Tambahan Koleksi Ki Suparman


ki-suparman

Melengkapi koleksi IndonesiaWayang dari dalang Ki Suparman, maka kami sajikan koleksi tambahan kiriman dari mas Durahman Kedu Gantiwarno Klaten.

Lakon Wahyu Tejamaya sudah ada di koleksi sebelumnya, tapi nggak ada salahnya kalau dicoba untuk diperbandingkan.

Koleksi lama ada disini

Lakon:

Video Ki Purbo Asmoro – Gojali Suta


boma-kresna

Sebuah Video pagelaran wayang dari dalang Ki Purbo Asmoro dengan lakon “Gojali Suto”. Kiriman dari mas Durahman Kedu Gantiwarno Klaten,

Menceritakan perseteruan keluarga yang kemudian mengakibatkan pertempuran antara Gojali (Bapak) dan Suta (Anak)

Saya upload di Page FB “Paguyuban Pecinta Wayang

PANCAWISAYA


 

PANAKAWAN 2

“Kakang Semar, berilah ndaramu ini ujaran-ujaran nan bijak agar tentram hati ini”

Arjuna memulai perbincangan dengan para panakwan di hutan itu sesaat setelah dia menemukan tempat yang pas untuk melakukan tapa brata.

“Eeeee … mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng . Saya memahami bagaimana sedih dan pedihnya ibunda nDara, Dewi Kunti, mengingat akan nasib anaknya nDara Werkudara. Orang tua mana sih yang tidak sayang kepada anak-anaknya ? Bahkan pabila sang anak sudah dewasa-pun kasihnya tiada akan pernah berkurang, apatah lagi luntur. Apalagi, nDara Kunti adalah ibu nDara Werkudara yang telah melahirkannya di dunia ini, maka kasih sayangnya tentu tak terbantahkan”

“Itulah kakang, hal yang menyebabkan aku sampai kesini”

“Nggih nDara, saya hanya ingin sedikit memberi sesuatu yang mungkin dapat ndara resapi, pahami dan kemudian dapat dijadikan sebagai pegangan dalam menjalani hidup di dunia ini. Orang bijak menyebutnya sebagai Pancawisaya”

“Aku ngerti Mo, apa artinya itu !” tiba-tiba Bagong memotong pembicaraan Ramanya dan ngacung tanpa diminta

“Apa yang engkau mengerti Thole, bocah bagus anakku Bagong ?” jawab Semar dengan penuh kesabaran

“Panca itu bilangan lima, wi itu dari kata wibi berarti ibu dan saya dari kata sayak, celana. Jadi maknanya adalah celananya ibu ada lima” serius Bagong menjelaskan ini bak guru sastra menjelaskan kepada murid-muridnya

“Hush … Bagong kuwi jian ngawur !” Petruk mencela penjelasan adiknya itu, kemudian melanjutkannya

“Kalau nggak ngerti itu mendingan diam atau bertanya kepada yang ngerti. Jangan asal njeplak saja, tho Gong !”

“Lha Kang Petruk apa tahu artinya itu ?” tanya Bagong lugu

“Lho … siapa yang tak kenal Petruk di dunia ini, kecuali dirimu seorang ?” seperti biasa Petruk membanggakan diri dengan membusungkan dada kerempengnya yang seperti piano

“Terus artinya apa Kang ?” “Panca itu memang benar artinya bilangan lima, wi itu berasal dari kata wibrama yang berarti bingung atau rasa marah dan saya itu ya saya, aku” jawab Petruk menggunakan aji pengawuran

“Jadi artinya apa Kang ?”

“Ya gabung sendiri ajah !”

“Punya adik-adik kok pada ngawur semua. Sudah … kita dengerin saja apa yang Ramane Semar akan sampaikan !” Gareng menengahi dengan bijaknya (tumben … biasanya juga ikut ngawur … he he he)

“He he he … anak-anakku semua mulai bicara. Rama senang sebab kalau kalian tidak mengeluarkan suara, dunia rasanya sunyi sepi. Meskipun ngawur … tapi apa yang kalian sampaikan itu ada kalanya memberi inspirasi bagi Rama untuk terus berfikir. Kali ini cukup dengarkan ya … apa yang akan Rama jelaskan kepada nDraamu Permadi !”

Kemudian Semar melanjutkan kata-katanya

“Begini nDara dan anak-anakku Gareng, Petruk dan kamu Bagong. Seperti kata Bagong tadi, Panca itu lima, wisaya bisa bermakna piranti, upaya pencarian, karêp bisa juga penghalang. Jadi landasan untuk melakukan brata itu harus mengerti terhadap penghalang yang menjerat lima perkara dan sekaligus menyiapkan piranti untuk menanggulanginya. Apa saja yang lima itu ? Pertama Rogarda yang berasal dari kata roga yang artinya sakit dan arda yang berarti hawa nêpsu, bangêt atau sangat, sehingga Rogarda adalah sakit yang menimpa tubuh. Kalau ditimpa sakit, berusahalah bersungguh-sungguh untuk mencari obat penyembuh, namun segalanya harus diterima dengan rela hati. Hindari prasangka buruk terhadap Gusti Allah yang telah menimpakan sakit karena tidak sayang kepada hambanya. Yakinkanlah dalam hati bahwa yang kita terima adalah wujud kasih sayangNya semata.”

“Kalau menurutku, penjelasan rama itu kurang lengkap !” sanggah Bagong

“Kurang apanya, Thole ?”

“Kurang sambel, Mo he he he. Begini, nDara. Disamping menerima dengan ikhlas sakit yang diterima, kemudian mencari obat untuk menyembuhkannya, ada satu hal penting yang kadang terlupakan yaitu pelajari secara ilmiah mengapa hal itu bisa terjadi terhadap kita. Mengapa Kang Petruk punya wudun, alias bisul yang matanya saja sebesar kelereng ? Karena Kang Petruk jorok ! Nggak pernah bersih-bersih badan setelah maen kemana-mana. Kotoran yang melekat dan kemudian masuk dalam tubuh kita, bisa jadi adalah sumber penyakit semisal virus atau bakteri. Sumber penyakit itu dihadang oleh prajurit-prajurit tubuh berupa darah putih sehingga terjadi pertempuran hebat. Sebagian pasukan tubuh kita tewas menjadi kusuma bangsa tubuh. Banyak mayat yang tewas dalam tugas suci itu kemudian dimakamkan di liang lahat berupa wudun itu”

Petruk yang menjadi sasaran Bagong dengan sewot menjawab

“Kalau mencari contoh itu mbok ya jangan membuka aibku tho, Gong. Sungguh gamblang apa yang engkau jelaskan tadi, tapi mbok iyao jangan sebut wudun kakangmu ini. Sebagai adik yang baik harusnya kamu membantu mem-plothot-kannya. Sudah lumayan mateng, lho”

“Dimana sih Kang ?”

“Di bokongku mburi, Gong !”

“Ra sudi aku !”

Gareng ikut nimbrung

“Lha mbok kalau ngomong itu sedikit intelek gitu tho. Masak dari sikap Rogarda kok larinya ke wudun !” ujar Gareng sengit

“He he he .. sudah ya Rama lanjutkan” tersenyum arif Semar seraya melanjutkan

“Yang kedua adalah Sangsararda berasal dari kata sangsara sehingga berarti sengsara yang menimpa tubuh. Kalau ditimpa kesengsaraan, berusahalah menahan dan berbesar hati. Yang ketiga Wirangharda, artinya wirang, malu, sakit yang menimpa hati. Kalau ditimpa sakit hati, berusahalah tata, titi, kokoh pendirian serta berhati-hati.”

“Kalau patah hati itu, apakah termasuk juga wirangharda, Mo ?” Tanya Bagong

“Bisa juga begitu, Le”

“Kalau begitu Kang Petruk juga sakit, Ma”

“Aku maneh … saya lagi ! Sebenarnya apa yang membuat kamu tuh benci sama aku tho Gong. Setiap kali hal-hal yang kurang baik kok larinya ke diriku yang menawan ini” Petruk merendah seraya meninggikan mutu

“Bukan benci, Kang Petruk, kakakku yang menawan, rendah hati, sopan santun dan rajin menabung ! Ini adalah wujud dari cinta kasih seorang adik kepada seorang kakak nan penuh kasih sayang dan bijaksana. Ini adalah perhatian tulus dan begitu dalam seorang adik kepada kakaknya seperti kisah Sukasrana dan Sumantri atau Lesmana Widagdo kepada Ramawijaya. Begitupun Bagong kepada Petruk”

“Lebay Gong !” jawab Petruk masih sengit

“Bukan lebay Kang. Kalau sekarang Kang Petruk sedang patah hati sama Soimah, tentu adikmu ini turut berduka, Kang. Bukankah engkau pernah merasakan hal serupa saat ditolak sama Limbuk, Jupe, Depe, Poniyem, Sariyem, Tukinem, Ponirah, Surti dan sepuluh yang lainnya itu ?” wajah tanpa dosa mengiringi pengungkapan fakta memalukan sekaligus memilukan Petruk, bukan Gosip !

Gareng yang mendengar, ikut terperangah dan seraya tersenyum nakal berujar

“Lho… bener itu tho Truk ! Lha kok kamu nggak pernah ngomong sama aku, kok curhatnya malah sama Bagong yang bermulut ember itu. Aduh … aduh … adiku, Di ! Sungguh malang sekali nasibmu ditolak perawan yang segitu banyaknya itu. Harus instropeksi itu Truk !”

“Instropeksi … dengkulmu. Lha wong Bagong kok dipercaya !” jawab Petruk sengit seraya melotot kepada Bagong

“Bisa diam nggak kamu Gong !”

Semar dengan tersenyum bijak menengahi “perseteruan abadi” antara anak-anaknya itu

“Sudah … sudah … Saya lanjutkan ya nDara setelah dipotong pariwara iklan yang baru saja lewat … he he he. Yang keempat adalah Cuwarda, berasal dari kata cuwa, kecewa, tidak keturutan apa yang diharap, yang dicita-citakan. Apakah semua yang kita inginkan, kita harapkan, kita cita-citakan, kita impi-impikan harus terwujud ? Kalau keadaannya begitu, sungguh akan berantakan dunia ini. Hanya Gusti Allah-lah yang tahu mana terbaik bagi kelangsungan hidup semesta ini. Gusti Allah-lah yang tahu yang terbaik bagi kita, sehingga kalaupun ada suatu keinginan kita yang tidak disetujuiNya, pada hakekatnya adalah demi kebaikan kita sendiri. Nggak mungkin Gusti Allah menyiksa, menjerumuskan manusia ciptaanNya sendiri ke dalam kenistaan, kecuali sebenarnyalah diri manusia itu sendiri yang mengantarkan ke dalam ke sengsaraan pribadi. Oleh karenanya, selalulah Eling dan Waspada !”

“Lanjut Mo !” teriak Gareng bermaksud agar mendahului Bagong untuk tidak berkomentar memotong penjelasan lebih lanjut.

“Iya, Thole. Dan yang terakhir adalah Durgarda, berasal dari kata Durga yang bermakna bêbaya, pakewuh, sungil, angkêr, gawat. Sehingga durgarda harus kita sikapi dengan usaha dan sikap percaya diri dan yakin terhadap segala kekuasaan Tuhan.”

“Terima kasih Kakang Semar atas nasehatnya. Semakin mantab aku untuk melakukan tapa brata minta petunjuk Gusti untuk menyelesaikan masalah ini” akhirnya Permadi mengakhiri diskusi tadi dan kemudian beranjak menuju tempat yang telah dibersihkan dahulu sebelumnya untuk mengheningkan cipta menghadap Sang Pencipta.

KGPAA Mangkunegara VII


KGPAA Mangkunegara VII

Indonesia merupakan bangsa yang memiliki banyak kebudayaan, salah satunya kebudayaan Jawa. Adapun peninggalan kebudayaan Jawa yang masih dilestarikan keberadaannya berbentuk tulisan yaitu naskah. Naskah sebagai hasil karya tulisan nenek moyang dan merupakan peninggalan masa lampau. Naskah tersebut ditulis diatas bahan tulis yang beraneka ragam, seperti gendhong, daluwang, dan kertas yang didatangkan dari Eropa.

Berbagai kebudayaan yang ada pada masa lampau banyak terekam dalam tulisan berbentuk naskah. Dengan menganalisis ataupun mengkaji naskah dapat diketahui kesenian, sastra, tradisi, nilai-nilai, adat istiadat, dan peristiwa yang ada pada masa lampau. Masyarakat Jawa sangat suka pada kesenian dan sastra, terbukti dengan banyaknya naskah yang berisikan hal tersebut. Misalnya; tembang, wayang/pedalangan, tari, cerita, dan masih banyak lagi.

Seni, sastra Jawa, tradisi, dan berbagai aspek kebudayaan masa sekarang tidak banyak berbeda dari seni, sastra Jawa, tradisi, dan berbagai aspek kebudayaan pada masa lampau. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa masyarakat Jawa masih melestarikan kebudayaan nenek moyang mereka. Banyak nilai-nilai dan pandangan hidup yang masih diwarisi dan dilestarikan. Seni wayang/pedalangan yang berisi pendidikan moral juga masih sering digelar dan dikembangkan untuk memberikan ajaran moral. Terlebih lagi masa sekarang ini moral bangsa Indonesia dapat dikatakan mengalami kemerosotan.

Di antara pada adipati di Mangkunegaran, adalah seorang pujangga yang produktif dalam menelurkan karya sastra pewayangan. KGPAA Mangkunegara VII bertahta antara tahun 1916 – 1944. Beliau produktif dalam menciptakan karya sastra yang bertopik tentang lakon pewayangan. Lakon pewayangan dari pakem balungan untuk daerah Surakarta bersumber dari Serat Pedhalangan Ringgit Purwa karya KGPAA Mangkunegara VII (Soetarno, 1995: 29). Karya KGPAA Mangkunegara VII di atas menjadi acuan para dalang di daerah Surakarta dan pendukungnya. Nama kecilnya, yaitu Raden Mas Suryasuparta, putra ketiga KGPAA Mangkunegara V.

Beliau lahir pada tanggal 4 Sapar 1815 H atau 12 November 1885. Beliau wafat pada tanggal 19 Juli 1944. Rupanya Mangkunegara VII mewarisi bakat kepujanggan kakeknya yaitu Mangkunegara IV. Selain seorang sastrawan dan seniman, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII merupakan seorang yang sangat baik dan bijak serta seorang aktivis. Beliau pernah menjabat sebagai ketua PB Boedi Oetomo pada tahun 1916 sebelum diangkat menjadi Mangkunegara VII. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII terkenal sebagai manajer yang cerdas dalam usaha-usaha ekonomi (antara lain mendirikan Pabrik Gula Colomadu dan Tasikmadu), serta visioner dalam berbagai persoalan sosial termasuk lingkungan (membangun waduk dan jaringan rel kereta tebu), selain sebagai budayawan.

Waduk Plumbon di Kecamatan Eromoko dan waduk Kedunguling di Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, dikenang sebagai peninggalan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII. Waduk itu dibangun selama 10 tahun dari tahun 1918-1928. Keberadaan kedua waduk itu sebagai balas jasa Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII kepada rakyat setempat yang sebelumnya banyak berperan menjadi tukang pada pembangunan pendapa agung Mangkunegaran (rumah pendapa terbesar di Indonesia). Beliau memberikan hadiah berupa dua waduk sebagai prasarana irigasi untuk memakmurkan masyarakat Eromoko dan Wuryantoro. Beliau sangat memperhatikan serta dekat dengan alam sekitar dan masyarakat.

Hal diatas juga berpengaruh pada rasa seni dan penciptaan karya sastranya. Karya-karya buatan beliau banyak mempengaruhi dan dipakai sebagai referensi budayawan lain, baik pada masa beliau maupun sampai sekarang. Serat Pedhalangan Ringgit Purwa karya KGPAA Mangkunegara VII yg terdiri dari 37 jilid berisi 177 lakon dan terbagi 4: cerita dewa (7 lakon), cerita Arjuna Sasrabahu (5 lakon), cerita Ramayana (18 lakon), cerita Pendhawa Kurawa (147 lakon).

  • Jilid I (Ngruna-ngruni watugunung| Mumpuni | Mikukuhan),
  • jilid II (Sri Maha Punggung | Sri Mantun-Murwakala),
  • jilid III (Sang Hyang Wisnu Krama | Bremana-Bremani Manumayasa Rabi | Bambang Kalingga | Jamurdipa atau Sekutrem Rabi),
  • jilid IV (Palasara Lahir atau Sari Rabi | Palasara Krama | Citranggada Rabi | Pandu Lahir),
  • jilid V (Narasoma Rabi| Puntadewa Lahir | Suyudana Lahir | Bima Bungkus),
  • jilid VI (Arjuna Lahir | Raden Yamawidura Krama | Basudewa Rabi | Kangsa Lahir atau Basudewa Grogol | Lahiripun Kakrasana Narayana | Kangsa Adu Jago),
  • jilid VII (Arya Prabu Rabi | Ugrasena Rabi | Bambang Sucitra Rabi | Pandan Papa | Palgunadi | Pendhawa Apus),
  • jilid VIII (Arjuna Papa | Bondhan Peksa Jandhu | Bale Sigalagala | Seta Krama | Rabinipun Untara-Wratsangka),
  • jilid IX (Babad Wanamarta | Arimba-Arimbi | Gandamana Sayembara | Mustakaweni-Kuntul Wilanten),
  • jilid X (Lambangkara | Pancawala Larung | Antasena Lahir | Gathutkaca Lahir | Pregiwa – Pregiwati),
  • jilid XI (Gathutkaca Rabi-Sasikirana | Gathutkaca Dadi Ratu Brajadenta-Brajamusti atau Gathutkaca Sungging | Sridanta),
  • jilid XII (Tugu Wasesa | Sena Rodra | Ganda Wardaya | Semar Barang Jantur atau Kartawiyoga Maling),
  • jilid XIII (Parta Krama | Lambangkara | Sembadra Larung | Bambang WIjanarka | Murca Lelana | Kitiran Petak),
  • jilid XIV (Mayanggana-Sindusena | Cekel Indralaya | Sidajati-Sidamalong | Manu Maya),
  • jilid XV (Pandhu Bregala-Bambang Margana | Sukma Ndadari-Sumong | Bambang Manon Bawa),
  • jilid XVI (Parta Wigena atau Makutharama | Wahyu Cakraningrat | Peksi Jawata | Taman Maerakaca | Srikandhi Maguru Manah | Cakra Negara),
  • jilid XVII (Kandi Hawa | Nirbita | Jalasegara | Turanggajati | Randha Widada),
  • jilid XVIII (Swarga Bandhang | Alap-alapan Larasati | Alap-alapan Ulupi | Semboto-Senggono),
  • jilid XIX (Irawan Maling | Gambir Anom | Bambang Jaganala | Irawan Rabi | Alap-alapan Gandawati),
  • jilid XX (Sumitra Rabi | Udan Mintaya | Seti Wijaya | Arjuna Sendhang),
  • jilid XXI (Nakula Rabi | Candrageni | Sadewa Rabi | Candrasasi | Pramusinta),
  • jilid XXII (Derwa Kasimpar | Semar Minta Bagus | Semara Papa | Dwila Warna),
  • jilid XXIII (Kresna Kembang | Kresna Pujangga | Kresna Begal | Samba Rajah | Bambang Sutera),
  • jilid XXIV (Samba Ngengleng | Bomantaka | Sugatawati-Sugatawati Dhaup | Endhang Wediningsih | Setyaki Rabi),
  • jilid XXV (Suyudana Rabi | Dursilawati Ical | Peksi Anjali Retna),
  • jilid XXVI (Suryatmaja Rabi | Dana Salirta | Kumbayana | Durna Tapa),
  • jilid XXVII (Candha Birawa | Pendhawa Puter Puja | Darma Birawa | Arjuna Terus),
  • jilid XXVIII (Wisanggeni Lahir | Bambang Manon Manonton | Pendhawa Dhadhu | Pancawala Ngarit),
  • jilid XXIX (Mintaraga | Parta Dewa | Arjuna Wibawa | Cendreh Kemasan),
  • jilid XXX (Kalabendana Lena | Rara Temon | Jagal Abilawa Pendhawa Gubah | Kresna Duta),
  • jilid XXXI (Jabelan | Kresna Gugah | Bisma Lena),
  • jilid XXXII (Angkawijaya Lena | Jayadrana Lena | Burisrawa Lena | Gathutkaca Lena | Dursasana Lena),
  • jilid XXXIII (Karna Lena | Suyudana Gugur | Parikesit Lahit),
  • jilid XXXIV (Parikesit Grogol | Yudayana Ical),
  • jilid XXXV (Bedhahipun Lokapala | Arjuna Wijaya | Sumantri Ngenger | Sumantri Gugur | Arjuna Sasra Gugur),
  • jilid XXXVI Bedhahipun Ngayodyapala | Dasarata Rabi | Sinta Lahir | Prabu Rama Krama | Rama Tundhung | Anoman Duta | Rama Tambak | Anggada Duta | Bukbis),
  • jilid XXXVII (Trikaya Lena | Trisirah Lena | Kumbakarna Gugur | Megananda Gugur | Dasamuka gugur | Sinta Boyong | Rama Obong | Rama Nitik | Rama Nitis).

Indahnya Terang


matahari

Urip Iku Urup
Hidup itu tidak redup
ia gemilang terang benderang
laksana Batara Surya menerangi bumi
selalu memberi tak pernah meminta
dan Batara Candra memantulkan cahya di malam hari
slalu pancarkan kedamaian kepada siapa saja
bukan seperti saat kepala Kalarahu mencaplok keduanya
hingga menimbulkan kegelapan dan ketakutan
Nyala terang dalam gelap adalah berkah bagi makhluk disekelilingnya

Kata petuah agama sebaik baiknya manusia adalah
yang mampu memberi banyak manfaat kepada manusia lain
khairunnas anfa ‘uhum linnas
sehingga sudah pasti seburuk-buruk orang adalah
yang selalu menebarkan ancaman bagi masyarakat sekitarnya
keberadaannya tidak diinginkan
hadirnya menghalangi terang
kegelapan menaunginya

Urip Iku Urup
maka jadilah cahaya bagi orang orang disekitarmu

Petuah bijak Sang Pemenang

Arthur Ashe, pemain Wimbledon legendaris sekarat karena AIDS yg berasal dari darah yg terinfeksi virus ketika operasi jantung pada 1983. Dia menerima surat dari para penggemarnya, salah satu dari mereka ada yg menyampaikan:

“Mengapa Tuhan memilih Anda untuk mendapatkan penyakit yg buruk seperti ini??”

Terhadapnya, Arthur Ashe menjawab:

Lima puluh juta anak mulai bermain tenis,
Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis,
Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional,
Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen,
Lima ribu mencapai Grand Slam,
Lima puluh mencapai Wimbledon,
Empat mencapai semifinal,
Dua mencapai final,
dan ketika saya menggenggam pialanya,
saya tak pernah bertanya pada Tuhan,
“Kenapa (harus) saya?”
Jadi ketika sekarang saya sakit,
bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan,
“Kenapa (harus) saya?”

Kebahagiaan membuatmu tetap manis.
Cobaan membuatmu kuat.
Kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia.
Kegagalan membuatmu tetap rendah hati.
Kesuksesan membuatmu tetap berpijar.
Namun, hanya iman yg membuatmu tetap melangkah.

Kadang engkau merasa tidak puas terhadap kehidupanmu
sementara banyak orang di dunia ini memimpikan bisa hidup sepertimu.

Anak kecil di ladang memandang pesawat terbang di atasnya,
dan memimpikan bisa terbang,
tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya
dan memimpikan bisa pulang ke rumah.

Begitulah hidup.

Nikmatilah hidupmu.

Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan,
tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan.
Tapi ternyata
Hanya anak2 miskinlah yg melakukannya.

Jika kekuatan memang menjamin keamanan,
tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan.
Tapi ternata
Hanya mereka yg hidup sederhana yg bisa tidur nyenyak.

Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal,
tentu para selebriti pasti punya kehidupan perkawinan yg terbaik.

Hiduplah sederhana
Berjalanlah dengan rendah hati.
Dan mencintailah dengan tulus

Derita tak berujung Shinta (7)


rama laksmana

Seakan tiada beda jarak bagi Begawan Walmiki
kala cipta tlah disandarkan kepada Ilahi
berpasrah berserah diri
tuk membantu mengentaskan yang tersakiti
agar bersegera sadar dan percaya diri
bahwa susah sedih bak roda pedati
bahwa bahagia derita bakal silih berganti
bahwa kemuliaan niscaya terpenuhi
pabila mampu pikiran dan hati terkendali

Saat dalam samadi mata mulai terbuka
tlah nyata sosok Shinta di hadapannya
tersenyum bijak penuh kasih Sang Yoga
saksikan Sang Dewi larut dalam hening cipta

Dengan lembut Walmiki menyapa

“Anakku Shinta, bangunlah dari samadimu. Bapa kini ada dihadapanmu, Nak. Keluh kesahmu telah terdengar hingga ke Wismaloka. Maafkan perlakuan muridku kepada dirimu yang tlah bertindak tidak adil, anakku. Percayalah Tuhan pasti akan memberikan kemudahan dalam kesulitan yang engkau alami seperti saat ini. Yakinlah bahwa Tuhan bakal mengganti jiwa pasrahmu dengan ganjaran yang jauh lebih indah dari kebahagiaan yang pernah engkau rasakan di dunia ini. Bangunlah, Nak”

Shinta yang mendengar suara lembut di telinganya, perlahan membuka matanya. Terkejut dia sesaat melihat seseorang telah berada di depan duduknya. Seorang tua berpakaian brahmana memberikan senyum lembut menyapa. Wajah adem itu seketika memaksa benaknya untuk mengingat-ingat. Dan dalam hitungan mili detik tlah ditemukan nama pemilik wajah itu di memorinya.

Ya … Shinta mengingatnya bahwa setelah melangsungkan perkawinan megah di Mantili dan kemudian Rama Wijaya memboyongnya ke Ayodya, maka tempat pertama yang di singahi adalah pertapaan Wismaloka. Suaminya memperkenalkan kepada dirinya, pemilik pertapaan itu sebagai gurunya. Resi Walmiki, seorang brahmana yang begitu terkenal di seantero Ayodya dan negri-negri di sekitarnya karena kebijaksanaannya, dan dia adalah guru suaminya.

Segera Shinta merebahkan diri bersujut di kaki Begawan suci itu. Meskipun hanya sesenggukan tangis dan tiada mampu kata terucap dari mulut Dewi Sinta, namun Resi Walmiki sangat faham dengan apa yang tengah bergejolak di dada Shinta.

Segera disentuh pundak Shinta oleh Walmiki agar bangkit dari sujudnya, kemudian berkata

“Engkau tidak bersendirian lagi dalam menghadapi cobaan yang engkau alami sekarang. Hilangkanlah segala beban berat yang ada di pikiranmu. Masih ada kewajiban besar yang harus engkau sandang, yaitu melahirkan anakmu dan membesarkannya kelak. Maka marilah engkau ikut bersamaku untuk mencari tempat yang nyaman untuk engkau tinggali. Bapa akan mempersiapkannya untuk tempat tinggalmu dan anak-anakmu nanti”

Hanya anggukan yang diberikan oleh Shinta sebagai jawaban.

<<< ooo >>>

môngka kanthining tumuwuh
salami mung awas eling
eling lukitaning alam
dadi wiryaning dumadi
supadi niring sangsaya
yèku pangrêksaning urip

Oleh karenanya sebagai pegangan hidup
selamanya haruslah awas dan Ingat,
Ingat pada hukum alam
takut kepada kemuliaan makhluk hidup
agar jauh dari segala penderitaan,
itulah cara untuk menjalani hidup.

marma dèn tabêri kulup
angulah lantiping ati
rina wêngi dèn anêdya
pandak-panduking pambudi
bengkas kaardaning driya
supadya dadya utami

Oleh karenanya rajin-rajinlah anakku,
mengolah tajamnya hati (kesadaran),
siang dan malam berusaha,
mampu meningkatkan kesadaran,
menyingkirkan kekotoran batin,
agar menjadi utama.

pangasahe sêpi samun
aywa êsah ing salami
samôngsa wis kawistara
lêlandhêpe mingis-mingis
pasah wukir rêksa muka
kêkês srabedaning budi

Pengasahnya adalah saat hening,
jangan sampai tergoyahan selamanya,
jika sudah berhasil akan terlihat,
tajamnya tiada tara,
mampu menghancurkan Gunung Reksamuka
bakal hancur segala penghalang kesadaran murni.

Tersentuh hati pria itu mendendangkan lantunan tembang yang telah dihafalnya di luar kepala. Hatinya perih mengingat lagi kepada kekasih hati yang tiada lagi berada di sisinya. Seolah jiwanya telah melayang separuh. Ya … istrinya entah hilang entah mati akibat keputusan dirinya dalam menegakkan keadilan. Menegakkan keadilan ? Ataukah hanya memperturutkan ego ?

(bersambung)

Media Berbagi Para Pecinta Wayang

%d bloggers like this: