Tag Archives: baratayudha

KHS : Perang Baratayudha


Episode perang Baratayudha bersama Ki Hadi Sugito :

karna-arjuna

Sebelum : Kresna Duta : http://www.4shared.com/folder/Ko0jUBM7/021.html

Babak 1: Seta Gugur : http://www.4shared.com/folder/O6wX3hUU/033.html

Babak 2: Tawur (Bisma Gugur)

Babak 3: Paluhan (Bogadenta Gugur) : http://www.4shared.com/folder/XBKpgPvc/014.html

Babak 4: Ranjapan (Abimanyu Gugur) : https://indonesiawayang.com/2010/01/11/ki-hadi-sugito-abimanyu-ranjap/

Babak 5: Timpalan (Burisrawa Gugur atau Dursasana Gugur)

Babak 6: Suluhan (Gatotkaca Gugur) : https://indonesiawayang.com/2010/01/13/ki-hadi-sugito-gatotkaca-gugur/

Babak 7: Karna Tanding : https://indonesiawayang.com/2010/01/18/ki-hadi-sugito-karno-tandhing/

Babak 8: Rubuhan (Duryudana Gugur) : https://indonesiawayang.com/2010/05/23/khs-suyudana-gugur/

Babak 9: Lahirnya Parikesit

KNS : Banjaran Karna


Karna jangkah Solo

Bercerita Karna adalah bercerita tentang kepedihan dan kesedihan
bertutur Basukarna adalah bertutur tentang mendua tutur kata dan rasa hati
mengenang Suryatmaja adalah mengenang kepahlawanan dan pengorbanan

Dengarkanlah ..
suara hati Sang Karna saat sua dengan ibunda sejati jelang Baratayudha
walau hasrat tuk bersimpuh di kaki ibunda Kunthi begitu membuncah
memeluk dan bermanja di dada ibunda yang melahirkannya
ingin di belai rambutnya dengan kasih sayang yang tiada diperolehnya saat masa kecilnya dahulu
namun sikap tegasnya
tetap mengatakan TIDAK untuk bergabung dengan saudara-saudaranya Pandawa

Dengarkanlah …
bagaimana curahan hatinya kepada Kresna saat menyengaja bertemu dengannya jelang Baratayudha
bagaimana dirinya tetap keukeuh agar Baratayudha tetap terjadi
agar angkara murka yang ada pada Prabu Duryudana dapat sirna
walaupun itu …
akan mengorbankan dirinya sebagai tumbal
ah …
tiada mengapa
biarlah adik-adiknya saja yang meraih kemenangan

Dan dengarlah dialog dirinya dengan adiknya Arjuna jelang pertempuran di Kurusetra (Karno Tanding)

“Mari aku dandani kamu sebagaimana layaknya seorang senapati, dan akulah yang akan menjadi kusirmu”.

Selesai berdandan busana Keprajuritan, segera mereka menaiki kereta Prabu Kresna, kereta Jaladara. Kereta perang dengan empat ekor kuda yang berasal dari empat benua yang berwarna berbeda setiap ekornya, merupakan hadiah Para Dewa. Bila dibandingkan dengan kereta Jatisura milik Adipati Karna yang telah remuk dilanda tubuh Gatutkaca, kesaktian kereta Jaladara bisa berkali kali lipat kekuatannya.

Suasana berkembang makin hening, diangkasa telah turun para dewata dengan segenap para durandara dan para bidadari. Mereka hendak menyaksikan peristiwa besar yang terjadi dipadang Kuru. Sebaran bunga bunga mewangi turun satu satu bagai kupu kupu yang beterbangan.

Karna yang melihat kedatangan Arjuna berhasrat untuk turun dari keretanya. Kresna yang melihat keraguan memancar dari wajah Arjuna mengisyaratkan untuk menyambut kedatangannya. Berkata ia kepada Arjuna

“Lihat! Kakakmu Adipati Karna sudah turun dari kereta perangnya, segera sambut dan ciumlah kakinya”.

Arjuna segera turun berjalan mendapatkan kakak tertua tunggal wadah dengannya

“Baktiku kanda Adipati”, Arjuna duduk bersimpuh dihadapan Adipati Karna setelah menghaturkan sembahnya.

“Arjuna, seumpama aku seorang anak kecil, pastilah aku sudah menagis meraung raung. Tetapi beginilah orang yang menjalani kewajiban. Aku bela bela diriku membutakan mata menutup rasa hati untuk mencapai kamukten. Sekarang aku sudah mendapatkannya dari Dinda Prabu Duryudana. Dan sekarang aku harus berhadapan dan tega berkelahi sesama saudara sekandung!”. Karna menumpahkan isi hatinya.

“Kanda Adipati, hamba disini memakai busana senapati bukan untuk menandingi paduka kanda Prabu. Tetapi membawa pesan dari ibu kita, Kunti, untuk kembali berkumpul bersama saudara paduka Para Pandawa. Air mawar bening pembasuh kaki sudah disiapkan oleh adik adik paduka, Kanda Adipati”. Arjuna mencoba meluluhkan hati kakak tunggal ibu itu.

Kembali Adipati Karna menegaskan apa yang terasa didalam hatinya. “ Lihat, air mataku jatuh berlinangan. Tetapi aku katakan, tidak tepat apa yang kamu katakan. Sudah berulang kali kamu memintaku untuk berkumpul bersama sama dengan saudaraku Pandawa. Begitu juga dengan Kanda Prabu Kresna, yang ketika itu datang kepadaku dan bicara empat mata. Sekarang sama halnya dengan dirimu, yang juga kembali mengajakku untuk berkumpul bersama. Bila aku menuruti permintaanmu, hidupku akan seperti halnya burung yang ada dalam sangkar emas. Tetapi hidupku tidak bisa bebas. Hidupku hanya kamu beri makan dan minum belaka. Apakah kamu senang bila mempunyai saudara dengan keadaan seperti yang aku katakan?”.

Sejenak mereka berdua saling berdiam diri. Sesaat kemudian Karna melanjutkan.”Tak ada seorangpun didunia ini yang dapat mengantarkan aku menuju alam kematianku, kecuali hanyalah dirimu, dinda Arjuna! Dan bila aku nanti mati dalam perang tanding itu, sampaikan baktiku pada ibunda Kunti, yang tak sekalipun aku memberi ketentraman batin dalam hidupnya . . . “

Serak terpatah patah suara Adipati Karna ketika ia melanjutkan curahan isi hati terhadap Arjuna.

Kembali susana menjadi hening. Akan tetapi tiba tiba ia berkata dengan nada tegas. “Hari ini adalah hari yang baik. Ayolah kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih perwira, lebih bertenaga, lebih sakti!”.

“Kanda, berikan kepadaku seribu maaf atas kelancangan hamba berani dengan saudara yang lebih tua”. Kembali Arjuna menghaturkan sembah, berkata ia, yang kemudian mengundurkan diri kembali menaiki kereta Jaladara.

Maka perang tanding dengan andalan ketepatan menggunakan anak panah berlangsung dengan seru. Keduanya sesama putra Kunti tidak sedikitpun berbeda ujudnya dalam busana keprajuritan. Keduanya menggunakan topong yang sama, sehingga banyak prajurit yang sedari tadi berhenti menonton sulit untuk membedakan yang mana Arjuna dan manakah yang Karna, kecuali pada kereta yang dinaikinya.

Kisah hidup Karna dapat dinikmati pada pagelaran wayang bersama Ki Nartosabdho pada lakon Banjaran Karna, disini

http://www.4shared.com/folder/D7kn9Hkq/02_online.html

KNS Lampahan Menjelang dan Jalannya Baratayudha (New)


Drupada Duta

Masa pembuangan Pandawa segera berakhir. Masa 12 tahun terbuang di tengah hutan dan kemudian 1 tahun menyamar telah dilalui dengan baik meskipun kenelangsaan dan kepahitanlah yang selalu diterima.

Bahkan masa 1 tahun menyamar yang dilakukan Pandawa di negri Wiratha nyaris membuka kedok Pandawa pada peristiwa penyerangan Kurawa dibantu Prabu Susarma ke negri Wiratha.

Pandawa mengirimkan ibunya Kunthi dan kemudian Prabu Drupada untuk mengambil hak atas Indraprasta yang tergadai saat kalah main dadu (lakon Pandawa Dadu).

KARNO DUTA

Prabu Duryudana memanggil Prabu Baladewa untuk dimintakan wawasan terkait dengan keinginannya untuk menghindarkan perang Baratayudha. Prabu Baladewa memberikan pandangan bahwa sumber permasalahan adalah pada hak sebagian negara Astina. Perang akan gagal bila Prabu Duryudana menyerahkan hak atas sebagian negri Astina kepada Pandawa.

Namun Prabu Duryudana keukeuh atas pendiriannya untuk meminta cara selain itu. Bagaimana cara lainnya selain menyerahkan sebagian negri Astina atau dengan kata lain cara lain untuk membatalkan perang Baratayudha tanpa membicarakan masalah hak tanah Astina. Terjadi perdebatan yang sengit antara para Kurawa, Karna, Sengkuni, Dorna dan Baladewa yang tidak memperoleh titik temu karena kerasnya pendirian pihak Kurawa.

Kemudian Karna menawarkan diri untuk memberikan solusi yaitu dengan pura-pura akan memboyong ibundanya yaitu Dewi Kunthi untuk dimulyakan di negri Astina dengan harapan Pandawa tidak akan menuntut haknya lagi.

Kresna Gugah

Prabu Kresna adalah sosok kunci dalam memenangkan perang Baratayudha. Begitu keyakinan dari Kurawa. Sehingga dengan memohon bantuan Prabu Baladewa, raja Mandura kakak Kresna, kemudian para Kurawa beserta rombongan besarnya, Patih Sakuni, Prabu Karna, Pandita Dorna, menuju bale kambang tempat Prabu Kresna tengah mengasingkan diri untuk mengheningkan cipta mohon petunjuk Dewata.

Dengan berbagai cara, baik secara halus maupun dengan kasar mereka mencoba membangunkan Kresna. Namun tidak bisa sehingga menimbulkan kemarahan Kurawa.

Disaat lain, Pandawa-pun mengunjungi tempat yang sama. Namun dengan sikap yang berbeda mereka berusaha membangunkan Kresna. Bagaimana jalan ceritanya ?

Kresna Duta

Kresna Duta (Singo Barong)

Kisah terkenal ini dibawakan KNS dengan indahnya.

Pandawa masih berniat baik dan mengunggulkan persaudaraan sebagai sikap untuk menghindarkan perang saudara. Meskipun dewi Kunthi dan Prabu Drupada telah gagal sebagai duta untuk membicarakan masalah hak atas tanah Astina dengan membawa kepedihan atas penghinaan dari pihak Kurawa, namun Pandawa tetap berbesar hati untuk mengupayakan kembali kerukunan antar saudara.

Maka kemudian di utuslah Prabu Kresna sebagai duta yang akan menyelesaikan masalah ini.

Abimanyu Gugur

Perang Baratayudha memang sungguh kejam. Putra-putra terbaik dari pihak Pandawa dan Kurawa serta pendukungnya, banyak berguguran.

Dari puluhan, ratusan mungkin ribuan prajurit, terdapat satu satria pinilih dari Pandawa yang kemudian dijadikan sebagai Panglima Perang yaitu Abimanyu, putra Arjuna bersama Wara Sumbadra.

Satria gagah perkasa dengan kesaktian luar biasa namun akhirnya gugur secara tragis. Kisah gugurnya dapat dibaca dari tulisan MasPatikrajaDewaku

Suluhan Gatotkaca Gugur

Kembali putra Pandawa pinunjul gugur. Gatotkaca, satria Pringgondani, putra Bima bersama Arimbi, yang menjadi Senapati pihak Pandawa menemui ajal di tangan Prabu Karna, pamamnya sendiri.

Perang sudah tidak pesuli lagi akan pertalian darah dan persaudaraan. Penuh haru, bertebar pilu dengan kematian Gatotkaca. Silahkan nikmati alur cerita gugurnya Sang Pahlawan disini.


Durna Gugur
Durna Gugur
Kisah menyedihkan gugurnya Guru Negara Astina, Begawan Durna, yang tiada lain adalah guru Pandawa Kurawa di tangan Drestajumna. Kematian yang sangat mengenaskan dialami Durna sebagai akibat dari tingkah polah dan ketidakadilan sikapnya. Rasa cinta kepada anaknya, Aswatama, sebagai sebab kematiannya.

Karno Tanding

Karno Tanding (Singo Barong)

Sama-sama tampan, sama-sama sakti dan sama-sama putra Dewi Kunthi, itulah sosok Karna dan Arjuna. Namun sungguh menyesakan, keduanya harus saling berhadapan sebagai musuh dalam Baratayudha.

Penuh adegan kepahlawanan, nilai kemanusiaan, jiwa satria utama dan lara hati seorang Kunthi yang menyaksikan kedua anaknya berhadapan tuk saling bunuh dalam keharusan.

Salya Suyudana Gugur

Episode akhir perang Baratayudha.

Duryudana telah kehilangan banyak andalannya. Bisma, Jayadrata, Durna, Karna telah tewas digilas perang.

Andalan yang dipunyai tinggal menyisakan mertuanya yaitu Prabu Salya. Namun suasana justru diperkeruh dengan kecurigaan yang diletupkan oleh Aswatama terkait dengan kematian Karna yang menurutnya adalah sebab kelicikan Prabu Salya. Silahkan dialog dan ceritanya oleh MasPatikrajadewaku di sini.

Hingga kemudian Prabu Salya menjadi Senapati dengan tidak sepenuh hati. Tentu tidak lepas dipikirkan keponakannya, anak Pandu bersama Madrim adiknya, Nakula Sadewa.

Begitupun Duryudana. Setelah menjadi satu-satunya yang tersisa maka dia harus menebus semua perbuatan yang telah dilakukan atas adik-adiknya para Pandawa.

Parikesit Lahir

Akhir perang Baratayudha adalah kepedihan. Meskipun Pandawa memenangkan perang tersebut atas Kurawa, namun yang tersisa adalah kesedihan. Tak terhitung berapa ribu jiwa yang menjadi korban atas perang ini.

Dan itupun belum berakhir. Akibat sifat licik dan dendam Aswatama, para ibu dan anak-anak serta yang tidak ikut dalam perangpun ikut menjadi korban. Keturunan Pandawa menyisakan Parikesit, putra Abimanyu bersama Utari.

Lahire Parikesit (Singo Barong) atau

Lahire Parikesit

KNS : Salya Suyudana Gugur


Duryudana_lawan_Bima

Akhir perang Baratayudha yang dramatis. Diceritakan dengan dialog-dialog yang cerdas dan menawan ala Ki Nartosabdho.

Prabu Salya yang “munafik” beda antara kata dan hati akibat hubungan dekat kekeluargaan antara yang saling berperang, Pandawa Kurawa. Disatu pihak, fisiknya membela Kurawa karena sudah terlanjur terucap janji untuk membela Sang Anak Mantu, Duryudana. Sementara hatinya tetap tertambat pada keponakannya terkasih, Nakula Sadewa di pihak Pandawa. Posisi yang tidak mengenakan dan serba salah.

Pun Duryudana, tetap ingin melanjutkan peprangan meskipun saudara-saudara kandung serta senopati andalannya satu demi satu berguguran, akibat jiwanya yang telah tertutup oleh dendam dan kekuasaan.

Silahkan ikuti drama akhir Baratayudha ini disini

http://www.4shared.com/folder/Mbu8VnMm/18_Salya_Suyudana_Gugur__Pakdh.html (versi 3 File)

atau di sini

http://www.4shared.com/folder/2392l0KZ/18_online.html (versi 16 File)

KNS : Durna Gugur


Durna Gugur

Sumber Gambar : http://maspatikrajadewaku.wordpress.com

Pagelaran wayang lakon Perang Baratayudha “Durna Gugur’ ini adalah koleksi dari Mas Edy Listanto yan gdapat dilihat di http://listantoedy.wordpress.com/2012/03/01/durna-gugur-ki-nartosabdho/.

Atau untuk menikmati silahkan dapat diunduh disini :

http://www.4shared.com/folder/Yr_O6SC_/146.html

<<< ooo >>>

Ranjapan Abimanyu by KMS


Pada bulan kedelapan atas usianya di kala masih di rahim ibunya, Sri Kresna bertutur di hadapan Arjuna, ayahnya. Sebuah suluh minyak jarak menempel di dinding kuil kecil di pinggir hutan itu, di kala Sri Kresna bertutur tentang gelar perang Cakrabyuha. Sebuah gelar perang dengan susunan prajurit perang yang melingkar berlapis membentuk kumparan yang akan mengurung musuh dengan tanpa kesempatan dan harapan untuk melepaskan diri. Sepasang telinga kecil dalam kandungan Subadra, ibunya, dengan takzim mendengarkan penuturan Sri Kresna tersebut. Tak berselang lama ketika Sri Kresna menerangkan tentang cara mematahkan gelar perang Cakrabyuha,  mimpi-mimpi malam telah memeluk Subadra dan anak yang sedang dikandungnya.

Abimanyu, anak Arjuna dari Subadra itu, tumbuh dan besar di Dwaraka dalam pengasuhan ayahnya. Olah kebathinan ia peroleh dari eyang buyutnya, Begawan Abiyasa. Wahyu Makutha Raja, Cakraningrat dan Wahyu Hidayat adalah karomah bathin yang ia dapatkan atas olah bathinnya. Ia menikah dengan Siti Sundari, putri Sri Kresna dan kemudian menetap di Plongkowati.

Bulan separuh purnama telah tancep kayon di ufuk barat. Gemintang terasa kurang di langit malam yang telah beranjak menjelang pagi. Dingin udara membekap padang Kurusetra. Sepi dan sunyi, hanya gemericik sungai Saraswati yang mengalun dari kejauhan. Di masing-masing ujung padang Kurusetra, tampak perapian yang masih menyala dengan lidah api yang hampir putus asa. Berdiri di belakangnya, pakuwon dari kedua belah pihak yang sedang terlibat dalam perang.

Dua belas hari sudah perang berlangsung di padang tersebut. Telah banyak korban atas perang wangsa Kuru itu. Tidak terkecuali eyang dari kedua belah yang sedang berperang, yakni Bhisma yang gugur pada hari kesepuluh dari perang tersebut. Perang saudara dengan tenaga yang tersisa yang telah menihilkan garis kekerabatan masing-masing pihak.

Pada hari ketiga belas, prajurit segelar sepapan Kurawa mengatur diri dengan gelar perang Cakrabyuha di bawah kendali Durna yang bertindak sebagai panglima perang Kurawa sepeninggal Bhisma. Prajurit Kurawa mengurung melingkar berlapis dan menekan pergerakan prajurit Pandawa. Dalam pergerakan prajurit Kurawa yang begitu cepat dan terus mengurung melingkar berlapis sebagai mana kumparan, satu per satu para prajurit Pandawa berjatuhan. Dalam hitungan waktu yang tak berselang lama, semakin banyak prajurit Pandawa yang meregang nyawa. Mereka, para prajurit Pandawa, terjebak dalam gelar perang prajurit Kurawa. Tiada kesempatan dan harapan bagi prajurit Pandawa untuk melepaskan diri dari sergapan musuh. Di depan dan belakang mereka, para prajurit Kurawa dengan kesiagaan yang sempurna senantiasa sigap untuk mengantarkan mereka dalam sekejap ke gerbang kematian.

Porak poranda para prajurit Pandawa, tercerai berai. Tiada lagi gelar perang yang dapat mereka kembangkan dalam perang di hari itu. Sementara para prajurit musuh, gelar perang Cakrabyuha yang mereka bangun tiada cela di dalamnya. Bukan perang brubuhsemestinya pada waktu itu, namun dengan perkembangan keadaan yang sangat tidak menguntungkan bagi  para prajurit Pandawa, suatu keniscayaan jika pada akhirnya perang tersebut menjadi perang brubuh bagi prajurit Kurawa dengan para prajurit Pandawa sebagai korbannya.

Di sisi utara Kurusetra, di kaki sebuah bukit, Yudhistira tertegun sejenak menyaksikan kenyataan itu. Dalam benaknya, hanya Arjuna dan Abimanyu yang dapat mematahkan gelar perang musuh. Yudhistira segera memerintahkan Abimanyu untuk merusak gelar perang para prajurit Kurawa. Sementara pada saat yang bersamaan Arjuna terlibat perang tanding dengan Bhagadatta.

Dengan berharap perlindungan dari empat Pandawa lainnya, Abimanyu merangsek dan mencoba merusak gelar perang musuh. Namun upaya perlindungan terhadap Abimanyu adalah kesia-siaan. Jayajatra menghadang empat Pandawa itu. Abimanyu terjebak seorang diri dalam gelar perang yang mulai mengepung dirinya. Dua kuda kereta perangnya telah mati setelah dibunuh prajurit lawan. Di samping kereta perangnya yang telah lumpuh, Abimanyu mencoba bertahan dari gempuran para prajurit Kurawa yang yang tak terhitung jumlahnya. Sementara Laksmana, putra Duryudana, berdiri pada lapis ketiga dari prajurit Kurawa yang menyerang Abimanyu.

Abimanyu terus bertahan dari gempuran musuh. Sementara empat Pandawa lainnya masih terhadang oleh Jayajatra dan para prajuritnya. Sesaat di tengah upayanya untuk bertahan, Abimanyu mencoba mengecoh perhatian prajurit musuh dengan melemparkan sebilah keris yang ia genggam di tangan kirinya ke arah Laksmana. Dengan sebelumnya menembus dua prajurit Kurawa, keris itu dengan tepat menghunjam ke dada Laksmana. Tersungkurlah Laksmana dengan dada bersimbah darah oleh keris Abimanyu.

Terperanjat Duryudana menyaksikan putera kesayangannya terbunuh dengan tragisnya. Kemurkaannya meluap, segera ia perintahkan segenap prajurit Kurawa untuk menyerang Abimanyu. Tanpa kecuali Sang Maharesi Durna dan Basukarno. Atas saran Durna, Basukarno menghancurkan busur Abimanyu dari belakang. Kereta perangnya yang tersisa dihancurkan dan semua senjatanya terbuang. Sebuah peperangan yang sudah lagi tidak mengindahkan aturan perang. Prajurit Kurawa menyerang Abimanyu secara serentak. Dengan kemampuan yang tersisa, Abimanyu dapat bertahan sampai pedangnya patah menjadi dua bagian dan roda kereta perang yang ia gunakan sebagai perisai hancur berkeping-keping. Sesaat kemudian, ratusan anah panah mengarah ke segenap bagian tubuh Abimanyu. Ia roboh bersimbah darah dengan luka di sekujur tubuhnya dan tanpa satupun bagian tubuhnya yang luput dari anak panah yang menghunjam.

Kakawin Bharatayudha menuturkan : “Ri pati Sang Abhimanyu ring ranangga. Tənyuh araras kadi cewaling tahas mas. Hanana ngaraga kalaning pajang lek. Cinacah alindi sahantimun gininten.” Ketika Abimanyu terbunuh dalam pertempuran, badannya hancur. Indah untuk dilihat bagaikan lumut dalam periuk emas. Jasadnya terlihat dalam sinar bulan dan telah tercabik-cabik, sehingga menjadi halus seperti mentimun.

Satu tahun sebelum perang itu, di hadapan Dewi Utari yang hendak dipinangnya, Abimanyu bersumpah bahwa ia bersedia menerima ranjapan senjata dalam suatu peperangan apabila ia berkata tidak jujur bahwa ia belumlah menikah. Sementara pada masa yang sama, Siti Sundari telah menjadi istrinya. Barang kali apa yang terjadi di padang Kurusetra itu adalah kepastian akan sumpahnya yang tiada tertunda.

Sumber tulisan : http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/04/27/ranjapan-abimanyu/

Sebuah lakon tragis kali ini dibawakan oleh Ki Manteb Sudharsono

silahkan menikmati disini :

link : http://www.mediafire.com/?dha97mpwhe4nv

password : wayangprabu.com

Lakon ini koleksinya Mas Guntur Sragen

KSSC : Gatutkaca Gugur (Suluhan)


Para sutresnane “wayangprabu”,

Kiye siji maning lakon wayangane Ki Sugino Siswocarito, karemane para sedulur wong penginyongan tek unggah neng kene. Mestine njenengan pada seneng angger detambahi koleksi lakon wayangan sekang dalang Gino maning mbokan?. Seeh Gino koh . . .  kaya kuwe mesti monine kakange pada. Gino artine apa si kang? Angger inyong kena njlentrehena artine asma Ki Sugino Siswocarito kaya-kayane sih kaya kiye; Sugino, olih lingga tembung gino, artine guna. Su kuwe artine linuwih utawa pinunjul, Siswo artine murid alias siswa, carito wis ngarani. Dadi karepe kayane si jangkepe kaya kiye; murid sing kagungan kagunan crita sing linewih. Cocog apa karo penemu penjenengan? Angger geseh mangga dikomentari miturut versine penjenengan.

Angger lakon seri Bratayuda Gatutkaca Gugur wis diaturaken neng “wayangprabu”, artine inyong mung kari siji maning sing durung diaturaken maring penjenengan seri Bratayudane Ki Sugino Siswocarito. Sing kari mung lakon Duryudana Gugur alias Rubuhan. Senajana esih ana loro maning jane lakon sing njangkepi seri kiye; lakon Janaka Werkudara kependut karo lakon  Karna Tinanding sing durung ketemu. Njenengan kagungan napa? Mangga di”sharing” neng kene, kaya kaset kiye sing kagungane Mas Mardianto.

Senajana akeh para dalang sing wis manggungena lakon Gatutkaca Gugur alias Suluhan, tapine angger dipanggungena karo Ki Sugino, mestine njenengan pada mesti kepengin ngerti kayangapa sanggite. Mestine si ya ana bae sing ora pada karo alur sanggit crita sekang dalang liyane. Kiye sing wis tau inyong jlentrehaken neng awal unggahan lakon Bratayuda versi Ki Sugino. Senajana kaya kuwe, alur lajere mestine ya ora nyebal adoh sekang pakem lumrah.

Kang, lakon sing dekonvert stereo -ngejreng kiye, jane “bloking”-e ya biasa bae kaya lakon lakon Gatutkarca Gugur sing ditindakena neng dalang-dalang liyane. Kaya dene diwisudane Adipati Karna dadi senapati, ngganti senapati sing gugur sedurunge yakuwe Pendita Drona. Neng kene Adipati Karna diapit senapati loro sing arane Wisatama karo Wisatarlen. Neng wisudan kiye wis ana gegeran sekang beda “sudut pandang” antarane Prabu Salya, Adipati Karna karo senapati pengapit Raden Wisatama karo Raden Wisatarlen. Awal wisudan sing wis derdah umyeg kuwe kayane marakena majune senapati wis ora nyenengena.

Kejaba kuwe, adegane Raden Gatutkaca nggone nyuwun pengestu karo ibune, Dewi Arimbi, angger digatekena jan melasi banget. Bungahe ibune Gatutkaca, sebab anake diajokena dadi senapati agung, kecampur karo rasa uwas kuwatir sing banget, ngendep neng atine Dewi Arimbi. Senajana Putrane wis akeh sangu wujud kagunan aji jaya kawijayan kaya dene Wedhus Prucul, Narantaka, Braja Musti lan liyane, tapi sing jeneng ibu, kayane duwe “indra sing kaping nenem”.

Adegan liyane sing penting, ketemune sukma pamane Gatutkaca sing jeneng KalaBendana, gawe geter atine Raden Gatutkaca. Kepriwe goli ora ngrasa gemeter. Sebab sing wis kepungkur, pamane kuwe wis janji, angger deweke ora bakal munggah maring pangayuaning Pangerane, angger durung gandeng kunca karo keponakane, Raden Gatutkaca.

Pocapan kuwe kewetu neng lakon Gendreh Kencana nalika Gatutkaca mbelani temindake adine, Raden Abimanyu sing ngarah bojo maning, tapi nglombo bojo tuwane, Siti Sendari. Omongane pamane Gatutkaca sing blakasuta, ora gawe rena penggalihe, nganti Kalabendana diprewasa nganti tiwas, ninggal swara janji arep ngajek keponakane bareng, angger wis ana perang gede sing jeneng Bratayuda. Angger crita versine Dalang MasPatikraja linke neng http://wayangprabu.com/2010/09/03/kala-kalabendana-menjemput/

Continue reading KSSC : Gatutkaca Gugur (Suluhan)