Ramayana Wayang-S

Sumber tulisan dan gambar dari :

  1. Buku “Rupa & Karakter Wayang Purwa” oleh Heru S. Sudjarwo, Sumari dan Undung Wiyono, penerbit Kakilangit Kencana cetakan ke-1 Mei 2010
  2. Buku “Sedjarah Wajang Purwa” oleh Pak Hardjowirogo penerbit PN Balai ustaka Cetakan ke-5 tahun 1968
  3. Website Senawangi
  4. Website Wayang Indonesia
  5. Dan dari sumber-sumber lainnya
Nama Sebutan Deskripsi Singkat Link Referensi

Saraba

 Kapi

KAPI SARABA adalah wanara ciptaan Bathara Bayu. Ia ditugaskan sebagai pengasuh Anoman, kera putih putra Dewi Anjani dengan Bathara Guru/Sanghyang Manikmaya di pertapaan Grastina/Erraya setelah kematian  Dewi Anjani. Kapi Saraba mempunyai suara yang sangat bagus dan mahir melagukan kakawin Kitab Weda. Ia juga pandai mendongeng, memiliki watak penyabar, telaten dan penuh kasih sayang.

Kapi Saraba memiliki kesaktian pada suaranya. Apabila marah dan berkereceh/mbeker (Jawa) dapat memecahkan telinga, menakutkan dan menggetarkan serta meruntuhkan hati musuhnya. Pekikikannya keras melengking dan dapat mematikan lawannya. Ketika Sugriwa menjadi raja di negara Gowa Kiskenda, Kapi Saraba ikut mengabdikan diri, dan menjadi hulubalang kepercayaan.

Sebagai Senapati perang laskar kera Gowa Kiskenda, Kapi Saraba mempunyai andil yang sangat besar dalam perang Alengka. Pekik dan bekerannya banyak mematikan raksasa-raksasa Alengka. Seperti halnya para wanara lainnya, setelah berakhirnya perang Alengka, akhir hidupnya tidak banyak diketahui.

Sumber : Senawangi

Sarpakenaka

Dewi

DEWI SARPAKENAKA  adalah putri ketiga Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali, raja negara Alengka. Ia mempunyai tiga orang saudara kandung masing-masing bernama; Dasamuka/Rahwana, Arya Kumbakarna dan Arya Wibisana. Sarpakenaka juga mempunyai saudara seayah lain ibu bernama : Prabu Danaraja/Danapati, raja negara Lokapala, putra Resi Wisrawa dengan Dewi Lokawati.

Walau seorang raksesi, Sarpakenaka sangat sakti. Ia memiliki kuku yang berbisa ular dan merupakan senjata pusaka yang diandalkan. Sarpakenaka berwatak : congkak, ganas, bengis, angkara murka dan serakah. Ia mempunyai dua orang suami masing-masing bernama : Ditya Kardusana dan Ditya Nopati. Dengan kesaktiannya Dewi Sarpakenaka pernah beralih rupa menjadi wanita cantik dan mengoda/merayu Laksmana di hutan Dandaka ingin menjadi istrinya. Lamarannya ditolak. Karena ia tetap memaksakan kehendaknya, membuat Laksmana marah dan memangkas kutung hidungnya serata pipi.

Pada waktu negara Alengka diserbu Prabu Rama dengan balatentara keranya dalam upaya membebaskan Dewi Shinta yang diculik dan disekap Prabu Dasamuka, Dewi Sarpakenaka maju sebagai senapati perang Alengka.. Dengan penuh dendam ia bertempur melawan Laksmana. Akhirnya Sarpakenaka mati terbunuh oleh panah sakti Surawijaya, setelah sebelumnya kuku saktinya dicabuti oleh Anoman.

Sumber : Senawangi

Satabali

SATABALI adalah kera berkepala ayam jantan/jago. Ia merupakan wanara balatentara Gowa Kiskenda di bawah pemerintahan Prabu Sugriwa. Satabali adalah kera ciptaan Bathara Kuwera, yang ditugaskan untuk membantu Ramawijaya dalam upaya merebut kembali Dewi Sinta, dari tawanan Prabu Rahwana raja negara Alengka.Satabali mempunyai kesaktian dalam suaranya. Suara kokoknya yang keras melengking mempunyai kekuatan gaib yang luar biasa, dapat didengar sampai radius ribuan meter. Dalam pasukan kera Gowa Kiskenda, Satabali mempunyai  peranan yang sangat penting. Ia bertugas membangunkan para wadya wanara yang jutaan jumlahnya. Irama kokoknya juga bermacam-macam, sehingga bisa menjadi suatu isyarat atau pertanda tentang sesuatu peristiwa. Suara kokoknya inilah yang membuat pasukan kera Gowa Kiskenda selalu dapat mengetahui setiap gerakan pasukan Alengka yang kadang-kadang secara mendadak dan tersembunyi menyerang perkemahan Suwelagiri.Setelah berakhirnya perang Alengka, sebagaimana wanara lainnya, Satabali tidak diketahui lagi nasibnya

Sayempraba

Dewi

DEWI SAYEMPRABA adalah putri Prabu Wisakarma, raja raksasa negara Kotawindu dengan permaisuri Dewi Merusupami atau Dewi Sumeru (Mahabharata), salah seorang keturunan Sanghyang Taya. Dewi Sayempraba berwajah cantik, berpenampilan halus dan sopan santun, tapi dalam hatinya terkandung sifat kejam dan senang mencelakakan orang lain. Setelah kedua orang tuanya meninggal dan istana Kotawindu dihancurkan Bathara Indra, Dewi Sayempraba tetap tinggal di bekas reruntuhan istana yang kemudian dikenal dengan nama Gowawindu, yang terletak di lereng gunung Warawendya.

Selain sakti dan dapat beralih rupa menjadi apa saja yang dikehendaki, Dewin Sayempraba juga ahli aklam soal racun, dan menjadi orang kepercayaan Prabu Dasamuka/Rahwana, raja negara Alengka. Dengan mantra racunnya, Dewi Sayempraba pernah membuat buta mata Anoman dan laskar kera Gowa Kiskenda tatkala mereka tersesat masuk kawasan Gowawindu dalam perjalanan menuju negara Alengka. Kebutaan Anoman dan laskar keranya dapat disembuhkan kembali oleh Garuda Sempati yang memiliki mantra penawar racun ajaran Resi Rawatmaja.

Akhir riwayat Dewi Sayempraba diceritakan; setelah berakhirnya perang Alengka,  ia kemudian diperistri oleh Anoman yang merasa kecewa karena gagal memperistri Dewi Trijata. Dewi Sayempraba meninggal tanpa mempunyai keturunan.  Jenasahnya dimakamkan di dalam istana  Gowawindu.

Sumber : Senawangi

Sempati

Burung

SEMPATI  adalah burung Garuda yang dapat berbicara seperti manusia. Garuda Sempati adalah putra ketiga Resi Briswawa, yang berarti masih keturunan langsung Dewi Brahmanistri, putri Bathara Brahma. Ia mempunyai tiga saudara kandung masing-masing bernama; Garuda Harna, Garuda Brihawan dan Garuda Jatayu yang menjadi sahabat karib Prabu Dasarata, raja negara Ayodya.

Garuda Sempati bersahabat karib dengan Resi Rawatmaja dari pertapaan Puncakmolah. Ia pernah menyelamatkan Resi Rawatmaja dan Dewi Kusalya, putri Prabu Banaputra raja negara Ayodya dari kejaran Prabu Dasamuka, raja negara Alengka. Sempati kalah dalam pertempuran melawan Prabu Dasamuka. Seluruh bulu di tubuhnya dicabuti oleh Prabu Dasamuka.  Kemudian dalam keadaan terondol tubuh Sempati dilempar jauh ke angkasa, jatuh di lereng gunung Warawendya.

Dalam sisa hidupnya, dengan mantra sakti penawar racun ajaran Resi Rawatmaja, Sempati masih bisa menolong Anoman dan laskar kera Pancawati yang menderita kebutaan matanya karena diracun oleh Dewi Sayempraba, putri Prabu Wisakarma dari Gowawindu. Ia meninggal hanya beberapa saat setelah kepergian Anoman dan laskar keranya.

Sumber : Senawangi

 Sempati

Kapi Kapi Sempati adalah bagian dari bala tentara pasukan kera yang bertempur di udara. Oleh karenanya tentu mereka harus mahir terbang. Diantara nama-nama bala tentara yang  kemudian diangkat menjadi bupati kera dalam pasukan ini seperti Kapi Lembudara, dan Kapi Sambodara dengan koordinator kapi Cocak Rawun. Kapi
Cocak Rawun adalah ciptaan Batara Candra.

Sinta

Dewi

DEWI SINTA adalah putri Prabu Janaka, raja negara Mantili atau  Mitila (Mahabharata). Dewi Sinta diyakini sebagai titisan Bathari Sri Widowati, istri Bathara Wisnu. Selain sangat cantik, Dewi Sinta merupakan putri yang sangat setia, jatmika (selalu dengan sopan santun) dan suci trilaksita (ucapan, pikiran dan hati)nya.  Dewi Sinta menikah dengan Ramawijaya, putra Prabu Dasarata dengan Dewi Kusalya dari negara Ayodya, setelah Rama memenangkan sayembara mengangkat busur Dewa Siwa di negara Mantili. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra masing-masing bernama; Lawa dan Kusya.

Dengan setia Dewi Sinta mengikuti suaminya, Ramawijaya menjalani pengasingan. Karena terpesona oleh keindahan Kijang Kencana penjelmaan Ditya Marica, Dewi Sinta akhirnya diculik oleh Prabu Dasamuka dan ditawan di taman Argasoka negara Alengka hampir 12 tahun lamanya. Ia akhirnya dapat dibebaskan oleh Ramawijaya, setelah berhasil membinasakan Prabu Dasamuka dan semua senapati perang Alengka.

Menurut Mahabharata, Dewi Sinta tidak lama tinggal di istana Ayodya sebagai permaisuri Prabu Rama. Karena kecurigaan Prabu Rama terhadap kesucian Dewi Sinta walau telah dibuktikan dengan hukum bakar di Alengka, Dewi Sinta kemudian diasingkan dari istana Ayodya, dan hidup di pertapaan Resi Walmiki. Di tempat itulah Dewi Sinta melahirkan kedua putra kembarnya. Lawa dan Kusya. Akhir riwayatnya diceritakan, Dewi Sinta mati ditelan bumi saat akan boyong kembali ke istana Ayodya.

 Subali

Subali dikenal pula dengan nama Guwarsi (pedalangan). Ia putera kedua Resi Gotama, dari pertapan Erraya/Grastina, dengan Dewi Indradi/Windradi, bidadari keturunan Bhatara Asmara. Subali mempunyai dua orang saudara kandung masing-masing bernama ; Dewi Anjani dan  Sugriwa/Guwarsa.

Karena rebutan Cupumanik Astagina dengan kedua saudaranya, ia berubah wujud menjadi kera setelah masuk ke dalam telaga Sumala. Untuk menebus kesalahannya dan agar bisa kembali menjadi manusia, atas anjuran ayahnya, Subali melakukan tapa Ngalong (seperti kelelawar) di hutan Sunyapringga. Atas ketekunannya bertapa, Subali mendapatkan Aji Pancasona, yang berarti hidup rangkap lima.

Resi Subali pernah mengalahkan Prabu Dasamuka, raja negara Alengka, bahkan kemudian Dasamuka menjadi muridnya untuk mendapatkan Aji Pancasona. Resi Subali juga berhasil membinasakan Prabu Maesasura, raja raksasa berkepala kerbau dari kerajaan Gowa Kiskenda bersama saudara seperguruannya  Jatasura, berwujud harimau yang akan menghancurkan Suralaya karena lamarannya memperisteri Dewi Tara ditolak Bhatara Indra. Atas persetujuan Subali, Dewi Tara dan kerajaan Gowa Kiskenda diberikan kepada Sugriwa.

Akibat termakan tipu daya dan hasutan Prabu Dasamuka, Resi Subali merebut Dewi Tara dan istana Gowa Kiskenda dari tangan Sugriwa. Selama berhubungan dengannya, Dewi Tara hamil. Dengan bantuan Ramawijaya, Sugriwa dapat merebut kembali Dewi Tara dan istana Gowa Kiskenda. Akibat dari dosa dan kesalahannya Resi Subali dapat dibunuh oleh Ramawijaya. Daya kesaktian Aji Pancasona lenyap terhisap oleh daya kesaktian panah Gowawijaya. Sepeninggal Resi Subali, Dewi Tara melahirkan bayi berwujud kera berbulu  merah  yang diberi nama , Anggada.

Sumber : Senawangi

Sugriwa

SUGRIWA dikenal pula dengan nama Guwarsa (pedalangan). Ia merupakan putra bungsu Resi Gotama dari pertapaan Erraya/Grastina dengan Dewi Indradi/Windardi, bidadari keturunan Bathara Asmara. Sugriwa mempunyai dua orang saudra kandung masing-masing bernama : Dewi Anjani dan Subali.

Setelah menjadi wanara/kera, dalam perebutan Cupumanik Astagina, Sugriwa diperintahkan ayahnya untuk bertapa Ngidang (hidup sebagai kijang) di dalam hutan Sunyapringga apabila menginginkan kembali berwujud manusia. Atas jasa Resi Subali yang berhasil membunuh Prabu Maesasura dan Jatasura, Sugriwa dapat memperistri Dewi Tara dan menjadi raja di kerajaan Gowa Kiskenda serta wadya/ balatentara kera. Prabu Sugriwa juga menikah dengan Endang Suwarsih, pamong Dewi Anjani dan memperoleh seorang putra berwujud kera yang diberi nama Kapi Suweda.

Dewi Tara dan kerajaan Kiskenda pernah direbut oleh Resi Subali yang terkena hasutan jahat Prabu Dasamuka, raja negara Alengka. Dengan bantuan Ramawijaya yang berhasil membunuh Resi Subali dengan panah Gowawijaya, Sugriwa berhasil mendapatkan kembali Dewi Tara dan negaranya. Sebagai imbalannya, Sugriwa  mengerahkan prajurit keranya membantu Ramawijaya membebaskan Dewi Sinta dari sekapan Prabu Dasamuka.

Ketika berlangsungnya perang Alengka, Sugriwa tampil sebagai senapati perang Prabu Rama. Ia berhasil membunuh beberapa senapati perang Alengka, antara lain; Pragasa, Kampana dan Gatodara. Setelah perang berakhir, Sugriwa kembali ke Gowa Kiskenda, hidup bahagia dengan istrinya, Dewi Tara. Ia tidak bisa kembali kewujud aslinya sebagai manusia, karena penyerahan dirinya kepada Dewata belum sempurna, masih terbelenggu oleh kenikmatan duniawi.

Sumber : Senawangi

Sukesi

Dewi

DEWI SUKESI  adalah putri sulung Prabu Sumali, raja negara Alengka dengan permaisuri Dewi Desidara. Ia mempunyai adik kandung bernama Prahasta. Walau ayahnya berwujud raksasa Dewi Sukesi berwajah  cantik seperti ibunya, seorang hapsari/bidadari. Ia mempunyai perwatakan, sangat bersahaja, jujur, setia dan kuat dalam pendirian.

Setelah dewasa Dewi Sukesi menjadi lamaran para satria dan raja. Untuk menentukan pilihan, Dewi Sukesi menggelar sayembara : barang siapa yang bisa menjabarkan ilmu “Sastra Harjendra Yuningrat” dialah yang berhak menjadi suaminya. Selain itu,  pamannya, Ditya Jambumangli putra Ditya Maliawan, yang secara diam-diam mencintai Dewi Sukesi ikut mengajukan satu persyaratan ; bahwa hanya mereka yang dapat mengalahkan dirinya yang berhak mengawini Dewi Sukesi.

Sayembara akhirnya dimenangkan oleh Resi Wisrawa, brahmana dari pertapaan Girijembatan, yang meminang Dewi Sukesi atas nama putranya, Prabu Wisrawana/Danaraja, raja negara Lokapala. Selain dapat menjabarkan ilmu “Sastra Harjendra Yuningrat”, Resi Wisrawa juga berhasil membunuh Ditya Jambumangli. Dewi Sukesi yang menolak dinikahkan dengan Prabu Danaraja, akhirnya menikah dengan Resi Wisrawa. Dari perkawinan tersebut, ia memperoleh empat orang putra, masing-masing bernama ; Rahwana, Arya Kumbakarna, Dewi Sarpakenaka dan Arya Wibisana.

Akhir riwayat Dewi Sukesi diceritakan, ia meninggal karena sedih dan sakit seelah istana Alengka dibakar oleh Anoman.

Sumber :  Senawangi

Sukrasana

 Bambang

SUKASRANA berwujud raksasa kerdil/bajang. Ia putra Resi Suwandagni dari pertapaan Argasekar dengan permaisuri Dewi Darini, seorang hapsari keturunan Bathara Sambujana, putra Sanghyang Sambo. Ia mempunyai seorang kakak bernama Bambang Sumantri, yang berwajah sangat tampan.

Walaupun berwujud raksasa kerdil, Sukasrana memiliki kesaktian luar biasa. Ia mengabdi pada Bathara Wisnu dan bertugas sebagai juru taman Sriwedari di Kahyangan Untarasegara. Suatu ketika ia sangat merindukan keluarganya dan datang ke pertapaan Argesekar. Ia tidak menemui kakaknya yang sangat dicintainya. Setelah mendapat penjelasan dari ayahnya, bahwa Sumantri pergi ke negara Maespati untuk mengabdi pada Prabu Arjunasasra, Sukasrana pergi menyusul.

Di tengah hutan Sukasrana bertemu dengan Sumantri yang sedang sedih, karena harus memenuhi persyaratan Prabu Arjunasasra, memindahkan taman Sriwedari ke negara Maespati bila pengabdiannya ingin diterima. Sukasrana bersedia menolong kakaknya, dengan syarat ia boleh ikut mengabdi di Maespati. Tapi setelah taman Sriwedari berhasil dipindahkan, Sumantri ingkar janji, bahkan tanpa sengaja Suskarana mati terbunuh oleh panah Sumantri. Sebelum ajal, Sukasrana bersumpah akan hidup bersama-sama dengan Sumantri dalam Nirwana, dan  kematiannya akan dibalasnya melalui seorang raja raksasa.

Sumpah Sukasrana terpenuhi. Ketika negara Maespati diserang balatentara Alengka, dan Sumantri berperang melawan Prabu Rahwana/Dasamuka, arwah Sukasrana menyusup/menjelma pada taring Prabu Dasamuka dan Sumantri digigit sampai mati.

Sumber : Senawangi

Suksara

 Prabu

PRABU SUKSARA adalah putra Prabu Brahmanatama, raja negara Alengka dengan permaisuri Dewi Sukati. Ia naik tahta menjadi raja negara Alengka ke-lima menggantikan ayahnya, Prabu Brahmanatama yang hidup sebagai brahmana. Raja-raja negara Alengka sebelumnya adalah: Prabu Hiranyakasipu, Prabu Banjaranjali dan Prabu Getahbanjaran, yang kesemuanya adalah keturunan Bathara Brahma.

Prabu Suksara menikah dengan Dewi Aswanti, seorang hapsari/bidadari yang masih keturunan Bathara Semeru. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra bernama; Ditya Sumali dan Ditya Maliawan.

Walau berwujud raksasa, Prabu Suksara berwatak brahmana. Ia memerintah negara Alengka dengan sifat adil dan bijaksana. Setelah Ditya Sumali dewasa, Prabu Suksara menyerahkan tahta negara Alengka kepada putranya. Ia kemudian hidup sebagai brahmana karena ia berharap ada anak keturunannya yang lahir satria dan berwatak brahmana, yang menjadi kekasih Sanghyang Wisnu. Keingginannya kelak menjadi kenyataan. Salah satu keturunannya, Arya Wibisana menjadi sahabat dan kekasih Prabu Rama, raja titisan Sanghyang Wisnu.

Sumber : Senawangi

Sumali

 Prabu

PRABU SUMALI adalah putra Prabu Suksara, raja raksasa negara Alengka dengan permaisuri  Dewi Subakti. Ia mempunyai adik kandung bernama Ditya Maliawan. Prabu Sumali menjadi raja negara Alengka menggantikan kedudukan ayahnya, Prabu Suksara yang mengundurkan diri hidup sabagai brahmana.

Prabu Sumali adalah raja Aditya yang berwatak brahmana. Ia memerintah negara dengan arif dan bijaksana, adil dan jujur. Prabu Sumali menikah dengan Dewi Desidara, seorang hapsari keturunan Bathara Brahma dari permaisuri Dewi Sarasyati. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra masing-masing bernama ; Dewi Sukesi dan Prahasta.

Atas desakan Ditya Jambumangli, putra Ditya Maliawan, Prabu Sumali menyelenggarakan sayembara tanding untuk mencari jodoh bagi putrinya, Dewi Sukesi. Sayembara itu dimenangkan oleh Resi Wisrawa dari pertapaan Girijembatan wilayah negara  Lokapala setelah menewaskan Ditya Jambumangli, dan berhasil menjabarkan ilmu “Sastra Harjendra Yuningrat” atas permintaan Dewi Sukesi.

Setelah usianya lanjut dan merasa tak mampu lagi menangani pemerintahan negara, Prabu Sumali kemudian menyerahkan kekuasaan kerajaan Alengka kepada cucunya, Rahwana, putra Dewi Sukesi dengan Wisrawa. Prabu Sumali meninggal setelah peristiwa pembakaran istana Alengka oleh Anoman.

Sumber : Senawangi

Sumantri

 Bambang

BAMBANG SUMANTRI adalah putra Resi Suwandagni dari pertapaan Argasekar dengan permaisuri Dewi Darini, seorang hapsari/bidadari keturunan Bathara Sambujana, putra Sanghyang Sambo. Ia mempunyai seorang adik bernama Bambang Sukasarana/Sukrasana, berwujud raksasa kerdil/bajang.

Sumantri sangat sakti dan memiliki  senjata pusaka berupa Panah Cakra. Selain ahli dalam ilmu tata pemerintahan dan tata kenegaraan. Sumantri juga mahir dalam olah keprajuritan dan menguasai berbagai tata gelar perang. Setelah dewasa, ia mengabdi pada Prabu Arjunasasra/Arjunawijaya di negara Maespati. Sebagai batu ujian, ia ditugaskan melamar Dewi Citrawati, putri negara Magada yang waktu itu menjadi rebutan/lamaran raja-raja dari seribu negara.

Sumantri berhasil memboyong Dewi Citrawati. Tapi sebelum menyerahkan kepada Prabu Arjunasasra,  ia lebih dulu ingin menguji kemampuan dan kesaktian Prabu Arjunasasra sesuai dengan cita-citanya ingin mengabdi pada raja yang dapat mengungguli kesaktiannya. Dalam perang tanding, Sumantri dapat dikalahkan Prabu Arjunasasra yang bertiwikrama. Ia kemudian disuruh memindahkan Taman Sriwedari dari Kahyangan Untarasegara ke negara Maespati bila ingin pengabdiannya diterima. Dengan bantuan adiknya, Sukasrana, Taman Sriwedari dapat dipindahkan, tapi secara tak sengaja Sukasrana mati terbunuh olehnya dengan senjata Cakra. Oleh Prabu Arjunasasra, Sumantri diangkat menjadi patih negara Maespati bergelar  Patih Suwanda.

Akhir riwayat Sumantri/Patih Suwanda diceritakan; ia gugur dalam pertempuran melawan Prabu Dasamuka, raja negara Alengka yang dalam taringnya menjelma arwah Sukasrana.

Sumber : Senawangi

Sumitra

 Dewi DEWI SUMITRA dikenal pula dengan nama Dewi Priti. Ia putri dari Bathara Hira/Prabu Ruryana, raja negara Maespati, yang berarti cucu Prabu Arjunawijaya atau Prabu Arjunasasra dengan permaisuri Dewi Citrawati. Dewi Sumitra berwajah sangat cantik. Ia memilki sifat dan perwatakan; setia, murah hati,baik budi, sabar, jatmika (selalu dengan sopan santun) dan sangat berbakti.

Dewi Sumitra menjadi permaisuri ketiga Prabu Dasarata, Raja negara Ayodya. Kedua permaisuri Prabu Dasarata yang lain ialah; Dewi Kusalya/Dewi Ragu, ibu Ramawijaya, dan Dewi Kekayi, ibu Barata. Dari perkawinannya dengan Prabu Dasarata, Dewi Sumitra memperoleh seorang putra yang berwajah sangat tampan bernama, Raden Lesmana yang diyakini sebagai penjelmaan Bathara Suman. Tigabelas tahun lamanya Dewi Sumitra harus berpisah dengan putra tunggalnya, Lesmana yang pergi mengikuti Ramawijaya, meninggalkan negara Ayodya untuk menjalani hukum buang atas kehendak Dewi Kekayi. Selama masa itulah ia dengan setia dan sabar mendampingi seta menghibur hati Dewi Kusalya.

Dewi Sumitra meninggal dalam usia lanjut. Ia masih sempat ikut menyaksikan dan menikmati masa kejayaan negara Ayodya di bawah pemerintahan Prabu Ramawijaya dengan pendamping Lesmana, putra tunggalnya.

Sumber : Senawangi

Suryaketsu

Prabu

PRABU SURYAKESTU adalah putra Prabu Mandrakestu, raja negara Kidarba dari perwaisuri Dewi Isnawari. Di dalam sarasilah Parisawuli, Mandrakestu dikenal dengan nama  Bramakestu,  putra  Bathara Bramanadewa, keturunan Bathara Brama, dengan Dewi Srinadi, putri Bathara Wisnu. Prabu Suryakestu mempunyai saudara kembar  yang  merupakan adiknya bernama Candrakestu, yang menjadi raja di negara Takiya. Suryakestu menjadi raja negara Kidarba menggantikan ayahnya yang meninggal karena usia lanjut.

Prabu Suryakestu dan negara Sakiya masuk dalam wilayah kekuasaan negara Maespati di bawah kekuasaan Prabu Arjunawijaya/Arjunasasra. Karena itu selain menjadi raja negara Kidarba, Prabu Suryakestu juga menjabat senapati perang negara Maespati. Karena kesaktian dan kesetiaannya, Prabu Suryakestu ditugaskan untuk membantu Bambang Sumantri berperang menghadapi raja-raja dari 25 negara di negara Magada dalam upaya mendapatkan Dewi Citrawati.

Prabu Suryakestu pernah mati dalam pertempuran melawan Prabu Dasamuka, saat menjaga keselamatan Prabu Arjunasasra yang sedang tidur bertiwikrama membendung aliran sungai menjadi telaga buatan untuk tempat pemandian Dewi Citrawati dan 800 orang selir berikut para dayangnya. Tapi berkat kesaktian Bathara Pulasta, kakek buyut Prabu Dasamuka, Prabu Suryakestu dapat dihidupkan  kembali.

Setelah Prabu Arjunasasra tewas dalam pertempuran melawan Ramaparasu, Prabu Suryakestu kembali ke negara Kidarba. Ia meninggal dalam usia lanjut.

Sumber : Senawangi

Suwandagni

Resi

RESI SUWANDAGNI adalah brahmana di pertapaan Argasekar. Ia putra kedua dari Resi Wisanggeni  yang dalam Serat Ramayana dikenal dengan nama Ricika — Resi Wisanggeni merupakan putra bungsu dari dua bersaudara putra Bagawan Dewatama, yang berarti cucu Bathara Dewanggana, turun ke-3 dari Bathara Surya. — Kakak kandungnya, Jamadagni yang sebelum menjadi brahmana di pertapaan Dewasana, lebih dulu menjadi raja negara Kanyakawaya menggantikan Raja Gadi, kakeknya.

Resi Suwandagni menikah dengan Dewi Darini, seorang hapsari/bidadari keturunan bathara Sambujana, putra Sang Hyang Sambo. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra masing-masing bernama; Bambang Sumantri yang berparas tampan, dan Bambang Sukasarana/Sukasrana, berwujud raksasa kerdil/bajang.

Resi Suwandagni sangat sayang kepada putra-putranya. Pendidikannya diarahkan kepada hal-hal yang bersifat kesantikan, kesaktian dan menanamkan rasa kebaktian kepada umat. Olah keprajuritan sangat diutamakan, sehingga kedua putranya sangat mendalami jiwa keprajuritan dan kepahlawanan. Setelah dewasa, Bambang Sumantri mengabdi pada Prabu Arjunasasra / Arjunawijaya dan menjadi patih di negara Maespati. Sedangkan Sukasrana mengabdi pada Bathara Wisnu dan ditugaskan menjadi juru Taman Sriwedari di Kahyangan Untarasegara.

Resi Suwandagni moksa setelah mendengar, bahwa Bambang Sumantri/Patih Suwanda gugur dalam pertempuran melawan Prabu Dasamuka, raja negara Alengka, dan  Sukasrana mati oleh tangan kakaknya sendiri.

Sumber : Senawangi

Advertisements

2 thoughts on “Ramayana Wayang-S”

  1. saya kehabisan komentar mas-mas, layo saking senengnya semua halaman tak buka satu-satu

  2. kenapa kebanyakan memakai bahasa Indonesia????? saya kesusahan untuk mencari tugas….
    mohon cerita wayang bahasa jawanya diperbanyak….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Media Berbagi Para Pecinta Wayang

%d bloggers like this: