Tag Archives: arimbi

Ki Hadi Sugito : Arimba Gugur


Prabu Arimba adalah raja Priggodani yang menggantikan ayahnya Prabu Trembaka yang tewas terbunuh saat bertempur melawan Prabu Pandu Dewanata, ayah para Pandawa. Rasa dendam yang begitu dalam untuk membalas kematian ayahnya terhadap Prabu Pandu, terpercik kembali setelah bertemu dengan para Pendawa yang diketahui sebagai anak turun Prabu Pandu. Hingga terjadilah pertempuran antara Arimba dan Bima.

Arimbi, yang adalah adik Arimba sebenarnya bermaksud mencegah pertentangan itu karena telah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Bima nan gagah perkasa

Namun memang sudah harus terjadi bahwa akhirnya Arimba Lena

Banjaran Cerita Pandawa (14)


pandawa 14

Kisah perjalanan Pandawa Lima yang terdiri dari Yudhisthira, Bima, Arjuna, Pingten dan Tangsen dalam upayanya menuju hidup abadi yang membahagiaka. (karya Herjaka HS)

Perkawinam Bima dengan Arimbi

Prabu Matswapati raja Wiratha duduk di atas singhasana, dihadap oleh Seta, Untara dan Wratsangka. Raja memperbincangkan pemberian hutan Wanamarta untuk para Pandawa. Untara Wratsangka disuruh membantu para Pandawa. Mereka minta diri, perundingan dibubarkan, raja masuk ke istana.

Prabu Matswapati menemui permaisuri, lalu bercerita tentang pemberian. tempat tinggal di Wanamarta bagi para Pandawa. Mereka lalu bersantap bersama. Seta, Untara dan Wratsangka bersiap-siap berangkat ke Wanamarta. Setelah siap mereka berangkat.

Raja jin bernama Prabu Parta berbicara dengan Gadhing Pangukir. Kerajaan mereka diganggu oleh manusia. Gading Pangukir menyerang manusia, Bima yang menghadapinya. Gading Pangukir mati oleh Bima, lalu bersatu dengan Bima.

Arimbi menghadap Prabu Arimba bercerita tentang mimpinya. Ia bermimpi bertemu dengan Bima. Prabu Arimba diminta mencarikannya. Raja marah, Arimbi dipukuli. Arimbi lari meninggalkan istana. Brajadenta, Brajamusthi dan Brajakesa disuruh mengejarnya. Mereka bersama perajurit mencari jejak Arimbi.

Arjuna dan panakawan berjalan di hutan Wanamarta. Mereka berjumpa perajurit raksasa dari pringgandani utusan Prabu Arimba. Perajurit raksasa dari Pringgandani utusan Prabu Arimba itu musnah, Togog kembali ke kerajaan.

Continue reading Banjaran Cerita Pandawa (14)

Video Wayang : Madu Segoro


Bagi penggemar wayang kulit gagrak Banyumas, berikut saya menemukan playlist video wayang di Youtube oleh dalang senior Ki Sugino Siswocarito dengan mengambil lakon “Madu Segoro”. Sebagai informasi katanya Pak Gino usianya sudah 70 tahun.

Ceritanya berawal dari jatuh cintanya prabu Winangkara, raja negara Parangtejo, kepada Arimbi. Melalui mimpi Prabu Winangkara telah jatuh cinta kepada sosok Arimbi yang kemudian diketahui sebagai istri dari Werkudoro, satria Pandawa nomor dua.

sugino-madu-segara

Bagaimana kelanjutan dari lakon ini ? Silahkan nikmati sendiri disini. Video disharing oleh suryasatria

Arimbi, Raseksi yang berubah Menjadi Putri


 

arimbi_soloarimbi_raseksi_solo

Arimbi, Raseksi yang berubah Menjadi Putri

Cinta adalah urusan hati. karena itu tidak mengenal kelas tinggi rendahnya derajat, kaya miskin, suku bahkan yang berlainan bangsa. Bila cinta telah bersemi dalam dua hati sulit untuk dipisahkan. Walaupun demikian bukan berarti tidak ada batas kewajaran ketentuan yang hak dan non hak, baik menurut ketentuan adat istiadat maupun azas peradaban manusia.

Tetapi yang namanya cinta terkadang melanggar peradaban hak azasi seperti makhluk raksesa jatuh cinta kepada bangsa manusia. Tentu saja itu hanya terjadi dalam cerita seperti cerita pewayangan raksesi Arimbi jatuh cinta kepada Bima sebagai simbol manusia. Tetapi itu pun hanya merupakan lambang semata.

Awal terjadinya cinta itu ketika kaum Pandawa sedang menjalani hukum buang akibat kalah main judi dengan Kurawa hingga harus menderita merana di hutan belantara. Ketika itu Pandawa bersama ibunya sedang meneduh di bawah sebuah pohon yang daunnya amat rindang. Karena kelelahan yang amat sangat, mereka tertidur dengan lelap hanya Bima yang menjaga menolak bahaya yang mungkin datang. Ternyata mereka berada di daerah kekuasaan raja raseksa yang ganas beranma Arimba penguasa kerajaan Pringgandani.

Continue reading Arimbi, Raseksi yang berubah Menjadi Putri

Gugurnya Gatotkaca: airmata seorang ibu


arimbi_solo1gathutkaca_solo

PAGI ini seluruh keluarga Pandawa berduka. Tadi malam salah satu putra terbaik, Gatutkaca anak Bima tewas di medan perang. Tungku pembakaran jasadnya masih mengepulkan asap, membubung tinggi ke angkasa. Baranya bahkan belum padam. Wewangian merebak dan semua menundukkan kepala. Mungkin aku satu-satunya yang tidak menangis karena bagiku tak ada yang perlu ditangisi. Dia mati dengan hebat, bertempur dengan ksatria yang sama sekali bukan tandingannya, Karna Adipati Awangga, sulung Pandawa yang dibuang ibunya dan memilih bergabung dengan Kurawa. Aku tahu semua alasannya, jadi mengapa kini semua berlomba mengucurkan air mata. Satu-satunya yang berhak menangis adalah Pergiwa, istri Gatutkaca. Dia tidak pernah tahu untuk apa suaminya mati. Dan jika ada orang kedua yang pantas meratapi kematiannya, maka itu adalah aku karena aku yang melahirkannya.

Aku tidak akan lupa anakku lahir menderita. Tali pusatnya tidak terpotong oleh senjata apa pun. Semua keris dan panah terhebat Arjuna, bahkan senjata Cakra Kresna seakan-akan tak memiliki tuah apa-apa. Hanya ada satu senjata yang mampu, pusaka Wijayandanu yang dikuasai Karna. Saat itu Kresna, kiblat Pandawa, berkata, sesungguhnya Wijayandanu adalah hak Arjuna. Merebutnya dari tangan Karna bukanlah sebuah kesalahan. Kakak beradik itu segera terlibat pertarungan sengit. Arjuna hanya berhasil merebut sarung pusaka. Peristiwa itu membuatku percaya bahwa ada garis yang telah ditentukan untuk pilihan-pilihan manusia karena sarung pusaka yang sama sekali tidak tajam itu mampu mengakhiri penderitaan anakku, memotong tali pusarnya dan segera lenyap sesudahnya. Aku tak peduli, hanya melihat ia menjadi bocah kecil, lengkap dengan senyum kanak-kanaknya.

Nasib yang membawanya ke jalan yang lain, sama sekali bukan pilihanku tapi apa daya. Ia terpilih menjadi pembela dewa-dewa di kahyangan. Pracona dan Sekipu, raksasa-raksasa buas itu menyerang kahyangan membuat dewa kalang kabut. Anakku terpilih untuk menghadapi mereka. Permainan apa lagi ini?

Sebagai bayi, anakku memang istimewa. Tubuhnya kukuh mewarisi kekuatan bapaknya. Dan kudengar, saat bertarung dengan raksasa-raksasa itu, taring-taring tajam mereka tak berarti bagi tubuh Gatutkaca.

Aku tidak mau melawan bayi. Jadikan tubuhnya sebanding dengan kami.

Continue reading Gugurnya Gatotkaca: airmata seorang ibu