Category Archives: Sosok Budayawan

Nyi Parmi (Prenjak)


PEMAIN KESENIAN TRADISIONAL JAWA SERBA BISA

Sumber : tembi.org

Nyi Parmi atau yang sering dipanggil dengan sebutan Prenjak adalah sebuah sosok seorang yang sangat memperhatikan akan kesenian tradisional terutama seni peran. Kesederhanaan adalah suatu sikap hidupnya. Ia akan menerima apa yang ada dengan sangat santun dan penuh sederhana. Kesederhanaan tersebut tercermin dalam tindak-tanduk dalam tingkah lakunya sehari-hari. Jauh dari penampilan seseorang yang memiliki sebutan artis.

Sebagai pintu gerbang awal dalam pengabdiannya di bidang seni adalah jagag pesindenan. Profesi ini dimulai ketika masih berusia 13 tahun, semenjak dia tidak dapat meneruskan sekolahnya. Wanita mungil yang tingginya hanya 120 cm dan berat badannya hanya 35 kilogram ini senang bernyanyi dan berdendang dengan menirukan suara merdu dari para pesinden yang dia dengarkan dari radio. Jika ada gending baru Nyi Parmi kecil langsung mencermatinya dan menghafalkannya, lalu ia berandai-andai sebagai pesinden, hal tersebut tidak disadari yang akhirnya dia dapat nyinden.

Berati dengan begitu dalam dirinya terdapat bakat alam yang sangat meyakinkan. Keadaan ini terbukti dengan diperbolehkannya ia ikutnyinden dalam suatu pergelaran wayang kulit. Dengan seringnya ikut dalam pergelaran wayang kulit, Nyi Parmi telah mengalami pengembaraan dalam dunia tarik suara, berpindah-pinddah dari pergelaran yang satu ke pergelaran yang lainnya. Ketika tanggapan sebagai pesinden sedang sepi, ia mencoba terjun dalam dunia panggung, yaitu dunia ketoprak. Nyi Parmi mencoba main ketoprak dan ikut dalam ketoprak keliling. Karena seringnya ikut pentas dan manggung maka Nyi Parmi ditempa oleh pengalaman yang tidak disadarinya. Kebiasaan hidup dalam dunia seni dan pergaulannya dengan orang-orang seni menghantarkan bakat alam yang ada menjadi terasah, yang ahkirnya menghantarkan dirinya pada suatu kematangan jiwa dalam berkesenian.

Nyi Parmi lahir pada 71 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 24 Januari 1930 di Salatiga, dikarunia tiga orang anak. Ia bukan anak seorang seniman tetapi hanya anak seorang tukang batu. Bakat berkeseniannya ia kembangkan dan pelajari secara otodidak, tidak ada guru yang secara khusus membimbingnya, baik dalam hal tarik suara, ketoprak, maupun seni tari. Meskipun Nyi Parmi tidak memiliki bekal secara formal dan tidak memiliki tipe kreator ataupun pencetus gagasan dalam berkesenian, namun ia dengan penuh keyakinan mempertaruhkan hidupnya untuk kesenian. Dengan resiko apapun ia tetap menjalaninya dengan begitu semangatnya.

Tampil apa adanya sebagai wanita Jawa yang lugu dan sederhana. Tutur katanya, tingkah lakunya, gaya busananya, sikap profesionalnya, jauh dari keinginan yang neko-neko. Yang penting dalam setiap pentas maupun manggung prinsipnya main secara prasojo dan wajar serta tidak usaah ngoyo. Kesederhanaan inilah yang dijadikan kiat didalam mengabdi dibidang seni Baik itu seni ketoprak, seni tari, sinden, wayang orang, maupun seni lawak. Dengan kesederhanaan tersebut yang akhirnya membimbing Nyi Parmi dalam totalitas pengabdian dalam bidang seni, sehingga ia mampu menampilkan suatu kualitas seni akting yang mengagumkan. Kemampuan itu dapat terwujud berkat kemurnian dalam dedikasi yang tuntas, segala gerak dan suara yang dihadirkannya adalah cerminan tumpukan pengalaman dan pahit getirnya seorang seniwati sejati. Seni akting maupun seni yang lainnya telah menyatu dengan pribadinya. Sehingga penghayatan dalam sebuah lakon ataupun dalam sebuah adegan ibaratnya ia menjalankan kehidupannya sehari-hari.

Kepasrahan dan kesederhanaan tetap melekat dalam diri Nyi Parmi, ia tidak pernah menggugat “penderitaanya” yang semata-mata menurutnya adalah suatu konsekuensi dari kesenimannanya. Walaupun ia pernah meraih piala Citra sebagai pemeran pembantu wanita terbaik pada FFI 1982 yang merupakan lambang supremasi perfilman kala itu, tetapi tetap tidak merubah penampilannya yang sederhana. Ia tidak merasakan hal yang luar biasa, dan hanya mengatakan “biasa-biasa saja”. Dapet ya syukur, tidak dapet ya ndak apa-apa.. Karena mendapat piala Citra itu, bagi dia juga tidak dapat merubah nasibnya. Ungkapan yang sangat lugu tersebut merupakan cerminan dari kehidupannya yang sederhana. Sikap tersebut sangat berbeda dengan sikap sesama artis yang memperoleh piala citra, mereka akan saling berlomba memamerkan kekayaan materinya dan hidup dalam kehidupan borjuis, Nyi Parmi justru tampil dalam kesahajaannya, jauh dari apa yang disandangnya sebagai seorang artiis

Nyi Parmi telah memberikan hidupnya kepada dunia panggung, serta memberikan kesenangan kepada banyak orang. Hal tersebut merupakan suatu pelajaran dalam bersikap kepada para seniman, ia mengatakan berikan segala-galanya kepada “dunia” yang sudah dipilih, dan setelah memberikan yang terbaik, terima buahnya, apapun wujudnya, pahit maupun manis tanpa rasa penyesalan, sebab yang ada hanyalah rasa kecintaan, dan semua itu merupakan anugerah sing kuoso (yang kuasa).

Didit P Daladi

Mengenang Sang Maestro [7]


Musik Lumpang Kayu

Lesung adalah istilah setempat untuk lesung di Jawa Tengah, atau lisung yang ada di Jawa Barat, yaitu alat untuk menumbuk padi, yang sering kali dipakai sebagai alat bunyi-bunyian kothekan. Menurut Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia tahun 1982 disebutkan bahwa: Lesung sb. sebangsa, semacam, sejenis: Lumpang kayu panjang untuk menumbuk padi dan sebagainya. Lesung mencari alu: perempuan mencari laki-laki. Sedangkan Alu adalah tongkat penumbuk padi, biasanya dari kayu. Dalam musik kothekan dipakai sebagai pemukul lesung atau lisung untuk memperoleh bunyi-bunyian yang bersuara manis. Gugur gunung mempunyai makna kerja sosial yang harus dilakukan secara bersama-sama untuk menyelesaikan kerja yang mahaberat seolah-olah seperti meruntuhkan gunung. Menilik namanya, gugur gunung berarti menghancurkan gunung. Mustahil jika seorang diri mampu merobohkan gunung yang besar.

Istilah gugur gunung memberi inspirasi dan spirit kepada orang banyak agar tidak silau terhadap pekerjaan yang sangat berat. Mungkin dapat dipersamakan dengan ungkapan: berat sama dipikul ringan sama dijinjing, sebuah ungkapan luhur yang menekankan kebersamaan. Dalam wayang lakon Rama Tambak, diceritakan pasukan kera membuat tambak ‘jembatan’ di samudra raya untuk menghubungkan Kerajaan Gua Kiskenda dengan Kerajaan Alengka.

Pekerjaan yang sangat dahsyat itu ternyata bisa diselesaikan oleh para kera dengan semangat gugur gunung.

Gugur Gunung
Ayo kanca ayo kanca ngayahi karyaning praja
Kono-kene kono-kene gugur gunung tandang gawe
Sayuk sayuk rukun bebarengan ro kancane
Lila lan legawa kanggo mulyaning negara
Siji loro telu papat bareng maju papat-papat
Diulang-ulungake murih enggal rampunge
Holopis kuntul baris holopis kuntul baris
Holopis kuntul baris holopis kuntul baris

Sesuai dengan istilahnya, kerja bakti merupakan sebuah kerja sosial sebagai wadah untuk berbakti atau melakukan pengabdian kepada masyarakat dan negara. Misalnya kerja bakti membenahi jalan dan membersihkan selokan.

Continue reading Mengenang Sang Maestro [7]

Mengenang Sang Maestro [6]


SASTRA TUMBUH DI TENGAH MUSIK RAKYAT

Suasana Kehidupan Desa

Denyut nadi kehidupan bisa terlihat dari betapa hiruk pikuknya masyarakat dalam bekerja dan berusaha untuk meraih nafkah rezeki. Pagi-pagi benar, sebelum ayam jantan berkokok, orang Jawa sudah bangun tidur. Menurut keyakinan mereka rejeki seseorang akan diambil oleh ayam bila bangun tidur kesiangan.

Tugas sehari-hari sudah menunggu untuk diselesaikan sesuai dengan profesinya masing-masing.

Para pedagang memulai paginya dengan harapan yang optimis. Para mbokmbok bakul mempersiapkan dagangannya di pasar-pasar. Hasil bumi yang berupa beras, jagung, ketela, sayuran dan buah-buahan di gelar di pasar untuk dipertemukan kepada konsumen. Mereka berjalan menuju ke pasar dengan membawa barang-barang dagangan itu dengan cara dipikul, digendong dengan diterangi obor.

Kehidupan perekonomian desa berporos pada perdagangan tradisional. Perdagangan tradisional berlangsung pada hari pasaran, yakni Pon, Wage, Kliwon, Legi dan Pahing. Tawar-menawar antara pedagang dan pembeli boleh jadi sangat alot, sehingga merupakan suatu seni tersendiri dalam transaksi perdagangan. Sistem pedagang bakulan itu merupakan sokoguru perekonomian Jawa.

Kegiatan pertanian di sawah digerakkan oleh Pak Tani. Kegiatan Pak Tani sudah dimulai dengan mengasah sabit dan membetulkan cangkul. Pak Tani berangkat ke sawah tanpa alas kaki dan siap mengolah lahannya. Antar pemilik sawah suka bekerja sama dengan tidak mengharapkan imbalan. Sambil macul mereka juga menyabit rumput untuk pakan ternak. Seolah-olah pakan ternak itu adalah oleh-oleh untuk raja kaya mereka yang menunggu di rumah.

Para petani adalah pekerja yang ulet. Pekerjaannya yang dekat dengan tanah, air dan udara yang sangat segar membuat hidup menjadi tenang, tentram, seimbang, dan alami. Tidak jarang di antara petani itu suka rengeng-rengeng, berdendang tembang dan lagu daerah dengan santai. Orientasi mereka bukan hasil kuantitatif tetapi proses kualitatif. Sikap beringas, keras, cemburu dan iri sukar berkembang. Masing-masing pihak tahu diri dan sadar hak dan kewajibannya.

Bu Tani sebagai ibu rumah tangga sekaligus pendamping suami adalah perempuan yang tangguh. Bu Tani yang bertugas di rumah tak kalah sibuknya mengurus rumah tangga. Memasak, mencuci dan membereskan pekerjaan rumah tangga adalah kewajiban pokoknya. Pantangan bagi Bu Tani adalah bila genthong kosong dan kendhi tak berisi. Genthong dan kendhi merupakan simbol wadah rejeki. Kalau genthong kendhi hampa, akan ditafsirkan keluarga petani itu akan lamban dan lambat dalam memperoleh rejeki. Selain itu wadah yang kering juga membuat suasana panas yang memudahkan hari untuk marah. Prinsip Bu Tani terhadap kedudukan suami adalah suwarga nunut neraka katut, yaitu suami yang jaya akan sekaligus meningkatkan kejayaan istri. Sebaliknya suami yang jatuh, maka istri pun pasti juga merasakan kesengsaraan.

Anak-anak merupakan harapan masa depan keluarga. Adapun tugas ana-kanak  adalah mikul dhuwur mendhem jero nama baik kedua orang tuanya. Maksudnya si anak itu harus mau menjunjung tinggi harkat dan martabat ayah ibu. Orang Jawa mengatakan anak polah bapak kepradah. Artinya bahwa tingkah laku anak senantiasa membawa nama orang tua. Kebesaran orang tua bisa tercemar karena anaknya yang urakan dan melanggar peraturan.

Kothekan Lesung

Kothekan lesung merupakan musik rakyat yang kerap kali diselipi dengan ungkapan-ungkapan serta nilai sastra. Sejak manusia ada, sudah dikaruniai rasa atau perasaan sebagai sarana ekspresi. Wujud nyata dari penuangan tersebut dengan cara menangis, tepuk tangan, kothekan jenis tabuhan ala kadarnya yang biasanya terbuat dari kayu/bambu dan sebagainya (Luwar, dkk. 2003). Ekspresi ini timbul karena kegelisahan manusia untuk segera mengkomunikasikan perasaannya pada sesamanya.

Di pulau Jawa kothekan sudah lebih dahulu dikenal dari pada jenis-jenis musik yang ada sekarang ini. Jenis alat musim kothekan berasal dari bahan alami seperti kayu dan bambu yang merupakan cikal bakal alat-alat musik yang ada sekarang ini. Kothekan adalah bunyi-bunyian atau musik yang diperoleh dari permainan alat-alat penumbuk padi yang disebut lesung atau lisung. Sebuah lesung yang bentuknya menyerupai sampan, dipukul dengan penumbuk atau alu dari berbagai arah dengan variasi teknik pemukulan. Biasanya dimainkan oleh para wanita di waktu terang bulan sebagai hiburan, atau di siang hari pada saat menjelang pesta perkawinan atau ketika ada gerhana. Dalam berbagai bentuk dan variasi penyajiannya permainan kothekan disebut juga gojegan, gendong, gondang, dan sebagainya.

Alam Indonesia yang kondang kaya mengenai kandungan hewani dan nabati ini sangat cocok untuk promosi pariwisata. Harus diakui bahwa devisa yang masuk karena faktor pariwisata sangat besar. Sadar wisata ini yang memberi inspirasi Ki Nartosabdo menciptakan lagu Pariwisata.

Anjajah desa milang kori
kala mangsane pariwisata
wruh endahe alam nuswantara
keh kang adi luhung alas lan gunung gunung.
Nadyan bangsa manca negara
padha gumum pada ngungun
sesawangan anglam lami tan mboseni
kodrating Kawasa kaya tinata janma.
Sendhang megung trusing kedhung
sumber luber kebak warih
suwakan banyu blumbangan
kemricik banyune belik
ngisor tlaga sumber toya
ketiga ngerak trus mili
Senadyan pucuking gunung
akeh sawangan kang asri
wisma-wisma pasanggrahan
kanggo ngleremake dhiri
kebegan pariwisata
kembang-kembang angrenggani
Taman-taman kembang gunung
dalane gasik waradin
tanem tuwuh angrembaka
bangkit pengolahing siti sagunging pariwisata
sengseme tanpa upami.

Terjemahan : Continue reading Mengenang Sang Maestro [6]

Mengenang Sang Maestro [5]


Berbakti Orang Tua

Anak yang baik perlu berbakti kepada orang tua. Orang tua merupakan pribadi yang paling berjasa atas diri seseorang. Ki Nartosabdo menasehati dalam lagunya Dumadi :

Sangkaning dumadi
wit purbaning Hyang Widhi
rama ibu dadi lantaran tumuwuh
iku pantes bektenana
aja nganti padha lena

Cenger-cenger budi ngayang-ayang
wiwit nembe lahir
rama ibu datan kendhat
dennya ngupakara
mrih sampurnaning dumadi

Terjemahan

Asal usul kehidupan
karena kehendak Tuhan
bapak ibu itu jadi sarana hidup
itu pantas kau berbakti
jangan sampai terlupakan

Sejak dalam kandungan
begitu dilahirkan
bapak ibu tiada henti
olehnya merawat
supaya hidup sempurna

Siang malam bapak ibu berusaha untuk melayani kesejahteraan anaknya. Biaya untuk membesarkan anak-anaknya tidak sedikit. Kerja keras membanting tulang dilakukan biar keluarganya tercukupi. Sungguh tidak dapat dimengerti kalau seorang anak menghina orang tuanya, hanya karena si anak itu telah memperoleh sukses hidup. Itu namanya kacang lupa akan kulitnya. Anak durhaka tidak akan pernah tenteram kehidupannya.

Dusta, bohong atau munafik adalah sikap yang kurang terpuji. Kepercayaan akan sirna bila sering dusta. Pepatah mengatakan: sekali lancung ke ujian, Selamanya orang tak akan percaya. Begitu pentingnya menjaga amanat, Ki Nartosabdo memberi peringatan dalam tembang Aja Lamis :

Aja sok gampang janji wong manis
yen ta amung lamis
becik aluwung prasaja nimas,
ora agawe gela
tansah ngugemi janjimu wingi
jebul amung lamis
kaya ngenteni thukule jamur
ing mangsa ketiga
aku iki prasasat lara
tan antuk jampi
mbok aja amung lamis
kang uwis dadine banjur titis
akeh tuladha kang dhemen cidra
uripe rekasa
milih sawiji endi kang suci
kanggo bisa mukti

Terjemahan : Continue reading Mengenang Sang Maestro [5]

Mengenang Sang Maestro [4]


Dekat Sahabat

Persahabatan akan memudahkan usaha apapun, apalagi kalau sedang menghadapi kesulitan, peran sahabat amat penting, bahkan kadang-kadang kesetiaannya melebihi saudara yang masih hubungan darah. Kerinduan seseorang kepada sahabatnya dilukiskan Ki Nartosabdo dalam tembang Mari Kangen :

E jebul kae kang tak anti-anti wus teka mrene
wis rada suwe babar pisan ora krungu kabare
sajake rada lalen mung tansah dadi impen
yen pinuju nggeget lathi eseme amerak ati
atiku dadi tentrem amulat netra kang tajem
mari kangen mulat sira netra tajem tyas jatmika

Terjemahan :

E dialah yang kutunggu sedang tiba sini
sudah lama sama sekali tiada berkabar
tampaknya agak lupa hingga jadi impian
jika sedang menggigit bibir senyumnya menawan
hatiku jadi tentram melihat mata yang tajam
sembuh rindu melihat engkau netra
yang tajam berhati tenang

Ketazaman mata menunjukkan pikiran cerdas yang siap menyelesaikan persoalan hidup. Kesahajaan membuat setiap insan yang berada di dekatnya merasa dilindungi, dihargai harkat dan martabatnya. Tidak mengherankan jika kehadirannya selalu ditunggu-tunggu. Itulah rasa rindu kepada sahabat sejati.

Suling merupakan salah satu instrumen musik gamelan Jawa. Di mana saja dapat dibawa, sehingga sewaktu-waktu dapat digunakan, karena bentuknya yang praktis kecil. Anak-anak yang sedang menggembala ternak kerbau dan sapinya akan lebih santai kalau meniup suling. Suasana yang natural benar-benar diciptakan oleh suling yang berkumandang seperti tembang Swara Suling yang telah diciptakan Ki Nartosabdo:

Swara suling kumandhang swarane
thulat-thulit kepenak unine
unine mung nrenyuhake
bareng lan kentrung
ketipung suling sigrak kendhangane

Terjemahan : Continue reading Mengenang Sang Maestro [4]

Mengenang Sang Maestro [3]


Pribadi Ketimuran

Kepribadian bangsa timur adalah salah satu kearifan timur. Masyarakat yang berkepribadian adalah masyarakat yang mempunyai jatidiri sebagaimana pesan Ki Nartosabdo dalam tembang Aja Dipleroki:

Mas mas mas aja dipleroki
mas mas mas aja dipoyoki
karepku njaluk diesemi
solah lakumu kudu ngerti cara
aja ditinggal kapribaden katimuran
mengko gek keri ing zaman
mbokya sing eling
eling bab apa
iku budaya pancene bener kandhamu

Terjemahan :

Mas mas mas jangan mengerling
mas mas mas jangan disoraki
mauku minta disenyumi
tingkah lakumu harus tahu cara
jangan ditinggal kepribadian timur
nanti akan ketinggalan zaman
sebaiknya ingat
ingat bab apa
itu budaya memang benar katamu

Secara berjenjang disebutkan adanya upacara – tata cara – cara kerja, yang merupakan kualitas berkarya yang produktif, kreatif dan inovatif. Pribadi ketimuran akan melengkapi kearifan dunia. Di sini berarti kearifan yang berasal dari timur mempunyai andil yang besar etrhadap usaha bersama dalam percaturan dan pergaulan internasional.

Produksi dalam negeri boleh dikatakan terlantar, karena pasar terlampau silau dengan barang impor. Harus diakui bahwa produksi lokal itu prasaja dalam kemasan sederhana. Namun Ki Nartosabdo dengan halus menyindir perilaku itu dengan lagunya Ngagem Lurik :

Lurik-lurik lurike weton Pedan
tur lumayan sing ngagem sajak kepranan
lurik-lurik lurike weton Trasa
nadyan prasaja sing ngagem katon gembira
Pedan Trasa lurike pancen kaloka
tuwa mudha ngagem lurik
katon endah tur ya murah
kuwi mas ndheke dhewe
mulane ja nglalekke
nengsemake nganggo weton nggone dhewe

Terjemahan :
Continue reading Mengenang Sang Maestro [3]

Mengenang Sang Maestro [2]



Demi Ibu Pertiwi

Bumi kelahiran, tanah tumpah darah, dan rasa kebangsaan mendapat apresiasi positif di mata rakyat Jawa. Ki Nartosabdo mengungkapkan rasa cinta tanah air itu dalam bentuk lagu Ketawang Ibu Pertiwi demikian:

Ibu pertiwi
paring boga lan sandhang kang murakabi
paring rejeki manungsa kang bekti
ibu pertiwi, ibu pertiwi
sih sutresna mring sesami
ibu pertiwi kang adil luhuring budi
ayo sungkem mring ibu pertiwi

Terjemahan :

Ibu Pertiwi
memberi kecukupan sandang pangan
kasih rejeki pada insan berbakti
ibu pertiwi, ibu pertiwi
kasih sayang pada sesama
ibu pertiwi yang adil luhur budi
mari berbakti pada ibu pertiwi

Lagu Ibu Pertiwi sering digunakan untuk mengiringi langen tayub, sebagai lagu kehormatan, karena sifatnya yang khidmat, tenang, berwibawa, dan kontemplatif. Ibu Pertiwi atau tanah air harus dijunjung, dihargai dan dicintai agar jiwa nasionalisme kita tetap lekat. Rasa nasionalisme itu perlu dipupuk supaya kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara selama ini tetap terjamin dan lestari.

Betapa pun sulitnya kehidupan, segalanya harus dihadapi dengan penuh keyakinan dan optimis. Sikap putus asa hanya akan memperparah hambatan.
Istilah populernya masalah diselesaikan dengan serius tetapi santai. Ki Nartosabdo mengungkapkan dengan lagu Mbok Ya Mesem :

E e e mbok ya mesem mrengut pedahe apa
e e e mbok ya ngguyu susah gunane apa
panjalukku dhik tetepa ing janji
aja ewa aja tansah cuwa
nadyan aku uga tan selak ing janji
e mesema tansah dakenteni
yo bareng angudi luhuring kagunan
watone tumemen mesthi kasembadan

Terjemahan : Continue reading Mengenang Sang Maestro [2]