Patih Seberang

Patih di kerajaan Tanah Seberang. Wayang ini tidak tetap, dapat digunakan dengan manasuka. Dan sebagai tanda bahwa ia orang seberang adalah wayang ini berbaju dan terdapat dua bilah keris yang dipakainya di belakang dan di samping paha. Cara berpakaian seperti ini disebut berpakaian prajuritan yang telah siap sedia. Cara berpakaian yang sedemikian ini hingga sekarang pun masih digunakan oleh hamba keraton Solo dan Jogja pada waktu menjalankan titah raja keluar kota.

BENTUK WAYANG

Wayang patih seberang bermata telengan putih hidung dempak, muka menunduk, kedua tangan disatukan, tanda menghormati. Rambut terurai gimbal, berjamang dengan garuda membelakang besar, sunting sekar kluwih. Berbaju lurik dengan bentuk baju sikapan besar (baju untuk menghadap raja). Bergelang, berpontoh di luar baju. Berkeris ladrang dan menganggar keris gayaman. Kain rapekan tentara dengan bercelana
Untuk keraton Sala dan Jogja, terdapat aturan dalam penggunaan kain batik ada kain tidak boleh dipakai sembarang orang, misalnya batik parang rusak, atau kain yang dibatik dengan mlinjon (serupa biji tangkil), larangan untuk kain batik Kawung hanya untuk Jogja. Namun aturan itu hanya berlaku untuk kalangan istana, kini untuk orang umum dapat dipakai bebas.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Media Berbagi Para Pecinta Wayang

%d bloggers like this: