Tag Archives: arjuna

Mahabharata 25 – Arjuna dan Pasupata


Arjuna_statue

Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/e/ee/Arjuna_statue.JPG

Di tempat pengasingan di dalam hutan, Bhima dan Draupadi sering bercakap-cakap dengan Yudhistira. Mereka berkata bahwa amarah yang didasari kebenaran adalah benar sedangkan bersikap sabar menerima penghinaan dan pasrah menerima penderitaan bukanlah sifat kesatria sejati. Mereka berdebat sengit sambil mengutip pendapat para arif bijaksana untuk membenarkan pendapat masing-masing. Tetapi, dengan mantap Yudhistira berkata bahwa seorang kesatria haruslah teguh memegang janjinya, bahwa tahan uji adalah kebajikan paling mulia dari segala sifat manusia.

Bhima sudah tidak sabar ingin segera menyerang Duryodhana dan merebut kembali kerajaan mereka. Baginya tidak ada gunanya menjadi kesatria perkasa jika harus hidup mengembara di hutan, tanpa berperang, hanya bertapa bersama para resi dan pendita.

Bhima berkata kepada Yudhistira, “Engkau seperti mereka yang berulang-ulang melantunkan kidung suci Weda dengan suara merdu dan puas mendengar suaramu sendiri walaupun engkau tak mengerti artinya. Otakmu jadi kacau. Engkau dilahirkan sebagai kesatria, tetapi tidak berpikir dan bertindak seperti kesatria. Tingkah lakumu seperti brahmana. Seharusnya kau tahu, dalam kitab-kitab suci tertulis bahwa teguh dalam kemauan dan ulet berusaha adalah ciri-ciri kaum kesatria. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak Dritarastra berbuat curang seenaknya. Sia-sialah kelahiran seseorang sebagai kesatria jika ia tak dapat menundukkan musuh yang licik. Inilah pendapatku.”

“Bagiku, masuk neraka karena memusnahkan musuh yang jahat dan licik sama artinya dengan masuk surga. Hatimu yang lemah membuat kami panas hati. Aku dan Arjuna tidak terima. Hati kami bergejolak. Siang dan malam kami tak bisa tidur.”

Ia berhenti sebentar, menghela napas, lalu melanjutkan, “Mereka orang-orang laknat yang merampas kerajaan kita dengan licik. Kini mereka hidup bergelimang kekayaan dan pesta pora. Tapi… engkau? Lihatlah dirimu! Engkau tergolek pulas seperti ular kobra kekenyangan, tak bisa bergerak. Katamu, kita harus setia pada janji kita. Bagaimana mungkin Arjuna yang masyhur bisa hidup dengan menyamar? Mungkinkah Gunung Himalaya disembunyikan dalam segenggam rumput? Bagaimana bisa Arjuna, Nakula dan Sahadewa yang berhati singa hidup dengan sembunyi-sembunyi? Apa mungkin Draupadi yang termasyhur lewat tanpa dikenali orang? Apa pun usaha kita untuk menyamar, Kaurawa pasti bisa menemukan kita melalui mata-mata mereka. Jadi, tidak mungkin kita bisa memenuhi janji ini. Semua ini hanya alasan untuk mengusir kita selama tiga belas tahun. Kitab suci Sastra membenarkan kata-kataku, yaitu: janji berdasarkan kecurangan bukanlah janji. Engkau harus putuskan untuk menggempur musuh-musuh kita sekarang juga! Bagi kesatria, tak ada kewajiban yang lebih mulia daripada itu.”

Tak jemu-jemunya Bhima mendesak-desakkan pendapatnya. Draupadi juga sering mengingatkan Yudhistira betapa ia telah dijamah oleh tangan-tangan kotor Duryodhana, Karna dan Duhsasana. Ia juga sering mencoba memanas-manasi Yudhistira dengan mengutip nukilan-nukilan kitab-kitab suci. Continue reading Mahabharata 25 – Arjuna dan Pasupata

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (33)


BASUDEWA RAJA solo A 01

“nDara, bagaimana ceritanya tentang istri tercinta nDara Sumbadra ?”

“Wah … panjang Gong jalan ceritanya. Penuh lika likunya. Kamu tahu siapa Sumbadra itu ?”

“Lha inggih pasti tahu ta. Ndara Sumbadra itu putra putrinya Prabu Basudewa raja negri Mandura. Tapi yang saya heran, mengapa waktu kecil dulu sering disebut Rara Ireng ya, ndara ?”

“Aku sendiri dulu nggak lihat Gong, cuman katanya memang dulu tuh waktu kecilnya Sumbadra sering dipanggil Rara Ireng lantaran, katanya lho Gong, katanya dulu wis ireng … elek … bau lagi. Katanya lagi, setelah menjelang dewasa kok berangsur-angsur berubah menjadi jelita, kulitnya jadi kuning langsat, wajahnya ayu bersinar, membuat hati ini jadi terpana”

“Kalau menurut garis keturunan, nDara sebenarnya lebih muda dari nDara Sumbadra kan ?”

“Benar Gong. Ibu Kunti adalah adik dari Prabu Basudewa. Kamu tahu Gong, siapa saja putra dari pakde Basudewa ?”

“Kalau nggak salah, dengan Dewi Mahindra lahir Kakrasana, dari Dewi Badraini mempunyai anak nDara Narayana dan nDara Sumbadra, serta satu lagi Udawa. nDara Udawa itu dari siapa nggih ndara ?”

“Ini sebenarnya rahasia Gong, tapi sudah menjadi pengetahuan umum … he he he … Media gosip juga nggak berani memberitakan ini. Udawa itu, ibunya adalah Nyai Sagopi”

“Lha kok bisa begitu ndara ?”

“Nyai Sagopi itu sebenarnya cuma wiraswara kraton Mandura saja. Tapi menjadi favorit keluarga kerajaan karena suaranya sangat merdu dan menyentuh kalbu dan tariannya juga sungguh sangat indah dan menyenangkan hati bagi sesiapa yang mendengar atau melihatnya. Pun wajahnya dikaruniai keindahan ala rakyat kebanyakan. Hanya dengan busana sekedarnya saja, kecantikannya tidak terbantahkan. Hal-hal inilah yang menyebabkan Pakde terpesona dan kemudian dinikahi secara siri. He he he … tapi dasar Pakde, masih ingat juga bahwa dia juga mempunyai tiga istri yang sah, maka sewaktu sudah hamil, maka direkayasalah untuk diserahkan kepada demang Antagopa di Widarakandang.”

“Oh gitu ya nDara, terus siapa lagi istri yang satu lagi dari nDara Basudewa, kok ndak berputra?”

“Bude Maerah Gong. Sebenarnya Bude mempunyai seorang anak yang bernama Kangsa. Namun kenyataannya, Kangsa itu adalah anak dari Prabu Gorawangsa, seorang raja raksasa dari Guwabarong. Kalau dirunut jalan ceritanya, Bude Maerah nggak salah-salah amat karena diapun diperdaya oleh si Gorawangsa yang menyaru sebagai Prabu Basudewa saat sang prabu sedang berburu di hutan.”

“Terus gimana nDara ?”

“Si Gorawangsa akhirnya ketahuan juga, tapi sudah terlambat, ternyata Bude Maerah hamil. Terus dibuang ke tengah hutan dan ditolong oleh Resi Anggawangsa hingga melahirkan seorang bayi yang berwujud raksasa, yaitu Kangsa tadi”

“Ooo .. begitu ya ndara. Tentunya bakal ramai setelah itu.” Continue reading Wawancara eksklusif bersama Arjuna (33)

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (32)


arjuna subadra

“Ndara Janaka, kula badhe tanglet, mau nanya nih ?”

“Ada apa Gong, tanyalah !”

“nDara menyesal nggak menjadi anak paling bontot dari ibu Kunti ?”

“Lha kok pertanyaanmu aneh tho, Gong. Oh ya .. aku tahu sekarang ! Gara-gara kamu dimarahin sama kakangmu Gareng dan Petruk kemarin tho ?”

“He he he … lha mentang-mentang jadi kakak, mereka bertindak semena-mena. Enak-enak lagi ngorok, dibangunin suruh macul. Apa nggak mangkel nDara !”

“Ya tujuan mereka kan baik, untuk membuat kamu jangan bermalas-malasan. Lagian pertanyaanmu tadi mengapa ditujukan kepadaku ?”

“Kali aja nDara Janaka mengalami hal serupa … he he he”

“Semua sudah ditakdirkan begitu Gong. Lagian jangan dikira enak jadi kakak lho Gong. Mereka harus bertanggung jawab terhadap adik-adiknya. Apalagi kalau jadi mbarep, dia adalah pengganti orang tua kalau bapak ibu kita sudah tidak ada, jadi tanggung jawabnya sangat berat. Jangan engkau melihat enak-enaknya saja menjadi seorang kakak, terus mrentah sakarepe dhewe.”

“Iya nDara, tapi bagi nDara Janaka, menjadi anak nomor tiga kan berarti tidak ada kans utuk menjadi raja tho nDara ?” Continue reading Wawancara eksklusif bersama Arjuna (32)

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (31)


Wisanggeni

Dalam lelapnya, sayup–sayup telinga Dewi Dresanala mendengar suara dua orang yang terdengar sedang membicarakan sesuatu. Secara samar, ia medengar namanya disebut – sebut oleh suara yang ditangkap oleh telinganya itu.

Dengan enggan, Dewi Dresanala membuka matanya yang seolah enggan untuk terbuka. Dengan gerakan malas, Dewi Dresanala mengusap kedua matanya dengan menggunakan punggung telapak tangan kanannya. Sesekali ia menarik nafas, dan mencoba untuk mengembalikan kesadaran dirinya secara perlahan. Ia mencoba untuk mengamati keadaan sekitar, tubuh Dewi Dresanala terbaring di sebuah peraduan yang tampak sangat mewah. Sebuah ranjang empuk yang terbuat dari bulu – bulung angsa, dan sebuah ranjang kayu yang penuh dengan ukiran.

Matanya menelusuri setiap sudut ruangan, ia menemukan bahwa dirinya sedang berada di dalam sebuah ruangan tertutup, sebuah kamar tidur yang cukup mewah, ia menegok ke sebelah kiri, dan mendapati sepasang daun jendela yang cukup besar sedang tertutup, tampak cahaya matahari menyusup masuk diantara daun pintu yang tertutup itu.

Bagaikan disadarkan dari mimpinya, dengan cepat Dewi Dresanala, memegang perutnya, ia meraba perutnya yang tampak buncit itu. Ia menarik nafas lega sembari mengelus perutnya yang mengandung itu, dengan gerakan perlahan, ia menggeser badannya, dan bergerak menuruni tempat peraduannya. Sebuah rasa nyeri tiba–tiba menyerang punggung Dewi Dresanala, dengan merintih tertahan Dewi Dresanala memegangi punggungnya yang berwarna kehitaman, dan lebam itu.

Sesaat dia mengurai kembali, dan mencoba untuk mengkilas balikkan asal–usul, dan penyebab punggungnya meradang itu. Dengan meneteskan air mata, Dewi Dresanala bergumam lirih, “Romo….. Maafkan Putrimu yang tidak tahu bakti ini……”

Dewi Dresanala menarik nafas panjang, lalu ia mengusap matanya yang masih basah itu. Dewi Dresanala merayap turun dari tempat peraduannya, ia merapikan rambutnya yang tergerai liar, ia menggelung, dan mengikat rambutnya dengan rapi, lalu ia bergerak mendekati daun jendela yang tertutup itu. Dengan gerakan halus, Dewi Dresanala mendorong sepasang daun jendela itu dengan lembut. Sinar matahari dengan cepat menyergap, dan memandikan tubuh Dresanala, dengan mata setengah tertutup, Dewi Dresanala tersenyum, sambil menarik nafas panjang.

Lalu ia mengamati keadaan yang tergambar di dalam bingkai jendela itu, ia melihat sebuah keindahan Marcapada yang tergambar jelas. Ia melihat seluruh pemandangan yang ada di hadapannya serba putih tertutup oleh salju tebal yang tampak bersahabat dengan sang Mentari, ia menatap ada beberapa pepohonan, dan tanaman yang mulai merekah indah di dalam gumulan sang salju, dengan tersenyum penuh kebahagiaan, Dewi Dresanala mendengar kicau burung yang tampak sangat menikmati hari yang begitu cerah itu. Continue reading Wawancara eksklusif bersama Arjuna (31)

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (26)


semar mbarang jantur

Sejuknya tempat berteduh membuat para panakawan terlena duduk terkantuk. Sementara Pamadi sendiri duduk berdiam diri. Suasana yang sepi membuat Semar membuka mulut. Ia menyanyikan pupuh Dhandanggula dengan laras pelog. Tangannya mengipas kipaskan daun waru, walau udara sebenarnya sejuk.

Kawruhana sajatining urip

Manungsa ‘ku urip aneng donya

Prasasat mung mampir ngombe,

Upama peksi mabur,

oncat saking kurunganeki,

Pundi pencokan mbenjang,

ywa kongsi kaliru

Upama wong lunga sanja,

jan sinanjan tan wurunga bakal mulih

Mulih mula mulanya.

Mengertilah sejatinya hidup

manusia hidup didunia itu

hanya seperti orang mampir minum

seumpama burung terbang,

lepas dari kurungannya

dimana ia kan bertengger nantinya, 

janganlah sampai keliru

umpama orang bepergian, bergaul,

tidak urung bakal pulang kembali,

pulang ke asal mulanya.

Demikian Semar mengakiri tembang Dhandhanggula, sambil tetap mengipas kipas badannya. Belum puas, satu bait lagi ditembangkannya masih dengan Dhandhanggula-nya

Angudhari wasitaning ati

cumanthaka aniru pujangga

dhahat mudha ing batine

nanging kedah ginunggung

datan wruh yen akeh ngesemi

ameksa angrumpaka,

basa kang kalantur

tutur kang katula tula,

ginalaten winuruk kalawan ririh

mrih padhanging sasmita. . . .

(pupuh ini menyindir para penulis yang berani beraninya menulis disini seperti layaknya seorang pujangga. Walau banyak yang hanya tersenyum melihat kecethekan tulisannya. Tapi kalau dipikir lebih baik bertindak daripada hanya berdiam diri. Bukankah saling berbagi dan mengingatkan lebih bermanfaat dalam memperluas pemahaman tentang hidup dan kehidupan. Continue reading Wawancara eksklusif bersama Arjuna (26)

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (25)


Kartapiyoga Erawati

“Manakah jalannya kanda?” Kata Pamadi. Sebenarnyalah, disamping kata kata Semar yang dari awal mengingatkan agar jangan sampai menyakiti hati wanita, kali ini Pamadi telah terpikat oleh kemanjaan Banuwati.

“Kamu tidak usah mencari kanda Erawati. Kamu beristirahat dahulu. Sedikitnya enam bulan saja, ya!”. Kembali Banuwati menandaskan.

“Baiklah Banuwati”

Maka demikianlah, Pamadi telah dalam tertancap panah asmara yang telah dilepas putri Mandaraka itu. Banowati yang begitu mempesona, telah menyeret Pamadi yang telah rebah itu, ke dunia muda yang belum pernah ia tapaki.

Bujuk rayu Banuwati telah menyebabkan semua yang ada di dalam benaknya sedikit demi sedikit baur yang akhirnya kabur. Pamadi tak bisa lagi membedakan apa yang benar menurut nalar dan jiwa kesatrianya. Kesediaannya untuk pergi mencari Herawati telah luluh terkena oleh gerojok bujuk manis yang begitu menghanyutkan jiwanya.

Maka keduanya telah bergandengan tangan menuju keputren dengan mesranya, layaknya dua orang kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Rasa sungkan Pamade telah hilang. Panah asmara yang sebenarnya telah menancap pada jantung keduanya, telah menjadikan mereka dua orang asmarawan sejati. Saling colek dan saling kerling. Singkatnya benteng asmara Pamadi telah runtuh luluh oleh senyum mesra Banuwati. Begitupun dengan Banuwati, telah lantak rasa kepatutan sebagai wanita lajang. Pesona Pamadi telah menyeretnya jauh dari tatanan susila.

Demikianlah, semakin dalam rasa cinta keduanya telah memabawa mereka ke wilayah yang belum seharusnya mereka masuki. Makin jauh, semakin lupa mereka, bahwa keduanya belum boleh melakukan hal yang tabu. Semalaman mereka bermesraan seperti yang dilakukan oleh penganten baru. Malam dingin keputren Banuwati telah hangat, bahkan panas oleh kobar api asmara keduanya.

Maka ketika ayam jantan telah berkokok untuk terakhir kali dipagi itu, dan ayam betina telah ribut menggugah anak-anaknya dari bawah ketiaknya, Pamadi bangun gelagapan dari tidurnya yang hanya sekejap. Dari tirai tipis jendela kamar terlihat matahari telah mengintip dari balik cakrawala. Ia telah bangun kesiangan. Continue reading Wawancara eksklusif bersama Arjuna (25)

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (24)


Arjuna Banowati
Sementara diluar istana, para punakawan Pamadi yang lain, Gareng, Petruk dan Bagong menunggu dengan tidak sabar. Maka ketika dilihat ayah dan bendaranya, Pamadi, nampak keluar dari pendapa, ketiganya segera menghambur kearah datangnya orang orang-orang yang ditunggu.

“Kok lama tho Rama, ngapain saja di dalam sana” kata Petruk

“Ya bertemu dengan tuan rumah Thole” Semar menjawab seraya tersenyum arif

“Trus bagaimana Rama, tentang lik sayem itu” Bagong ikutan bertanya

“Lik sayem siapa Gong ?”

“Lik sayem putri Mandaraka yang hilang itu, nDara Herawati”

“Sayembara Gong, bukan lik sayem. Sebenarnya begini, momonganmu itu disana malah disuruh jangan ikut-ikutan mencari hilangnya Erawati. Kalau mau beristri cantik pilih saja satu diatara anakku, kata Sinuwun Salya. Kamu mau pilih Surtikanti atau Banuwati silakan saja. nDara Pamadi tetap kukuh. Tapi, menurut gelagat, pasti momonganmu bakal dicegat. Lihat saja.”

“Lha itu apa. ndara, itu siapa yang datang kemari?” Tanya Petruk ketika melihat wanita cantik datang diiring para dayangnya.

Benar saja. Surtikanti bejalan mendekat kearah mereka. Skenario ayahnya telah mendorongnya menemui Pamadi. Setelah mendekat dan Surtikanti tak kunjung membuka mulut, Pamadi menanya terlebih dulu. Continue reading Wawancara eksklusif bersama Arjuna (24)