Kidung Malam 1-4


kidung_malam1

Sumber : http://www.tembi.org/

Oleh : Herjaka HS

Kidung Malam (01)

Malam bulan tua itu semakin larut. Melalui cahaya bintang yang bertaburan, di langit hitam, tanah Hastinapura masih menampakkan kesuburannya. Bagi kawula yang pada umunnya bekerja di siang hari, malam itu bagaikan selimut tebal yang memberi kenyamanan untuk terlelap dalam tidur, agar esok pagi dapat bekerja kembali dengan pikiran yang jernih dan badan yang segar. Namun, tidak demikian bagi mereka yang mempunyai tugas dan kewajiban pada malam hari, terlebih bagi para petugas jaga, baik yang berada di pelosok desa maupun yang berada di pusat kota-raja. Bagi mereka, malam adalah bayangan misterius yang harus diwaspadai, karena dia dapat dengan tiba-tiba menampakkan wujudnya yang sangat mengerikan. Untuk menjaga agar malam berlalu dengan selamat, sesekali mereka melantunkan mantra kidungan;

Ana kidung rumeksa ing wengi, teguh ayu luputa ing lara, luputa bilahi kabeh, jim setan datan purun, paneluhan tan ana wani, miwah panggawe ala, gunane wong luput, geni atemahan tirta, maling adoh tan wani perak mring mami, tuju duduk pan sirna

Sementara itu, di bawah cahaya lampu minyak yang ditempatkan di depan gerbang cepuri kraton, tampaklah seorang setengah baya, mukanya hitam dan kakinya pincang, berjalan diapit oleh dua orang punggawa raja. Mereka melangkah memasuki pintu cepuri, menuju sebuah ruangan.

“Kakanda Destarastra”

“O, adinda Yamawidura, engkau sudah datang. Mendengar suaramu, hatiku yang gelisah menjadi pasrah.”

“Terimakasih Kakanda Prabu, aku merasa sangat berarti di hadapanmu.”

“Sungguh, engkau sangat berarti adikku, tidak hanya untukku, tetapi juga bagi Negara Hastinapura.”

“Janganlah membuatku seorang sudra ini menjadi semakin kecil dan kerdil, karena pujian Kakanda Prabu, seorang raja besar Hastinapura.”

“Memang benar, engkau lahir dari ibunda Rara Katri dari kalangan sudra, namun darah sudra tidak nampak dalam pribadimu. Pengamatanmu tajam dan waskitha, wawasanmu luas, engkau laksana seorang Brahmana. Oleh karenanya, malam ini aku memanggilmu agar engkau menyuarakan kebenaran di tengah-tengah kegelisahan hatiku.”

“Kegelisahan apakah yang membuat Kakanda Prabu gundah?”

“Anak-anakku menginginkan tahta Hastinapura.”

“O kakanda, kegelisahan itu tidak hanya milik Kakanda Prabu, tetapi milik seluruh rakyat Hastina. Aku khawatir firasatku menjadi kenyataan”

Continue reading Kidung Malam 1-4

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu


Wisrawa-Sukesi-Danaraja

Prabu Sumali

Kini tiba saatnya Resi Wisrawa memulai penjabaran apa arti ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Namun sebelum wejangan berupa penjabaran makna ilmu sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu diajarkan kepada Dewi Sukesi, Resi Wisrawa memberikan sekilas tentang ilmu itu kepada Sang Prabu Sumali. Resi Wisrawa berkata lembut, bahwa seyogyanya tak usah terburu-buru, kehendak Sang Prabu Sumali pasti terlaksana. Jika dengan sesungguhnya menghendaki keutamaan dan ingin mengetahui arti sastra jendra. Ajaran Ilmu Sastra Jendra itu adalah, barang siapa yang menyadari dan menaati benar makna yang terkandung di dalam ajaran itu akan dapat mengenal watak (nafsu-nafsu) diri pribadi. Nafsu-nafsu ini selanjutnya dipupuk, dikembangkan dengan sungguh-sungguh secara jujur, di bawah pimpinan kesadaran yang baik dan bersifat jujur. Dalam pada itu yang bersifat buruk jahat dilenyapkan dan yang bersifat baik diperkembangkan sejauh mungkin. Kesemuanya di bawah pimpinan kebijaksanaan yang bersifat luhur.

Terperangah Prabu Sumali tatkala mendengar uraian Resi Wisrawa. Mendengar penjelasan singkat itu Prabu Sumali hatinya mmenjadi sangat terpengaruh, tertegun dan dengan segera mempersilahkan Resi Wisrawa masuk ke dalam sanggar. Wejangan dilakukan di dalam sanggar pemujaan, berduaan tanpa ada makhluk lain kecuali Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi. Karena Sastrajendra adalah rahasia alam semesta, yang tidak dibolehkan diketahui sebarang makhluk, seisi dunia baik daratan, angkasa dan lautan. Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebuah ilmu sebagai kunci orang dapat memahami isi indraloka pusat tubuh manusia yang berada di dalam rongga dada yaitu pintu gerbang atau kunci rasa jati, yang dalam hal ini bernilai sama dengan Tuhan Yang Maha Esa, yang bersifat gaib. Maka dari itu ilmu Sastra Jendera Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebagai sarana pemunah segala bahaya, yang di dalam hal ilmu sudah tiada lagi. Sebab segalanya sudah tercakup dalam sastra utama, puncak dari segala macam ilmu. Raksasa serta segala hewan seisi hutan, jika tahu artinya sastra jendra. Dewa akan membebaskan dari segala petaka. Sempurna kematiannya, rohnya akan berkumpul dengan roh manusia, manusia yang telah sempurna yang menguasal sastra jendra, apabila ia mati, rohnya akan berkumpul dengan para dewa yang mulya.

Continue reading Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu

Bambang Ekalaya, bukti bakti kepada Guru


ekalaya_solo

“Mengapa seorang gelandangan dilarang belajar…?”, lagi-lagi orang ini bergumam sendiri. Suaranya hampir tak terdengar tertimbun suara engah nafasnya.

Pletak-pletuk suara pahatan masih terus terdengar. Hanya diterangi sinar bulan purnama dan api obor. Tengah malam itu patung sudah hampir sempurna terbentuk. Membentuk sosok tubuh dengan wajah peyot tua. Tangan kanan terlipat di depan perut, sementara tangan kirinya memegang gendewa panah.

“Salam hormat saya, guru…,” terdengar sang pemahat kembali bergumam sambil menghela nafas panjang. Tampaknya apa yang dilakukannya sudah selesai. Hari menjelang pagi. Sang pemahat tampak kuyu dan lusuh. Wajahnya cekung pucat. Kedua tangannya terlihat sedikit gemetaran. Pagi menyingsing itu sang pemahat duduk berlutut si depan patung buatannya sendiri.

“Guru,…begitu hebat nama guru, begitu kesaktian guru terdengar di seantero dunia wayang, semua orang mengagumimu, semua ksatria ingin berguru kepada yang mulia guru..,” sang pemahat berhenti sejenak menelan ludah. Bibirnya terlihat sangat kering, hampir tiga hari dia sama sekali belum minum barang seteguk. “Hamba tahu, bahwa hamba tidak punya cukup kekuasaan untuk dapat berguru kepada yang mulia guru, hamba juga sadar, bahwa bekal dan kekayaan hamba tak akan cukup untuk mengganti apa yang akan guru ajarkan kepada hamba,..”. Sang pemahat kemudian berhenti. Wajahnya tertunduk sayu, bibirnya terlihat bergetar. “Tapi ijinkan hamba untuk berguru kepada roh guru, biarkan hamba mengabdi dengan keteguhan hati berkhayal terhadap sosok anda, guru..”

Yang diajak bicara adalah patung hasil karyanya sendiri. Patung tetap kokoh angkuh berdiri dihadapannya. Sebuah patung berbentuk hampir sempurna seperti sosok manusia sampai ke lekuk-lekuk keriput paling detail sekalipun.

Sang pemahat ini berdiri. Tampak jelas dari sorot matanya bahwa dia sebenarnya adalah seorang yang berpengaruh. Dibalik sorot mata sayunya, masih terpancar sinar kewibawaan seorang raja. Masih tampak pada lusuh pakaiannya, bahwa pakaian itu sebenarnya adalah busana kebesaran seorang ksatria. Tapi baju itu tampak sudah compang-camping, kotor dan berdebu.

Perlahan dia meraih sebuah gendewa besar di atas tanah. Perlahan berdiri, sekali lagi memberi hormat pada patung buatannya, kemudian tangan kanannya mengambil tumpukan anak panah. Perlahan mengambil sikap memanah, membidikkannya ke arah pohon jauh di ujung tanah lapang itu, dan …wush! Sebuah anak panah melesat cepat..

=== oo ===

“Luar biasa, anakku! Kamulah anak muda yang paling berbakat yang pernah saya didik. Suatu hari nanti, ilmu memanahmu tidak akan ada yang bisa menandingi di dunia wayang ini,” terdengar suara serak parau melengking dari mulut seorang tua peyot. Tapi tunggu! Sungguh luar biasa! Orang tua peyot inilah yang rupanya menjadi model patung yang pernah dibuat seorang pemahat yang kita kenal. Seorang tua keriput, berhidung bengkok, muka tidak simetris, mata kirinya terkatup, kumis dan jenggot yang tidak terurus. Rambut putih digelung kebelakang. Sementara tangan kanan terlipat di depan perut memegang tasbih, dan tangan kirinya menepuk-nepuk kepala seorang muda di depannya yang membelakanginya membidikkan anak panah.

Continue reading Bambang Ekalaya, bukti bakti kepada Guru

Puntadewa, manusia berdarah putih


 puntadewa

PUNTADEWA
Manusia tidak bermusuh

Puntadewa adalah anak sulung Prabu Pandu Dewanata, seorang Raja Astinapura. yang lahir dari Dewi Kunthi Talibrata. Dari ibu yang sama ia mempunyai dua adik laki-laki, yaitu Bimasena dan Harjuna. Sedangkan dari Dewi Madrim ibu yang lain, Puntadewa mempunyai saudara laki-laki kembar, bernama Pinten dan Tansen. Kelima anak laki-laki Pandu Dewanata lebih dikenal dengan sebutan Pandhawa Lima. Selain berayah Pandudewanata, Puntadewa dikenal juga sebagai anak Dewa pendarma, yang bernama Bathara Dharma.

Pada umumnya Puntadewa dianggap tokoh baik, berwatak putih suci, berbudi halus, sabar, berbelas kasih, setia, tidak mau mengecewakan orang lain, dan tulus ikhlas memberikan kepunyaannya kepada orang lain yang membutuhkan. Bahkan istrinya sekali pun jika diminta, akan diberikan. Karena perilaku yang teramat baik itulah, Puntadewa disebut sebagai manusia sempurna berdarah putih, atau manusia Ajatasatru, artinya manusia yang tidak mempunyai musuh.

Sebagai anak sulung, Puntadewa dipersiapkan menjadi raja. Namun sayang, Pandu Dewanata wafat ketika ke lima anak-anaknya masih kecil, sehingga untuk sementara negara Astinapura di titipkan kepada kakak Pandu yang bernama Destarasta, dengan janji bahwa nanti setelah Pandawa dewasa Kerajaan Astinapura akan diserahkan kepada Puntadewa. Namun janji tersebut tidak pernah ditepati. Buktinya, setelah Puntadewa dan ke empat adiknya dewasa, para kurawa yang didalangi Patih Sengkuni mencoba membunuh mereka dengan cara menjebaknya dalam sebuah rumah dan membakarnya hidup-hidup. Peristiwa tersebut dikenal dengan sebutan “Bale Sigala-gala.” Setelah tragedi berlalu, diantara puing-puing reruntuhan, didapatkan enam jenasah yang hangus terbakar, dan itu diyakini bahwa mereka adalah Kunthi Puntadewa dan ke empat adiknya. Dengan demikian tahta Hastina sudah aman dari pewarisnya. Maka segeralah Duryudana, anak sulung Prabu Destarastra naik tahta menjadi Raja Hastinapura.

Beberapa tahun kemudian, ada berita bahwa Puntadewa, Kunthi dan keempat adiknya masih hidup dan bahkan saat ini mereka sedang merayakan perkawinan Puntadewa dengan Dewi Drupadi di Negara Pancala. Agar Para Pandawa tidak merebut tahta Hastina, Destarastra menyarankan kepada Duryudana untuk memanggil mereka dan memberikan tanah kepada Puntadewa sebagai pengganti bumi Hastina. Tanah tersebut berupa hutan yang bernama Wanamarta. Walaupun merasa diperlakukan tidak adil, dengan ikhlas Puntadewa dan keempat adiknya melakukan pekerjaan besar, yaitu Babad Alas Wanamarta.

Continue reading Puntadewa, manusia berdarah putih

Media Berbagi Para Pecinta Wayang

%d bloggers like this: