Tag Archives: cirebon

Dasamuka Ucul !!!


Berikut adalah pagelaran Wayang kulit Langen Purwa yang dipimpin oleh Ki Dalang H. Mansur dari Gegesik Kidul Cirebon dengan lakon Dasamuka Ucul.

H.  MANSUR

DALANG WAYANG PURWA

Wayang Kulit Cirebon, hidup dan berkembang bersamaan dengan masuk dan berkembangnya agama Islam di Cirebon yang dibawa para Wali. Berdasarkan sejarah (babad Cirebon), Pakeliran wayang Kulit pertama di Cirebon dilakukan oleh Sunan Panggung atau Sunan Kalijaga sebagai dalangnya diringi gamelan sekaten Cirebon.

Dari pengaruh ajaran agama yang dibawa Wali Saga itulah sehingga muncul tambahan tokoh panakawan menjadi sembilan yakni  Semar, Curis, Bitarota, Ceblok, Dawala, Cungkring, Bagong, Bagal Buntung, dan Gareng. Kehadiran sembilan panakawan ini didasarkan pada lambang Wali Sanga, hal ini disebabkan masyarakat Cirebon percaya bahwa awal keberadaan agama Islam di Indonesia ini karena jasa-jasa para Wali Sanga.

Dengan semakin eratnya hubungan maka antara pakeliran wayang kulit Cirebon dengan kehidupan masyarakatnya, seni lukis wayang cirebonpun ikut berkembang. Hal tersebut terjadi karena hasil seni lukis wayang tidak hanya dibutuhkan dalang sebagai alat pagelarannya, tetapi juga diminati oleh masyarakat penggemarnya untuk dipajang dan dinikmati keindahannya.

Pakeliran Wayang Cirebon sampai sekarang masih bertahan hidup walau perkembangannya sangat lamban. Kehidupan Wayang Cirebon ini tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat setempat untuk melaksanakan upacara-upacara adat antara lain Sedekah Bumi, dengan menampilkan lakon Bumi Loka, Mapag sri, dengan menampilkan lakon Sri Sedana, Barikan, dengan menampilkan lakon Barikan, Nadran (sedekah laut) menampilkan lakon Budug Basu dll.

Pengaruh dari kondisi masyarakat yang demikian tersebut menimbulkan semakin besarnya minat masyarakat untuk mengapresiasi pakeliran wayang maupun seni lukis wayang sebagai imbasnya.

Wayang kulit adalah salah satu kesenian rakyat yang ada di Indramayu dan Cirebon. Salah satu wayang kulit yang terkenal adalah wayang kulit Langen Purwa yang dipimpin oleh Ki Dalang H. Mansur dari Gegesik Kidul Cirebon. Alur cerita atau tema yang disajikan dalam wayang kulit selalu berkisah tentang tindak tanduk, laku lampah manusia di dalam kehidupan sehari-hari. Cerita wayang kulit umumnya diambil atau berdasarkan cerita Mahabarata atau Ramayana.

Wayang kulit merupakan tontonan yang bisa menjadi tuntunan karena ceritanya yang penuh filosofi. Memang cerita wayang kulit yang diambil dari Mahabarata atau Ramayana adalah cerita warisan hindu, namun dalam alur cerita yang disampaikan dalang selalu berdasarkan nilai-nilai Islam karena umumnya dalang yang ada di Indramayu dan Cirebon beragama Islam.

Beberapa waktu lalu media ini ngobrol banyak dengan figure seorang dalang wayang yang hingga kini namanya tetap melekat di dunia seni wayang, yakni Ki Dalang Mansur.

Dirinya berharap agar kesenian wayang tetap eksis maka jalan keluarnya Para seniman khususnya dalang wayang harus lebih meningkatkan Sumber Daya Manusia, acara penyajian terus dialog wayang, dalangnya jangan sekedar ngomong asal asalan harus di menej terlebih dahulu.

Pimpinan Grup wayang kulit langen purwa yang didirikannya pada bulan Januari 1974 ini hingga sekarang masih tetap berkibar walau rasio naik panggung sedikit menurun, mengingat perkembangan jaman, pun demikian hiburan seni wayang tidak padam berkat ketekunan dan polesannya.

H Dalang Mansur yang lahir di daerah Gegesik tahun 1950 sudah eksis jadi dalang wayang sejak tahun 1969 konon sebelum jadi dalang, Mansur terlebih dahulu menimba ilmu dari nol dimulai dari jadi nayaga terlebih dahulu.

Dalam sebuah data yang ia catat secara baik ada 30 sampai 40 judul lakon atau cerita wayang yang sudah di rekam dalam bentuk kaset sejak 1980 hingga 2001

Saat di Tanya tentang asal nama langen purwa H Mansur mengatakan nama langen purwa di ambil asal kata langen ( kata orang Cirebon inget/terkenang – red) purwa itu kawitan jadi kesimpulannya teringat sejak kawitan/ sejak awal, dirinya harus dapat menarik penonton sejak awal, langen penonton terkesan dengan penampilan kita, papar H Mansur terkenang.

Dirinya bercerita bahwa pada tahun 1984 grup wayang langen purwa masuk pada masa keemasan atau masa kejayaan, pada saat itu di nobatkan sebagai juara tiga sekaligus dalang pavorit karena nyambung dengan penonton  dalam pino cakrama tingkat Jawa Barat, sementara untuk Juara satu di raih ki dalang keraton Kasepuhan dan juara dua dalang dari Keraton Kacirebonan, berkat seni wayang pula pada 1987 berangkat haji pun mendapatkan biayanya dari hasil jadi dalang.

Pada saat jaman keemasan tersebut sekitar antara tahun 1984 dan 1985 dalam sebulan hanya ada libur pada malam jum”at saja, grup wayang langen purwa hari harinya dipenuhi dengan tampilan di berbagai daerah, seperti Tegal hingga Banten dan termasuk wilayah III Cirebon, bahkan  Subang dan Karawang, dalam hal lakon cerita, semuanya terserah tuan rumah ( yang punya hajat ) pihaknya berusaha untuk menuruti permintaan lakon dari tuan rumah kalau toh tidak mampu maka tetap dirinya mengkomunikasikan dengan tuan rumah untuk mencari solusi terbaik, kata H Mansur.

Soal tariff yang di patok pada tahun 1974 tidak sebesar sekarang, bahkan pada tahun 1974 H Mansur walau sebagai dalang dia hanya mendapat bayaran sama dengan harga nayaga pengendang, Harga hiburan wayang pada tahun 1974 kira kira seribu lima ratus rupiah jauh beda dengan sekarang.

Harga Sekarang hiburan wayang langen purwa apabila tampil siang malam dengan pesinden kenamaan hj Itih S sebesar sepuluh juta rupiah pun demikian tetap memperhitungkan jauh dekat lokasi hajat.

H Dalang Mansur kategori seorang praktisi menjadi dalang wayang dengan system otodidak  pendidikan Cuma SMP tapi darah seninya dari Ibu ( maestro tari topeng ) dulunya jadi guru tari topeng putra putri Keraton Kanoman

Sebagai seorang dalang yang banyak pengalaman dirinya mengatakan juga bahwa kehidupan Wayang sifatnya pluktuatif, ketika muncul kesenian lain seperti sandiwara dan orgen dangdut hiburan wayang purwa tetap ada tidak hilang, begitu hiburan yang lain menurun wayang naik lagi, Yang lainnya seperti genjring acrobat, saat hiburan tersebut tersisih wayang tetap muncul kembali seperti sedia kala, Hingga kini hiburan wayang tetap eksis untuk saat ini dalang muda masih tetap menampilkan kepiawaiannya.

Walau usianya sudah tidak muda lagi namun H Dalang Mansur kini masih tetap manjak (tampil)  tidak kurang sekitar enam kali bahkan lebih dalam sebulannya, dan komponen wayang Gegesik yang kerap di mainkannya semua lakon dilayani artinya baik lakon pakem maupun lakon carangan, jelas Ki Dalang Mansur. ( BN. 02 )

Wayang Cepak


Asal-usul wayang cepak di Cirebon bermula ketika Élang Maganggong, putra Ki Gendeng Slingsingan dari daerah Talaga, berguru agama Islam kepada Suta Jaya Kemit, seorang upas (sama dengan satpam sekarang) di Gebang yang pandai mendalang. Élang Maganggong di kemudian hari menurunkan ilmunya kepada Singgih dan keturunan-keturunan Singgih yang berkedudukan di Desa Sumber, Kecamatan Babakan. Peristiwa inilah yang membuat wayang cepak menyebar ke beberapa wilayah Cirebon bagian Timur seperti Waled, Ciledug, Losari dan Karang Sembung, serta Cirebon bagian Barat yang meliputi daerah Kapetakan dan Arjawinangun.

Wayang ini terbuat dari kayu, yang ujungnya tidak runcing (cepak = bhs Sunda / papak = bhs Jawa). Itulah sebabnya maka wayang ini disebut wayang cepak atau wayang papak. Dilihat dari bentuknya, wayang cepak diperkirakan merupakan pengembangan dari wayang kulit, wayang golek atau wayang menak yang berpusat di daerah Cirebon. Wayang cepak biasanya membawakan lakon-lakon Menak, Panji, cerita-cerita babad, legenda dan mitos. Tetapi, di daerah Cirebon sendiri, wayang cepak lebih banyak melakonkan babad Cirebon, juga babad Mekah dan Pamanukan yang disampaikan dengan bahasa Jawa Cirebon.

Pertunjukan wayang cepak Cirebon dewasa ini kurang mendapat sambutan. Pertunjukannya hanya terbatas pada upacara adat seperti Ngunjung Buyut (nadran, ziarah), acara kaul (nazar) dan ruwatan (ngaruwat = melakukan ritus inisiasi), yaitu menjauhkan marabahaya dari diri sukerta (orang yang diruwat). Dan orang yang diruwat ini biasanya berupa: wunggal (anak tunggal), nanggung bugang (seorang adik yang kakaknya meninggal dunia) atau suramba (empat orang putra), surambi (empat orang putri), pandawa (lima putra), pandawi (lima putri), talaga tanggal kausak (seorang putra diapit dua orang putri), dan lain sebagainya.

Dalam pertunjukannya di masyarakat, wayang cepak Cirebon memiliki struktur yang baku. Adapun susunan adegan wayang cepak Cirebon secara umum sebagai berikut :

  1. Tatalu, dalang dan sinden naik panggung, gending jejer / kawit, murwa, nyandra, suluk / kakawen dan biantara;
  2. Babak unjal, paseban, dan bebegalan;
  3. Nagara sejen;
  4. Patepah;
  5. Perang gagal;
  6. Panakawan / Goro-goro;
  7. Perang kembang;
  8. Perang Raket;
  9. Tutug.

Waditra yang mengiringi wayang cepak pada awalnya berlaras pelog, tetapi karena untuk menyesuaikan situasi dan kondisi, waditra yang dipakai diberi berlaras salendro. Waditra ini meliputi gambang, gender, suling, saron I, saron II, bonang, kendang, jenglong, dan ketuk. Sementara beberapa lagu yang mengiringi pertunjukan wayang cepak, di antaranya Bayeman, Gonjing, Lompong Kali, Gagalan, Kiser Kedongdong dan lain-lain.

http://sunda.web.id/kesenian-jawa-barat/wayang-cepak-cirebon/