Category Archives: Sosok Budayawan

KGPAA Mangkunegara VII


KGPAA Mangkunegara VII

Indonesia merupakan bangsa yang memiliki banyak kebudayaan, salah satunya kebudayaan Jawa. Adapun peninggalan kebudayaan Jawa yang masih dilestarikan keberadaannya berbentuk tulisan yaitu naskah. Naskah sebagai hasil karya tulisan nenek moyang dan merupakan peninggalan masa lampau. Naskah tersebut ditulis diatas bahan tulis yang beraneka ragam, seperti gendhong, daluwang, dan kertas yang didatangkan dari Eropa.

Berbagai kebudayaan yang ada pada masa lampau banyak terekam dalam tulisan berbentuk naskah. Dengan menganalisis ataupun mengkaji naskah dapat diketahui kesenian, sastra, tradisi, nilai-nilai, adat istiadat, dan peristiwa yang ada pada masa lampau. Masyarakat Jawa sangat suka pada kesenian dan sastra, terbukti dengan banyaknya naskah yang berisikan hal tersebut. Misalnya; tembang, wayang/pedalangan, tari, cerita, dan masih banyak lagi.

Seni, sastra Jawa, tradisi, dan berbagai aspek kebudayaan masa sekarang tidak banyak berbeda dari seni, sastra Jawa, tradisi, dan berbagai aspek kebudayaan pada masa lampau. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa masyarakat Jawa masih melestarikan kebudayaan nenek moyang mereka. Banyak nilai-nilai dan pandangan hidup yang masih diwarisi dan dilestarikan. Seni wayang/pedalangan yang berisi pendidikan moral juga masih sering digelar dan dikembangkan untuk memberikan ajaran moral. Terlebih lagi masa sekarang ini moral bangsa Indonesia dapat dikatakan mengalami kemerosotan.

Di antara pada adipati di Mangkunegaran, adalah seorang pujangga yang produktif dalam menelurkan karya sastra pewayangan. KGPAA Mangkunegara VII bertahta antara tahun 1916 – 1944. Beliau produktif dalam menciptakan karya sastra yang bertopik tentang lakon pewayangan. Lakon pewayangan dari pakem balungan untuk daerah Surakarta bersumber dari Serat Pedhalangan Ringgit Purwa karya KGPAA Mangkunegara VII (Soetarno, 1995: 29). Karya KGPAA Mangkunegara VII di atas menjadi acuan para dalang di daerah Surakarta dan pendukungnya. Nama kecilnya, yaitu Raden Mas Suryasuparta, putra ketiga KGPAA Mangkunegara V.

Beliau lahir pada tanggal 4 Sapar 1815 H atau 12 November 1885. Beliau wafat pada tanggal 19 Juli 1944. Rupanya Mangkunegara VII mewarisi bakat kepujanggan kakeknya yaitu Mangkunegara IV. Selain seorang sastrawan dan seniman, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII merupakan seorang yang sangat baik dan bijak serta seorang aktivis. Beliau pernah menjabat sebagai ketua PB Boedi Oetomo pada tahun 1916 sebelum diangkat menjadi Mangkunegara VII. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII terkenal sebagai manajer yang cerdas dalam usaha-usaha ekonomi (antara lain mendirikan Pabrik Gula Colomadu dan Tasikmadu), serta visioner dalam berbagai persoalan sosial termasuk lingkungan (membangun waduk dan jaringan rel kereta tebu), selain sebagai budayawan.

Waduk Plumbon di Kecamatan Eromoko dan waduk Kedunguling di Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, dikenang sebagai peninggalan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII. Waduk itu dibangun selama 10 tahun dari tahun 1918-1928. Keberadaan kedua waduk itu sebagai balas jasa Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII kepada rakyat setempat yang sebelumnya banyak berperan menjadi tukang pada pembangunan pendapa agung Mangkunegaran (rumah pendapa terbesar di Indonesia). Beliau memberikan hadiah berupa dua waduk sebagai prasarana irigasi untuk memakmurkan masyarakat Eromoko dan Wuryantoro. Beliau sangat memperhatikan serta dekat dengan alam sekitar dan masyarakat.

Hal diatas juga berpengaruh pada rasa seni dan penciptaan karya sastranya. Karya-karya buatan beliau banyak mempengaruhi dan dipakai sebagai referensi budayawan lain, baik pada masa beliau maupun sampai sekarang. Serat Pedhalangan Ringgit Purwa karya KGPAA Mangkunegara VII yg terdiri dari 37 jilid berisi 177 lakon dan terbagi 4: cerita dewa (7 lakon), cerita Arjuna Sasrabahu (5 lakon), cerita Ramayana (18 lakon), cerita Pendhawa Kurawa (147 lakon).

  • Jilid I (Ngruna-ngruni watugunung| Mumpuni | Mikukuhan),
  • jilid II (Sri Maha Punggung | Sri Mantun-Murwakala),
  • jilid III (Sang Hyang Wisnu Krama | Bremana-Bremani Manumayasa Rabi | Bambang Kalingga | Jamurdipa atau Sekutrem Rabi),
  • jilid IV (Palasara Lahir atau Sari Rabi | Palasara Krama | Citranggada Rabi | Pandu Lahir),
  • jilid V (Narasoma Rabi| Puntadewa Lahir | Suyudana Lahir | Bima Bungkus),
  • jilid VI (Arjuna Lahir | Raden Yamawidura Krama | Basudewa Rabi | Kangsa Lahir atau Basudewa Grogol | Lahiripun Kakrasana Narayana | Kangsa Adu Jago),
  • jilid VII (Arya Prabu Rabi | Ugrasena Rabi | Bambang Sucitra Rabi | Pandan Papa | Palgunadi | Pendhawa Apus),
  • jilid VIII (Arjuna Papa | Bondhan Peksa Jandhu | Bale Sigalagala | Seta Krama | Rabinipun Untara-Wratsangka),
  • jilid IX (Babad Wanamarta | Arimba-Arimbi | Gandamana Sayembara | Mustakaweni-Kuntul Wilanten),
  • jilid X (Lambangkara | Pancawala Larung | Antasena Lahir | Gathutkaca Lahir | Pregiwa – Pregiwati),
  • jilid XI (Gathutkaca Rabi-Sasikirana | Gathutkaca Dadi Ratu Brajadenta-Brajamusti atau Gathutkaca Sungging | Sridanta),
  • jilid XII (Tugu Wasesa | Sena Rodra | Ganda Wardaya | Semar Barang Jantur atau Kartawiyoga Maling),
  • jilid XIII (Parta Krama | Lambangkara | Sembadra Larung | Bambang WIjanarka | Murca Lelana | Kitiran Petak),
  • jilid XIV (Mayanggana-Sindusena | Cekel Indralaya | Sidajati-Sidamalong | Manu Maya),
  • jilid XV (Pandhu Bregala-Bambang Margana | Sukma Ndadari-Sumong | Bambang Manon Bawa),
  • jilid XVI (Parta Wigena atau Makutharama | Wahyu Cakraningrat | Peksi Jawata | Taman Maerakaca | Srikandhi Maguru Manah | Cakra Negara),
  • jilid XVII (Kandi Hawa | Nirbita | Jalasegara | Turanggajati | Randha Widada),
  • jilid XVIII (Swarga Bandhang | Alap-alapan Larasati | Alap-alapan Ulupi | Semboto-Senggono),
  • jilid XIX (Irawan Maling | Gambir Anom | Bambang Jaganala | Irawan Rabi | Alap-alapan Gandawati),
  • jilid XX (Sumitra Rabi | Udan Mintaya | Seti Wijaya | Arjuna Sendhang),
  • jilid XXI (Nakula Rabi | Candrageni | Sadewa Rabi | Candrasasi | Pramusinta),
  • jilid XXII (Derwa Kasimpar | Semar Minta Bagus | Semara Papa | Dwila Warna),
  • jilid XXIII (Kresna Kembang | Kresna Pujangga | Kresna Begal | Samba Rajah | Bambang Sutera),
  • jilid XXIV (Samba Ngengleng | Bomantaka | Sugatawati-Sugatawati Dhaup | Endhang Wediningsih | Setyaki Rabi),
  • jilid XXV (Suyudana Rabi | Dursilawati Ical | Peksi Anjali Retna),
  • jilid XXVI (Suryatmaja Rabi | Dana Salirta | Kumbayana | Durna Tapa),
  • jilid XXVII (Candha Birawa | Pendhawa Puter Puja | Darma Birawa | Arjuna Terus),
  • jilid XXVIII (Wisanggeni Lahir | Bambang Manon Manonton | Pendhawa Dhadhu | Pancawala Ngarit),
  • jilid XXIX (Mintaraga | Parta Dewa | Arjuna Wibawa | Cendreh Kemasan),
  • jilid XXX (Kalabendana Lena | Rara Temon | Jagal Abilawa Pendhawa Gubah | Kresna Duta),
  • jilid XXXI (Jabelan | Kresna Gugah | Bisma Lena),
  • jilid XXXII (Angkawijaya Lena | Jayadrana Lena | Burisrawa Lena | Gathutkaca Lena | Dursasana Lena),
  • jilid XXXIII (Karna Lena | Suyudana Gugur | Parikesit Lahit),
  • jilid XXXIV (Parikesit Grogol | Yudayana Ical),
  • jilid XXXV (Bedhahipun Lokapala | Arjuna Wijaya | Sumantri Ngenger | Sumantri Gugur | Arjuna Sasra Gugur),
  • jilid XXXVI Bedhahipun Ngayodyapala | Dasarata Rabi | Sinta Lahir | Prabu Rama Krama | Rama Tundhung | Anoman Duta | Rama Tambak | Anggada Duta | Bukbis),
  • jilid XXXVII (Trikaya Lena | Trisirah Lena | Kumbakarna Gugur | Megananda Gugur | Dasamuka gugur | Sinta Boyong | Rama Obong | Rama Nitik | Rama Nitis).

Ki Reso Wiguno


PENERUS KELANGSUNGAN KEBUDAYAAN JAWA

Sumber: tembi.org

Dilahirkan dengan nama Sudakir, di desa Wirun pada tahun 1918. Resowiguno bukan dari keturunan pembuat alat-alat musik tradisional gamelan. Dia hanya dari keluarga buruh tani miskin, yang sejak kecil sudah ditinggal mati oleh ayahnya. Karena keadaan tersebut maka sejak kecil Resowiguno sudah dijadikan tulang punggung dalam keluarganya. Dia menjadi kuli kayu bakar yang setiap hari kamis harus mengantar sepikul kayu ke tempat Besalen (tempat membuat gamel;an) Karto Pandoyo. Karena seringnya mengantar kayu bakar ke tempat Karto Pandoyo, maka sedikit demi sedikit Resowiguno belajar serta menimba ilmu pengetahuan tentang membuat gamelan. Selama lima tahun ia ngenger di tempat tersebut, dimulai dengan menemani juragannya nglaras ke tempat-tempat yang sepi, dengan berjalan kaki sejauh lima kilometer. Sampai ahkirnya oleh juragannya diangkat sebagai tukang nengah, yaitu suatu jabatan tukang pande yang membawahi tukang penyukat, nepong, dan ngapit. Ki Resowiguno tidak puas begitu saja hanya pada satu orang saja, maka ia selalu ingin belajar dari banyak empu pembuat gamelan. Ia berpindah dari guru yang satu ke guru yang lain. Sampai ahkirnya ia belajar khusus tentang masakan gong di Semarang. Dari pengalaman berguru itu maka ia pada tahun 1956 Resowiguno memberanikan diri membuat besalen (tempat membuat gamelan) di rumahnya. Awal usaha dari Resowiguno tersebut mendapat dukungan dari Cokrowarsito, Dr. Mantle Hood dari Rockefeller Fondation, serta dari Sri Pakualam VIII. Kekaguman dalam pembuatan gamelan tersebut diungkapkan oleh Sri Pakualam VIII yang mengatakan bahwa hasil dalam pembuatan Gong Ageng sangat bagus dan bermutu baik. Kekaguman tersebut terutama dalam penglihatan Resowiguno didalam memperkirakan kapan besi itu harus dikeluarkan dari perapian untuk ditempa dan tanpa satupun alat pembantu.

Pujian dari Sri Pakualam VIII tersebut tidak berlebihan karena kesulitan utama dalam pembuatan gong besar adalah dalam penempaan bahan untuk membuat ukuran yang mencapai diameter di atas 80 cm, dan bentuk seperti yang diinginkan, disamping bahan logam campuran harus benar-benar memenuhi syarat berat dan perbandingannya. Memang sangat rumit dalam pembuatan gong tersebut, karena racikan gamelan berasal dari sebuah bahan utuh berupa lempengan setebal 3 cm berbentuk bulat (lakaran), yang harus dibentuk hingga terbentuk gong, hanya melalui proses tempaan semata. Bila cacat sedikit saja sudah dapat merusak segalanya. Menurut Ir. Priadi Dwi Hardjito, dari ITB mengatakan bahwa lmu pengetahuan serta teknologi modern baru bisa menghasilkan hal yang sama seperti yang dilakukan Resowiguno jika melalui proses laboratorium berhari-hari, dan melalui perhitungan-perhitungan berdasar tabel serta diagram yang njlimet. Menurutnya kerja dari Resowiguno merupakan hasil budaya Jawa yang tradisional. Dan itu merupakan puncak teknologi.

Resowiguno dalam melakukan pengecoran bahan logam hanya menggunakan prapen sederhana, ia tidak pernah mengenal termometer untuk menandai titik lebur timah putih maupun tembaga pada titik panas 8450 Celsius, hanya dengan sentuhan tangannya dalam hal ini ujung jarinya pada lingir atau tepi potongan contoh lakaran, mampu mengganti proses scanning di laboratorium. Penglihatannyapun secara prima mampu mengganti fungsi alat electromicroscope untuk mengganti paduan-paduan molekul, serta pendengarannya dapat mengganti peran alat teknologi yang disebut digital storage dan osciloscope, untuk menguji suara pada saat melaras nada.

Resowiguno dalam usia yang sudah renta, masih ikut meramaikan besalennya dengan hiruk pikuk oleh suara logam yang tertempa palu. Hal itu merupakan suatu pertanda bahwa gamelan serta gong masih dihasilkan oleh Resowiguno. Dan yang sangat menggembirakan adalah tiga dari enam putranya sudah mewarisi kepandaian bapaknya, dan sudah cukup mumpuni meneruskan tradisi pembuatan gong secara baik. Bahkan Supoyo satu diantara ketiga anaknya yang membuat gong tersebut kini mampu membuat gong ageng dengan diameter lebih dari 100 cm. Hal ini menjawab keprihatinan dari almarhum Presiden Ir. Soekarno ketika memberikan wejangan kepada Resowiguno agar menularkan kepandainnya kepada orang lain, karena kepandaian Resowiguno begitu penting bagi kelangsungan kebudayaan Jawa.

KI TIMBUL HADIPRAYITNO, DALANG SPESIALISASI RUWATAN


sumber : tembi.org

Terlahir dari orang tua Guno Wasito dan Sinah, pada 67 tahun yang lalu di desa Bagelen, Kebumen. dia anak bungsu dari 3 bersaudara.Menikah sudah tiga kali, dan dikarunia anak dari ketiga istrinya tersebut sebanyak 14 anak. Ki Timbul memang berasal dari keluarga dalang. Ibunya adalah anak seorang dalang Ki Proyo Wasito yang memiliki adik perempuan Tini; dan bu Tini melahirkan dalang tersohor Ki Hadi Sugito dari Kulon Progo. Dalam lingkungan keluarga dalang seperti itulah yang ahkirnya memupuk pertumbuhannya sedari dia masih bocah.

Walaupun Ki Timbul dibesarkan dalam lingkungan keluarga dalang tetapi dia merasa bahwa belum cukup kalau mendalang hanya berdasarkan pada warisan keluarga saja, maka diapun mengikuti sekolah dalang di Kraton Yogyakarta (Habiranda). Tetapi dia tidak smapia selesai dan hanya berjalan selama dua tahun saja, hal itu disebabkan karena tanggapan-demi tanggapan datang silih berganti. Walaupun begitu ia masih tetap menghargai peran dan fungsi literatur-literatur yang menyangkut dunia pedalangan. Bahkan di usia yang sudah senja ini sampai sekarang masih mempelajari dan membaca buku-buku literatur untuk memperkaya pengetahuan dan mengasah kemampuannya. Hal ini ia lakukan karena dia menganggap bahwa kalau hanya mengandalkan dari bakat alam saja maka lama kelamaan akan kering dan tidak berkembang, padahal perubahan dan perkembangan dalam m,asyarakat peminat wayang kulit begitu pesatnya.

Dengan mengikuti perkembangan pada masyarakat dan terus belajar dari literatur-literatur yang ada, Ki Timbul ahkirnya berani mengangkat lakon langka yang dikenal dengan lakon-lakon Banjaran. Tanpa kemauan belajar dan menguasai lakon dengan sungguh-sungguh sulit bagi dalang untuk dapat menguasai dan mengangkat lakon banjaran tersebut. Karena lakon Banjaran tersebut tidak ada dalam literatur-literatur wayang. Jarang dalang-dalang sanggup mengangkat lakon tersebut apalagi dapat mengangkat dengan baik seperti yang dilakukan oleh Ki Timbul Hadiprayitno. Lakon-lakon banjaran yang pernah diangkat oeh Ki Timbul sudah banyak diantaranya adalah Banjaran Sengkuni, Dorna, Gatotkaca, Kresna, Werkudara, maupun Karno. Dia memberikan sran kepada sesama rekan dalang kalau hendak mengangkat lakon Banjaran hendaklah menggunakan versi Mahabarata, kalau hanya menggunakan versi dalang saja maka tidak mungkin terjadi karena versi dalang perkembangngannya sudah demikian luas dan sudah sulit untuk melacaknya.

Karena seringnya melakonkan Banjaran, maka banyak pihak yang ahkirnya meminta dia melakukan ruwatan. Hal ini merupakan suatu tantangan baru bagi Ki Timbul. Walaupun ia pernah melakukan ruwatan selama beberapa kali pada awal tahun 1970-an, namun ia belum merasa sreg dan mapan, karena merasa ada sesuatu yang kurang. Untuk melengkapi hal yang ia anggap kurang dalam melakukan ruwatan dia bertapa brata di gua Langse, Parangtritis dan juga berpuasa ngebleng (tidak makan dan tidak minum) selama tiga hari tiga malam. Di dalam gua tersebut dia menyalin (“mutrani” alias “tedhak sungging”) sebuah buku Ruwatan aslinya diterangi sebuah lilin, dia menulis menggunakan pena dan tinta dari botol. Proses semedi dan laku puasa yang dia lakukan adalah sebuah upaya dari Ki Timbul untuk memperoleh sebuah mantram batin yang harus dimiliki oleh seorang dalang ruwatan.

Ketika ia meruwat anak sukerto seorang dalang memberikan wejangan kepada Bethara Kala, berupa ucapan mantram batin dan mantram lisan. Untuk mantram lisan dapat diperoleh dari buku Ruwatan hasil salinannya, tetapi untuk mantram batin harus sudah hafal dengan sendirinya dan sudah menyatu dalam diri pribadi si dalang. Lakon ruwatan merupakan lakon asli dari Jawa, bukan dari Mahabarata atau ramayana, karena lakon ruwatan tersebut merupakan hasil dari suatu pemahaman kulture religius dalam suatu ritus kejawen. Ki Timbul setiap kali diminta untuk meruwat, dia akan tetap mempersiapkan batin dengan bertapa brata, dia tidak akan peduli dengan motivasi ganda dari ruwatan tersebut, yaitu ada yang sebagian orang yang menganggap dan percaya bahwa anaksukerto wajib diruwat, sedangkan ada sebagian orang yang hanya menganggap bahwa ruwatan hanya untuk mengangkat setatus sosialnya. Dalam bertapa brata dia melakukan puasa tidak makan nasi dan garam, hanya memakan buah-buahan seadanya selama tiga hari tiga malam. Ki Timbul tetap konsisten pada prinsipnya, dan tidak goyah serta waton, karena dia menganggap melaksanakan tugas spiritual yang dibebankan padanya atas dasar kepercayaan penuh. Sebagai contoh ketika dia mendapat kontrak rekaman dalam bentuk kaset, dia tetap berpakaian jawa komplit dengan kerisnya, dan lengkap dengan blencong yang menyinari kelir. Inilah sikap yang selalu dipegang oleh Ki Timbul dalam melihat bahwa lakon-lakon yang dimainkan oleh dalang adalah suatu penggambaran dalam kehidupan dalam masyarakat, dan sepantasnya tidak dilakukan dengan sembarangan/sembrono.Dia tidak melihat bahwa lakon yang dia mainkan untuk keperluan apa, tetapi dia memandang bahwa semua lakon memiliki nilai yang sakral jadi harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Namun Ki Timbul juga menyadari bahwa sudah terjadi suatu perubahan orientasi nilai dalam era urbanisme zaman sekarang, yang ahkirnya berdampak pada kehidupan wayang. Dia tidak larut dalam perubahan zaman tersebut tetapi dia menyikapinya dengan tetap menjalankan dan melakukan lakon-lakon Banjaran dan ruwatan. Karena anggapan dari Ki Tibul sendiri mengatakan kalau para dalang tidak ada yang berani untuk menyikapi perubahan jaman tersebut, dan justru para dalang tersebut ikut larut dalam perkembangan zaman maka kemungkinan besar seni wayang yang adiluhung tersebut akan semakin ditinggalkan oleh para penggemarnya.

Akhirnya Ki Timbul dikenal sebagai dalang wayang kulit yang sanggup menggelarkan lakon-lakon serius dengan bagus, tetapi tidak menolak menggelarkan lakon-lakon carangan, dan dia juga terkenal sebagai dalang ruwatan, yang langsung berhubungan dengan keselamatan anggota masyarakat Jawa melalui medium wayang kulit.

Ki Timbul Hadiprayitno sebagai seniman mumpuni pada waktu menggelarkan wayang purwa, sebagai “Tabib” yang menyehatkan dan menyelamatkan nasib buntu anak sukerto ketika berperan sebagai dalang Kanda Buwana, sekaligus sebagai cendekiawan lokal dalam komunitas jawa yang mengerti masalah aktual serta menjadi saksi intuitif terhadap proses pergeseran budaya.

SH Mintardja, Kesederhanaan Sang-“Mahesa Jenar”


sumber : tembi.org

SH Mintardja adalah sosok yang melestarikan tradisi mendongeng dan bertutur melalui media sastra tulis. Beliau memang sadar apa yang ia lakukan adalah untuk memperkaya budaya Indonesia dengan menggali nilai-nilai tradisi, dalam hal ini adalah tradisi Jawa. Sumbangan beliau ini sungguh sangat bermakna dalam karena dia dengan segenap intensitasnya telah mengaktualisasikan kembali ajaran luhur yang terkandung dalam budaya Jawa. Sebagai seorang sastrawan SH Mintardja setia pada pilihannya.

Lelaki kelahiran Yogyakarta 26 Januari 1933 ini, telah melakukan perjalanan panjang kreatifitasnya dalam suatu bentangan sejarah sastra Indonesia. Dalam perjalanan budaya yang jauh tersebut, ia senantiasa membisikan pesan-pesan moral dengan menggunakan bungkus tradisi Jawa yang kental untuk menggugah semangat kesadaran nasionalisme dan patriotisme untuk mengingatkan orang tentang pentingnya keselarasan hidup. Hal inilah yang membuat orang terpesona, serta membuat para pembacanya terhibur sekaligus penasaran untuk selalu mengikuti bangunan dramatik yang dia tulis dalam karya-karyanya.

Sudah banyak karya yang telah dia tulis, dan jika karya-karya itu dirangkai tidak dapat terbayangkan betapa panjangnya. Dapat dibayangkan sejak pertengahan tahun 1967 ia setiap harinya selalu menghasilkan dua buah tulisan bersambung untuk dimuat setiap hari di surat kabar Kedaulatan Rakyat terbitan Yogyakarta. Karya yang sangat spektakuler adalah “Api di Bukit Menoreh” yang baru saja selesai pada ahkir tahun 2001 dan dilanjutkan lagi dengan karyanya yang lain yaitu “Tanah Warisan” yang sampai tulisan ini dibuat sudah memasuki episode ke-152. Hal ini menandakan kegairahan kepenulisannya tak pernah surut, disamping sekaligus mencerminkan adanya kualitas disiplin dan kesetiaan.

Karya SH Mintardja “Nagasasra Sabuk Inten” yang ia ciptakan pada tahun 1964 dengan tokoh “Mahesa Jenar” merupakan tonggak yang mengukuhkan dia pada bidang sastra, khususnya penulisan cerita laga bersambung dengan latar belakang budaya Jawa. Ada suatu pengalaman dalam perjalanan tulisan tersebut, karena menurut banyak orang bahwa tokoh “Mahesa Jenar” makamnya ada di daerah Godean Yogyakarta, padahal menurut penulisnya (SH Mintardja) sendiri bahwa cerita “Nagasasra Sabuk Inten” adalah cerita fiktif, dan nama “Mahesa Jenar” menurutnya ia peroleh hanya begitu saja. Namun diakuinya bahwa nama “Mahesa Jenar” dipengaruhi oleh situasi jaman pada waktu karya ini dibuat. Bahwa “Mahesa” memiliki arti “kerbau” dan “Jenar” memiliki arti “merah” bahwa kedua kata tersebut melambangkan sikap nasionalisme. Adanya pandangan dalam masyarakat yang menganggap bahwa nama itu benar-benar ada, merupakan suatu hal yang menandakan bahwa buah karyanya bisa mengakar di hati masyarakat, bahkan mampu menembus batas-batas kultural, karena seringnya dia memperoleh surat-surat dari luar Jawa yang isinya beraneka macam ada yang memberikan pujian maupun kritik terhadap karyanya tersebut. Bahkan yang aneh banyak pula yang meminta untuk memberikan nama bagi anak yang bakal lahir, dan ada pula yang meminta nomor undian. Semua respon dari masyarakat tersebut merupakan cermin dari hasil karyanya yang sudah mendarah daging dalam pikiran para penggemar tulisannya.

Semua cerita yang dibuat oleh SH Mintardja sepertinya banyak yang berlatar belakang sejarah, padahal menurutnya ia hanya bermain-main di celah-celah sejarah tersebut. Dalam hal ini sejarah hanya dimanfaatkan sebagai latar belakang. Konflik yang muncul hanya ditambahkan disitu, malah konflik tersebut justru problema masa kini namun oleh beliau dikenai baju masa silam. Oleh karena itu ia tetap mencermati kitab-kitab lama, salah satunya yaitu Babad Tanah Jawi. Dari buku babad tersebut beliau mendapatkan kemudahan dalam memperpanjang cerita dan menggambarkan wajah generasi ke generasi seirama dengan langkah sejarah. Sampai sekarang sudah banyak naskah-naskah karyanya tidak hanya dimuat oleh surat kabar dalam bentuk cerita bersambung saja, tetapi karyanya sudah banyak yang dipakai untuk lakon cerita ketoprak, salah satunya yang cukup terkenal adalah “prahara” dan “Ampak-Ampak Kaligawe” yang oleh TVRI Yogyakarta dijadikan sebuah ketoprak sayembara yang cukup sukses menyedot penonton. Bahkan beberapa karyanya telah disandiwarakan oleh Sanggar Prativi Jakarta untuk diputar di radio-radio di seluruh Indonesia, dan ada pula karyanya yang telah difilmkan.

SH Mintardja dalam menyikapi hidupnya hanya ingin hidup dan berjalan lempeng (Lurus), dia hanya mendambakan hidup tenang, tentram, damai dalam kasih Tuhan dan kasih sesamanya. Dalam sikap yang sederhana tersebut dia tetap mencari keseimbangan dalam hidup. Dalam bersikap ia serba semeleh, sabar, tenang, dan terkesan tidak ingin menyakiti orang lain. Pilihan sikap inilah yang membuat SH Mintardja tidak memiliki ambisi materi. Kesederhanaan dalam menyikapi hidup tersebut menjadikan dia laksana resi yang tidak silau oleh kemewahan dunia.

Tapi sayang SH Mintardja telah tiada, dia meninggalkan karya-karya yang begitu besar serta ajaran hidup yang sederhana. Karya beliau sampai sekarang masih dipakai oleh beberapa surat kabar dan masih banyak karyanya yang dipakai untuk kegiatan berkesenian. Karyanya akan tetap abadi dan selalu menjadi bahan bacaan yang enak walaupun beliau sudah tiada. Inilah bentuk penghormatan dari pembvaca terhadap karya-karya beliau.

Didit P Dalad

Nyai Madusari


WANITA DESA YANG MAMPU “MENEMBUS”
BENTENG KERATON

sumber : tembi.org

Terlahir sebagai anak dusun di Wonogiri nomor enam dari tujuh bersaudara, dari orang tua Singadimeja dan Marijem. Pada usia 10 tahun Madusari kecil sudah diboyong ke istana Mangkunegaran dan disekolahkan di Sisworini. Hal tersebut dapat terjadi karena secara kebetulan ia ditemukan oleh seorang pemuda kraton yang sedang mencari seorang remaja putri yang berbakat njoget dan nyinden. Pemuda yang mencari bakat penari dan pesinden itu di kemudian hari adalah KGPAA Mangkunegoro VII. Dalam istana Mangkunegaran Madusari kecil mendapat bimbingan nyinden dari seorang garwo selir, Mas Ajeng Retnoningsih alias Mejeng. Sedangkan kursus tari gaya Surakarta diperoleh dari RNg. Harjosasmoyo, RNg. Atmosutagnyo, dan RNg. Atmosakseno. Dua kesenian tersebut njoget dan nyinden dengan mudah dan cepat dapat dikuasai oleh Mardusari kecil. Memasuki usia remaja, tepatnya pada usia 17 tahun, ketika masih sebagai perawan kencur yang sedang mekar harum, dia “diambil” sebagai selir tidak resmi oleh Mangkunegoro VII. Selain itu Mardusari mendapat jabatan di lingkungan Mangkunegaran, berpangkat “pangkat njaba” dengan gaji Rp. 100; setiap bulan. Tujuan diberi pangkat tersebut untuk lebih memperkuat kedudukannya dibanding kedudukan seorang selir resmi. Dengan kedudukan demikian dia akan lebih merdeka memanfaatkan semua kesempatan yang tersedia juga dalam mengolah tari dan sindenan.

Pameo jawa mengatakan: Ibarat wanita keribetan sinjang dan kabotan gelung; yang memiliki makna bahwa seseorang (wanita) akan merasa lebih dari yang lainnya setelah orang itu memiliki segala aneka macam ‘baju-baju budaya’ maupun pangkat yang melekat padanya. Tetapi pameo itu tidak berlaku bagi Mardusari, bahkan ia bagaikan “sebuah mutiara ditengah sawah’. Sesudah mengalami berbagai gosokan dan gesekan gaya pergaulan istana Mangkunegaran dan sesudah bergulat dengan bentuk-bentuk dan jiwa kesenian Jawa pada masa itu, Mardusari tidak menjadi mabok kepayang dan menyombongkan diri. Dia pun tetap mengembangkan bakat alamiahnya secara lebih matang, tanpa melupakan petunjuk dan bimbingan sejumlah guru kesenian istana Mangkunegaran. Dengan tekun dan luwes dia berusaha memajukan pelajaran sebagai pesinden, sampai menghasilkan ciri khas yang melekat pada sosok Mardusari. Cengkok pesinden gaya Nyai Mardusari adalah suatu anggapan dan tanggapan yang diberikan oleh komunitas jawa kepadanya, tidak hanya pada masalah cengkok saja, gaya suara khas seorang pesinden, kemajuaan serta perkembangan itu direngkuhnya, Mardusari juga mencipta sejumlah wangsalan, cakepan, sindenan serta rujak-rujakan suatu bahan mentah berupa teks tertulis bagi dunia pesindenan. Manuskrip yang sudah rampung dia kerjakan pada tahun 1925 tersebut berjudul Kandha Sanyata, sayangnya sampai sekarang belum juga terbit menjadi sebuah buku. Tradisi pustaka selalu dipupuk oleh Nyai Mardusari, ia selalu membaca buku-buku yang tersedia di istana. Seperti serat Condrorini, Piwulang, Pawestri, Darmawisata dan lainnya. Hal itulah yang menjadikan niat pribadinya untuk mencipta karya Kandha Sanyata, untuk memperkaya perbendaharaan sastra jawa, khususnya karawitan jawa, dan lebih kusus lagi untuk kaum pesinden. Dengan demikian dia tidak menyia-nyiakan kesempatan langka dalam hidupnya dan mengetahui apa yang perlu dia sumbangkan pada dunia pesindenan.

Tidak pernah terkabar bahwa pesinden berasal dari lingkungan keluarga istana. Pada umumnya seorang pesinden karawitan jawa lazimnya berasal dari dusun, dan lazimnya pula ia berjenis kelamin perempuan. Kalau seorang Mardusari berasal dari dusun dan masuk kraton,hal tersebut sudah lumrah. Baru menjadi tidak lumrah kalau wanita dusun yang ada di kraton tersebut sanggup mengukir namanya, sedang gaung keharumannya tidak buntu untuk “menabrak” benteng kraton yang begitu kuatnya, sebagaimana para selir raja pada umumnya, tetapi tidak untuk Mardusari, nama dan suaranya bergema ke luar tembok istana Mangkunegaran.

Keteguhan dan kesetiaan Mardusari tidak dapat diragukan, hal ini terbukti dengfan sikapnya yang tidak mau untuk mencari suami lagi, semenjak ia ditinggal oleh Mangkunrgoro VII pada usia dia yang relatif masih muda yaitu 36 tahun. Justru dia bersumpah setia mengenai tiga hal yaitu Bahwa ia tidak mau kalau yang memperistri dia hanya berpangkat Tumenggung, jangan sampai diperistri oleh saudara-saudara Mangkunegoro VII dan yang terahkir adalah kalau dia mati jangan sampai merepotkan sanak keluarganya. Sikap yang ditunjukkan tersebut adalah sikap seorang wanita yang mandiri dan punya prinsip hidup, tidak tergantung kepada suami/lelaki. Demikianlah sosok Mardusari yang tegar dna mandiri dalam menyikapi hidup.

Didit P Daladi

Prof. Dr. Zoetmulder


Orang Belanda Yang NJawani 

Sumber : tembi.org

Zoetmulder adalah sosok pengabdi pada kerajaan Allah. Beliau menjadikan pengabdian kepada ilmu pengetahuan dan kebudayaan sebagai panggilan tugasnya. Melalui tangan Romo Zoet, kini generasi muda Indonesia bukan hanya dapat mempelajari kembali, tapi juga mengetahui dan mengerti reputasi tinggi dari peradapan nenek moyang jawa di bidang bahasa serta sastra kuna dan madya yang berupa budaya pustaka jaman sekarang. Apa yang dilakukan oleh Romo Zoet banyak menimbulkan keraguan dikalangan orang-orang Katolik, karena pemahaman inkulturasi belum dikenal begitu luas dikalangan agama katolik. Tetapi setelah pemahaman tentang inkulturasi diperkenalkan secara luas, maka apa yang dikerjakan oleh Romo Zoet kelihatan luar biasa. Keadaan tersebut semakin diperkuat ketika Sri Paus datang ke Indonesia (Yogyakarta), beliau turut mangayubagya atas perkembangan umat Katolik di Indonesia yang sanggup membaur dengan budaya lokal khususnya Jawa, jadi umat katolik di Indonesia tidak perlu menjadi Londho tetapi tetap menjadi Katolik yang Njawani. Pada kontek pemahaman tersebut maka penelitian dari Romo Zoet tersebut menjadi pembuka jalan bagi terjadinya dialog antara iman Katolik dengan kebudayaan setempat (dalam hal ini jawa).

Menurut YB Mangunwijaya bahwa Romo Zoet itu lebih njawani dibandingkan dengan orang jawa, beliau adalah seorang ilmuwan sejati dan cara kerjanya mirip seorang resi pada jaman Jawa Kuno. Banyak karya yang telah beliau ciptakan, dan karya-karyanya serba standar untuk keperluan studi sastra Jawa Kuna. Buku-buku hasil karyanya tidak dapat ditinggalkan oleh mereka yang ingin belajar serius tentang jawa kuna. Karya beliau yang dijadikan acuan oleh banyak ilmuwaan seperti “Manunggaling Kawula Gusti-Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa” (1990), yang kedua adalah “Kalangwan—Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang” yang merupakan studi tentang kakawin lengkap para pujangga Jawa Kuna dari periode awal abad ke-8 sampai ahkir abad ke-17, yang berdasarkan tinjauan filologis. Kedua karya ini sudah di-Indonesia-kan oleh Romo Dick Hartoko (almarhum). Sedangkan karya lainnya yang tidak kalah hebatnya dengan kedua karya sebelumnya adalah “Old Javanese-English Dictionary” dikerjakan sejak tahun 1952 selama 30 tahun. Buku berbentuk kamus ini memuat 25.500 isian. Karya langka tersebut telah di-Indonesia-kan menjadi “Kamus Jawa Kuna-Indonesia” (1990) oleh Dr. Darusuprapto dan Dra. Sumarti Suprayitna.

Sejarah kehidupan Romo Zoetmulder diawali pertama kali dengan datang ke tanah Jawa pada usia 18 tahun (1924) selaku misionaris muda Katolik. Melalui sebuah perjalanan pendidikan formal dasar dan menengah yang ia selesaikan di Belanda, kemudian beliau langsung meneruskan pendidikan filsafat di Kolese Ignatius Kotabaru lulus dengan predikat cum Laude, dan dalam tempo hanya satu tahun ia mendapat gelar sarjana mudanya, setahun kemudian memperoleh gelar sarjana dengan hasil Cum Laude, dan dua tahun kemudian mendapat gelar Doktor dengan predikat Cum Laude pula pada usia 29 tahun dalam bidang bahasa dan sastra Jawa Kuna. Hal ini merupakan suatu prestasi yang sangat luar biasa. Kunci dari prestasi yang luar biasa ini menurutnya merupakan hasil dari sikap disiplin dalam segala hal, dan selalu menghargai akan waktu.

Romo Zoetmulder merupakan seorang pendidik dan perannya tidak dapat dilupakan begitu saja, dengan sponsor dari Sri Sultan HB IX dia menjadi salah seorang yang ikut mempersiapkan pendirian Balai Perguruan Tinggi di Yogyakarta (1946) yang ahkirnya kelak menjadi Universitas Gadjah Mada. Selanjutnya dia dikenal sebagai Maha Guru di Fakultas Sastra. Sebagai maha guru jejaknya tercetak melalui sejumlah anak didiknya yang banyak menjadi ilmuwan dan cendekiawan Indonesia yang tekun dalam bidangnya masing-masing seperti Prof. Dr. Kuntjoroningrat, Dr. Leo Sukoto, Prof. Baroroh Baried, termasuk yang digadang-gadang menggantikan perannya Dr. Ig. Kuntoro Wiryomartono SY.

Yang sangat menggembirakan dan mengharukan bagi romo Zoetmulder, yaitu ketika dia memperoleh “hadiah” berupa buku “antologi Bahasa Sastra Budaya”. Hadiah tersebut berasala dari para bekas mahasiswanya yang merasa berhutang budi di lapangan keilmuan. Hadiah buku tersebut merupakan bukti rasa hormat dan rasa menghargai dalam etika pergaulan sesama kaum ilmuwan, sedikitnya ada 42 penyumbang karya ilmiah dalam buku tersebut, yang sebagian merupakan karya ilmiah dari para ilmuwan sahabatnya, baik yang tinggal di Indonesia maupun di Luar Negeri.

Sebuah ironi, bahwa Romo Zoetmulder dilahirkan di negeri Belanda yang sangat jauh dari tanah jawa, tetapi beliau lebih njawani dibandingkan orang yang mengaku orang jawa asli. Beliau menjadi warga negara Indonesia pada tahun 1950 dan dia disiapkan menjadi seorang misionaris , namun ahkirnya sosoknya dikenal sebagai pemelihara kesinambungan sebuah kebudayaan bagi bangsa Indonesia. Dan reputasinya yang telah mendunia tersebut tetap beliau bawa dengan kehalusan dan kesederhanaan sikap ketika dia bersapa dan bertutur kata dalam bahasa jawa krama dengan komunitasnya. Tetapi yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah apakah bahasa dan sastra jawa kuna yang telah beliau terjemahkan dengan mengorbankan waktutunya dan usaha yang tidak mudah tersebut masih dianggap berguna apa tidak oleh generasi sekarang ini. Jawabannya hanya dapat dilakukan oleh generasi sekarang ini. Dan Romo Zoetmulder sudah berbuat banyak. Amin.

Didit P Daladi

Nyi Condrolukito Waranggana Dari Yogyakarta


Sumber : tembi.org

Lahir pada tanggal 23 April 1920 di desa Pogung, Sleman Yogyakarta. Nama kecilnya Turah. Ia berguru tentang nyanyi-menyanyi jawa pada bapaknya, mulai dari mocopatan, sekar-sekar tanpa iringan lalu juga tembang-tembang. Turah pertama kali dikenal suara “emasnya” oleh Lurah Laras Sumbogo yang sedang berburu burung di seputar rumah Turah di desa Pogung. Sejak saat itu Turah latihan di Joyodipuran. Tiga hari latihan disitu lalu dibawa ke Kepatihan dan oleh Kanjeng Pangeran Haryo Danurejo ia langsung diberi nama Penilaras. Peni artinya bagus, laras artinya pas. Pada usia 18 tahun Penilaras dianjurkan oleh istri Kanjeng Patih untuk ikut Kanjeng Sultan Hamengkubuwono VIII yang merupakan adiknya. Ahkirnya ia dibawa ke kraton. Setelah itu ia sering melantunkan kidung dengan suara emasnya. Kemudian Penilaras diberi nama baru Padasih.

Jalan menuju suksespun terbuka mulus. Hingga akhirnya dipersunting oleh penari kraton Condrolukito. Nyi Condrolukito begitu fanatik dengan kebudayaan jawa, sebab budaya itu baginya sumber keluhuran, keagungan dan keindahan dan itu semua menimbulkan ketentraman. Ketenangan batin itu yang menjadi utama dalam kehidupannya. Pada nada rendah dan tinggi suara Nyi Condro tetap dandangCengkok dan wiledannya khas Nyi Condro. Dia peka terhadap ‘saleh nada‘ (kalimat lagu) yang jatuh pada nada. Menurut Leslie, salah seorang anak didiknya dari Amerika berpendapat, bahwa Nyi Condro mempunyai gaya seni suara yang unik dan kata-kata yang diciptakannya mempunyai arti filsafat yang tinggi. Karena itulah Leslie berminat mempelajari ilmu tembang darinya.

Alunan suaranya tidak saja digemari oleh orang-orang yang berasal dari suku Jawa, tetapi juga orang-orang luar jawa, mereka dapat menikmati suara Nyi Condrolukito dan mereka sangat kagum akan kelihaian Nyi Condrolukito dalam melantunkan lagu/tembang. Dalam usia yang sudah lanjut, suara Nyi Condrolukito tetap bersih, bening, agung, dan berwajah tenang dengan pandangan yang cemerlang. Ia mengatakan bahwa hal itu didapatkannya dari keselarasan dan keseimbangan tata susila kehidupannya yang diandalkannya dari seperangkat gamelan jawa.

Dalam masa hidupnya Nyi Condrolukito benar-benar telah memberikan yang terbaik bagi dunia seni budaya Jawa, selama lebih dari 30 tahun ia telah banyak menghasilkan karya, lebih dari 200 rekaman kaset, dua diantaranya piringan hitam.

Didit P Daladi