Tag Archives: dasamuka

Ramayana [18]


DasamukaMendengar tewasnya Patih Suwanda yang begitu dibanggakan dan dicintainya, Sang Prabu Harjuna Sasrabahu terluka hatinya. Maka segera dia turun tangan sendiri untuk menghadapi Sang Angkara Murka raja Ngalengkadiraja. Kemarahannya terhadap perbuatan Rahwanaraja yang bertindak semaunya sendiri tanpa peduli tata susila dan tanpa berperikemanusiaan, membuatnya triwikrama. Badannya meraksasa seperti gunung menjulang tinggi.

Triwikramalah Sang Prabu ! Dengan mudahnya dikejar dan ditangkapnya Raja Alengka, kemudian diikat dan diseret di belakang kereta. Prabu Dasamuka hanya mampu merintih dan meraung kesakitan sepanjang jalan.

Nun di tempat terpisah, Kalamarica, abdi kinasih Rahwana raja, melihat gustinya tertangkap, seketika muncul rekadaya untuk membalas tindakan Raja Maespati itu terhadap gustinya. Kalamarica adalah seorang raksasa yang sakti dan pintar, namun kepintarannya itu sering dimanfaatkan untuk merekayasa perbuatan yang curang dan penuh tipudaya. Maka dengan kesaktiannya, segera dia menuju Taman Sriwedari dengan menyamar sebagai seorang prajurit Maespati yang terluka. Diberitakannya kepada para abdi emban yang melayani Dewi Citrawati, bahwa Sang Prabu Harjuna Sasrabahu telah tewas di pertempuran dan juga sebentar lagi Sang Rahwana Raja akan segera menuju taman untuk mengambil dengan paksa Sang Dewi untuk dijadikan tawanan dan sekaligus akan diperistrinya.

Maka mengetahui kabar yang sangat penting itu, kemudian Kalamarica dihadapkan kepada Dewi Citrawati. Dengan badan yang penuh dengan darah karna terluka dan seolah menahan sakit sehingga suaranya terputus-putus, mengadulah Kalamarica

“Dhuh Kusuma Dewi sesembahan kawula! Jagad sampun mangertosi manapa ta ingkang ingaran tiyang ingkang dados bebandan. Pakarti menapa ingkang badhe kasandhang dening Paduka Sang Kusuma Dewi, menawi Prabu Rahwana manjing salebeting Taman Sriwedari. Paduka Kusuma Dewi pinasthi badhe kapatrapan tindak siya, kadi dene putri tetelukan. Mboten saged kagambaraken, nestapa ingkang badhe sinandhang ing paduka mangke!”

“Duh Kusuma Dewi sesembahan hamba ! Jagad telah menyaksikan bagaimana nasibnya orang yang menjadi tawanan. Perlakuan apa yang akan diterima terhadap paduka Kusuma Dewi, pabila nanti Prabu Rahwana telah berada di dalam Taman Sriwedari ini. Paduka akan menerima perlakuan yang sangat buruk, seperti halnya putri taklukan. Tak terbayangkan, nista dan nestapa yang akan paduka alami” Continue reading Ramayana [18]

Lokapala [4]


Batara_Kuwera

Bareng lakune tekan ing tepis-wiringing piaja Ngalengka, barisan wadyabala Lokapala dialang-alangi dening wadya raseksa kang njaga tapel-watesing nagara, tinindhihan dening Marica, satemah dadi pancakara. Amarga karoban lawan, wadyabala Ngalengka kasoran. Marica mlayu menyang kadhaton Ngalengka, ngaturi priksa marang Prabu Sumali yen ana mungsuh teka saka nagara Lokapala, lakuning barisane rnungsuh wis ngliwati tapel-watesing praja.

Midhanget ature Mirica, Prabu Sumali gugup panggalihe, enggal-enggal nimbali Mintragna lan liya-liyane para gegedhunging wadyabala, didhawuhi mepak wadyabala, pinerang dadi rong bregada. Kang sabregada kadhawuhan nempuh mungsuh ana ing sajaban kutha, kang sabregada pacak-baris ana ing sakubenge dhatulaya.

Ora kacarita ramening campuhe wadyabala Ngalengka lumawan wadyabala Lokapala. lng sakawit perange wadyabala Ngalengka tansah unggul; akeh wadyabala Lokapala kang palastra. Nanging bareng Prabu Wiisrawana nyalirani perang, wadyabala Ngalengka keseser, kepeksa ngunduri pangangsege wadyabala Lokapala.

Undure wadyabala Ngalengka nenangi adrenging panggalihe Resi Wisrawa nedya nyalirani perang. Sawise cancut taliwanda, Sang Resi tumuli mangsah yuda.

Bareng priksa ingkang rama nyalirani perang, dukane Prabu Wisrawana kaya diububi. Sang Prabu banget ora sranta panggalihe, kumudu-kudu enggai bisa midana marang ingkang rama. Awit saka iku, wadyabalane tumuli diabani sumisih. Wadyabala Lokapala piyak ngiwa-nengen, satemah Prabu Wisrawana banjur ayun-ayunan karo ingkang rama.

“Bapa awatak slingkuh, kepatuh nletuh atindak rusuh !” Mangkono panguman-umane Prabu Wisrawana marang ingkang rama, banjur nglepasake jemparing dahana. Sang Resi prayitna, enggal-enggal nglepasake Barunastrso rninangka panulaking jemparing dahana.

Nganti suwe perange Resi Wisrawa lumawan ingkang putra Prabu Danaraja, padha ngadu tyasa arebut prabarwa, padhadene ngetokake aji kamayan lan pangabaran. Suwe-suwe Prabu Danaraja entek sabare, kapengin tumuli mungkasi yuda. Awit saka iku, Sang Prabu banjur ngetokake sanjata pamungkas, yaiku Kunta Baswara. Bareng priksa ingkang putra ngasta sanjata Kunta Baswara, Resi Wisrawa enggal-enggal ngeremake netra, panggalihe pasrah-sumarah marang kang murbeng bawana, wis nyipta manawa bakal tumuli palastra ketaman Kunta Baswara. Continue reading Lokapala [4]

Dasamuka Ucul !!!


Berikut adalah pagelaran Wayang kulit Langen Purwa yang dipimpin oleh Ki Dalang H. Mansur dari Gegesik Kidul Cirebon dengan lakon Dasamuka Ucul.

H.  MANSUR

DALANG WAYANG PURWA

Wayang Kulit Cirebon, hidup dan berkembang bersamaan dengan masuk dan berkembangnya agama Islam di Cirebon yang dibawa para Wali. Berdasarkan sejarah (babad Cirebon), Pakeliran wayang Kulit pertama di Cirebon dilakukan oleh Sunan Panggung atau Sunan Kalijaga sebagai dalangnya diringi gamelan sekaten Cirebon.

Dari pengaruh ajaran agama yang dibawa Wali Saga itulah sehingga muncul tambahan tokoh panakawan menjadi sembilan yakni  Semar, Curis, Bitarota, Ceblok, Dawala, Cungkring, Bagong, Bagal Buntung, dan Gareng. Kehadiran sembilan panakawan ini didasarkan pada lambang Wali Sanga, hal ini disebabkan masyarakat Cirebon percaya bahwa awal keberadaan agama Islam di Indonesia ini karena jasa-jasa para Wali Sanga.

Dengan semakin eratnya hubungan maka antara pakeliran wayang kulit Cirebon dengan kehidupan masyarakatnya, seni lukis wayang cirebonpun ikut berkembang. Hal tersebut terjadi karena hasil seni lukis wayang tidak hanya dibutuhkan dalang sebagai alat pagelarannya, tetapi juga diminati oleh masyarakat penggemarnya untuk dipajang dan dinikmati keindahannya.

Pakeliran Wayang Cirebon sampai sekarang masih bertahan hidup walau perkembangannya sangat lamban. Kehidupan Wayang Cirebon ini tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat setempat untuk melaksanakan upacara-upacara adat antara lain Sedekah Bumi, dengan menampilkan lakon Bumi Loka, Mapag sri, dengan menampilkan lakon Sri Sedana, Barikan, dengan menampilkan lakon Barikan, Nadran (sedekah laut) menampilkan lakon Budug Basu dll.

Pengaruh dari kondisi masyarakat yang demikian tersebut menimbulkan semakin besarnya minat masyarakat untuk mengapresiasi pakeliran wayang maupun seni lukis wayang sebagai imbasnya.

Wayang kulit adalah salah satu kesenian rakyat yang ada di Indramayu dan Cirebon. Salah satu wayang kulit yang terkenal adalah wayang kulit Langen Purwa yang dipimpin oleh Ki Dalang H. Mansur dari Gegesik Kidul Cirebon. Alur cerita atau tema yang disajikan dalam wayang kulit selalu berkisah tentang tindak tanduk, laku lampah manusia di dalam kehidupan sehari-hari. Cerita wayang kulit umumnya diambil atau berdasarkan cerita Mahabarata atau Ramayana.

Wayang kulit merupakan tontonan yang bisa menjadi tuntunan karena ceritanya yang penuh filosofi. Memang cerita wayang kulit yang diambil dari Mahabarata atau Ramayana adalah cerita warisan hindu, namun dalam alur cerita yang disampaikan dalang selalu berdasarkan nilai-nilai Islam karena umumnya dalang yang ada di Indramayu dan Cirebon beragama Islam.

Beberapa waktu lalu media ini ngobrol banyak dengan figure seorang dalang wayang yang hingga kini namanya tetap melekat di dunia seni wayang, yakni Ki Dalang Mansur.

Dirinya berharap agar kesenian wayang tetap eksis maka jalan keluarnya Para seniman khususnya dalang wayang harus lebih meningkatkan Sumber Daya Manusia, acara penyajian terus dialog wayang, dalangnya jangan sekedar ngomong asal asalan harus di menej terlebih dahulu.

Pimpinan Grup wayang kulit langen purwa yang didirikannya pada bulan Januari 1974 ini hingga sekarang masih tetap berkibar walau rasio naik panggung sedikit menurun, mengingat perkembangan jaman, pun demikian hiburan seni wayang tidak padam berkat ketekunan dan polesannya.

H Dalang Mansur yang lahir di daerah Gegesik tahun 1950 sudah eksis jadi dalang wayang sejak tahun 1969 konon sebelum jadi dalang, Mansur terlebih dahulu menimba ilmu dari nol dimulai dari jadi nayaga terlebih dahulu.

Dalam sebuah data yang ia catat secara baik ada 30 sampai 40 judul lakon atau cerita wayang yang sudah di rekam dalam bentuk kaset sejak 1980 hingga 2001

Saat di Tanya tentang asal nama langen purwa H Mansur mengatakan nama langen purwa di ambil asal kata langen ( kata orang Cirebon inget/terkenang – red) purwa itu kawitan jadi kesimpulannya teringat sejak kawitan/ sejak awal, dirinya harus dapat menarik penonton sejak awal, langen penonton terkesan dengan penampilan kita, papar H Mansur terkenang.

Dirinya bercerita bahwa pada tahun 1984 grup wayang langen purwa masuk pada masa keemasan atau masa kejayaan, pada saat itu di nobatkan sebagai juara tiga sekaligus dalang pavorit karena nyambung dengan penonton  dalam pino cakrama tingkat Jawa Barat, sementara untuk Juara satu di raih ki dalang keraton Kasepuhan dan juara dua dalang dari Keraton Kacirebonan, berkat seni wayang pula pada 1987 berangkat haji pun mendapatkan biayanya dari hasil jadi dalang.

Pada saat jaman keemasan tersebut sekitar antara tahun 1984 dan 1985 dalam sebulan hanya ada libur pada malam jum”at saja, grup wayang langen purwa hari harinya dipenuhi dengan tampilan di berbagai daerah, seperti Tegal hingga Banten dan termasuk wilayah III Cirebon, bahkan  Subang dan Karawang, dalam hal lakon cerita, semuanya terserah tuan rumah ( yang punya hajat ) pihaknya berusaha untuk menuruti permintaan lakon dari tuan rumah kalau toh tidak mampu maka tetap dirinya mengkomunikasikan dengan tuan rumah untuk mencari solusi terbaik, kata H Mansur.

Soal tariff yang di patok pada tahun 1974 tidak sebesar sekarang, bahkan pada tahun 1974 H Mansur walau sebagai dalang dia hanya mendapat bayaran sama dengan harga nayaga pengendang, Harga hiburan wayang pada tahun 1974 kira kira seribu lima ratus rupiah jauh beda dengan sekarang.

Harga Sekarang hiburan wayang langen purwa apabila tampil siang malam dengan pesinden kenamaan hj Itih S sebesar sepuluh juta rupiah pun demikian tetap memperhitungkan jauh dekat lokasi hajat.

H Dalang Mansur kategori seorang praktisi menjadi dalang wayang dengan system otodidak  pendidikan Cuma SMP tapi darah seninya dari Ibu ( maestro tari topeng ) dulunya jadi guru tari topeng putra putri Keraton Kanoman

Sebagai seorang dalang yang banyak pengalaman dirinya mengatakan juga bahwa kehidupan Wayang sifatnya pluktuatif, ketika muncul kesenian lain seperti sandiwara dan orgen dangdut hiburan wayang purwa tetap ada tidak hilang, begitu hiburan yang lain menurun wayang naik lagi, Yang lainnya seperti genjring acrobat, saat hiburan tersebut tersisih wayang tetap muncul kembali seperti sedia kala, Hingga kini hiburan wayang tetap eksis untuk saat ini dalang muda masih tetap menampilkan kepiawaiannya.

Walau usianya sudah tidak muda lagi namun H Dalang Mansur kini masih tetap manjak (tampil)  tidak kurang sekitar enam kali bahkan lebih dalam sebulannya, dan komponen wayang Gegesik yang kerap di mainkannya semua lakon dilayani artinya baik lakon pakem maupun lakon carangan, jelas Ki Dalang Mansur. ( BN. 02 )

Ramaparasu [9] : Kang Wus Padha Sumeleh


by MasPatikrajaDewaku

Kacarita tandhing tyasa ing antarane Patih Suwanda lawan Parabu Dasamuka dedreg umyeg anggenirisi. Senajanta dedeging sarirane Patih Suwanda kang prasasat gedhene amung sakpupuning Prabu Dasamuka ya Sang Rahwana Raja, nanging tetela lamun Patih Suwanda saguh anrenggalangi krodane Prabu Dasamuka kang tandange liwung kaya pangamuking singa barong. Patih Suwanda kang putus ing saliring agal lembat senajana mangkana, nanging bawane eling marang pangandikane kang rayi, Bambang Sukasarana, meksa ana rasa kang anggelayut ing telenging ati. Rasa kang aweh sasmita menawa ing kene wus tiba wahyaning mangsa kala, lamun kudu tumuli kumpul bareng kang rayi, munggah ing swargaloka.

Geter pater sarirane Bambang Sumantri kawimbuhan ing pamawas, menawa wiwaraning swarga wus menga lan ing kana ana wewujudaning keng rayi Bambang Sukasrana kang mesem angawe-awe. Mangkana lena pangindhane Bambang Sumantri nalika Prabu Rahwana nggigit janggane. Siyung mingis kang kembeng ing wisa mandi tumancep ing jangga,  kabarakot ponang jangga, sirna marga layu Bambang Sumantri apengawak kusumaning negara. Surak mawurahan ambata rubuh sanggyaning wadya bala Ngalengka Diraja, wruh yen ta tetungguling senapati Maespati wus sirna marga layu.

Sakala pepes barisaning prajurit Maespati kang wruh lamun tetungguling yuda wus kapupuh ing adilaga. Sanajan ta wus ngetog sakehing kekuwataning baris, nanging pangamuking wadya saka ing Ngalengka kang nyata liwung tan ana nganggo paugeraning aprang, meksa prajurit Maespati pada mundur lumaris salang tunjang pati-pati ambentusi.

Nanging ora kandheg amung samana tandange Rahwana Raja, senajanta wus sirna Patih Suwanda, raga maksih kapotheng-potheng, kajuwing lan kabalang-balang ing rananggana.

Continue reading Ramaparasu [9] : Kang Wus Padha Sumeleh

Ki Sugino SC Dasamuka Gugur


Berikut adalah koleksi dari Radio Samhan yang di kirim oleh Kang Bawor Samhan berupa pagelaran wayang kulit gagrak banyumasan bersama dalang Ki Sugino Siswocarito dengan mengambil lakon “Dasamuka Gugur’

Sumber Gambar : http://wayang.files.wordpress.com/2010/07/dasamuka2.jpg

Selamat menikmati

Mewakili para sutresna wayang di blog ini, kami ucapkan terima kasih kepada Radio Samhan, khususnya Kang Bawor.

Matur nuwun

Prabu Dasamuka


http://edisicetak.solopos.com/jajawa/keluaran.asp?id=12392

Prabu Dasamuka ratu sesongaran lan daksiya

Jenenge wektu lair yakuwi Rahwana, nanging amarga duweni rai cacah sepuluh, dheweke uga sinebut Dasamuka.

Rahwana utawa Dasamuka iki nduweni ibu jenenge Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali raja Alengka. Bapake Resi Wisrawa, brahmana ing padhepokan Dederpenyu. Manawa digeret garis turunan saka ibune, Dasamuka isih kepetung keturunan Bathara Brahma.

Prabu Dasamuka duwe garwa Bathari Tari, putri Sanghyang Indra. Saka jejodhoan iki sajane nurunake putri titisan Dewi Widowati, nanging amarga arep dirabi dhewe dening Dasamuka, bayi sing lair saka Dewi Tari iki banjur dijupuk Gunawan Wibisana lan dilarung sajroning kupat sinta. Ari-arine disabda dadi bayi lanang lan diwenehi kekuwatan saka mendhung utawa mega. Mula iku, putra Dasamuka iki dijenengake Megananda utawa Indrajit.

Garwa selire Dasamuka akeh banget, antarane Dewi Sayempraba, putri Prabu Wisakarma saka nagari Guwa Windu. Dewi Urangayung, putri Sanghyang Baruna lan nurunake Arya Bukbis. Dewi Pratalawati putri Sanghyang Manikem, nurunake Raden Pratalamaryam. Garwa selir liyane antarane nurunake putra Trinetra, Trisirah, Trimurda, Trikaya lan liya-liyane.

Dasamuka duwe sedulur yakuwi Raden Kumbakarna, Dewi Sarpakenaka lan Gunawan Wibisana. Dene sedulur tunggal bapak beda ibu yakuwi Prabu Wisrawana lan Prabu Danapati, loro-lorone dadi ratu ing nagara Lokapala.

Nalika Prabu Sumali seda, Rahwana jumeneng nata ing Alengka, sesandhingan karo patih Prahasta sing kepetung isih paklike dhewe. Watake Prabu Dasamuka kaya ora ana apike babar pisan. Sesongaran lan seneng daksiya, seneng mateni uwong kanthi cara sing kejem. Dasamuka duwe aji-aji Pancasonya saka Resi Subali. Kasektene aji Pancasonya iki ndadekake Dasamuka ora bisa mati sasuwene awake isih kena lemah.

Saperangan korban sing dipateni Prabu Dasamuka antarane Prabu Danapati raja Lokapala sing isih sedulur dhewe, Bambang Sumantri utawa patih Suwanda saka nagara Maespati. Prabu Banaputra raja Ayodya lan Resi Rawatmaja amarga prakara wanita, yakuwi rebutan Dewi Raguwati. Dene pusaka sing kanggo mateni para korbane, awujud pedang sing jenenge Mentawa.

Prabu Dasamuka sing kepengin duwe garwa jilmane Dewi Sri Widowati banjur nglamar putri nagara Ayodya sing jenenge Dewi Sukasalya utawa Dewi Raguwati, putri Prabu Banaputra. Dewi Sukasalya dijaluk peksa sahengga njalari perang antarane rong nagara kuwi mau. Prabu Banaputra wusanane gugur disabet pedang Mentawa. Resi Rawatmeja sing ngukuhi Dewi Sukasalya uga nemoni pati ing tangane Dasamuka. Dene Dewi Sukasalya njaluk tulung marang Resi Dasarata, lan ing tembe mburi wong loro kuwi bisa jejodhoan lan nurunake Sri Rama.

Ing Serat Ramayana dicritakake manawa Dasamuka kasil anggone nyolong Dewi Shinta, garwane Sri Rama. Wusanane banjur njalari perang gedhen. Ing perang kuwi, Dasamuka bisa dipateni dening Sri Rama. ::Damar Sri Prakoso::

http://www.bausastra.com/main/index.php?do=view&id=4

Dasamuka

Adalah tokoh wayang cerita Ramayana, Dasamuka atau Rahwana adalah putra Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali raja negara Alengka. Ia mempunyai tiga orang saudara kandung masing-maasing bernama: Arya Kumbakarna, Dewi Sarpakenaka dan Arya Wibisana. Dasamuka juga mempunyai saudara seayah lain ibu bernama Wisrawana (Prabu Danaraja) raja negara Lokapala, putra Resi Wisrawa dengan Dewi Lokawati.

Dasamuka berwatak angkara murka, ingin menangnya sendiri, penganiaya dan penghianat. Berani dan selalu menurutkan kata hati. Ia sangat sakti. Memiliki Aji Rawarontek dari Prabu Danaraja dan Aji Pancasona dari Resi Subali. Dasamuka menjadi raja negara Alengka mengantikan kakeknya, Prabu Sumali dengan menyingkirkan pamannya, Prahasta. Ia membunuh Prabu Danaraja kakak tirinya dan merebut negara Lokapala.

Dasamuka pernah menyerang Suralaya dan memperoleh Dewi Tari, putri Bathara Indra dengan Dewi Wiyati yang menjadi istrinya dan berputra Indrajid (Megananda). Dasamuka juga menikah dengan Dewi Urangrayung, putri Bagawan Minalodra dan berputra Pratalamayam. Dari beberapa orang istri lainnya, Dasamuka berputra antara lain: Yaksadewa, Trisirah, Trimuka dan Trimurda. Dasamuka sangat menginginkan dapat memperistri wanita titisan Bathari Sri Widowati. Ia pernah mengejar-ngejar Dewi Kusalya, ibu Prabu Rama dan kemudian menculik serta mensekap Dewi Sinta, istri Prabu Rama selama hampir 12 tahun di taman Hargasoka negara Alengka.