Category Archives: Sosok Budayawan

Wayang Catur dan Ki Ija, Tradisi yang Sekarat


Oleh
Matdon

JAKARTA – Tubuh renta itu tertatih menuju panggung dipapah dua pria kekar. Ija Sukmaja, dalang wayang catur generasi pertama dan (mungkin) terakhir ini, kemudian lunglai duduk di depan sebuah kecapi.

Setelah bersusah payah dibisiki para waditra, ia pun memulai memainkan kecapi. Dari mulutnya yang kelu, tiba-tiba terdengar lirih kadang melengking tembang sunda tanda ia memulai memainkan wayang catur.

Wayang catur merupakan genre wayang golek yang (mungkin) sudah musnah dari bumi Parahyangan, dan masih sebagai wayang berlatar cerita Mahabrata dan Ramayana. Bedanya dengan wayang golek, wayang catur tidak menggunakan wayang atau golek, melainkan hanya bercerita layaknya sebuah monolog dalam teater, para penonton diajak untuk mengkhayalkan setiap tokoh yang diceritakan lewat dalang.

Wayang catur berkembang tahun 1920-an, dalang pertama yang memainkan wayang catur adalah Parta Suwanda dari Cibangkong Bandung. Sepeninggal dalang kahot itu, wayang catur diteruskan oleh anak muda bernama Ija Sukmaja yang kemudian menjadi dalang terkenal pada zamannya. Hampir seluruh daerah di Jawa Barat ia jelajahi, hingga pada 1980-an dalang Ija menyatakan pensiun dari dunia pedalangan. Selain lantaran sudah tidak ada lagi yang mengundang, ia mengaku sudah lelah.

Kini setelah 30 tahun “istirahat”, tiba-tiba publik seni Bandung dikagetkan dengan penampilan dalang Ija yang kini berusia 90 tahun. Penampilannya itu mendapat perhatian pengunjung Galeri Teh Taman Budaya Jawa Barat Dago Tea House Bandung, akhir pekan lalu.

Cerita “Jabang Tutuka” yang ia bawakan tak sampai tamat. Ija tua sudah lupa ceritanya, file-nya sudah tidak indah lagi untuk menggambarkan bahwa ia adalah dalang hebat pada masanya. Lagipula, sesekali ia nampak kelelahan menghapal alur cerita. Wayang yang biasanya dimainkan empat jam atau semalam suntuk itu, kini hanya berlangsung setengah jam. Namun semangatnya itu mendapat decak kagum dan aplaus yang luar biasa dari penonton yang memadati Galeri Teh.

Tradisi yang Hilang

Alkisah, para dalang wayang golek di tahun 1900 hingga tahun 1920 merasa ingin melakukan terobosan baru dalam dunia wayang golek. Jika pada era 1990-an almarhum dalang Ade Kosasih Sunarya mencuat dengan wayang buta yang bisa muntah dan makan, maka sebelumnya para dalang zaman Ki Elan Surawidastra, Parta Suwanda, Bah Elim, dll, melakukan kolaborasi antara pantun dan wayang golek.
Jika biasanya dalam permainan wayang golek diiringi sejumlah waditra dan alat musik degung, waktu itu hanya dengan kecapi. Lama kelamaan para dalang, terutama yang dipelopori oleh dalang Parta Suwanda, tokoh wayang golek yang biasa dimainkan tidak dipentaskan. Dalang hanya bercerita (dalam bahasa Sunda, cerita kemudian dikenal dengan kata “catur”), tokoh pewayangan hanya dikhayalkana hadir dalam pertunjukan, iringan kecapi ditimpali pantun menjadi bagian dari pertunjukan itu, kemudian disebutlah pertunjukan itu sebagai wayang catur.

Ki Ija terkejut ketika pihak Taman Budaya menawarinya main wayang catur. “Aki masih ingat semua cerita wayang, namun sekarang terkadang mah sudah lupa mau bicara apa di panggung,” katanya lirih. Ini bisa dipahami lantaran sudah hampir 30 tahun Ki Ija tidak mendalang.

Apa harapan ki Ija terhadap perkembangan wayang catur? Saat di tanya seperti itu, tak ada jawaban yang jelas dari bibirnya. Maklum, telinganya sudah tidak peka. Karuan saja jawabannnya jadi tak jelas juga, “Ah aki mah biasa we… atoh bisa ngadalang deui. (saya sih biasa aja… malah senang bisa mendalang lagi),” katanya.

Wayang catur memang tak sehebat wayang golek, perkembangannya nyaris tak terdengar dalam genre wayang di Indonesia. Ki Ija yang renta itu–barangkali bisa menjadi ciri bahwa wayang catur akan benar-benar musnah. Setelah Ki Ija, siapa lagi yang akan menjadi ahli waris dari tradisi ini? N

Penulis adalah pengamat seni dan budaya, tinggal di Bandung.

Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0707/21/hib08.html

Bang Kris : Tukang Batu yang Diundang Mendalang Keliling Amerika


Bang Kris : Tukang Batu yang Diundang Mendalang Keliling Amerika

| 29-09-2007 |

Para Seniman dan Sastrawan Lekra, Kehidupan Mereka Sekarang (3)

Tristuti Rachmadi Suryosaputro pernah jadi dalang tersohor di era 1960-an dengan sebutan “Bang Kris”. Meski kini  disalip tokoh-tokoh yang lebih muda, mantan aktivis Lekra  di Jateng itu masih jadi jujugan banyak orang. Naskah-naskah  “skenario” cerita wayangnya dipakai banyak dalang kondang.  EMPAT belas tahun setelah diasingkan ke  Pulau Buru pada 1965-1979, Tristuti Rachmadi Suryosaputro seperti orang  “linglung” saat pulang ke kampung halamannya di Purwodadi, Jawa Tengah. Istri dan kedua anak dalang yang pernah kondang di Jawa Tengah pada 1960-an itu pergi diambil orang. Demikian pula rumah dan harta bendanya yang lain.

Dengan status eks-tapol (ET) yang disandangnya, saat itu dia tidak punya pikiran untuk bisa mendalang lagi. Satu-satunya modal yang dimiliki adalah ketrampilan tukang batu yang dipelajarinya di Pulau Buru. Supaya tetap bisa makan, Pak Tris, demikian dia dipanggil, akhirnya memutuskan jadi “kuli bangunan” alias tukang batu.

Untunglah, Ki Anom Suroto –dalang kondang asal  Solo— kemudian mencarinya di tempat dia bekerja di Jetis, Jogjakarta. “Kalau tidak ada Pak Anom, mungkin saya sudah mati sekarang. Fisik saya tidak akan kuat jadi tukang batu,” kata Tris kepada Radar Solo (Jawa Pos Group) di rumahnya yang mungil (Tipe 18) di Perumnas Mojosongo, Solo, Kamis (27/9) lalu.

Rumah pria kelahiran 3 Januari 1939 itu sangat sederhana. Sama sekali tidak tercermin rumah itu dihuni  mantan aktivis Lekra (Lembaga Kebudayaan Lekra) yang hingga sekarang masih jadi rujukan banyak dalang kondang seperti Anom Suroto, Manteb Soedharsono, dan Purbo Asmoro.

Di ruang tamu rumahnya, benda-benda berharga yang dipamerkan adalah tiga buah pamflet berukuran  50 x 75 centimeter yang dibingkai pigura kayu. Pamflet yang dicetak di  kertas jenis paper art glossy itu diterbitkan oleh Brown University, UCLA Berkeley, dan Wesleyan University. Tiga perguruan tinggi itu berada di Amerika Serikat.

Pamflet-pamflet itu memang sengaja didokumentasikan  Tris sebagai kenang-kenangan dari kunjungan Tris ke lima perguruan tinggi di Amerika, 5-24 April 2001. Saat itu, Tris diundang bersama istri dan dua  rekan seniman asal Solo untuk pentas di negeri Paman Sam. “Selain jadi pembicara, saya diundang sebagai  puppeteer (dalang) dalam pementasan wayang kulit,” katanya.

Undangan dari perguruan tinggi dari Amerika itu, kata Tris, selain menjadi wujud penghargaan atas eksistensi dia sebagai seniman juga menjadi pelipur lara. Sebab, rentetan peristiwa politik pasca peristiwa 30 September 1965 itu telah merampas segala-galanya dari dia. Termasuk  penghasilan Rp 25 ribu sekali pentas kandas.  Jika dikonversikan dengan nilai uang sekarang, kata dia, honorarium sebesar itu melebihi dalang kondang macam Anom Suroto dan Manteb Sudarsono. “Sekarang, sekelas Pak Manteb dan Pak Anom kalau mendalang dibayar sekitar Rp 50-an juta,” katanya.

Pukulan yang paling berat adalah dia kehilangan istri pertamanya, Nasrini, yang kini dinikahi orang lain dan tinggal di Batam. Dua  anak dari perkawinan pertamanya itu, Chandra Krisnani dan Yuli Krisranti, kini tinggal Sidney, Australia, yang kadang-kadang mengontaknya lewat telepon.

Tentang peristiwa politik yang terjadi menjelang dan pasca 30 September 1965 itu, Tris yang kelahiran Sugihmanik, Tanggung, Kabupaten Purwodadi, tidak banyak tahu. “Saya bukan orang dari politbiro, tapi hanya seorang seniman yang berusaha eksis,” katanya.

Salah satu yang dikenangnya selama “episode gelap” di Pulau Buru adalah temannya sesama tapol, Kho Bien Kiem, yang dianggap dia sudah seperti guru spiritualnya. Wejangan-wejangan Kho membuat Tris menjadikan dia bertambah kuat dan kemudian dia terapkan saat “mendalang” lagi setelah dia kembali pada 1979. “Kalau kamu mendalang dengan alat-alat bagus, niyaga, pesinden, dan alat-alat lengkap, lalu kamu bisa makan enak terus dari hasil mendalang itu, berarti Kamu belum bisa disebut “dalang putih”,”  kata Tris menirukan bunyi pesan Kho Bien yang hingga sekarang tetap dikenangnya.

Tris mengakui, ajakan Anom Suroto-lah yang membuat dia terjun ke dunia pedalangan lagi. Dalam setiap pentas mendalangnya, Anom selalu mengajak serta Tris yang dijadikan sebagai  “kamus hidup pewayangan”. Lambat laun, Tris lalu diminta membuat kaweruh pedhalangan (sejenis naskah atau skenario cerita dalang) untuk Anom. Sampai saat ini, entah sudah berapa ratus kaweruh yang dia tulis untuk Anom.  Yang jelas, yang masih dia simpan sekitar 150-an naskah yang sudah dibukukan.

Sampai sekarang Tris masih  menjadi rujukan bagi Anom, Manteb, Purbo, dan dalang-dalang lain di wilayah Eks-Karesidenan Surakarta, Jogja, dan wilayah lain di Jawa Tengah. “Harga” satu kaweruh Tris setebal 50-an halaman  sekitar  Rp 100-an ribu.

Begitu berartinya kaweruh yang dibuat oleh Tris, maka dalang Ki Purbo Asmoro pun menjadikannya sebagai tesis saat menempuh S-2 di Universitas Gajah Mada (UGM). “Kharismanya di mata para dalang di Solo dan sekitarnya memang sangat kuat,” kata Purbo yang juga dosen pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Selain membuat kaweruh,  beberapa kali Tris sempat dipercaya menjadi dalang ruwat, selain juga diundang menjadi dalang pentas. Dia bahkan juga sempat menjadi dosen lepas di ISI Surakarta (semasa masih bernama Sekolah Tinggi Seni Indonesia). Setelah ekonominya membaik,  Tris menata hidupnya lagi. Setelah perkawinan yang pertama, hingga sekarang sudah dua kali dia menikah. Setelah istri keduanya, Mulyati, meninggal pada 2000, dia menikahi Maria Sri Lestari.

Bersama sang istri, Tris kini membesarkan anak perempuannya, Kinanthi Finarsih, 17, yang kini kuliah di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Rumah yang ditempati saat ini adalah hasil jerih payah sekembalinya dari pengasingan. Sayang, masa kebangkitan kedua Tris hanya bertahan hingga 2005. Saat ini dia sudah semakin tua (68 tahun). Suaranya sudah tidak kung (merdu) lagi. Nafasnya mulai ada gejala tersengal untuk nada panjang. Demikian pula,  keprakan kakinya sudah tidak kencang lagi.

Saat ini, kata Tris, order mendalang tidak mesti 3 bulan sekali bisa didapat. Kendati, dia mematok harga cukup murah. Yaitu, hanya seperlima sampai seperenam dari tarif dalang kondang “muridnya” semacam Anom dan Manteb. “Sebenarnya, kalau masih bisa mendalang dua kali sebulan, itu sudah cukup. Tapi, sekarang sulit sekali,” sesal Tris.

Menurut dia, beberapa kali penerbit pernah meminta naskah-naskah kaweruh-nya untuk diterbitkan. Tapi, hingga sekarang belum satu pun yang mau menerbitkannya sebagai buku. Sebab, Tris tidak mau karya-karyanya itu dialihbahasakan ke bahasa Indonesia. “Maknanya hilang. Sebab, apa yang saya tulis (dalam bahasa Jawa, red) hasil perenungan 14 tahun di Buru, dan beberapa tahun setelah lepas dari sana,” kata sosok yang mengagumi karya-karya Pramudya Ananta Toer ini. (*)

Sumber :

http://jambi-independent.co.id/home/modules.php?name=News&file=article&sid=5141

Asep Sunandar Sunarya


Dalang Wayang Golek Inovatif

Asep Sunandar Sunarya Asep, yang lebih dikenal dengan panggilan Asep Sunarya, dalang wayang golek yang menciptakan si Cepot. Wayang yang rahang bawahnya bisa digerak-gerakkan jika berbicara, juga dapat merentangkan busur dan melepaskan anak panah, tanpa bantuan tangan dalang. Dengan karyanya itu, dia pantas disebut sebagai pendobrak jagat wayang golek di Indonesia.

Selain si Cepot, wayang denawa atau raksasa juga dibuat sedemikian rupa, sehingga otak kepalanya bisa terburai berantakan ketika dihantam gada lawannya.

 Asep SBY

Dia dipuji dan juga dikritik dengan karya terobosannya itu. Namun, kritikan itu makin emacu semangat dan kreativitasnya. Keuletannya membuahkan hasil, namanya semakin populer. Terutama setelah Asep meraih juara dalang pinilih I Jawa Barat pada 1978 dan 1982. Kemudian paada 1985, ia  meraih juara umum dalang tingkat Jawa Barat dan memboyong Bokor Kencana.

Pengakuan atas kehandalan dan kreativitasnya mendalang, bukan saja datang dari masyarakat Jawa Barat dan Indonesia, tetapi juga dari luar negeri. Dia pernah menjadi dosen luar biasa di Institut International De La Marionnete di Charleville Prancis. Dari institut itu dia mendapat gelar profesor.

Asep Sunarya lahir 3 September 1955 di Kampung Jelengkong, Kecamatan Baleendah, 25 km arah selatan Kota Bandung. Bernama kecil Sukana, anak ketujuh dari tiga belas bersaudara keluarga Abah Sunarya yang dikenal sebagai dalang legendaris di tanah Pasundan.

Sejak kecil, terutama sesudah remaja, ia sudah berambisi menjadi dalang. Makanya, setamat SMP, ia mengikuti pendidikan pedalangan di RRI Bandung. Meski ayahnya seorang dalang legendaris di kampungnya, Asep memilih belajar  dalang dari Cecep Supriadi di Karawang.

Berbeda dengan pendahulunya yang mendalang tempat-tempat tertentu saja, Asep justru tekun mensosialisasikan wayang golek yang inovatif ke kampus-kampus, hotel-hotel, gedung-gedung mewah dan televisi. Upayanya membuahkan hasil. Wayang golek populer di berbagai tempat. Penampilannya yang selalu menarik perhatian mengundang decak kagum penonton baik anak muda maupun orang tua.

Popularitas dalang yang telah menikah lima kali dan mempunyai sembilan anak ini pun semakin tinggi. Tidak saja dia diundang pentas mendalang di dalam negeri, tetapi juga di berbagai kota di Benua Asia, Amerika dan Eropa. e-ti/tsl

 Asep

Nama:
Asep Sunandar Sunarya
Nama Populer:
Asep Sunarya
Nama Kecil:
Sukana
Lahir:
Kampung Jelengkong, Kecamatan Baleendah, Jawa Barat, 3 September 1955
Ayah:
Abah Sunarya

Pendidikan:
Pendidikan pedalangan di RRI Bandung

Profesi:
– Dalang wayang Golek

Karya,al:
– Wayang golek si Cepot
– Wayang Denawa

Prestasi:
– Juara dalang pinilih I Jawa Barat pada 1978 dan 1982
– Juara umum dalang tingkat Jawa Barat dan memboyong Bokor Kencana pada 1985

Kegiatan Lain:
Guru Besar luar biasa di Institut International De La Marionnete di Charleville Prancis


Sumber : http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/a/asep-sunarya/index.shtml

Ki Nartosabdo


Gending-gending Nartosabdhan, Tak Lekang Dimakan Zaman

Selasa, 14/08/2007 – 09:49 – dikirim oleh: fajar.

Saya terpaksa harus kecewa pada malam Minggu (7/7). Sebab, Widayat yang memerankan tokoh Gareng dalam pergelaran Wayang Orang (WO) Ngesti Pandowo dalam lakon Condro Birowo malam itu, tak menyanyikan lagu Swara Suling karya seniman besar asal Semarang, Ki Nartosabdho.

Ki Nartosabdho

Untuk mengobati kekangenan saya pada karya-karya Ki Nartosabdho, dalam perjalanan menuju ke penginapan, saya pun bersenandung lagu itu:

Swara suling, ngumandang swarane
Tulat-tulit…kepenak unine
U…unine.. mung nrenyohake
ba..reng lan kentrung, ketipung suling
sigrak kendangane…

(Suara seruling, bergema suaranya
tulat-tulit…enak bunyinya
bunyinya bisa melenakan hati
–jika berbunyi–bareng kentrung, ketipung
–ditambah–gendang yang rancak)

Mendendangkan swara suling, kenangan saya pun melayang-layang ke silam kelam, saat saya masih bermukim di Semarang. Ya…, betapa malam-malam minggu saya nyaris tak lepas dari kehadiran Pak Nartosabdho melalui RRI Semarang atau radio swasta niaga yang menyiarkan wayangan dengan dalang Ki Nartosabdho semalam suntuk.

Ki Nartosabdho bagi saya dan juga warga Semarang lainnya yang betah melek pada tahun 80-an–terutama pada malam minggu–adalah kawan sekaligus idola yang bukan saja menghibur, tetapi juga memeberikan nasihat-nasihat melalui lakon-lakon wayang kulit yang dibawakannya.

Itulah soal, saat saya mengiringi pemakaman beliau ke pemakaman Bergota, lewat kaca ambulans yang membawa jasad Ki Narto, saya melihat betapa masyarakat Semarang di sepanjang jalan berdiri takzim melepas kepergian dalang kampiun itu.

Keharuan saya pun pecah dalam titik air mata saat jasad Ki Nartosabdho disemayamkan di Gedung Ngesti Pandowo kala itu di Jalan Pemuda 116. Sebab ternyata, beliau pun telah menyiapkan sebuah komposisi untuk mengantar kepergiannya sendiri.

Lelayu, begitulah judul komposisi tua berjenis mijil yang dikreasi kembali oleh Ki Nartosabdho yang dibawakan oleh kelompok Condong Raos, grup gamelan pimpinan Ki Narto pada persemayaman tersebut.

Layu-layu, umiring sang kinkin,
sajroning patunggon sung sasanti sang dyah kamuksane
Nedya anut mring sang guru laki
Kang gugur madyaning palugon…

Mijil Lelayu terdengar, mengantarkan sang maestro ke alam kelanggengan. Lagu sedih itu telah menggugurkan sekalian tangis para budayawan, dalang, pengrawit, pesinden dan semua yang pernah dekat dengan sang kreator. Bahkan pengusaha jamu sekaligus musisi Jaya Suprana yang mengaku pernah belajar pada almarhum, tak lama setelah kepergian Pak Narto, menyempatkan diri menggubah sebuah komposisi berjudul Epitaph II bagi sang guru.

Hari memang sudah malam, tapi saya kepingin lebih jauh mengenang Pak Narto. Di simpang lima, tempat warga Semarang menghabiskan malam dengan sejumlah pedagang kaki-lima, saya pun memarkir mobil. Duduk di salah satu warung di Jalan Pahlawan, sambil minum kopi.

Tentang Ki Nartosabdho

Sunarto nama aslinya, lahir di Wedi, Klaten, Jawa Tengah, tanggal 25 Agustus 1925 dari keluarga kurang mampu. Ayahnya, Partinojo seorang pembuat sarung keris. Oleh karena kemiskinannya ini Sunarto kecil tak dapat melanjutkan sekolahnya setelah putus sekolah angka “telu’ pada Standart School Muhammadiyah.

Disudutkan pada situasi ekonomi yang sulit ini, Sunarto yang sudah beranjak remaja ikut menopang ekonomi keluarga dengan mencari uang melalui kemampuannya dalam bidang seni lukis. Merasa mampu pada bidang kesenian lainnya, dia pun kemudian turut memperkuat orkes keroncong “Sinar Purnama” sebagai pemain biola. Minatnya yang besar pada dunia kesenian ini lebih tampak lagi ketika dia melanjutkan sekolah di Lembaga Pendidikan Katolik.

Terlebih-lebih setelah perkenalannya dengan Ki Sastrasabdho pada tahun 1945. Oleh pendiri Ngesti Pandowo ini Sunarto betul-betul ditempa kemampuannya dalam mengenali dan mendalami instrumen gendang.Lewat Ki Sastrasabdho pula, Sunarto mengenal dunia pewayangan. Maka sejak itu pun Sunarto belajar mendalang .

Antara Ki Sastrosabdho dan Sunarto adalah ibarat “Warangka manjing curuga, curiga manjing warangka”, keduanya adalah satu kesatuan sebagai anak dan bapak. Oleh karenanya kemudian Ki Sastrosabdho menganugerahi nama belakangnya kepada murid kinasihnya ini menjadi Nartosabdho.

Dari perjalanan hidupnya tersebut tampak bahwa Ki Nartosabdho telah melalui proses yang panjang dalam berkesenian . Jiwanya jadi kaya lantaran dipenuhi oleh pengalaman-pengalaman batin baik dalam hidup maupun dalam berkesenian.

Pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan masyarakat telah memperkaya dirinya dengan berbagai pengetahuan, sampai-sampai Presiden Soekarno waktu itu menjadikan dirinya sebagai dalang kesayangannya.

Gending-gending Nartosabdhan

Perjalanan hidupnya yang liat dan panjang, terpancar jelas pada karya-karya gendhingnya yang memiliki karakter khas milik Ki Nartosabdho. Oleh sebab itu tak heran jika gendhing-gendhingnya mendapat istilah “Gendhing-gendhing Nartosabdhan”.

Ki Nartosabdho pula yang mendapat istilah sebagai seniman yang memiliki Tri Karsa Budhaya. Sebuah istilah yang dicetuskan oleh Sekretariat Pewayangan Indonesia itu memliki makna: menggali, mengembangkan, dan Melestarikan kebudayaan Nasional.

Dengan kesadaran Tri Karsa Budhaya inilah Ki Narto berjalan di belantara kesenian Indonesia . Beberapa lagu rakyat yang sempat dia gali antara lain, Kembang Glepang Banyumasan, Mijil Lelayu, Jurang Jugrug, Gudril dan lain-lain. Bersama perkumpulan Karawitan “Condong Raos” yang dia pimpin Ki Narto mengolah lagu-lagu kuna itu menjadi segar kembali.

Dalam melaksanakan Tri Karsa Budhaya ini Ki Narto bukannya tanpa mengalami rintangan, pada pertengahan pemunculannya bahkan sampai ada salah satu RRI yang tidak mau memutar gendhing-gendhing karyanya.

Namun dengan kegagahan seorang kreator yang tahan uji, Ki Narto malah tambah getol dalam mencipta dan berkreasi. Pandangannya yang moderat telah membuka wawasan berpikirnya lebih luas termasuk dalam mempelajari budaya Jawa.

Akhirnya, hampir pada setiap produk gendhing gendhingnya yang tersaji bersama perkumpulan karawitan “Condong Raos”, segera saja meledak di pasaran, terlebih lebih karena para dhalang yang sefaham dengan Ki Narto juga ikut mengembangkannya melalui seni pakelirin, maka otomatis gendhing-gendhing Nartosabdhan ini makin memasyrakat.

Sebut saja misalnya, siapa yang tak mengenal gendhing “Lesung Jumengglung”? atau juga gendhing Ampat Lima. Ditambah lagi di tahun-tahun akhir menjelang kepergiannya, Ki Narto juga menciptakan gendhing yang elok yakni Wawasan Identitas Jawa Tengah. Begitulah, gendhing-gendhing Nartosabdhan akhirnya menjadi air deras yang tak dapat dibendung. Dia mengalir terus menapaki waktu, bahkan hingga kini.

Sepertinya para seniman karawitan sepakat mengistilahkan karya-karya gending Ki Nartosabdho dengan sebutan gendhing-gendhing Nartosabdhan. Betapa tidak, dari dalang termasyur ini lahir ratusan karya gendhing yang menempatkan dirinya sejajar dengan seniman-seniman besar yang dimiliki oleh negeri ini.

Istimewa

Bukan cuma lantaran banyaknya jumlah karya yang telah dihasilkan (319 gending) sehingga gendhing-gendhingnya mendapatkan tempat yang istimewa di hati para seniman karawitan, budayawan, dalang maupun waranggana, namun secara kualitas nampaknya memang belum ada kreator lain yang mampu menandinginya.

Ini tak berlebihan, seperti yang saya ingat menjelang pemberangkatan jenazah Ki Narto dari rumah duka di Jalan Anggrek X, dari penuturan dalang ki Anom Soeroto, Ki Timbul, Nyi Suharti, mereka mengaku bukan cuma kagum terhadap karya-karya almarhum, namun juga merasa pernah menjadi murid baik secara langsung maupun tak langsung dari seniman besar itu.

Adapun karakteristik yang terkandung di dalam gendhing-gendhing Nartosabdhan dapat ditandai lewat lagu lagu maupun gendhingnya yang berisi beberapa hal, misalnya, adanya unsur gregel seperti yang tertuang pada cakepan (syair) lagu Dhandhang Gula Sida Asih.

Adanya wiled (cengkok yang menunjukkan naik turunnya titi laras), hal ini nampak betul pada setiap lagu yang memasuki interlude. Sigrak, hampir setiap lagon (jenis gending yang terlepas dari Subokasto: Gending, Ketawang, Ladrang dan Lancaran), dan lain-lain, di dalamnya terkandung unsur dinamis yang merangsang orang yang mendengarnya untuk hanyut dalam lagu-lagu tersebut.

Sebagai contoh dari lagu yang memiliki unsur-unsur di atas misalnya tampak pada lagu kinudang Kudang. Lagu ini bukan saja memiliki unsur-unsur termaksud, namun juga memiliki keiistimewaan yang tak dimiliki oleh lagu-lagu lainnya, karena di dalam lagu ini terkandung pula obsesi pengarangnya kepada seseorang yang dikaguminya dari segi kemampuannya menyinden. Simaklah syair ini :

Kinudang kudang

Kinudang kudang tansah bisa leladi
Narbuka rasa tentrem angayomi
Tata susila dadi tepa tuladha
Sababe dek iku sarawungan kudu
Dadi srana murih guna kaya luwih
Ngrawuhi luhuring kabudayan
Tinulat sakehing bangsa manca
Tinulat sakehing bangsa manca
Rahayu sedya angembang rembaka

Jika kita urut dari atas ke bawah, maka akan berbunyi: Ki Nartosabdho – Ngatirah. Dan masih banyak lagi lagu-lagu sejenis di atas yang menurut saya juga berguna untuk menyelamatkan karya-karya Ki Nartosabdho dari para plagiat. Sebab ternyata, ia juga seorang seniman yang cerdik yang menyadari hak patent, jauh sebelum ada Yayasan Karya Cipta Indonesia.

Ah…, hari telah menjelang pagi. Suara pengajian di Masjid Baiturrahman telah berkumandang. Saya mesti bergegas pulang ke penginapan untuk tidur sejenak. Sebab pada siangnya, saya mesti kembali ke Jakarta. (jodhi yudono)

Sumber:
http://www.kompas.co.id/ver1/Negeriku/0707/30/183217.htm