Tag Archives: bima

Werkudara (1)


Sosok dan Kiprah Werkudara

Bima2

Siapa yang tak kenal dengan Werkudara ?

Ketika lahir, ia terbungkus. Segala senjata pusaka tak dapat memecahkannya. Ia dibawa ke tengah hutan Tegrakan. Di sana ia dapat keluar dari bungkusnya karena dibelah dengan gading seekor gajah yang bernama Sena, yang akhirnya menjanma kepadanya. Selanjutnya ia diberi nama Sena. Sena dilahirkan di negeri Astina yang pada waktu itu sedang berperang melawan Prabu Tremboko di negeri Pringgadani, yang kemudian Prabu Tremboko kalah dan binasa oleh bayi Sang Sena.

Dalam lakon Bale Sigala-gala, ia mendapat petunjuk dari Dewa, untuk menyelamatkan ibu dan saudara-saudaranya dengan mengikuti Garanganseta, musang putih malihan Raden Sanjaya putera dari Sang Widura. Setelah Garanganseta hilang ia sudah sampai di Kahyangan Saptapratala, kemudian ia kawin dengan Dewi Nagagini, Raja dan Dewa di Saptapratala, yang akhirnya ia berputra Aria Anantaraja.

Kemudian Raja raksasa Ekacakra, sang kanibal, Raja Baka pun akhirnya tewas ditangan Sang Werkudara, yang berakibat kemerdekaan bagi rakyatnya akan kesewenang-wenangan pemerintahan rajanya, menghilangkan ketakutan menjadi persembahan sang raja yang doyan daging manusia ! (lakon Bima bumbu)

Dalam lakon Jagal Bilawa ini dapat membunuh jagoan Sang Kenca dan Kencaka bernama Rajamala. Juga Sang Kenca dan Kencaka beserta tentaranya yang akan merebut kekuasaan Kerajaan Prabu Matswapati lebur punah oleh Sang Sena. Sebagai tanda terima kasih, para Pandawa mendapat hadiah hutan Endraprasta (Babad Pandawa).

Dalam lakon Kangsa Adu Jago, ia pernah dipinjam oleh Prabu Basudewa, diadu lawan jagonya Kangsa yang bernama Suratimantra.

Lakon Pandawa Timbang, ia mempunyai kesaktian dimana beratnya melebihi Kurawa yang seratus orang itu.  Continue reading Werkudara (1)

KSSC : Srenggini Takon Bapa (Part I)


By MasPatikrajaDewaku

Raden Srenggini Banyumasan – Putrane Raden Werkudara

Kang, mpun madan suwe nggih mboten sowan penjenengan sedaya.

Ning seniki kula sowan malih, kalih mbekta lakon ringgitan teksih saking Ki Sugino, sing critane khas Banyumasan banget. Srenggini Takon Bapa, Part One!

Kenging napa kula sebat Part One, sebab sejatine niki onten Part Two-ne, tapi sepuluh kinapakna , sing Part Two, kula dereng angsal. Trima kriyin nggih! Wong ontene nggih sing bagiyan sepisanan niki. Tapine menawi onten sing ajeng setor sing lanjutane, kula nggih mboten nolak koh.

Critane kepripun si, ngantos kalih ndalu angger digelar? Niku si saged sagede sing ngripta mawon. Tapi tela enggih koh, lakone dawa . . . . !

Sareng kalih gerahe Werkudara, putrane, Srenggini, pamit kalih Ibu lan Eyange kepengin kepanggih kalih ramane onten Jodipati. Teng ngriki sanggite Ki Suginio nggene nglampahaken pamite Raden Srenggini kalih ibune meh persis kalih nalika pamite Raden Suryakaca teng lakon Aji Candrawirayang. Tapi senajan memper, penggemar Ki Gino mesti mboten nate bosen.

Mboten gampil nggene kepanggih, Raden Srenggini kalih ramane, Raden Werkudara. Dereng ngantos ketemu kesatrian Jodipati, Srenggini mpun ketemu kalih barisan Kurawa sing depimpin kalih Pendita Drona. Cilakane ketemune kalih Aswatama.

Aswatama nyacat Srenggini sing jere Srenggini niku menusa tugelan. Sebabe Srenggini duwe sungut, totok, capit kalih insang. Lah Srenggini sing nyawang Aswatama sing mboten ngilo, sebab sikile Aswatama dudu sebaene sikil, wujude tracak jaran. Ganti Aswatama sing  diarani menungsa tugelan, kalih Srenggini.

Aswatama ya jengkel ganti dicacat! Ora  trima, dadi pancakara. Kurawa klebu srayane, Prabu Gardapati karo Wersaya, klakon dikalahena karo Srenggini sing pancen sekti mandraguna. Jere dalange sih; tan tedhas tapak paluning pandhe sisaning gurinda.

Pedita Drona klepekan, ngetrapena karti sampeka, Srenggini diapus krama senajan a’a u’u anggone nglomboni, tapi sekang dayane ajian dhuyung kasihan, wusanane Srenggini njur kepikut. Dadi lulut!

Kocapa, neng kesatrian Jodipati, Raden Werkudara nglembarah, ajeng diarah patine kalih rong pehak. Setunggil sekang Ngastina, setunggil malih sekang Patih Negara Sabrang sing aran Patih Bintulu. Jajal sinten sing kasil!?

Jan ngantos esuk pagelarane tancep kayon, tapine lakon dereng rampung. Sebab Srenggini dureng diaku putra kalih Raden Werkudara sing empun mari anggene nandang raga. Kocapa eyange Srenggini mboten trima, putune mboten diaku putra. Nyepatani wong Pendawa kalih wong Ngastina sami nandang papa cintraka, sing decritakaken teng babak berikut. Ditunggu tanggal mainnya! (nek empun onten sing setor)

Penyuwune panjenengan pada, kula sembadani. Folder niki kula unggah teng Jumbofile sing jere lewih nyaman. Kula  cobi ngangge file kaset side A-B dados setunggil. dados lewih gede per file. Angel? Kesuwen kang . . . . . ! Nggih mangke dicilikena malih sing teng lakon berikutnya!

Terus niki rekamane Stereo apa ora kang? Stereo! Yakin. Senajana onten sebageyan sing madan miring, tapi angger onten malih kaset sing ajeng dikonvert, kula empun gadeh  aji aji sing lewih ampuh dengge ngrampungi gawe.

Continue reading KSSC : Srenggini Takon Bapa (Part I)

Memahami Bima dan Dewa Ruci-nya


by Bram Palgunadi on Wednesday, December 15, 2010 at 1:02pm

Setiap manusia, tanpa mengenal ras, bangsa, suku, dan agama; selalu mempunyai Dewa Ruci-nya sendiri-sendiri. Ia adalah hati kecil kita, yang selalu mengingatkan kita. Ia merupakan mata hati kita, yang selalu melihat secara jernih, segala hal di sekeliling kita, tanpa terpengaruh apapun. Karenanya, Dewa Ruci, selalu ‘manjing’ di dalam diri kita, yang diibaratkan sebagai Bima.

Dewa Ruci mewakili hati kecil kita, yang tidak bisa dibohongi, tidak bisa dibeli, tidak bisa diubah pendiriannya, jujur, dan selalu mengingatkan diri kita tentang berbagai hal yang kita akan, sedang, dan sudah lakukan.

Bima yang ‘orang biasa’, sebenarnya mewakili bagian dari diri ‘wadhag’ kita yang bersikap lugu, jujur, dan apa adanya. Setiap manusia, pasti mempunyai sifat ini, meskipun seringkali tertutup dengan sifat dan peri-laku lainnya yang mendominasi kehidupan kita.

Continue reading Memahami Bima dan Dewa Ruci-nya

Baratayuda [11] : Sihir Sakti Sempani


By MasPatikrajaDewaku

Ketika itu di Pesanggrahan Bulupitu, segala kebijakan gelar perang tetap ada di tangan senapati Pandita Durna. Tekad sang Senapati kali ini adalah hendak mengembalikan nama baik yang tercoreng tebal, setelah kecolongan dengan tewasnya putra Pangeran Pati Astina Raden Lesmana Mandrakumara. Kematian Pangeran Pati yang berbuntut panjang dengan kericuhan di pasanggrahan Bulupitu hingga menewaskan iparnya Krepa dan diusirnya anak semata wayangnya Aswatama, mengharuskan kali ini nama baiknya akan pulih, dengan memenangkan peperangan kali ini.

Maka ditunjuknya pendamping sakti dari negara sebrang.

“Baik, sekarang aku minta anakmas Setyarata dan Setyawarman menjadi pendamping senapati”.

Pandita Durna menujuk  kedua orang yang disebut itu dengan jempolnya. Yang ditunjuk sejenak kaget namun kemudian menjadi berseri seri. Kehormatan sebagai pendamping senapati Durna adalah hal yang merupakan kehormatan tiada tara bagi mereka.

“Sedangkan anakmas Kertipeya akan saya beri tugas khusus untuk menghadang Werkudara agar tidak mudah menumpahkan dendamnya kepada Jayadrata”. Kertipeya mengiyakan dengan perasaan bangga dan keyakinan diri tinggi.

“Dan untuk perkara membekuk Arjuna, menurut telik sandi saat ini Arjuna sedang dalam keadaan tertekan jiwanya dan tidak memperdulikan peperangan, karena kematian anak kesayangannya. Nah dengan keadaan yang dialami Arjuna, akan aku jalankan cara khusus untuk menawan Arjuna, yaitu dengan perangkap asmara.”  Pendita Durna adalah ahli strategi, maka diuraikan kepada kedua pendamping senapati, mengenai strategi yang hendak dirancangnya itu.

“Kalau Arjuna masuk dalam perangkap asmara, maka tak akan lama ia bakal tertawan dan tinggal dengan gampang membunuhnya”. Kembali Pendita Durna berhenti bicara. Kemudian mendekat kearah Prabu Bogadenta. “Bukankan anakmas Bogadenta datang bersama dengan Saudara perguruanmu yang cantik itu? Anak angger Bogadenta dan saudara seperguruanmu akan aku pasrahi untuk menawan Arjuna”.

Bogadenta belum sepenuhnya mengerti akan rancana Pandita Durna “Bagaimana maksud paman Pendita? Apakah aku harus mencari keberadaan Arjuna, dan aku harus bersama Murdaningsih dan gajah tunggangan saudara seperguruanku Murdaningkung, ?

“Benar anakmas, nanti bila Arjuna sudah diketemukan, saudara seperguruanmu harus merayu Arjuna agar lengah, kemudian bunuhlah dengan belalai tunggangan gajah Murdaningkung !”. Durna memutus.

Memang benarlah demikian. Prabu Bogadenta yang datang dari kerajaannya, Turilaya, ke Astina, disertai dengan saudara perguruannya seorang wanita cantik, liar dan sakti bernama Murdanigsih yang memiliki hewan Gajah putih bernama Murdaningkung.

Pertemuan itu terjadi ketika mereka berguru bersama sama menuntut ilmu kanuragan. Bahkan setelah penuh ilmu, mereka dihadiahi suatu ajian, yang membuat mereka akan hidup kembali ketika salah satunya terbunuh, bila salah satunya menetesi air mata kesedihan terhadap kawan seperguruannya

“Kemudian aku utus  anakmas Kertipeya menghadapi Werkudara, secara fisik aku kira tak beda jauh kekuatannya dibanding Werkudara, bila Werkudara sudah dilumpuhkan, maka menawan Puntadewa adalah hal yang sangat mudah !”.

Secara fisik Prabu, Kertipeya memang gagah perkasa tinggi besar sehingga layak ditandingkan dengan Werkudara.

“Nah sekarang anak angger Bogadenta kami persilakan untuk berangkat ke sisi hutan Minangsraya, perbatasan Kurusetra, kebiasaan Arjuna diwaktu sedang sedih, biasanya dia akan pergi ke tempat sepi untuk menyegarkan kembali kelelahan jiwanya”.

Selesai segala petunjuk sang senapati, sambil menghaturkan sembah, mundurlah Bogadenta untuk memenuhi tugas meringkus Arjuna.

Sepeninggal Raja Turilaya, Pandita Durna segera memulai pasang strategi kesukaannya yang dianggap ampuh untuk memenangkan peperangan hari ini. Dalam pikirannya hanya muridnya, Arjuna yang dapat memecah gelar Cakrabyuha, kecuali Abimanyu yang telah tewas di hari kemarin.

“Untuk yang akan melakukan tugas di peperangan Kurusetra, gelar yang hendak aku rakit adalah Cakrabyuha. Walau gelar ini telah dapat diobrak abrik oleh Abimanyu waktu itu, namun akan aku bangun kembali, dengan kepercayaan, tak akan lagi gelar dapat dihancurkan  tanpa adanya Arjuna yang tengah pergi entah kemana, karena setengah gila memikirkan tewasnya anak kesayangannya itu”.

**********

Dilain pihak, Pesanggrahan Randugumbala, Gelar Perang Garuda Nglayang dari pihak Pandawa diterapkan kembali, setelah mengubahnya kemarin hari dengan Supiturang. Dengan sayap kanan ditempati Raden Werkudara, dan disebelah kiri, karena ketiadaan Arjuna, adalah Arya Setyaki sebagai pengganti. Paruh garuda ditempati Sang Senapati Raden Drestajumna sedangkan pada ekor ditempati oleh Wara Srikandi.

Continue reading Baratayuda [11] : Sihir Sakti Sempani

KHS : A.N.T.A.S.E.N.A


Masih bersama Ki Hadi Sugito. Sekarang tentang Antasena, anak Werkudara.

Dikoleksi sebelumya sudah ada lakon tentang kelahiran Antasena dan Antasena Ngraman.

Kali ini kami sharing masih tentang Antasena :

Password 4shared silahkan lihat di Milis Paguyuban Pecinta Wayang

http://id.wikipedia.org/wiki/Antasena

Anantasena, atau sering disingkat Antasena adalah nama salah satu tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam naskah Mahabharata, karena merupakan asli ciptaan para pujangga Jawa. Tokoh ini dikenal sebagai putra bungsu Bimasena, serta saudara lain ibu dari Antareja dan Gatotkaca.

Dalam pewayangan klasik versi Surakarta, Antasena merupakan nama lain dari Antareja, yaitu putra sulung Bimasena. Sementara menurut versi Yogyakarta, Antasena dan Antareja adalah dua orang tokoh yang berbeda.

Akan tetapi dalam pewayangan zaman sekarang, para dalang Surakarta sudah biasa memisahkan tokoh Antasena dengan Antareja, sebagaimana yang dilakukan oleh para dalang Yogyakarta.

Antasena adalah putra bungsu Bimasena atau Wrekodara, yaitu Pandawa nomor dua. Ia lahir dari seorang ibu bernama Dewi Urangayu putri Batara Mintuna. Bima meninggalkan Urangayu dalam keadaan mengandung ketika ia harus kembali ke negeri Amarta.

Antasena lahir dan dibesarkan dalam naungan ibu dan kakeknya. Setelah dewasa ia berangkat menuju Kerajaan Amarta untuk menemui ayah kandungnya. Namun saat itu Bima dan saudara-saudaranya sedang disekap oleh sekutu Korawa yang bernama Ganggatrimuka raja Dasarsamodra.

Antasena berhasil menemukan para Pandawa dalam keadaan mati karena disekap di dalam penjara besi yang ditenggelamkan di laut. Dengan menggunakan Cupu Madusena pusaka pemberian kakeknya, Antasena berhasil menghidupkan mereka kembali. Ia juga berhasil menewaskan Ganggatrimuka.

Antasena kemudian menikahi sepupunya yang bernama Janakawati putri Arjuna.

Antasena digambarkan berwatak polos dan lugu, namun teguh dalam pendirian. Dalam berbicara dengan siapa pun, ia selalu menggunakan bahasa ngoko sehingga seolah-olah tidak mengenal tata krama. Namun hal ini justru menunjukkan kejujurannya di mana ia memang tidak suka dengan basa-basi duniawi.

Dalam hal kesaktian, Antasena dikisahkan sebagai putra Bima yang paling sakti. Ia mampu terbang, amblas ke dalam bumi, serta menyelam di air. Kulitnya terlindung oleh sisik udang yang membuatnya kebal terhadap segala jenis senjata.

Antasena dikisahkan meninggal secara moksa bersama sepupunya, yaitu Wisanggeni putra Arjuna. Keduanya meninggal sebagai tumbal kemenangan para Pandawa menjelang meletusnya perang Baratayuda.

Ketika itu Wisanggeni dan Antasena menghadap Sanghyang Wenang, leluhur para dewa untuk meminta restu atas kemenangan Pandawa dalam menghadapi Korawa. Sanghyang Wenang menyatakan bahwa jika keduanya ikut berperang justru akan membuat pihak Pandawa kalah. Wisanggeni dan Antasena pun memutuskan untuk tidak kembali ke dunia. Keduanya kemudian menyusut sedikit-demi sedikit dan akhirnya musnah sama sekali di kahyangan Sanghyang Wenang.

Tirta Pawitra Mahening Suci


Sepenggal kisah dari lakon Ki Nartosabdho – Dewa Ruci, kisah penuh nilai dan petuah bagi kita semua dalam menjalani hidup dan kehidupan.

Sang Bima nyemplung di samudra nan ganas mengikuti perintah gurunya, Begawan Durna, untuk mencari “air kehidupan” guna menggapai kesempurnaan hidup, Tirta Pawitra Mahening Suci. Badan terombang-ambing dihempas dan diterjang ganas ombak, seolah kapas dipermainkan tiupan angin kencang di angkasa nan maha luas. Werkudara sudah pasrah akan nasib dirinya. Namun tekadnya sungguh luar biasa, tidak goyah oleh kondisi tubuh yang makin lemah.

Tiba-tiba dihadapannya, muncullah seekor naga yang luar biasa besarnya menghadang laju Bima. Kyai Nabat Nawa, naga raksasa itu, langsung menyerang sosok kecil dihadapannya dan menggigit betis Adik Yudhistira itu. Belum cukup dengan itu, diraihnya badan Werkudara untuk dibelit dengan maksud menghancurkan raga manusia yang menjadi mangsanya.

dewarucibbima

Namun badan Werkudara tidak ikut hancur karena tekadnya tidak lantas luntur. Semangatnya untuk mengabdi kepada guru begitu kuat mengalahkan rasa sakit serta rasa lelah yang sangat. Dikerahkan segala upaya, dikumpulkan seluruh tenaga untuk melepas himpitan naga. Berhasil ! Seketika kemudian Bima melesat menuju leher sang naga untuk ditikam dengan kuku Pancanaka.

Raung kesakitan yang memekakan telinga mengiringi jatuhnya sang naga. Mengiringi kematian badan raksasa itu hingga mengambang memenuhi pandangan. Disekelilingnya, air laut memerah oleh darah.

Werkudara begitu lelah. Sudah hilang kesadarannya. Serasa jiwa melayang, tidak ingat apakah masih hidup atau sudah tiada. Cukup lama jiwa sang ksatria itu melanglang tak tentu rimba.

Hingga saat tersadar, betapa terkejut Bima ketika dirinya merasa menginjak tanah, menapak kembali kehidupan. Pandangannya melihat bahwa dirinya berada dalam suatu pulau kecil ditengah lautan luas di dasar samudra itu. Alangkah indahnya pulau itu yang disinari oleh cahaya-cahaya kemilau menghiasi nuansa sekeliling.

Saat rasa begitu terbuai oleh ketakjuban, tiba-tiba Bima semakin dikejutkan oleh datangnya Bocah Bajang yang diiringi oleh cahaya yang mengalahkan cahaya yang ada. Cahaya diatas Cahaya. Bojah Bajang itu sungguh kecil, terlalu kecil bila dibandingkan dengan perawakan Bima. Bocah Bajang berjalan perlahan menghampirinya.

Continue reading Tirta Pawitra Mahening Suci