Category Archives: Tokoh Dewa

Yamadipati


Yamadipati
Sang Hyang Yamadipati, wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Badaya (foto: Sartono)

Yamadipati adalah anak Sang Hyang Ismaya atau Semar dan Dewi Kanastri atau Kanestren. Ia mempunyai saudara kandung yaitu: Sang Hyang Bongkokan, Sang Hyang Patuk, Sang Hyang Temboro, Sang Hyang Surya, Sang Hyang Wrehaspati, Sang Hyang Candra, Sang Hyang Kamajaya, Sang Hyang Kwera, Dewi Darmanastiti, Dewi Superti. Isteri Sang Hyang Yamadipati adalah Dewi Mumpuni, seorang bidadari yang cantik jelita, pemberian Batara Guru.

Orang memanggilku dengan beberapa nama yaitu: Sang Hyang Yamadipati, Sang Hyang Yama, Sang Hyang Petraraja yang berarti rajanya neraka dan juga disebut Sang Hyang Yamakingkarapati yang artinya panglimanya makhluk-makhluk Kingkara atau makhluk penjaga neraka.

Nama-nama itu berkaitan dengan tugas yang diembannya yaitu sebagai penunggu neraka. Selain sebagai penunggu neraka, Sang Hyang Yamadipati bertugas mencabut nyawa manusia yang sudah sampai pada batas waktunya.

Digambarkan bahwa pada saat ia melakukan tugasnya, Yamadipati membawa dhadhung, sejenis tali tampar berukuran besar untuk mengambil nyawa orang. Yamadipati berujud raksasa besar, berjubah dan menakutkan. Bukan hanya ujudnya, tugas yang embannya pun membuat orang takut jika kedatangan Yamadipati. Bahkan orang yang bermimpi bertemu dengan Yamadipati dipercaya akan mendapat celaka. Di mana Yamadipati datang di situ akan terjadi kematian.

Oleh karena dua tugas yang disandangnya yaitu Dewa pencabut nyawa dan Dewa penunggu neraka, Yamadipati tidak pernah tinggal di kahyangan yang telah disediakan yaitu Kahyangan Hargadumilah. Dulu ketika masih ada Dewi Mumpuni isterinya, Yamadipati selalu meluangkan waktu untuk pulang. Tetapi saat ini setelah Dewi Mumpuni meninggalkannya, Yamadipati jarang sekali pulang di Hargadumilah.

Menurut pengakuan isterinya yang disampaikan, bahwasanya Dewi Mumpuni mau menjadi isteri Yamadipati karena rasa takut kepada Batara Guru yang telah memberikan dirinya kepada Yamadipati. Namun sesungguhnya Dewi Mumpuni tidak mempunyai rasa cinta kepada Yamadipati yang berwajah menakutkan. Dewi Mumpuni mencintai Bambang Nagatamala putra Sang Hyang Antaboga, Dewa Penguasa bumi.

Walaupun berwajah menakutkan dan bertugas pada dunia kematian yang lebih menakutkan, Yamadipati memiliki kebesaran jiwa. Demi kebahagiaan isterinya ia merelakan Dewi Mumpuni diperisteri oleh Bambang Nagatatmala.

Sejak peristiwa itu hatinya hancur, jiwanya berkeping-keping, Yamadipati jarang sekali pulang di kahyangan Hargodumilah yang telah kosong, Ia suntuk menjalani tugasnya.

Pada suatu hari ketika ia menjalankan tugasnya mencabut nyawa seseorang yang bernama Setyawan, ia sungguh terpana dengan isteri Setyawan yang bernama Sawitri. Rasa terpana Yamadipati tidak hanya karena kecantikan Sawitri, tetapi terlebih karena kesetiaannya kepada Suaminya. Tidak seperti Dewi Mumpuni yang tidak cinta dan tidak setia, gumannya.

Yamadipati meneteskan air mata, ia dahaga akan kasih seorang wanita yang cantik penuh cinta panjang sabar dan setia seperti Sawitri. Oleh karenanya Yamadipati tidak sampai hati menolak permohonan Sawitri agar Setyawan dihidupkan. Hyang Yamadipati mengembalikan nyawa Setyawan agar Sawitri hidup bahagia bersamanya. Dan benarlah Sawitri hidup bahagia bersama Setyawan melahirkan anak-anaknya.

Dalam hidupnya Yamadipati tidak pernah mendapatkan kebahagiaan, tetapi ia cukup terhibur dapat memberikan kebahagiaan tidak saja kepada Sawitri yang setia kepada suaminya, tetapi juga memberi kebahagiaan kepada Dewi Mumpuni isterinya yang telah mengkhianatinya

herjaka HS

Tokoh Dewa


Sumber tulisan dan gambar dari :

  1. Buku “Rupa & Karakter Wayang Purwa” oleh Heru S. Sudjarwo, Sumari dan Undung Wiyono, penerbit Kakilangit Kencana cetakan ke-1 Mei 2010
  2. Buku “Sedjarah Wajang Purwa” oleh Pak Hardjowirogo penerbit PN Balai ustaka Cetakan ke-5 tahun 1968
  3. Website Senawangi
  4. Website Wayang Indonesia
  5. Dan dari sumber-sumber lainnya
Nama Sebutan Deskripsi Singkat Link Referensi

Antaboga

Sang Hyang ANTABOGA, HYANG semasa muda bernama Nagasesa. Ia juga sering disebut dengan nama Hanantaboga, putra Antanaga dengan Dewi Wasu, putri Hyang Anantaswara, dan merupakan keturunan ke empat Sanghyang Wenang dengan Dewi Sayati.Antaboga menikah dengan Dewi Supreti, dan mempunyai dua orang anak, bernama Dewi Nagagini dan Nagatatmala. Walaupun menyandang nama ’naga’ tetapi Nagagini dan Nagatatmala berwujud manusia.Nagagini menikah dengan Bima dan mempunyai seorang anak bernama Antareja.Dalam keadaan biasa Sanghyang Antaboga berwujud manusia, tetapi dalam keadaan triwikrama, tubuhnya berubah menjadi ular naga raksasa. Setiap 1000 tahun sekali, Sanghyang Antaboga mlungsungi’ berganti kulit’.Ia juga memiliki Aji Kawastrawan, yang membuatnya dapat menjelma menjadi apa saja, sesuai dengan yang dikehendakinya. Antara lain ia pernah menjelma menjadi garangan putih (semacam musang hutan) yang menyelamatkan Pandawa dan Kunti dari amukan api pada peristiwa Bale Sigala-gala.(Rupa & Karakter Wayang Purwa oleh Heru S. Sudjarwo)

Asmara

Sang Hyang

SANGHYANG ASMARA adalah Continue reading Tokoh Dewa

Narada


Narada
Batara Narada, wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)

Pada awal mula dunia diciptakan, adalah sebuah cahaya berbentuk telur. Sang Maha Pencipta atau Sang Hyang Tunggal menjadikannya kulit telur menjadi bumi dan langit yang dipisahkan cakrawala. Setelah kulit telur terpisah dari isinya, maka semakin bercahayalah isi telur tersebut. Cahaya yang memancar dari kuning telur menjadi Manik atau intan dan Maya, atau cahaya indah berwarna kehijauan. Sedangkang cahaya yang ditimbulkan dari bagian putih telur menjadi Nur, sinar terang benderang berwarna putih kekuning-kuningan, dan Teja atau sorotnya, pancarannya dari cahaya tersebut.

Dari keempat cahaya yang di pancarkan dari isi telur yaitu: Manik, Maya, Nur dan Teja, lahirlah empat orang manusia yang berupa ksatria tampan dengan badan ideal atau disebut dengan bambangan. Dari Manik lahirlah Manikmaya. Dari Maya lahirlah Ismaya. Dari Nur lahirlah Nurada. Dari Teja lahirlah Tejamantri. Keempat manusia pertama ciptaan Sang Hyang Tunggal tersebut disebut sebagai dewa dengan gelar batara.

Pada kisah selanjutnya keempat batara yang tampan tersebut saling berebut untuk menjadi penguasa dunia. Batara Manikmaya, Batara Ismaya dan Batara Tejamantri beradu kesaktian. Dalam adu kesaktian tersebut Batara Manikmaya berubah bentuk menjadi orang bertangan empat dengan sebutan Batara Guru. Batara Ismaya, berubah menjadi seorang berbadan pendek bulat dan hitam dan lebih dikenal dengan nama Semar. Batara Teja atau Batara Tejamantri atau juga Batara Antaga berubah bentuk menjadi orang pendek, gemuk dan bermulut lebar dan biasa dipanggil Togog.

Sementara itu Batara Nurada yang tampan, sakti, cerdas, banyak ilmu dan berwawasan luas sedang bertapa di tengah samodra. Ia merasa paling pantas menjadi penguasa dunia. Batara Guru datang dan mengatakan bahwa dirinya yang paling pantas menjadi penguasa dunia. Dikarenakan tidak ada yang mau mengalah dalam hal kekuasaan, keduanya terlibat dalam perkelahian. Batara Guru dapat mengalahkah kesaktian Batara Nurada dan menyatakan bahwa wajah Nurada itu lucu. Seketika itu Batara Nurada menjadi jelek tidak tampan lagi. Wajahnya lucu dan tubuhnya pendek, perutnya buncit. Namun dalam hal ilmu dan kecerdasan, Batara Nurada yang kemudian disebut Batara Narada mempunyai tingkatan ilmu lebih tinggi dibandingkan dengan Batara Guru. Oleh karenanya Batara Narada diangkat menjadi patih kahyangan Jonggring Saloka atau Suralaya mendampingi Batara Guru.

Selain menjadi patih Batara Narada juga menjadi penasihat Batara Guru dan sekaligus menjadi sesepuh para dewa. Kepada Guru ia memanggil adi Guru, dan sebaliknya Batara Guru menyebut kakang Narada.

Batara Narada bertempat tinggal di Kahyangan Suduk Pangudal-udal. Ia mempunyai satu isteri yang bernama Dewi Wiyodi. Dari perkawinan tersebut Batara Narada menurunkan dua anak yaitu Dewi Kanekawati dan Bhatara Malangdewa.

Karena kata sakti yang diucapkan Batara Guru sehingga ketampanan Batara Narada hilangi. Selanjutnya Batara Narada dilukiskan sebagai dewa yang lucu dan suka berkelakar, tetapi dibalik kelucuannya sesungguhnya ia adalah dewa yang paling pandai dan waskita. Diantara para dewa di Kahyangan, Batara Naradalah yang lebih sering mendapat tugas turun ke dunia memberikan anugerah kepada manusia. Sepanjang hidupnya Batara Narada melakukan satu kesalahan fatal dalam manjalankan tugasnya yaitu ketika ia ditugaskan oleh penguasa Kahyangan untuk menganugerahkan pusaka sakti berujud panah yang bernama Kuntawijayandanu. Seharusnya pusaka itu diberikan kepada Harjuna, tetapi keliru diberikan kepada Adipati Karna.

Batara Narada memiliki jimat berupa cupu Lingga Manik yang berisikan Tirta maya Mahadi yang dapat digunakan untuk mengobati segala macam penyakit. Nama lain dari Batara Narada adalah Sang Hyang Kanekaputra.

herjaka HS

Sumber : tembi.orf

Yamadipati


Yamadipati
Sang Hyang Yamadipati, wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Badaya (foto: Sartono)

Yamadipati adalah anak Sang Hyang Ismaya atau Semar dan Dewi Kanastri atau Kanestren. Ia mempunyai saudara kandung yaitu: Sang Hyang Bongkokan, Sang Hyang Patuk, Sang Hyang Temboro, Sang Hyang Surya, Sang Hyang Wrehaspati, Sang Hyang Candra, Sang Hyang Kamajaya, Sang Hyang Kwera, Dewi Darmanastiti, Dewi Superti. Isteri Sang Hyang Yamadipati adalah Dewi Mumpuni, seorang bidadari yang cantik jelita, pemberian Batara Guru.

Orang memanggilku dengan beberapa nama yaitu: Sang Hyang Yamadipati, Sang Hyang Yama, Sang Hyang Petraraja yang berarti rajanya neraka dan juga disebut Sang Hyang Yamakingkarapati yang artinya panglimanya makhluk-makhluk Kingkara atau makhluk penjaga neraka.

Nama-nama itu berkaitan dengan tugas yang diembannya yaitu sebagai penunggu neraka. Selain sebagai penunggu neraka, Sang Hyang Yamadipati bertugas mencabut nyawa manusia yang sudah sampai pada batas waktunya.

Digambarkan bahwa pada saat ia melakukan tugasnya, Yamadipati membawa dhadhung, sejenis tali tampar berukuran besar untuk mengambil nyawa orang. Yamadipati berujud raksasa besar, berjubah dan menakutkan. Bukan hanya ujudnya, tugas yang embannya pun membuat orang takut jika kedatangan Yamadipati. Bahkan orang yang bermimpi bertemu dengan Yamadipati dipercaya akan mendapat celaka. Di mana Yamadipati datang di situ akan terjadi kematian.

Oleh karena dua tugas yang disandangnya yaitu Dewa pencabut nyawa dan Dewa penunggu neraka, Yamadipati tidak pernah tinggal di kahyangan yang telah disediakan yaitu Kahyangan Hargadumilah. Dulu ketika masih ada Dewi Mumpuni isterinya, Yamadipati selalu meluangkan waktu untuk pulang. Tetapi saat ini setelah Dewi Mumpuni meninggalkannya, Yamadipati jarang sekali pulang di Hargadumilah.

Menurut pengakuan isterinya yang disampaikan, bahwasanya Dewi Mumpuni mau menjadi isteri Yamadipati karena rasa takut kepada Batara Guru yang telah memberikan dirinya kepada Yamadipati. Namun sesungguhnya Dewi Mumpuni tidak mempunyai rasa cinta kepada Yamadipati yang berwajah menakutkan. Dewi Mumpuni mencintai Bambang Nagatamala putra Sang Hyang Antaboga, Dewa Penguasa bumi.

Walaupun berwajah menakutkan dan bertugas pada dunia kematian yang lebih menakutkan, Yamadipati memiliki kebesaran jiwa. Demi kebahagiaan isterinya ia merelakan Dewi Mumpuni diperisteri oleh Bambang Nagatatmala.

Sejak peristiwa itu hatinya hancur, jiwanya berkeping-keping, Yamadipati jarang sekali pulang di kahyangan Hargodumilah yang telah kosong, Ia suntuk menjalani tugasnya.

Pada suatu hari ketika ia menjalankan tugasnya mencabut nyawa seseorang yang bernama Setyawan, ia sungguh terpana dengan isteri Setyawan yang bernama Sawitri. Rasa terpana Yamadipati tidak hanya karena kecantikan Sawitri, tetapi terlebih karena kesetiaannya kepada Suaminya. Tidak seperti Dewi Mumpuni yang tidak cinta dan tidak setia, gumannya.

Yamadipati meneteskan air mata, ia dahaga akan kasih seorang wanita yang cantik penuh cinta panjang sabar dan setia seperti Sawitri. Oleh karenanya Yamadipati tidak sampai hati menolak permohonan Sawitri agar Setyawan dihidupkan. Hyang Yamadipati mengembalikan nyawa Setyawan agar Sawitri hidup bahagia bersamanya. Dan benarlah Sawitri hidup bahagia bersama Setyawan melahirkan anak-anaknya.

Dalam hidupnya Yamadipati tidak pernah mendapatkan kebahagiaan, tetapi ia cukup terhibur dapat memberikan kebahagiaan tidak saja kepada Sawitri yang setia kepada suaminya, tetapi juga memberi kebahagiaan kepada Dewi Mumpuni isterinya yang telah mengkhianatinya

herjaka HS

Dewa Ruci: Tunggal Sawang Kartining Bawana


By Mastoni

Pawartos Jawi nyuwun pangestunipun para sutresna sadaya supados tetep jejeg jangkahipun mecaki lurung ingkang sangsaya rumpi sinartan jejibahan nglestarekaken lan ngrembakaken basa tuwin budhaya Jawa sanadyan kanthi keponthal-ponthal ngoyak jaman ingkang mlajeng nggendring.

Tumrap para ingkang remen olah kridha batin lan pangulir budi, wiwit sasi Juni punika pasugatan Pawartos Jawi ugi badhe ngrembag bab ingkang hangengingi kabatosan tuwin kautamaning budi kadosta piwulang ingkang tujuwanipun hanggegesang raosing kamanungsan ingkang tundhonipun sageda kula lan panjenengan sadaya dados tiyang ingkang migunakaken kekiyatanipun kangge rahayuning bebrayan ageng, boten sanes inggih lumeberipun rahayuning jagad punika.

Jer wajibing tiyang gesang punika wonten kalih prakawis, manawi boten sinau inggih mucal. Liripun sinau, inggih punika tansah ngudi undhaking kawruh lair lan batin. Liripun mucal, tansah aweh obor dhateng tiyang ingkang saweg nandhang kapetengan budi. Hewadene ingkang tansah dipunudi dening tiyang ingkang wicaksana inggih punika sageda nyumerebi cacadipun piyambak sarta mbudidhaya kados pundi amrih saenipun, punika katindhakaken saderengipun paring pamrayoga dhumateng asanes.

Tiyang wicaksana punika beda kaliyan tiyang ingkang pinter srawung lan tumindhak ajur-ajer ing madyaning bebrayan. Bobot sarta ajinipun sayekti anglangkungi katimbang moncering kawruh. Mila boten cekap namung sarana dibandhani pepaking ilmu-ilmu pangawikan kemawon, nanging sabageyan ageng malah sumendhe wonten ing anggenipun pinter srawung lan wor-woran kalayan sasaminipun, tanpa nyawang undha-usuking semat lan drajat punapa dene beda-bedaning kalungguhaning tiyang ingkang dipun srawungi.

Ajining manungsa punika boten amargi piyambakipun kadunungan wewatekan luhur lan kapinteran ingkang bebasan saged kangge njarah angin, nanging muhung dumunung ing pakarti anggenipun ngamalaken wewatekan lan kapinteranipun wau. Parandene pakarti ingkang bebasan tanpa aso, nanging manawi sinartan ing pamrih golek puji lan suwur, punapa dene ngantos ngalab donya brana punika dede nami ngamal. Pakarti ingkang makaten wau malah saged mbebayani tumraping bebrayan amargi alamipun ngandhut wisa tur malih ngangge kekudung naminipun tiyang akathah malih.

Continue reading Dewa Ruci: Tunggal Sawang Kartining Bawana

S.E.M.A.R


PERAN SEMAR DALAM PERTUNJUKAN KULIT JAWA GAYA SURAKARTA

Randyo
Institut Seni Indonesia Surakarta

Harmonia Volume 9 No 2 2009

Abstract.

Semar is the mysterious puppet charaters and vague. Semar is present in all versions of leather puppet theater performances. Stories in puppet shows, Semar is present in two main roles, first as a supporter of the birth of the holder of the most important role in the play, namely the presence of seeds that will take a decisive position in the theater, preceded by his presence because, seond Semar become major stakeholders in play as an example: Kilat Buana, Semar Kuning, Semar Papa, Semar Mbarang Jantur. Semar represent sudra figures, also represent the people in general. In the play lebet containing about philosophy of life, the presence of Semar preceded by events because it is an extraordinary event. Gara-gara in the puppet shows are usually marked by a major event in the universe caused by a variety of puppet characters. It appeared to subside after Semar figure. As the atmosphere Conditioning, Semar comes with poise, dignity many illustrations that can be interpreted from him. Semar restore the harmony of the play that ended mulih play according to plan. Things returned to normal play Semar sometimes even appear as a fresh air carriers and the humorous seasoning with punakawan others, can be used to establish rapport with the audience. Semar is a symbol characters will be elected to the presence of a knight, who has a genuine spirit of struggle, and the birth of world harmony.

Kata Kunci: Semar, pertunjukan, wayang kulit jawa, gaya Surakarta.

PENDAHULUAN

Sebutan Semar dapat dijumpai dibeberapa wilayah untuk memberikan nama pada sesuatu obyek atau simbol dalam kehidupan masyarakat Jawa. Di Surakarta, Semar digunakan untuk memberikan salah satu nama produk batik yang terkenal yaitu batik Semar. Di Wonogiri, nama Semar juga dikenal banyak masyarakat sbagai sebuah bukit yang bulat seperti bentuk wayang kulit Semar. Di Karanganyar, juga terdapat sebuah tempat untuk samadi yaitu patung Semar. Pemberian nama sebutan menggunakan nama Semar, terdapat kemungkinan bahwa yang memberikan nama menginginkan agar mendapat berkah/angsar dari tokoh Semar.

Nama Semar secara pasti sulit untuk dilacak oleh karena kurangnya tradisi tulis dalam masyarakat Jawa. Tradisi Jawa biasanya lebih tebal dalam budaya lisan yaitu ditransformasikan dari mulut-kemulut sehingga mudah berubah sesuai dengan daya penangkapan kesan penerima pesan. Kesimpangsiuran arti dan makna Semar tersebut, melahirkan banyak versi dan pendapat yang beragam, dalam konteks filosofis hal demikian tidak menghilangkan makna yang sebenarnya akan tetapi justru menambah khasanah yang lebih mendalam serta makna yang luas.

Di dalam pertunjukan wayang kulit purwa jawa, nama tokoh wayang Semar merupakan tokoh yang ada dan tetap hidup sepanjang jaman. Semar dalam pewayangan Jawa ada kemungkinannya mirip dan diangkat dari Semar pada beberapa karya sastra Jawa. Pada pertunjukan wayang kulit Jawa versi Arjuna sasra, tokoh Semar hadir mengikuti tokoh pemegang peran Sumantri yang oleh karena ketulusan pengabdiannya kepada Negara, kemudian menjadi mahapatih Suwanda di kerajaan Mahespati. Semar mengikuti Suwanda hingga akhir hayatnya.

Pada lakon versi Ramayana, tokoh Semar selalu mengikuti tokoh Senapati yang sakti mandraguna yaitu Hanuman putera Anjani. Hanuman mengabdi kepada Sri Ramawijaya hingga akhir hayatnya.

Pada lakon versi Mahabarata tokoh Semar mengabdi kepada keturunan Wirata yaitu Manumayasa. Setelah Manumayasa meninggal, Semar mengabdi kepada Pandudewanata raja Astina. Setelah Pandu meninggal, kemudian mengabdi kepada anak keturunannya yaitu Arjuna dan adakalanya mengikuti puteranya Angkawijaya atau Abimanyu hingga Parikenan.

Terdapat garis pengabdian Semar yang sama dari seluruh lakon yang ada yaitu, Semar selalu mengabdi pada ksatria yang selalu ingin menegakkan keadilan, penuh pengabdian, dan penjaga keharmonisan dunia. Tokoh Semar ternyata dapat muncul diberbagai versi wayang dan merupakan tokoh misterius. Dari berbagai versi lakon wayang, tokoh Semar lebih lengkap dan memiliki makna yang mendalam dalam Mahabarata, akan tetapi dalam sumber cerita Mahabarata yang berasal dari karya satera besar India sebenarnya tokoh semar tidak dapat diperoleh, sehingga menimbulkan penafsiran bahwa tokoh Semar berasal dari kebudayaan Jawa.

ASAL MULA SEMAR DAN WONDO WAYANG

Asal Mula Semar dalam Pertunjukkan Wayang Kulit Purwa Jawa Continue reading S.E.M.A.R