Rasawulan, Dewi

Dewi Rasawulan adalah putri Prabu Rasadewa dari kerajaan Selamirah. Dia adalah salah satu dari istri Sadewa. Tokoh ini tidak ada dalam Kitab Mahabarata karena dia adalah tokoh carangan.

Sebelum menjadi istri Sadewa, Dewi Rasawulan juga sempat diinginkan oleh Dursasana namun gagal dalam sebuah teka teki yang diajukan oleh Sang Dewi, dan Sadewa-lah yang mampu menjawabnya.

http://theindonesianwriters.wordpress.com/2010/10/18/cinta-itu-pernah-mekar-disini/

Apa itu sejatinya cinta?
Pernah ditanyakan soal ini kepada Sadewa.
“Cinta itu seberapa besar engkau melepaskan pembelaanmu ketika menyaksikan makhluk sesama didera penderitaan.

Apa itu sejatinya cinta?
Ditanyakan lagi soal itu dengan mata yang basah.
“Cinta itu tak berharap upah atau imbalan terhadap apa pun jasa yang pernah ada dan terjalin.”

“Oh, Raden. Apa itu sejatinya cinta?”
Menyendu, meluruh Rasawulan mengharap jawab.
“Cinta itu sejauh mana engkau mampu memahami meyakini tanpa rasa jengah dan marah. Meski betapa sulit dan rumit hidup kau jalani.”

“Oh, apakah sejatinya …
O, Raden .. kenapa kau tinggal pergi … kenapa kau tinggal pergi …”
Apa sejatinya cinta?

Kerajaan Sela Merah banjir pelamar. Laki-laki bergelar ksatria. Raja dan hartawan. Datang dengan hasrat jantan dan semadu asa.
“Akan kujinakkan teka-teki sayembara itu. Akan kutaklukkan!”

Rasawulan, primadona Negeri Sela Merah. Ialah puteri semata wayang Prabu Rasadewa yang agung kaloka. Betapa ia jelita. Belia dan memesona.
“Ah, tapi kenapa engkau kini muram dan sakit, anakku.
Kenapa engkau harus sedemikian rupa menderita?”
Lihatlah, para pemuda tampan dan cakap itu.
Simaklah kebagusan para ksatria dan priyayi agung itu.
Betapa mereka gagah dan perkasa.
Betapa mereka kaya dan menggairahkan.
Coba kau lirik hadiah-hadiah yang gemerlap dan serba indah itu.
Coba kau teliti dan renungi kitab-kitab syair yang tebal dan halus bermutu itu.
Itulah persembahan. Sebagai tali kasih. Sebagai tanda cinta.

Takkah kau tersentuh.
Dan minat memilih salah satu
dari mereka yang agung dan masyur itu, puteriku?”

“Apa sejatinya cinta, ayah? Apa sejatinya cinta? “ …
“Heh … Rasawulan.
Seratus peti emas jamrud
tak cukup juga membeli cintamu.
Mestikah kurebut dengan darah.”
Prabu Dirgamayapati, raja Pasir Seta.
Gagah, gempal, masyur membawa selaskar prajurit gahar dan ganas.
Marah ia. Menggelegak karena hati yang luka.
Pun pedih karena asmara yang patah.
Kalap ia. Mengamuk bersama sepasukan murka
menghancurkan apa saja. Negeri Sela Merah berduka.

Kian masygul Prabu Rasadewa. Makin sakit puteri Rasawulan.
“Heh … raja songar.
Jangan hendaknya engkau mengumbar jumawa.”

Datang Arjuna sesegera.
Panah bulan sabit tegang direntang.
Dalam regangan busur Bramastra yang gemilang.
sejenak saja melesat Pasopati keramat. Retas sudah mengakhiri sora Raja Dirgamayapati.

Takluk segenap pasukan Pasir Seta.
Beriringan mereka lesu membawa jasad sang raja.
“Engkau yang redup ditilam rindu.
Pesonamu pudar dipendar gairah.
Amboi, seribu tahun. Mawar takkan mekar kedua kali.
Takkan mekar kedua kali.”

Datang sang lelananging jagad menebar jala.
“Sepuluh tahun akan kunanti.
Satu abad lamanya akan kutunggu.”
“Duhai Rasawulan, takkah kau melihat kepadaku.
Aku datang kini melindungi rakyatmu …”
“Cinta tak seserba halus dikata-kata.
Tak seserta datang sebesar minat dan hasrat.”
“Rasawulan …”
“Maafkan saya ….

Cinta itu seberapa besar engkau melepaskan pembelaanmu ketika menyaksikan makhluk sesama didera penderitaan.

Cinta itu tak berharap upah atau imbalan terhadap apa pun jasa yang pernah ada dan terjalin.

Cinta itu sejauh mana engkau mampu memahami meyakini tanpa rasa jengah dan marah. Meski betapa sulit dan rumit hidup kau jalani.”

Selebar jala ditebar. Robek, sobek jerat itu
cabar dalam keteguhan mawar Sela Merah.
Makin lara ia. Merana dalam keyakinan.

Mulat Kresna sang raja binathara
Waskita ia sebagai jilmaan Wisnu
“Hei … Arjuna.
Panahmu sudah benar kaulepaskan pada tempatnya.
Tapi ketahuilah. Sejatinya cinta Rasawulan telah dijatuhkan Saudaramu bungsu. Cepat ia kau bawa kemari.
Sebelum terlambat.
Sebelum semuanya menjadi sesal dan kesia-siaan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Media Berbagi Para Pecinta Wayang

%d bloggers like this: