Category Archives: Campursari

Ki Manteb Sudharsono “Singer”


Selain piawai dalam mendalang memainkan wayang kulit sehingga terkenal dengan julukan “dalang setan” karena ketrampilan yang luar biasa, ternyata Ki Manteb Sudharsono juga jago dalam mencipta lagu serta menyanyikannya sendiri.

Berikut beberapa video hasil karya yang ditembangkannya sendiri

Ki Manteb Sudarsono “Jaman Edan”

Ki Manteb Sudarsono “Sayang”

Ki Manteb Sudarsono “Ledha Ledhe”

Didi Kempot Album Emas Vol. 1


Berikut lagu-lagunya:

  1. Sewu Kutho
  2. Bojo Loro
  3. Tanjungmas Tinggal Janji
  4. Iki weke sopo
  5. Kusumaning Ati
  6. Tanjung perak
  7. Gethuk
  8. Stasiun Balapan
  9. Lingsir wengi
  10. Mesti Penak
  11. Sewu Dina
  12. Cidro

Didi Kempot adalah salah satu putra dari almarhum pelawak Mbah Ranto.

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/harian/0212/13/nas7.htm

BERDOA: Anak-anak dan keluarga seniman dari pelawak Ranto Edi Gudel berdoa di depan jenazah almarhum, di rumah duka Jl Kahuripan Selatan RT 2 RW 4 Sumber, Banjarsari, Solo, semalam. Inzet, Ranto Edi Gudel. (Foto:Suara Merdeka/D11)

JAGAT seni kembali berkabung. Tokoh lawak dan seniman serba bisa, Suharanto yang lebih kondang disapa Ranto Edi Gudel atau Mbah Ranto, Kamis sekitar pukul 16.30 kemarin meninggal dunia pada usia 66 tahun. Pencipta lagu Anoman Obong itu tutup usia di RS Dokter Oen Solo Baru, setelah menjalani perawatan sejak Lebaran lalu, tepatnya mulai hari Sabtu (7/12) malam. Jenazah akan dimakamkan Jumat siang ini, pukul 14.00 di TPU Pracimaloyo, Solo.

”Sebenarnya sakit Bapak sudah lama, tapi tak dirasakan. Beliau juga tidak mau dibawa ke rumah sakit. Pernah dibawa ke RS Brayat Minulyo, malah minta pulang. Tapi dalam keadaan setengah sadar, Sabtu malam lalu kami bawa ke RS Dokter Oen,” kata anak keempatnya, Didi Kempot.

Penyanyi berambut gondrong itu mengisahkan, saat meninggal Mbah Ranto ditunggu segenap keluarganya, termasuk empat istrinya, yakni Umi, Tuminah, Magdalena, dan Sugiyarni. Satu-satunya kakak almarhum, Ny Suharni (72), juga berada di tengah-tengah keluarga duka.

Keenam anaknya, Antonius Lilik Subagyo, penyanyi Joko Lelur Sentot Suwarso, pelawak Mamik Prakoso (Srimulat), Didi (Prasetyo) Kempot, Eko Guntur Martinus (Eko Gudel), dan Veronika Tatik Hartanti, tampak tabah di tengah suasana duka. Demikian pula 11 cucu dan seorang cicitnya.

Bahkan, ketika Eko menangis saat jenazah sang ayah tiba di rumah kontrakan Jalan Kahuripan Selatan RT 2 RW 4 Sumber Balekambang, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Mamik memintanya untuk segera menghapus air matanya. ”Ora usah nangis, Le. Mbah Ranto ora seneng yen anak-anake ora tabah. (Tidak usah menangis, Nak. Mbah Ranto tidak suka kalau anak-anaknya tidak tabah-Red),” kata Mamik.

Watak Keras

Menurut anak ketiga Mbah Ranto itu, semasa hidup almarhum berwatak keras, di antaranya menanamkan pada anak-anaknya agar selalu tegar. Meski demikian, lanjut Sentot, seniman gaek itu senang guyon. Bahkan, ketika dirawat di RS pun tidak melepaskan senyum dan candanya. ”Bapak sangat cinta seni. Maka senang melihat anak-anaknya bergelut di bidang seni. Bahkan, saat-saat terakhir menjelang meninggal, di telinganya saya lantunkan lagu Joko Lelur,” ungkapnya.

Jiwa seni Mbah Ranto, menurut kakaknya, Ny Suharni, sudah terlihat sejak kecil. Ketika masa kanak-kanak, seniman yang kondang menjadi pelakon Petruk pada WO Sriwedari tahun 1960-an dan pelakon Umar Moyo pada ketoprak tobong era 1970-an itu, suka melucu. ”Maka ketika baru duduk di kelas 3 SMP di Jakarta, dia malah memutuskan pulang ke Solo dan berkiprah di dunia seni,” kenangnya.

Anak-anak almarhum mengungkapkan, keinginan bapaknya sebelum meninggal juga telah tercapai. ”Bapak ingin kami sekeluarga manggung bareng. Dan itu terlaksana setelah TV7 menggelar acara ‘Es Campur Es’ yang ditayangkan saat Lebaran tanggal 7 Desember lalu,” kata mereka.

Ketika itu, Ranto tampil bareng anak-anaknya dalam episode ”Oh Nasib, Oh Bapak”. Rekaman kenangan itu tentu menjadi dokumen yang sangat berharga bagi keluarga almarhum.

Teguh Pendirian

Ranto Edi Gudel adalah seorang yang teguh pendiriannya. Salah satu contoh, almarhum enggan pindah ke rumah sendiri di Plelen, Kadipiro, tetapi malah lebih suka mengontrak di kawasan Sumber. Menurut anak-anaknya, itu dilakukan karena keinginannya untuk selalu dekat dengan masyarakat yang diinginkannya.

”Pernah suatu saat ketika diminta untuk pindah rumah sendiri, beliau tetap menolak. Alasannya, beliau merasa hanyalah sebagai seniman panggung. Maka dia lebih senang tinggal di rumah kontrakan,” papar Mamik.

Satu pesan yang akan terus diingatnya, menjalani hidup tak boleh berlaku aneh. ”Istilahnya aja wah yen lagi ana, jangan aneh saat sedang berada.”

Keterangan Mamik dibenarkan Martoyo, Ketua RT setempat. ”Mbah Ranto itu orangnya sangat supel kepada siapa pun. Dia tak mau membeda-bedakan pergaulan dan sangat sosial.” Dia ingat, semasa hidup almarhum justru lebih lucu dalam pergaulan, dibanding saat di panggung.

Hingga akhir hanyatnya, pelawak gaek itu juga masih menyisakan beberapa gubahan lagunya. Menurut anak kelimanya, Eko, Mbah Ranto meninggalkan rancangan lagu ”Buto Terong”. ”Mungkin kami, anak-anaknya menyanyikan bersama lagu-lagu Bapak yang belum pernah ditampilkan,” kata Didi Kempot.

Selamat jalan senimanku. Semoga Tuhan memberi tempat untukmu di sisi-Nya. (Setyo Wiyono, Wisnu Kisawa-16t)