Kenyawandu

Kenyawandu ialah seorang raksasa wandu (banci), merupakan ketua sekalian raksasa di kerajaan raksasa, atau inang pengasuh raja. Wayang ini dipergunakan dalam lakon apapun juga di kerajaan raksasa sebagai seorang patih dengan nama sesukanya, misalnja: Cantekawarti, Kepetmega dan lain-lain. la sakti, dan dapat mengawan (terbang).

BENTUK WAYANG

Kenyawandu bermata kedelan putih, hidung bentuk haluan perahu, mulut terbuka (ngablak), bergigi dan bertaring. Sedikit berjamang, rambut terurai bergumpal-gumpal. Bersunting sekar kluwih panyang. Bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Kain rapekan dengan bercelana panyang berkembang lunar. Dipinggang terselip senjata wedung, ialah serupa golok berujung tajam dengan bersarung kayu. Senjata ini hanya sebagai tanda, bahwa yang memakainya merupakan seorang hamba raja. Bilamana hamba itu masuk ke linggkungan istana ia harus memakai wedung itu, diselipkan pada ikat pinggang sebelah kiri. Wedung gunanya hanya untuk memotong sesuatu di waktu dia ada di hadapan raja.

Kenyawandu juga untuk sengkalan (perhitungan tahun dengan kalimat) berbunyi: Buta nembah rarong hate, terhitung tahun angka 1525.

Pada waktu Kenyawandu mendapat titah raja untuk pergi ke negeri lain, ia berjalan dengan mengawan. Pada adegan mengawan wayang dicacakkan dan dalang mengucap:

Tersebutlah emban Pratiknyawati (nama ini dapat diganti sekehendak dalang) segera keluar ke alun-alun, pantas semasa ia mendapat titah dari rajanya walaupun ia seorang raseksi, kesaktiannya tak berbeda dengan laki-laki, maka ia diangkat sebagai pemimpin di negeri itu, ber-ulang-ulang ia dapat menyelesaikan segala pekerjaan. Pada masa itu ia mendapat titah rajanya untuk menuju ke negeri Anu, dan berkehendak hendak mengawan. Nyatalah raksasa sebangsa orang halus, walaupun ia sebesar buah pinang kering, tentu dapat mengawan. Alkisah emban, Pratiknyawati menyingsingkan kain dan melengser celana panyangnja, lalu menengadah kecangkasa dengan menendang bum, dan ia pun mengawanlah cepat seperti kilat.

Beberapa orang berpendapat bahwa Kenyawandu hanya lambang bahwa seorang kepercayaan raja, berjiwa tak laki tak perempuan, karena orang yang telah dapat kepercayaan oleh raja, untuk hamba perempuan tak dibedakan bergaul dengan laki-laki, sebaliknya laki-laki dengan perempuan, lantaran orang serupa itu tak disangsikan dan tak dicemburukan bergaul dengan siapapun juga. Jadi kepercayaan ini hanya mengenai pada seorang yang suci lahir dan bathinnya. Begitupun juga, sebenarnya untuk manusia juga mempunyai tanda-tanda halus dan kasarnya dalam bathin, dapat ditilik dari wujud dan tingkah lakunya.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Media Berbagi Para Pecinta Wayang

%d bloggers like this: