Cangik

Cangik adalah seorang dayang putri kerajaan. Nama ini menurut pada ujud perempuan yang berleher panyang, kepala menjungkur dan berbadan kurus, disebut nyangik, asal dari perkataan cangik. Ia seorang perempuan tua yang ketelah, maka selalu memegang sisir untuk bersisir dan pada waktu dimainkan ia bersisir rambut.

BENTUK WAYANG

Cangik bermata kriyipan, hidung kepik, bibir panyang dibawah, dengan sebuah gigi digerang (dihitamkan), leher panyang, bahu turun (Jawa: brojol), bersanggul gede dikembangi, menggunakan kain batik slobog, badan bagian atas berkain dodot, yaitu kain pakaian perempuan di dalam istana raja, dan menggunakan gelang.
Suara Cangik kecil, melagukan suara orang yang tak bergigi. Pada waktu dimainkan, Cangik akan bertanya pada anaknya, Limbuk, akan kawin dengan laki-laki yang bagaimana macamnya. Biasanya jawaban Limbuk menjadi sindiran untuk anak-anak perawan yang menonton.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

_______________________________

Cangik dan Limbuk, Dua sahabat dengan kesetiaan tanpa batas

Oleh Bram Palgunadi

Di dunia pewayangan, kita selalu berhadapan dengan dua tokoh wanita, yaitu Cangik dan Limbuk. Mereka berdua, selalu ditampilkan saat tiba pada adegan ‘keputren’ di suatu kerajaan. Ini merupakan suatu adegan yang boleh dikatakan selalu ada di setiap pagelaran wayang. Saking seringnya kedua tokoh ini tampil, sampai-sampai kita tidak pernah tahu atau tidak mau tahu, siapakah sebenarnya mereka berdua itu. Pada judul bahasan ini, saya memakai istilah ‘dua sahabat’ dan bukannya memakai istilah ‘dua wanita’. Memang keduanya, Cangik dan Limbuk, adalah dua orang wanita. Tetapi keduanya sebenarnya sudah meningkatkan level dirinya, menjadi ‘dua sahabat’ bagi sang putri atau permaisuri yang diikutinya.

Kesalahan terbesar dari kita sebagai pengamat dan penikmat pagelaran wayang, khususnya wayang kulit, adalah bahwa tokoh Cangik dan Limbuk seringkali kita pandang sebagai dua orang dayang-dayang atau kasarnya sebagai ‘pembantu’ seorang putri atau permaisuri raja. Ini merupakan kesalahan pemahaman yang bisa dikatakan fatal. Mengapa demikian? Sebab mereka berdua, Cangik dan Limbuk, sebenarnya bukanlah dayang-dayang dan bukan pula pembantu dalam pemahaman umum seperti yang kita kenal. Mereka berdua, adalah ’panakawan’, yang artinya ‘sahabat’. Jika tokoh panakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong; adalah panakawan bagi para tokoh ksatria; maka Limbuk dan Cangik adalah panakawan bagi tokoh putri atau permaisuri. Mereka berdua, bukanlah tokoh biasa. Mereka berdua, adalah tokoh yang peran dan fungsinya sangat luar biasa. Meskipun kenyataannya, mereka berdua kalah pamor dengan para panakawan ksatria yang lebih banyak diekspos dan ditampilkan.

Gambaran bahwa Cangik adalah wanita tua renta yang bertubuh jelek dan buruk rupa, merupakan gambaran yang benar-benar menggambarkan pemahaman kita yang salah terhadap Cangik. Begitu pula tentang Limbuk yang digambarkan tubuhnya tambun (gemuk) dan bermuka jelek. Cangik bukanlah wanita berwajah buruk seperti banyak dikatakan orang. Cangik, adalah gambaran seorang wanita tua yang sangat setia kepada majikannya. Ia adalah seorang wanita yang bertindak sebagai ‘rewang’ bagi majikan perempuan (misalnya: isteri, permaisuri). Bersama anaknya, yang bernama ‘Limbuk”, keduanya merupakan teman atau sahabat sejati, tempat sang putri atau permaisuri curhat, merenungkan kehidupannya, dan mendiskusikan kegundahan hatinya.

Mereka berdua, bukanlah orang biasa! Mereka berdua adalah orang-orang dalam lingkungan terdalam suatu istana. Kalau memakai istilah jaman sekarang, mereka berdua itu termasuk orang-orang yang ‘berada di lingkaran ring satu’, yang merupakan orang-orang kepercayaan yang berada paling dekat dan sangat erat hubungannya dengan orang terpenting di istana. Mereka juga ‘pemegang rahasia’ sang puteri atau permaisuri. Begitu dekat dan eratnya hubungan mereka dengan junjungannya, sehingga bisa dikatakan hubungannya jauh melebihi yang bisa dilakukan oleh seorang menteri atau mahapatih (menteri koordinator, menko).

Cangik dan Limbuk, bukanlah ‘babu’ seperti yang banyak digambarkan orang. Mereka berdua, adalah ‘rewang’. Dalam bahasa Jawa, artinya ‘orang yang membantu’. Dalam pemahaman ini, mereka bukanlah ‘pembantu’ (babu). Rewang, artinya ‘penolong’. Istilah ‘ngrewangi’, artinya membantu atau menolong. Maksudnya membantu atau menolong mendengar curhat sang junjungan, membantu memberikan saran, membantu menenangkan sang junjungan, membantu menyenangkan hati sang junjungan, membela junjungannya [1], dan membantu mencarikan jalan keluar jika ada masalah.

Dalam budaya tradisional Jawa, seorang ‘rewang’ akan tinggal bersama, jika perlu tidur dan menjaga di kamar sang puteri, makan menu dan makanan yang sama dengan junjungannya. Mereka seringkali juga merawat dan membesarkan anak-anak dari keluarga yang diikutinya.[2] Mereka bukanlah ‘orang belakang’, tetapi lebih tepat disebut sebagai ‘orang dalam’. Dalam kehidupan nyata, mereka seringkali diberi kepercayaan yang sangat luar biasa, yang berhubungan dengan harta, kekayaan, rahasia, rumah tinggal, dan anak-anak. Karena itu, mereka berdua, bukanlah ‘parekan’ (dayang-dayang). Kalau di jaman sekarang, mungkin mereka berdua itu lebih tepat disebut ‘asisten pribadi’.

Cangik, lazimnya digambarkan sebagai wanita dewasa yang banyak pengalamannya. Sedang Limbuk, lazimnya digambarkan sebagai wanita muda sedang magang (untuk nantinya menggantikan Cangik). Mengapa Limbuk digambarkan bertubuh gemuk dan Cangik bertubuh kurus? Sebab, seseorang yang mengabdi tanpa pamrih kepada seseorang lainnya (junjungannya), meskipun ia semula bertubuh gemuk, jika pengabdian itu dilakukan tanpa pamrih, maka ia akan menjadi kurus dengan sendirinya. Kurus, menggambarkan orang yang jujur, sederhana, tidak banyak tuntutan, hidupnya tidak mengejar materi dan kekayaan. Juga menggambarkan sifat orang yang sederhana, tidak neka-neka. Limbuk yang tubuhnya tambun, menggambarkan seorang wanita yang masih muda dan masih memikirkan materi dan duniawi.

Cangik dan Limbuk, menggambarkan ‘asisten pribadi’ seorang putri/wanita. Di negara/kerajaan manapun, peran keduanya ini selalu ada. Bahkan di jaman sekarang pun (di abad ke-21) peran keduanya pun ada (dalam dunia yang nyata). Bahagialah anda, yang masih bisa menikmati kesetiaan mereka yang tanpa batas. Selamat merenungkan……
________________________________

[1] Saya mempunyai seorang sahabat karib (seorang pria) bersuku-bangsa Jawa, yang rumah-tangganya berantakan, gara-gara isterinya selingkuh dengan seorang pemuda yang kost di rumahnya. Rewangnya, seorang wanita tua, dengan berani dan tanpa ragu-ragu memarahi majikan perempuannya dan mengusir kedua pasangan selingkuh itu dari rumah tinggalnya. Selama bertahun-tahun setelah peristiwa itu, sahabat karib saya itu, dirawat, dilayani, dan dijaga oleh rewangnya ini, seperti seorang ibu menjaga anaknya. Hal ini, secara jelas menunjukkan bagaimana peran seorang rewang dalam kondisi yang sebenarnya.

[2] Saya, sewaktu masih kecil, tinggal di Yogyakarta (sekitar tahun 1952 – 1959), sempat merasakan bagaimana seorang rewang keluarga yang bernama Mbok Wirya, setiap hari merawat saya dan adik-adik saya. Mbok Wiryo ini, setiap hari menggendong saya dan menimang-nimangnya seperti anaknya sendiri, seringkali sampai saya tertidur. Saya masih ingat benar, bagaimana Mbok Wiryo, seringkali menggendong diri saya yang saat itu masih kecil, sambil menyanyikan tembang Jawa ‘Pendhidisl-pendhisil’, ‘Jamuran’, ‘Gathutkaca Edan’, ‘Cempe-cempe’, atau ‘Kebon Raja’. Sungguh merupakan kenangan indah di masa kecil saya yang tak akan terlupakan sepanjang hayat

Advertisements

One thought on “Cangik”

  1. Penonton mandhang remeh janipun njih boten, namung kawon pamor kemawon kaliyan Semar sakanakipun, saestu sedaya ringgit ngemot filsafat, matur nuwun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Media Berbagi Para Pecinta Wayang

%d bloggers like this: