Supala, Prabu

SISUPALA, kadang-kadang disebut Supala adalah raja Cedi. Takhta kerajaan itu diwarisinya dari ayahnya, Prabu Damagosa. Ibunya bernama Dewi Sruta, putri sulung Prabu Kuntiboja.

Sisupala lahir dalam keadaan tubuh tidak normal. Ia lahir dengan tiga buah mata, satu di antaranya terletak di dahinya. Selain itu kedua kakinya lemas seperti ular, seolah tanpa tulang.

Cacat yang diderita Sisupala adalah akibat kutukan Resi Hudaya. Kelika Dewi Sruta masih berusia remaja, ia inempunyai kegemaran yang memalukan, yaitu mengintip pria yang sedang mandi. Suatu hari Begawan Hudaya sedang mandi di sebuah telaga. Waktu sedang asyik menikmati segar-nya air telaga, ia terkejut melihat sesualu yang mirip ular menyentuh kakinya. Tanpa pikir panjang pertapa itu melompat keluar dari air. Ternyata yang menyentuh kakinya adalah seekor belut besar. Pada saat tanpa busana itulah ia mendengar suara seseorang menertawakan dirinya, sehingga pertapa itu tahu dirinya diintip, apalagi kelihatan jelas belut yang nempel ditubuhnya kelihatan .. belut kok buntek gitu, mending kalau panjang.

Dengan marah, Begawan Hudaya lalu menjatuhkan kutukannya: “Siapa pun yang mengintip aku, biar lelaki atau perempuan, kelak ia akan mempunyai anak bermata tiga karena mata itu suka mengintip dan kakinya seperti ular karena datang diam-diam tanpa suara.”

Betapa terkejutnya Begawan Hudaya kelika ia mengetahui bahwa yang mengintip dirinya adalah Dewi Sruta, putri sulung raja Cedi yang sangat dihomatinya. Namun kutukan telah terucap dan tidak dapat diralat lagi. Permohonan maaf yang diucapkan putri raja Mandura, tidak dapat menghapus kutukan itu.

Keadaan Sisupala yang demikian itu amat memprihatinkan Prabu Damagosa. Karena itu Sang Prabu berniat membuang bayinya kehutan. Namun. sebelum niat itu dilaksanakan raja Cedi itu lebih dulu ke Sanggar Pamujan, untuk bersamadi, mohon petunjuk para dewa. Dalam samadinya, Prabu Damagosa mendapat wangsit yang menyatakan bahwa cacat pada anaknya itu akan sembuh seketika bilamana la dipangku oleh seseorang yang dititisi Batara Wisnu. Namun, wangsit itu juga menyebutkan bahwa orang yang menyembuhkan cacatnya itulah yang kelak juga akan membunuh Sisupala.

Namun, dalam wangsit itu Prabu Damagosa tidak diberi tahu, siapa yang merupakan titisan Wisnu.

Untuk menemukan tilisan Wisnu yang dapat menyembuhkan cacat anaknya, pada acara selapanan (peringatan kelahiran bayi ke 35 hari) Prabu Damagosa mengundang puluhan raja dan putra mereka.

Satu persatu para tamu undangan ilu dipersilakan memangku anaknya. Namun, setelah seluruh tamu itu memangku bayi itu, ternyata bayi Sisupala tidak juga sembuh. Matanya tetap tiga, dan kakinya lemas tak bertulang seperti badan ular.

Namun ternyata di antara tamu yang diundang tidak seorang pun yang merupakan titisan Wisnu.

Ketika Prabu Damagosa dan Dewi Sruta sedang bersedih hati datanglah keponakan mereka, Kakrasana dan Narayana. Kedua remaja itu adalah putra-putra pabu Basudewa, raja Mandura, yakni adik Dewi Sruta. Ketika melihat bayi yang ganjil itu. Narayana minta izin untuk memangkunya. Keajaiban terjadi.

Tanpa disangka sebelumnya, begitu bayi Sisupala berada dalam pangkuan Narayana, mata ketiga bayi itu hilang dan kaki-kakinya menjadi sempurna seketika. Bukan main gembira hati Prahu Damagosa dan Dewi Sruta. Namun tiba-tiba Dewi Sruta teringat akan bisikan dewa yang mengatakan bahwa ajal Sisupala kelak berada di tangan orang yang menyembuhkan cacatnya. Bila demikian. berarti ajal anaknya itu berada di tangan Narayana.

Karena itu Dewi Sruta dan Prabu Damagosa segera minta pada Narayana agar bilamana kelak Sisupala berbuat kesalahan, Narayana suka mengampuninya. Kelika itu Narayana menjawab. sanggup mengampuni kesalahan Sisupala sampai seratus kali. Namun. jika kesalahan itu diperbuat Sisupala di hadapan lebih dari seratus orang raja, Narayana tidak dapat memaafkannya.

Sisupala tidak hanya sembuh, tetapi tumbuh menjadi seorang yang gagah dan sakti, kemudian naik takhta menjadi raja Cedi. setelah ayahnya meninggal. la pernah dipermalukan Kresna, karena sewakiu hendak kawin dengan Dewi Rukmini, calon istrinya itu dilarikan Kresna. Waktu itu Dewi Sruta berhasil menekan amarah anaknya, agar Sisupala jangan sampai berbuat kesalahan pada Kresna.

Namun. rupanya nasib Sisupala memang harus mati di tangan titisan Wisnu. Pada saat menghadiri upacara Sesaji Rajasuya, yang diselenggarakan oleh Prabu Puntadewa.  Prabu Sisupala memprotes ketika

Nakula menghidangkan minuman pertama ke hadapan Prabu Kresna. la menganggap penghidangan minuman perdana kepada Prabu Kresna sama sekali tidak pantas, karena Kresna bukan raja tertua usianya, dan Kerajaan Dwarawati bukan kerajaan terbesar, dan bukan pula paling luas wilayahnya. Seharusnya. bukan Kresna yang patut   mendapatkan    kehormatan    itu,   dan seharusnya pula Kresna tahu diri serta menolak perlakuan penghormatan yang berlebihan itu. katanya.

Protes Sisupala ini dibantah oleh Resi Bisma yang hadir pada upacara itu. Pinisepuh dari Astma itu menganggap kehormatan untuk mendapat hidangan itu sudah sepantasnya diterima Kresna.

Alasan dan bantahan Resi Bisma iiu malahan membuat Prahu Sisupala makin naik darah. Dengan suara lantang ia lalu mengala-ngatai, menghina dnn mempermalukan Prabu Kresna.

Pada awalnya Prabu Kresna tetap mencoba bersabar. Sebab bagaimana pun Sisupala adalah sepupunya sendiri, sebab raja Cedi ilu adalah putra tunggal Dewi Sruta. Padahal Dewi Sruta adalah kakak Prahu Basudewa, ayah Kresna. Lagi pula ia sudah berjanji pada Dewi Sruta, akan selalu memaafkan semua kesalahan Sisupala terhadap dirinya. Namun, bilamana kesalahan ilu terus diulang sampai seratus kali, atau ia dihina di hadapan khalayak ramai yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Prabu Kresna tak dapat lagi memaafkannya.

Dan kini, Prabu Sisupala telah mcnghinanya di hadapan lebih dari 100 orang raja yang hadir pada upacara itu. Maka, dengan tenang Kresna lalu menantang Sisupala untuk berlaga mengadu kesaktian di luar keraton. Dengan senang hati Sisupala melayani tantangan ini, dan akibatnya, leher Sisupala putus tertebas senjata Cakra.

Sisupala adalah nama yang termuat di Kitab Mahabarata. Nama ini nama Supala juga banyak dipakai oleh dalang Wayang Kulit Purwa. terutama di PulauJawa. Namun.dalam Kitab Hariwangsa karangan Empu Panuluh, Sisupala disebut juga Prabu Cediya yang artinya raja Cedi; sedangkan di Kitab Kresnayana. ia disebut Prabu Suniti.

Advertisements

One thought on “Supala, Prabu”

  1. Sangat bertolak belakang dengan Supala Yogya, kalau gagrak Jogja Supala/Sisupala itu satriya luruh mata liyepan, gelung keling dengan kilatan/bledhegan, bokongan. Wujud wayangnya sebesar Drupada, bahkan ada kemiripan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Media Berbagi Para Pecinta Wayang

%d bloggers like this: