Category Archives: Tokoh Punokawan

Cantrik


Cantrik

Tokoh Cantrik ditampilkan dalam wayang kulit purwa dengan roman muka yang gembira dengan plelengan. Hidungnya ndelik atau sumpel. Bermulut sunthi dengan kumis tipis, kadang ada yang berjenggot dan berjabang. Perut buncit, memakai rompi dan memakai celana pocong dagelan. Kepalanya memakai kethu, semacam topi. Dipunggungnya, kemana-mana menyandang sabit.
(wayang buatan Kaligesing Purworejo, koleksi museum Tembi Rumah Budaya, foto: Sartono)

———-

Cantrik termasuk panakawan, namun tidak panakawan baku seperti halnya: Semar, Gareng, Petruk dan Bagong (panakawan tengen) atau pun Togog dan Bilung (panakawan kiwa). Cantrik merupakan panakawan morgan atau panakawan sampingan dan tidak baku. Walaupun tidak baku kehadiran Cantrik dalam wayang kulit purwa cukup penting. Ia hadir sebagai pengiring pendeta atau begawan, baik pendeta yang berujud raksasa maupun pendeta yang berujud ksatria, di sebuah pertapaan atau percabaan.

Pada pagelaran wayang kulit Purwa, adegan percabaan ini merupakan kelanjutan dari adegan gara-gara, ketika para panakawan tengen (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong) selesai bersenang-senang menghibur, lalu mengantar seorang ksatria menuju percabaan untuk memohon pencerahan kepada pendeta yang bersangkutan. Dalam adegan percabaan ini biasanya seorang dalang memanfaatkan bertemunya Cantrik dan Semar Gareng, Petruk, Bagong dengan guyonan yang lucu dan konyol.

Sesungguhnya Cantrik merupakan penggambaran seseorang yang sedang menuntut ilmu kepada pendeta atau begawan di padepokan atau percabaan. Sistem pengajaraannya menggunankan sistem khusus, yaitu sistem pengajaran paguron. Dalam sistem paguron ini, para Cantrik (laki-laki) dan Mentrik (perempuan) juga menjadi bagian dari keluarga, mereka tinggal makan dan bekerja bersama serta berfungsi sebagai pelayan atau pengasuh.

Tokoh Cantrik jarang diceritakan secara khusus, kecuali tokoh cantrik yang bernama Janaloka. Cantrik yang satu ini menjadi terkenal karena keinginannya memperistri Endang Pergiwa dan ssaudara kembarnya Endang Pergiwati. Pergiwa dan Pergiwati adalah anak Arjuna dengan Endang Manuhara yang tinggal bersama eyangnya Begawan Sidik Wacana di percabaan Andong Sumiwi. Pada suatu hari kedua putri kembar itu ingin menemui Arjuna ayahnya di keraton Ngamarta. Begawan Sidik Wacana mengutus Cantrikanya untuk mengantar kedua cucunya menemui ayahnya. Namun di tengah jalan Cantrik Janaloka yang seharusnya melindungi Endang Pergiwa dan Endang Pergiwati, malahan berniat memperistrinya. Namun sebelum niat Cantrik Janaloka kesampaian, ia keburu mati ditangan para Korawa.

Cerita ini menggambarkan seseorang yang memiliki keinginan, namun tidak ‘ngilo githoke dhewe,’ tidak melihat kekuatan dan kenyataan yang dimilikinya. Dan juga merupakan penggambaran dari abdi yang tidak setia kepada gurunya yang selama ini telah membimbingnya. Diibaratkan pagar makan tanaman yang seharusnya dijaga malah dirusak sendiri.

 

herjaka HS

Sumber : tembi.org

Advertisements

Tejamantri, Sang Konsultan


By Bram Palgunadi

Dalam dunia pewayangan, kita mengenal adanya sejumlah ‘panakawan’, yang secara umum artinya ‘sahabat dekat’. Ini merupakan sejumlah tokoh wayang, yang umumnya berperan sebagai penasehat, dan sekaligus juga sahabat bagi tokoh yang diikutinya. Sejumlah tokoh panakwan ini, bolehlah kita katakan sebagai ‘tokoh abadi’, karena di setiap cerita wayang yang manapun, mereka selalu ada. Misalnya, tokoh Limbuk, Cangik, Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Togog, dan Sarawita. Tokoh lain yang juga abadi, adalah denawa Cakil, raksasa Rambut Geni, dan beberapa tokoh lainnya. Mereka ini, selalu muncul di dalam pagelaran wayang yang manapun. Dalam kehidupan kita sehari-hari, nyatanya kita lebih sering memperhatikan tokoh-tokoh panakawan yang empat, yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Lalu, juga dengan dua tokoh wanita, yaitu Limbuk dan Cangik. Tetapi bagaimana dengan tokoh Togog dan Sarawita? Karena itulah, maka kali ini kita akan sedikit berkenalan dengan dengan tokoh Togog dan Sarawita, yang sebenarnya sama terkenalnya dengan tokoh-tokoh panakawan lainnya.

Tokoh Togog (sering juga disebut ‘Tejamantri’ atau ‘Wijamantri’) dan Sarawita (sering disebut ‘Mbilung’), seringkali dipandang sebagai tokoh ‘panakawan jahat’, hanya karena mereka berdua itu selalu berada di pihak musuh, raja jahat, atau tokoh-tokoh yang berperangai buruk. Ini merupakan sebuah pandangan umum, yang sangat lazim dinyatakan orang tentang kedua tokoh ini. Tetapi apakah benar demikian?

Togog khususnya, sebenarnya sama dengan Semar, mereka berdua adalah ‘dewa yang turun ke bumi’. Masing-masing mempunyai tugas dan peran khusus. Semar, menjadi penasehat para ksatria pembela kebenaran. Sedangkan Togog? Apakah ia dapat dikatakan sebagai penasehat pada ksatria pembela kejahatan? Menurut saya, di sinilah letak kesalahan-pahaman kita dalam memandang peran dan fungsi mereka. Menurut saya, Baik Semar maupun Togog, keduanya merupakan penasehat para ksatria. Jika kita mencermati dialog-dialog keduanya dengan para ksatria yang diikutinya, maka semuanya akan segera menjadi jelas. Keduanya selalu memberikan nasehat-nasehat yang baik dan berguna. Bedanya, keduanya berdiri pada pihak yang berseberangan.

Continue reading Tejamantri, Sang Konsultan

SEMAR


Batara Semar

MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.

Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.
Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.
Yang bukan dikira iya.
Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya), sebab takut kalau keliru.
Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.

Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang mempunyai 8 daya, yaitu:

  1. tidak pernah lapar
  2. tidak pernah mengantuk
  3. tidak pernah jatuh cinta
  4. tidak pernah bersedih
  5. tidak pernah merasa capek
  6. tidak pernah menderita sakit
  7. tidak pernah kepanasan
  8. tidak pernah kedinginan

kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun atau kuncung. Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu; Batara Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, Sanghyang Suryakanta. Ia diperintahkan untuk menguasai alam Sunyaruri, atau alam kosong, tidak diperkenankan menguasi manusia di alam dunia.

Di alam Sunyaruri, Batara Semar dijodohkan dengan Dewi Sanggani putri dari Sanghyang Hening. Dari hasil perkawinan mereka, lahirlah sepuluh anak, yaitu: Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan, Batara Siwah, Batara Wrahaspati, Batara Yamadipati, Batara Surya, Batara Candra, Batara Kwera, Batara Tamburu, Batara Kamajaya dan Dewi Sarmanasiti. Anak sulung yang bernama Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan mempunyai anak cebol, ipel-ipel dan berkulit hitam. Anak tersebut diberi nama Semarasanta dan diperintahkan turun di dunia, tinggal di padepokan Pujangkara. Semarasanta ditugaskan mengabdi kepada Resi Kanumanasa di Pertapaan Saptaarga.

Dikisahkan Munculnya Semarasanta di Pertapaan Saptaarga, diawali ketika Semarasanta dikejar oleh dua harimau, ia lari sampai ke Saptaarga dan ditolong oleh Resi Kanumanasa. Ke dua Harimau tersebut diruwat oleh Sang Resi dan ke duanya berubah menjadi bidadari yang cantik jelita. Yang tua bernama Dewi Kanestren dan yang muda bernama Dewi Retnawati. Dewi Kanestren diperistri oleh Semarasanta dan Dewi Retnawati menjadi istri Resi Kanumanasa. Mulai saat itu Semarasanta mengabdi di Saptaarga dan diberi sebutan Janggan Semarsanta.

Sebagai Pamong atau abdi, Janggan Semarasanta sangat setia kepada Bendara (tuan)nya. Ia selalu menganjurkan untuk menjalani laku prihatin dengan berpantang, berdoa, mengurangi tidur dan bertapa, agar mencapai kemuliaan. Banyak saran dan petuah hidup yang mengarah pada keutamaan dibisikan oleh tokoh ini. Sehingga hanya para Resi, Pendeta atau pun Ksatria yang kuat menjalani laku prihatin, mempunyai semangat pantang menyerah, rendah hati dan berperilaku mulia, yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta. Dapat dikatakan bahwa Janggan Semarasanta merupakan rahmat yang tersembunyi. Siapa pun juga yang diikutinya, hidupnya akan mencapai puncak kesuksesan yang membawa kebahagiaqan abadi lahir batin. Dalam catatan kisah pewayangan, ada tujuh orang yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta, yaitu; Resi Manumanasa sampai enam keturunannya, Sakri, Sekutrem, Palasara, Abiyasa, Pandudewanata dan sampai Arjuna.

Jika sedang marah kepada para Dewa, Janggan Semarasanta katitisan oleh eyangnya yaitu Batara Semar. Jika dilihat secara fisik, Semarasanta adalah seorang manusia cebol jelek dan hitam, namun sesungguhnya yang ada dibalik itu ia adalah pribadi dewa yang bernama Batara Semar atau Batara Ismaya.

Karena Batara Semar tidak diperbolehkan menguasai langsung alam dunia, maka ia memakai wadag Janggan Semarasanta sebagai media manitis (tinggal dan menyatu), sehingga akhirnya nama Semarasanta jarang disebut, ia lebih dikenal dengan nama Semar.

Seperti telah ditulis di atas, Semar atau Ismaya adalah penggambaran sesuatau yang tidak jelas tersamar.

Yang ada itu adalah Semarasanta, tetapi sesungguhnya Semarasanta tidak ada.
Yang sesungguhnya ada adalah Batara Semar, namun ia bukan Batara Semar, ia adalah manusia berbadan cebol,berkulit hitam yang bernama Semarasanta.
Memang benar, ia adalah Semarasanta, tetapi yang diperbuat bukan semata-mata perbuatan Semarasanta.

Jika sangat yakin bahwa ia Semarasanta, tiba-tiba berubah keyakinan bahwa ia adalah Batara Semar, dan akhirnya tidak yakin, karena takut keliru. Itulah sesuatu yang belum jelas, masih diSAMARkan, yang digambarkan pada seorang tokoh Semar.

SEMAR adalah sebuah misteri, rahasia Sang Pencipta. Rahasia tersebut akan disembunyikan kepada orang-orang yang egois, tamak, iri dengki, congkak dan tinggi hati, namun dibuka bagi orang-orang yang sabar, tulus, luhur budi dan rendah hati. Dan orang yang di anugerahi Sang Rahasia, atau SEMAR, hidupnya akan berhasil ke puncak kebahagiaan dan kemuliaan nan abadi.

(herjaka)

URAIAN TENTANG TOKOH SEMAR :

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi  kesejahteraan manusia

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar
Harafiah : Sang Penuntun Makna Kehidupan

Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tunggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik”.

Domisili semar adalah sebagai lurah karang kabulutan/ karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa.

Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.

Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.

Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : menegakan keadilan dan kebenaran di bumi.

Ciri sosok semar adalah

– Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
– Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
– Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
– Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
– Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi  atas nasehatnya

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa.

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .

Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.

lain waktu Insya Alloh  KURNIA FM akan mempersembahkan beberapa koleksi mp3 live lakon tentang SEMAR dapat kita nikmati dilain waktu…tunggu saja tanggal mainnya.

Cangik dan Limbuk, Dua sahabat dengan kesetiaan tanpa batas


Oleh Bram Palgunadi pada 09 Mei 2011 jam 15:03


Di dunia pewayangan, kita selalu berhadapan dengan dua tokoh wanita, yaitu Cangik dan Limbuk. Mereka berdua, selalu ditampilkan saat tiba pada adegan ‘keputren’ di suatu kerajaan. Ini merupakan suatu adegan yang boleh dikatakan selalu ada di setiap pagelaran wayang. Saking seringnya kedua tokoh ini tampil, sampai-sampai kita tidak pernah tahu atau tidak mau tahu, siapakah sebenarnya mereka berdua itu. Pada judul bahasan ini, saya memakai istilah ‘dua sahabat’ dan bukannya memakai istilah ‘dua wanita’. Memang keduanya, Cangik dan Limbuk, adalah dua orang wanita. Tetapi keduanya sebenarnya sudah meningkatkan level dirinya, menjadi ‘dua sahabat’ bagi sang putri atau permaisuri yang diikutinya.

Kesalahan terbesar dari kita sebagai pengamat dan penikmat pagelaran wayang, khususnya wayang kulit, adalah bahwa tokoh Cangik dan Limbuk seringkali kita pandang sebagai dua orang dayang-dayang atau kasarnya sebagai ‘pembantu’ seorang putri atau permaisuri raja. Ini merupakan kesalahan pemahaman yang bisa dikatakan fatal. Mengapa demikian? Sebab mereka berdua, Cangik dan Limbuk, sebenarnya bukanlah dayang-dayang dan bukan pula pembantu dalam pemahaman umum seperti yang kita kenal. Mereka berdua, adalah ‘panakawan’, yang artinya ‘sahabat’. Jika tokoh panakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong; adalah panakawan bagi para tokoh ksatria; maka Limbuk dan Cangik adalah panakawan bagi tokoh putri atau permaisuri. Mereka berdua, bukanlah tokoh biasa. Mereka berdua, adalah tokoh yang peran dan fungsinya sangat luar biasa. Meskipun kenyataannya, mereka berdua kalah pamor dengan para panakawan ksatria yang lebih banyak diekspos dan ditampilkan.

Gambaran bahwa Cangik adalah wanita tua renta yang bertubuh jelek dan buruk rupa, merupakan gambaran yang benar-benar menggambarkan pemahaman kita yang salah terhadap Cangik. Begitu pula tentang Limbuk yang digambarkan tubuhnya tambun (gemuk) dan bermuka jelek. Cangik bukanlah wanita berwajah buruk seperti banyak dikatakan orang. Cangik, adalah gambaran seorang wanita tua yang sangat setia kepada majikannya. Ia adalah seorang wanita yang bertindak sebagai ‘rewang’ bagi majikan perempuan (misalnya: isteri, permaisuri). Bersama anaknya, yang bernama ‘Limbuk”, keduanya merupakan teman atau sahabat sejati, tempat sang putri atau permaisuri curhat, merenungkan kehidupannya, dan mendiskusikan kegundahan hatinya. Mereka berdua, bukanlah orang biasa! Mereka berdua adalah orang-orang dalam lingkungan terdalam suatu istana. Kalau memakai istilah jaman sekarang, mereka berdua itu termasuk orang-orang yang ‘berada di lingkaran ring satu’, yang merupakan orang-orang kepercayaan yang berada paling dekat dan sangat erat hubungannya dengan orang terpenting di istana. Mereka juga ‘pemegang rahasia’ sang puteri atau permaisuri. Begitu dekat dan eratnya hubungan mereka dengan junjungannya, sehingga bisa dikatakan hubungannya jauh melebihi yang bisa dilakukan oleh seorang menteri atau mahapatih (menteri koordinator, menko). Continue reading Cangik dan Limbuk, Dua sahabat dengan kesetiaan tanpa batas

Perkumpulan Para Wanudya


By MasPatikrajadewaku

Obrolan Cangik Limbuk

. . . . Samangsane Pasamuan. . . . .

. . . . alus manis maweh kung, ooooo . . . . . . .

Cangik: Anakku nduuk, wingi lagek kae, ulatmu sumringah mesem ngguyu, aku ngrasaake uwas sumelang. Sumelanging atiku ndelok lageyanmu, awit kowe terkadhang ngguyu dhewe. Atiku uwas sumelang kepara nratab nalika semana. Nanging bareng aku ngerti larah larahe, senengku malah kaya sinundhul puyuh lho nduk. Awit nyatane senenging atimu kuwi kok ya ora tak gerba, ora tak rasa sabab musababe. Nyatane kahanan kang gawe seneng kang kaluwih-luwih kuwi kadhang njuk ngethulake rasa-pengrasa batin kok nduk. Lha bareng saiki, kok kosok balen solah tingkahmu karo sing dek anu kae nduk!

Limbuk: Lho Mak, kowe kok omong ngana kuwi apa ana bab susah kang kok sawang jroning ulatku dina-dina sing kawuri iki ta Mak?

Cangik: Ya mesti wae ta nduk, wong kowe ki amung sawiji sing dadi geganthilaning atiku. Mesti wae, bungahmu ya bungahku, susahmu ya susahku. Mula nduk, kandha-a karo Makmu iki, apa bab kang dadi gawe rasa prihatin lan susahmu.

Limbuk: Ora Mak, sakjane aku ki ora mrihatinake kahanan sakjroning keluwarga. Kahanan kita rak ya ayem tentrem, padha sehat wal afiat, rejeki sempulur lir mbanyu mili. Coba delengen, dhuwitku neng dhompet ki kaya tisu, dijabut siji, siji meneh wis ketok njedhul, ora entek entek.

Cangik: Lha kuwi rak mayar jenenge ta nduk, ora mokal yen kaya ngana kahananmu. Awit nyambut gawemu rak bebasan teken janggut suku jaja. Apa wae alangan lan angeling jejibahan kok lakoni kanthi ati kang tatag. Lha njur sing dadi prihatin sakjabaning keluwarga ki apa hara?

Limbuk: Iki lho Mak, kisruh PSSI nganti dina saiki durung ana wusanane . . . .

Cangik: Ha ha ha ha . . . . .

Limbuk: Cep Mak, lha rak malah aku digeguyu, durung rampung lehku kandha lho Mak.

Cangik: Kok jebule kuwi ta. Aku ki malah gumun karo kowe, lah wong kowe kuwi wanita. Biyasane wanita ki ora ketarik marang bab kaya ngana kuwi, nduk.

Limbuk: Lho Mak, apa kowe ora nate nggatekke aku ta? Senajana wanita aku rak ya sering pamit karo kowe yen ana non-bar kae, aku ya melu nggabung kara mitra-mitraku kakung nonton bal-balan. Senajana wanita aku ya ngerti jenenge siji siji pemain bal lokal lan internasional. Si kuwi main neng klub apa, aku ngerti kok Mak. Ora mung pemain, yen perkara bal balan lokal iki, malah aku lewih kenal penguruse je Mak.

Cangik: Eeehh toblas, iya ki! Yen kowe pamit marang aku nalika kae kuwi, tak kira kowe mung “mejeng” supaya entuk gandhengan. Lha tibake malah tenanan kowe lehe seneng marang olah raga karemane wong kakung ta nduuk . . . Ning ya kuwi, najan aku ya ngana patrapku mbiyen ya meh padha karo kelakuanmu lehe melu seneng karo ulah raga kuwi lho nduk. Nalikane Bapakmu Bei isih sugeng aku ya kadhang melu mrana mrene dijak karo bapakmu. Nalika semana timnas negara kita isih diwedeni karo negara sakupenge. Tak critani lho nduk, nalika semana sering tim-nas kita ngundang tim-nas utawa klub seka negara adoh kang kondhang digdayane perkara bal-balan. Menang tau, ning nek kalah ya ora dadi lumbung gol. Ora ngisin-isini. Bareng wektu-wektu kepungkur iki, rasah dicritake wae ah . . , iya aku ngerti rasa prihatinmu . . . . .

Limbuk:Ngrembakane ulah raga bal-balan nasional ora sepadhan karo “hingar bingare” kompetisi lokal lan seringe conto-conto saka tontonan bal-balan manca sing saben saben disiarake TV kae. Nanging nyatane kok ora ndadeake timnas kita tambah digdaya.Nanging  sakjane, jeneng permainan olah raga kuwi ya Mak, kalah menang ki ya bab kang lumrah. Menang kalah kudu tumindak sportif. Sportif pemaine, “suportere” uga penguruse. Mula olah raga kuwi basa kanane disebut sport.

Lah ing kene Mak sing aku ora patiya sreg. Penguruse bal balan ing negara kita ki jan menang menangan dhewe. Kisruh ora leren leren. Senajana pimpinane wis cacat ing bab garising aturan, ning ya tetep nekad nglanggeke kekuasaane. Aturan dhasar saka induk organisasine diplitir ngiwa nengen karo wong wong kang sakjane ngerti ukum lan aturan. Sekjene sing ngertiku wis karatan lungguh neng singangsana. Saka elingku nalika aku isih kathokan monyet, dekne wis lungguh neng kana. Nganti saiki isih betah lungguh neng kana senajan wis ora besus nyambut gawe. “Lawyer” sing jane ya ngerti marang bab ukum lan basa Inggris, olehe “meng interpretasi” ukara sak ukara saka bahasa asale kitab aturan lan undang undang, diplintir kaya dene ora ngerti yen wong wong liya ki saiki wis padha pinter pinter lan pana pranawa marang ukum lan ukara. Iku jenenge banget banget lehe ora sportif!

Cangik: Eee tobil anak ngkadhal. Kowe kok omong ngono nesu neng ngarepe Makmu ndedawa dawa. Keneng apa ta cah iki?

Limbuk: Aku ki gregetan kok Mak, yen wis ngetok ke unek unek senajan ngetok ke neng ngarepmu sing ora pati dhong, ning yen wis kawetu kuwi rak marahi ati njur krasa plong to Mak.

Cangik: Ya bener kandhamu. Ning ya kuwi, liya saka sabab keneng ngapa ketua lan penguruse kae ora gelem lengser, senajan wus ora pakra ngurus organisasi, nanging tak kandhani ya nduk, ngurus organisasi lan pakumpulan iku ora gampang. Pada karo nglakoni sesrawungan. Ngerti ta nduk?

Limbuk: Bener kandhamu Mak, sedina dina lehku srawung ya mrangguli kanca kadang kang mawarna warna patrap tingkah lakune. Sing nyenengake, yen srawung karo kanca sing seneng gawe bombong ati, atine jembar bawera, senajanta kecenthok ukara kang ora sengaja tak ucapke rada nyolok ati, ning tanggapane ya tetep mesem ngguyu ulate tetep sumeh. Basa kanane wong iku duwe sifat “easy going” ngana Mak. Malah kadhang yen dhekne lawas ora muncul ki malah gawe kangen lho Mak.

Cangik : Lha liyane piye?

Limbuk: Sing wateke netral, tegese biyasa biyasa wae. Ana ya disrawungi, kena kanggo rembuk apa wae. Senajanta terkadhang ya blang blong kae. Kadhang nyambung, kadhang tak ajak omong ya ora ana tanggapane. Ana maneh Mak, wong sing basane ora karuwan. Ora nganggo tata, nganti bingung aku, wong kuwi sakjane omong apa. Nanging ora dadi apa, sabab ya ora tau nglarani ati.

Cangik: Apa ya ana ta nduk sing marakke kowe miris nggonmu srawung?

Limbuk: Ana Mak, ya sing kaya ngene iki sing marakke aku wedi srawung. Merga kowe rak ngerti karo sifatku sing ca blaka malah kepara getapan kaya gusti Prabu Baladewa kae. Mula aku ya sok ngadohi menawa ana tekane kadang kita kang kupinge tipis. Eleke wong sing duwe kuping tipis iki, yen ana rembuk kang kurang nyocoki ati, utawa cengkah klawan isi-isening ati, rembuk kuwi kadhang njur di “blow-up”, njur ngomong sora. Umpamane tulisan kae, omongane kaya ditulis huruf murda, font-e digedhe-ke. Neng kana aku lowung mundur disik Mak, wedi aku, mundhak dadi sulaya.

Cangik: Eeeh toblas . . .  cah iki kok maca siji mbaka siji kanca kancamu. Kuwi kedadeyan ana pakumpulanmu ta nduk? Contone piye sing gawe kowe ngrasa cengkah sipatmu  klawan pepenginanmu sesrawungan nduk?

Limbuk: Ya kuwi Mak, ana malah sing jan naif banget kandhane, jarene yen mlebu ing pakumpulan kuwi ya kudu siyap dadi pangayom. Mangka ora kabeh pawongan kang mlebu ing pakumpulan kuwi nduwe pengangkah kang mengkana. Malah kepara arep ngayom lan ngiyup, jare.

Mangka Mak, dadi pengayom kang becik ki kudu nduwe watak kang momot sakabehing tingkah wataking anggota lan bab kang kedaden jroning pakumpulan. Kejaba kuwi kudu kuwawa ngubengake jantraning kegiyatan kang wus kacithak ing AD/ART. Pancen bener Mak, pemimpin ora kudu tumandang dewe. Dudu “one man show”. Nanging kudu bisa “mendelegasikan” wewenang marang paranpara kang dadi bebahuning kanan lan kering. Nanging ideale aja kaya gustimu Prabu Puntadewa. Ngerti ta Mak?

Cangik: Lho, apa kowe ya nate ditari dadi pengayom neng Perkumpulan Para Wanudya kuwi nduk? Ndang gelema! Mengko rak kaya ketua PSSI,  enak lho nduk, mestine. Nyatane ketua PSSI ki, nganti saiki isih nekat dadi ketua, senajan organisasine wis “dibekukan” karo pemerintah jare nduk . . . . . . .

Derogdog dog dog dog,    Kukusing dupa kumelun, ngeningken tyas sang apekik, kawengku sagung jajahan,  Ooooo  . . . . . . . .

PETRUK


http://id.shvoong.com/humanities/1894245-wayang-petruk-dan-makna-filosofisnya/

PETRUK ………….adalah anak Gandarwa (sebangsa jin), menjadi anak angkat kedua Semar setelah Gareng.Nama lain Petruk adalah Kanthong Bolong, artinya suka berdema. Doblajaya, artinya pintar. Diantara saudaranya (Gareng dan Bagong) Petruklah yang paling pandai dan pintar bicara.
Petruk tinggal di Pecuk Pecukilan. Ia mempunyai satu anak yaitu Bambang Lengkung Kusuma (seorang yang tampan) istrinya bernama Dewi Undanawati. Sebagai punakawan Petruk selalu menghibur tuannya ketika dalam kesusahaan menerima cobaan, mengingatkan ketika lupa, membela ketika teraniaya. Intinya bisa momong, momot, momor,mursid dan murakabi.

  1. momong ………………………………. artinya bisa mengasuh.
  2. momot …………………………………  artinya dapat memuat segala keluhan tuannya, dapat merahasiakan masalah.
  3. Momor ………………………………..  artinya tidak sakit hati ketika dikritik dan tidak mudah bangga kalau disanjung.
  4. Mursid …………………………………  artinya pintar sebagai abdi, mengetahui kehendak tuannya.
  5. Murakabi ……………………………..  artinya bermanfaat bagi sesama.

Pada suatu waktu Pandawa kehilangan jimat Kalimasada. kehilangan jimat ini artinya Pandawa lumpuh karena hilang kebijaksanaan dan kemakmuran, keangkaramurkaan timbul dimana-mana. Jimat ini dicuri oleh Mustakaweni. Mengetahui hal itu Bambang Irawan dan Bambang Priyambodo (anak Arjuna) dengan disertai Petruk berusaha merebut jimat tersebut dari tangan Mustakaweni. Akhirnya jimat tersebut berhasil direbut dan dititipkan kepada Petruk.
Sementara itu ternyata Adipati Karna juga berhasrat memiliki jimat tersebut. petruk ditusuk dengan keris pusaka yang ampuh yaitu Kyai Jalak, Petrukpun mati seketika. Atas kesaktian ayahnya (Gandarwa) Petruk dihidupkan lagi. Kemudian ayahnya tersebut ingin menolong Petruk dengan berubah wujud menjadi Duryudana. ketika Karna bertemu Duryudana jimat kalimasada diserahkan kepadanya. Betapa terkejutnya Karna mengetahui telah diperdaya oleh Gandarwa. Akhirnya jimat tersebut oleh Gandarwa diserahkan kembali kepada Petruk, dan dia menasehati kalau menghadapi musuh Petruk harus hati-hati dan jimat tersebut diminta untuk diletakkan di atas kepalanya. Ternyata setelah jimat tersebut diterapkan sesuai anjuran ayahnya Petruk menjadi sangat sakti, tidak mempan senjata apapun. Karna-pun dapat dikalahkannya.Tak terasa akhirnya Petruk terpisah dengan tuannya Bambang Irawan. Petrukpun mengembara, semua negara ditakhlukkannya termasuk negara Ngrancang Kencana. Petruk menjadi raja disana dan bergelar Prabu Wel Keduwelbeh. Sedangkan raja yang asli menjadi bawahannya. Begitulah ketika Punakawan kalau sudah mengeluarkan kesaktiannya tidak ada manusiapun yang dapat menandinginya.
Ketika akan mewisuda dirinya, semua raja negara bawahan yang ditaklukkannya hadir termasuk Astina. Yang belum hanya Pandawa, Dwarawati, dan Mandura. Semula ketiga raja negar tersebut tidak mau hadir, tetapi setelah Pandawa dan Mandura dikalahkan akhirnya Raja Dwarawati  (Prabu Kresna) menyerahkan hal ini kepada Semar. Oleh Semar Gareng dan Bagong diajukan sebagai wakil dari Dwarawati. Terjadilah peperangan yang sangat ramai antara Prabu Wel Keduwelbeh dengan Gareng dan Bagong, peperangan tidak segera berakhir karena belum ada yang menang dan belum ada yang kalah, sampai ketiganya berkeringat. Gareng dan Bagong akhirnya bisa mengenali bau keringat saudaranya Petruk dan yakin bahwa orang yang mengajak bertarung itu sesungguhnya adalah Petruk, maka mereka tidak lagi bertarung kesaktian tetapi malah diajak bercanda, berjoged bersama, dengan berbagai lagu dan tari. Wel Geduwelbeh merasa dirinya kembali ke habitatnya, lupa bahwa dia memakai pakaian kerajaan. Setelah ingat …. ia segera lari meninggalkan Gareng dan Petruk. Wel Geduwlbeh dikejar oleh Gareng dan Bagong setelah tertangkap,  sang prabu dipeluk dan digelitik oleh Bagong sampai Petruk kembali ke wujud aslinya.
Setelah terbuka semua Petruk ditanya oleh Kresna mengapa ia bertindak seperti itu. ia beralasan bahwa tindakan itu untuk mengingatkan tuannya bahwa segala perilaku harus diperhitungkan terlebih dahulu. Contohnya saat membangun candi Sapta Arga, kerajaan ditinggal kosong sehingga kehilangan jimat Kalimasada. Bambang Irawan jangan mudah percaya kepada siapa saja. Kalau diberi tugas sampai tuntas jangan dititipkan kepada siapapun. Setelah menjadi raja jangan sombong  dan meremehkan rakyat kecil, karena rakyat kecil kalau sudah marah/ memberontak pimpinan bisa berantakan. Dengan cara inilah Petruk ingin menyadarkan tuannya, karena kalau secara terang-terangan pasti tidak dipercaya bahkan mungkin dimarahi.
Bagaimanapun Petruk merasa bersalah, kemudian ia minta maaf. Pandawapun akhirnya memaafkan Petruk dan dengan senang hati menerima nasihat Petruk.

Inti pendidikan budi pekerti yang bisa diambil dari cerita diatas :

  1. Budi dan watak tidak dapat diukur dari penampilan/ fisik, tetapi dengan perilaku nyata.
  2. Bawahan harus setia pada atasan
  3. Mengerjakan tugas hingga tuntas dan diusahakan berhasil dengan baik
  4. Jangan merebut hak dan milik orang lain
  5. Semua tindakan harus dengan penuh perhitungan, jangan ceroboh dan tergesa-gesa mengambil keputusan.
  6. milikilah watak momong, momot, momor,mursid, dan murakabi
  7. Kalau sudah mulia jangan terlena
  8. Kalau salah harus berani mengakui dan meminta maaf

http://id.wikipedia.org/wiki/Petruk

Petruk adalah tokoh punakawan dalam pewayangan Jawa, di pihak keturunan/trah Witaradya. Petruk tidak disebutkan dalam kitab Mahabarata. Jadi jelas bahwa kehadirannya dalam dunia pewayangan merupakan gubahan asli Jawa.

Masa lalu

Menurut pedalangan, ia adalah anak pendeta raksasa di pertapaan dan bertempat di dalam laut bernama Begawan Salantara. Sebelumnya ia bernama Bambang Pecruk Panyukilan. Ia gemar bersenda gurau, baik dengan ucapan maupun tingkah laku dan senang berkelahi. Ia seorang yang pilih tanding/sakti di tempat kediamannya dan daerah sekitarnya. Oleh karena itu ia ingin berkelana guna menguji kekuatan dan kesaktiannya.

Di tengah jalan ia bertemu dengan Bambang Sukodadi dari pertapaan Bluluktiba yang pergi dari padepokannya di atas bukit, untuk mencoba kekebalannya. Karena mempunyai maksud yang sama, maka terjadilah perang tanding. Mereka berkelahi sangat lama, berhantam, bergumul, tarik-menarik, tendang-menendang, injak-menginjak, hingga tubuhnya menjadi cacat dan berubah sama sekali dari wujud aslinya yang tampan. Perkelahian ini kemudian dipisahkan oleh Smarasanta (Semar) dan Bagong yang mengiringi Batara Ismaya. Mereka diberi fatwa dan nasihat sehingga akhirnya keduanya menyerahkan diri dan berguru kepada Smara/Semar dan mengabdi kepada Sanghyang Ismaya. Demikianlah peristiwa tersebut diceritakan dalam lakon Batara Ismaya Krama.

Karena perubahan wujud tersebut masing-masing kemudian berganti nama. Bambang Pecruk Panyukilan menjadi Petruk, sedangkan Bambang Sukodadi menjadi Gareng.

Istri dan keturunan

Petruk mempuyai istri bernama Dewi Ambarawati, putri Prabu Ambarasraya, raja Negara Pandansurat yang didapatnya melalui perang tanding. Para pelamarnya antara lain: Kalagumarang dan Prabu Kalawahana raja raksasa di Guwaseluman. Petruk harus menghadapi mereka dengan perang tanding dan akhirnya ia dapat mengalahkan mereka dan keluar sebagai pemenang. Dewi Ambarawati kemudian diboyong ke Girisarangan dan Resi Pariknan yang memangku perkawinannya. Dalam perkawinan ini mereka mempunyai anak lelaki dan diberi nama Lengkungkusuma.

Petruk dalam lakon pewayangan

Oleh karena Petruk merupakan tokoh pelawak/dagelan (Jawa), kemudian oleh seorang dalang digubah suatu lakon khusus yang penuh dengan lelucon-lelucon dan kemudian diikuti dalang-dalang lainnya, sehingga terdapat banyak sekali lakon-lakon yang menceritakan kisah-kisah Petruk yang menggelikan, contohnya lakon Petruk Ilang Pethele menceritakan pada waktu Petruk kehilangan kapak/pethel-nya.

Dalam kisah Ambangan Candi Spataharga/Saptaraga, Dewi Mustakaweni, putri dari negara Imantaka, berhasil mencuri pusaka Jamus Kalimasada dengan jalan menyamar sebagai kerabat Pandawa (Gatotkaca), sehingga dengan mudah ia dapat membawa lari pusaka tersebut. Kalimasada kemudan menjadi bahan perebutan antara kedua negara itu. Di dalam kekeruhan dan kekacauan yang timbul tersebut, Petruk mengambil kesempatan menyembunyikan Kalimasada, sehingga karena kekuatan dan pengaruhnya yang ampuh, Petruk dapat menjadi raja menduduki singgasana kerajaan Lojitengara dan bergelar Prabu Welgeduwelbeh (Wel Edel Bey). Lakon ini terkenal dengan judul Petruk Dadi Ratu. Prabu Welgeduwelbeh/Petruk dengan kesaktiannya dapat membuka rahasia Prabu Pandupragola, raja negara Tracanggribig, yang tiada lain adalah kakaknya sendiri, yaitu Nala Gareng. Dan sebaliknya Bagong-lah yang menurunkan Prabu Welgeduwelbeh dari tahta kerajaan Lojitengara dan badar/terbongkar rahasianya menjadi Petruk kembali. Kalimasada kemudian kembali kepada Pandawa.

Hubungan dengan punakawan lainnya

Petruk dan panakawan yang lain (Semar, Gareng dan Bagong) selalu hidup di dalam suasana kerukunan sebagai satu keluarga. Bila tidak ada kepentingan yang istimewa, mereka tidak pernah berpisah satu sama lain. Mengenai panakawan, panakawan berarti ”kawan yang menyaksikan” atau pengiring. Saksi dianggap sah, apabila terdiri dari dua orang, yang terbaik apabila saksi tersebut terdiri dari orang-orang yang bukan sekeluarga. Sebagai saksi seseorang harus dekat dan mengetahui sesuatu yang harus disaksikannya. Di dalam pedalangan, saksi atau panakawan itu memang hanya terdiri dari dua orang, yaitu Semar dan Bagong bagi trah Witaradya.

Sebelum Sanghyang Ismaya menjelma dalam diri cucunya yang bernama Smarasanta (Semar), kecuali Semar dengan Bagong yang tercipta dari bayangannya, mereka kemudian mendapatkan Gareng/Bambang Sukodadi dan Petruk/Bambang Panyukilan. Setelah Batara Ismaya menjelma kepada Janggan Smarasanta (menjadi Semar), maka Gareng dan Petruk tetap menggabungkan diri kepada Semar dan Bagong. Disinilah saat mulai adanya panakawan yang terdiri dari empat orang dan kemudian mendapat sebutan dengan nana ”parepat/prepat”.

GARENG


http://id.wikipedia.org/wiki/Gareng

Nama lengkap dari Gareng sebenarnya adalah Nala Gareng, hanya saja masyarakat sekarang lebih akrab dengan sebutan “Gareng”.

Gareng adalah punakawan yang berkaki pincang. Hal ini merupakan sebuah sanepa dari sifat Gareng sebagai kawula yang selalu hati-hati dalam bertindak. Selain itu, cacat fisik Gareng yang lain adalah tangan yang ciker atau patah. Ini adalah sanepa bahwa Gareng memiliki sifat tidak suka mengambil hak milik orang lain. Diceritakan bahwa tumit kanannya terkena semacam penyakit bubul.

Dalam suatu carangan Gareng pernah menjadi raja di Paranggumiwayang dengan gelar Pandu Pragola. Saat itu dia berhasil mengalahkan prabu Welgeduwelbeh raja dari Borneo yang tidak lain adalah penjelmaan dari saudaranya sendiri yaitu Petruk.

Dulunya, Gareng berujud ksatria tampan bernama Bambang Sukodadi dari pedepokan Bluktiba. Gareng sangat sakti namun sombong, sehingga selalu menantang duel setiap satriya yang ditemuinya. Suatu hari, saat baru saja menyelesaikan tapanya, ia berjumpa dengan satriya lain bernama Bambang Panyukilan. Karena suatu kesalahpahaman, mereka malah berkelahi. Dari hasil perkelahian itu, tidak ada yang menang dan kalah, bahkan wajah mereka berdua rusak. Kemudian datanglah Batara Ismaya (Semar) yang kemudian melerai mereka. Karena Batara Ismaya ini adalah pamong para ksatria Pandawa yang berjalan di atas kebenaran, maka dalam bentuk Jangganan Samara Anta, dia (Ismaya) memberi nasihat kepada kedua ksatria yang baru saja berkelahi itu.

Karena kagum oleh nasihat Batara Ismaya, kedua ksatria itu minta mengabdi dan minta diaku anak oleh Lurah Karang Dempel, titisan dewa (Batara Ismaya) itu. Akhirnya Jangganan Samara Anta bersedia menerima mereka, asal kedua kesatria itu mau menemani dia menjadi pamong para kesatria berbudi luhur (Pandawa), dan akhirnya mereka berdua setuju. Gareng kemudian diangkat menjadi anak tertua (sulung) dari Semar.

http://id.shvoong.com/humanities/1894220-wayang-gareng-dan-makna-filosofisnya/

GARENG …………….. anak Gandarwa (sebangsa jin) yang diambil anak angkat pertama oleh Semar. Nama lain gareng adalah : Pancalpamor ( artinya menolak godaan duniawi ) Pegatwaja ( artinya gigi sebagai perlambang bahwa Gareng tidak suka makan makanan yang enak-enak yang memboroskan dan mengundang penyakit. Nala Gareng (artinya hati yang kering, kering dari kemakmuran, sehingga ia senantiasa berbuat baik).
Gareng adalah punakawan kedua setelah Semar. ciri fisik Gareng :

  1. Mata juling……………. artinya tidak mau melihat hal-hal yang mengundang kejahatan/ tidak baik.
  2. Tangan ceko (melengkung) ………………. artinya tidak mau mengambil/ merampas hak orang lain.
  3. Sikil gejik (seperti pincang) ………………. artinya selalu penuh kewaspadaan dalam segala perilaku.

Gareng senang bercanda, setia kepada tuannya, dan gemar menolong. Dalam pengembaraannya pernah menjadi raja bernama Prabu Pandu Bergola di kerajaan Parang Gumiwang. Ia sakti mandraguna, semua raja ditaklukkannya. Tetapi ia ingin mencoba kerajaan Amarta ( tempat ia mengabdi ketika menjadi punakawan).Semua satria pandawapun dikalahkannya. Sementara itu Semar, Petruk dan Bagong sangat kebingungan karena kepergian Gareng.
Untunglah Pandawa mempunyai penasehat yang ulung, yaitu Prabu Kresna. Ia menyarankan kepada Semar, jika ia ingin bertemu dengan Gareng relakanlah Petruk untuk untuk menghadapi Pandu Bergola. Semar tanggap dengan ucapan Krena, sedangkan hati Petruk menjadi ciut nyalinya. Petruk berfikir Semua raja juga termasuk Pandawa saja dikalahkan Pandu Bergola, apa jadinya kalau dia yang menghadapinya. Melihat kegamangan Petruk, Semar mendekat dan membisikkan sesuatu kepadanya. Setelah itu petruk menjadi semangat  dan girang, kemudian ia berangkat menghadapi Pandu Bergola.
Saat Pandu Bergola sudah berhadapan dengan Petruk, ia selalu membelakangi ( tidak mau bertatap muka), jika terpaksa bertatap muka ia selalu menunduk. Tetapi Petruk senantiasa mendesak untuk bertanding. Akhirnya terjadilah perang tanding yang sangat ramai, penuh kelucuan dan juga kesaktian. Saat pergumulan terjadi Pandu Bergola berubah wujud menjadi Gareng. Tetapi Petruk belum menyadarinya. Pergumulan terus berlanjut …….. sampai pada akhirnya Semar memisahkan keduanya. Begitu tahu wujud asli Pandu Bergola …… Petruk memeluk erat-erat kakaknya (Gareng) dengan penuh girang. semua keluarga Pandawa ikut bersuka cita karena abdinya telah kembali.
Gareng ditanya oleh Kresna, mengapa melakukan seperti itu. ia menjawab bahwa dia ingin mengingatkan tuan-tuannya (Pandawa), jangan lupa karena sudah makmur sehingga kurang/ hilang kehati-hatian serta kewaspadaannya. Bagaimana jadinya kalau negara diserang musuh dengan tiba-tiba? negara akan hancur dan rakyat menderita. Maka sebelum semua itu terjadi Gareng mengingatkan pada rajanya. Pandawa merasa gembira dan beruntung punya abdi seperti  Gareng.
Makna yang terkandung dalam kisah Gareng adalah :

  1. Jangan menilai seseorang dari wujud fisiknya. Budi itu terletak di hati, watak tidak tampak pada wujud fisik tetapi pada tingkah dan perilaku. Belum tentu fisiknya cacat hatinya jahat.
  2. Manusia wajib saling mengingatkan.
  3. Jangan suka merampas hak orang lain.
  4. Cintailah saudaramu dengan setulus hati.
  5. Kalau bertindah harus dengan penuh perhitungan dan hati-hati.