Genthong Lodong

Wayang geculan digunakna hanya untuk perang gagal, untuk di pedesaan untuk menyenangkan bocah-bocah dan para muda yang belum terlalu senang memperhatikan wayang. Hanya senang melihat lelucon dalang dalam memainkan wayang dan mengeluarkan wayang geculan untuk selingan dalam perang gagal, sebagai lelucon untuk menyenangkan bocah-bocah.

Untuk menyenangkan bocah-bocah tersebut diambilkan wayang geculan berupa wayang Punggawa Sabrangan berpangkat Tumenggung dengan nama Tumenggung Surumedem atau Patratholo. Ada lagi yang bernama Murtijetemirun, kalau kurang panjang namanya ditambahi Rumrumarum Retnahilawa, agar bocah-bocah banyak yang tertawa. Lalu barisan dari Jawa, umumnya yang jadi silihan adalah para punggawa pangkat Tumenggung, wayang kang pasti jadi silihan adalah patih Pragota, namun kalau wayangnya lengkap sudah ada wayangnya sendiri.

Biasanya, menurut dalang cara pedesaan yang digunakan untuk perang gagal itu adalah pasukan manusia melawan pasukan manusia untuk mengeluarkan geculan tersebut. Sampai ada lakon Sabrangan Ratu Buta, juga dibuat dengan pasukan manusia. Pasukan buta hanya untuk persediaan perang kembang. Yang seperti itu sebenarnya keliru, tapi sudah jadi umum dan tidak bisa diubah. Dalang kalau kurang bisa membuat anak-anak senang lalu kurang laku di pedesaan.

Wayang geculan berupa wayang bapangan pocol sebagai geculan lelucon bocah, mereka menamainya Gentonglodong. Wujud wayangnya gemuk matanya besar, wataknya sok tampan, percaya diri, senang dipuji, tidak merasa kalau wajahnya jelek.

Tapi ada baiknya juga, kalau digoda wanita gampang keluar uangnya, kalau berjalan tangannya memegang lipatan kain, tangan kanan membawa sapu tangan sutra, harumnya menyebar jika sering dikibaskan, kalau bicara seperti menggumam, senang bercanda, berdiri bertolak pinggang, sering berkaca, tidak berpisah dengan cermin kecil di tangan kiri, sebentar-sebentar bercermin melihat kalau-kalau wajahnya ada cacat. Begitulah watak wayang geculan Gentonglodong.

Sedangkan bentuk wayang yang digunakan sebagai pola mengambil dari wayang Gedog wadyabala Bugis, yang agak banyak miripnya dengan Srengganisura. Dalam wayang purwa tidak ada wayang yang berbentuk seperti itu, kebanyakan hanya ditemukna hanya dalam wayang Gedog, jadi termasuk wayang tambahan saja untuk wayang geculan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Media Berbagi Para Pecinta Wayang

%d bloggers like this: