativitas hidup yang baru pula. Tanpa kritik, tak seorang pun berhak memberi penilaian baik buruk, benar salah, indah jelek. Tanpa kritik, manusia menyentuh titik absurd hidupnya.

Sebagai pelepas ketegangan, kritik dalam goro-goro mendapat pulasan yang khas. Kritik diberi nuansa tawa yang agak dominan. Seseriua apapun sebuah kritik dalam babak tersebut sangat jarang mampu membuat muka merah padam karena amarah. Segala kritik terlontar masuk ke dalam suasana gembira dan bercanda. Kritik gaya goro-goro muncul dari dan ke sikap lapang dada.

Oleh karenanya banyak orang di republik ini sepakat untuk menjadikan goro-goro sebagai patron bentuk penyampaian kritik yang layak kultural dalam kehidupan sosial politik. Goro-goro menyajikan kritik yang tahu tata rama, bukan kritik asal pedas.

Bahkan goro-goro telah menjadi referensi kultural bagi bentuk-bentuk penyampaian kritik yang selama ini hidup dalam kehidupan sosial republik ini.

Kita sangat maklum dan tidak cepat naik darah dengan kritik-kritik nakal para kolumnis di berbagai koran dan surat kabar, seperti Mahbub Djunaidi,Goenawan Muhammad, atau Emha Ainun Najib. Di dunia tarik suara, cubitan-cubitan kritis pun dapat didengar dari suara nakal Iwan Fals, Tom Slepe, atau Doel Sumbang pada awal karirnya. Sementara jagat teater belakangan ini juga mengadopsi konsep goro-goro. Lihat saja Teater Gandrik di Yogya atau Teater Koma di Jakarta, misalnya.

Kemampuan

Meskipun demikian, sebagai alat menuju langkah-langkah yang maju, kritik dalam goro-goro tidal menemukan kemampuannya yang optimal. Ia tak mampu ‘menggebuk’ orang agar benar-benar tersadar unutk berdialog, melainkan hanya mampu menunggu tidur sebentar saja dengan cubitan: tak mampu menggali realitas yang lebih dalam.

Goro-goro menyajikan kritik tanpa analis. Semua fenomena yang diangkatmasih sangat permukaan. Kritik-kritiknya sering kali tanpa fokus, bahkan tanpa sistematik. Segala hal yang terlihat, terasa, teringat dan terpikir oleh pelakunya (dalang, aktor, teater, penyanyi, atau kolumnis) saat itu juga sangat mungkin mendapat jatah kritik secara spontan.

Terutama dalam jagat teater belakangan ini, etos goro-goro menjebak kritik hanya menjadi alat unutk menggiring orang menuju tawa. Tema-tema yang sangat potensial menuju konsep kritis yang mendalam tiba-tiba lumer jadi bahan lawakan. Dengan demikian para pembaca, pendengar, maupun penonton jarang diajak menuju pengendapan persoalan. Dalam goro-goro kritik lebih sering dimandulkan oleh tawa(baca: semangat melucu).

Ini tidak berarti bahwa goro-goro menjadi tidak penting. Sebagai tradisi, goro-goro merupakan referensi kultural yang masih berharga bagi budaya kritik republik ini. Betapa pun, latar kultural kita tidak terlalu kaya oleh tradisi kritik. Budaya patuh agaknya memang lebih kuat dari pada budaya kritis. Ranggawarsita dalam Kala Tidha mengingatkan kita bahwa tradisi perlawanan terhadap budaya patuh hanya mengambil bentuk dalam sikap asketik, yang tak jarang lebih tampak fatalistik.

Oleh karenanya seminimal apapun kemampuan goro-goro dalam membangun budaya kritik yang mendalam, selayaknya tetap dijaga dari kepunahan,. Bahkan goro-goro selayaknya dijadikan modal awal bagi budaya kritik yang lebih baik, sejalan denga semangat keterbukaan yang belakangan ini sering disebut-sebut.

Jika suatu ketika kritik gaya goro-goro juga mendapat sensor yang agaknya berlebihan, maka budaya kritik masyarakat boleh jadi akan semakin tipis. Jika referensi kultural yang populer ini tiba-tiba hilang dari perpustakaan kehidupan masyarakat, kritik suatu saat boleh jadi juga tak akan pernah ada dalam ingatan. Dan itu artinya bahwa political will menuju keterbukaan terasa sebagai ‘sopan-santun berwajah ganda’.

Sebab, pilihan banyak orang terhadap goro-goro sebagai bentuk penyampaian kritik bukan semata-mata disebabkan oleh minimnya pengetahuan akan pilihan bentuk penyampaian kritik lainnya. Melainkan goro-gorolah yang paling membuka peluang bagi kritik dari pada yang lainnya. Menutup kesempatan masyarakat unutk ber-goro-goro tidak mengadaikan bahwa masyarakat akan memilih bentuk penyampaian kritik yang lebih optimal. Justru akan lebih membimbing orang untuk menjauhi segala macam kritik apapun.

Bisa dibayangkan, apa jadinya jagat pewayangan tanpa babak goro-goro? Tanpa goro-goro, bukan semat-mata berarti bahwa penonton kehilangan kesempatan untuk melepaskan ketegangan. Bukan pula berarti bahwa para penikmat wayang tertutup untuk mencapai pembebasan. Bahkan tanpa goro-goro, tak pernah ada pementasan wayang. Secara filosofis, pertunjukan wa-yang mengajarkan bahwa kehi-dupan tak dimungkinkan tanpa kritikan.

(Esai ini dimuat di Harian Yogya Post, 21 Oktober 1990)

Nah sekarang kritikan yang disertai guyonan yang cukup mengelitik ditelinga penikmat terkadang membuat kuping atau telinga panas, walau tidak ada maksud untuk menyakiti hati siapapun.

Begitu juga kadang disini saya sebagai admin wayangprabu.com selalu saja memposting yang isinya risih dibaca dan diresapi, mungkin juga membuat panas ditelinga siapa saja pembacanya, karena itu semua kebodohan, kurang pengalaman atau boleh dibilang kurang subo sito lan sopan santun saya pribadi mohon maaf.

Ki Enthus Susmono selalu menampilkan goro – goro yang fresh dengan gaya wejangan baik filosofi, ataupun kritik sosial politik dinegeri ini. Salah satunya dalam lakon Semar wirid, disini saya sharing cuplikan goro – goro dan limbukannya gaya khas Ki Enthus Susmono

SELAMAT MENIKMATI

MA’RIFAT DEWA RUCI (Resensi audio KES koleksi KURNIA FM)


 

Berikut ini saya sampaikan sekilas tentang MA’RIFAT DEWA RUCI yang nantinya akan disharing AUDIO WAYANG KULIT  dengan lakon MA’RIFAT DEWA RUCI dengan Dalang KI ENTHUS SUSMONO rekaman di ITS SURABAYA beberapa waktu yang lalu dan juga LIVE di TVRI.

cerita MA’RIFAT DEWA RUCI dibawakan dengan apik oleh KI ENTHUS SUSMONO sehingga penonton dari mulainya pertunjukan hingga akhir tidak akan pernah surut. seperti pertunjukan KES dimana saja KES pentas, mungkin KES pentas di planet MARS pun pasti penonton mbludak…..hehehe.

Berikut ulasan dan sekilas tentang MA’RIFAT DEWA RUCI

Ringkasan Cerita

Cerita ini terjadi saat Pandhawa bersama saudara-saudara sepupunya, Kurawa sedang bersama menimba ilmu pada guru yang sama Resi Durna atau Kumbayana. Kurawa yang amat menyadari bahwa tahta kerajaan Astina yang saat itu diduduki ayah mereka, Destrarastra, adalah sekadar titipan dari ayah Pandhawa, Pandu Dewanata yang mati muda. Kalaulah nanti Pandhawa telah dewasa, tahta itu harus dikembalikan kepada mereka. Dan para saudara Kurawa yang berjumlah seratus itu, bakal lontang-lantung jadi preman. Karena itu, sejak awal, Kurawa dengan berbagai jalan berusaha keras untuk melenyapkan Pandhawa, halus ataupun kasar. Sebenarnya juga para Kurawa yang muda, berangasan  dan pendek akal itu tidak mampu merancang tindakan yang kebanyakan jenius itu, tanpa bantuan sang pemikir, Harya Sangkuni, atau Arya Suman, adik ibunya Gendari, yang diangkat jadi Patih kerajaan Astina  Wajar saja, sang Paman juga sangat berkepentingan akan kelangsungan kekuasaan keponakannya kan? Kalau saja Pandhawa dapat menguasai kerajaan, apa iya dia gak jadi kere?. Dengan akal jenius, Patih Sangkuni berhasil membujuk Resi Durna untuk membantu program Kurawa itu. Melenyapkan Pandhawa! Sasaran utamanya adalah Pandhawa si nomer 2, Raden Wrekudara alias Arya Bimasena dan si nomer 3 Raden Janaka alias Harjuna, 2 orang Pandhawa yang kesaktiannya menyundul langit itu. Kalau 2 orang itu sudah “game over”, yang lain cemen saja. Untuk saat ini, skala prioritasnya adalah Sang Bimasena, yang punya posisi strategis di Pandhawa, sebagai Palang Pintu, seperti posisi Carles Puyol di Barcelona FC.

Sang Puyol, eh salah…….. sang Bima yang memang sudah menyelesaikan sesi latihan ragawinya kemudian diutus sang Guru Resi Durna untuk mencari “Tirta Prawitasari”, air kehidupan, guna menyucikan bathinnya demi kesempurnaan hidupnya. Benda itu, harus dicari di hutan Tibaksara di gunung Reksamuka. Ketika menghadap ibunya, Dewi Kunthi, saudara-saudaranya yang lain mengingatkan bahwa mungkin ini hanya jebakan Sangkuni  Karena hutan itu sudah terkenal sebagai  “alas gung liwang liwung, sato mara, sato mati” (hutan raya tak tertembus, mahluk yang mencoba masuk 99,99% is dead).

Tapi Bima ngotot dan pede abis, perintah Guru tidak mungkin ditolaknya meskipun karena itu dia harus menyerahkan jiwanya. Melihat keteguhan hati anaknya, sang Ibu akhirnya merestuinya. Sang Bima pun akhirnya berangkat menjalankan tugas gurunya.

Seluruh hutan sudah dijelajahinya, tapi yang dicari tak ada, malah membangunkan 2 raksasa penunggu hutan Rukmuka dan Rukmakala yang lagi enak-enak tidur. Perkelahian segera terjadi dan 2 raksasa itu terbunuh oleh Sang Bima.

Menyadari bahwa yang dicarinya tidak ada, Sang Bima kembali menghadap gurunya. Gurunya yang semula kaget, kokbisa-bisanya ada mahluk yang keluar hidup-hidup dari hutan Tibaksara itu, lalu menyuruh untuk melakukan yang lebih sulit. Tirta Prawitasari itu harus dicari di kedalaman lautan! Tanpa banyak bertanya apalagi meragukan perintah sang Guru, Sang Bimasena pun langsung berangkat.

Seisi lautan diaduknya, seekor Naga yang menghalangi jalannya disingkirkannya, tapi yang dicarinya tidak juga ketemu. Ditengah kebingungannya, dia menemukan mahluk serupa dirinya dalam ukuran yang lebih kecil, yang meniti ombak lautan, mendekati dirinya. Mahluk itu memperkenalkan dirinya sebagai Sang Dewa Ruci,  sang suksma sejatinya, dirinya yang sebenarnya. Pembicaraan antara 2 mahluk inilah yang menjadi inti cerita ini, sayang sekali saya tidak mampu menguraikannya secara tepat karena ilmu saya yang terbatas. Akhirnya Sang Bimasena masuk ke dalam wadag Sang Dewa Ruci melalui kuping kirinya, dan mendapat penjelasan tentang hidup sejatinya.

Cerita selesai sampai disini.

Kalaupun ada lanjutannya, paling itu bunganya saja,  yakni para Kurawa yang tunggang langgang dihajar dan tarian kemenangan Sang Bima Sena.

Lambang, pitutur, petuah, esensi cerita

Untuk mendapatkan “inti pengetahuan sejati” (Tirta Prawitasari) Sang Bima harus menempuh ujian fisik dan mental sangat berat, (Hutan Tibaksara “tajamnya cipta“; Gunung Reksamuka, “pemahaman mendalam“). Sang Bimasena tidak akan mampu menuntaskannya tanpa membunuh raksasa Rukmaka “kamukten, kekayaan” dan Rukmakala “kemuliaan” . Tanpa mengendalikan nafsu dunianya dalam batas maksimum.

Perjalanannya menyelam ke dasar laut diartikan dengan “samodra pangaksami” pengampunan. Membunuh Naga yang mengganggu jalannya simbol dari melenyapkan kejahatan dan keburukan diri.

Pertemuannya dengan Sang Dewa Ruci melambangkan bertemunya Sang Wadag dengan Sang Suksma Sejati. Masuknya wadag Bima kedalam Dewa Ruci dan menerima Wahyu Sejati bisa diartikan dengan “Manunggaling Kawula-Gusti“, bersatunya jati diri manusia yang terdalam dengan Penciptanya. Kemanunggalan ini mampu menjadikan manusia untuk melihat hidupnya yang sejati. Dalam istilah Kejawen “Mati sajroning urip, urip sajroning mati“. (Mati di dalam Hidup, dan Hidup di dalam Mati). Ini adalah esensi dari Kawruh Kejawen. Perjalanan tasawuf untuk menukik ke dalam dirinya sendiri.

Nilai Filisofis Perjalanan Bima yang Berkaitan dengan Makrifat

Makrifat (Jawa laku rasa, sembah rasa) adalah perjalanan menuju manusia sempurna yang paling tinggi. Secara harfiah makrifat berarti pengetahuan atau mengetahui sesuatu dengan seyakin-yakinnya .

Dalam tasawuf, makrifat berarti mengenal langsung atau mengetahui langsung tentang Tuhan dengan sebenar-benarnya atas wahyu atau petunjuk-Nya, meliputi zat dan sifatnya.

Pencapaian tataran ini diperoleh lewat tataran tarekat, yaitu ditandai dengan mulai tersingkapnya tirai yang menutup hati yang merintangi manusia dengan Tuhannya. Setelah tirai tersingkap maka manusia akan merasakan bahwa diri manusia dan alam tidak ada, yang ada hanya Yang Ada. Dalam hal seperti ini zat Tuhan telah masuk menjadi satu pada manusia. Manusia telah merealisasikan kesatuannya dengan Yang Ilahi. Keadaan ini tidak dapat diterangkan ( tan keno kinoyo ngopo dan sing dirasakne hamung roso seneng lan bungah).

Dalam masyarakat Jawa hal ini disebut dengan istilah manunggaling kawula kulawan Gusti, pamoring kawula lan Gusti, jumbuhing kawula lan Gusti, yen diibaratake pusoko  atau keris (warangka manjing curiga curiga manjing warangka).

Pada titik ini manusia tidak akan diombang-ambingkan oleh suka duka dunia. Ia akan berseri bagaikan bulan purnama menyinari bumi, membuat dunia menjadi indah. Di dunia ia menjalankan kewajiban-kewajiban-Nya dengan rasa yang sangat mudah tanpa beban .

Ia mampu mendengar, merasa, dan melihat apa yang tidak dapat dikerjakan oleh manusia yang masih diselubungi oleh kebendaan, syahwat, dan segala kesibukan dunia yang fana ini.

Keadaan yang dialami oleh Bima yang mencerminkan bahwa dirinya telah mencapai tahap makrifat, di antaranya ia merasakan: keadaan dirinya dengan Tuhannya bagaikan air dengan ombak, nikmat dan bermanfaat, segala yang dimaksud olehnya tercapai, hidup dan mati tidak ada bedanya, serta berseri bagaikan sinar bulan purnama menyinari bumi.

Nilai Filosofis Hamba (Bima) dengan Tuhan bagaikan Air dengan Ombak

Perumpamaan manusia dalam keadaan yang sempurna dengan Tuhannya, bagaikan air dengan ombak ada kesamaannya dengan yang terdapat dalam kepercayaan agama Siwa. Dalam agama Siwa kesatuan antara hamba dengan dewa Siwa disebutkan seperti kesatuan air dengan laut, sehingga keduanya tidak dapat dibedakan lagi. Tubuh Sang Yogin yang telah mencapai kalepasan segera akan berubah menjadi tubuh dewa Siwa. Ia akan mendapatkan sifat-sifat yang sama dengan sifat dewa Siwa (Hadiwijono, 1983:45).

Nilai Filosofis Bima Merasakan Nikmat dan Bermanfaat

Bima setelah manunggal dengan Tuhannya tidak merasakan rasa khawatir, tidak berniat makan dan tidur, tidak merasakan lapar dan mengantuk, tidak merasakan kesulitan, hanya nikmat yang memberi berkah karena segala yang dimaksud dapat tercapai. Hal ini menyebabkan Bima ingin manunggal terus. Ia telah memperoleh kebahagiaan nikmat rahmat yang terkandung pada kejadian dunia dan akhirat. Sinar Ilahi yang melahirkan kenikmatan jasmani dan kebahagian rohani telah ada pada Bima. Oleh kaum filsafat, itulah yang disebut surga. Keadaan ini secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah mencapai tahap makrifat.

Nilai Filosofis Segala yang Dimaksud oleh Bima Tercapai

Segala yang menjadi niat hatinya terkabul, apa yang dimaksud tercapai, dan apa yang dicipta akan datang, jika hamba telah bisa manunggal dengan Tuhannya. Segala yang dimaksud oleh Bima telah tercapai. Keadaan ini secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah mencapai tataran makrifat.

Segala yang diniatkan oleh hamba yang tercapai ini kadang-kadang bertentangan dengan hukum alam sehingga menjadi suatu keajaiban. Keajaiban itu dapat terjadi sewaktu hamba dalam kendali Ilahi.

Ada dua macam keajaiban, yang pertama yang dilakukan oleh para wali disebut keramat dan yang kedua keajaiban yang dilakukan oleh para nabi disebut mukjizat.

Nilai Filosofis Bima Merasakan Bahwa Hidup dan Mati Tidak Ada Bedanya

Hidup dan mati tidak ada bedanya karena dalam hidup di dunia hendaklah manusia dapat mengendalikan atau mematikan nafsu yang tidak baik dalam dalam kematian manusia akan kembali menjadi satu dengan Tuhannya. Mati merupakan perpindahan rohani dari sangkar kecil menuju kepada kebebasan yang luas, kembali kepada-Nya. Dalam kematian raga nafsu yang tidak sempurna dan yang menutupi kesempurnaan akan rusak. Yang tinggal hanyalah Suksma. Ia kemudian bebas merdeka sesuai kehendaknya kembali manunggal kepada Yang Kekal. Keadaan bahwa hidup dan mati tidak ada bedanya secara filosofis melambangkan bahwa tokoh Bima telah mencapai tahap makrifat.

Nilai Filosofis Hati Bima Terang bagaikan Bunga yang Sedang Mekar

Bima setelah mengetahui, menghayati, dan mengalami manunggal sempurna dengan Tuhannya karena mendapatkan wejangan dari Dewaruci, ia hatinga terang bagaikan kuncup bunga yang sedang mekar. Dewaruci kemudian musnah. Bima kembali kepada alam dunia semula. Ia naik ke darat kembali ke Ngamarta. Keadaan hati yang terang benderang bagaikan kuncup bunga yang sedang mekar secara filosofis melambangkan bahwa Bima telah mencapai tahap makrifat.

Kesimpulan

Kisah Bima dalam mencari tirta pawitra dalam cerita Dewaruci secara filosofis melambangkan bagaimana manusia harus menjalani perjalanan batin guna menemukan identitas dirinya atau pencarian sangkan paraning dumadi ‘asal dan tujuan hidup manusia’ atau manunggaling kawula Gusti.

Dalam kisah ini termuat amanat ajaran konsepsi manusia, konsepsi Tuhan, dan bagaimana manusia menuju Tuhannya. Konsepsi manusia disebutkan bahwa ia berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya.

Ia dijadikan dari air. Ia wajib menuntut ilmu. Dalam menuntut ilmu tugas guru hanya memberi petunjuk. Manusia tidak memiliki karena segala yang ada adalah milik-Nya. Ia wajib selalu ingat terhadap Tuhannya, awas dan waspada terhadap segala godaan nafsu yang tidak baik, sebab pada akhirnya manusia akan kembali kepada-Nya. Konsepsi Tuhan disebutkan bahwa Ia Yang Awal dan Yang Akhir, Hidup dan Yang Menghidupkan, Mahatahu, dan Mahabesar. Ia tan kena kinaya ngapa ‘tidak dapat dikatakan dengan apa pun’.

Kisah perjalanan batin Bima dalam menuju manusia sempurna ini dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat (Jawa sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa).

PASTI PENASARAN BAGAIMANA VIDEO DAN AUDIONYA LAKON MA’RIFAT DEWA RUCI dengan dalang KI ENTHUS SUSMONO……..hehehehe

Kurnia FM akan mempersembahkan dan sharing di SINI   dan tentu akan dapat lebih completed dapat menikmati Videonya ….Video ak mudah didapat di toko atau penjual VCD di wilayah JAWA TIMUR.

Salam

PPW JATIM

By Ali Mustofa