Tag Archives: abimanyu

MP3 Ki Totok HS – Abimanyu Mbangun Kasatriyan


Sharing dari Radio Suara Parangtritis :

Ki Totok Hadi Sugito - Abimanyu mBangun Kasatriyan

Berikut kami kirimkan audio wayang dari dalang-dalang Yogyakarta yang koleksinya kami dapatkan langsung dari lokasi.

Ijinkan RSP mengucapkan terima kasih kepada Bapak Teguh, Kepala Dukuh Bonorejo Gulurejo Kulonprogo atas segala bantuannya.

Selamat menikmati !

Radio Suara Parangtritis

Rekaman audio Ki Totok HS dengan judul Abimanyu Mbangun Kasatriyan, dalam rangka Merti Dusun Sogan, Wates, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta

silahkan download disini

Sang Pamomong


Punakawan

Wahyu Cakraningrat (4)

Prabawaning wahyu kang sumedya
turun ing mercapada miling-miling wonten ing angkasa
gebyar-gebyar pindha ndaru kang sumedya tumibèng bawana
timbuling prabawa dumadi gara-gara tanpa sangkan
swara kaya mecah-mecahna jagad nganti sumundhul ing kayangan Suralaya
clorooot …. gleger
warda wening sirep kocap gara-gara
swara tanpa una tanpa uni
doh lamun jinarwakna
senajan ta katon slaka, slaka cèlèng
intena, inten bumi
para putra-putra bibar saknalika
pungun-pungun tyasira Ki Lurah Semar kanthi anggana raras

Daya perbawa wahyu yang tengah bersiap
turun ke marcapada, dunia, mencari tempat bersemayam sejati
bersinar cerlang layaknya cahya bintang jatuh
munculnya perbawa menciptakan gara-gara tanpa sebab
bersuara seolah memecahkan jagat dan tembus hingga kahyangan Suralaya
meluncur .. cepat menggelegar ..
sosok tua berparas teduh hening redam gara-gara

—-

Setelah mengerti akan tugasnya dan tlah dibekali ilmu serta pitutur luhur dari ayahnya Arjuna serta para sesepuh lainnya, maka segera Abimanyu menjemput para panakawan untuk mendampinginya dalam perjalanannya menuju TKP. Continue reading Sang Pamomong

Sang Pejuang 3 : Abimanyu


wu87-02-02-abimanyu-text2

Wahyu Cakraningrat (3)

Menjalani kehidupan perkawinan laksana mengendarai bahtera mengarungi samudra lepas nan luas dan ganas. Kadang tenang menghanyutkan disertai dengan pemandangan alam nan mempesona, bertabur gemerlap bintang di malam kelam, ufuk lautan seolah menciptakan batas dengan langit disertai ronanya nan berwibawa. Namun adakalanya badai sesekali melanda disertai hujan deras serta gelegar petir menyambar membuat ciut hati. Yah … begitulah romantika kehidupan manusia. Susah senang, lara bahagia, nelangsa dan suka, datang silih berganti. Akan selalu begitu dan memang sudah ditetapkan demikian. Ibarat sebuah gelombang sinusoida, roda kehidupan berjalan bukan merupakan garis lurus, perjalanan kadang berada di bawah, acap di atas dan suatu kali niscaya berada di tengah.

Begitupun yang dialami Abimanyu dan Siti Sundari. Madu yang tlah direguk dan dinikmati manisnya disaat-saat awal perkawinan, kini mulai berubah menjadi rasa bratawali, pahit. Bulan madu adalah episode yang telah berlalu.

Memang ketulusan cinta mereka berdua tiada bercacat, namun kata orang bijak, rasa cinta bukan satu-satunya perekat dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Ada faktor lain yang mampu menghadirkan kebahagiaan hidup berumah tangga, yaitu kehadiran ANAK. Seorang keturunan penerus garis darah, selalu menjadi dambaan pasangan suami istri. Tak bisa dibayangkan bagaimana keringnya sebuah rumah tanpa celoteh dan tangis si kecil.

Perkawinan yang telah dijalaninya cukup lama, tentu membuat Abimanyu bahagia karena Siti Sundari adalah pilihannya pribadi dan adalah perempuan yang dicintainya. Namun sebuah kabar yang didengarnya kemarin siang, membuatnya seakan kebahagiaan itu tercerabut dari dirinya dan bahkan berubah menjadi kesengsaraan hati. Kabar itu laksana petir di siang hari bolong yang mengejutkan dirinya hingga seolah tiada semangat lagi tersisa dalam menjalani hari-hari di Plangkawati.

Oleh karenanya kemudian dia memutuskan untuk “mengadu” kepada Dewata atas nasib yang tengah disandangnya ini. Dengan khusuk Abimanyu mengheningkan cipta di sanggar pamujan berharap dewata yang agung memberikannya secercah cahaya dan solusi jalan keluar atas masalahnya ini.

Begitupun Siti Sundari. Kabar itu sungguh membuat hatinya hancur lebur berkeping-keping, tercerai berai. Hari-hari yang tlah lalu dan dijalaninya bersama suaminya tercinta seakan menjadikan dirinya adalah wanita yang paling berbahagia di muka bumi ini. Bagaimana tidak ? Suaminya begitu sayang padanya dan memberikan kenikmatan dan kebahagiaan yang tak pernah dialami sebelumnya. Abimanyu adalah seorang satria yang sempurna. Sehat jiwa raga, gagah perkasa dan dikaruniai wajah yang luar biasa tampan. Tentu membuat iri wanita lainnya karna dia memperoleh kekasih yang begitu rupawan dan menawan.

Namun bagaimana sekarang ? Dirinya telah divonis tidak akan dapat melahirkan seorang anak, keturunan yang tentunya menjadi dambaan bagi mereka berdua. Apalah gunanya seorang perempuan yang meskipun dikaruniai kecantikan tiada tara laksana dewi kahyangan namun tidak mampu untuk melahirkan seorang anak ? Bukankah harkat seorang perempuan adalah kemampuan untuk melanjutkan trah garis keturunan suaminya ? (baca kisah Semar Kuning)

Hari-hari Siti Sundari dipenuhi oleh air mata kesedihan. Dirinya belum mampu menerima kenyataan ini. Siapa yang harus disalahkan ? Dirinya ? Ramanyakah ? Atau bahkan dewa yang bertindak tidak adil ? Continue reading Sang Pejuang 3 : Abimanyu

Wahyu Cakraningrat [9]


Punakawan_WP1

Prabawaning wahyu kang sumedya
turun ing mercapada miling-miling wonten ing angkasa
gebyar-gebyar pindha ndaru kang sumedya tumibèng bawana
timbuling prabawa dumadi gara-gara tanpa sangkan
swara kaya mecah-mecahna jagad nganti sumundhul ing kayangan Suralaya
clorooot gleger
warda wening sirep kocap gara-gara
swara tanpa una tanpa uni
doh lamun jinarwakna
senajan ta katon slaka, slaka cèlèng
intena, inten bumi
para putra-putra bibar saknalika
pungun-pungun tyasira Ki Lurah Semar kanthi anggana raras

Daya perbawa wahyu yang tengah bersiap
turun ke marcapada, dunia, mencari tempat bersemayam sejati
bersinar cerlang layaknya cahya bintang jatuh
munculnya perbawa menciptakan gara-gara tanpa sebab
bersuara seolah memecahkan jagat dan tembus hingga kahyangan Suralaya
meluncur .. cepat menggelegar ..
sosok tua berparas teduh hening redam gara-gara

Setelah mengerti akan tugasnya dan tlah dibekali ilmu serta pitutur luhur dari ayahnya Arjuna serta para sesepuh lainnya, maka segera Abimanyu menjemput para panakawan untuk mendampinginya dalam perjalanannya menuju TKP.

Tinut repat punakawan; nenggih ingkang munggwing ngayun, wongé rèmbès mripaté, awaké lemu, lanang ora lanang, wadon dédé, nenggih Ki Lurah Nayantaka, Badranaya, Lurah Semar, ya Risang Ismaya. Aja dupèh ala wujudé, parandéné iki déwa ingkang asalira manungsa, manungsa ingkang umur déwa.

Diikuti oleh empat panakawan; yang berjalan di depan, orangnya memiliki mata yang selalu berurai airmata, badannya gemuk, lelaki bukan lelaki, perempuanpun bukan. Itulah Ki Lurah Nayantaka, Badranaya, Lurah Semar, ya Risang Ismaya. Namun dibalik buruk wujudnya, sejatinya dia adalah dewa yang berwujud manusia, manusia yang memiliki panjang usia dewata.

Semar sering juga di artikan berasal dari bahasa arab Ismar. Ismar berarti paku, sehingga dapat berfungsi sebagai pengokoh terhadap semua kebenaran yang ada atau juga sebagai penasehat dalam mencari kebenaran terhadap segala masalah. Agama adalah pengokoh atau pedoman hidup manusia. Semar dengan demikian juga adalah simbolisasi dari agama sebagai prinsip hidup setiap umat beragama. Continue reading Wahyu Cakraningrat [9]

Wahyu Cakraningrat [8]


arjuna_solo

Di sitinggil kerajaan Amarta, Abimanyu melihat para sesepuh telah berkumpul tengah berdiskusi serius. Berdasarkan laporan dari prajurit jaga maka langsung Abimanyu dan Gatotkaca diperintahkan untuk menghadap.

“Masuklah engkau Abimanyu dan Gatotkaca” sabda Prabu Yudistira

“Sendika dawuh uwak Prabu. Putramu ini menghaturkan sembah kepada uwak Prabu, juga kepada Rama Prabu Kresna, uwak Werkudara serta Rama Arjuna” Abimanyu menghaturkan sembah.

“Demikian pula hamba menghaturkan sembah kepada para sesepuh” pun Gatotkaca menyampaikan hormat.

“Saya terima dengan senang hati anak-anakku. Pangestu kami para orang tua hendaknya kalian terima” jawab Yudistira.

“Terima kasih, tentu kami terima dengan senang hati dan akan kami jadikan sebagai jimat untuk menjalani kehidupan kami ini” hatur Abimanyu mewakili pula kakaknya Gatotkaca

“Tentu engkau ingin tahu mengapa dipanggil kesini bukan ?”

“Sendika dawuh uwak Prabu”

“Tadi pagi mertuamu Prabu Kresna datang dari Dwarawati khusus menyampaikan hal ini. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Koko Prabu Kresna, dewata hendak menurunkan sebuah wahyu yang bernama Cakraningrat. Wahyu ini adalah wahyu wijining ratu, wahyu pewaris raja. Sesiapa saja yang oleh dewata dipilih untuk menerimanya maka kelak dia akan menurunkan raja-raja di tanah ini. Terus terang oleh Kaka Prabu Kresna telah disampaikan bahwa kakakmu Samba telah diperintahkan pula untuk mencarinya, namun agar lebih yakin kita dapat menggapainya, maka beliau juga menyampaikan dan meminta kamu Abimanyu untuk mengikuti langkah kakakmu Samba yang telah menuju hutan Krendhawahana. Hal ini kami lakukan sebagai ikhtiar dalam menggapai tujuan. Mudah-mudahan kalau bukan kakakmu Samba maka engkaulah yang dapat memperolehnya. Kami yakin bahwa akan ada pihak lain yang mengupayakan hal serupa karena wangsit dewata ini tidaklah eksklusif untuk golongan kita saja.”

“Sendika dawuh uwak Prabu. Apa yang harus saya lakukan ?”

“Mintalah petunjuk kepada ramamu Arjuna”

“Putramu mohon petunjuk Rama” Continue reading Wahyu Cakraningrat [8]

Wahyu Cakraningrat [7]


Gatutkaca-Solo

Menjalani kehidupan perkawinan laksana mengendarai bahtera mengarungi samudra lepas nan luas dan ganas. Kadang tenang menghanyutkan disertai dengan pemandangan alam nan mempesona, bertabur gemerlap bintang di malam kelam, ufuk lautan seolah menciptakan batas dengan langit dengan ronanya nan berwibawa. Namun adakalanya badai sesekali melanda disertai dengan hujan deras serta gelegar petir menyambar membuat ciut hati. Yah … begitulah romantika kehidupan manusia. Susah senang, lara bahagia, nelangsa dan suka, datang silih berganti. Akan selalu begitu dan memang sudah ditetapkan demikian. Ibarat sebuah kurva sinusoida, roda kehidupan berjalan bukan merupakan garis lurus, perjalanan kadang berada di bawah, pula acap di atas dan suatu kali niscaya kan di tengah.

Begitupun yang dialami Abimanyu dan Siti Sundari. Madu yang tlah direguk dan dinikmati manisnya disaat-saat awal perkawinan, kini mulai berubah menjadi rasa bratawali, pahit. Bulan madu adalah episode yang telah berlalu.

Memang ketulusan cinta mereka berdua tiada bercacat, namun kata orang bijak, rasa cinta bukan satu-satunya perekat dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Ada faktor lain yang mampu menghadirkan kebahagiaan hidup berumah tangga, yaitu kehadiran ANAK. Seorang keturunan penerus garis darah, selalu menjadi dambaan pasangan suami istri. Tak bisa dibayangkan bagaimana keringnya sebuah rumah tanpa celoteh dan tangis si kecil.

Perkawinan yang telah dijalaninya selama beberapa bulan, tentu membuat Abimanyu bahagia karena Siti Sundari adalah pilihannya pribadi dan pula perempuan yang dicintainya. Namun sebuah kabar yang didengarnya kemarin siang, membuatnya seakan kebahagiaan itu tercerabut dari dirinya dan bahkan berubah menjadi kesengsaraan rasa. Kabar itu laksana petir di siang hari bolong yang mengejutkan dirinya hingga seolah tiada semangat lagi tersisa dalam menjalani hari-hari di Plangkawati.

Oleh karenanya kemudian dia memutuskan untuk “mengadu” kepada Dewata atas nasib yang tengah disandangnya ini. Dengan khusuk Abimanyu mengheningkan cipta di sanggar pamujan berharap dewata yang agung memberikannya secercah cahaya dan solusi jalan keluar atas masalahnya ini.

Begitupun Siti Sundari. Kabar itu sungguh membuatnya hancur lebur tercerai berai. Hari-hari yang tlah lalu dan dijalaninya bersama suaminya tercinta seakan menjadikan dirinya adalah wanita yang paling berbahagia di muka bumi ini. Bagaimana tidak ? Suaminya begitu sayang padanya dan memberikan kenikmatan dan kebahagiaan yang tak pernah dialami sebelumnya. Abimanyu adalah seorang satria yang sempurna. Sehat jiwa raga, gagah perkasa dan dikaruniai wajah yang luar biasa tampan. Tentu membuat iri wanita lainnya karna dia memperoleh kekasih yang begitu rupawan dan menawan.

Namun bagaimana sekarang ? Dirinya telah divonis tidak akan dapat melahirkan seorang anak, keturunan yang tentunya menjadi dambaan bagi mereka berdua. Apalah gunanya seorang perempuan yang meskipun dikaruniai kecantikan tiada tara laksana dewi kahyangan namun tidak mampu untuk melahirkan seorang anak ? Bukankah harkat seorang perempuan adalah kemampuan untuk melanjutkan trah garis keturunan suaminya ? (baca kisah Semar Kuning)

Hari-hari Siti Sundari dipenuhi oleh air mata kesedihan. Dirinya belum mampu menerima kenyataan ini. Siapa yang harus disalahkan ? Dirinya ? Ramanyakah ? Atau bahkan dewa yang bertindak tidak adil ?

Selama beberapa hari yang dilakukan hanyalah berdiam diri seraya menunggu suaminya yang tengah melakukan tapa brata di sanggar pamujan. Sedih dan sesal masih menggumpal di dadanya. Namun tidak percuma darah Dwarawati mengalir dalam dirinya, setelah sekian lama jiwanya bergolak akhirnya di tetapkan niat untuk tegar dan menerima semua yang telah digariskan oleh takdir. Sikap dan watak wanodya utama slalu melekat dalam jiwanya, bahwa kewajiban seorang istri adalah mengabdi kepada suami, kepada guru laki, apapun yang bakal terjadi kelak. Di tanamkan dalam hatinya bahwa segala sesuatu yang telah ditetapkan dewata adalah yang terbaik dan harus diterima dengan jiwa pasrah, maka niscaya akan berakibat baik bagi kehidupannya.

Dalam suasana diam itu, tiba-tiba Siti Sundari dikagetkan oleh datangnya prajurit Plangkawati yang mewartakan kedatangan saudara tua suaminya yaitu Gatotkaca. Dengan cepat dimintakan agar Gatotkaca segera masuk ke dalam dan dia segera beranjak ke sanggar pamujan untuk mewartakan hal tersebut kepada suaminya.

“Kakang Gatotkaca, gerangan apakah yang membuat Kakang datang ke Plangkawati ini tanpa kabar sebelumnya ? Namun sebelumnya adimu ini menghaturkan sembah pangabekti kepada Kakang” demikian tanya yang diungkapkan oleh Abimanyu sesaat setelah menerima kedatangan Gatotkaca. Continue reading Wahyu Cakraningrat [7]

Angkawijaya Krama


Adegan (Jejer) Kerajaan Dwarawati.

Prabu Sri Batara Kresna, di pendapa agung sedang duduk di atas singgasana kursi gading, menerima kehadiran kakanda prabu Baladewa raja di kerajaan Mandura, yang diikuti oleh puteranya yang bernama Raden Walsatha dan Patih Pragota.

Sedangkan yang ikut menghadap dalam pertemuan besar (pasewakan) di istana raja selain dari kerajaan Mandura adalah para punggawa kerajaan Dwarawati di antaranya adalah Raden Patih Hariya Udawa, putera mahkota Raden Jayasamba, dan Raden Harya Setyaki.

Dalam persidangannya, sang prabu Baladewa mengusulkan pembatalan perkawinan Abimanyu atau Angkawijaya dengan Siti Sundari putri mahkota Dwarawati. Sri Batara Kresna hanya terserah saja kepada prabu Baladewa. Akhirnya Raden Walsatha bersama Raden Jayasamba diutus untuk menyerahkan surat penggagalan perkawinan Siti Sundari dengan Angkawijaya ke Raden Janaka atas perintah prabu Baladewa.

Keberangkatan Walsatha dan Jayasamba dari Dwarawati menjadikan prabu Baladewa menjadi lega. Namun tidak lama kemudian hadirlah seorang utusan dari Kerajaan Rancang Kencana yang rajanya bernama prabu Kala Kumara. Utusan yang bernama patih Kala Rancang menghaturkan surat lamaran . Isi surat tersebut ada lah sang Prabu Kala kumara menghendaki Siti Sundari untuk bersedia menjadi istrinya. Terjadilah pertengkaran mulut yang kemudian meningkat dan menjadi adu kekuatan fisik di alun-alun Dwarawati.

Di alun-alun Dwarawati terjadilah perang antara prajurit dari Mandura melawan prajurit Rancang Kencana. Berkat kekuatan prabu Baladewa semua prajurit Rancang Kencana mundur ketakutan.

Sri Batara Kresna yang sekembalinya dari kerajaan langsung bersemedi dibalai semedi (sanggar pamujan), berdoa agar persiapan perkawinan Siti Sundari yang kurang 5 hari itu bisa berjalan dengan lancar, dan kiranya Jayasamba dan Walsatha yang diutus ke kasatriyan Madukara dijauhkan dari mara bahaya.

Jejer Kasatriyan Madukara.

Raden Janaka sedang duduk di atas kursi gading. Dalam persidangan di Kasatriyan Madukara dihadiri Raden Angkawijaya, Raden Gathotkaca beserta pada panakawan Semar, Bagong dan Besut.

Pembicaraan yang diungkapkan adalah mengenai akan berlangsungnya perkawinan Raden Angkawijaya dengan Siti Sundari yang waktunya tinggal 5 hari. Belum lama berselang dalam pembicaraan itu, datanglah Raden Walsatha dan Raden Jayasamba menghadap serta menghaturkan sembah. Setelah duduk dengan tenang, maka segera di tanyakan apa keperluannya. Kedua-duanya menjawab bahwa kehadirannya diutus menyampaikan surat yang dikirim dari rama Prabu Baladewa untuk Raden Janaka.

Setelah surat dibaca oleh Raden Janaka, marahlah ia, surat dirobek-robek hingga hancur. Raden Angkawijaya peka terhadap keadaan tersebut sehingga mengetahui bahwa isi surat itu adalah pembatalan perkawinannya atas perintah prabu Baladewa. Maka marahlah Angkawijaya kepada salah satu utusan yaitu Raden Walsatha.

Continue reading Angkawijaya Krama