Sawitri, Dewi

Bersama Ki Nartosabdho lakon Sawitri (dan Satyawan dapat dinikmati disini

Pada jaman dahulu kala di negeri Madra bertahtalah seorang raja bernama Prabu Aswapati yang berbudi luhur, adil dan bijaksana. Beliau mempunyai seorang putri yang bernama Dewi Sawitri yang cantik parasnya, laksana dewi Sri dari Kahyangan. Akan tetapi walaupun Sawitri mempunyai paras yang elok, tubuhnya yang indah menggiurkan, matanya seperti bunga saroja, namun Prabu Aswapati selalu bermuram durja, karena Dewi Sawitri yang sudah dewasa itu belum ada seorangpun yang meminangnya. Maka pada suatu hari Prabu Aswapati bersabda kepada putrinya: “Hai putriku Sawitri, waktu ini sudah saatnya kau harus bersuami. Tetapi karena sampai sekarang tak ada yang meminangmu, maka pilih dan carilah sendiri seorang sujana yang patut menjadi suamimu.”

Mendengar sabda ayahnya, Sawitripun segera bersujud dan pergi dengan tanpa berpikir lagi, karena malu atas perkataan ayahandanya itu. Dengan diiringi oleh beberapa pengawal berangkatlah Dewi Sawitri dengan kereta kencana memasuki hutan belantara menuju ke tempat pertapaan para Brahmana. Di tengah hutan tersebut Dewi Sawitri berjumpa dengan seorang pria yang tampan, Setiawan namanya. Ia putra dari seorang Brahmanaraja yang bernama Jumatsena. Brahmanaraja tersebut semula adalah seorang raja di negeri Syalwa, tetapi kemudian menjadi Brahmana karena cacat buta matanya, pada waktu
putranya masih kecil beliau cacat meninggalkan tahtanya yang telah dirampas oleh musuh. Setiawan yang dibesarkan di tengah hutan pertapaan itulah yang menjadi pilihan Dewi Sawitri.

Setelah seksama pengamatannya, kembalilah Dewi Sawtri menghadap ayahandanya dengan menceritakan pengalamannya. Tetapi betapa menyesalnya ketika mendengar sabda betara Narada yang saat itu berkunjung ke negeri Madra. “Aduhai raja Madra, putrimu ternyata kurang teliti memilih suami, walaupun Setiawan lurus dan luhur budinya, tetapi ia mempunyai cacat yang akan menghilangkan segala kebajikannya. Cacatnya itu hanya satu, yaitu “Setahun lagi Setiawan akan sampai pada ajalnya.”

Maka setelah mendengar sabda betara Narada itu raja Aswapati segera memerintahkan dewi Sawitri untuk memilih orang lain, agar kelak tidak menjadi janda. Tetapi apa jawab dewi Sawitri: “Duuh, ayahanda. Sekali patik memilih tidak akan lagi memilih orang lain, karena yang diputuskan oleh hati harus diucapkan dengan suara, kemudian dinyatakan dengan perbuatan, itulah pedoman hamba.”

Karena Sawitri tidak mau mengubah pendiriannya, maka Prabu Aswapati menyediakan peralatan perkawinan menurut adat. Dan dikawinkanlah Sawitri dengan Setiawan, sejak saat itu Sawitri diboyong ke hutan pertapaan. Sawitri selalu menyenangkan suaminya dengan perkataan manis dan kebaktian serta kesetiaannya yang luar biasa. Tetapi tubuh Sawitri makin hari makin susut karena siang malam selalu ingat akan perkataan yang disabdakan oleh betara Narada.

Hari berganti hari, maka sampailah hari yang keempat sebelum Setiawan meninggal, Sawitri telah berjanji akan berdiri tegak selama 3 hari 3 malam. Walaupun Brahmanaraja Jumat Sena telah meminta untuk mengubah janjinya namun Sawitri tetap dalam pendiriannya. Tepat pada hari Setiawan akan menemui ajalnya, pagi – pagi Dewi Sawitri menghampiri suaminya dan berkata, “Janganlah kakanda hari ini pergi seorang diri ke hutan karena adinda tak kuasa bercerai dengan kakanda. Perkenankanlah hamba bersama kakanda pergi ke hutan mencari kayu.” Ujar Setiawan sambil mendelik, “Hai adinda, kau belum pernah menempuh hutan selebat itu, bagaimana adinda dapat berjalan? Padahal adinda terlalu lemah akibat terus berpuasa dan bertapa.”

Jawab Dewi Sawitri, “Hamba tidak lelah oleh puasa dan apa yang telah hamba putuskan harus hamba kerjakan.” Brahmaraja Jumat Sena dan Setiawan setelah mendengar ucapa Dewi Sawitri itu terpaksa mengabulkan permintaannya, karena selama berada di pertapaan Dewi Sawitri belum pernah mengajukan sesuatu permintaan. Maka berjalanlah Dewi Sawitri di belakang suaminya dengan rasa pilu dan teriris – iris sambil menantikan saat yang telah ditetapkannya itu. Setelah mengumpulkan buah – buahan di keranjangnya, maka mulailah Setiawan membelah kayu. Tetapi tiba – tiba keluarlah peluh yang membasahi tubuhnya dan menyebabkan terasa sakit di kepalanya.

Dengan sempoyongan Setiawan menghampiri Dewi Sawitri sambil berkata, “Adinda, kepala kakanda bagai ditikm lembing rasanya, sehingga kakanda tak kuasa berdiri, biarlah kakanda tidur sejenak.” Maka Dewi Sawitri menghampiri suaminya, kemudian duduk bersimpuh di tanah. Kepala Setiawan diletakkannya di haribaannya. Lalu ia teringat akan sabda batara Narada, serta sadar bahwa inilah saat ajal Setiawan jam dan harinya telah tiba. Pada saat itu juga datanglah seorang yang bermahkota merah, matanya merah, seram sikapnya dengan sebuah jerat di tangannya, sungguh – sungguh menakutkan
ujudnya. Ia adalah batara Yama dan berdiri di sisi Setiawan.

Kemudian ia berkata, “Hai Sawitri, suamimu hidupnya telah habis.” Dan barata Yama pun berjalan pergi dengan menjerat serta membawa nyawa Setiawan. Dewi Sawitri, istri yang setia yang telah memenuhi
janji itu dengan rasa pilu mengikuti batara Yama. Maka sabda batara Yama, “Kembalilah hai Sawitri, berbuatlah untuk merawat mayat suamimu, kau telah memenuhi segala kewajiban terhadap suamimu.” Jawab Sawitri, “Ke mana junjungan patik dibawa, ke situlah patik pergi.

Oleh karena itu janganlah ditolak perjalanan patik.” “Perkataanmu sungguh tinggi artinya, oleh karena itu mintalah sesuatu pasti akan kukabulkan asalkan jangan minta mayat suamimu dihidupkan kembali.” Jawab Sawitri, “Kembalikan kerajaan, kekuasaan, dan kesehatan mertua patik sehingga beliau dapat melihat kembali.” Sabda batara Yama, “Permintaanmu akan kuberi, dan kembalilah kamu supaya tidak payah di jalan.” Tetapi kata Dewi Sawitri, “Patik tidak akan payah selama berdampingan dengan suami patik, karena sekali patik bercampur dengan seorang yang berbudi, selama itulah patik akan mengabdi.” Sabda sang betara Yama, “Perkataanmu sungguh menyenangkan orang budiman, oleh karena itu mintalah sekali lagi, asal tidak minta hidupnya kembali Setiawan.” Jawab Dewi Sawitri, “Mohon
kami diberi 100 orang putra dan hidup di suatu kerajaan yang panjang punjung, pasir wukir, loh jinawi, gemah ripah tata tentram karta raharja.” Sabda batara Yama, “100 orang putra yang gagah perkasa,
bahagia sempurna akan kuberi dan sekarang kembalilah Sawitri, karena kau telah berjalan terlalu jauh.”

Dewi Sawitri berucap, “Bagaimana patik dapat berputra 100 orang, apabila patik tidak bersuami, tak ada gunanya patik selamat dan bahagia, jika suami patik tak ada. Oleh karena itu hidupkanlah Setiawan junjungan patik.” Batara Yama bersabda, “Baiklah kulepas nyawa suamimu, berbahagialah engkau dengan junjunganmu. Dan Setiawan akan kuberi usia 100 tahun.”

Sesudah mengabulkan permintaan Dewi Sawitri, maka lenyaplah batara Yama dan pergilah Sawitri ke tempat suaminya berbaring. Dengan perlahan – lahan duduk bersimpuh dan mengangkat kepala Setiawan ke haribaannya. Tak lama kemudian Setiawan membuka matanya bagaikan orang tidur terlalu lama. Dewi Sawitri dengan perasaan haru, sambil menyanggul rambutnya memelukkan tangannya kepada suaminya.

Waktu itu hari telah larut malam. Kedua insan yang berbahagia itu sedang bersiap – siap hendak pulang ke pertapaan. Sementara itu Prabu Jumat Sena yang berada di pertapaan sangat terkejut karena tiba – tiba ia dapat melihat kembali. Dengan rasa bersyukur dan bahagia kepada Yang Maha Kuasa, beliau menanti kedatangan putra – putranya. Tak lama kemudian datanglah Setiawan dengan Dewi Sawitri dan sambil bersujud, berceritalah Dewi Sawitri di hadapan mertuanya apa yang telah dialaminya selama di hutan, serta perjumpaannya dengan batara Yama.

tancep kayon.

One thought on “Sawitri, Dewi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Media Berbagi Para Pecinta Wayang

%d bloggers like this: