Kurawa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Korawa atau Kaurawa (Sansekerta: कौरव; kaurava) adalah kelompok antagonis dalam wiracarita Mahabharata. Nama Korawa secara umum berarti “keturunan Kuru”. Kuru adalah nama seorang Maharaja yang merupakan keturunan Bharata, dan menurunkan tokoh-tokoh besar dalam wiracarita Mahabharata. Korawa adalah musuh bebuyutan para Pandawa. Jumlah mereka adalah seratus dan merupakan putra prabu Dretarastra yang buta dan permaisurinya, Dewi Gandari.

Pengertian

Istilah Korawa yang digunakan dalam Mahabharata memiliki dua pengertian:

Arti luas: Korawa merujuk kepada seluruh keturunan Kuru. Dalam pengertian ini, Pandawa juga termasuk Korawa, dan kadangkala disebut demikian dalam Mahabharata, khususnya pada beberapa bagian awal.

Arti sempit: Korawa merujuk kepada garis keturunan Kuru yang lebih tua. Istilah ini hanya terbatas untuk anak-anak Dretarastra, sebab ia merupakan keturunan yang tertua dalam garis keturunan Kuru. Istilah ini tidak mencakup anak-anak Pandu, yang mendirikan garis keturunan baru, yaitu para Pandawa.

Riwayat singkat

Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Gandari, istri Dretarastra, menginginkan seratus putera. Kemudian Gandari memohon kepada Byasa, seorang pertapa sakti, dan beliau mengabulkannya. Gandari menjadi hamil, namun setelah lama ia mengandung, puteranya belum juga lahir. Ia menjadi cemburu kepada Kunti yang sudah memberikan Pandu tiga orang putera. Gandari menjadi frustasi kemudian memukul-mukul kandungannya. Setelah melalui masa persalinan, yang lahir dari rahimnya hanyalah segumpal daging. Byasa kemudian memotong-motong daging tersebut menjadi seratus bagian dan memasukkannya ke dalam guci, yang kemudian ditanam ke dalam tanah selama satu tahun. Setelah satu tahun, guci tersebut dibuka kembali dan dari dalam setiap guci, munculah bayi laki-laki. Yang pertama muncul adalah Duryodana, diiringi oleh Dursasana, dan saudaranya yang lain.

Seluruh putera-putera Dretarastra tumbuh menjadi pria yang gagah-gagah. Mereka memiliki saudara bernama Pandawa, yaitu kelima putera Pandu, saudara tiri ayah mereka. Meskipun mereka bersaudara, Duryodana yang merupakan saudara tertua para Korawa, selalu merasa cemburu terhadap Pandawa, terutama Yudistira yang hendak dicalonkan menjadi raja di Hastinapura. Perselisihan pun timbul dan memuncak pada sebuah pertempuran akbar di Kurukshetra.

Setelah pertarungan ganas berlangsung selama delapan belas hari, seratus putera Dretarastra gugur, termasuk cucu-cucunya, kecuali Yuyutsu, putera Dretarastra yang lahir dari seorang dayang-dayang. Yang terakhir gugur dalam pertempuran tersebut adalah Duryodana, saudara tertua para Korawa. Sebelumnya, adiknya yang bernama Dursasana yang gugur di tangan Bima. Yuyutsu adalah satu-satunya putera Dretarastra yang selamat dari pertarungan ganas di Kurukshetra karena memihak para Pandawa dan ia melanjutkan garis keturunan ayahnya, serta membuatkan upacara bagi para leluhurnya.

Para Korawa

Berikut ini nama-nama seratus Korawa yang dibedakan menjadi dua versi, versi India dan versi Indonesia. Kedua Korawa utama yaitu Suyodana alias Duryodana dan Dursasana disebut lebih dahulu. Kemudian yang lain disebut menurut urutan abjad.

Versi India

  1. Duryodana (Duryodhana)
  2. Dursasana (Dussāsana)
  3. Abaya (Abhaya)
  4. Adityaketu (Ādithyakethu)
  5. Alalupa (Alolupa)
  6. Amapramadi (Amapramādhy)
  7. Anadrusya (Anādhrushya)
  8. Antudara (Anthudara)
  9. Anuwinda (Anuvindha)
  10. Aparajita (Aparājitha)
  11. Ayubahu (Ayobāhu)
  12. Bahwasi (Bahwāsy)
  13. Bilawardana (Belavardhana)
  14. Bimabala (Bhīmabela)
  15. Bimawiga (Bhīmavega)
  16. Bimawikra (Bhīmavikra)
  17. Carucitra (Chāruchithra)
  18. Citra (Chithra)
  19. Citrabana (Chithrabāna)
  20. Citraksa (Chithrāksha)
  21. Citrakundala (Chithrakundala)
  22. Citrakundhala (Chithrakundhala)
  23. Citranga (Chithrāmga)
  24. Citrawarma (Chithravarma)
  25. Citrayuda (Chithrāyudha)
  26. Danurdara (Dhanurdhara)
  27. Dirkabahu (Dhīrkhabāhu)
  28. Dirkaroma (Dīrkharoma)
  29. Dredahasta (Dridhahastha)
  30. Dredakarmawu (Dhridhakarmāvu)
  31. Dredaksatra (Dridhakshathra)
  32. Dredaratasyara (Dhridharathāsraya)
  33. Dredasanda (Dridhasandha)
  34. Dredawarma (Dridhavarma)
  35. Duradara (Durādhara)
  36. Durdarsa (Durdharsha)
  37. Durmada (Durmada)
  38. Durmarsana (Durmarshana)
  39. Durmuka (Durmukha)
  40. Dursaha (Dussaha)
  41. Dursala (Dussala)
  42. Durwigaha (Durvigāha)
  43. Durwimuca (Durvimocha)
  44. Duskarna (Dushkarna)
  45. Dusparaja (Dushparāja)
  46. Duspradarsa (Dushpradharsha)
  47. Jalaganda (Jalagandha)
  48. Jarasanda (Jarāsandha)
  49. Kancanadwaja (Kānchanadhwaja)
  50. Karna (Karna)
  51. Kawaci (Kavachy)
  52. Kradana (Kradhana)
  53. Kundabedi (Kundhabhedy)
  54. Kundadara (Kundhādhara)
  55. Kundase (Kundhasāi)
  56. Kundasi (Kundhāsy)
  57. Kundi (Kundhy)
  58. Mahabahu (Mahabāhu)
  59. Mahodara (Mahodara)
  60. Nagadata (Nāgadatha)
  61. Nanda (Nanda)
  62. Nisamgi (Nishamgy)
  63. Pasi (Pāsy)
  64. Pramada (Pramadha)
  65. Sadasuwaka (Sadāsuvāk)
  66. Saha (Saha)
  67. Sala (Sala)
  68. Sama (Sama)
  69. Sarasana (Sarāsana)
  70. Satwa (Sathwa)
  71. Satyasanda (Sathyasandha)
  72. Senani (Senāny)
  73. Somakirti (Somakīrthy)
  74. Subahu (Subāhu)
  75. Suhasta (Suhastha)
  76. Sujata (Sujātha)
  77. Sulocana (Sulochana)
  78. Sunaba (Sunābha)
  79. Susena (Sushena)
  80. Suwarca (Suvarcha)
  81. Suwarma (Suvarma)
  82. Suwiryaba (Suvīryavā)
  83. Ugrase (Ugrasāi)
  84. Ugrasena (Ugrasena)
  85. Ugrasrawas (Ugrasravas)
  86. Ugrayuda (Ugrāyudha)
  87. Upacitra (Upachithra)
  88. Upananda (Upananda)
  89. Urnanaba (Ūrnanābha)
  90. Walaki (Vālaky)
  91. Watawiga (Vāthavega)
  92. Wikarna (Vikarna)
  93. Wikatinanda (Vikatinanda)
  94. Winda (Vindha)
  95. Wirabahu (Vīrabāhu)
  96. Wirajasa (Virajass)
  97. Wirawi (Virāvy)
  98. Wisalaksa (Visālāksha)
  99. Wiwitsu (Vivilsu)
  100. Wrendaraka (Vrindāraka)
  101. Yuyutsu (Yuyulssu) *
  102. Dursala (Dussala) *

Versi Indonesia

  1. Duryodana (Suyodana)
  2. Dursasana (Duhsasana)
  3. Abaswa
  4. Adityaketu
  5. Alobha
  6. Anadhresya (Hanyadresya)
  7. Anudhara (Hanudhara)
  8. Anuradha
  9. Anuwinda (Anuwenda)
  10. Aparajita
  11. Aswaketu
  12. Bahwasi (Balaki)
  13. Balawardana
  14. Bhagadatta (Bogadenta)
  15. Bima
  16. Bimabala
  17. Bimadewa
  18. Bimarata (Bimaratha)
  19. Carucitra
  20. Citradharma
  21. Citrakala
  22. Citraksa
  23. Citrakunda
  24. Citralaksya
  25. Citrangga
  26. Citrasanda
  27. Citrasraya
  28. Citrawarman
  29. Dharpasandha
  30. Dhreksetra
  31. Dirgaroma
  32. Dirghabahu
  33. Dirghacitra
  34. Dredhahasta
  35. Dredhawarman
  36. Dredhayuda
  37. Dretapara
  38. Duhpradharsana
  39. Duhsa
  40. Duhsah
  41. Durbalaki
  42. Durbharata
  43. Durdharsa
  44. Durmada
  45. Durmarsana
  46. Durmukha
  47. Durwimocana
  48. Duskarna
  49. Dusparajaya
  50. Duspramana
  51. Hayabahu
  52. Jalasandha
  53. Jarasanda
  54. Jayawikata
  55. Kanakadhwaja
  56. Kanakayu
  57. Karna
  58. Kawacin
  59. Krathana (Kratana)
  60. Kundabhedi
  61. Kundadhara
  62. Mahabahu
  63. Mahacitra
  64. Nandaka
  65. Pandikunda
  66. Prabhata
  67. Pramathi
  68. Rodrakarma (Rudrakarman)
  69. Sala
  70. Sama
  71. Satwa
  72. Satyasanda
  73. Senani
  74. Sokarti
  75. Subahu
  76. Sudatra
  77. Suddha (Korawa)
  78. Sugrama
  79. Suhasta
  80. Sukasananda
  81. Sulokacitra
  82. Surasakti
  83. Tandasraya
  84. Ugra
  85. Ugrasena
  86. Ugrasrayi
  87. Ugrayudha
  88. Upacitra
  89. Upanandaka
  90. Urnanaba
  91. Wedha
  92. Wicitrihatana
  93. Wikala
  94. Wikatanana
  95. Winda
  96. Wirabahu
  97. Wirada
  98. Wisakti
  99. Wiwitsu (Yuyutsu)
  100. Wyudoru (Wiyudarus)
Istimewa:Yuyutsu adalah putra Dretarastra dari seorang dayang-dayang.Dursala adalah adik perempuan Korawa. Ia satu-satunya wanita di antara para Korawa.

Korawa lainnya

Para Korawa (putera Dretarastra) yang utama berjumlah seratus, namun mereka masih mempunyai saudara dan saudari pula. Yaitu Yuyutsu, yaitu anak Dretarastra tetapi lain ibu, ibunya seorang wanita waisya. Kemudian dari Dewi Gandari, lahir seorang putra lagi bernama Duskampana dan seorang putri bernama Dursala (atau Duççala atau Dussala).

Referensi

Nama-nama tokoh para Korawa versi Indonesia diambil dari:

I Gusti Putu Phalgunadi, 1900, Âdi Parva. The First Book. New Delhi: International Academy of Indian Culture and Aditya Prakashan, halaman 186-189. (Phalgunadi menerbitkan ulang teks Jawa Kuna Adiparwa yang pernah diterbitkan, namun kali ini disertai dengan terjemahan dalam bahasa Inggris. Nama-nama tokoh Korawa di dalam naskah yang digunakan Phalgunadi tidak lengkap, dan kadang-kadang berbeda dengan nama dalam Mahabharata dari India yang memakai bahasa Sansekerta. Kemudian oleh Phalgunadi dilengkapi dengan nama-nama yang ia dapatkan dari Mahabharata versi Sansekerta)

Sumber :

24 thoughts on “Kurawa”

  1. salam, baru kali ini saya mengerti alau kurawa beanr ad seratus. Tapi bagaiman mungkin seorang wanita melahirkan sampaimseratus orang, kayak tikus..???

  2. Kulo remen sanget wonten gambaripin wayang kurowo. Nanging radi aneh nggih, sakmangertos kulo, wonten ing pweayangan gagrag mataram, wonten asma2 Kurowo meniko :

    -Durmogati
    -Durgempo (klop2an durmogati)
    -Durjaya
    -Boma Wikata
    -Wikata Boma (kembaran Boma wikata, kekalihipun pejah wonten lakon Gathutkaca gugur)
    -Citraksi (kembaran Citraksa)
    -Kartamarma (Kurowo ingkang kondhang wonten pewayangan, pejahipun pas lakon Aswatama landhak. Gambaripun wonten inggil sampun onten, ning kok nami nipun mboten ke daptar)
    -Pratipeya (kulo natih mireng naminipun wonten lakon barathayuda Ki Timbul)
    -Satupermeya (kulo natih mireng naminipun wonten lakon barathayuda Ki Timbul)

    Lan sa eling kulo, naminipun Kurowo ingkang ragil estri meniko sanes Dursala.
    Ning DURSILAWATI ingkang sak mangkenipun di pun pundut garwa kalih raden Jayadrata / Tirtanata.

  3. Tambah setunggal, Dursusena (sanes Dursasana)
    Kulo mireng wonten lakon Suyudono Gugur Ki Hadi Sugito.

  4. Tambahan malih, Dursala menika putranipun Dursasana.
    Piyambakipun dados sainganipun Gathutkaca.
    Raden Gathutkaca natih kawon kalih raden Dursala, lan supados saged ngawonaken raden Dursala, Gathutkaca meguru kalih Resi Seta, pikantuk AJI NARANTAKA.

    1. Assalamu’alaikum Wr.Wb.
      Mas Nano, apakah panjenengan mempunyai wayang lakon aji narantaka?. Bilamana ya, mohon bisa di upload. Saya kepingin sekali mendengarkannya.
      Salam

  5. Ah nyuwun sewu, ajenga nami2 ingkang kulo sebat mbonten wonten ing deret inggil, jebul sampun panjenengan damel piyambak wonten link Barathayudha Arena.

    Nyuwun ngapunten menawi kulo kekathahen wicara lan sok keminter . Sapisan malih nyuwun sak gunging samudro pangaksami Mas Prabu.

  6. Wah,… manteb banget niki, kulo saget mangertos, lan saget nambah wawasan bab ringgit purwo, kang sampun kawentar “Budoyo adiluhung ingkang kompleks, sedoyo cabang seni wonten, seni pahat, seni music/lagu, seni lukis/sungging, seni drama” lan dipun akui Dunia (UNESCO) sebagai Kebudayaan Dunia asal Indonesia. Wayang meniko “Budoyo paling hebat. tiang monco negoro mawon kang remen lan terkagum-kagum,.. Tgl 24 Maret wonten RCTI Putra Nababan wawancara kaleh Presiden Amerika Seikat Barack Obama, Kiyambake ngendiko remen kaleh wayang, mahabarata, ramayana, terinspirasi kaleh Hanoman.
    Coba…? kan hebat niku…?
    Nanging kawulo mudo kito katah inggkang mboten mangertos wayang…. walaaaa… mesaknene nopo…
    pripun niku? Salah sinten niku????
    Pripun carane sageto woyong mboten soyo sudho….?
    Kulo tiang jawi inggkang laher ing tlatah mbatak, nyuwon sewu mbok menowo keclitat keclitut ndiko kulo niki.
    matur nuwun,.. “wayang Tetap Jaya”
    Horas,… horas… hita saluhut na,….

  7. kurawa tercipta karena saat masih daging ditemndang oleh ibunya yang masih marah. lalu berceceran di taman dan ditutupi oleh daun. esok harinya terciptalah bayi-bayi kurawa. apakah ada versi lain juga selain punya saya??

  8. Hampir mirip sebenarnya dengan versi mas Resa.

    Dewi Gandari marah karena anak Kunthi yang mbarep sudah lahir (Samiaji). Karena kandungan Gandari tidak juga lahir2, dipukul2 nya. Sehingga keluar tapi berwujud daging.

    Kemudian oleh Begawan Abiyasa (bapak Destarata, mertua nya Gandari), sesuai dengan keinginan Gendari yang ingin punya anak 100, daging itu di potong2 hingga , dan masing2 di masukkan kuali, di kubur di dalam tanah.
    Potongan yang paling besar, jadi bayi yang paling pertama, Diberi nama Duryudana., waktunya hampir sama dengan lahirnya Werkudara/Bima.
    Yang kedua, dursasana, waktunya hampir sama dengan lahirnya Arjuna
    Sisanya 98, jadi bayi waktunya hampir sama dengan lahirnya nakula-sadewa.

  9. kurawa urut menurut gagrak mataraman

    1. Prabu Duryudana
    2. Raden Dursasana
    3. Raden Durjaya
    4. Raden Durmasama
    5. Raden Durgempo
    6. Raden Durmana
    7. Raden Dursara
    8. Raden Durbahu
    9. Raden Durkundha
    10. Raden Durmada
    11. Raden Durdarsa
    12. Raden Dirgaroma
    13. Raden Dursatwa
    14. Raden Durdara
    15. Raden Dirgama
    16. Raden Dirgalasara
    17. Raden Durmandaka
    18. Raden Duspradarsa
    19. Raden Durkaruna
    20. Raden Durkarana
    21. Raden Dusprajaya
    22. Raden Durpramata
    23. Raden Durwega
    24. Raden Duryuda
    25. Raden Durmuka
    26. Raden Durmagati
    27. Raden Genthara
    28. Raden Genthiri
    29. Raden Bogadhenta
    30. Raden Hanudara
    31. Raden Halayuda
    32. Raden Nagadhata
    33. Raden Udadara
    34. Raden Durgabahu
    35. Raden Darmamuka
    36. Raden Jalasaha
    37. Raden Wisalaksa
    38. Raden Watawega
    39. Raden Ugrayuda
    40. Raden Bomawikatha
    41. Raden Wikathaboma
    42. Raden Citraboma
    43. Raden Habaya
    44. Raden Nayabahu
    45. Raden Jalasintaka
    46. Raden Rudrakarman
    47. Raden Jalasuma
    48. Raden Carucitra
    49. Raden Dwilocana
    50. Raden Dursana
    51. Raden Dursaya
    52. Raden Dredhakesti
    53. Raden Ekatana
    54. Raden Dredhasetra
    55. Raden Trigarsa
    56. Raden Dretgayuda
    57. Raden Citrayuda
    58. Raden Dredawarma
    59. Raden Hagnyadresya
    60. Raden Patiwega
    61. Raden Bimarata
    62. Raden Brajasandha
    63. Raden Wirabahu
    64. Raden Bimawega
    65. Raden Balawardhana
    66. Raden Danurdara
    67. Raden Balakindha
    68. Raden Bimasuwala
    69. Prabu Gardhapura
    70. Raden Gardhapati
    71. Raden Windadini
    72. Raden Naranurwindha
    73. Raden Sulocana
    74. Raden Wiwingsata
    75. Raden Kundhasyin
    76. Raden Adityakethu
    77. Raden Aparajita
    78. Raden Agrasara
    79. Raden Surarsonawana
    80. Raden Agrayayin
    81. Raden Kartamarma
    82. Raden Kartadhenda
    83. Raden Kratana
    84. Raden Kenyakadhaja
    85. Raden Citraksa
    86. Raden Citrawarma
    87. Raden Citrakundhala
    88. Raden Citraga
    89. Raden Citrabana
    90. Raden Somakirta
    91. Raden Subarsona
    92. Raden Subardisona
    93. Raden Ugraweya
    94. Raden Citradama
    95. Raden Upanandaka
    96. Raden Ugrasewa
    97. Raden Upacitra
    98. Raden Senani
    99. Raden Wahkawaca
    100. Raden Citraksi
    101. Dewi Dursilawati

    1. wah, maturnuwun sanget daftar nama nipun Korawa. Nembe niki ngertos daftar lengkapipun Kurawa. Ning kok wonten 101 nggih. Ingkang sampun kula pireng menika Kurawa wonten 100 cacahipun, lhah niki kok punjul 1…?

  10. maaf mas… aq jd bingung, krn daftar nama kurawa berbeda2 ya. mungkin versi mataram lebih cocok. tp gk ada nama jayawikoto (menurut h anom suroto, kembaran bomawikoto), gak ad jg nama suryogupala, siwikarna, setyarata, setyawarman, pemeyo yg bawa gajah hestitomo, dll. tolong penjelasannya, terima kasih

    1. Maaf juga saya ngambil dari referensi seperti di atas
      mengenai perbedaan versi, perlu telaah detil lebih lanjut
      sepertinya memang cukup banyak perbedaan, mengingat jumlah banyak dan sangat jarang ditampilkan semuanya dalam pagelaran wayang
      nuwun

  11. mas… tolong jg bs diberikan urutan perang baratayuda yg jls dari hari 1 sampai 12. karena aq jd bingung, seperti kematian dursasana itu pd saat durna gugur atau karna tanding. trs gatutkaca gugur sebelum durna gugur atau sesudah durna gugur.

  12. maaf mas, maksud aku urutan perang baratayuda dari hari 1 sampai 18. karena aku pengen tau kisah kematian satria2 pihak pandawa dan kurawa. makasih atas penjelasannya

  13. Katur mas Nano. Sugeng pitepangan.Kula kepingin sanget naggapi seratan panjenengan.
    1.Dursala punika wonten sing mastani Kurawa nomer 3 saksampunipun Dursasana. Kacariyos Dursala menika kontal nalika lampahan Pandhawa Traju. Lajeng dumugi malih ing Ngastina saperlu ngabekti dateng kang raka Prabu Kurupati. Sang Nata sagah ngaken sederek sauger Dursala kasil nyirnakaken Gathutkaca ingkang saweg gegladen prang ing Kurusetra. Dursala kadherekaken putra angkatipun Prabu Karna namapun Aridewa. Nanging Dursala lajeng gugur dening Gathutkaca amargi dayanipun aji Narantaka semanten ugu Aridewa.
    2.Kartamarma punika ing pakem India kalebet bangsa Yadawa prajuritipun Prabu Kresna. Kartamarma kautus Prabu Kresna kinen sabiyantu Prabu Duryudana natkala perang Bharatayudha. Saksampunipun Perang Bharatayudha Kartamarma wangsul mring Dwarawati.
    3.Partipeya/Kartipeya ugi kontal nalika lampahan Pandhawa Traju. Ing Bharatayudha gugur mengsah Werkudara nalika babak Paluhan.
    4.Dursusena/Jaya Susena gugur sakasmpunipun Duryudana gugur.

  14. Para sadherek pandemen ringgit, mari kita tidak usah menyoal perbedaan nama, karena faktor geografis dan antropologis semua itu bisa saja terjadi. Misal, suara ayam jantan, di pendengaran dan pengucapan berbahasa Jawa, “Kukuruyuk!” tapi di tempat lain seperti di NTT, “Klongkorongkong!”; contoh lain, suara tembakan, di pengguna bahasa Indonesia, “Dor dor!” tapi di pengguna bahasa Inggris, “Bang bang!”
    Yang terpenting bagi kita pencinta wayang adalah bagaimana melestarikan wayang agar tak luntur dari generasi ke generasi serta tidak lancur berpindah tangan karena tak ada upaya nyata menjadikan sebagai kepribadian jati-diri kita kawula Nusantara. Terimakasih kepada anda semua terutama mas Prabu dan kawan-kawan atas kerja nyata kalian nguri-uru budaya adiluhung, salam super sejahtera insan Indonesia!

  15. maaf mau bertanya..sebenarnya ada berapa versi barathayudha di indonesia sendiri? saya mulai tertarik karena saya baca buku memburu kurawa karya pitoyo amrih. dan jadi ingin menelusuri sejarah pewayangan di indonesia.

  16. haa3x…….mas/mbak Nia keracunan “Memburu Kurawa” tho!!!! saya pikir saya sendiri…..hee3x, akhirnya koleksi novel wayang lebih dari 4 penulis, meski cerita sama ‘sense’ nya berbeda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Media Berbagi Para Pecinta Wayang

%d bloggers like this: